Indonesia
NovelToon NovelToon

Mencintai Adik CEO

Siluet di Ambang Pintu

Lampu gantung kristal di aula utama kediaman Aeru tidak menyala, menyisakan kegelapan yang pekat dan dingin. Hanya cahaya bulan yang menyelinap malu-malu melalui jendela-jendela tinggi, menciptakan bayangan memanjang yang tampak seperti jemari hantu di atas lantai marmer Italia.

Pukul tiga pagi. Sunyi itu mendadak pecah oleh suara kunci yang beradu dengan lubangnya. Pintu ek berukir rumit itu terbuka dengan sentakan kasar, menghantam dinding pembatas dengan bunyi dentum yang menggema ke seluruh penjuru rumah.

Seraphina Aeru melangkah masuk dengan kaki yang tidak lagi sinkron. Sepatu stiletto merah menyala di tangan kanannya terjuntai lemas, sementara tangan kirinya meraba dinding demi mencari keseimbangan. Aroma campuran antara parfum mahal, asap rokok kelab malam, dan alkohol murahan menguar dari tubuhnya. Rambut pirang platina yang biasanya tertata sempurna kini berantakan, menempel di lehernya yang berkeringat.

"Rumah sialan," gumamnya dengan suara serak. "Terlalu luas ... terlalu sepi."

Dia melempar sepatunya ke sembarang arah. Salah satu sepatu mendarat di atas karpet Persia, sementara yang lain menghilang di balik bayangan furnitur antik. Seraphina tertawa kecil, tawa yang terdengar kosong dan sedikit pahit. Dia mulai melangkah menuju tangga melingkar, membayangkan kasur empuknya yang sudah memanggil-mutil.

Namun, langkahnya terhenti secara mendadak. Jantungnya berdegup kencang, memompa sisa-sisa alkohol ke otaknya hingga dia merasa mual.

Di ujung koridor menuju tangga, berdiri sebuah siluet. Sosok itu diam, mematung seperti patung marmer yang menjadi bagian dari dekorasi rumah. Bahunya lebar, posturnya tegak sempurna, dan dia mengenakan setelan jas hitam yang seolah menyatu dengan kegelapan di sekelilingnya.

"Astaga!" Seraphina memekik, hampir terjatuh ke belakang. Dia menyipitkan mata, mencoba fokus pada sosok yang menghalangi jalannya. "Siapa di sana? Keluar atau aku panggil polisi!"

Sosok itu bergerak. Bukan lari, melainkan melangkah perlahan menuju area yang sedikit terkena cahaya bulan. Wajahnya yang kaku dan tegas perlahan terlihat. Rahang yang kokoh, hidung lurus, dan mata yang menatap tajam namun tanpa emosi.

"Ini saya, Nona Seraphina," suara itu terdengar berat dan datar, seperti dentuman lonceng gereja di tengah malam.

Seraphina mendengus, rasa takutnya seketika berganti menjadi kejengkelan yang meluap-luap. "Dareen Christ," desisnya. "Apa yang kau lakukan di sini? Menunggu mangsa atau sedang berlatih jadi hantu?"

Dareen tidak menjawab hinaan itu. Dia hanya berdiri di sana, kedua tangannya tertaut di belakang punggung. "Anda terlambat tiga jam dari waktu yang ditentukan Tuan Seldin."

"Bodo amat dengan Seldin," Seraphina mengibaskan tangannya di udara dengan gerakan teatrikal. Dia mencoba melangkah melewati pria itu, namun sebelum bahunya sempat bersenggolan dengan lengan Dareen, pria itu bergeser. Hanya satu langkah kecil, namun sangat taktis. Dia kembali berdiri tepat di depan Seraphina, menutup akses menuju tangga.

Seraphina mendongak, matanya yang kemerahan menatap geram pada pria yang lebih tinggi darinya itu. "Minggir, Dareen. Aku mau tidur."

"Tidak sebelum Anda meminum ini," Dareen mengulurkan tangannya yang terbalut sarung tangan kulit hitam tipis. Di telapak tangannya terdapat sebuah tablet putih kecil, dan di tangan lainnya, dia memegang segelas air putih yang tampak sangat dingin.

Seraphina menatap obat itu seolah-olah itu adalah racun. "Apa itu? Ekstasi? Atau obat tidur supaya kau tidak perlu menjagaku?"

"Obat pemulih mabuk dan air putih," jawab Dareen tanpa nada. "Seldin tidak ingin melihat adiknya muntah di atas meja makan pagi ini."

"Aku tidak butuh bantuanmu, aku tidak butuh obatmu, dan aku paling tidak butuh namamu disebut-sebut di depanku!" Seraphina berteriak, suaranya melengking di aula yang sepi. Dia merasa harga dirinya diinjak-injak oleh pria yang statusnya tidak lebih dari sekadar pelayan bersenjata di rumah ini.

"Minum, Nona," Dareen mengulangi dengan ketegasan yang tidak bisa dibantah. Gelas itu kini tepat berada di depan bibir Seraphina.

Kilatan amarah yang liar muncul di mata Seraphina. Dia meraih gelas itu dengan kasar. Dareen melepaskannya, mengira gadis itu akhirnya menyerah. Namun, sedetik kemudian, Seraphina membalikkan tangannya.

Air dingin itu tumpah sepenuhnya, membasahi ujung celana kain mahal Dareen dan membanjiri sepatu kulit Oxford yang disemir mengkilap milik pria itu. Sisa airnya memercik ke lantai marmer yang bersih.

Seraphina melempar gelas kosong itu ke lantai hingga pecah berkeping-keping. Dia kemudian menatap Dareen dengan senyum kemenangan yang bengis. "Aku tidak butuh pengasuh, Dareen. Dan aku tidak butuh anjing penjaga yang tidak tahu tempat. Sekarang, minggir dari hadapanku sebelum aku menyuruh Seldin membuangmu ke jalanan."

Keheningan kembali menyergap. Seraphina menunggu reaksi. Dia berharap Dareen akan marah, berteriak, atau setidaknya menunjukkan raut kesal karena sepatunya yang berharga jutaan rupiah itu kini basah kuyup oleh sisa air dan serpihan gelas.

Namun, Dareen Christ tetaplah Dareen Christ.

Dia tidak bergeming. Dia tidak menunduk untuk melihat sepatunya. Dia bahkan tidak berkedip. Matanya tetap terkunci pada wajah Seraphina, menembus lapisan riasan yang luntur dan sikap angkuh gadis itu. Dareen membiarkan air itu meresap ke dalam kain celananya, berdiri setegar batu karang di tengah badai.

"Anda sudah selesai, Nona?" tanya Dareen lirih. Suaranya tidak mengandung kemarahan, hanya kekosongan yang justru lebih menakutkan daripada teriakan.

Seraphina terpaku. "Kau ...."

"Jika sudah, mari ikut saya," Dareen berbalik badan dengan presisi militer, seolah insiden penyiraman itu tidak pernah terjadi.

"Ke mana? Aku bilang aku mau tidur!"

"Tuan Seldin menunggu Anda di ruang makan. Sekarang," ucap Dareen sambil mulai melangkah menuju koridor sayap kanan, tempat ruang makan utama berada.

"Jam tiga pagi?! Dia gila? Aku tidak mau!" Seraphina mencoba berbalik ke arah tangga, namun langkahnya terhenti saat mendengar suara langkah kaki Dareen yang berat di belakangnya. Pria itu tidak menyentuhnya, tapi auranya terasa seperti rantai yang menjerat leher Seraphina.

"Tuan Seldin mengatakan, jika Anda menolak, saya diperbolehkan menggunakan kekuatan fisik untuk membawa Anda ke sana. Saya yakin Anda tidak ingin mengakhiri malam ini dengan memar di pergelangan tangan," Dareen berkata tanpa menoleh, namun nada suaranya sangat serius.

Seraphina mengepalkan tinjunya hingga kuku-kukunya menusuk telapak tangan. Dia benci betapa pria ini selalu tahu cara menekannya. Dia benci bagaimana Dareen tidak pernah terlihat "kalah" meski dia sudah dihina sedemikian rupa.

Dengan geram, Seraphina menghentakkan kakinya yang telanjang di atas lantai dingin, mengikuti langkah Dareen menuju ruang makan. "Awas kau, Dareen Christ," bisiknya dengan penuh kebencian. "Suatu saat nanti, aku yang akan membuatmu berlutut dan memohon ampun padaku."

Dareen tidak menanggapi. Dia hanya terus berjalan, memimpin jalan menuju "neraka" pribadi Seraphina yang sudah menunggu di ujung koridor. Sepatunya yang basah meninggalkan jejak lembap di atas marmer, satu-satunya tanda bahwa konflik kecil baru saja terjadi di antara mereka.

Di depan pintu ruang makan yang tertutup rapat, Dareen berhenti. Dia membuka pintu ganda itu dengan perlahan, membiarkan cahaya terang dari dalam ruangan menusuk mata Seraphina yang lelah.

"Nona Seraphina sudah tiba, Tuan," lapor Dareen sambil membungkuk rendah saat Seraphina melangkah masuk dengan sisa-sisa keberaniannya.

Di ujung meja panjang yang penuh dengan hidangan dingin, Seldin Aeru duduk dengan setelan jas lengkap, sedang menyesap kopi hitamnya seolah-olah ini adalah jam sepuluh pagi yang normal. Dia tidak mendongak, namun suaranya yang dingin membelah ruangan.

"Duduk, Seraphina. Kita perlu bicara tentang kelakuanmu di kelab malam tadi."

Seraphina melirik ke arah Dareen yang kini berdiri di sudut ruangan, kembali menjadi bayangan yang tak bersuara. Gadis itu tahu, malam panjangnya baru saja dimulai.

Sarapan yang Dingin

Cahaya lampu neon yang terang di ruang makan terasa seperti jarum yang menusuk langsung ke bola mata Seraphina. Ruangan itu terlalu putih, terlalu bersih, dan terlalu sunyi. Hanya suara denting halus cangkir porselen yang bertemu dengan tatakannya yang memecah keheningan. Di ujung meja panjang yang bisa menampung dua puluh orang itu, Seldin Aeru duduk dengan punggung tegak, seolah tulang belakangnya terbuat dari baja.

Seldin tidak mengenakan pakaian tidur. Dia sudah mengenakan kemeja biru navy yang disetrika kaku dengan dasi sutra yang terikat sempurna. Di depannya, sebuah tablet menampilkan grafik saham yang bergerak naik turun, namun wajahnya jauh lebih datar daripada grafik tersebut.

Seraphina merosot di kursinya, sengaja duduk dengan posisi yang tidak sopan. Dia masih mengenakan gaun mini ketat berwarna perak yang sebagian payetnya sudah lepas, sisa dari kegilaannya di lantai dansa beberapa jam lalu.

"Minum kopimu, Sera. Kau terlihat seperti sampah yang dipungut dari pinggir jalan," suara Seldin mengalun tenang, namun setiap katanya memiliki berat yang mampu meremukkan mental seseorang.

Seraphina mendengus, tangannya yang gemetar meraih cangkir kopi yang disediakan pelayan. "Setidaknya sampah punya kebebasan untuk berada di mana saja. Tidak seperti di rumah ini, yang lebih mirip kamar mayat berlapis emas."

Seldin perlahan mengalihkan pandangannya dari layar tablet. Matanya yang dingin memindai penampilan adiknya dari atas ke bawah. Tatapan itu bukan tatapan penuh kasih sayang seorang kakak, melainkan tatapan seorang kurator seni yang sedang melihat lukisan rusak yang tidak berharga.

"Gaun itu," Seldin memberi isyarat dengan dagunya. "Terlalu pendek, terlalu terbuka, dan warnanya ... murahan. Kau adalah seorang Aeru. Nama belakangmu mewakili stabilitas ekonomi negara ini, bukan mewakili gadis bayaran di kelab malam kelas dua."

Darah Seraphina mendidih. Dia benci bagaimana Seldin selalu mengaitkan keberadaannya dengan "brand" keluarga. "Oh, maafkan aku jika aku merusak reputasi suci Aeru Group yang agung ini, Kak. Mungkin aku harus memakai gaun biarawati mulai besok?"

"Mungkin kau hanya perlu belajar harga diri," balas Seldin tajam. "Atau mungkin, kau butuh pengawasan yang lebih ketat lagi. Dareen?"

Dari sudut ruangan yang remang-remang, Dareen Christ melangkah maju. Dia berdiri tepat di belakang kursi Seraphina, seperti bayangan yang baru saja lepas dari dinding. Sepatunya yang tadi disiram air oleh Seraphina entah bagaimana sudah terlihat bersih kembali, meski jika diperhatikan lebih dekat, bagian ujung celananya masih sedikit lembap.

"Ya, Tuan Seldin," sahut Dareen pendek.

"Mulai hari ini, tidak ada lagi privasi untuk adikku. Ke mana pun dia pergi, bahkan jika dia ingin ke toilet di kampus sekalipun, kau harus memastikan tidak ada pria sampah yang mendekat. Jika dia melawan, ikat dia di kamarnya," perintah Seldin tanpa ekspresi.

Seraphina tertawa sumbang, tawa yang penuh dengan nada histeris. Dia merasa dadanya sesak oleh amarah yang tidak punya jalan keluar. Matanya melirik ke arah sepiring omelette dan roti panggang di depannya yang sama sekali tidak disentuh. Dia melihat sebuah garpu perak yang berkilau di samping piringnya.

Dengan gerakan yang disengaja dan penuh drama, Seraphina menyentakkan tangannya.

Garpu perak itu terjatuh ke lantai marmer, menimbulkan bunyi dentang nyaring yang menggema di ruangan yang sunyi itu. Seraphina menyandarkan punggungnya, menantang mata kakaknya dengan dagu terangkat tinggi. Dia ingin Seldin meledak. Dia ingin kakaknya memaki, berteriak, atau melakukan apa saja selain bersikap dingin seperti robot.

Namun, Seldin Aeru bahkan tidak berkedip. Dia tidak menoleh ke arah garpu yang jatuh, seolah suara itu hanyalah suara angin yang lewat. Seldin hanya memberikan kode kecil—sebuah kedipan mata yang hampir tak terlihat—kepada pria di belakang Seraphina.

"Ambilkan," perintah Seldin singkat.

Tanpa kata, Dareen Christ bergerak. Dia tidak memanggil pelayan lain. Dia sendiri yang merendahkan tubuhnya, berlutut di atas lantai marmer tepat di samping kursi Seraphina untuk mengambil garpu tersebut.

Saat itulah, sebuah ide licik muncul di kepala Seraphina.

Seraphina masih mengenakan high heels merahnya yang tajam. Saat punggung tangan Dareen terjulur di atas lantai untuk meraih perak yang berkilau itu, Seraphina menggerakkan kakinya. Dengan kekuatan penuh dan penuh kebencian, dia menghentakkan tumit sepatunya yang runcing tepat di atas punggung tangan Dareen.

Ujung tumit itu menekan kulit tangan Dareen, menjepitnya di antara logam sepatu dan kerasnya marmer. Seraphina memberikan seluruh beban tubuhnya pada kaki tersebut, berharap mendengar suara rintihan, atau setidaknya melihat jari-jari pria itu gemetar kesakitan.

Dia ingin menghancurkan ketenangan "anjing" kakaknya ini. Dia ingin melihat Dareen Christ yang sempurna dan dingin itu tersungkur dan menunjukkan rasa sakit.

Detik berlalu. Lima detik. Sepuluh detik.

Seraphina menahan napas, matanya melirik ke bawah meja. Dia bisa melihat punggung tangan Dareen memerah hebat, bahkan mungkin sedikit berdarah karena tekanan ujung sepatu yang tajam itu. Namun, tubuh pria itu tetap stabil. Bahunya tidak bergerak satu inci pun. Tidak ada napas yang tersengal. Tidak ada desisan rasa sakit.

Dareen Christ hanya terdiam di sana, dalam posisi berlutut, membiarkan tangannya diinjak seolah-olah kaki Seraphina hanyalah selembar tisu yang jatuh.

Pria itu kemudian perlahan mendongak. Dari bawah meja, mata gelap Dareen bertemu dengan mata Seraphina yang penuh amarah. Tidak ada kebencian di mata Dareen. Tidak ada dendam. Hanya ada kekosongan yang amat sangat dalam, seolah pria ini sudah lama mematikan saraf perasanya.

"Sudah selesai, Nona?" tanya Dareen dengan suara bisikan yang hanya bisa didengar oleh Seraphina.

Seraphina tersentak. Dia merasa seperti baru saja menendang dinding beton. Rasa frustrasinya memuncak. Dia menarik kakinya kembali dengan kasar, hampir kehilangan keseimbangan di kursinya sendiri.

Dareen bangkit dengan tenang. Di tangannya, dia memegang garpu perak itu. Dia meletakkan garpu tersebut di atas serbet bersih, lalu memberikan kode kepada pelayan di kejauhan untuk menggantinya dengan yang baru. Punggung tangannya memperlihatkan bekas lingkaran merah yang dalam, hampir membiru, namun dia menyembunyikan tangan itu kembali di belakang punggungnya dengan posisi tegak sempurna.

"Kau ... kau benar-benar robot," desis Seraphina, suaranya bergetar karena emosi yang tertahan.

Seldin yang sedari tadi tetap fokus pada tabletnya, akhirnya bersuara. "Dareen bukan robot, Sera. Dia hanya profesional. Sesuatu yang sangat sulit kau pahami."

Seldin berdiri, merapikan kancing jasnya. "Aku harus pergi ke kantor. Dareen akan mengantarmu ke kampus. Jangan mencoba menghilang, atau aku akan memastikan semua fasilitas kartu kreditmu mati sebelum kau sampai di gerbang depan."

Seldin melangkah pergi tanpa pamit, tanpa pelukan, meninggalkan aroma parfum maskulin yang dingin di udara.

Kini hanya tersisa Seraphina dan Dareen di ruangan luas itu. Seraphina berdiri, mencoba menenangkan jantungnya yang masih berpacu. Dia menoleh ke arah Dareen yang masih berdiri mematung.

"Sakit, kan?" tanya Seraphina sinis, melirik ke arah tangan Dareen yang disembunyikan. "Katakan saja kalau itu sakit. Jangan berlagak jadi pahlawan di depanku."

Dareen melangkah maju, membukakan pintu untuk Seraphina. Wajahnya tetap kaku seperti topeng. "Rasa sakit adalah bagian dari kontrak saya, Nona. Selama Anda tidak melarikan diri, saya bisa menahan lebih dari sekadar injakan sepatu."

Dareen mengulurkan tangannya yang terluka ke arah pintu, memberi isyarat agar Seraphina keluar. "Mobil sudah siap di depan. Silakan."

Seraphina berjalan melewati Dareen dengan sentakan bahu yang kasar. Dia merasa kalah. Setiap kali dia mencoba melukai pria ini, justru dialah yang merasa hancur. Dia benci kakaknya, dia benci rumah ini, tapi yang paling dia benci adalah fakta bahwa dia mulai merasa penasaran—apa yang sebenarnya dibutuhkan untuk membuat seorang Dareen Christ kehilangan kendali?

Saat Seraphina sudah melangkah jauh di koridor, Dareen Christ menarik napas panjang untuk pertama kalinya. Dia melihat punggung tangannya yang berdenyut hebat, jejak tumit sepatu Seraphina tercetak jelas di sana. Dia mengepalkan tangan itu erat-erat, mengabaikan rasa perihnya, lalu melangkah menyusul sang majikan ke dalam badai yang baru saja dimulai.

Bayangan yang Menyesakkan

Matahari baru saja merayap naik, menyentuh pucuk-pucuk gedung pencakar langit di Aeryon City dengan warna keemasan yang pucat. Bagi Seraphina Aeru, udara di ibu kota negara Aeruland ini terasa mencekik. Setelah drama meja makan yang menguras emosi, dia kini terduduk kaku di kursi belakang sedan mewah yang meluncur membelah distrik Upper-East Skytown. Di depan sana, hanya ada tengkuk kaku Dareen Christ yang fokus pada kemudi.

"Aku lapar," cetus Seraphina tiba-tiba, memecah kesunyian yang tegang. "Dan jangan harap aku mau menyentuh sisa roti panggang dingin dari rumah itu."

Dareen melirik melalui spion tengah. Matanya yang tajam tetap tenang. "Tuan Seldin menginstruksikan saya untuk mengantar Anda langsung ke Aeryon International Academy, Nona. Jadwal kuliah pertama Anda dimulai tiga puluh menit lagi."

"Persetan dengan instruksi Seldin! Aku tidak bisa berpikir dengan perut kosong," Seraphina mencondongkan tubuh ke depan, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari telinga Dareen. "Cari tempat sarapan yang layak di wilayah Elysium. Bukan drive-thru, tapi tempat yang nyaman. Itu perintah, bukan permintaan."

Dareen terdiam sejenak, menimbang risiko kemarahan Seldin dibandingkan dengan ledakan emosi Seraphina yang bisa lebih merepotkan. Akhirnya, dia memutar kemudi ke arah jalanan berbatu di distrik tua yang elegan, menuju sebuah bistro kecil tersembunyi yang tampak privat.

Bistro itu beraroma kopi segar dan kayu manis. Seraphina duduk di sudut paling privat, sementara Dareen berdiri tegak dua meter di belakangnya, seperti patung penjaga yang salah tempat di antara dekorasi bunga tulip segar.

"Duduk," perintah Seraphina sambil menunjuk kursi di depannya.

"Saya bertugas untuk berjaga, Nona. Bukan untuk makan," jawab Dareen datar.

Seraphina membanting menu ke atas meja. Suaranya yang melengking membuat pelayan di kejauhan tersentak. "Aku benci makan sendirian sementara kau berdiri di sana seperti algojo yang menunggu giliranku dieksekusi! Duduk dan makan bersamaku, atau aku akan menelepon Seldin sekarang juga dan mengatakan kau telah melakukan tindakan asusila padaku. Aku akan memastikan kau dipecat dari seluruh wilayah Aeruland pagi ini juga."

Ancaman itu kotor, rendah, dan sangat khas Seraphina Aeru. Dareen menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan—ada sedikit kilatan kekecewaan yang sangat tipis sebelum wajahnya kembali menjadi topeng porselen.

Tanpa suara, Dareen menarik kursi. Dia duduk dengan punggung tegak, tidak menyandar, tangannya yang terluka akibat injakan sepatu tadi diletakkan dengan sopan di atas meja, memperlihatkan memar keunguan yang mulai membiru di bawah cahaya lampu gantung.

"Pesan apa saja yang kau mau. Aku yang bayar," ujar Seraphina, nadanya melunak karena merasa menang.

Saat makanan datang—sepiring pancake lembut dengan sirup maple untuk Seraphina dan kopi hitam pahit untuk Dareen—gadis itu tiba-tiba merasakan tangannya lemas. Efek alkohol semalam yang bercampur dengan kelelahan mental membuat tangannya gemetar. Pisau peraknya berdenting berulang kali melawan piring, membuat wajahnya memerah karena malu di depan pengawalnya.

Tanpa diminta, Dareen mengulurkan tangan. Dia mengambil pisau dan garpu dari tangan Seraphina dengan gerakan yang sangat halus. Dengan ketelitian seorang ahli bedah, dia memotong pancake itu menjadi bagian-bagian kecil yang sempurna.

Lalu, sesuatu yang tidak terduga terjadi.

Dareen menusuk satu potongan kecil, memastikannya berlumur sirup secukupnya, lalu mengarahkannya ke depan bibir Seraphina.

"Makanlah, Nona. Anda butuh tenaga untuk menghadapi hari ini," ucapnya lirih.

Seraphina terpaku. Ini bukan protokol. Ini bukan cara seorang pengawal melayani majikannya. Tatapan mata Dareen saat itu tidak lagi kosong; ada sedikit kehangatan yang asing, sebuah bentuk perhatian tulus yang tidak pernah Seraphina dapatkan dari Seldin yang selalu sibuk dengan urusan negara dan korporasi.

Seraphina membuka mulutnya, menerima suapan itu. Jantungnya berkhianat, berdetak dua kali lebih cepat. Untuk beberapa detik, ruangan itu terasa lebih hangat. Namun, begitu melihat Seraphina menelan makanannya, Dareen segera meletakkan alat makan itu kembali ke atas meja. Dia menarik diri, wajahnya kembali mengeras seolah-olah dia menyesal telah bersikap terlalu akrab.

"Saya hanya melakukan apa yang perlu agar kita bisa segera pergi," ucapnya cepat.

Seraphina mendengus, mencoba menyembunyikan getaran di hatinya. "Terserah. Aku tidak jadi ke kampus. Bawa aku ke butik pusat di Diamond Plaza. Teman-temanku menungguku di sana."

Sesampainya di pusat perbelanjaan termewah di Aeryon City itu, Seraphina melangkah keluar mobil dengan gaya angkuh, berharap Dareen akan tetap di parkiran. Namun, begitu dia masuk ke lobi butik merek ternama, dia mendengar langkah kaki yang berirama di belakangnya.

"Kenapa kau ikut masuk?" tanya Seraphina, berbalik dengan kening berkerut.

"Perintah baru dari Tuan Seldin, Nona. Twenty-four-seven. Saya tidak boleh membiarkan Anda lepas dari pandangan saya selama kita berada di wilayah publik," Dareen menjawab sambil tetap berjalan di sampingnya.

"Kau bercanda?! Aku mau bertemu teman-temanku! Kau akan berdiri di sampingku saat aku mencoba gaun?"

"Jika perlu," jawab Dareen tanpa emosi.

Seraphina menggeram frustrasi. Dia melangkah menuju lift eksklusif yang akan membawanya ke lantai VIP. Mereka masuk ke dalam lift yang berdinding cermin mengkilap. Hanya ada mereka berdua.

Merasa sangat kesal karena bayangannya diikuti, Seraphina merogoh tasnya. Dia mengeluarkan botol parfum miliknya yang beraroma sangat menyengat dan manis. Dengan sengaja, dia menekan noselnya berulang kali, menyemprotkan cairan itu tepat di depan wajah Dareen hingga udara di lift yang sempit itu dipenuhi kabut wangi yang menyesakkan.

"Ups, tanganku licin," ejek Seraphina sambil terus menyemprot. "Bagaimana, Dareen? Masih mau ikut masuk dengan bau seperti toko bunga ini?"

Dareen terbatuk pelan, matanya sedikit menyipit karena perih, namun dia tidak menjauh. Dia justru melangkah satu langkah lebih dekat, membiarkan dirinya tenggelam dalam kabut parfum itu. "Bau ini jauh lebih baik daripada bau alkohol Anda semalam, Nona."

Tepat saat Seraphina ingin membalas ejekan itu, lift berguncang hebat.

Suara besi beradu terdengar kasar di atas langit-langit, diikuti dengan lampu yang berkedip lalu padam, menyisakan lampu darurat yang remang-remang kemerahan. Lift itu berhenti total di antara lantai 40 dan 41.

Hening.

Napas Seraphina mulai memburu. Jantungnya yang tadi berdegup karena marah, kini berdegup karena ketakutan yang primitif. Dia memiliki trauma pada ruang sempit dan kegelapan.

"Dareen ..." suaranya mencicit, hilang sudah keangkuhan tadi pagi.

"Hanya gangguan teknis kecil, Nona. Jangan panik," suara Dareen terdengar sangat dekat.

"Buka pintunya! Aku tidak bisa bernapas!" Seraphina mulai terengah, tangannya meraba-raba dinding lift yang dingin. Oksigen di dalam lift itu seolah menghilang, digantikan oleh aroma parfumnya sendiri yang kini terasa mencekik.

Dalam kegelapan itu, Seraphina tidak peduli lagi pada harga diri. Dia mencari pegangan dan menemukannya—lengan jas Dareen yang kokoh. Dia mencengkeram kain mahal itu dengan kuku-kukunya yang tajam, tubuhnya gemetar hebat.

"Tolong ... aku tidak bisa ... bernapas ..."

Dareen merasakan ketakutan yang nyata dari gadis di sampingnya. Tanpa berpikir panjang, dia melanggar aturan emasnya. Dia meletakkan tangan kanannya di atas bahu Seraphina, menarik gadis itu mendekat ke arah dadanya. Tangan kirinya mengelus punggung Seraphina dengan gerakan pelan yang menenangkan.

"Bernapaslah bersamaku, Seraphina. Ikuti hitunganku," bisik Dareen. Suaranya tidak lagi seperti robot. Suaranya rendah, lembut, dan penuh perlindungan. "Satu ... dua ... buang. Kau aman. Aku di sini. Aku tidak akan membiarkan apa pun terjadi padamu selama aku masih bernapas."

Seraphina menyandarkan dahinya di dada Dareen. Dia bisa mendengar detak jantung pria itu yang tenang dan stabil. Wangi parfum yang menyengat kini bercampur dengan aroma tubuh Dareen yang maskulin—bau sabun dan aroma kayu yang segar—yang entah bagaimana terasa jauh lebih menenangkan.

Untuk beberapa detik, dunia di luar lift itu menghilang. Tidak ada kasta, tidak ada status majikan dan pelayan. Hanya ada dua orang yang saling berpegangan dalam kegelapan Aeruland yang dingin.

Lampu utama menyala kembali. Lift itu tersentak pelan dan mulai bergerak naik. Begitu pintu terbuka di lantai tujuan, cahaya terang dari lobi mal menyeruak masuk.

Seketika, Dareen menarik tangannya kembali. Dia melangkah mundur, kembali ke posisi profesionalnya seolah-olah dekapan hangat tadi tidak pernah terjadi. Wajahnya kembali kaku, matanya kembali dingin menatap lantai.

"Kita sudah sampai, Nona," ucapnya datar, suaranya kembali seperti semula—tanpa emosi.

Seraphina berdiri terpaku, jemarinya masih terasa hangat bekas mencengkeram jas Dareen. Dia menatap Dareen, mencari-cari sisa kehangatan di mata pria itu, namun yang dia temukan hanyalah dinding es yang telah dibangun kembali dengan sangat cepat.

"Ya ... kita sudah sampai," bisik Seraphina, hatinya terasa lebih sesak daripada saat lift itu berhenti tadi.

Dia melangkah keluar lift dengan langkah goyah, menyadari bahwa jarak profesional yang selama ini dia benci, kini telah runtuh di dalam dirinya sendiri—dan dia tahu, mulai detik ini, segalanya akan menjadi jauh lebih rumit.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!