Jam dinding sudah menunjukkan pukul tujuh malam, namun Samira belum juga menyentuh makanannya. Piring di depannya masih utuh, uap tipis dari nasi dan sayur yang tadi ia masak dengan penuh harap kini hampir menghilang. Sejak sore, ia menunggu suaminya yang tak kunjung pulang. Samira sudah mengirim banyak pesan menanyakan apakah Samudra akan segera pulang karena ia telah menyiapkan makan malam.
Pesan-pesan sudah ia kirim berkali-kali.
Mas, pulang jam berapa?
Makan malam sudah siap.
Binar nunggu Papa.
Mas, lagi lembur, ya?
Tak satu pun berbalas.
Panggilan yang ia lakukan hanya berakhir pada nada dering panjang, lalu terputus tanpa jawaban.
“Papa ke mana, Mah? Kenapa belum pulang?” tanya Binar polos.
Saat itu Samira dan putrinya sudah duduk berhadapan di meja makan. Kursi di samping Binar, kursi yang biasa ditempati Samudra tetap kosong. Diam. Seolah tak pernah benar-benar menjadi milik siapa pun.
Akhirnya, dengan hati yang terasa berat, Samira menyuruh Binar makan lebih dulu.
Tatapan Samira mengikuti setiap gerakan kecil putrinya. Ada sesuatu yang tak mampu ia sembunyikan dari sorot matanya, rasa bersalah yang telah lama menetap. Pernikahan yang berawal dari sebuah kesalahan, tanpa cinta, membuat Samira selalu merasa gagal sebagai seorang ibu.
Tangannya terulur, mengambilkan lauk untuk Binar. Jemarinya lalu mengusap puncak kepala anak itu dengan lembut.
“Eemm… Papa masih kerja, sayang,” ucapnya pelan. “Sekarang Binar makan sama Mama dulu ya, Nak.”
Binar mengangguk, meski matanya sempat melirik kursi kosong di sampingnya.
Maafin Mama, Nak, batin Samira.
Mama sering bohong sama kamu. Tapi Mama cuma nggak mau kamu sedih.
Maafin Mama juga karena belum bisa jadi ibu yang benar-benar baik buat kamu.
Kalau suatu hari Mama menyerah… maafin Mama ya. Mungkin perjuangan Mama cukup sampai di sini.
Sendok di tangan Samira terhenti di udara. Dadanya mendadak sesak. Lima tahun. Lima tahun menjalani pernikahan seperti ini menunggu, berharap, lalu kembali kecewa. Berulang kali. Tanpa jeda.
Di luar sana, Samira tak tahu apa yang sedang dilakukan suaminya. Ia hanya tahu, menunggu Samudra pulang setiap malam rasanya seperti menunggu hatinya sendiri berhenti berharap.
•••••
Binar sudah menghabiskan makanannya. Anak itu turun dari kursi, menatap Samira dengan wajah polos yang selalu berhasil membuatnya bertahan sedikit lebih lama.
“Mah, Papa nanti pulang kan?”
Pertanyaan sederhana. Tapi cukup untuk melukai.
Samira tersenyum. Senyum yang ia latih setiap hari.
“Iya, Nak. Nanti juga pulang. Sekarang Bibi masuk ke kamar dulu ya, Nak. Nanti Mama susul Bibi ke kamar."
Binar mengangguk, lalu beranjak ke kamarnya. Langkah kecil itu menghilang di balik pintu, meninggalkan Samira sendirian di meja makan yang kini terasa terlalu besar dan terlalu sepi.
Samira menatap piring di hadapannya. Makanan itu sudah dingin sama seperti perasaannya yang perlahan mati rasa. Ia menarik napas panjang, lalu berdiri dan mulai membereskan meja. Kursi Samudra ia sentuh sebentar, seolah masih berharap kehangatan yang tak pernah benar-benar ada.
Jam dinding berdetak pelan.
Pukul sembilan.
Pukul sepuluh.
Tak ada suara pintu dibuka.
Tak ada langkah kaki.
Samira duduk di sofa, memeluk lututnya sendiri. Air mata akhirnya jatuh, satu per satu, tanpa isak. Tangisnya sudah terlalu lelah untuk bersuara.
“Mas…” bisiknya lirih. “Aku capek.”
Ia menutup mata. Bukan rasa marah yang memenuhi dadanya, melainkan kelelahan yang dalam. Kelelahan karena terus menjadi kuat sendirian. Kelelahan karena bertahan di pernikahan yang hanya menyisakan status, tanpa kehadiran.
Malam itu, Samira sadar.
Menunggu Samudra pulang bukan lagi soal cinta melainkan soal keberanian untuk mengakui bahwa ia sudah hampir menyerah.
Pikiran tentang pergi tidak lagi terasa menakutkan… melainkan terasa seperti satu-satunya cara untuk bernapas.
•••••
Samira pernah berpikir, seiring berjalannya waktu, keluarganya akan tumbuh menjadi keluarga yang hangat. Keluarga kecil yang sederhana, seperti keluarga Cemara yang sering ia lihat pada orang lain penuh tawa, penuh cerita, penuh kasih sayang.
Namun ternyata harapan itu keliru sejak awal.
Lima tahun pernikahan berlalu, dan yang Samira rasakan hanyalah sebuah keluarga kecil yang tampak bahagia di mata orang lain. Senyum yang ia pasang rapi setiap hari berhasil menipu banyak mata. Tak ada yang tahu bahwa di balik dinding rumah itu, dingin lebih sering hadir daripada hangat.
Tak ada tawa yang tumbuh dari cinta.
Tak ada kehangatan yang lahir dari kebersamaan.
Jika saja tidak ada Binar di antara mereka, mungkin Samira sudah lama menyerah. Bertahan bersama seseorang yang tak pernah benar-benar mencintainya adalah luka yang terus ia peluk sendirian tanpa saksi, tanpa pelukan balasan.
Namun di sisi lain, Samira sangat bersyukur. Kehadiran Binar adalah satu-satunya cahaya dalam keluarga kecil itu. Wajah polos putrinya, tawa kecil yang sesekali memenuhi rumah, selalu menjadi alasan Samira untuk kembali bertahan. Setidaknya… sampai hari ini.
Binar bukan hanya anak baginya.
Ia adalah penguat.
Penghibur.
Dan alasan Samira masih memilih bangun setiap pagi, meski hatinya rapuh dan lelah.
Samira menarik napas panjang, menatap wajah putrinya yang tertidur pulas. Jemarinya mengusap pipi kecil itu dengan penuh kasih.
Mungkin aku lemah karena bertahan terlalu lama, batinnya.
Tapi aku juga seorang ibu. Dan seorang ibu akan melakukan apa pun demi anaknya.
Aku tak mau anakku tumbuh tanpa perhatian dari kedua orang tuanya.
Namun pikiran itu tak lagi sekuat dulu.
Samira berdiri, melangkah ke ruang tamu untuk menunggu suaminya pulang. Lampu disana masih menyala, ia duduk disofa menatap seisi rumah yang terasa dingin.
“Mas…” bisiknya lirih. “Apa aku terlalu banyak berharap?”
Tak ada jawaban. Seperti biasa.
Ponselnya bergetar pelan. Bukan pesan dari Samudra. Hanya notifikasi.
Samira menatap layar itu lama. Ia tidak merasa ingin menangis yang ada hanya keheningan yang menekan dada, keheningan yang membuatnya bertanya pada dirinya sendiri, sampai kapan?
Ia mengangkat kakinya, memeluk bantal sofa. Dalam gelap, air mata jatuh tanpa suara.
Mungkin menjadi ibu bukan berarti harus selalu mengorbankan diri sampai hilang, pikirnya.
Mungkin anakku juga butuh ibu yang utuh… bukan ibu yang terus hancur pelan-pelan.
Samira tidak lagi berdoa agar suaminya cepat pulang. Ia justru berdoa agar diberi kekuatan apa pun bentuknya. Bertahan, atau melepaskan.
Dan jauh di lubuk hatinya, sebuah keputusan kecil mulai tumbuh. Belum berani ia ucapkan, belum berani ia akui. Tapi ia tahu, hari itu akan datang.
•••••
Tengah malam. Saat Samira masih setia menunggu suaminya, tepat pukul setengah dua belas malam, pintu rumah akhirnya terbuka. Samudra baru saja pulang.
Samira mendengar langkah kaki suaminya memasuki rumah. Wajah pria itu selalu terlihat dingin setiap hari. Namun Samira tahu, di balik raut datarnya, tersimpan kelelahan. Ia mencoba memahami. Mungkin Samudra baru saja menyelesaikan pekerjaan. Mungkin hari ini lembur lagi.
“Lembur ya, Mas?” tanya Samira lembut sambil menghampiri, tangannya terulur mengambil tas yang dibawa Samudra.
Samira memilih diam soal pesan-pesan yang tak pernah dibalas, juga panggilan yang hanya berakhir dengan nada dering. Bukan karena ia tak ingin bertanya, melainkan karena ia takut pada respons Samudra yang hampir selalu berujung luka.
Dulu, Samira pernah mencoba. Bertanya tentang kegiatannya, tentang makanan kesukaannya, tentang hal-hal kecil yang seharusnya sederhana dalam sebuah pernikahan. Namun yang ia dapatkan hanyalah jawaban singkat, nada dingin, atau bahkan keheningan yang menyakitkan.
“Iya,” jawab Samudra singkat.
“Udah makan belum? Kalau belum, aku tadi masak. Biar aku angetin lagi,” ucap Samira, masih dengan nada yang sama lembut, berhati-hati.
“Bisa diem nggak sih?” Samudra membalas kesal. “Aku baru pulang.”
Tanpa menunggu jawaban, pria itu langsung melangkah ke lantai atas.
Samira tertinggal di ruang tamu. Berdiri sendiri. Mematung.
Ia sudah terbiasa dengan sikap seperti itu. Terlalu sering, bahkan. Namun entah mengapa, setiap kali kejadian itu terulang, hatinya tetap saja terasa perih seolah luka lama disayat kembali.
Pandangan Samira jatuh ke meja makan. Hidangan yang sejak sore ia siapkan masih banyak tersisa. Hanya berkurang sedikit bagian Binar tadi. Makanan itu dingin. Tak tersentuh. Seperti pernikahannya: dingin, dan tak pernah benar-benar dinikmati.
Samira menghela napas. Berjalan ke arah meja makan. Tangannya gemetar saat mulai membereskan piring-piring.
Seberapa lama lagi aku harus begini? batinnya.
Mencintai seseorang yang bahkan tak ingin mendengarku bicara.
Langkahnya terhenti. Matanya berkaca-kaca. Samira menutup mulutnya, mencoba menahan suara. Namun air mata tetap jatuh, lalu tak terbendung.
Ia merosot duduk di kursi. Tubuhnya gemetar oleh isak yang terlalu lama ia pendam.
“Capek, Mas…” bisiknya lirih, entah pada siapa. “Aku capek mencintai kamu sendirian.”
Tangisnya semakin pecah. Lima tahun bukan waktu yang sebentar untuk mencintai dan berharap. Lima tahun juga bukan waktu yang singkat untuk bertahan pada keyakinan palsu bahwa suatu hari semuanya akan berubah.
Ia mengusap wajahnya kasar. Dadanya terasa sesak, seakan ada beban yang tak pernah benar-benar diletakkan.
Pikirannya melayang pada Binar.
Samira segera berdiri, melangkah ke kamar kecil putrinya kembali. Ia membuka pintu perlahan. Binar terlelap. Napasnya teratur. Wajah kecil itu begitu damai tak tahu apa-apa tentang luka orang tuanya.
Samira berjongkok di samping ranjang, menatap putrinya dengan mata basah. Tangisnya kali ini lebih pelan, lebih tertahan.
“Kalau bukan karena kamu…” suaranya bergetar. “Mama mungkin sudah menyerah dari dulu.”
Ia mengecup kening Binar dengan hati-hati. Lalu menekan telapak tangannya ke dada sendiri, seolah mencoba menenangkan jantungnya yang berdenyut terlalu cepat.
Mama bertahan karena kamu, batinnya.
Tapi Mama juga manusia, Nak.
Malam itu, Samira duduk lama di samping ranjang putrinya. Ia tidak hanya bertanya sampai kapan, tapi juga sampai di sini saja?
Di lantai atas, Samudra sedang membersihkan diri tanpa tahu atau mungkin tak pernah benar-benar ingin tahu bahwa di bawah atap yang sama, istrinya sedang runtuh pelan-pelan.
Dan di dalam hati Samira, sesuatu akhirnya bergeser.
Bukan kemarahan.
Bukan kebencian.
Melainkan kelelahan yang matang.
Kelelahan yang suatu hari akan berubah menjadi keputusan.
*****
Hai Semuanya!
Selamat Datang Di Cerita Baru Aku!!!
Mohon maaf kalau alurnya terasa lambat. Aku memang sengaja membuatnya bergaya slow burn supaya setiap detail dan emosi dalam cerita nya bisa lebih terasa.
Jangan lupa like, comment, follow, dan share cerita ini ya!!!
Terima Kasih!
Samudra dan Samira masih tidur di ranjang yang sama.
Hanya saja, ada pembatas tak kasatmata di antara mereka, jarak yang bahkan lebih tebal daripada dinding. Jarak itu sudah ada sejak awal pernikahan mereka.
Alasannya sederhana.
Sejak awal, Samira bukan perempuan yang diinginkan Samudra.
Mengapa tidak pisah kamar saja?
Jawabannya pun sederhana. Orang tua Samudra sering datang ke rumah. Ia tak ingin menimbulkan kecurigaan. Di mata orang tuanya, pernikahan ini harus tampak harmonis dan penuh kasih sayang.
Maka mereka berbagi ranjang.
Bukan sebagai pasangan, melainkan sebagai dua orang asing yang dipaksa berperan.
Meski kini mereka telah menikah, bahkan memiliki seorang anak, bagi Samudra, Samira tetaplah orang luar. Sampai detik ini, tak ada perasaan yang tumbuh. Tak ada cinta yang hadir. Tidak juga keterikatan.
Namun soal hubungan suami istri, Samudra tak sepenuhnya menjauh.
Ia tetap melakukannya.
Bukan karena cinta.
Melainkan karena kebutuhan.
Samudra tak munafik. Ia tahu, di mata siapa pun, sikapnya menjijikkan. Memanfaatkan perempuan yang tak ia cintai demi memenuhi kebutuhan biologisnya sendiri. Ia sadar betul betapa brengseknya itu.
Dan Samudra mengakuinya dalam diam.
“Ugh…” Samudra merenggangkan otot-otot tubuhnya saat terbangun. Rasa lelah semalam telah berubah menjadi rileks yang hambar. Ia menggerakkan tangan ke samping, menyentuh kasur sebelahnya.
Dingin.
Alisnya berkerut tipis. Ia melirik ke arah sisi ranjang yang biasa ditempati Samira. Kosong.
“Kemana perginya perempuan itu…” gumamnya pelan.
Tak ingin mengambil pusing, Samudra bangkit. Ia melangkah ke kamar mandi, membersihkan diri, lalu bersiap berangkat ke kantor. Rutinitas yang sama. Pagi yang sama. Tanpa rasa.
•••••
Samira terbangun dengan tubuh sedikit kaku. Ia terkejut saat menyadari dirinya tertidur di kamar Binar. Sekilas, ia menata posisi putrinya yang masih terlelap, menarik selimut agar menutupi bahu kecil itu dengan sempurna. Pandangannya lalu beralih ke jam dinding jarumnya sudah menunjukkan hampir pukul lima setengah.
Samira lekas bangkit. Ia merapikan selimut Binar sekali lagi, lalu melangkah keluar kamar dengan langkah ringan. Rumah masih sunyi, udara pagi terasa dingin menusuk kulit. Seperti biasa, ia menuju dapur.
Tangannya langsung cekatan menyiapkan sarapan untuk Samudra yang sebentar lagi akan berangkat kerja, dan untuk Binar yang kini sudah mulai masuk sekolah TK. Padahal di rumah itu ada asisten rumah tangga, namun asisten rumah tangganya itu tidak menginap. Ia biasanya datang sekitar pukul delapan pagi, membantu membersihkan rumah, terkadang juga membantunya memasak.
Jam masih menunjukkan setengah enam. Matahari belum menampakkan diri, tetapi dapur sudah terasa hangat oleh aktivitas Samira. Ia menumis telur, menggoreng tempe, lalu menyiapkan secangkir kopi hitam kesukaan Samudra. Setelah itu, ia menggoreng ayam. Semua ia lakukan seperti rutinitas yang telah melekat selama lima tahun terakhir. Tanpa diminta. Tanpa pernah benar-benar mendapatkan apresiasi.
Sesekali Samira melirik ke arah tangga, memastikan Binar belum bangun. Anak itu kalau sudah terjaga, pasti langsung menyusulnya ke dapur.
Tak lama kemudian, suara langkah kaki kecil terdengar dari arah tangga. Benar saja, Binar muncul dengan wajah kusut khas anak yang baru bangun tidur.
Samira mematikan kompor, lalu menghampiri putrinya.
“Selamat pagi, Bibi. Hari ini sarapan dulu, ya. Habis itu baru mandi. Bibi duduk dulu, oke?” ucapnya lembut.
“Oke, Mama,” jawab Binar polos.
Saat Binar sudah duduk di kursinya, tak lama kemudian suara langkah lain terdengar dari tangga. Samudra turun dengan kemeja rapi dan wajah datar seperti biasa. Ia langsung duduk di kursi makan tanpa menoleh, membuka ponselnya, menunggu Samira selesai menata hidangan.
Samira buru-buru menyusun masakan di atas meja.
“Mas, ini bekalnya sudah aku taruh di tas,” ucap Samira pelan.
Samudra hanya mengangguk singkat, lalu langsung menyantap makanannya. Tak ada percakapan. Tak ada senyum. Hanya suara sendok dan piring yang saling bersentuhan.
Binar yang juga sedang sarapan menatap ayahnya dengan mata berbinar.
“Pa, nanti pulangnya jangan malam ya.”
Samudra berhenti makan sejenak.
“Papa lihat nanti, ya,” ucapnya terdengar halus, meski nadanya tak benar-benar hangat.
Binar mengangguk, namun sinar di wajahnya sedikit meredup.
Samira menggenggam jemarinya sendiri di balik apron. Dadanya terasa sesak, tapi ia tetap tersenyum demi Binar. Sebenarnya ia tak tega melihat putrinya yang kerap dicueki oleh ayahnya sendiri.
Beberapa menit kemudian, Samudra berdiri. Ia mengambil tas kerjanya dan menenteng paper bag berisi bekal, lalu berjalan ke arah pintu.
“Aku berangkat,” ucapnya singkat.
“Iya, hati-hati,” balas Samira.
“Papa!” teriak Binar. Ia turun dari kursinya dan berlari kecil menghampiri Samudra.
“Kenapa?” tanya Samudra.
“Peluk,” ucap Binar singkat.
Samudra terdiam sesaat, lalu menurunkan tubuhnya. Ia memeluk anaknya sebentar singkat, canggung, tapi cukup membuat Binar tersenyum. Setelah itu, ia langsung melangkah pergi menuju kantor.
Pintu tertutup. Sunyi kembali menyelimuti rumah.
Samira menatap pintu itu beberapa detik lebih lama dari seharusnya. Senyum di wajahnya perlahan memudar. Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.
Dalam hati, Samira bertanya pada dirinya sendiri. Sampai kapan aku harus kuat sendirian seperti ini?
Ia menoleh ke arah Binar yang masih berdiri di dekat pintu, menatap kosong bekas kepergian ayahnya. Samira menghampiri, mengelus rambut putrinya lembut.
“Ayo, Bibi. Kita siap-siap sekolah,” ucapnya.
Binar mengangguk pelan.
Namun di balik senyum tipis Samira, ada hati yang mulai lelah, hati seorang perempuan yang perlahan belajar apa arti menyerah, meski belum berani mengucapkannya dengan suara.
•••••
Samudra sampai di kantor, namun tubuhnya seolah hadir tanpa jiwa. Ia duduk diam di depan meja kerjanya, layar laptop menyala, tetapi pandangannya kosong. Tak satu pun huruf benar-benar ia baca. Pikirannya melayang jauh, lima tahun ke belakang, ke masa sebelum ia menikah dengan Samira.
Andai malam itu tak pernah ada…
Rahangnya mengeras, tangannya mengepal kuat.
Kalau kejadian itu tak pernah terjadi, mungkin sekarang aku sudah hidup bersama perempuan yang kucintai.
Kenangan itu datang tanpa izin.
Flashback on
Saat itu, Samudra baru saja menerima undangan ulang tahun dari temannya sekaligus rekan bisnisnya. Sebuah pesta yang diadakan di hotel mewah, dihadiri banyak pejabat dan kolega kantor. Undangan itu terlihat biasa saja. Tak ada yang mencurigakan. Samudra pun datang tanpa pendamping.
Sepanjang perjalanan menuju lokasi, perasaannya sebenarnya sudah tidak enak. Ada firasat samar yang menggelitik dadanya, seolah sesuatu akan terjadi. Namun Samudra mengabaikannya.
Sesampainya di pesta, suasana begitu ramai. Tawa, musik, dan gelas-gelas berisi minuman keras memenuhi ruangan. Banyak tamu datang berpasangan. Samudra, sendirian, hanya tersenyum tipis dan langsung menghampiri temannya untuk memberi ucapan selamat.
Setelah itu, ia mengambil minuman. Alkohol tersedia bebas. Samudra yang sedang ingin melupakan banyak hal memilih untuk minum satu gelas, lalu gelas berikutnya. Ia ingin menumpulkan kepalanya, menenggelamkan pikirannya.
Ia tak sadar kapan batasnya terlewati.
Kepalanya mulai berat. Pandangannya sedikit berputar. Kesadarannya perlahan mengabur. Merasa tak sanggup berlama-lama, Samudra memutuskan untuk pergi. Ia melangkah tertatih, berusaha keluar dari ruangan pesta.
Namun di tengah jalan, tubuhnya menabrak seseorang.
“Maaf—” suara itu terdengar panik.
Orang itu adalah Samira.
Malam itu, Samira sedang bekerja sebagai salah satu pegawai hotel tempat pesta tersebut berlangsung. Ia mengenakan seragam rapi, rambutnya terikat sederhana. Awalnya ia hanya ingin lewat, namun begitu melihat kondisi Samudra yang nyaris terjatuh, nalurinya langsung bergerak.
“Pak… Anda tidak apa-apa?” tanyanya cemas.
Samudra tak menjawab jelas. Ucapannya kacau, langkahnya tak seimbang. Samira menahan tubuh pria itu agar tidak jatuh. Meski tak mengenalnya sama sekali, ia merasa tak tega meninggalkannya begitu saja.
Dengan susah payah, Samira menopang tubuh Samudra.
“Bapak mau saya bantu ke mana?” tanyanya lagi.
Samudra menggumam pelan, hampir tak terdengar, menyebutkan nomor kamar. Kamar yang memang telah ia sewa untuk menginap setelah pesta.
Samira ragu.
Ia tahu ini bukan bagian dari tugas resminya. Namun melihat kondisi Samudra yang benar-benar tidak sadar, ia akhirnya mengangguk pelan. Dalam benaknya hanya satu: menolong, memastikan tamu hotel itu aman.
Ia membawa Samudra ke kamar tersebut, membantunya berbaring di atas ranjang. Samira hendak pergi setelah itu. Ia tak berniat lebih.
Namun malam itu tak berjalan sesuai rencana siapa pun.
Kesadaran Samudra yang setengah hilang, kondisi Samira yang sendirian, dan situasi yang tak seimbang menjadi awal dari sebuah kesalahan besar, kesalahan yang mengubah hidup Samira selamanya.
Keesokan paginya, Samira terbangun dengan tubuh gemetar. Seragam kerjanya kusut, kepalanya berdenyut hebat. Dan saat kesadarannya sepenuhnya kembali, ia menyadari satu hal yang membuat dadanya terasa runtuh—
Masa depannya telah direnggut dalam satu malam yang tak pernah ia minta.
Air mata jatuh tanpa suara.
Bukan hanya harga dirinya yang hilang malam itu, tapi juga harapannya tentang hidup yang bersih, tentang masa depan yang ia bangun dengan susah payah.
*****
Hai Semuanya!
Selamat Datang Di Cerita Baru Aku!!!
Mohon maaf kalau alurnya terasa lambat. Aku memang sengaja membuatnya bergaya slow burn supaya setiap detail dan emosi dalam cerita nya bisa lebih terasa.
Jangan lupa like, comment, follow, dan share cerita ini ya!!!
Terima Kasih!
Satu bulan setelah kejadian itu berlalu.
Samira tak pernah muncul. Tak ada pesan. Tak ada telepon. Hingga Samudra sempat berpikir semua telah selesai, malam itu hanyalah kesalahan yang tak akan pernah kembali menghantuinya.
Padahal malam itu, saat kesadarannya perlahan pulih, Samudra sempat menyerahkan kartu nama berisi alamat kantor dan nomor ponselnya pada Samira.
“Kalau… kalau terjadi apa-apa,” ucapnya dingin kala itu, “kalau kamu hamil, hubungi nomor ini.”
Ucapan yang keluar tanpa empati. Tanpa rasa bersalah. Seolah semua bisa diselesaikan dengan satu kalimat tanggung jawab kosong.
Dan hari itu, kalimat itu kembali menamparnya.
Tok… tok… tok…
Suara ketukan pintu ruangannya membuat Samudra tersentak dari lamunan. Ia menghela napas pelan.
“Masuk.”
Pintu terbuka. Bima asisten sekaligus sekretarisnya melangkah masuk dengan wajah sedikit ragu.
“Ada apa?” tanya Samudra datar tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptopnya.
“Maaf, Pak… di depan ada seorang wanita yang ingin bertemu Bapak,” ucap Bima hati-hati.
“Siapa?” suara Samudra tetap dingin.
“Namanya… Samira, Pak.”
Deg.
Jantung Samudra seolah berhenti sesaat. Tangannya yang semula tenang di atas meja kini mengeras. Ia menatap kosong ke depan, rahangnya mengatup.
“Suruh masuk,” ucapnya akhirnya.
Beberapa detik kemudian, pintu kembali terbuka.
Samira masuk dengan langkah pelan. Wajahnya pucat, matanya sedikit cekung, namun sorotnya tegas. Ia berdiri di hadapan meja kerja Samudra tanpa sepatah kata pun.
Ia mendekat.
Lalu meletakkan sesuatu di atas meja.
Sebuah test pack.
“Saya hamil.”
Suara itu tenang. Terlalu tenang untuk kalimat yang seharusnya mengguncang dunia.
Samudra menatap benda kecil itu lama. Terlalu lama. Tak ada satu kata pun keluar dari bibirnya. Pandangannya terpaku, seolah test pack itu bisa meledak kapan saja.
Samira tetap diam. Menunggu.
Akhirnya Samudra bersuara.
“Lalu kamu ke sini mau apa?” tanyanya dingin. “Minta bayaran?”
Samira menggeleng pelan.
“Tidak, Pak. Saya hanya ingin memberitahu.”
Ia menarik napas dalam.
“Kejadian malam itu… membuat saya hamil.”
Samudra menelan ludah.
“Jadi kamu mau saya bertanggung jawab?” tanyanya lagi, nadanya tetap datar untuk situasi seperti ini.
Samira menatapnya lurus.
“Tidak. Saya datang ke sini karena Bapak sendiri yang bilang, kalau ada apa-apa saya harus datang ke sini.”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara bergetar namun mantap.
“Soal tanggung jawab… itu terserah Pak Samudra. Tapi saya ingin Bapak tahu, saya akan tetap mempertahankan anak ini.”
Kalimat itu membuat dada Samudra terasa ditekan kuat. Ini di luar rencana. Di luar kendali. Ini bukan sekadar kesalahan satu malam ini konsekuensi seumur hidup.
Samira membungkuk singkat, lalu berbalik pergi tanpa menunggu jawaban.
Pintu tertutup.
Dan ruangan itu kembali sunyi.
Samudra terduduk kaku di kursinya. Pandangannya kembali jatuh pada test pack di atas meja. Benda kecil yang kini terasa begitu berat. Ia mengusap wajahnya kasar, napasnya memburu.
Ini kacau…
Tangannya meraih ponsel. Masalah ini tak bisa ia sembunyikan lama-lama. Dan ada satu pihak yang tak boleh tahu terakhir, orang tuanya.
•••••
Samudra pulang ke rumah orang tuanya malam itu dengan langkah berat. Begitu pintu dibuka, ibunya sudah lebih dulu menyambut di ruang tengah.
“Kamu sudah makan?” tanya Sinta lembut, seperti biasa.
Samudra hanya menggeleng pelan. Ada banyak hal yang ingin ia katakan, namun semuanya tertahan di tenggorokan. Dadanya terasa sesak. Ia melangkah masuk dan duduk, menunduk, menatap lantai.
Raka ayahnya memperhatikan sejak awal. Ia tahu betul bahasa tubuh anaknya. Anak itu sangat persis dengan dirinya jadi dia tahu. Terlalu kaku. Terlalu diam.
“Ada yang ingin kamu sampaikan sama kami?” tanya Raka akhirnya, suaranya tenang namun tajam.
Ucapan itu membuat Sinta menoleh cepat ke arah suami lalu ke arah Samudra. Alisnya berkerut.
“Maksud Papa apa?” tanya Sinta bingung. “Samudra, kamu kenapa?”
Samudra menarik napas panjang. Tangannya mengepal, lalu ia mengangkat wajahnya. Tatapannya kosong, seolah sudah menyerah.
“Aku…,” suaranya tercekat sesaat.
“Aku menghamili orang.”
Kalimat itu jatuh begitu saja.
“Apa?” Sinta membeku. Wajahnya pucat seketika. Tangannya gemetar saat menutup mulutnya sendiri.
Ia benar-benar tak pernah membayangkan hal ini. Selama ini Samudra dikenal dingin, tertutup, bahkan hampir tak pernah dekat dengan perempuan mana pun sejak putus tiga tahun lalu dari wanita yang sangat ia cintai.
“Kamu bercanda, kan?” suara Sinta bergetar.
Samudra menggeleng pelan.
Raka tetap duduk tegak. Tidak terkejut berlebihan, tapi sorot matanya berubah tajam.
“Siapa wanita itu?” tanyanya datar.
“Pegawai hotel,” jawab Samudra singkat.
Hening.
Sinta mengusap dadanya sendiri, mencoba mengatur napas. “Hotel?” ulangnya lirih. “Bagaimana bisa?”
Samudra menunduk lagi. “Itu… hubungan satu malam. Aku mabuk.”
Sinta terisak kecil. “Astaghfirullah… Samudra.”
Raka menghela napas panjang, lalu berdiri. “Perempuan itu datang ke kamu?”
“Iya. Dia hamil satu bulan,” jawab Samudra. “Dia nggak minta apa-apa.”
“Lalu?” tanya Raka.
“Dia mau mempertahankan anak itu.”
Kalimat itu membuat Sinta terduduk lemas. Air matanya jatuh.
“Kamu sadar apa artinya ini?” suara Sinta bergetar hebat. “Itu darah dagingmu.”
Samudra diam.
Raka menatap anaknya lama. “Kamu tetap harus bertanggung jawab.”
Bukan perintah. Bukan ancaman. Tapi keputusan.
Samudra mengangkat wajahnya. “Papa tahu… aku nggak cinta sama dia.”
“Tapi ini bukan soal cinta,” potong Raka tegas. “Ini soal tanggung jawab dan nama keluarga. Semua yang kamu lakukan pasti ada konsekuensinya."
Sinta menatap Samudra dengan mata basah. “Nak… perempuan itu hamil karena kamu. Mau atau tidak, hidupnya sekarang terikat sama hidupmu.”
Samudra terdiam. Hatinya berontak. Wajah wanita yang ia cintai dulu kembali hadir dalam pikirannya semua andai-andai yang tak pernah terjadi.
“Aku… nggak siap menikah,” ucapnya lirih.
Raka menatapnya dingin. “Kamu sudah dewasa saat berbuat. Sekarang kamu juga harus dewasa saat menanggung akibatnya. Akibat yang kamu lakukan sendiri. Papa dan Mama dari dulu sudah bilang sama kamu untuk jauhi alkohol tapi apa kamu mendengarkan kami? Tidak. Kamu gak pernah mendengarkan kami. Itulah akibat yang terjadi. Kalau sudah begini siapa yang susah? Kamu. Kamu sendiri yang sudah."
Sunyi kembali menyelimuti ruangan.
Malam itu, tanpa tanya lebih jauh, tanpa diskusi panjang, keputusan diambil.
“Kami akan menemui keluarga perempuan itu,” kata Raka mantap.
“Kamu akan menikahinya.”
Samudra memejamkan mata.
Di detik itu, ia tahu hidupnya tak lagi berjalan sesuai keinginannya.
Bukan karena cinta.
Melainkan karena kesalahan.
Flashback Off
•••••
Samira baru saja selesai memandikan Binar. Rambut kecil putrinya sudah rapi terikat, seragam TK itu melekat pas di tubuh mungilnya. Setelah memastikan semuanya siap, Samira menggandeng tangan Binar turun ke lantai bawah.
Rumah masih terasa sepi. Samudra sudah berangkat lebih dulu, seperti biasa.
Samira mengambil kunci mobil yang tergantung rapi di dekat pintu. Mobil itu fasilitas yang diberikan Samudra agar ia bisa mengantar dan menjemput Binar ke mana pun anak itu perlu pergi. Tidak lebih.
Kadang Samira berpikir, di mata Samudra, dirinya bukan istri. Bukan pasangan hidup. Ia hanya pengasuh tetap bagi anak yang lahir dari kesalahan.
Baby sitter.
Itu saja.
“Mah, hari ini Mama ikut masuk kelas nggak?” tanya Binar sambil menatapnya penuh harap.
Samira tersenyum lembut. “Mama tunggu di luar aja ya, Nak. Tapi Mama jemput nanti siang.”
“Okeee,” jawab Binar ceria.
Samira membuka pintu mobil, membantu Binar duduk dan memasangkan sabuk pengaman. Setelah itu ia masuk ke kursi pengemudi. Mesin mobil menyala, lalu perlahan melaju meninggalkan halaman rumah yang terlalu besar untuk rasa sepi yang mereka tinggali.
Di perjalanan, Binar tak berhenti bercerita. Tentang temannya. Tentang guru baru. Tentang gambar yang akan ia buat hari ini. Samira mendengarkan dengan sungguh-sungguh, meski pikirannya sesekali melayang.
Ia tersenyum, menanggapi setiap cerita Binar, meski hatinya terasa kosong.
Sesampainya di sekolah, Samira menggandeng tangan putrinya hingga ke depan kelas. Binar memeluknya erat sebelum masuk.
“Papa nanti jemput?” tanya Binar polos.
Samira terdiam sepersekian detik. Lalu tersenyum lagi, senyum yang sama yang selalu ia pakai.
“Mama yang jemput Bibi,” jawabnya lembut.
Binar mengangguk, lalu masuk ke kelas dengan langkah kecil penuh semangat.
Samira berdiri di sana lebih lama dari yang seharusnya. Menatap pintu kelas yang tertutup. Dadanya terasa sesak, tapi ia menarik napas panjang, menahan semuanya kembali.
Ia kemudian berbalik menuju ke arah mobilnya. Hari ini niatnya sambil menunggu Binar sekolah ia akan menunggunya di kafe yang tak jauh dari sekolah Binar. Selain karena tak ingin bolak-balik ia juga ingin me time menenangkan diri dari pikirannya yang terus melayang kesana-kemari.
•••••
Hai Semuanya!
Selamat Datang Di Cerita Baru Aku!!!
Mohon maaf kalau alurnya terasa lambat. Aku memang sengaja membuatnya bergaya slow burn supaya setiap detail dan emosi dalam cerita nya bisa lebih terasa.
Jangan lupa like, comment, follow, dan share cerita ini ya!!!
Terima Kasih!
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!