Indonesia
NovelToon NovelToon

ANTARA KAGUM & LUKA

BAB ONE (Putri sulung alveric)

Suara irama piano yang indah memenuhi mansion besar kediaman keluarga Alveric. Di tengah ruangan yang megah dengan lantai marmer dan tirai sutra merah, Azalia Senjanafea Gralind Alveric – yang bisa dipanggil dengan sebutan Aza. Ia adalah putri sulung keluarga Alveric yang berumur 16 tahun. Wajahnya sangat cantik dengan mata coklat yang indah, namun ada kesedihan tersembunyi didalamnya.

“Non Aza, tuan besar ingin bertemu dengan nona di bilik ruang tamu pertama”, ucap pelayan yang berada di mansion Alveric itu. Aza menghela nafas ya, “iya, saya kesana, terimakasih sudah memberitahu”.“sama sama non cantik, kalau gitu saya permisi”, ucap pelayan langsung pergi.

Aza sudah berada di ambang pintu ruang tamu pertama, “Papah, boleh aza masuk”. “Ya,silakan nak”, jawab papahnya Samuelhariando Alveric. Pria tampan yang masih mempertahankan kesan muda itu yang duduk dengan wajah serius, diikuti mamah Aza – yaitu Widya Gralind Alveric yang anggun duduk disebrang tuan besar Alveric.

Aza menghampiri mamah dan papanya, ia duduk disebelah mamah ya dan disebrang tempat duduk ya yaitu papa Samuel. “Papah pasti ingin membicarakan hal yang kemarin kan?”, ucap Aza dengan kekhawatirannya. Papah Samuel menaruh selembar surat di atas meja, “iya, kamu benar sekali sayang. Kamu akan melanjutkan pendidikan kelas 11 kamu di Indonesia, di STPI School Tirta Persada Internasional. Kamu pasti udah siap kan?”.

Kata kata itu terucap kembali pada papah Samuel, “tapi papah, apa papah serius mau anak perempuan papah ini yang udah berada disekolah terbaik German pindah ke indonesia. Kan 2 tahun lagi juga pah.” Ucap Aza dengan tatapan belum percaya penuh.

“Sayang, kami berdua mau kamu mendapatkan pemahaman tentang negara indonesia yang luas itu, dan kami ingin agar kamu bisa belajar mandiri”, ujar mamahnya dengan lembut kepada Aza disampingya. Aza benar benar tidak percaya itu, “oke oke, boleh aja mamah dan papah menyesekolahkan Aza di sana, tapi please Aza gak mau tinggal sendiri disana. Apartemen lagi, no no, gak mau.” Jelas Aza dengan sikap yang tetap santun.

Ucapan Aza mampu membuat papah dan mamah Aza tersenyum pedih. Papah Aza mendekati Aza, ia duduk disampingnya dan Aza berada ditengah orang tua ya itu. “Aza, kamu putri sulung Alveric, kamu sangat pintar, pintar sekali, dan kamu selalu mengerti sama keluargamu, juga orang orang di mansion ini. Memiliki atittude yang mamah sama papah bangga sama kamu nak, orang orang di german melihat mamah dan papah itu berhasil mendidik 2 anak perempuan ya yang layak jadi perempuan sukses.” “Tapi, mamah sama papah mau kamu bisa menghadapi segala tantangan diluar sana, agar kamu bisa mandiri tanpa bantuan orang tua kamu, pengawal, para pelayan. Kamu harus bisa hidup sederhana”, ucap Papah Aza sambil mengusap kelapa Aza dengan lembut.

Aza beridiri dan memeluk kedua orang tua ya itu, “oke, Aza bakal membuktikan hal yang mamah sama papah mau lagi, Aza akan menjadi perempuan yang mandiri dan hidup sederhana.”

Orang tua Aza sangat bangga sekali, mereka yakin dua anak perempuan mereka pasti bisa berhasil menempuh kesukesan dengan cara mandiri tanpa ada pengawal,para pelayan diantara mereka semua dan tentu tanpa Samuel serta Widya.

“Tenang aja sayang, mamah udah siapin keperluan kamu kok di Indonesia. Dan ada 1 supir di indonesia yang bakal bantu bantu kamu, dan antar jemput tuan putri Alveric ini.” Ucap mamah Aza dengan senyuman bangga ya itu.

_“what?cuman 1 supir, ga ada pengawal atau pelayan. Ini mah sederhana sekali.. Tapi gak papa, aku pasti bisa”._ Aza tersenyum.

Aza kembali duduk ditengah tengah orang tua ya, “jadi besok kan Aza berangkat ya?”. “Iya betul sekali, kami dan adikmu akan mengatarkan kamu ke bandara ya”. Jawab papa Samuel.

“Baiklah”, Aza menghela nafas ya, ia pasti bisa melalukan ini. Ini merupakan sebuah tantangan baginya.

Dimalam hari, kamar megah Aza dan adiknya – Qila Janniea Gralind. Cahaya lampu kristal yang menggantung di kamar megah mewarnai wajah Aza dengan kilau lembut. Tangannya yang elegan menyusun kertas kertas rapor dengan nilai nilai yang sangat sempurna diatas meja marmer putih, sambil mata coklatnya mengintip ke arah jendela besar yang menghadap ke taman mansion ya itu.

“Haduh, jujur sebenarnya gak mau banget aku ke indonesia. Cuman karna papah sama mamah pengen aku berhasil tanpa bantuan dari mereka, para pengawal,pelayan juga. Bener bener aku harus bisa mandiri banget, astagaaa!!!”. Aza sangat lelah dengan segala hal hal baru yang selalu datang dipikirannya itu, apalagi pindah sekolah ke Indonesia. Aza mengambil tablet apple ya itu untuk mencari tahu informasi tentang STPI, “waw rupanya sekolah ya lebih terkenal dan bagus dari pada sekolah yang aku tempatin di german ini. Seriously? Waw gila sih.” Ucap Aza sendiri, “tapi kok”, Aza melihat info berita bahwa STPI itu milik keluarga besar Fernandez yang terkenal di Indonesia, keluaraga yang paling disegani, paling populer disana. “What? Apa itu keluaraga Fernandez?”, tanya Aza pada dirinya sendiri.

Pintu kamar mandi terbuka, dan sosok anak kecil berumur 10 thn menghampiri Aza, ia memegang bahu Aza dan,“DORRR!!!”. Aza terkejut, dia hampir saja menjatuhkan tablet apple ya yang sangat mahal itu, “Astaga qila, kamu kebiasaan banget. Kalau kakakmu ini terkena serangan jantung gimana, heh nyebelin” Aza sangat kesal, “untung aja besok kakak mau ke indonesia, gak ada yang ngagetin kakak lagi deh, weekkk”, tambah Aza dengan uluran lidah ya.

Qila memanyungkan bibir ya, ia menuju balkon, “kakak ih, jangan kayak gitu dong. Kan aku jadi kesepian pasti”. Aza menatap adik ya itu yang berada di balkon,”aduh, sorry. Gak bermaksud gitu, lagian siapa suruh kalau kakak lagi bengong dikagetin”. Aza menatap adiknya prihatin, ia menghampiri adiknya dan memeluk dari belakang. “Tenang kok, nanti kakak kalau udah sampai indonesia kita telfonan bareng, terus mabar roblox yaaa hahaha”. “Dan kalau semisal kakak balik lagi ke sini, kakak pasti bawa buah tangan yang banyak kok dari indonesia yang spesial bingitzzz”. Ucapan Aza membuat adiknya tersenyum, Aza sangat dewasa sekali, ia sangat sayang kepada adiknya. Walaupun mereka kadang bertengkar sih. “oke bener ya, ya udah sana besok kakak ke indonesia. Bawa bingkisan mainan aja dah yang banyak”. Ucap Qila

Aza menyentil jidat Qila, dan beridiri dibalkon samping Qila. “Giliran mainan baru deh, lupa semua”. “hehhee, maaf”.

Salah satu pelayan mengetuk kamar mereka, “permisi non”. Aza dan Qila berbalik, “oh iya, masuk saja”. Pelayan itu masuk, dan Aza Qila menghampiri pelayan itu, “non Aza sama non Qila waktunya minum susu, setelah itu bersih bersih dan langsung tidur. Karena besok kan non Aza harus pagi pagi ke bandara”, ucap pelayan itu.

“Oh iya, tapi aku mau ke kamar mamah sama papah dulu, Untuk semua persiapan aku besok udah kan?”, tanya Aza dengan santun. “Sudah semua kok non, itu juga dibantu persiapan ya sama nyonya besar”, jawab pelayan itu. Aza tersenyum,”baiklah, terimakasih banyak. Kalau gitu aku ke kamar mamah sama papah dulu”.

Aza keluar untuk menemui papah dan mamah ya, “ayok nona kecil, minum susu dulu ya. Setelah itu gosok gigi, terus bobo deh”, ucap pelayan itu. “Yey susu, oke deh.” Jawab Qila senang.

Dikamar tuan dan nyonya besar Alveric, “kenapa sayang, udah malam loh. Besok kan ke bandara pagi pagi”, ucap mamah Aza.

“Aza, mau bertanya sama mamah dan papah, papah mana memangnya?”. Tanya Aza, “Papa lagi di ruang kerjaan gak bisa diganggu, kamu nanya aja ke mamah ada apa, atau kamu besok mau membatalkan?”, tanya mamah Aza khawatir. “eh gak mah, mau kok. Kan ini demi kebaikan Aza dari Mamah dan papah”, Aza menggeleng pelan dan tersenyum.

“Syukurlah, terus kamu mau nanya apa hem?”. Aza menghela nafas ya, “STPI itu milik keluarga besar Fernandez, katanya itu keluarga yang disegani sekali dan benar benar populer dari bisnisnya ya, dan kekayaan yang berlimpah, serius kah mamah?. Soalnya Aza mencari informasi di goggle. Rupanya seterkenal itu ya”

Mamah Aza tersenyum dan menepuk pelan pundak anak ya, “yap, benar sekali. Keluarga Fernandez itu merupakan keluarga yang disegani disana, kekayaan ya tuh melebihi kekayaan kita sayang”, Aza sampai melotot, menurut dia aja keluarga Alveric tuh kaya banget. Gimana dengan keluaraga Fernandez, dari uang, perusahaan, bisnis. Gila sih.

“Karena dia itu adalah generasi pertama disana yang menjalankan usaha kecil di pertanian, jadi berkat usaha mereka dan kepintaran dari opa ya yang bernama Fernandez sama putra ya itu, mamah gak tau siapa namanya. Soalnya berita mereka tuh gak sampe beredar banyak. Terus untuk bisnis mereka yang kecil itu, bisa langsung berkembang pesat sekali sampai mencakup properti, teknologi, pokoknya banyak sekali tau nak. Mamah aja salut sama keluarga itu apalagi papah. Dan keluarga mereka tuh punya prinsip kejujuran dan suka banget bantu orang lain”.

Aza terkesima dengan cerita mamah ya itu tentang keluarga Fernandez. “Wah keren banget”.

“Benar sayang, mereka tuh keren keren keluarganya, terutama cucu sulung fernandez, dia umur 17 tahun sepertinya kelas 12 deh. Mamah gak tau dia laki laki atau perempuan.Katanya sih dia tuh pintar banget, genius, dan sukses di usia muda ya. Punya banyak perusahaan, terutama di tionghoa china. Oh ya mereka itu termasuk keturunan china sayang”. Tambah mamah Aza sambil mengelus kepala Aza.

_“haduh gak mungkin lah, pasti pintaran aku hahaha. Eh gak boleh sombong. Astaga Aza ini”,_ ucapan hati Aza membuat dia cengingisan.

“wawww banget sih, keren. Pantas mamah sama papah pengen banget Aza sekolah disana, mungkin disana akan diajari kemandirian, menghasilkan kekayaan berlimpah, pengetahuan yang luas, pokoknya banya kali ya?”,. Aza sambil tertawa dan membayangkan itu semua. Mamah Aza tersenyum, “betul sekali hahaha, ya udah tidur gih. Udah malam banget, nanti papah marah”.

Aza tersenyum mengangguk dan memeluk mamah ya sebelum ke kamar untuk tidur.

BAB TWO (First day, in Indonesia)

Keesokannya, di pagi hari pada pukul 07.10.

Di kamar megah Aza dan Qila mereka sedang siap siap untuk ke bandara. Dengan outfit mereka yang keren, namanya juga keluarga Alveric.

Aza yang memakai crop top putih yang dan celana putih, gila kece and seksi banget. Serta Qila yang memakai baju kodok pink cute ya itu.

Mereka berdua menuruni tangga, "cantik sekali dua perempuan anak mamah ini. Kalian sarapan ya". Ucap Widya.

"oke mamah", jawab serentak Aza dan Qila.

Beberapa menit kemudian keluarga Alveric selesai sarapan.

Lalu, para pelayan dan pengawal berkumpul diluar mansion.

Aza benar benar memasang wajah khawatir sekali, dia tidak tenang. Tapi dia harus yakin,bahwa dia bisa melakukan ini untuk kedua orang tuanya.

Di halaman depan mansion Alveric yang megah, barisan pelayan dan pengawal berdiri rapi menyambut kedatangan mobil keluarga utama.

“Semua sudah siap, Tuan Samuel,” ucap kepala pelayan kepada Samuel diruang tamu bilik pertama dengan sikap sangat sopan.

"Baik, Aza,Qila, Widya. Ayuk". Ucap Samuel.

Aza keluar dari dalam rumah bersama Papah, Mamah, dan Qila. Tangan kanannya sedang memegang tas kecil berisi barang-barang penting, sementara matanya melirik satu per satu wajah orang-orang yang selama ini selalu membantu dirinya.

“Semuanya, para pengawal,pelayan, bodyguard pribadi aku. Pokoknya semua yang ada di sini,” ucap Aza dengan suara sedikit bergetar, lalu dia berjalan mendekati mereka satu per satu. “Terima kasih banyak ya selama ini selalu merawat Aza dan keluarga. Aza bakal rindu kalian semua di Indonesia..”

Kepala pengawal yang sudah bertahun-tahun bekerja di keluarga Alveric, mengangguk dengan mata yang sedikit merah. “Semoga sukses selalu Non Aza, kami juga bakal selalu merindukanmu.”

Selanjutnya,Kepala pelayan yang sering membuat makanan kesukaan Aza dan Qila. Memberikan 3 bingkisan “Ini kue coklat kesukaan non buatin bibi, spesial. Bawa ya di Indonesia, biar non tidak merasa rindu sama makanan rumah.”

Aza menerima kotak itu dengan hati yang penuh rasa syukur, lalu memeluk kepala pelayan itu dengan pelan. “Terima kasih banyak bibi.”

Papah Samuel mengangkat tangan untuk menarik perhatian semua orang. “Baik semuanya,kamu harus berangkat langsung ke bandara. Semua yang ada di sini, kami ucapkan terima kasih atas semua pengabdiannya. Aza akan kembali sebagai perempuan yang mandiri.”

Setelah semua ucapan pamitan selesai, Aza naik ke dalam mobil bersama Samuel,Widya dan adiknya Qila. Mobil mulai bergerak perlahan, sementara pelayan dan pengawal mengangkat tangan mereka untuk melambai. Aza juga melambai balik dari jendela mobil, sampai bentuk mansion dan wajah-wajah mereka semakin jauh dan hilang di balik sudut jalan.

Di dalam mobil, suasana menjadi lebih tenang. Aza menatap pemandangan jalanan Jerman yang sudah begitu akrab baginya, mencoba mengingat setiap detail sebelum meninggalkannya untuk sementara waktu.

“Sayang, kamu sudah siap kan?” tanya Mamah Widya dengan lembut.

Aza mengangguk. “Sudah Mamah. Meski masih sedikit takut, tapi Aza akan berusaha semaksimal mungkin.”

Setelah sekitar setengah jam perjalanan, mobil akhirnya tiba di bandara internasional. Di pintu masuk terminal, mereka disambut oleh staf maskapai yang akan membantu proses check-in.

Papah Samuel mengambil paspor dan tiket pesawat dari tasnya. “Kita akan menemani kamu sampai pintu masuk lorong keberangkatan ya, sayang.”

Dalam ruang tunggu, mereka duduk bersama sambil menunggu panggilan keberangkatan. Beberapa orang yang mengenal keluarga Alveric datang menyapa dan mengucapkan selamat jalan kepada Aza.

“Perhatikan diri sendiri ya nak,” ucap Papah Samuel sambil menepuk pundak Aza. “Jangan sungkan untuk menghubungi kami kapan saja jika ada kesulitan.”

“Ya Papah, Aza mengerti,” jawab Aza, lalu dia melihat ke arah pesawat yang sudah tampak siap di landasan pacu.

Qila yang berdiri di samping Mamah tiba-tiba berlari dan memeluk kakaknya. “Kakak jangan lupa ya janjian kita! Telfonan tiap hari dan bawa banyak oleh-oleh!”

“Aku janji dong, jangan nangis ya cilik,” ucap Aza sambil mengelus pipi Qila yang sudah mulai berkaca-kaca.

Suara panggilan untuk penumpang pesawat tujuan Jakarta akhirnya terdengar. Aza berdiri dan memeluk Papah serta Mamah dengan erat. “Aku sayang sama, Papah, Mamah.”

“Kami juga sayang Aza, sukses selalu, ini semua demi kebaikanmu nak” ucap Mamah Widya dengan suara yang penuh kasih.

Terakhir, Aza memeluk Qila lagi. “Jangan nakal ya, jaga baik-baik Papah dan Mamah.”

Setelah semua pamitan selesai, Aza mengambil tasnya dan mengikuti petugas maskapai menuju lorong keberangkatan. Dia berbalik sekali lagi untuk melambai, lalu memasuki lorong dengan langkah yang semakin mantap.

Di pesawat, _"aku pasti bisa, mamah sama papah pasti mau aku bersikap mandiri, aku sukses dengan kemandirian aku tanpa bantuan mereka semua. Good luck me"_

Aza benar benar sendiri dipesawat, tapi ada beberapa orang yang kenal dengan putri sulung Alveric ini, ia tertidur karena sangat lelah membaca buku.

Setelah sekitar 12 jam perjalanan udara, pesawat akhirnya menyentuh landasan pacu Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Aza menarik napas dalam-dalam saat keluar dari kabin pesawat – udara Indonesia yang lebih lembap langsung menyapa dirinya.

Di pintu kedatangan, sosok seorang pria berusia sekitar 40 tahun berdiri, lalu melihat Aza, pria itu langsung menghampiri dengan senyum ramah.

“Selamat datang di Indonesia, Non Azalia Senjanafea Gralind Alveric. Nama saya Wahyu, saya yang akan menjadi sopir dan membantu Anda selama di sini,” ucapnya dengan sikap sopan.

Aza tersenyum kembali. “Terima kasih Pak Wahyu, senang bertemu dengan Anda.”

Pak Wahyu mengambil koper besar Aza dan membawanya ke arah mobil parkir. Di jalan menuju Apartemen Flower di Indonesia, Aza menatap pemandangan luar jendela dengan mata yang penuh rasa kagum – gedung pencakar langit yang menjulang tinggi, lalu lintas kendaraan yang sibuk, dan wajah-wajah orang-orang yang sibuk beraktivitas.

“Kamar Apartemen sudah disiapkan dengan baik, Non Aza. Pasti nyaman sekali nona, karena kamar apartemen ini di desain cukup indah seperti kamar nona di German itu. Dan Nanti saya akan menunjukkan juga jalan menuju STPI School Tirta Persada Internasional, jadi nona bisa melihat depan STPI pula deh” jelas Pak Budi sambil memperhatikan jalan.

Aza mengangguk, hati yang tadinya sedikit gelisah mulai terasa lebih tenang. Ini adalah awal dari segalanya, pikirnya sambil melihat matahari yang mulai menyemburkan sinarnya ke atas langit. Aza pasti bisa mengatasi semua tantangan yang ada di sini.

“Kita sudah sampai, Non Aza,” ucap Pak Wahyu sambil menghentikan mobil di depan sebuah apartemen besar yang disebut apartemen flowers. Ada banyak karyawan karyawan apartemen menyambut Aza, itu pasti suruhan dari papa Samuel.

Pak Wahyu membuka pintu mobil dan membawa koper Aza langsung masuk ke sebuah apartemen ya. Saat pintu kamar apartemen aza di lantai 10 nomor 16, suasana hangat dan nyaman langsung menyambut Aza. Memiliki ruang tamu dengan sofa kain berwarna cream, meja kayu yang kokoh, dan rak buku yang penuh dengan berbagai judul buku. Dindingnya dihiasi lukisan pemandangan pantai Bali yang memberikan sentuhan lokal Indonesia.

“Silakan ke kamar Anda, Non Aza. Ada di arah sebelah kanan,” kata Pak Wahyu sambil menunjukkan arah.

Aza pergi langsung ke kamar ya, tangan kanannya masih memegang kotak kue kering dari bibi (kepala pelayan). Ketika membuka pintu kamar, dia langsung terpana – kamar yang tidak terlalu besar namun sangat nyaman, dengan ranjang yang sudah dirapikan rapi, lemari pakaian yang luas, dan sebuah meja belajar yang menghadap ke jendela. Dari jendela itu, dia bisa melihat pemandangan yang sangat indah.

Di atas ranjang ada bantal dengan selimut bergambar bunga melati, dan di mejanya diletakkan sebuah kardus kecil dengan catatan tangan: “Selamat datang di kamar apartemen istimewa dari papah dan mamah, Aza. Semoga kamu betah di sini. – Papah dan Mamah”.

Aza duduk di tepi ranjang, meletakkan kotak kue di mejanya. Dia melihat keluar jendela – suara burung berkicau dari pepohonan. Udara yang sedikit lembap membawa aroma bunga yang sangat cantik.

“Kesan pertama non bagaimana?” tanya Pak Wahyu yang sudah memasuki kamar dengan membawa tas kecil Aza.

Aza tersenyum lebar, mata sudah mulai terlihat lebih ceria. “Sangat bagus, Pak Wahyu. Kamar apartemen ini sangat nyaman dan aku suka dengan pemandangannya. Rasanya seperti kamar aku di German.”

“Baik sekali itu, Non Aza. Jika ada yang perlu, silakan hubungi saya kapan saja ya. Sekarang saya akan menyiapkan minuman untuk Anda,” ucap Pak Wahyu sebelum keluar dari kamar.

Aza berdiri dan menghampiri jendela, menatap langit yang mulai berubah warna ke arah senja. Matahari merah menyebarkan sinarnya ke atas langit, memberi warna keemasan pada setiap sudut pemandangan. Dia mengambil kotak kue dari bibi (kepala pelayan), membukanya perlahan – aroma coklat mahal yang khas langsung tercium.

“Sudah mulai terasa betah ni,” bisik Aza sambil mengambil satu buah kue dan memasukkannya ke mulut. Rasanya sama seperti dulu, membuatnya merindukan mansion di Jerman namun juga merasa bahagia bisa mulai babak baru di Indonesia.

Beberapa menit kemudian, "non Aza, bapak teh pulang dulu ya. Kalau ada apa apa ingat hubungi Saya. Saya bakal langsung kesini. Semua yang non Aza perlukan itu udah lengkap ya", ucap pak Wahyu.

"Iya pak, terimakasih banyak ya. Sudah bantu Aza." Ucap Aza dengan sopan ya, sambil menundukkan kepala ya.

"Tidak masalah non, ini memang tuga saya. Kalau begitu saya permsi", pak Wahyu langsung pergi pamit.

Di,malam hari. Aza sedang berada di kamar ya, ia sedang membereskan buku buku untuk besok ia langsung pergi ke sekolah. Hari pertama di STPI.

Telfon berdering, "mamahhh", teriak Aza dari sebrang telfon vidio.

"Halo sayang ya mamah, kami loh dari tadi telfon kamu gak diangkat angkat, ngapain sih?", ucap mamah Widya. Aza nyengir, "tadi Aza mandi, hehehe kayak biasa lah 1jam an..maaf ya mamah".

Mama Widya tentu tidak terkejut, itu memang kebiasaan Aza. Mandi 1/2jam itu sudah biasa, pantas kulit ya putih,bening,mulus sekali.

"Sayang, jangan kebiasaan ya. Ingat disana untuk merubah diri kamu menjadi lebih sangat baik", "iya mamah, siap".

Beberapa menit ibu dan anak perempuan itu sudah menghabiskan waktu berbincang bincang yang cukup membuat wajah mereka tertawa karena kelucuan dari masing masing yang mereka ceritakan.

Lalu, Aza tertidur setelah ia berbincang dengan nyonya besar Alveric itu.

Di mansion German, papah Aza memasuki kamar setelah ada beberapa pekerjaan yang ia selesai kan di ruang pribadi ya.

"Gimana, Aza tadi mah?".

Mamah Aza tersenyum, "dia tadi mamah liat sedang membereskan peralatan sekolah ya besok, dia kayanya seneng banget pah".

Papa Aza tersenyum, dan duduk di tempat tidur. "Pasti dia bakalan berhasil mah, semoga dia tau dunia yang sebenarnya bukan hanya untuk mencari ilmu aja, tapi bakat, bermain bersama teman teman."

Yap, benar sekali Aza sebenarnya dipindah ke Indonesia. Karena dia tidak mempunyai teman di German, dia itu selalu belajar belajar,dan belajar. Untuk menampilkan bakat ya itu tidak pernah seperti bermain piano, hanya dilihat oleh para Alveric saja.

Maka dari itu, Widya dan Samuel ingin sekali Aza mengenal dunia lebih luas lagi, pintar dalam bergaul. Bukan dengan keluarga,buku,dan diri dia sendiri.

Begitulah seorang Aza Alveric.

BAB THREE (Hari pertama yang tidak di inginkan)

Sinar matahari sudah mulai menerpa permukaan kolam renang apartemen yang ditempati putri sulung Alveric itu yang terletak di kawasan Flower. Azalia Senjanafea Gralind Alveric—telah bangun sejak pukul 05.30 pagi, seperti yang dia lakukan setiap hari. Meskipun dia cukup lelah karena memang kemarin dia baru sampai di Indonesia, setelah menempuh perjalanan panjang berjam-jam meninggalkan rumah besarnya di Jerman, tapi dia tetap menjalankan rutinitasnya dengan disiplin yang tinggi. Baginya, ketertiban dan kedisiplinan adalah hal yang tak bisa ditawar-tawar, sesuatu yang sudah ditanamkan orang tuanya sejak dia masih kecil, sebagai bagian dari tanggung jawab memegang nama besar keluarga Alveric yang dihormati di mana-mana.

Setelah berolahraga ringan di sekitar kolam renang, menyempatkan diri menghirup udara pagi yang segar meski sedikit berbeda dengan udara di negara dia itu, Jerman.

Aza masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Air yang mengalir terasa menenangkan, meski di dalam hatinya ada sedikit kegelisahan yang tak bisa dia sembunyikan sepenuhnya. Hari ini adalah hari pertama dia memulai segalanya dari nol, jauh dari orang-orang yang dia kenal, jauh dari zona nyamannya. Tapi dia berjanji pada dirinya sendiri, apa pun yang terjadi, dia akan menjalani semuanya dengan baik, tak akan mempermalukan nama baik keluarga yang sudah dijaga turun-temurun.

Setelah selesai bersiap, Aza berpakaian rapi dengan seragam sekolah yang sudah disiapkan pihak sekolah dan diatur sedemikian rupa oleh asisten dia selain Pak Wahyu supir dia, yaitu Biwan. Asisten pribadi di apartemen untuk Aza dari Mamah Papah dia.

Seragam berwarna krem dengan aksen biru tua itu terlihat sangat pas di tubuhnya, membuatnya tampak makin anggun dan berwibawa. Gaya berpakaiannya tetap elegan, seperti yang selalu dia tunjukkan di mana pun berada—tak berlebihan, tapi tetap memancarkan kualitas dan keturunan yang dia miliki. Tak lupa dia merapikan rambut panjangnya yang hitam mengkilap itu, disisir rapi dan diikat dengan pita kecil berwarna senada dengan seragamnya, lalu sedikit merias wajah dengan riasan yang sangat tipis, cukup untuk menonjolkan kecantikannya alami tanpa terlihat berlebihan—sesuai dengan ajaran keluarganya tentang tata krama dan penampilan yang pantas.

"Selamat pagi, Non Aza. Sarapan sudah disiapkan di ruang makan," sapa Biwan yang sudah menunggu di ambang pintu kamar, tersenyum lembut melihat penampilan majikannya yang cantik itu.

"Pagi, Biwan. Terima kasih banyak," jawab Aza dengan nada lembut namun tetap tegas, mencerminkan sikapnya yang sopan tapi tetap berwibawa, sebagaimana layaknya seorang putri keluarga terpandang.

Selama sarapan yang dihidangkan dengan rapi—mulai dari makanan khas Indonesia yang sudah dia pelajari sedikit demi sedikit, hingga makanan yang biasa dia santap di mansion—pikiran Aza melayang jauh ke sekolah barunya. STPI, atau School Tirta Persada Internasional, adalah sekolah yang sudah sering dia dengar namanya bahkan saat dia masih berada di Jerman. Sekolah itu terkenal bukan hanya karena fasilitasnya yang lengkap dan berkualitas internasional, tapi juga karena banyak menampung anak-anak dari keluarga terpandang, pejabat, hingga pengusaha sukses dari seluruh penjuru negeri. Tempat di mana dia harus memulai hidup baru, tempat di mana dia akan menempuh pendidikan selama beberapa tahun ke depan, jauh dari rumah dan semua yang dia kenal dan cintai.

Orang tuanya bilang ini semua untuk kebaikannya—untuk melatih kemandiriannya, memperluas wawasan, dan mengajari dia memahami berbagai budaya dan lingkungan yang berbeda. Bagi mereka, ini adalah langkah penting agar Aza tumbuh menjadi sosok wanita yang kuat, cerdas, dan mampu menghadapi apa pun tantangan hidup yang nanti akan datang. Tapi bagi Aza sendiri, saat ini semua itu hanya terasa sebagai satu tugas besar lain yang harus dia jalankan dengan sempurna, sama seperti hal-hal lain dalam hidupnya yang selalu dia selesaikan dengan hasil terbaik. Dia tak ingin ada celah sedikit pun yang bisa membuat orang lain menilai dia kurang baik, apalagi sampai merusak nama harum keluarga yang sudah dijaga begitu baik.

Tiba-tiba ingatan tentang Papanya, Samuel Hariando Alveric, muncul begitu saja di kepalanya. Aza teringat pesan tegas namun penuh kasih sayang Papah sebelum dia berangkat ke Indonesia.

"Aza, ingat ya Nak. Di mana pun kamu berada, jadilah seperti bunga teratai. Indah dilihat, tapi akarnya tetap kuat tertanam di dalam lumpur. Jangan biarkan lingkungan yang buruk mengubah prinsipmu, dan jangan pernah biarkan siapa pun meremehkanmu tanpa alasan yang jelas. Berdirilah tegak, karena kamu adalah pewaris nama Alveric."

Kalimat itu terngiang kembali, membuat dada Aza terasa sesak sekaligus membara. Ia mengeratkan genggaman pada sendok di tangannya. "Papah... Mamah... Aza janji, Aza gak bakal nangis, Aza gak bakal kelihatan lemah di sini. Aza bakal buktiin kalau Aza bisa berdiri sendiri," bisiknya lirih, menatap pantulan dirinya di cermin besar ruang makan.

Sesampainya di sekolah, suasana yang ramai dan penuh semangat langsung menyambutnya. Berbeda dengan sekolahnya di Jerman yang lebih tenang, tertib, dan setiap orang berjalan dengan langkah yang teratur, di sini terasa lebih hidup—banyak siswa yang berjalan bergerombol sambil bercanda riang, ada yang sibuk berdiskusi tentang pelajaran, ada juga yang hanya berdiri di koridor sambil mengobrol santai. Semua mata seketika tertuju padanya begitu langkah kakinya menginjakkan kaki di halaman sekolah. Kecantikannya yang menawan, kulitnya yang putih bersih, sorot mata coklatnya yang teduh, gaya berpakaiannya yang elegan dan rapi, serta aura ketenangan dan keteraturan yang begitu kuat terpancar dari dirinya membuat semua orang berhenti sejenak dan menatapnya dengan tatapan tak percaya.

"Siapa itu ya? Cantik banget, kayaknya bukan murid sini deh..." bisik seorang siswi pada temannya, matanya tak lepas dari sosok Aza.

"Iya ya, belum pernah lihat sebelumnya, kayaknya orang berada ya, atau mungkin orang luar negeri?" jawab temannya dengan nada kagum.

"Gila, cantiknya kayak putri banget. Kayak di film-film deh," tambah siswa lain yang juga ikut menatap.

Bisik-bisik kekaguman itu terdengar jelas di telinga Aza, tapi dia tak menghiraukannya sedikit pun. Sudah biasa baginya menjadi pusat perhatian di mana pun dia berada, jadi tatapan dan bisikan seperti itu tak akan mengganggu ketenangannya. Dia terus berjalan tegap dengan langkah yang teratur, pandangan lurus ke depan, menuju ruang guru untuk mengurus administrasi masuk dan bertemu dengan wali kelasnya.

"Haduh, masa iya sih, aku gak ada yang bimbing gitu. Masa harus jalan sendiri ke temu guru. Haduh, baru hari pertama aja begini...sangat heboh", ucap Aza ke dirinya sendiri.

Baru saja dia hendak melangkah menuju tangga utama yang mengarah ke lantai dua, tiba-tiba suara yang heboh tadi terdengar dari arah koridor di ujung sana, langsung hening sejenak.

"Tiba tiba banget langsung sepi, kenapa!", Aza menengok ke belakang.

Banyak siswa siswi yang ada di sana tiba tiba menyingkir, memberi jalan seolah orang yang datang itu adalah orang yang paling berkuasa di tempat itu.

Di sana, berjalan sekelompok 6 siswa laki-laki dengan gaya yang santai tapi tetap memancarkan wibawa yang tinggi, dan di barisan paling depan—berjalan dengan langkah yang mantap dan tatapan yang tajam, terdapat seorang pemuda yang membuat semua orang di sekitarnya seketika terdiam dan menatapnya dengan berbagai perasaan—ada yang kagum, ada yang takut, ada juga yang terpesona.

Wajah putihnya yang bersih, mata sipit khas keturunan Tionghoa yang dipadukan dengan warna biru langit yang langka dan memukau itu langsung dikenali Aza dari semua cerita yang sudah dia dengar sebelum datang ke sini. Itu dia—Zaky Gavindra Fernandez, putra tunggal pemilik sekolah ini, orang yang konon menjadi penguasa tak tertandingi di lingkungan sekolah ini. Sosok yang digambarkan orang-orang sebagai pemuda yang sangat cerdas, berbakat, sukses di usia yang masih sangat muda, tapi di sisi lain juga dikenal sangat nakal, suka bermain-main dengan perasaan wanita, dan memiliki sikap yang sangat dingin serta tak mudah didekati oleh siapa pun.

Sebenarnya, tanpa Aza sadari, sikap dingin dan kasar Zaky itu bukan tanpa alasan. Sejak kecil, Zaky tumbuh di lingkungan yang keras dan penuh tekanan. Sebagai pewaris tunggal kekayaan keluarga Fernandez, dia terbiasa melihat orang-orang di sekitarnya hanya mendekatinya karena uang atau status. Dia sering melihat perselingkuhan, kepura-puraan, dan permainan kekuasaan di dalam keluarganya sendiri. Hal itu membuatnya tumbuh menjadi pribadi yang tidak percaya pada ketulusan. Baginya, semua orang sama saja—munafik dan ingin mengambil keuntungan. Apalagi melihat Aza yang datang dengan gaya begitu sempurna, anggun, dan seolah-olah membawa dunia bersamanya, insting Zaky langsung berkata bahwa gadis ini pasti sama saja dengan yang lain—sombong, manja, dan sok suci. Itulah sebabnya dia langsung memasang tembok setinggi langit dan memilih menyerang terlebih dahulu sebelum diserang.

"Zaky Gavindra Fernandez, yang mamah ceritakan...dia...." ucap Aza dihati dia, sambil berpikir dan melihat sosok lelaki itu.

Saat mata mereka tak sengaja bertemu, senyum mengejek yang samar namun terasa menusuk seketika terbit di sudut bibir Zaky. Dia berhenti tepat di hadapan Aza, dengan jarak yang cukup dekat hingga membuat beberapa siswa di sekitarnya menahan napas, takut terjadi apa-apa. Tatapan mata birunya menatap tajam ke seluruh wajah Aza, seolah sedang menilai sosok gadis baru yang tiba-tiba menjadi pusat perhatian itu.

"Wah, tamu istimewa rupanya ya? Baru datang langsung bikin heboh satu sekolah," kata Zaky dengan nada bicara yang terdengar santai dan dingin tapi sarat dengan nada mengejek dan meremehkan, suaranya cukup keras hingga didengar oleh semua orang yang ada di sekitar mereka. "ingat baik-baik ya, Nona. Di sini aturannya gua yang buat, dan apa pun yang terjadi, gua yang paling berkuasa. Jangan harap lo bisa bertindak sesuka hati, berlagak semanis dan seanggun apa pun, seperti yang mungkin biasa lo lakukan di tempat asal lo."

Rasa kesal perlahan namun pasti merayap naik di hati Aza, menyelimuti ketenangannya yang selama ini selalu dia jaga dengan baik. Seumur hidupnya, tak pernah ada satu orang pun—entah itu teman, kenalan, bahkan orang yang lebih tua darinya—yang berani berbicara padanya dengan nada seperti ini, dengan nada yang meremehkan dan merendahkan martabatnya. Bagaimana bisa pemuda yang tampan, cerdas, dan memiliki segalanya ini bersikap begitu kasar, semena-mena, dan tak punya rasa hormat sama sekali pada orang lain? Padahal, selama ini dia selalu diajari untuk bersikap sopan, menghormati siapa pun tanpa memandang status atau kedudukan, dan menjaga sikap di mana pun berada.

Aza menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan emosi yang mulai meluap itu. Dia tak ingin terlihat lemah atau kehilangan kendali diri di depan orang banyak, apalagi di hari pertamanya di sekolah ini. Dengan tatapan yang tetap tenang, tegas, dan tak kalah tajam, dia menatap balik mata Zaky tanpa rasa takut sedikit pun.

"Maaf, sepertinya Anda salah paham besar," jawab Aza dengan nada lembut namun penuh ketegasan, suaranya terdengar jelas dan terdengar oleh semua orang di sekitar mereka. "Saya datang ke sini hanya untuk menuntut ilmu dan belajar, bukan untuk membuat keributan atau berlagak apa pun. Saya hanya akan melakukan apa yang seharusnya saya lakukan, sesuai dengan aturan sekolah yang berlaku dan norma kesopanan yang sudah saya pegang teguh sejak kecil. Tidak lebih, dan tentu saja tidak kurang. Saya takkan pernah melakukan hal-hal yang melanggar aturan atau merugikan orang lain, jadi tak ada alasan bagi siapa pun untuk melarang atau mengatur hidup saya dengan semena-mena."

Mendengar jawaban berani yang tak terduga itu, senyum di bibir Zaky malah semakin lebar—senyum yang terlihat indah mempesona, tapi terasa sangat dingin dan menusuk tulang. Selama ini, hampir tak ada satu pun orang yang berani menantang atau berbicara balik padanya dengan cara seperti itu, apalagi hanya seorang murid baru yang baru saja menginjakkan kaki di sekolah ini.

"Bagus sekali jawabannya," ucap Zaky pelan, tapi nadanya tetap penuh tekanan, matanya tak berkedip menatap tepat ke dalam mata coklat Aza. "Kita lihat saja nanti, Nona. Gua yakin, gak Lo akan mengerti siapa gua sebenarnya di sini, dan seberapa besar kekuasaan gua yang tak bisa lo lawan dengan kata-kata manis lo itu. Selamat datang di dunia yang baru, dan bersiaplah—karena hari-hari lo di sini takkan seindah dan semudah yang lo bayangkan."

Setelah mengucapkan kata-kata itu, Zaky melangkah pergi melewati sisi tubuh Aza dengan langkah yang mantap, diiringi teman-temannya Zaky yang masih menatap Aza dengan berbagai ekspresi. Semua orang mulai berbisik-bisik lagi, membicarakan apa yang baru saja terjadi, merasa tak percaya ada orang yang berani berhadapan langsung dengan Zaky yang dikenal sebagai sosok yang sulit didekati dan tak mau kalah itu.

Sementara itu, Aza masih berdiri di tempat yang sama, dadanya naik turun menahan amarah dan keterkejutan yang tiba-tiba menyerang hatinya. Rasa kesal, bingung, dan tak menyenangkan bercampur aduk menjadi satu di dalam dada. Hari pertamanya di sekolah baru—yang seharusnya menjadi awal yang indah, awal yang penuh harapan dan kesempatan untuk memulai lembaran baru dalam hidupnya—malah berubah menjadi hari yang paling tidak diinginkannya, hari yang meninggalkan kesan buruk yang begitu dalam sejak detik pertama dia menginjakkan kaki di sini.

Dan yang paling menyebalkan dari semuanya, di lubuk hatinya yang paling dalam, dia tahu betul—ini baru permulaan. Masih banyak hal yang akan dia hadapi, masih banyak kejadian tak terduga yang menantinya, dan dia harus bersiap menghadapi sosok pemuda dingin dan semena-mena itu setiap harinya.

 

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!