Dingin. Hal terakhir yang Jennie ingat adalah rasa dingin yang menusuk tulang di sebuah gudang kotor, bau anyir darahnya sendiri, dan tawa mengejek Choi Reynard yang baru saja menjualnya seperti rongsokan.
Namun, rasa sakit itu tiba-tiba lenyap. Tergantikan oleh kehangatan selimut bulu yang lembut dan aroma sandalwood bercampur maskulin yang sangat ia kenal. Aroma yang selama ini ia hindari, namun diam-diam ia rindukan di saat-saat terakhir nyawanya.
Jennie tersentak bangun. Napasnya memburu, keringat dingin membasahi dahi. Matanya menyisir sekeliling kamar seluas ratusan meter persegi itu. Lampu kristal yang megah, furnitur kayu mahoni, dan foto pernikahan besar di dinding.
"Aku... belum mati?" bisiknya parau. Tangannya yang gemetar menyentuh kulit lehernya. Tidak ada bekas luka. Tidak ada tanda-tanda kehamilan yang dipaksakan. Ia tampak... sempurna.
"Jennie? Kamu mimpi buruk lagi?"
Suara berat dan datar itu membuat jantung Jennie seolah berhenti berdetak. Ia menoleh perlahan. Di ambang pintu walk-in closet, berdiri seorang pria tanpa atasan, hanya mengenakan handuk yang melilit pinggang atletisnya. Tato besar di punggungnya yang kokoh terlihat sangat mengintimidasi di bawah remang lampu kamar.
Limario Thomas Vincentius.
Suaminya. Pria yang ia khianati habis-habisan. Pria yang ia sebut "iblis" hanya karena sifat posesifnya, tanpa menyadari bahwa obsesi pria itu adalah bentuk perlindungan paling murni.
Tanpa memedulikan rasa gengsi yang dulu selalu ia agungkan, Jennie melompat dari ranjang. Ia berlari bertelanjang kaki dan langsung menubruk dada bidang Limario, memeluknya begitu erat seolah pria itu akan menguap jika ia lepaskan.
Limario membeku. Tubuhnya yang keras seperti karang tidak bergerak. Biasanya, Jennie akan memalingkan wajah jika ia mendekat, atau setidaknya mencaci-makinya karena pulang terlalu larut.
"Kenapa?" tanya Limario pendek. Tangannya yang besar ragu-ragu sejenak sebelum akhirnya mendarat di pinggang Jennie, mendekapnya posesif. "Mau minta cerai lagi? Atau pria kecilmu itu berbuat ulah lagi?"
Mendengar nama Reynard disebut, Jennie mempererat pelukannya. Isak tangisnya pecah di dada Limario. "Maaf... maafkan aku, Lim. Aku bodoh... aku minta maaf."
Limario mengernyitkan alis. Matanya yang tajam bak elang menatap istrinya dengan penuh selidiki. Apakah ini taktik baru Jennie agar bisa bertemu selingkuhannya? Namun, isak tangis ini terasa terlalu nyata. Terlalu menyakitkan.
"Lim, jangan lepaskan aku. Tolong, jangan pernah biarkan aku pergi lagi," racun Jennie dalam tangisnya.
Tiba-tiba, pintu kamar terbuka sedikit. Seorang gadis kecil dengan piyama bergambar kelinci mengintip malu-malu. "Mummy menangis?"
Jennie menoleh. Jantungnya serasa mencelos melihat sosok mungil itu. Kenzhi. Putrinya yang dulu ia telantarkan demi mengejar laki-laki lain. Di kehidupan lalu, Kenzhi tumbuh menjadi anak yang pendiam dan takut pada ibunya sendiri.
"Kenzhi... kemari, Sayang. Kemari pada Mummy," Jennie merentangkan satu tangannya, memanggil putrinya.
Kenzhi ragu sejenak, menatap ayahnya seolah meminta izin. Setelah Limario mengangguk kecil, bocah itu berlari kecil dan masuk ke dalam pelukan Jennie.
Di pagi itu, di dalam dekapan suami "mafia"-nya dan putri kecilnya, Jennie Ruby Jane bersumpah: Jika ini adalah mimpi, jangan bangunkan aku. Jika ini adalah kesempatan kedua, maka aku akan memastikan Choi Reynard membusuk di neraka sebelum dia sempat menyentuh keluargaku.
Limario masih terpaku. Dekapan Jennie terasa begitu putus asa, sangat kontras dengan Jennie yang biasanya dingin dan selalu menuntut cerai. Ia melirik Kenzhi yang kini menyusup di antara mereka, wajah kecilnya tampak bingung namun berbinar karena ibunya akhirnya mau menyentuhnya.
"Kenzhi, Sayang..." Jennie menciumi puncak kepala putrinya berkali-kali. Air matanya membasahi rambut legam bocah itu. "Maafkan Mummy. Mummy sangat menyayangimu."
Kenzhi mendongak, matanya yang bulat mengerjap polos. "Mummy tidak marah lagi karena Kenzhi memecahkan vas bunga kemarin?"
Hati Jennie mencelos. Ia ingat kejadian itu di kehidupan sebelumnya. Ia membentak Kenzhi hingga bocah itu menangis tersedu-sedu hanya karena sebuah vas murah, padahal saat itu Jennie sedang kesal karena Choi Reynard tidak membalas pesannya.
"Tidak, Sayang. Mummy tidak marah. Mummy yang salah," bisik Jennie seraya memeluk Kenzhi lebih erat.
Limario menghela napas berat. Ia melepaskan pelukan Jennie perlahan, lalu berlutut agar sejajar dengan tinggi putrinya. "Kenzhi, pergilah ke kamar mandi. Bersiaplah, Grandma sudah menunggumu untuk sarapan."
"Baik, Daddy!" Kenzhi memberikan kecupan singkat di pipi Jennie—hal yang jarang ia lakukan—sebelum berlari keluar kamar dengan riang.
Kini, hanya tersisa Jennie dan Limario di kamar yang luas itu. Suasana mendadak menjadi dingin. Limario berdiri, menatap Jennie dengan tatapan tajam yang bisa mengintimidasi musuh bisnis manapun.
"Ada apa, Jennie?" suara Limario terdengar rendah dan mengancam. "Perubahan sikapmu ini... apakah ini karena pria itu lagi? Apa dia butuh uang lagi?"
Jennie menggeleng cepat. Ia melangkah mendekat, mengabaikan tatapan tajam suaminya. Ia meraih tangan besar Limario yang kasar karena bekas latihan menembak, lalu menempelkannya ke pipinya sendiri.
"Aku serius, Lim. Aku ingin memperbaiki semuanya. Aku ingin menjadi istri yang baik untukmu dan ibu yang baik untuk Kenzhi. Dan..." Jennie menjeda kalimatnya, tenggorokannya tercekat. "...aku ingin minta maaf pada Ibu."
Limario menyipitkan mata. "Ibuku? Kamu bahkan tidak mau memanggilnya 'Ibu' selama dua tahun ini."
"Aku tahu aku jahat. Aku tahu aku gila karena terobsesi pada orang yang salah," Jennie menatap langsung ke mata kelam Limario tanpa rasa takut. "Mulai hari ini, aku akan membuktikan padamu bahwa aku milikmu. Hanya milikmu, Limario."
Limario terdiam cukup lama. Sebagai bos Mafia, ia dilatih untuk tidak mempercayai siapapun, termasuk istrinya sendiri yang sudah berulang kali menusuknya dari belakang. Namun, melihat binar kejujuran dan ketakutan kehilangan di mata Jennie, ada sesuatu di dalam dadanya yang bergetar.
Drrttt... Drrttt...
Ponsel Jennie yang tergeletak di nakas bergetar. Sebuah notifikasi pesan muncul di layar.
Choi Reynard: "Sayang, aku menunggumu di kafe biasa jam 10. Aku butuh bantuanmu untuk biaya kuliahku bulan ini. I love you."
Mata Limario melirik sekilas ke arah ponsel itu. Rahangnya mengeras. Ia bersiap untuk mendengar Jennie berbohong dan meminta izin keluar seperti biasanya.
Namun, di luar dugaan, Jennie mengambil ponsel itu, membacanya di depan Limario, lalu tertawa sinis. Tanpa ragu, ia memblokir nomor tersebut dan menghapus pesannya.
"Lim," ucap Jennie sambil menunjukkan layar ponselnya yang sudah bersih dari kontak Reynard. "Bisakah kita sarapan bersama Ibu hari ini? Aku ingin membuatkan sesuatu untuk kalian."
Limario tertegun. Ini bukan Jennie yang ia kenal. Namun, bibirnya sedikit terangkat membentuk senyum tipis yang sangat langka. "Pakai pakaian yang sopan. Ibu tidak suka melihatmu memakai baju kurang bahan saat sarapan."
Jennie tersenyum lebar—senyum tulus pertama yang ia berikan pada suaminya dalam bertahun-tahun. "Siap, Bos Mafia-ku!"
Jennie segera bersiap. Ia memilih gaun midi berwarna krem yang sopan namun elegan, sangat kontras dengan pakaian mini dan ketat yang biasa ia kenakan untuk memikat Reynard di kehidupan lalu. Ia menghapus riasan tebalnya, membiarkan wajah cantiknya memancarkan aura keibuan yang selama ini ia kubur.
Saat melangkah ke ruang makan, aroma nasi goreng mentega dan kopi tercium kuat. Di sana, di kursi kebesarannya, duduk Ny. Maurel Vincentius. Wanita itu sedang membujuk Kenzhi makan, wajahnya yang teduh tampak sedikit lelah namun tetap penuh kasih.
Langkah Jennie terhenti. Bayangan tubuh Maurel yang tergeletak bersimbah darah di jalan raya akibat dorongannya sendiri berputar seperti film horor di kepalanya. Tangan Jennie gemetar hebat.
"Mummy!" seru Kenzhi ceria.
Maurel menoleh, matanya sedikit membelalak melihat Jennie. Ia bersiap untuk menerima ketus atau sindiran tajam dari menantunya itu, seperti hari-hari biasanya. Namun, yang ia dapati justru Jennie yang berjalan cepat ke arahnya, lalu berlutut di samping kursinya.
"Ibu..." suara Jennie pecah. Ia meraih tangan keriput Maurel dan menciumnya berkali-kali. "Maafkan Jennie. Maaf karena selama ini Jennie menjadi menantu yang buruk. Maaf karena Jennie sering membantah Ibu."
Suasana ruang makan mendadak hening. Para pelayan yang sedang menata piring sampai menjatuhkan sendok karena terkejut. Limario, yang baru saja masuk dengan kemeja hitam yang lengannya digulung, terhenti di ambang pintu. Matanya terpaku pada pemandangan asing itu.
Maurel tertegun, tangannya yang bebas mengelus rambut Jennie dengan ragu. "Jennie... ada apa, Nak? Apa kamu sakit? Lim, apa yang terjadi pada istrimu?"
Limario tidak menjawab. Ia berjalan mendekat, menarik kursi di kepala meja, dan duduk dengan tenang meski batinnya berkecukupan tanda tanya. "Dia bilang ingin berubah, Bu. Biarkan saja."
"Aku serius, Bu," Jennie mendongak dengan mata sembab. "Mulai hari ini, biar Jennie yang menyiapkan keperluan Ibu. Jennie ingin kita berbelanja bersama nanti siang. Kenzhi juga ikut. Aku ingin membelikan Ibu bros berlian yang pernah Ibu lihat di katalog bulan lalu."
Maurel tersenyum haru, matanya berkaca-kaca. "Ibu tidak butuh berlian, Sayang. Melihatmu tersenyum pada Lim dan menyayangi Kenzhi sudah lebih dari cukup bagi Ibu."
Sakit. Dada Jennie terasa sesak mendengar ketulusan itu. Bagaimana bisa ia dulu tega membunuh malaikat seperti ini demi pria sampah seperti Reynard?
Di tengah momen hangat itu, ponsel Limario bergetar. Ia membacanya sekilas, lalu melirik Jennie dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Salah satu mata-mataku melaporkan ada tikus kecil yang berkeliaran di depan gerbang mansion sejak tadi pagi," ucap Limario dingin sambil memotong steaknya. "Dia mencari 'istri tercintanya'."
Jennie tahu siapa yang dimaksud. Choi Reynard. Pria itu pasti nekat datang karena pesannya diabaikan dan nomornya diblokir.
Jennie meletakkan sendoknya perlahan. Ia menatap Limario dengan senyum tipis yang mematikan. "Lim, jangan biarkan penjaga mengusirnya. Suruh mereka membawanya ke gudang belakang. Aku ingin menyapanya... dengan caraku sendiri."
Limario berhenti mengunyah. Ia menatap istrinya dalam-dalam, mencari celah kebohongan, namun yang ia temukan hanyalah kebencian murni di mata Jennie terhadap pria itu.
"Tentu," jawab Limario pendek, suaranya berat dan penuh otoritas. "Apapun untuk istriku."
Angin siang berembus dingin di gudang belakang mansion Vincentius. Bau lembab bercampur karat besi menusuk hidung Jennie. Di sana, duduk terikat di sebuah kursi usang, adalah sosok Choi Reynard. Wajahnya yang dulu selalu terlihat tampan dan memikat kini tampak kusut dan penuh ketakutan. Beberapa anak buah Limario berjaga dengan wajah datar, tangan bersedekap, mengawasi Reynard seperti mangsa yang siap dicabik.
"Jennie! Sayang! Akhirnya kau datang juga!" Reynard berteriak dengan nada lega bercampur panik saat melihat Jennie melangkah masuk. "Apa-apaan ini? Kenapa aku diikat? Siapa mereka? Tolong aku, Sayang!"
Jennie berhenti beberapa langkah di depan Reynard. Tangannya bersedekap di dada, tatapannya dingin dan menusuk, sangat berbeda dari Jennie yang selalu tergila-gila pada Reynard.
"Sayang?" Jennie mengulang kata itu dengan nada mengejek. Senyum tipis terukir di bibirnya, namun senyum itu tidak mencapai matanya. "Sejak kapan aku jadi 'sayang'-mu, Choi Reynard?"
Reynard kebingungan. "Apa maksudmu? Aku datang karena kau memblokir nomor teleponku! Apa suamimu tahu aku datang kemari? Lepaskan aku! Aku akan melaporkan ini ke polisi!"
Jennie tertawa kecil, suara tawanya terdengar seperti pecahan kaca. Ia berjalan mengitari Reynard, matanya menelusuri setiap inci tubuh pria itu dengan pandangan jijik. "Polisi? Kau pikir siapa yang akan mempercayai seorang pria yang menerobos masuk ke kediaman seorang bos Mafia dan CEO terkaya di negara ini, hanya untuk mencari wanita yang sudah berulang kali ia peras?"
Wajah Reynard pucat pasi. "Bos Mafia? Apa maksudmu? Suamimu itu... Limario Vincentius... dia seorang Mafia?"
"Oh, jadi kau tidak tahu?" Jennie pura-pura terkejut. "Tentu saja dia Mafia. Mafia yang sangat bucin pada istrinya, sampai-sampai dia bisa membuatmu lenyap tanpa jejak jika aku mau."
Mata Reynard melebar ketakutan. Ia akhirnya menyadari kesalahannya. "Jennie, aku minta maaf! Aku hanya butuh uang untuk kuliah! Aku bersumpah tidak akan mengganggumu lagi! Tolong lepaskan aku!"
Jennie menghentikan langkahnya di depan Reynard. Ia membungkuk sedikit, mensejajarkan pandangannya dengan mata panik pria itu. "Kau butuh uang untuk kuliah, katamu? Di kehidupan sebelumnya, kau tidak hanya memeras uangku, Reynard. Kau menjualku pada sekelompok manusia biadab. Kau membuatku hamil... entah anak siapa."
Reynard menatap Jennie tidak percaya. "A-apa yang kau bicarakan? Aku tidak mengerti!"
"Kau akan mengerti," bisik Jennie pelan, suaranya dipenuhi kebencian yang mendalam. "Tapi tidak sekarang. Sekarang, aku hanya ingin kau merasakan sedikit penderitaan yang kau sebabkan padaku."
Jennie menegakkan tubuhnya, memberi isyarat pada salah satu anak buah Limario. "Beri dia pelajaran. Bukan sampai mati, tapi cukup sampai dia tidak bisa melangkah keluar dari tempat ini selama seminggu."
Anak buah Limario mengangguk patuh. Reynard berteriak minta ampun, namun suaranya segera ditelan oleh bunyi pukulan yang keras. Jennie membalikkan badan, berjalan keluar gudang tanpa sedikitpun keraguan. Suara rintihan Reynard terdengar semakin samar di belakangnya.
Di luar gudang, Limario sudah berdiri bersandar di mobil sport-nya yang mewah, tangannya menyilang di dada, menunggunya. Matanya menatap Jennie dengan intens, seolah membaca setiap pikiran wanita itu.
"Bagaimana?" tanya Limario pendek.
Jennie tersenyum tipis. "Dia sudah mendapatkan apa yang pantas dia dapatkan. Tapi ini belum selesai." Ia melangkah mendekat, mengaitkan tangannya di lengan Limario. "Aku ingin ke butik, Lim. Aku ingin membelikan Ibu dan Kenzhi gaun baru untuk acara makan malam nanti."
Limario mengamati Jennie dengan seksama. Ada perubahan besar dalam dirinya. Kebencian di matanya saat berhadapan dengan Reynard tadi bukan lagi kebencian seorang wanita cemburu, melainkan kebencian seorang predator.
Tanpa berkata-kata, Limario mengeluarkan dompet dari saku jaket kulitnya. Ia menyerahkan sebuah kartu hitam pekat dengan lambang singa emas—Black Card miliknya, kartu tanpa batas yang tidak pernah ia berikan pada Jennie di kehidupan sebelumnya.
"Belanjakan semua yang kau mau," kata Limario, tatapannya masih mengunci Jennie. "Tapi pastikan Ibu dan Kenzhi senang. Dan..." Ia mendekatkan wajahnya, berbisik di telinga Jennie. "...jangan coba-coba membelikan apapun untuk pria sampah itu lagi, atau kau akan melihat sisi iblisku."
Jennie tersenyum, mengedipkan matanya genit. "Tentu, Bos. Kali ini, semua hanya untuk keluarga Vincentius."
Setelah Jennie meninggalkan gudang, suasana di dalam mansion Vincentius terasa lebih tenang, namun ketegangan baru mulai muncul di antara Jennie dan Limario.
Lanjutan Bab 2: Ujian Kepercayaan
Limario masih berdiri di sana, memandangi sosok Jennie yang kini tampak begitu berbeda. Rambut hitam panjangnya berkibar ditiup angin, dan aura dingin yang biasanya ditujukan padanya, kini beralih sepenuhnya kepada Reynard.
"Kau benar-benar tidak ingin dia mati?" tanya Limario pelan saat mereka berjalan menuju mobil. "Satu perintah dariku, dan dia tidak akan pernah bernapas lagi."
Jennie menghentikan langkahnya. Ia menatap Limario, lalu menyentuh rahang suaminya yang tegas. "Kematian terlalu mudah untuknya, Lim. Aku ingin dia merasakan bagaimana rasanya kehilangan segalanya—harta, nama baik, dan harga diri. Persis seperti apa yang hampir dia lakukan pada keluarga kita."
Limario terdiam. Kalimat "keluarga kita" beresonansi kuat di telinganya. Selama ini, Jennie selalu menganggap pernikahan mereka sebagai penjara.
"Baiklah," ucap Limario pendek. Ia membukakan pintu mobil untuk Jennie. "Kita pergi ke pusat kota sekarang. Ibu dan Kenzhi sudah menunggu di butik langganan mereka."
Momen di Butik Mewah
Di dalam butik kelas atas yang hanya melayani pelanggan VVIP, Ny. Maurel dan Kenzhi sedang melihat-lihat beberapa kain. Wajah Maurel tampak ragu saat melihat label harga, kebiasaan lamanya yang hemat meski suaminya adalah seorang Vincentius.
"Ibu, jangan lihat harganya," suara Jennie memecah keraguan Maurel. Ia masuk dengan anggun, langsung merangkul pundak ibu mertuanya. "Ambil apapun yang Ibu suka. Hari ini, aku yang akan memilihkan semuanya untuk Ibu."
Kenzhi berlari ke arah ibunya. "Mummy! Kenzhi mau gaun yang ada pitanya!"
Jennie tertawa, suara yang sangat jarang terdengar di mansion itu. "Tentu, Sayang. Pilih sepuluh gaun jika kau mau."
Para pelayan butik saling berbisik. Mereka terbiasa melihat Jennie yang sombong dan hanya membelikan barang untuk dirinya sendiri. Melihat Jennie yang begitu perhatian pada mertua dan anaknya adalah pemandangan langka.
Saat Jennie sedang sibuk memilihkan perhiasan untuk Maurel, Limario berdiri di sudut ruangan, memperhatikan dari jauh. Ia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi orang kepercayaannya.
"Cek semua pergerakan Choi Reynard dalam satu tahun terakhir. Dan cari tahu siapa yang dia temui selain istriku," perintah Limario dengan suara rendah. "Dan satu lagi... pantau setiap transaksi kartu yang digunakan Jennie hari ini."
Limario ingin percaya, tapi sebagai Mafia, ia tahu bahwa pengkhianatan paling berbahaya seringkali dimulai dengan senyuman yang paling manis.
"Lim! Sini sebentar!" panggil Jennie sambil melambai.
Limario mendekat. Jennie memegang sebuah jam tangan mewah bertahtakan berlian hitam. "Ini cocok untukmu. Pakailah saat pertemuan bisnis besok."
Jennie memakaikan jam itu di pergelangan tangan Limario. Jarak mereka begitu dekat hingga Limario bisa merasakan hembusan napas Jennie.
"Terima kasih," bisik Limario, matanya mengunci mata Jennie.
"Jangan berterima kasih, Lim. Ini semua milikmu, aku hanya mengembalikannya padamu," balas Jennie dengan tulus.
Namun, di tengah kebahagiaan itu, mata Jennie menangkap sosok yang ia kenali di luar kaca butik. Seorang wanita dari masa lalunya—sekretaris pribadi keluarga Choi yang dulu bekerja sama dengan Reynard untuk menjebaknya.
Jennie tersenyum dingin di dalam hati. Satu per satu, tikus-tikus itu mulai muncul. Dan kali ini, aku yang memegang racunnya.
Langkah Jennie yang elegan namun penuh maksud di dalam butik itu terhenti saat ia menyadari bahwa Limario terus mengawasinya dari kejauhan. Jennie tahu, bagi suaminya, perubahan mendadak ini terasa seperti jebakan yang terlalu indah untuk menjadi nyata.
"Ibu, coba kalung ini," Jennie melingkarkan sebuah kalung berlian dengan potongan zamrud ke leher Ny. Maurel. Hijau batu itu sangat serasi dengan mata Maurel yang teduh.
"Ini terlalu mahal, Jennie... Ibu tidak butuh perhiasan seperti ini untuk di rumah," tolak Maurel lembut, meskipun matanya berbinar melihat keindahan benda itu.
"Ini bukan soal butuh atau tidak, Bu. Ini soal apresiasi. Ibu sudah menjaga Kenzhi dan menjagaku—bahkan saat aku tidak tahu diri," Jennie menatap bayangan Maurel di cermin dengan mata berkaca-kaca. "Anggap saja ini jimat perlindungan dari Jennie."
Di sudut lain, Kenzhi sedang asyik mencoba bando-bando kecil yang harganya mungkin setara dengan gaji tahunan orang biasa. Limario menghampiri putrinya, namun matanya tetap tertuju pada Jennie.
"Mummy sangat cantik hari ini, ya Dad?" celetuk Kenzhi polos sambil memasang bando kelinci.
Limario hanya bergumam rendah, namun dalam hatinya ia setuju. Jennie tidak lagi memakai pakaian yang provokatif untuk menarik perhatian laki-laki lain. Hari ini, ia tampak berkelas, kuat, dan... berbahaya.
Pertemuan Tak Terduga
Saat mereka hendak meninggalkan butik, seorang wanita dengan pakaian kantor yang ketat dan wajah penuh riasan tebal hampir menabrak Jennie di pintu masuk.
"Oh! Jennie? Jennie Ruby Jane?" wanita itu berseru dengan nada yang dibuat-buat ramah.
Jennie membeku. Sarah. Sekretaris sekaligus kaki tangan keluarga Choi. Di kehidupan sebelumnya, Sarah-lah yang membujuk Jennie untuk memindahkan aset perusahaan Limario ke rekening pribadi Reynard dengan alasan "investasi masa depan".
"Sarah. Lama tidak bertemu," jawab Jennie dingin. Ia merasakan tangan Limario mendarat di pinggangnya, posesif.
Sarah melirik Limario dengan tatapan takut sekaligus kagum, lalu kembali menatap Jennie. "Aku dengar dari Reynard kau sedang sulit dihubungi. Dia menunggumu, kau tahu? Ada proyek properti besar di wilayah Utara yang ingin dia diskusikan dengamu."
Jennie tersenyum tipis, sebuah senyuman yang membuat Sarah merasa sedikit tidak nyaman. "Proyek properti di Utara? Maksudmu tanah rawa yang izin bangunannya akan dicabut pemerintah minggu depan karena masalah AMDAL?"
Wajah Sarah berubah pucat. "Bagaimana kau... maksudku, bukan itu—"
"Sampaikan pada bosmu, Sarah," Jennie memotong dengan nada tajam. "Jangan coba-coba menjual sampah padaku lagi. Dan jangan pernah berani mendekati mansionku jika kau masih sayang dengan nyawamu."
Limario mengerutkan dahi. Ia tahu tentang proyek di Utara itu, tapi informasi tentang pencabutan izin adalah rahasia negara yang bahkan intelijennya pun baru mulai menyelidiki. Bagaimana Jennie bisa tahu?
Malam yang Berbeda
Sesampainya di mansion, suasana makan malam terasa sangat berbeda. Tidak ada lagi suara denting sendok yang canggung. Jennie duduk di samping Limario, sesekali menyuapi Kenzhi dengan penuh kasih.
Setelah Kenzhi dan Ny. Maurel masuk ke kamar mereka, Jennie mengajak Limario ke ruang kerja pribadinya yang gelap dan beraroma cerutu.
"Lim, aku tahu kau punya banyak pertanyaan," buka Jennie tanpa basa-basi saat mereka hanya berdua.
Limario duduk di kursi kebesarannya, menatap Jennie dengan intensitas yang bisa melelehkan baja. "Terutama tentang bagaimana kau tahu proyek Utara itu akan gagal. Itu informasi yang sangat tertutup, Jennie."
Jennie berjalan mendekat, duduk di tepi meja kerja Limario. Ia menatap suaminya dengan serius. "Anggap saja aku mendapat 'bisikan' yang akurat. Tapi bukan itu yang penting. Keluarga Choi sedang mencoba menipu beberapa investor untuk menutupi hutang judi ayah Reynard. Jika kau menarik dukungan bank-mu dari mereka sekarang, mereka akan hancur dalam tiga hari."
Limario menyipitkan mata. "Kenapa kau memberitahuku ini? Bukankah kau dulu sangat membela Reynard?"
"Dulu aku buta, Lim. Sekarang aku bisa melihat dengan jelas siapa yang benar-benar menjagaku dan siapa yang ingin memangsaku," Jennie meraih kerah kemeja Limario, menariknya sedikit lebih dekat. "Aku ingin kau menghancurkan mereka. Tanpa sisa."
Limario menatap bibir Jennie, lalu naik ke matanya yang berapi-api. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia tidak melihat ada kebohongan di sana.
"Jika informasi ini benar," bisik Limario dengan suara parau, "aku akan memberimu apapun yang kau minta sebagai hadiah."
"Aku tidak butuh hadiah, Lim. Aku hanya butuh kau percaya padaku," balas Jennie lembut.
Malam itu berakhir dengan ciuman yang tidak lagi terasa dipaksakan. Sebuah ciuman yang menandai dimulainya aliansi antara Sang Raja Mafia dan Sang Ratu yang telah bangkit dari kematian.
Cahaya matahari pagi menyusup melalui celah gorden sutra, menerangi kamar yang masih beraroma maskulin dan sandalwood. Jennie menggeliat pelan, merasakan gesekan selimut tebal di kulitnya. Saat tangannya meraba sisi ranjang di sebelahnya, ia hanya menemukan seprai yang sudah dingin.
Jennie terbangun dengan keadaan telanjang di bawah selimut tebal tanpa adanya sosok pria yang menghabiskan malam bersama dengannya. Jejak-jejak intensitas semalam masih terasa di sekujur tubuhnya, mengingatkannya bahwa Limario bukan lagi pria yang ia hindari, melainkan tempatnya pulang.
"Dasar..." bisiknya dengan senyum lebar yang tak bisa ia sembunyikan. Limario memang tipe pria yang lebih suka beraksi daripada berbasa-basi setelah malam yang panjang.
Di atas nakas, terdapat secarik kertas dengan tulisan tangan yang tegas:
“Aku ada urusan di markas. Sarapan sudah disiapkan. Pakai Black Card-mu jika ingin membakar uang hari ini. Jangan keluar tanpa pengawalan. - L"
Jennie terkekeh. "Khas sekali seorang Vincentius," gumamnya. Ia segera beranjak menuju kamar mandi, tidak ingin membuang waktu. Hari ini adalah hari di mana keluarga Choi akan mulai merasakan dinginnya lantai jurang.
Sarapan dan Strategi
Turun ke ruang makan, Jennie disambut oleh Ny. Maurel yang sedang membacakan buku cerita untuk Kenzhi. Pemandangan itu membuat hati Jennie menghangat.
"Pagi, Ibu. Pagi, Sayang," Jennie mengecup kening Kenzhi dan pipi Maurel secara bergantian.
"Pagi, Mummy! Daddy bilang Mummy capek jadi tidak boleh dibangunkan," ucap Kenzhi dengan polosnya.
Wajah Jennie sedikit memerah, sementara Ny. Maurel hanya tersenyum penuh arti. "Limario terlihat sangat bersemangat pagi ini sebelum pergi. Ibu senang melihat kalian kembali akur."
"Ini baru permulaan, Bu," jawab Jennie sambil mengoles selai pada rotinya. "Oh ya, Bu. Hari ini mungkin akan ada banyak berita di TV tentang bisnis properti di Utara. Apapun yang Ibu dengar, jangan khawatir. Lim sudah mengaturnya."
Kehancuran Dimulai
Di sisi lain kota, di kantor pusat keluarga Choi, suasana sangat kacau. Choi Reynard, dengan wajah yang masih diperban akibat "pelajaran" dari anak buah Limario, menatap layar komputer dengan mata terbelalak.
"Tuan! Bank Vincentius baru saja menarik semua jaminan mereka! Investor dari Singapura juga membatalkan kontrak proyek Utara secara sepihak!" teriak Sarah, sekretarisnya, dengan suara gemetar.
"Apa?! Bagaimana bisa?! Itu rahasia!" Reynard menggebrak meja. "Pasti Jennie! Wanita jalang itu pasti membocorkannya pada suaminya!"
Reynard mencoba menghubungi ponsel Jennie, namun yang ia dengar hanyalah suara operator. Ia tidak tahu bahwa saat ini, Limario sedang duduk di ruang kerjanya yang gelap, menyaksikan saham keluarga Choi terjun bebas di layar monitor besar.
"Hancurkan mereka sampai ke akarnya," perintah Limario pada asistennya. "Dan pastikan tidak ada satu bank pun di negara ini yang berani memberi mereka pinjaman."
Aksi Nekat Reynard
Reynard yang sudah kehilangan akal sehatnya akibat kebangkrutan yang mendadak, menatap Sarah dengan tatapan gila.
"Jika Jennie tidak mau memberiku uang, maka dia harus membayar dengan hal lain," desis Reynard. "Siapkan mobil. Kita tahu jadwal Kenzhi pulang dari sekolah balet hari ini, kan?"
Sarah ragu. "Tuan... itu bunuh diri. Limario akan membunuh kita."
"Kita tidak punya pilihan! Tanpa uang itu, ayahku akan membunuhku lebih dulu karena hutang judi itu! Kita culik anaknya, minta tebusan, lalu kita lari ke luar negeri!"
Reynard tidak menyadari, bahwa di dalam tas Sarah yang diletakkan di meja, terdapat sebuah alat penyadap kecil yang sudah dipasang oleh orang kepercayaan Jennie saat pertemuan di butik kemarin.
Jennie, yang sedang bersantai di balkon mansion sambil menyesap teh, mendengarkan percakapan itu melalui earpiece-nya. Senyumnya semakin lebar, namun matanya memancarkan kedinginan yang mematikan.
"Begitu rupanya..." Jennie menyesap tehnya perlahan. Ia menekan tombol panggilan pada ponselnya. "Lim, tikusnya sudah mulai masuk ke dalam perangkap. Kau siap untuk pertunjukan utamanya?"
Suara berat Limario terdengar dari balik telepon, dingin dan tanpa ampun. "Aku sudah menyiapkan tim di sekitar sekolah balet Kenzhi, Jennie. Tapi aku tahu kau ingin tangamu sedikit 'kotor' kali ini. Apa rencanamu?"
Jennie berdiri dari kursi balkon, menatap hamparan taman mansion yang luas dengan tatapan tajam. "Biarkan mereka merasa berhasil menculiknya, Lim. Aku ingin mereka membawa 'target' itu ke gudang tua di pinggiran kota—tempat yang sama di mana mereka menghancurkanku di kehidupan lalu. Aku ingin mengakhiri ini di sana."
....
Sore itu, sebuah mobil van hitam berhenti dengan kasar di depan sekolah balet. Reynard, dengan masker menutupi wajahnya, turun dan menarik seorang anak kecil yang mengenakan kostum balet berwarna merah muda. Anak itu berteriak, namun Reynard segera membungkamnya dan melemparnya ke dalam mobil.
"Cepat jalan!" teriak Reynard pada Sarah yang gemetar di kursi kemudi.
Mereka memacu mobil menuju sebuah gudang terbengkalai di pelabuhan tua. Reynard merasa menang. Dalam pikirannya, ia akan memeras Limario Vincentius sebesar 500 miliar rupiah dan kabur ke luar negeri.
Sesampainya di gudang, Reynard menyeret anak itu masuk. Namun, saat ia membuka penutup kepala sang bocah, jantungnya seolah berhenti berdetak. Itu bukan Kenzhi. Itu adalah manekin plastik yang dipasangi perekam suara yang terus memutar tangisan anak kecil.
KLIK.
Lampu tembak gudang menyala satu per satu, menyilaukan mata Reynard. Di tengah ruangan, duduk Jennie Ruby Jane di atas sebuah kursi kayu mewah yang seolah sengaja diletakkan di sana. Ia menyilangkan kakinya yang jenjang, mengenakan sepatu hak tinggi berwarna merah darah yang tampak kontras dengan lantai semen yang kotor.
Di belakangnya, Limario berdiri tegak seperti malaikat maut, tangannya memegang pistol berperedam yang diarahkan tepat ke dahi Reynard.
"Mencariku, Reynard?" tanya Jennie dengan nada tenang yang mengerikan.
"J-Jennie... bagaimana... di mana anakmu?!" Reynard mundur selangkah, namun ia menabrak dada bidang salah satu anak buah Limario yang sudah mengepungnya.
"Kenzhi sedang makan es krim bersama neneknya di rumah aman. Kau benar-benar berpikir aku akan membiarkanmu menyentuh sehelai rambutnya lagi?" Jennie berdiri, berjalan mendekat dengan langkah yang berirama.
Ia berhenti tepat di depan Reynard yang kini berlutut karena gemetar. Jennie merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah foto—foto hasil USG dari kehidupannya yang lalu, yang selalu ia simpan sebagai pengingat lukanya.
"Kau tahu apa ini?" bisik Jennie. "Ini adalah bukti dari dosa yang belum kau lakukan di waktu ini, tapi sudah kau lakukan di ingatanku. Dan untuk itu, kau tidak akan mati dengan cepat."
Jennie menoleh ke arah Limario. "Lim, aku ingin dia hidup. Tapi pastikan dia tidak akan pernah bisa berjalan atau melihat cahaya matahari lagi. Kirim dia ke tambang batu bara milikmu di pedalaman, biarkan dia bekerja di sana sampai napas terakhirnya."
Limario memberikan kode pada anak buahnya. Reynard berteriak histeris saat ia diseret keluar, namun suaranya segera hilang ditelan kegelapan malam.
Setelah gudang itu sepi, Limario mendekati Jennie. Ia melingkarkan tangannya di pinggang istrinya, menariknya ke dalam pelukan yang protektif. "Sudah selesai, Sayang. Kau aman sekarang."
Jennie menyandarkan kepalanya di dada Limario, menghirup aroma maskulin yang kini menjadi candunya. "Belum sepenuhnya selesai, Lim. Masih ada keluarga Choi yang harus kita ratakan dengan tanah besok pagi."
Limario terkekeh rendah, mencium kening Jennie. "Apapun perintahmu, Ratuku."
Malam itu, di bawah rembulan pelabuhan, Jennie menyadari satu hal: Kesempatan kedua ini bukan hanya untuk membalas dendam, tapi untuk mencintai pria yang dulu ia anggap iblis, namun ternyata adalah satu-satunya pelindung sejatinya.
Keluarga Choi dinyatakan bangkrut total dan diusir dari kediaman mereka. Sementara itu, Jennie mulai menunjukkan taringnya di dunia bisnis sebagai istri CEO yang cerdas, membuat semua orang yang dulu meremehkannya bertekuk lutut. Namun, sebuah rahasia kecil tentang "bagaimana Jennie bisa tahu masa depan" mulai dicurigai oleh seseorang dari masa lalu Limario.
Setelah suara jeritan Reynard menghilang di kejauhan, keheningan yang mencekam menyelimuti gudang tua itu. Jennie masih berdiri mematung, menatap lantai semen yang dingin, tempat di mana ia pernah merasa hancur berkeping-keping.
Penutup Luka Lama
Limario melangkah mendekat, sepasang tangan besarnya yang hangat melingkar di bahu Jennie yang sedikit gemetar. Ia bisa merasakan sisa-sisa amarah dan kesedihan yang memancar dari tubuh istrinya.
"Dia sudah pergi, Jennie. Dia tidak akan pernah bisa menyentuhmu atau Kenzhi lagi," bisik Limario dengan suara rendah yang menenangkan.
Jennie berbalik, menatap mata suaminya yang tajam namun penuh kasih. Ia meraih wajah Limario, mengusap rahangnya yang tegas dengan ibu jari. "Terima kasih, Lim. Terima kasih karena sudah percaya padaku, bahkan saat aku sendiri tidak percaya pada diriku sendiri."
Limario tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru menggendong Jennie ala bridal style, membuat Jennie terpekik kecil dan refleks mengalungkan tangan di leher suaminya.
"Kita pulang," ucap Limario singkat. "Kenzhi dan Ibu pasti sudah menunggu."
Kembali ke Mansion
Sesampainya di mansion, suasana jauh lebih hangat. Ny. Maurel menyambut mereka di pintu depan dengan wajah cemas yang langsung berubah lega. Kenzhi, yang memang benar sedang menikmati es krim cokelatnya, berlari memeluk kaki ayahnya.
"Mummy! Daddy! Lihat, Kenzhi dapat es krim besar dari Grandma!" seru bocah itu riang.
Jennie turun dari gendongan Limario dan berlutut untuk memeluk putrinya. "Enak? Besok kita beli lagi yang lebih besar ya, Sayang?"
Melihat pemandangan itu, Ny. Maurel mendekati Limario dan berbisik, "Ibu tidak tahu apa yang terjadi hari ini, tapi Ibu bersyukur kau tidak melepaskan Jennie. Dia adalah nyawa rumah ini."
Limario hanya mengangguk tipis, matanya tak lepas dari Jennie.
Malam Penebusan
Malam itu, setelah Kenzhi tertidur pulas, Jennie masuk ke ruang kerja Limario. Ia membawa sebuah berkas kecil. Limario yang sedang menatap peta bisnis wilayah Utara mendongak.
"Ini apa?" tanya Limario.
"Daftar aset rahasia keluarga Choi yang mereka sembunyikan di luar negeri," Jennie meletakkan berkas itu di meja. "Ambil semuanya. Jadikan itu modal untuk yayasan panti asuhan yang ingin Ibu bangun. Biarkan uang haram mereka menjadi berkah bagi anak-anak yang membutuhkan."
Limario menarik tangan Jennie, membuatnya terduduk di pangkuannya. Ia menatap istrinya dengan selidiki yang lebih lembut. "Bagaimana kau bisa tahu begitu banyak hal, Jennie? Informasi ini... bahkan intelijenku butuh waktu berbulan-bulan untuk menemukannya."
Jennie terdiam sejenak. Ia menyandarkan dahinya ke dahi Limario. "Anggap saja aku telah menempuh perjalanan yang sangat jauh dan menyakitkan hanya untuk kembali ke pelukanmu, Lim. Aku tidak akan menyia-nyiakan satu detik pun di kehidupan ini."
Limario mengecup bibir Jennie singkat, sebuah janji tanpa kata bahwa ia akan menjaga rahasia itu, apapun bentuknya.
"Besok," ucap Limario sambil mengelus pinggang Jennie, "keluarga Choi akan resmi diusir dari rumah mereka. Kau ingin datang melihatnya?"
Jennie tersenyum penuh kemenangan. "Tidak perlu. Melihat mereka hancur dari jauh sudah cukup. Besok aku punya agenda lain."
"Apa itu?"
"Membelikanmu kemeja baru. Kemeja yang semalam kau robek karena terburu-buru," goda Jennie dengan kerlingan mata nakal.
Limario tertawa rendah, suara tawa yang hanya bisa didengar oleh Jennie. Ia mematikan lampu ruang kerja, membiarkan kegelapan menyelimuti mereka saat ia kembali membimbing istrinya menuju kamar—memulai babak baru kehidupan mereka yang jauh lebih indah dari sebelumnya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!