Indonesia
NovelToon NovelToon

THE CHEF’S RECHARGE: Protecting The Oracle

Bab 1 The Encounter

Dunia Shine selalu terasa seperti film yang diputar terlalu cepat. Baginya, melihat masa lalu seseorang hanya butuh satu mantra singkat, namun harganya sangat mahal: energi hidupnya.

Pagi itu di kediaman mewah keluarga Kim, suasana terasa tenang namun tegang. Shine duduk di meja makan panjang, menatap kosong ke arah cangkir teh kamomilnya. Tiba-tiba, penglihatannya kabur. Sebuah bayangan melintas paksa.

Seorang siswi SMA berseragam lusuh, berdiri di pinggir jembatan Mapo. Air matanya bercampur dengan air hujan. Di bawahnya, arus sungai Han mengalir sangat deras.

"Ugh..." Shine mencengkeram kepalanya. Nafasnya memburu. Mantranya bekerja otomatis tanpa bisa ia cegah. Kekuatannya menyedot sisa energinya hingga ia merasa seolah jiwanya ditarik keluar dari pori-pori kulitnya.

"Shine! Hei, lihat aku!"

Suara berat itu milik Jin. Sang CEO yang biasanya selalu terlihat tenang dan berwibawa itu kini berlutut di samping kursi Shine dengan wajah pucat pasi. Ia segera merengkuh adiknya ke dalam pelukan erat, mencoba mentransfer energi hangatnya.

"Namjoon! Ambilkan obat penenang dari ruang kerja Suga!" teriak Jin pada RM, pengawal pribadi mereka yang selalu berdiri seperti bayangan di sudut ruangan.

Tak lama, Suga muncul dengan jas putih dokternya. Matanya yang tajam menatap Shine dengan cemas. "Dia menggunakan energinya lagi tanpa izin, Hyung. Denyut nadinya melemah." Suga langsung mengambil tangan Shine yang lain, memijat titik sarafnya dengan ahli.

"Maaf... kak..." bisik Shine lirih. Tubuhnya terasa seperti kapas yang basah. Sangat berat.

"Jangan minta maaf. Cukup jangan lakukan itu lagi," ucap Suga dingin, meski tangannya gemetar karena takut kehilangan adiknya. "Kita adalah satu-satunya sumber energimu, Shine. Jangan membuangnya untuk orang asing."

Beberapa jam kemudian, setelah energinya sedikit stabil berkat pelukan Jin dan Suga, Shine merasa sesak. Ia merasa terkekang di dalam rumah yang lebih mirip benteng itu.

"RM-ssi, antarkan aku keluar. Hanya sebentar. Aku butuh menghirup udara yang tidak berbau obat," pinta Shine saat Jin dan Suga sedang sibuk dengan rapat darurat.

RM, sang pengawal raksasa yang punya hati lembut untuk Shine, menghela nafas. "Hanya tiga puluh menit, Nona. Jika Tuan Jin tahu, kepalaku akan menjadi hiasan di mejanya."

Mereka pergi ke pusat kota. Mobil berhenti di depan sebuah restoran kecil namun elegan dengan papan nama "Euphoria". Aroma basil, bawang putih yang ditumis, dan mentega panas tercium hingga ke trotoar.

Begitu Shine melangkah masuk, bel pintu berdentang.

Di balik meja konter, seorang pria dengan celemek hitam dan lengan baju yang tergulung menampakkan tato estetik di lengannya sedang menoleh. Dia adalah Jeon Jungkook.

Jungkook membeku. Sendok perak yang ia pegang terjatuh ke lantai. Selama bertahun-tahun, ia memimpikan seorang gadis dengan mata sebiru samudera namun penuh luka. Ia tidak pernah tahu namanya, tapi ia mengenali auranya.

"Dia..." gumam Jungkook pelan. Jantungnya berdegup sangat kencang, seolah ada magnet yang menariknya.

Langkah Shine terhenti. Kepalanya kembali berdenyut, tapi kali ini bukan karena penglihatan buruk. Ia merasa seperti menemukan oase di tengah gurun pasir. Pria di depannya itu... auranya sangat terang. Begitu hangat, begitu penuh.

"Nona? Anda baik-baik saja?" RM bertanya saat melihat Shine terhuyung.

Tubuh Shine ambruk. Namun, sebelum RM bisa menangkapnya, Jungkook sudah melompat melewati konter dengan gerakan kilat. Ia menangkap tubuh Shine tepat sebelum menyentuh lantai.

Begitu kulit mereka bersentuhan, sebuah gelombang listrik yang sangat kuat mengalir di antara keduanya.

Zzzzzzt!

Shine menghirup aroma maskulin bercampur wangi basil dari leher Jungkook. Tiba-tiba, rasa sakit di kepalanya hilang total. Warna kembali ke pipinya secara instan. Energinya yang tadi kosong, mendadak melonjak penuh—bahkan lebih penuh dari yang pernah diberikan Jin dan Suga selama ini.

Shine mendongak, menatap mata bulat Jungkook yang penuh kekhawatiran dan... rasa cinta yang mendalam.

"Kau..." bisik Shine lirih.

"Akhirnya," jawab Jungkook dengan suara rendah yang menenangkan, "aku menemukanmu, My Oracle."

Jungkook tidak melepaskan pelukannya. Justru ia mendekap Shine semakin erat, posesif, seolah-olah ia sudah menunggu momen ini selama seribu tahun. Di pintu masuk, RM sudah mengeluarkan ponselnya untuk melapor pada Jin, menyadari bahwa hidup mereka semua baru saja berubah selamanya.

...****************...

Bab 2 The Awakening

Aroma antiseptik yang samar bercampur dengan wangi lilin aromaterapi lavender memenuhi kamar luas bernuansa minimalis itu. Shine mengerang kecil, kelopak matanya terasa seberat timah saat mencoba terbuka. Hal pertama yang ia rasakan bukan lagi kekosongan yang menyakitkan atau rasa dingin yang menggigit tulang, melainkan sebuah ledakan energi yang hangat, padat, dan sangat asing.

Ia menatap langit-langit kamar. Biasanya, setelah penglihatan paksa, ia akan merasa seperti ponsel dengan baterai satu persen—redup dan hampir mati. Tapi sekarang? Jantungnya berdegup kuat. Aliran darahnya terasa panas, seolah-olah seseorang baru saja menyuntikkan sinar matahari langsung ke dalam nadinya.

Shine menyentuh bibirnya. Bayangan pria di restoran tadi muncul begitu saja. Pria dengan celemek hitam, tato yang mengintip dari balik lengan baju, dan sepasang mata bulat yang menatapnya seolah ia adalah seluruh dunia.

"Gila..." bisik Shine pelan. Suaranya tidak serak seperti biasanya. Ia bangkit berdiri, dan keajaiban terjadi; kepalanya tidak pusing sama sekali.

Sementara itu, di lantai bawah, atmosfernya jauh berbeda. Ruang kerja Jin bukan lagi tempat untuk negosiasi bisnis bernilai miliaran won, melainkan ruang sidang yang mencekam.

Kim Seokjin duduk di balik meja mahoninya, melonggarkan dasi yang terasa mencekik. Di sampingnya, Suga berdiri menyandarkan tubuh di rak buku, melipat tangan di depan dada dengan wajah sedingin es. Di depan mereka, RM berdiri tegak, tanpa ekspresi, meski ia tahu dirinya sedang berada di ujung tanduk.

"Jelaskan lagi, Namjoon," suara Jin rendah, tipe suara yang membuat bawahan di kantornya ingin mengundurkan diri seketika. "Bagaimana bisa seorang koki—bukan dokter, bukan saudara sedarah, bukan pula sepupunya—bisa membuat Shine pulih dalam hitungan detik?"

RM menarik napas panjang. "Saya tidak bisa menjelaskan secara teknis, Tuan. Nona Shine hampir pingsan, dan pria itu... Jeon Jungkook, dia bergerak lebih cepat dari saya. Begitu dia menyentuh Nona, warna kulit Nona langsung kembali normal. Itu... itu tidak masuk akal, tapi saya melihatnya sendiri."

"Jeon Jungkook," Suga bergumam, menyebut nama itu seolah itu adalah jenis penyakit baru. "Aku sudah memeriksa riwayat klinis Shine selama sepuluh tahun. Hanya kita yang memiliki kecocokan energi. Secara medis, pria ini seharusnya tidak mungkin menjadi katalisator."

Suga melangkah maju, menatap RM dengan mata sipitnya yang tajam. "Kau yakin tidak ada kontak fisik lain? Hanya pelukan?"

"Hanya pelukan, Dokter," jawab RM tegas.

Jin memijat pangkal hidungnya. "Cari tahu segalanya tentang dia. Aku ingin tahu apa warna kesukaannya, siapa teman TK-nya, hingga berapa jumlah garam yang dia pakai dalam masakannya. Kalau dia punya niat buruk memanfaatkan kekuatan Shine, aku sendiri yang akan memastikan restorannya rata dengan tanah."

Suga mendengus, aura sister complex-nya meradang. "Jangan hanya restorannya, Hyung. Kalau dia berani menyentuh Shine lagi tanpa izin medis dariku, aku akan memastikan dia tidak bisa menggunakan tangannya lagi untuk memegang pisau dapur."

Di sudut lain kota Seoul, di sebuah apartemen yang terletak tepat di atas restoran Euphoria, Jeon Jungkook sedang mengalami malam terpanjang dalam hidupnya.

Ia duduk di tepi tempat tidur, membiarkan kamarnya gelap gulita. Hanya cahaya bulan yang masuk melalui jendela besar, menyinari tangannya yang terus bergerak gelisah. Jungkook menatap telapak tangannya sendiri. Masih ada getaran aneh di sana. Rasa hangat yang tertinggal setelah ia mendekap gadis itu—Shine—terasa seperti candu yang baru saja ia cicipi.

"Siapa kau sebenarnya?" gumam Jungkook pada kegelapan.

Pikirannya melayang ke mimpi-mimpi yang menghantuinya selama bertahun-tahun. Dalam mimpi itu, ia selalu berada di sebuah taman yang penuh kabut, melihat seorang gadis kecil menangis di balik pohon besar. Ia selalu ingin mendekat, namun terbangun tepat sebelum bisa menyentuhnya.

Hari ini, gadis di mimpi itu menjelma menjadi nyata. Bukan lagi kabut, melainkan tubuh hangat yang pas dalam dekapannya. Namun, ada sesuatu yang mengganggunya. Saat menyentuh Shine, Jungkook merasa separuh dari dirinya—energi yang selama ini membuatnya merasa 'penuh'—seolah tersedot keluar, mengalir menuju gadis itu. Anehnya, ia tidak merasa lelah. Ia justru merasa lega, seolah-olah energi itu memang diciptakan hanya untuk diberikan kepada Shine.

Jungkook beranjak dari tempat tidur, berjalan menuju dapur kecil di apartemennya. Ia mulai memotong sayuran dengan kecepatan yang tidak wajar, sebuah kebiasaan saat ia sedang gelisah. Suara pisau yang beradu dengan papan talenan menjadi satu-satunya melodi di malam itu.

Pintu apartemennya terbuka. J-Hope masuk dengan wajah mengantuk, membawa dua botol minuman dingin.

"Kook? Kau masih bangun? Ini jam tiga pagi," J-Hope mengerutkan kening melihat adiknya yang sudah berkeringat di depan kompor.

"Hyung, aku tidak bisa tidur," jawab Jungkook tanpa menoleh. "Rasanya... rasanya seperti aku meninggalkan sesuatu yang penting di restoran tadi sore."

J-Hope menyandarkan punggung di pintu kulkas, menatap punggung Jungkook yang tegang. Sebagai kakak, ia tahu ada yang tidak beres. "Maksudmu gadis yang dibawa pengawal besar itu? Jimin menceritakan semuanya padaku. Katanya kau memeluknya seperti sedang memegang nyawamu sendiri."

Jungkook menghentikan gerakan pisaunya. "Dia bukan sekadar pelanggan, Hyung. Dia... dia alasanku tidak pernah tertarik pada wanita lain selama ini. Rasanya aneh, tapi aku merasa aku mengenalnya lebih baik dari siapa pun, meski kami baru bertemu sepuluh detik."

J-Hope menghela napas, berjalan mendekat dan menepuk bahu Jungkook. "Dengar, Kook. Pria yang bersamanya tadi bukan orang sembarangan. Itu RM, tangan kanan keluarga Kim. Jika kau terlibat dengan mereka, hidupmu yang tenang sebagai koki akan berakhir. Kau siap?"

Jungkook membalikkan badannya. Mata bulatnya yang biasanya lembut kini terlihat gelap, penuh tekad yang posesif. "Aku tidak peduli siapa keluarganya, Hyung. Dia terlihat sangat kesakitan tadi. Jika aku satu-satunya yang bisa membuatnya tidak merasa sakit... maka dia adalah tanggung jawabku. Tidak peduli berapa banyak kakak yang harus kuhadapi."

Kembali ke kediaman Kim.

Shine tidak bisa tidur. Ia memutuskan untuk keluar kamar, berjalan perlahan melewati lorong-lorong sunyi. Ia sampai di depan pintu ruang kerja Jin yang masih sedikit terbuka. Suara perdebatan di dalam terdengar samar.

"Kita harus mengisolasi dia, Hyung! Pria itu adalah anomali!" Itu suara Suga.

"Aku tahu! Tapi kau lihat sendiri, pelukanmu bahkan tidak membuatnya bangun secepat itu tadi sore. Kita butuh dia, tapi kita juga harus mengontrolnya," balas Jin.

Shine mengepalkan tangannya di samping gaun tidurnya. Ia benci dibicarakan seolah-olah ia adalah aset perusahaan atau eksperimen laboratorium. Ia benci fakta bahwa kekuatannya membuatnya menjadi beban bagi kakak-kakaknya.

Tiba-tiba, penglihatan itu datang lagi. Singkat, tajam, dan menyakitkan.

Jungkook sedang berdiri di dapur restoran, menatap sebuah foto lama yang terbakar di sudutnya. Di belakangnya, seseorang dengan jas hitam sedang menodongkan senjata.

"Tidak..." bisik Shine. Ia terhuyung, namun kali ini ia tidak jatuh. Energi dari Jungkook yang masih tersisa di tubuhnya memberinya kekuatan untuk tetap tegak.

Ia harus bertemu pria itu lagi. Bukan hanya karena ia butuh energinya, tapi karena ia melihat bahaya yang mendekat ke arah pria yang baru saja menyelamatkannya.

Shine berbalik, kembali ke kamarnya dengan langkah terburu-buru. Di dalam kegelapan, matanya bersinar biru redup—tanda bahwa sang Oracle telah mengambil keputusan. Ia akan keluar dari benteng ini, meski itu artinya ia harus menghadapi kemarahan dua kakaknya yang paling ia sayangi.

Di sisi lain, Jungkook baru saja selesai memasak sebuah hidangan. Beef Wellington yang sempurna. Ia menatap hidangan itu dan tersenyum tipis. "Besok, aku akan membawakan ini untukmu. Dan kali ini, aku tidak akan membiarkan siapa pun membawamu pergi sebelum aku tahu namamu."

Dua jiwa yang saling merindukan dalam mimpi, kini bersiap untuk saling menarik satu sama lain di dunia nyata. Dan di balik bayang-bayang, RM yang berdiri di lorong rumah, hanya bisa menatap pintu kamar Shine dengan perasaan bimbang. Ia melihat Nona mudanya mulai memberontak, dan ia tahu, badai besar sedang menuju keluarga Kim.

...****************...

Bab 3 The Addiction

Pagi itu, sinar matahari yang menerobos celah gorden sutra di kamar Shine terasa lebih menyengat dari biasanya. Namun, bukan panas matahari yang membuat Shine gelisah, melainkan debaran di dadanya yang tak kunjung reda. Ia duduk di tepi ranjang, meremas sprei mahalnya dengan jemari yang gemetar.

Biasanya, jam-jam segini adalah waktu yang paling menyiksa. Kepalanya akan terasa seperti dihantam palu godam karena energi yang terkuras habis saat ia tertidur—dampak dari penglihatan-penglihatan masa depan yang masuk tanpa izin ke dalam mimpinya. Tapi pagi ini berbeda. Rasa hangat yang menjalar dari perut hingga ke ujung jari-jarinya masih terasa sangat nyata. Itu adalah sisa energi dari pelukan pria di restoran kemarin.

Jeon Jungkook.

Nama itu terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.

Tok, tok, tok.

Pintu terbuka tanpa menunggu jawaban. Jin melangkah masuk dengan setelan jas abu-abu yang sempurna, namun gurat kelelahan tidak bisa disembunyikan dari wajah tampannya. Di belakangnya, Suga mengekor dengan stetoskop yang menggantung di leher dan wajah yang lebih muram dari biasanya.

"Selamat pagi, Sayang," sapa Jin dengan suara lembut yang dipaksakan. Ia duduk di sisi ranjang Shine, segera merentangkan tangan. "Sini, peluk Kakak. Kau pasti merasa lemas, kan?"

Shine ragu-ragu sejenak. Ia menatap wajah Jin, lalu perlahan menjatuhkan diri ke dalam pelukan kakak tertuanya itu. Biasanya, pelukan Jin adalah rumah baginya. Aroma parfum citrus mahal dan detak jantung Jin selalu menjadi penyelamatnya dari kegelapan.

Namun, kali ini... Shine merasa hambar.

Ia mencoba memejamkan mata, mencari percikan energi yang biasanya ia dapatkan dari Jin. Memang ada energi yang mengalir, tapi rasanya tipis, seperti air yang menetes perlahan dari keran yang tersumbat. Tidak ada ledakan hangat, tidak ada getaran listrik yang membuat bulu kuduknya berdiri. Hanya ada rasa hangat yang biasa saja.

"Shine? Ada yang salah?" Jin melepaskan pelukan, menangkup wajah adiknya dengan cemas. "Kenapa wajahmu masih terlihat... bingung? Apa energinya tidak sampai?"

Suga mendekat, jari-jarinya yang dingin menyentuh pergelangan tangan Shine, memeriksa denyut nadinya. "Nadinya stabil, bahkan terlalu kuat untuk ukuran seseorang yang baru bangun setelah serangan penglihatan. Tapi kenapa wajahnya pucat?"

Suga kemudian menarik Shine ke dalam dekapannya. Sebagai seorang dokter, Suga memiliki suhu tubuh yang cenderung dingin, namun ia memiliki cara khusus untuk menyalurkan energinya secara terarah. Shine mencoba fokus, mencoba menyerap apa yang diberikan Suga. Tapi lagi-lagi, ia kecewa. Rasanya seperti meminum air putih saat ia sedang sangat haus akan sirup yang manis.

Hambar. Kosong. Kurang.

"Lepaskan, Kak," bisik Shine sambil mendorong dada Suga pelan.

"Ada apa?" Suga mengernyitkan alisnya, tampak tersinggung sekaligus khawatir. "Apa Kakak melakukan kesalahan?"

"Bukan... bukan begitu," Shine memalingkan wajah, tidak berani menatap mata kakaknya. "Hanya saja... aku merasa sudah cukup. Aku ingin mandi."

Jin dan Suga saling berpandangan. Ada kilat kecurigaan di mata mereka. Bagi kakak-kakak yang mengidap sister complex tingkat akut ini, penolakan Shine adalah alarm bahaya. Selama bertahun-tahun, mereka adalah matahari bagi Shine. Mereka adalah satu-satunya orang yang bisa membuat Shine tetap berdiri tegak. Dan sekarang, dalam satu malam, semuanya berubah.

"Ini karena pria itu, kan?" suara Suga terdengar tajam, dingin seperti es di kutub.

Shine tersentak. "Apa maksud Kakak?"

"Koki itu. Jeon Jungkook," sela Jin, suaranya naik satu oktav. Ia berdiri, berjalan mondar-mandir di kamar Shine yang luas. "Namjoon bilang dia memelukmu di restoran. Sejak saat itu, kau tidak lagi mencari kami. Kau bahkan tidak meminta pelukan sebelum tidur tadi malam."

"Dia hanya membantuku agar tidak jatuh ke lantai, Kak! Itu saja!" Shine membela diri, meski hatinya berteriak bahwa itu bohong.

"Membantu tidak perlu sampai memeluk seerat itu, Shine!" Jin memukul meja rias dengan pelan namun penuh penekanan. "Dia orang asing. Kita tidak tahu siapa dia. Bagaimana kalau dia punya energi gelap? Bagaimana kalau dia sebenarnya menyedot energinya darimu, bukan memberinya?"

Shine terdiam. Ia ingin berteriak bahwa apa yang dikatakan Jin salah total. Justru Jungkook-lah yang memberinya ledakan energi yang bahkan tidak bisa diberikan oleh sepuluh orang seperti Jin dan Suga digabungkan. Tapi ia tahu, jika ia mengatakan itu, Jungkook akan dalam bahaya besar. Jin bisa saja menghancurkan restoran pria itu dalam semalam.

Setelah kedua kakaknya pergi dengan rasa gusar yang tertinggal di udara, Shine segera mengunci pintu kamarnya. Ia berlari menuju meja rias, mengambil ponsel yang sengaja ia sembunyikan di bawah tumpukan majalah.

Jarinya bergerak lincah di layar. Ia mulai mencari dengan kata kunci: Euphoria Restaurant Chef.

Hanya dalam hitungan detik, ribuan hasil muncul. Ternyata Jungkook bukan sekadar koki biasa. Dia adalah bintang yang sedang naik daun di dunia kuliner Seoul. Banyak artikel yang membahas tentang ketampanannya, tato-tato estetik di lengannya yang sering tertutup celemek, dan masakan-masakannya yang konon bisa membuat orang menangis karena terlalu enak.

Shine menatap satu foto Jungkook yang sedang tersenyum tipis ke arah kamera sambil memegang pisau dapur. Jantungnya berdegup kencang lagi. Ada rasa rindu yang tidak masuk akal menyeruak di dadanya. Ini bukan sekadar rindu biasa; ini adalah kebutuhan fisik. Tubuhnya merindukan energi itu. Sel-sel dalam tubuhnya seolah-olah berteriak, meminta untuk kembali bersentuhan dengan sumber energi bernama Jungkook.

"Aku harus bertemu dengannya," gumam Shine. "Aku harus tahu kenapa hanya dia yang bisa membuatku merasa hidup kembali."

Ia mulai menelusuri lebih dalam. Akun media sosial Jungkook, jadwal operasional restoran, hingga berita-berita lama. Ia menemukan sebuah fakta menarik: Jungkook adalah yatim piatu yang diadopsi oleh keluarga Jung (keluarga J-Hope). Ia tumbuh besar dengan kerja keras hingga bisa membuka restorannya sendiri.

Namun, di tengah pencariannya, sebuah kilasan penglihatan kembali menghantamnya. Kali ini tidak disertai mantra, melainkan sebuah insting Oracle yang kuat.

Ia melihat Jungkook sedang berdiri di depan pintu belakang restorannya. Wajah pria itu tampak muram, tangannya memegang sebuah amplop cokelat yang terlihat kusam. Di seberang jalan, sebuah mobil hitam dengan kaca gelap sedang mengawasinya.

"Pria itu dalam bahaya," bisik Shine.

Rasa ingin tahunya kini bercampur dengan rasa takut. Obsesinya terhadap energi Jungkook kini bertransformasi menjadi dorongan untuk melindungi. Shine tahu, ia tidak bisa hanya duduk diam di kamarnya yang mewah. Ia harus keluar. Ia harus memperingatkan pria itu.

Namun, bagaimana cara melewati RM yang berjaga di depan pintu? Bagaimana cara menghindari pengawasan Jin dan Suga yang kini sedang dalam mode siaga satu?

Shine berjalan menuju balkon kamarnya, menatap ke arah gerbang depan yang dijaga ketat. Pikirannya berputar mencari cara. Ia mulai menyadari sesuatu; kecanduannya pada Jungkook bukan hanya soal energi. Ada sebuah benang merah yang ia lihat di masa lalu pria itu, sesuatu yang sangat mirip dengan apa yang ia alami.

"Jeon Jungkook... siapa kau sebenarnya bagi masa laluku?"

Shine mengambil sebuah jubah hitam panjang untuk menutupi piyamanya. Ia tahu ini berisiko. Ia tahu jika ia tertangkap, Jin mungkin akan mengurungnya di ruang bawah tanah demi keselamatannya sendiri. Tapi rasa lapar akan kehadiran Jungkook—energi yang manis, hangat, dan memabukkan itu—jauh lebih kuat daripada rasa takutnya pada sang kakak.

Ia adalah seorang Oracle. Ia bisa melihat masa depan. Dan di masa depan yang baru saja ia intip, ia melihat dirinya sedang berdiri di dapur Jungkook, di bawah lampu remang-remang, sementara pria itu berbisik di telinganya: "Kau datang juga, pencuriku."

Dengan nekat, Shine mulai menyusun rencana pelariannya. Kecanduan ini baru saja dimulai, dan ia tidak berencana untuk berhenti sampai ia mendapatkan dosis energi yang utuh dari pria koki yang menghantui mimpinya tersebut.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!