Di bawah langit Brisbane yang mulai menjingga, aroma rumput basah sisa hujan sore itu mendadak terasa menyesakkan bagi Takara. Di depannya, Jake berdiri dengan ransel besar dan sebuah mimpi yang baru saja akan lepas landas.
Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Jake:
"Gak peduli apapun yang terjadi, kita akan tetap jadi sahabat kan?"
Bagi Jake, itu adalah jangkar. Sebuah jaminan bahwa ketika dunia barunya di Seoul nanti terlalu bising, dia masih punya satu tempat pulang yang tenang bernama Takara. Tapi bagi Takara, kalimat itu tak ubahnya vonis mati bagi perasaan yang selama ini ia kunci rapat-rapat.
Bagi mereka yang tinggal di lingkungan Australia di mana wajah Asia adalah minoritas, Jake dan Takara adalah satu paket.
Jake adalah anak laki-laki yang selalu menarik Takara ke lapangan bola.
Takara adalah satu-satunya orang yang tahu bahwa di balik tawa ceria Jake, ia sering menangis diam-diam karena rindu masakan neneknya di Korea.
Mereka berbagi segalanya: rahasia, playlist lagu, hingga bekal makan siang. Jake adalah "nadi" bagi Takara, tanpa laki-laki itu, hidupnya terasa sunyi. Namun, menjadi "nadi" berarti kamu harus terus berdenyut di dalam, tersembunyi, agar sang tubuh tetap hidup. Takara tidak boleh terlihat, hanya boleh terasa.
———
Cahaya fajar yang abu-abu menembus jendela kaca houseboat, memantulkan riak air Sungai Amsterdam ke langit-langit kayu yang rendah. Takara mengeratkan selimut wolnya, mencoba mengusir gigil yang telanjur merayap di sela tulang. Di sini, ribuan mil dari hiruk pikuk Seoul maupun kehangatan Brisbane, ia pikir ia bisa menemukan ketenangan.
Namun, getaran di atas nakas kayu menghancurkan sunyi itu.
Takara meraih ponselnya. Layarnya berpendar terang, menampilkan sederet notifikasi yang kontras dengan suasana pagi yang senyap.
Jake: Takaraaa, gue baru selesai latihan jam 3 pagi. Kepala gue mau pecah.
Jake: Gue kangen Australia. Gue kangen duduk di pinggir dermaga sambil dengerin lo ngomel soal tugas sekolah.
Jake: Amsterdam jam berapa? Lo jangan lupa sarapan. Kabari gue kalau udah bangun.
Takara menghela napas, uap tipis keluar dari bibirnya. Membaca pesan Jake sudah menjadi ritual pagi yang lebih wajib daripada secangkir kopi hitam. Di Korea, Jake adalah matahari. pusat semesta yang dipuja jutaan orang.
Namun di dalam kotak pesan ini, Jake hanyalah seorang laki-laki rapuh yang sedang tersesat dalam ambisinya sendiri.
Takara bangkit, melangkah menuju dek kecil di bagian belakang perahu. Suara air yang menabrak lambung kapal terdengar ritmis. Ia menatap pantulan dirinya di permukaan sungai yang gelap; wajah yang tampak lelah karena terus-menerus menjadi tong sampah emosi bagi seseorang yang tidak bisa ia miliki.
"Kenapa lo selalu lari ke gue, Jake?" bisiknya lirih pada angin dingin.
Ia tahu jawabannya. Karena bagi Jake, Takara adalah satu-satunya bagian dari "manusia biasa" yang tersisa dalam hidupnya. Jake tidak butuh Takara sebagai kekasih, dia butuh Takara sebagai bukti bahwa dia masih punya akar.
Dan Takara, dengan bodohnya, selalu bersedia menjadi akar itu meskipun ia sendiri perlahan membusuk di dalam tanah yang lembap.
Takara mulai mengetik balasan. Jarinya sempat ragu di atas papan ketik. Ia ingin menulis: 'Berhenti kirim pesan kayak gini kalau lo cuma anggep gue sahabat. Gue sakit hati, Jake.'
Tapi, jemarinya justru mengetik:
Takara: Minum air hangat dan langsung tidur. Gue baru bangun. Amsterdam lagi dingin banget, kayaknya gue butuh cokelat panas yang sering lo buat dulu.
Send.
Hanya butuh tiga detik sampai ponselnya bergetar kembali. Sebuah panggilan video masuk. Di layar, muncul wajah Jake yang pucat dengan lingkaran hitam di bawah mata, namun matanya langsung berbinar saat melihat Takara.
"Ra! Akhirnya diangkat," suara Jake serak, khas orang kelelahan. "Lihat deh, gue nemu foto lama kita di dompet... lo lucu banget pas masih pake behel."
Takara terpaku. Di antara ribuan penggemar yang meneriakkan namanya, Jake justru memilih menghabiskan lima menit waktu istirahatnya hanya untuk melihat wajah Takara yang baru bangun tidur lewat layar kecil.
Inilah friendzone yang paling berbahaya: ketika dia memberikan seluruh perhatiannya, tapi tidak memberikan hatinya.
———
Takara menyampirkan tas kanvasnya, berisi sketsa-sketsa desain yang setengah matang. Ia melangkah keluar dari houseboat, menyambut udara pagi Amsterdam yang segar namun menggigit. Alih-alih terburu-buru mengejar trem, ia memilih berjalan kaki. Di kota ini, setiap sudut adalah galeri seni, dan bagi mahasiswa jurusan desain sepertinya, ini adalah surga.
Ia berjalan menyusuri trotoar berbatu di sepanjang kanal. Langkahnya santai, menikmati bunyi gesekan sol sepatunya dengan jalanan yang lembap.
"Pagi, Mr. Van Dijk!" sapa Takara ramah kepada seorang penjual bunga yang sedang menata tulip-tulip segar. Ia juga menyempatkan diri melambai pada nenek penjual pernak-pernik antik yang selalu memberinya diskon hanya karena Takara suka mendengarkan cerita masa lalunya.
Senyum manis Takara merekah alami. Kehidupan ini begitu tenang, begitu nyata. Sesuatu yang sangat mewah bagi orang seperti Jake.
Di tengah jembatan kayu yang melintasi kanal, Takara berhenti. Ia mengeluarkan ponselnya, mengarahkan kamera ke arah deretan rumah-rumah ramping berwarna-warni yang terpantul di air sungai yang tenang, lengkap dengan sepeda-sepeda yang terparkir rapi di pagar jembatan.
Ia merekam video pendek berdurasi sepuluh detik. Tanpa filter, tanpa naskah. Hanya suara angin dan denting bel sepeda di kejauhan.
Takara: "Lihat, Jake. Dunia nggak cuma soal lampu panggung dan makeup tebal. Di sini, matahari baru bangun dan semua orang nggak peduli siapa gue. I wish you could breathe this air too."
Sent.
Takara kembali melangkah. Ia tahu, di belahan dunia lain, video itu mungkin akan ditonton Jake di dalam mobil van yang gelap, di sela-sela jadwal pemotretan yang mencekik, atau di tengah kerumunan pengawal yang menjaganya ketat.
Ada rasa bersalah yang aneh setiap kali Takara membagikan potongan hidupnya yang damai. Ia seolah sedang memamerkan "oksigen" kepada seseorang yang sedang tenggelam. Takara bebas mencintai dunia, sementara Jake hanya bebas mencintai kariernya.
Sesampainya di gerbang kampus, sebuah notifikasi balasan masuk. Bukan pesan teks, melainkan sebuah foto.
Jake mengirimkan foto selfie di depan cermin besar ruang latihan. Wajahnya basah oleh keringat, rambutnya berantakan, dan di tangannya ada botol air mineral yang sudah kosong. Tapi yang membuat jantung Takara berhenti sejenak adalah ekspresi Jake.
Laki-laki itu tersenyum lebar sambil menunjuk ke arah layar ponsel lain di tangannya yang sedang memutar video kiriman Takara.
Jake: "Makasih, Ra. Video lo bikin oksigen di paru-paru gue rasanya penuh lagi. Tunggu ya, suatu hari nanti, gue bakal jalan di samping lo di jembatan itu. Just you and me. No cameras, no fans. Just us."
Takara terdiam di depan lobi kampus. Kalimat "Just us" itu berputar-putar di kepalanya seperti mantra. Jake selalu tahu cara membuatnya melambung, sekaligus cara mengingatkannya bahwa mereka hanya bisa sedekat itu lewat layar kaca.
———
Di belahan dunia lain, di dalam gedung manajemen yang megah di Seoul, suasana ruang tunggu member ENHYPEN tampak kontras dengan ketenangan Amsterdam. Musik bass berdentum dari ruang latihan sebelah, dan staf berlalu-lalang dengan cepat.
Namun, di salah satu sudut sofa, Jake tampak seperti berada di dimensinya sendiri. Ia menatap layar ponsel dengan senyum kecil yang tidak bisa disembunyikan, jenis senyum yang hanya muncul saat ada notifikasi dari Takara.
Para member lain yang sedang beristirahat hanya bisa saling lirik. Mereka sudah hafal di luar kepala.
"Lagi? Amsterdam lagi?" celetuk Sunghoon sambil meneguk air mineral, matanya melirik layar ponsel Jake yang masih memutar video jembatan kanal.
Jake tidak membantah, ia justru memutar balik video itu untuk kesepuluh kalinya. "Lo lihat deh, Hoon. Udaranya kayaknya seger banget di sana. Takara bilang dia baru mau ke kampus."
"Jake, kita semua tahu Takara mahasiswa desain, kita tahu dia tinggal di houseboat, dan kita bahkan tahu dia punya tetangga penjual bunga namanya Mr. Van siapa-lah itu," potong Heeseung sambil terkekeh pelan. "Lo ceritain itu ke kita hampir setiap hari."
Bagi para member, Takara adalah sosok "sahabat legendaris" yang belum pernah mereka temui secara langsung, namun seolah-olah sudah tinggal bersama mereka di dorm.
Jake tidak pernah bisa menyimpan rahasia tentang Takara.Kalau Jake sedang stres karena koreografi, dia curhat ke Takara. Kalau Jake sedang rindu rumah, dia menelepon Takara. Bahkan kalau Jake baru saja membeli baju baru, orang pertama yang ia mintai pendapat adalah Takara lewat mirror selfie.
Gedung fakultas desain pagi itu seperti sarang lebah; bising dan penuh energi yang terburu-buru. Takara berjalan menyusuri koridor dengan tumpukan kertas kalkir dan portofolio di pelukannya. Di kampus ini, ia sering merasa seperti alien yang tersesat. Wajah orientalnya yang mungil tampak mencolok di antara mahasiswa Eropa yang bertubuh tinggi besar.
Takara tidak keberatan dengan kesendiriannya. Ia lebih memilih duduk di tepi kanal mengamati detail facade bangunan Barok daripada berdesakan di klub malam yang bising dan penuh aroma alkohol—hal yang sering dilakukan teman-teman seangkatannya. Baginya, desain rumah Belanda yang romantis sudah cukup menjadi teman bicara.
Namun, kedamaian itu hancur dalam satu detik.
Bruk!
"Oh!"
Kertas-kertas Takara melayang seperti salju yang jatuh sebelum akhirnya mendarat berantakan di atas lantai marmer yang dingin. Sketsa fasad bangunan yang ia kerjakan semalaman kini terinjak-injak oleh langkah kaki mahasiswa lain yang tidak peduli.
"Oh! Sorry! Takara," ucap sebuah suara bariton yang terdengar tulus.
Takara terpaku. Ia mendongak, menemukan seorang pria jangkung dengan rambut pirang gelap dan mata yang menatapnya penuh rasa bersalah. Pria itu segera berlutut, membantunya memunguti kertas-kertas yang berserakan.
"Lo tahu nama gue?" tanya Takara dalam bahasa Inggris, sedikit terkejut. Pasalnya, ia merasa selama ini dirinya hanyalah "mahasiswa bayangan" yang tidak punya banyak teman.
Pria itu terkekeh sambil menyodorkan selembar sketsa yang baru saja ia ambil. "Tentu saja! You're Mr. Smith's favorite student, right? Karya-karya lo sering dipajang di papan pengumuman sebagai referensi. Sulit untuk nggak tahu siapa pemilik tangan jenius itu."
Takara merasakan pipinya sedikit memanas. Pujian itu datang begitu tiba-tiba.
"Halo! I'm William," ucapnya sambil berdiri dan mengulurkan tangan dengan senyum ramah yang sangat hangat.
William ternyata adalah mahasiswa tingkat atas di jurusan yang sama. Berbeda dengan Jake yang selalu terasa "jauh" dan penuh batasan, William ada di sana. Nyata.
"Sebagai permintaan maaf karena udah bikin gambar lo kotor, gimana kalau gue traktir kopi di kafetaria?" tawar William.
Takara sempat ragu. Biasanya, jam-jam seperti ini adalah waktu di mana ia akan membalas pesan-pesan panjang dari Jake atau sekadar mengirimkan foto makan siangnya. Namun, melihat binar ramah di mata William, Takara merasa tidak ada salahnya untuk sekali saja tidak menghabiskan waktunya hanya menatap layar ponsel.
"Oke, just coffee," jawab Takara pelan.
Di saku jaket Takara, ponselnya bergetar berkali-kali.
Jake: Ra? Lo udah di kampus?
Jake: Gue baru aja dikasih waktu istirahat 15 menit. Tadi koreografinya susah banget, pengen nangis rasanya haha.
Jake: P
Jake: Takara? Taka-raaaaa? Kok nggak dibalas?
Untuk pertama kalinya dalam sejarah mereka, pesan Jake dibiarkan menggantung tak terbaca. Di seberang meja kafetaria, Takara justru sedang tertawa kecil mendengar cerita William tentang proyek restorasi bangunan tua di pusat kota.
Tanpa Takara sadari, di Seoul, Jake terus-menerus mengecek status online sahabatnya itu dengan perasaan gelisah yang tidak bisa ia jelaskan. Ada firasat aneh yang merayapi hatinya, sesuatu yang lebih menakutkan daripada jadwal konser dunia sekalipun.
"Senang kenalan sama lo secara langsung, karena jujur... gue selalu takut buat kenalan sama orang Asia," kata William jujur. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, tampak sedikit canggung. "Gue selalu mikir kalian punya dunia sendiri yang tertutup, atau mungkin gue takut salah bicara."
Takara tersenyum tipis, mengerti betul stigma itu. Ia meletakkan cangkirnya, merasa sedikit lebih rileks. "Gak usah takut, gue welcome aja. Gue cuma... seringnya bingung mau memulai pertemanan darimana. Di sini semua orang kelihatan sangat sibuk dengan dunianya masing-masing."
"Well, sekarang lo nggak perlu bingung lagi," William mencondongkan tubuhnya ke depan, memberikan kesan protektif sekaligus mengundang. "Gue tahu tempat-tempat tersembunyi di kota ini yang nggak ada di buku panduan turis. Dari perpustakaan tua dengan arsitektur gotik sampai kedai kopi yang pemandangannya langsung ke kincir angin asli."
Ia kemudian mengeluarkan ponselnya, menyodorkannya ke arah Takara.
"Kalau lo butuh teman buat keliling Amsterdam dan sekitarnya, text me aja," ucap William sambil mengedipkan sebelah mata.
Takara menerima ponsel itu, jemarinya mengetikkan nomor teleponnya dengan ragu yang mulai memudar. Untuk sesaat, ia lupa pada tumpukan pesan dari Seoul yang belum sempat ia buka. Ia lupa bahwa dunianya biasanya hanya berputar pada layar 6 inci yang menampilkan wajah seorang idol bernama Jake.
Malamnya, di atas houseboat yang bergoyang pelan mengikuti arus sungai, Takara akhirnya membuka ponselnya. Ada 12 panggilan tak terjawab dari Jake dan puluhan pesan yang nada bicaranya semakin lama semakin terdengar cemas.
Jake: Ra, lo ke mana sih?
Jake: Gue baru aja selesai syuting konten. Capek banget. Gue butuh denger suara lo.
Jake: Lo marah sama gue? Soal apa? Gue ada salah ngomong ya?
Takara menggigit bibir bawahnya. Ia merasa bersalah, tapi di sisi lain, ada perasaan aneh yang mekar di dadanya, sebuah perasaan merdeka. Untuk pertama kalinya, harinya tidak hanya berisi tentang Jake. Harinya punya cerita sendiri, tentang seorang pria bernama William yang memujinya jenius.
Takara mulai mengetik:
Takara: Sorry baru balas. Tadi ada kejadian di kampus, gambar gue berantakan karena ditabrak orang. Namanya William, dia anak arsitektur juga. Tadi kita sempat ngopi sebentar. Lo istirahat ya, jangan begadang terus.
Takara menekan tombol send dan meletakkan ponselnya di atas meja, lalu ia beralih ke jendela, menatap lampu-lampu kota Amsterdam yang berpendar di atas air.
Di Seoul, Jake yang baru saja hendak merebahkan diri di tempat tidur, langsung terduduk tegak saat membaca pesan itu. Matanya terpaku pada satu nama: William.
"Ditabrak? Ngopi? Siapa si William ini?" gumam Jake pelan. Jantungnya berdegup lebih kencang daripada saat ia harus melakukan high note di atas panggung. Ada rasa sesak yang tiba-tiba menyerang, lebih dingin daripada musim dingin di Seoul.
Jake menyadari satu hal yang menakutkan: Jarak Amsterdam dan Seoul ternyata jauh lebih lebar daripada yang ia bayangkan selama ini. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa Takara tidak lagi berada dalam genggamannya.
Satu pesan masuk dari William, berisi ajakan untuk pergi ke desa Zaanse Schans.
Ia segera membalas pesan William:
Takara: "Gue mau banget! Gue udah lama pengen ke sana tapi nggak ada teman yang paham arsitektur buat diajak diskusi. See you on Saturday!"
Persetujuan itu terasa seperti sebuah pernyataan kemerdekaan kecil bagi Takara.
Namun, tepat setelah ia menaruh ponselnya, layar itu kembali menyala. Sebuah panggilan video dari Seoul. Jake.
Takara ragu sejenak. Biasanya, ia akan langsung mengangkatnya dengan riang, tapi kali ini ada beban rahasia di pundaknya. Ia pun menggeser tombol hijau.
"Ra! Kok lama banget diangkat?" Wajah Jake muncul di layar. Ia tampak sudah berada di dalam mobil, sepertinya sedang dalam perjalanan pulang dari jadwal malam.
Wajahnya terlihat letih, tapi matanya mencari-cari sosok Takara dengan intens.
"Eh, baru selesai beresin sketsa buat besok, Jake," jawab Takara, sedikit berbohong.
"Lo kelihatan... seneng banget? Ada apa?" selidik Jake. Insting seorang sahabat, atau mungkin insting seorang laki-laki yang merasa posisinya terancam, memang tidak pernah salah.
"Oh, itu... sabtu besok gue mau ke Zaanse Schans. William, cowok yang gue ceritain tadi, ngajak ke sana. Katanya arsitektur kincir angin di sana luar biasa," jelas Takara dengan nada riang yang jujur.
Senyum di wajah Jake mendadak membeku. Ia terdiam selama beberapa detik, hanya suara deru mesin mobil yang terdengar di latar belakang.
"Zaanse Schans? Sama... cowok itu lagi?" suara Jake merendah. "Bukannya lo bilang lo mau ke sana sama gue nanti kalau gue ada waktu libur?"
Takara tertegun. "Jake, jadwal lo itu nggak pasti. Gue nggak tahu kapan lo bisa ke sini. Mungkin tahun depan, atau dua tahun lagi. Gue nggak bisa terus-menerus nunggu, kan?"
"Tapi, Ra…" Jake memutus kalimatnya sendiri. Ia ingin melarang. Ia ingin mengatakan 'Jangan pergi sama dia'. Tapi hak apa yang ia punya? Ia adalah sahabat yang berada ribuan kilometer jauhnya, terikat kontrak, dan hanya bisa menyapa lewat sinyal digital.
"Hati-hati di sana," ucap Jake akhirnya, suaranya terdengar hambar dan terluka.
"Jangan lupa kirim foto kincir anginnya... tapi jangan ada foto dia di dalamnya."
Jake mematikan sambungan secara sepihak. Di dalam mobil yang gelap, ia menyandarkan kepalanya ke kaca jendela, menatap lampu-lampu Seoul yang mendadak terasa sangat menyilaukan dan kesepian. Sementara di Amsterdam, Takara menatap ponselnya dengan perasaan bersalah yang mulai menggerogoti antusiasmenya.
Suasana di backstage salah satu stasiun televisi Seoul terasa tegang, namun bukan karena persiapan panggung. Aura dingin justru memancar dari sudut sofa tempat Jake duduk. Ia terus-menerus memutar-mutar ponsel di tangannya, menatap layar yang gelap seolah berharap ada keajaiban yang membatalkan hari Sabtu di Amsterdam.
Jay, yang sedang memperbaiki letak aksesoris di jasnya, melirik Jake melalui pantulan cermin. Ia sudah tidak tahan melihat wajah sahabatnya yang ditekuk seperti cucian belum disetrika.
"Ada apa, Jake? Muka lo kayak belum gajian setahun," tanya Jay telak.
Jake menghela napas kasar, menyandarkan kepalanya ke dinding dengan frustrasi. "Gue ngerasa ada yang ngerampas sahabat satu-satunya."
Niki, yang sedang asyik berlatih dance kecil di tengah ruangan, langsung berhenti. Telinganya yang tajam menangkap aroma drama. "Lah? Kenapa Hyung? Takara Noona kenapa?"
"Takara mau jalan sama cowok Belanda ke desa Zaanse Schans," jelas Jake dengan nada bicara yang dipercepat, seolah-olah menyebut nama desa itu adalah sebuah kutukan.
"Padahal desa itu rencananya mau dikunjungi sama gue kalau gue liburan ke sana nanti!"
Ruangan itu hening sejenak sebelum tawa kecil keluar dari bibir Jay. Ia membalikkan badan, menatap Jake dengan tatapan 'kasihan-tapi-lucu'.
"Emang udah pasti kapan kita libur? Yang ada itu desa keburu ganti nama deh kalau nungguin jadwal lo kosong," sarkas Jay tanpa ampun.
"Jay! Gue serius!" seru Jake, wajahnya memerah.
"Gue juga serius, Jake," balas Jay, kali ini suaranya lebih tenang tapi menusuk. "Lo egois kalau nyuruh dia nungguin lo yang jadwalnya aja diatur sama manajer tiap jam. Takara itu manusia, dia butuh sosialisasi. Dia di sana sendirian, kedinginan, terus ada cowok lokal yang ngajak jalan-jalan ke tempat bagus. Ya jelas dia mau."
Niki mendekat, ikut duduk di samping Jake. "Hyung, masalahnya bukan di desanya, kan? Masalahnya karena Takara Noona perginya sama cowok, bukan sama lo."
Jake terdiam. Kata-kata Niki telak menghantam ulu hatinya. Benar. Jika Takara pergi ke sana bersama sekelompok teman perempuan, Jake mungkin hanya akan merasa iri karena tidak bisa ikut. Tapi fakta bahwa ada satu nama pria, William, yang kini mengambil alih peran 'penjaga' Takara, membuat Jake merasa kehilangan kendali.
"Dia bilang cowok itu anak arsitektur juga. Katanya mereka mau diskusi soal kincir angin," gumam Jake lirih, mencoba mencari pembenaran.
"Diskusi arsitektur di tempat seromantis itu?" Jay tertawa lagi sambil memakai jaketnya.
"Jake, bangun. Cowok itu nggak mau diskusi soal kayu atau semen. Dia mau diskusi gimana caranya bikin Takara lupa sama lo."
Tepat saat itu, manajer masuk ke ruangan dan meneriakkan waktu briefing. Jake bangkit dengan berat hati. Ia harus memakai topeng bintangnya lagi, tersenyum, menari, dan bernyanyi di depan ribuan orang, sementara di kepalanya, ia terus membayangkan Takara sedang tertawa di bawah kincir angin bersama pria lain.
Sebelum naik ke panggung, Jake mengirimkan satu pesan terakhir.
**Jake: **Have fun ya, Ra. Tapi tolong, jangan pulang kemalaman. Amsterdam bahaya kalau malam (walaupun gue tahu lo bakal bilang nggak).
Jake mematikan ponselnya dan melangkah menuju cahaya lampu panggung, namun hatinya tertinggal di sebuah desa kincir angin yang bahkan belum pernah ia injaki.
———
Di kamar dorm-nya yang remang-remang, Jake berguling ke kiri dan ke kanan. Selimutnya berantakan, persis seperti pikirannya. Ia menatap langit-langit, mencoba menghitung berapa jam lagi hingga hari Sabtu berakhir di Amsterdam.
"Nyebelin banget... kenapa harus hari ini? Kenapa harus sama dia?" gerutunya pelan pada bantal.
Jake tahu ia harus tidur. Besok pagi ada jadwal siaran langsung (Live) untuk menyapa ribuan penggemar yang sudah merindukannya. Ia harus terlihat segar, ceria, dan penuh energi. Tapi bagaimana bisa ia memberikan cinta pada dunia kalau hatinya sendiri sedang dirongrong rasa cemburu yang kekanak-kanakan?
Baginya, William bukan sekadar teman baru Takara. William adalah pengingat bahwa ada dunia nyata yang tidak bisa Jake berikan pada Takara. Dunia di mana seseorang bisa menjemput di depan pintu tanpa takut dikejar paparazzi.
Di sisi lain bumi, Takara melangkah keluar dari houseboat-nya dengan ransel berisi kamera dan buku sketsa. Ia mengenakan beret hat yang membuatnya tampak sangat menyatu dengan suasana Eropa.
Tepat di ujung dermaga, William sudah menunggu dengan sepeda dan senyum lebar. "Ready for some windmill magic?" sapanya.
Perjalanan menuju desa Zaanse Schans diisi dengan obrolan yang membuat Takara terpana. William bukan hanya bicara soal "jalan-jalan", ia benar-benar paham arsitektur. Mereka berdiskusi tentang bagaimana kayu-kayu tua pada kincir angin itu bertahan melawan angin kencang selama berabad-abad, hingga filosofi di balik tata letak desa tersebut.
Begitu tiba di sana, Takara seolah kehilangan kata-kata. Deretan kincir angin raksasa berdiri gagah dengan latar belakang langit biru yang bersih.
"Gila... ini lebih cantik dari yang gue bayangin," bisik Takara.
Ia segera mengeluarkan kameranya. Takara bukan tipe orang yang mengambil foto selfie berlebihan. Ia lebih fokus pada detail: tekstur kayu yang melapuk, bayangan baling-baling kincir di atas rumput hijau, hingga kerajinan sepatu kayu (klompen) yang sedang dibuat perajin lokal.
"Lihat ini, Will. Garis simetrisnya sempurna banget," pamer Takara sambil menunjukkan hasil fotonya pada William.
William mendekat, berdiri cukup dekat hingga bahu mereka bersentuhan. Ia tidak menatap layar kamera, melainkan menatap wajah Takara yang sedang bersemangat. "Iya, sempurna. Everything about this moment is perfect," jawab William dengan nada yang lebih dalam.
Tanpa sadar, karena terlalu antusias, Takara mengirimkan salah satu foto detail kincir angin itu ke grup chat pribadinya dengan Jake. Ia ingin berbagi keindahan itu dengan "nadinya".
Namun, Takara tidak sadar bahwa di pantulan kaca jendela kincir angin yang ia foto, terlihat bayangan William yang sedang memegang payung dan botol minum milik Takara dengan perhatian.
Di Seoul, ponsel Jake bergetar di atas nakas. Jake langsung menyambarnya secepat kilat. Ia memperbesar foto itu, mencari-cari kesalahan, dan matanya tertuju pada bayangan pria di pantulan kaca itu.
Gigi Jake bergeletuk. Ia segera mengetik balasan dengan jemari yang gemetar.
Jake: Bagus fotonya. Tapi itu siapa yang megangin tas sama botol minum lo? Gue nggak suka dia terlalu dekat sama barang-barang lo, Ra. Lo udah nemuin pengganti gue sebagai sahabat ya?
Takara melihat pesan itu masuk saat ia sedang tertawa bersama William. Senyumnya sedikit memudar. Ia merasa Jake mulai melewati batas "sahabat", namun di sisi lain, ada bagian kecil di hatinya yang merasa... diinginkan.
Di kamar dorm yang sunyi, Jake membaca balasan itu berulang kali.
Takara: Itu namanya lo berlebihan, mana mungkin posisi lo sebagai sahabat gue sejak orok tergantikan. Makannya lo ada di sini dong, ya kali gue terus nungguin lo.
Jake terdiam. Kalimat "Ya kali gue terus nungguin lo" bergema di kepalanya, jauh lebih nyaring daripada sorakan penggemar di stadion. Ia tersadar bahwa selama ini ia telah bersikap egois; ia mengunci Takara dalam status "sahabat" agar gadis itu tidak pergi, tapi di saat yang sama, ia tidak bisa memberikan kehadiran fisik yang dibutuhkan Takara.
Ia ingin membalas, 'Gue pengen di sana, Ra. Gue pengen jadi orang yang megangin tas lo', tapi ia tahu itu hanya akan terdengar seperti janji manis yang tak kunjung ditepati.
Keesokan paginya, jadwal siaran langsung (Live) pun tiba. Jake duduk di depan kamera bersama member lainnya. Wajahnya memang sudah dipulas makeup mahal, tapi matanya yang kuyu tidak bisa berbohong. Ia berkali-kali melamun saat member lain sedang bercanda.
"Jake, lo kenapa sih? Dari tadi bengong terus," bisik Sunghoon di tengah-tengah siaran, mencoba menjaga profesionalisme.
Jake tersentak, lalu memaksakan senyum ke arah kamera. "Ah, nggak apa-apa. Cuma... lagi mikirin kincir angin."
Sontak, kolom komentar live itu meledak.
"Kincir angin? Apa dia mau konser di Belanda?"
"Jake looks so tired, is he okay?"
"Windmill? Is that a spoiler for the next comeback??"
Jay yang duduk di samping Jake hanya bisa menepuk dahi. Ia tahu persis kincir angin mana yang dimaksud. "Maksud Jake, dia lagi belajar tentang... fisika. Iya, putaran baling-baling," timpal Jay berusaha menyelamatkan suasana, meski terdengar sangat tidak masuk akal.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!