Sore itu, langit cerah dengan semburat jingga yang memanjakan mata, seolah ikut merasakan kebahagiaan yang tengah bersemi di hati Davin.
Selesai jadwal prakteknya, dia berniat menyambangi Renata di ruangannya. Pemuda tampan itu menatap pantulan dirinya di cermin, merapikan penampilannya, menyisir rambutnya yang berantakan, dan memastikan wajahnya tetap menawan.
"Wah...! Tampan sekali, Dok." komentar Suster Dewi reflek, ketika Davin keluar dari ruangannya.
Davin tersenyum menanggapi komentar asistennya. Wanita berusia tiga puluh lima tahunan itu sudah dia anggap seperti kakaknya sendiri, tempatnya berkeluh kesah dan meminta saran.
"Doakan berhasil ya, Sus," ucapnya, menyiratkan harapan yang besar.
"Pasti, Dok," jawab Dewi tulus. "Semoga Dokter Renata jodoh yang tepat untuk Anda. Semangat!"
"Oh, ya. Ini buket bunga pesanan Anda," lanjutnya seraya menyerahkan buket bunga mawar merah yang indah pada Davin.
"Terima kasih, Sus."
Davin menerima buket bunga itu dengan hati berdebar. Dia lantas melanjutkan langkahnya menuju ruangan Renata. Sepanjang koridor, pemuda itu terus mengembangkan senyumnya, membayangkan betapa bahagianya Renata menerima cintanya.
Davin Nararya, seorang dokter bedah profesional, tampan dan kaya tentunya, diam-diam menyukai Renata Ayudia, juniornya yang cantik dan ambisius. Malam ini dia berniat mengajak gadis itu makan malam bersama, sekaligus ingin menyatakan perasaannya yang sudah lama dia pendam.
Sesampai di depan pintu ruangan Renata, Davin menghentikan langkahnya. Tangannya yang hendak mengetuk pintu seketika berhenti di udara, berubah mengepal dengan erat hingga buku-buku jarinya memutih. Dia mendengar suara percakapan dari dalam.
"Jadi, kamu nggak menyukai Dokter Davin?" tanya seorang wanita.
"Nggak!" jawab Renata tegas dan lugas.
"Lalu, kenapa kamu mendekatinya?" tanyanya lagi.
"Aku mendekati dia hanya sebagai alat untuk mencapai tujuanku. Kamu tahu sendiri kan, masuk rumah sakit ini nggak mudah dan butuh koneksi?"
Deg
Davin terkesiap. Ekspresi wajahnya langsung berubah dingin, senyumnya lenyap seketika. Bibirnya bergetar menahan kekecewaan yang tiba-tiba menghantam dirinya.
"Tapi sepertinya Dokter Davin menyukaimu. Apa kamu nggak menyadarinya?"
"Tentu saja aku menyadarinya. Memangnya siapa pria yang nggak jatuh pada pesonaku?" jawab Renata jumawa, suaranya terdengar begitu. sombong.
"Karena itulah aku memanfaatkannya. Aku harus punya backingan yang kuat untuk menunjang karirku selama bekerja di sini," lanjutnya tanpa menyadari bahwa orang yang mereka bicarakan sedang mendengarkan ucapannya.
"Kejam kamu, Ren. Memainkan hati pria baik seperti dia. Kalau kamu nggak suka, seharusnya jangan memberinya harapan," ucap temannya, mencoba menyadarkan Renata.
"Aku nggak kasih harapan, dia-nya sendiri yang kege-eran," jawab Renata enteng, seolah tidak merasa bersalah sama sekali. "Lagipula aku sudah memiliki kekasih, dan dia sangat mendukungku."
"Jadi ini alasannya, kenapa dia selalu bersikap manis padaku?" gumam Davin lirih, menertawai kebodohannya selama ini. Cinta yang bersemayam dalam hatinya harus pupus tak bersambut.
Dengan perasaan hancur, Davin lantas berbalik dan pergi meninggalkan tempat yang menorehkan lara. Sejenak dia berhenti menatap buket bunga di tangannya, lalu tanpa ragu membuangnya ke tempat sampah.
Rasa kecewa, sedih, dan marah, mengisi relung hatinya yang terdalam. Harapan yang indah kini lenyap dan hanya meninggalkan luka menganga. Rasa cintanya yang begitu besar layu sebelum berkembang. Ibarat kuncup bunga yang gugur sebelum mekar.
Terguncang oleh batinnya yang merana, Davin berkendara tak tentu arah hingga mobilnya berhenti di hamparan pasir putih di tepian pantai yang sunyi -- sesunyi hatinya saat ini. Perlahan dia turun dari mobil, lalu berjalan ke tepi pantai. Memandang laut lepas yang berkilauan oleh cahaya bulan yang bersinar separo. Menyembunyikan kedua tangannya di saku celana dan membiarkan kakinya sesekali tersapu ombak.
Davin merenungkan semuanya. Bagaimana sikap Renata padanya selama ini. Tawanya, manjanya, serta perhatiannya, semua terekam apik di memorinya. "Apa aku tak berhak bahagia? Kenapa mencintai harus sesakit ini?" gumamnya lirih.
Dihelanya napas yang terasa sesak, seakan memikul beban berat. Seiring angin laut yang bertiup kencang menerpa wajahnya. Namun, Davin tetap bergeming.
Tak ingin larut dalam kesedihan tak berujung, dia pun bertekad untuk menata kembali kepingan hatinya yang telah patah. Dia harus bangkit dan membuktikan bahwa dirinya cepat move on.
.
.
.
Sementara itu, di ruangan Renata, beberapa menit yang lalu temannya sudah pergi. Ia menengok jam di pergelangan tangannya untuk yang kesekian kali, seraya mengernyitkan dahinya, termangu...
"Tumben sudah jam segini Dokter Davin belum nongol? Apa mungkin dia masih ada pasien? Atau jadwal operasi mendadak?" pikirnya.
"Lebih baik aku datangi saja ruangannya kali, ya?"
Renata lantas mengemasi barang-barang pribadinya ke dalam tas, lalu bergegas keluar dari ruangannya menuju ruangan Davin. Sesampainya di depan ruangan Davin, Renata melihat Dewi sedang membereskan meja.
"Suster Dewi, Dokter Davin masih ada pasien?" tanyanya sambil tersenyum manis.
Dewi menatap Renata bingung, tak tahu harus menjawab apa. Ia menggigit bibirnya sambil memikirkan sesuatu.
"Dokter Renata kok, malah ke sini, terus Dokter Davin-nya ke mana...?" gumamnya dalam hati.
"Atau... Dokter Davin punya pengagum yang lain selain Dokter Renata? Masa, sih? Kok, aku nggak tahu?" Dewi menutup mulutnya dengan satu tangannya, lalu menggeleng kecil
Melihat Dewi tampak bengong entah apa yang dipikirkannya, Renata melambaikan tangannya di depan muka wanita itu. "Suster, dengar saya ngomong, kan?" tanyanya sedikit kesal merasa diabaikan.
Dewi terkejut. "Ah...oh...i-ya," jawabnya gugup. "Anu... Dokter Davin sudah pulang dari tadi, Dok."
Renata mengerutkan keningnya. "Sudah pulang? Memangnya ada urusan apa?" tanyanya penasaran.
"Saya tidak tahu, Dok. Lagipula, saya kan, bukan pengasuhnya yang harus tahu ke mana Dokter Davin pergi." Dewi menjawab sekenanya, berusaha menutupi kegugupannya.
Renata menatap Dewi dengan curiga. Ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh wanita itu. "Apa kamu tahu sesuatu, Sus?" tanyanya tajam.
Dewi menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak, Dok. Saya tidak tahu apa-apa. Lebih baik Dokter Renata tanyakan langsung pada Dokter Davin," jawabnya meyakinkan, meskipun pikirannya mulai sibuk menduga-duga.
Renata menghela napas panjang. Ia merasa kecewa karena tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. "Baiklah kalau begitu, terima kasih ya, Sus," ucapnya,
Wanita cantik itu, lantas berbalik dan berjalan menuju lift dengan langkah gontai. Ia merasa ada sesuatu yang telah terjadi, membuat rasa penasarannya semakin membara. Kenapa Davin tiba-tiba pulang tanpa pamit padanya? Bahkan sikap Dewi pun terkesan sangat aneh seperti ada sesuatu yang sengaja ditutup-tutupi?
Sesampainya di mobil, Renata tidak langsung menyalakan mesinnya, melainkan meraih ponselnya dari dalam tas. Ia mencari nama Davin di kontaknya lalu menekan tombol panggil.
Berdering.... Lama...
"Ayo, angkat dong, Vin!" ujarnya tak sabar, sambil menggigit bibir bawahnya. Biasanya, Davin selalu mengangkat teleponnya dengan cepat.
Hingga akhirnya panggilan terputus dan layar menampilkan tulisan "Panggilan Tak Terjawab". Renata mendengus kesal sembari mengacak rambutnya frustrasi. "Aahh... ke mana sih, itu orang!"
Davin merasakan ponselnya bergetar, pesan masuk dari Dewi. Dia segera membukanya.
[Dok... Anda ada di mana? Tadi Dokter Renata mencari Anda. Apa terjadi sesuatu?]
Davin mengembuskan napas, dia tidak berniat membalas. Tak lama kemudian ponselnya berdering tanda panggilan masuk. Dia melihatnya, tertera nama Renata di layar, tetapi tak berniat menerimanya. Dibiarkan saja hingga berhenti dengan sendirinya.
Suasana kembali senyap, hanya debur ombak menjadi satu-satunya suara yang menemaninya saat ini.
Ditariknya napas dalam-dalam lalu mengembuskannya perlahan, membiarkan angin laut menerpa wajahnya. Davin memikirkan langkah apa yang akan diambilnya. Dia membuka ponselnya bersamaan dengan sebuah pesan masuk dari Renata.
[Dok, Anda di mana? Kenapa pulang tidak bilang pada saya? Atau minimal kirim pesan?]
[Apa terjadi sesuatu? Saya khawatir]
Davin tersenyum pahit. Jika dulu, saat belum mengetahui kedok Renata, dia akan merasa berbunga-bunga mendapatkan pesan yang seolah peduli padanya. Namun, kini dia justru merasa muak.
"Hahhh... Dasar gadis bermuka dua," cibirnya dalam hati.
Dia menatap kosong ke laut yang luas. Pikirannya mengembara.
"Kenapa aku bisa jatuh cinta pada gadis seperti itu?" tanyanya pada diri sendiri. "Bagaimana jika Mami dan Papi tahu, atau Abang sama Kakak. Apalagi si reseh Danish...?"
Davin kembali membuang napasnya kasar, lalu menggelengkan kepalanya cepat. Dia berbalik, melangkah meninggalkan pantai, berniat untuk pulang. Tak ingin berlama-lama di sana, membiarkan perasaannya dikuasai oleh pikiran negatif.
"Aku harus punya rencana ke depan, bukan hanya meratapi keadaan seperti pecundang!" tekadnya.
.
Di tempat lain, Renata terus memandangi ponselnya berharap Davin membalas pesan yang beberapa menit lalu ia kirimkan. Gadis itu, duduk di balkon kamarnya dengan perasaan gelisah.
"Tidak biasanya Dokter Davin begini? Biasanya dia langsung gercep balas pesan ataupun angkat teleponku."
Ada sedikit rasa tak terima dirinya diabaikan oleh pemuda yang selama ini selalu menjadikannya prioritas.
"Apa aku membuat kesalahan, ya?" pikirnya sambil menatap langit gelap.
"Kayaknya enggak, deh. Tapi, kenapa dia tiba-tiba aneh begitu?"
Renata sibuk berspekulasi seolah merasa tak bersalah, padahal akibat kata-katanya membuat Davin jadi ilfeel padanya.
"Lebih baik besok aku tanyakan langsung padanya, daripada aku penasaran sendiri," gumamnya, lantas beranjak ke kamarnya.
.
Keesokan harinya, bahkan sebelum langit sepenuhnya terang, Davin sudah bangun. Setelah membersihkan diri dan menunaikan kewajibannya sebagai umat muslim, dia keluar dari unit apartemennya. Udara pagi yang segar langsung menyambutnya. Davin berniat untuk jogging di sekitar kompleks apartemen, menjernihkan pikiran sebelum menghadapi hari yang panjang.
Sebelum memulai jogging dia melakukan pemanasan terlebih dahulu, lalu berlari kecil menyusuri jalanan yang masih sepi. Baginya, berolahraga bukan hanya untuk menjaga kebugaran fisik, tetapi juga untuk memompa semangatnya.
Setelah cukup lama berlari, Davin kembali ke apartemennya. Dia bersiap-siap untuk berangkat ke rumah sakit. Sengaja dirinya berangkat lebih pagi dari biasanya, berharap bisa menghindari Renata. Belum siap rasanya untuk berhadapan dengan gadis itu setelah mengetahui semua kebenarannya.
Namun, takdir berkata lain. Sesampainya di rumah sakit, Davin melihat Renata sudah menunggunya di depan pintu masuk bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
"Selamat pagi, Dok!" sapa Renata sambil tersenyum manis.
Davin menghela napas kesal dalam hati. "Kenapa harus bertemu dia, sih! Mau apa, coba?"
"Oke, Davin. Jangan lemah hanya karena senyuman dan rayuannya," ucapnya mencoba membentengi dirinya sendiri.
"Selamat pagi," jawab Davin dengan senyum dipaksakan.
"Bisa kita bicara sebentar, Dok?" Renata bertanya, nada suaranya ceria, matanya menyiratkan permohonan.
Davin berusaha menguasai dirinya, menyembunyikan rasa muak yang mulai menelusup hatinya. "Tentu saja, ada apa?"
"Anda semalam ke mana? Kenapa telepon dan pesan saya tidak dibalas?" Renata bertanya, tatapannya menyelidik. "Saya khawatir terjadi sesuatu sama Anda."
Davin memalingkan wajahnya, berusaha menghindari kontak mata dengan Renata. Inilah susahnya, dia bukan orang yang pandai berpura-pura. Dia memejamkan mata sesaat, seraya menyiapkan jawaban untuk pertanyaan tersebut. "Maaf, Dokter Renata. Semalam saya ada urusan dengan keluarga. Ponsel saya dipegang sama keponakan dan baru sempat saya ambil pagi ini."
"Hahhh... Dokter Davin membiarkan ponsel yang harganya selangit itu buat mainan ponakannya?" gumam Renata terkejut dalam hati.
Namun, ia berusaha tersenyum dan tampak sedikit lega mendengar jawaban Davin. "Oh, begitu. Lain kali, tolong kabari saya ya, Dok. Biar saya nggak khawatir."
Davin mencibir dalam hati mendengar ucapan Renata, tetapi tetap menyunggingkan senyum palsunya.
"Baiklah," jawabnya singkat. "Kalau tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, saya permisi dulu. Ada pasien yang harus saya tangani."
Davin melangkah melewati Renata, menuju ruangannya tanpa menoleh ke arah gadis itu. Dia sudah tidak peduli lagi dan ingin cepat-cepat menjauh dari tempat itu.
Renata menatap kepergian Davin dengan pandangan heran. Ada sesuatu yang berbeda dan ia tak sepenuhnya percaya dengan penjelasan seniornya itu. "Kenapa Dokter Davin terkesan menghindariku? Ada apa sebenarnya?" batinnya bertanya-tanya.
"Sepertinya aku harus mencari tahu," ucapnya segera bergegas menuju ruangannya.
.
Setelah berhasil menghindari Renata, Davin memasuki ruangannya dan di sambut oleh Dewi asistennya yang sedang membersihkan ruangan.
"Eh, selamat pagi, Dok? Anda sudah datang?" sapanya sambil tersenyum ceria.
"Selamat pagi, Sus," jawab Davin seraya duduk di kursinya.
"Dok, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kemarin Dokter Renata malah kemari mencari Anda? Memangnya tidak jadi ke tempat Dokter Renata? Atau Anda punya pengagum yang lain?" cecar Dewi dengan sejumlah pertanyaan persis kayak wartawan yang sedang mewawancarai rasa sumbernya.
Davin melongo, tak tahu harus menjawab yang mana. Namun, sebelum berhasil menjawab, ponselnya berdering. Sebuah notifikasi muncul dari grup chat rumah sakit. Davin membuka pesan tersebut dan membaca pengumuman dari direktur rumah sakit.
[Assalamualaikum Wr. Wb. Selamat pagi, rekan-rekan semua. Sehubungan dengan musibah bencana alam yang menimpa saudara-saudara kita di daerah X, pihak rumah sakit berencana mengirimkan tim medis untuk membantu rekan-rekan seprofesi di sana. Bagi rekan-rekan yang berminat untuk bergabung sebagai tim relawan medis, silakan mendaftarkan diri melalui sekretariat. Pendaftaran dibuka hingga pukul 12.00 siang ini. Atas perhatian dan partisipasinya, kami ucapkan terima kasih.]
Tanpa berpikir panjang, Davin mengirimkan pesan balasan ke sekretariat.
[Assalamualaikum. Saya, dr. Davin, bersedia bergabung dengan tim relawan medis untuk membantu korban musibah di daerah X.]
Setelah mengirim pesan tersebut, Davin merasa lega. Dia ingin melakukan sesuatu yang lebih berarti daripada hanya memikirkan masalah pribadinya. Dengan begitu dia bisa melupakan rasa sakit hatinya dan menemukan kedamaian dalam diri.
Davin kembali fokus pada pekerjaannya, dengan semangat yang baru. Ia tidak sabar untuk segera berangkat ke daerah X dan memberikan bantuan kepada mereka yang membutuhkan. Ini adalah kesempatan baginya untuk membuktikan bahwa dia adalah seorang dokter yang profesional dan berdedikasi, bukan hanya seorang pria yang patah hati.
Saat istirahat siang, Davin menerima pemberitahuan agar mereka yang telah mendaftar menjadi tim relawan berkumpul di aula.
"Anda mendaftar jadi relawan, Dok?" tanya Dewi saat Davin keluar dari ruangannya.
"Benar, Sus," jawab Davin sambil berlalu menuju aula.
Sesaat kemudian Renata mendatangi ruangan Davin berniat mengajaknya makan bersama.
Dewi yang melihat kedatangannya langsung memberitahu. "Maaf, Dok. Dokter Davin tidak ada di ruangannya. Beliau ke aula bergabung dengan relawan medis lainnya ke daerah yang tertimpa bencana."
"Apa...! Kok, Dokter Davin nggak bilang sama saya?" Renata tampak terkejut.
"Memangnya Dokter Renata apanya Dokter Davin? Ibunya kah? Atau kekasihnya?"
Jleb
Renata mengepalkan tangannya, wajahnya merah padam mendengar ucapan Dewi yang terasa menusuk hatinya, membuatnya merasa tak nyaman. "Maksudmu apa, Sus?" tanyanya, tatapan matanya tampak sengit.
"Nggak ada, Dok." Dewi menggeleng, menutup mulutnya rapat-rapat lalu melanjutkan pekerjaannya.
"Sepertinya aku paham sekarang. Kenapa Dokter Davin tidak jadi ke ruangan Dokter Renata dan terkesan menghindar. Pasti ada sesuatu yang telah terjadi di antara mereka. Aku harus cari tahu," batin Dewi.
Renata yang merasa diabaikan Dewi pun, memilih pergi meski benaknya masih dipenuhi pertanyaan. "Apa sebenarnya yang mereka sembunyikan, sih?" tanyanya dalam hati.
.
Setelah mendapatkan pengarahan dari Direktur Rumah sakit, tentang jadwal keberangkatan dan segala macamnya, Davin kembali ke ruangannya. Namun, lagi-lagi dia harus bertemu dengan Renata. Sosok yang dulu begitu dipujanya itu, kini tak ubahnya seperti penyakit menular yang harus dihindari.
"Kenapa harus ketemu dia lagi, sih! Bikin mood aku hancur aja!" gumamnya kesal.
Sementara Renata yang melihat Davin dari kejauhan segera berlari kecil mendekat. Wajahnya tampak berbinar, tak ketinggalan senyumnya yang memikat. Namun, sayangnya senyum itu tak lagi menarik di mata Davin, justru sebaliknya membuat matanya sepet.
"Apa benar Anda bergabung dengan tim relawan, Dok?" tanya Renata, napasnya sedikit tersengal.
"Iya, begitulah," jawab Davin datar, tak ada kelembutan seperti biasanya.
"Tapi, kenapa Anda tidak berdiskusi dulu sama saya, Dok? Setidaknya saya bisa memberi pertimbangan untuk Anda. Bagaimana jika terjadi sesuatu di sana?" Renata menunjukkan kekhawatirannya.
Namun, Davin tahu itu hanya pura-pura. Dia menatap Renata dingin. "Tidak perlu. Ini keputusan saya dan saya sudah memikirkannya dengan matang."
"Tapi, Dok..."
"Maaf, Dokter Renata. Saya sibuk. Permisi," potong Davin cepat, lalu melangkah pergi meninggalkan Renata yang terdiam dengan wajah kecewa.
Davin mempercepat langkahnya menuju ruangannya. Tak ingin berlama-lama berada di dekat Renata. Sudah malas dan muak dengan segala kepura-puraannya. Tekadnya sudah bulat untuk menjauh dari gadis itu dan fokus pada tugasnya sebagai seorang dokter.
"Dok, tadi Dokter Renata mencari Anda," kata Dewi ketika Davin hendak membuka pintu ruangannya.
"Hmm...tadi sudah ketemu," jawab Davin singkat, lalu masuk ke dalam ruangannya. Tak lama kemudian dia keluar lagi dan mendekati Dewi.
"Suster, mulai besok saya nggak praktik. Ada dokter lain yang akan menggantikan saya di sini. Saya pamit, ya," kata Davin, mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Dewi.
"Baik, Dok. Hati-hati dan jaga diri Anda baik-baik di sana," ucap Dewi, seraya menerima uluran tangan Davin.
Keduanya berjabatan tangan. Setelahnya, Davin segera pergi menuju parkiran tempat mobilnya terparkir.
Tanpa Davin tahu, Renata menatap kepergiannya dari ujung koridor dengan raut kecewa. "Dia bahkan nggak pamit sama aku," gumamnya pelan.
"Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa tiba-tiba dia berubah padaku? Sikapnya begitu dingin dan ketus, tidak sehangat dulu lagi. Nggak ada manis-manisnya sama sekali," batinnya bertanya-tanya.
Renata berpikir keras sambil mengetuk-ngetuk dagunya pelan, berusaha mengingat kembali kejadian yang mungkin menjadi penyebab perubahan sikap Davin. Namun, ia tidak menemukan apapun.
"Lebih baik aku temui Suster Dewi dan bertanya padanya. Mungkin dia tahu sesuatu."
Renata segera pergi mencari Dewi. Langkahnya tergesa-gesa, seakan mengejar sesuatu yang sangat penting. "Suster Dewi, bisa bicara sebentar?" ucapnya dengan tatapan memohon.
Dewi yang sedang membereskan pekerjannya mengernyit heran. Ia tidaklah seakrab itu dengan Renata. Lalu, ia ingat sesuatu. "Hahhh... Pasti dia mau tanya tentang Dokter Davin," tebaknya dalam hati.
"Ada apa ya, Dok?" tanyanya polos.
"Suster Dewi tahu, alasan Dokter Davin bergabung dengan tim relawan?" tanya Renata, menatap Dewi dengan wajah serius.
"Nah kan, benar?" Dewi tersenyum sinis dalam hati. "Mana saya tahu, Dok. Saya kan, bukan siapa-siapanya Dokter Davin," jawabnya santai.
"Suster Dewi jangan bohong, deh. Suster kan, asistennya. Mana mungkin nggak tahu apa-apa?" desak Renata, tidak percaya.
Dewi tertawa sambil menutup mulutnya. "Anda ini lucu ya, Dok. Seakan menganggap saya ini tahu banyak tentang Dokter Davin."
"Dengar ya, Dok. Saya ini cuma asisten Dokter Davin di tempat kerja. Dan pastinya, nggak semua hal yang bersifat pribadi harus dibagi ke orang lain," katanya dengan santai.
"Barangkali Anda pernah berkata sesuatu yang membuat Dokter Davin merasa tersinggung, mungkin? Coba Anda ingat-ingat," imbuhnya
Deggg
Renata terdiam, mencoba mengingat-ingat, tetapi pikirannya tetap buntu. Hingga akhirnya Dewi pamit pulang.
"Ya sudah ya, Dok. Saya permisi pulang," kata Dewi, buru-buru pergi, enggan menanggapi Renata lebih lama.
.
Davin memilih pulang ke rumah orang tuanya siang itu. Keadaan rumah yang sepi membuatnya langsung menuju kamarnya. Dia membuka lemari dan mulai mengemas pakaiannya ke dalam tas besar. Tak lupa dia juga memasukkan peralatan pribadi, seperti perlengkapan mandi juga skincare. Dirasa cukup, dia pun keluar dengan membawa tasnya.
"Loh, Adik kapan datang? Kok, mami nggak tahu?" tanya Mama Mia yang baru masuk dari halaman belakang dengan membawa segenggam bunga segar.
Davin meletakkan tasnya, menghampiri sang ibu sambil tersenyum lembut lalu memeluk dan menciumi pipi maminya penuh kasih.
"Tadi Adik pas datang sepi, Mi. Jadi langsung ke kamar dan berkemas," jawab Davin lembut.
Wanita paruh baya itu menatap putra bungsunya dengan heran. "Memangnya Adik mau ke mana lagi?"
"Adik akan pergi ke daerah X. Menjadi tim relawan medis, yang akan membantu korban bencana alam di sana, Mi," lanjutnya, menjelaskan tujuan kepergiannya.
Mama Mia tampak terkejut, tetapi kemudian senyum terbit di bibirnya. "Masya Allah, hebatnya anak mami," serunya penuh kebanggaan. "Tapi, hati-hati di sana ya, Sayang. Jaga kesehatan, jangan sampai Adik sakit," pesannya, sambil mengusap lembut punggung tangan putra bungsunya.
"Mami jangan khawatir. Adik pasti akan selalu menjaga diri dengan baik," kata Davin, lalu melihat jam di pergelangan tangan kirinya. "Sepertinya adik harus segera berangkat, Mi. Mohon doanya," pamitnya, memeluk kembali sang ibu dengan erat.
"Pasti, Sayang. Mami akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu. Sering-sering kabari mami, ya," kata Mama Mia, mengusap pipi Davin dengan sayang.
Davin mengangguk, lalu meraih tasnya kembali. "Siap, Mi. Assalamualaikum," ucapnya, lalu mencium tangan Mama Mia.
"Waalaikumsalam. Hati-hati ya, Sayang," balas Mama Mia, menatap punggung Davin yang menjauh dengan mata berkaca-kaca. Ada kebanggaan sekaligus kekhawatiran dari sorot matanya. "Ya Tuhan, lindungilah anak kami di manapun dia berada, aamiin."
.
Sementara itu, Dewi tidak langsung pulang. Ia memilih mendatangi tempat yang bisa menjawab rasa penasarannya. Ia pun menuju ruang keamanan untuk melihat rekaman CCTV. Kebetulan salah satu staf di sana adalah kenalannya. Dewi berharap bisa mendapatkan petunjuk, kenapa Davin terkesan menghindari Renata.
Tiba di ruang keamanan, Dewi segera menemui Roni kenalannya. "Ron, aku mau minta tolong, bisa?" tanya Dewi dengan tatapan memohon.
"Tolong apa, Suster? Kalau aku bisa bantu, pasti akan kubantu," jawab Roni tersenyum.
"Aku mau lihat rekaman CCTV beberapa hari yang lalu. Ada yang mau aku cari tahu," bisik Dewi.
Roni tampak berpikir sejenak. "Hmm... Sebenarnya ini nggak boleh, Sus. Tapi, karena Suster Dewi yang minta, ya sudah. Mau lihat rekaman yang mana?"
Dewi kemudian meminta rekaman CCTV di koridor depan ruangan Renata tiga hari lalu. Mereka memutar rekaman itu.
Dewi menajamkan penglihatannya untuk kala rekaman tersebut diputar. Dari Davin datang sampai akhirnya pergi meninggalkan tempat itu.
Dewi terkejut. "Kenapa Dokter Davin pergi dan kelihatan marah? Dia bahkan membuang bunga itu? Apa yang terjadi sebenarnya?" gumamnya makin penasaran.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!