Angin musim gugur di Puncak Awan Putih selalu membawa hawa dingin yang menusuk tulang, namun bagi Ye Yuan, tatapan merendahkan dari ratusan murid di lapangan latihan terasa jauh lebih membekukan daripada badai salju mana pun.
Pagi itu, Matahari baru saja merangkak naik, menyinari pelataran batu giok putih milik Sekte Pedang Surgawi yang megah. Kabut tipis masih menyelimuti patung pendiri sekte yang menjulang tinggi di tengah alun-alun, seolah-olah patung itu pun enggan melihat kejadian memalukan yang sedang berlangsung di bawah kakinya.
Di tengah panggung ujian yang dikelilingi oleh para tetua dan murid inti, Ye Yuan berdiri mematung. Telapak tangannya menempel pada Batu Pengukur Roh—sebuah artefak hitam setinggi dua meter yang berfungsi mengukur bakat kultivasi seseorang.
Hening.
Biasanya, batu itu akan memancarkan cahaya. Merah untuk bakat rendah, Kuning untuk menengah, Biru untuk jenius, dan Emas untuk mereka yang diberkati surga. Namun, saat Ye Yuan meletakkan tangannya, batu itu tetap hitam pekat. Tidak ada getaran. Tidak ada cahaya. Bahkan tidak ada sedikit pun reaksi energi spiritual (Qi).
"Bakat... Kosong," suara Penatua Penguji terdengar datar, namun gemanya memantul keras di dinding tebing, menghancurkan sisa harga diri Ye Yuan. "Dantian retak, meridian tersumbat. Tidak ada harapan untuk berkultivasi seumur hidup."
Hembusan napas kecewa, disusul gelak tawa, meledak dari kerumunan murid-murid di bawah panggung.
"Lihat itu! Sudah kuduga, si anak pungut itu hanya membuang-buang nasi sekte!"
"Tiga tahun dia di sini sebagai murid percobaan, dan hasilnya nol besar? Bahkan anjing penjaga gerbang pun memiliki sedikit Qi!"
"Hei, Ye Yuan! Lebih baik kau turun gunung dan jadi petani ubi saja!"
Ye Yuan menarik tangannya perlahan. Jari-jarinya gemetar, bukan karena dingin, tapi karena rasa malu dan amarah yang tertahan di dadanya. Wajahnya yang tirus namun tampan tetap datar, meski rahangnya mengeras hingga urat lehernya terlihat. Ia berusia tujuh belas tahun, usia di mana seorang kultivator seharusnya sudah menembus Ranah Pengumpulan Qi tingkat dasar. Namun dia? Dia masih selemah manusia biasa.
Ia membungkuk hormat secara kaku kepada Penatua Penguji, sebuah etika yang dipaksakan, lalu berbalik turun dari panggung. Setiap langkah yang ia ambil terasa berat, seolah kakinya diikat dengan rantai besi ribuan jin.
"Tunggu," sebuah suara angkuh menghentikan langkahnya.
Dari barisan murid inti, seorang pemuda berjubah sutra biru melangkah maju. Di pinggangnya tergantung pedang dengan sarung bertahta permata. Itu adalah Li Feng, putra seorang tetua dan jenius yang baru saja menembus Ranah Pengumpulan Qi tingkat lima.
Li Feng tersenyum miring, menghalangi jalan Ye Yuan. "Ye Yuan, kau tahu aturannya, bukan? Murid percobaan yang gagal dalam ujian usia tujuh belas tahun harus diusir dari sekte. Tapi... karena ayahku berhati baik, dia menyarankan agar kau tidak langsung diusir."
Ye Yuan mengangkat wajahnya, menatap mata Li Feng yang penuh cemoohan. "Apa maumu, Li Feng?"
"Sekte membutuhkan tenaga kerja untuk membersihkan Lembah Kuburan Senjata," kata Li Feng dengan suara yang sengaja dikeraskan agar semua orang mendengar. "Tempat itu penuh dengan aura pedang liar (Sword Intent) sisa-sisa senjata rusak. Bagi kultivator, aura itu mengganggu. Tapi bagi sampah tanpa Qi sepertimu? Kau tidak akan merasakan apa-apa. Kau bisa menjadi pemulung di sana sampai kau mati karena keracunan besi."
Tawa kembali meledak. Lembah Kuburan Senjata adalah tempat pembuangan akhir bagi pedang-pedang gagal atau rusak milik para murid dan tetua. Tempat itu suram, berbahaya karena longsoran logam, dan dijauhi oleh semua orang. Mengirim seseorang ke sana sama saja dengan membuangnya ke tempat sampah.
Ye Yuan mengepalkan tinjunya hingga kukunya melukai telapak tangan. Darah menetes, tapi rasa sakit fisik itu membantunya tetap sadar. Dia tidak punya tempat untuk pulang. Dia yatim piatu yang dipungut oleh mendiang guru yang kini sudah tiada. Jika dia turun gunung tanpa kemampuan bela diri, dia hanya akan menjadi mangsa bandit atau binatang buas.
"Aku terima," jawab Ye Yuan, suaranya serak.
"Bagus!" Li Feng menepuk bahu Ye Yuan dengan keras, menyalurkan sedikit Qi yang menyengat bahu Ye Yuan seperti jarum panas. Ye Yuan meringis tapi tidak berteriak. "Pergilah, Sampah. Jangan kotori pemandangan di Puncak Awan Putih lagi."
Sore harinya, Ye Yuan sudah menyeret langkahnya menuju bagian belakang gunung, jauh dari paviliun-paviliun indah tempat para murid berlatih. Jalur menuju Lembah Kuburan Senjata dipenuhi semak berduri dan bebatuan tajam. Langit di atas lembah itu selalu tampak kelabu, seolah-olah ribuan pedang yang mati di sana telah menyerap warna matahari.
Sesampainya di bibir lembah, pemandangan di bawah sana membuat napas siapa pun tercekat. Itu bukan lembah biasa. Itu adalah lautan logam. Ribuan, mungkin jutaan pedang menancap di tanah, bertumpuk satu sama lain, atau berserakan seperti tulang belulang raksasa besi. Ada pedang besar, pedang tipis, pedang ganda, tombak, golok—semuanya dalam kondisi cacat. Berkarat, patah, bengkok, atau hancur lebur.
Udara di sini berbau karat dan darah kering. Meskipun Li Feng berkata orang tanpa Qi tidak akan merasakan aura pedang, itu bohong. Begitu Ye Yuan melangkah masuk ke area tumpukan pedang, kulitnya terasa perih, seolah-olah ada ribuan jarum tak kasat mata yang menusuk pori-porinya. Sisa-sisa "kehendak" dari pedang-pedang ini—kemarahan pemilik sebelumnya, kekecewaan karena patah, kesedihan karena dibuang—bercampur menjadi aura kebencian yang pekat.
"Jadi ini tempat peristirahatan terakhirku?" gumam Ye Yuan, menendang sebuah gagang pedang tembaga yang sudah hijau karena lumut.
Dia berjalan lebih dalam, mencari gubuk tua yang konon pernah ditinggali penjaga lembah sebelumnya. Namun, semakin dalam dia berjalan, semakin aneh perasaannya. Rasa perih di kulitnya berubah menjadi sensasi panas di dada.
Dug... Dug...
Jantungnya berdetak kencang, tidak berirama.
Ye Yuan berhenti. Dia memegang dadanya, napasnya memburu. "Apa ini? Racun besi?" pikirnya panik. Tapi rasa sakit ini bukan seperti penyakit. Ini seperti... panggilan.
Sebuah dorongan insting yang kuat menariknya ke arah tebing timur lembah, tempat di mana tumpukan pedang paling tua berada. Di sana, pedang-pedangnya sudah hampir tidak berbentuk, menyatu dengan batu dan tanah menjadi gundukan karat.
Ye Yuan mencoba mengabaikannya, tapi kakinya bergerak sendiri. Dia memanjat tumpukan logam tajam itu, mengabaikan goresan-goresan yang merobek celana dan kulit kakisnya. Darah segar menetes dari betisnya, jatuh ke atas tumpukan pedang tua.
Anehnya, darah itu tidak mengering. Darah itu meresap ke dalam sela-sela tumpukan logam, seolah-olah dihisap oleh sesuatu yang lapar di bawah sana.
"Ada sesuatu di sini," bisik Ye Yuan. Matanya menyisir area di depannya.
Di antara dua bongkahan batu hitam raksasa yang membentuk celah sempit, tertancap sebuah benda.
Itu adalah pedang. Atau lebih tepatnya, bangkai pedang.
Bilahnya berwarna hitam pekat, tidak memantulkan cahaya sedikit pun, seolah menyerapnya. Permukaannya kasar, penuh korosi yang mengerikan. Yang paling menyedihkan adalah kondisinya: pedang itu patah tepat di tengah. Ujungnya hilang entah ke mana, menyisakan bilah sepanjang setengah meter dengan tepian bergerigi kasar yang tumpul. Tidak ada ornamen, tidak ada permata, gagangnya hanya dililit kain lusuh yang sudah membusuk.
Dibandingkan dengan sampah pedang lain di lembah ini, pedang hitam patah ini terlihat paling tidak berharga.
Namun, Ye Yuan tidak bisa memalingkan wajahnya. Dia merasa seolah-olah pedang itu sedang menatapnya balik. Kesedihan yang memancar dari benda itu begitu dalam, melampaui kesedihan Ye Yuan sendiri. Itu adalah kesedihan seorang raja yang dikhianati, seorang dewa yang jatuh dari singgasana.
Tanpa sadar, tangan Ye Yuan terulur.
"Jangan sentuh!"
Sebuah teriakan dalam benaknya membuatnya tersentak, tapi itu bukan suara dari luar. Itu adalah intuisinya sendiri yang berteriak bahaya. Tapi rasa ingin tahunya, dan rasa koneksi aneh itu, terlalu kuat.
Jari-jari Ye Yuan menyentuh gagang pedang itu.
ZING!
Dunia di sekitar Ye Yuan seketika berubah.
Suara angin lembah lenyap. Bau karat menghilang. Langit kelabu di atasnya berubah menjadi merah darah. Dia tidak lagi berada di lembah, melainkan di tengah medan perang yang luasnya tak bertepi.
Mayat raksasa setinggi gunung bergelimpangan di sekitarnya. Makhluk-makhluk bersayap emas jatuh dari langit dengan tubuh terbelah. Lautan api membakar cakrawala. Di tengah kehancuran itu, berdiri satu sosok bayangan hitam yang memegang pedang utuh—pedang yang sama dengan yang dipegang Ye Yuan, namun dalam kondisi sempurna.
Bayangan itu mengangkat pedangnya ke arah langit yang dipenuhi jutaan dewa berbaju zirah emas.
"Langit ingin memperbudakku? Maka aku akan mematahkan Langit!"
Suara itu meledak di kepala Ye Yuan seperti guntur.
Detik berikutnya, visi itu hancur berkeping-keping. Ye Yuan terlempar kembali ke realitas, ke Lembah Kuburan Senjata.
"ARGGHH!" Ye Yuan berteriak kesakitan. Telapak tangannya terasa terbakar hebat. Dia mencoba melepaskan gagang pedang patah itu, tapi tangan kanannya merekat kuat, seolah dagingnya menyatu dengan gagang besi itu.
Pedang patah itu mulai bergetar. Karat-karat di permukaannya rontok perlahan, memperlihatkan logam hitam yang memiliki pola-pola merah samar seperti pembuluh darah. Darah dari luka di tangan Ye Yuan disedot dengan rakus oleh pedang itu.
Dia meminum darahku! batin Ye Yuan panik. Aku akan mati kering!
Tubuh Ye Yuan mengejang. Wajahnya pucat pasi. Dia bisa merasakan energi kehidupannya ditarik keluar. Pandangannya mulai kabur. Apakah ini akhir hidupnya? Mati konyol dimakan oleh sebilah besi rongsokan di tempat sampah?
"Tidak..." desis Ye Yuan. "Aku... tidak mau mati di sini..."
Kebenciannya pada nasib, amarahnya pada Li Feng, dan tekadnya untuk membuktikan diri bangkit. Jika pedang ini ingin memakannya, maka dia harus memakan pedang ini balik!
Alih-alih mencoba melepaskan diri, Ye Yuan melakukan hal gila. Dia mempererat genggamannya. Dia memfokuskan seluruh kemauannya, seluruh jiwa raga yang tersisa, untuk menundukkan benda di tangannya.
"Kau pikir kau siapa?!" teriak Ye Yuan dengan sisa tenaga terakhirnya. "Kau hanya sepotong besi patah! Dan aku adalah tuanmu!"
BOOM!
Ledakan energi tak kasat mata menyapu lembah. Ribuan pedang di sekitar mereka bergetar serentak, menimbulkan suara dengungan logam yang memekakkan telinga, seolah-olah mereka sedang bersujud pada rajanya yang telah bangun dari tidur panjang.
Arus energi panas—bukan Qi biasa, tapi sesuatu yang jauh lebih purba, ganas, dan tajam—mengalir balik dari pedang ke tubuh Ye Yuan. Energi itu menyerbu masuk melalui lengan kanannya, menghantam meridiannya yang tersumbat.
Rasa sakitnya seribu kali lipat lebih parah daripada saat tulangnya patah. Ye Yuan merasa seperti ada magma cair yang dipaksa masuk ke dalam pembuluh darahnya yang sempit.
"AAAAAAARRRGGGHHH!"
Dantian-nya yang retak dan dianggap sampah, dihantam oleh energi hitam itu. Alih-alih hancur, energi itu justru mengisi retakan-retakan tersebut, bertindak seperti lem perekat yang menyatukan kembali kepingan Dantian-nya dengan fondasi yang jauh lebih kokoh dan gelap.
Meridian yang tersumbat? Diterobos paksa! Kotoran-kotoran di dalam tubuhnya didorong keluar melalui pori-pori kulit dalam bentuk cairan hitam berbau busuk.
Proses itu berlangsung selama satu jam penuh yang terasa seperti satu abad penyiksaan neraka.
Ketika semuanya berakhir, Ye Yuan jatuh berlutut, terengah-engah. Keringat dan kotoran menutupi tubuhnya. Namun, matanya... matanya kini berbeda. Ada kilatan tajam di pupil matanya, setajam mata pedang.
Dia melihat ke tangannya. Pedang patah itu kini terlepas dari tumpukan batu. Beratnya luar biasa, mungkin sekitar seratus kilogram, tapi Ye Yuan bisa mengangkatnya dengan satu tangan seolah-olah hanya mengomel kayu.
Meskipun masih terlihat patah dan hitam kusam, Ye Yuan bisa merasakan "detak jantung" samar-samar dari dalam website itu. Sebuah koneksi telah terbentuk. Pedang itu kini menjadi bagian dari jiwa.
Tiba-tiba, serangkaian tulisan kuno melayang di dalam pemikiran, membentuk sebuah manual teknik pemetaan yang belum pernah tersebar di Benua Roh Azure.
[Sutra Hati Pedang Asura - Tingkat Pertama: Tubuh Pedang Baja]
Ye Yuan tertegun. Dia mencoba menggenggam tangan kirinya.Krak!Udara di dalam genggamannya meletup. Tenaga fisiknya... ini bukan tenaga manusia biasa. Tanpa menggunakan Qi pun, kekuatan ototnya telah melonjak drastis.
Dia mencoba mengalirkan energi ke Dantian-nya. Pusaran kecil kini berputar di sana. Bukan berwarna putih jernih seperti menyalakan aliran lurus, tapi berwarna abu-abu gelap dengan kilatan petir ungu.
“Ranah Pengumpulan Qi…Tingkat Tiga?” Ye Yuan pemandangan tak percaya. "Hanya dalam satu jam?"
Butuh waktu tiga tahun bagi murid berbakat biasa untuk mencapai tingkat tiga. Li Feng butuh lima tahun untuk mencapai tingkat lima. Dan Ye Yuan, apakah sampahnya melonjak tiga tingkat dalam satu sakit?
Dia menatap pedang patah di tangannya. Dia mengusap bilah pisau bergerigi itu dengan lembut.
"Kau dibuang karena kau rusak. Aku dibuang karena aku cacat," bisik Ye Yuan, senyum tipis yang dingin terukir di bibir. "Kita adalah pasangan yang cocok."
Dia mengangkat pedang itu setinggi-tingginya, mengarahkannya ke arah Puncak Awan Putih yang terlihat jauh di atas tebing.
“Mereka menyebut kita sampah, kawan,” katanya pada pedang itu. "Mari kita menunjukkan pada mereka... bagaimana rasanya ditebas oleh sampah."
Ye Yuan menyarungkan pedang patah itu di punggungnya menggunakan kain luluh sebagai tali pengikatnya. Dia berdiri tegak, membiarkan angin lembah menerpa wajahnya yang kini bersih dari keraguan. Matahari mulai terbenam, melemparkan bayangan panjang yang tampak seperti raksasa di belakang punggung Ye Yuan.
Perjalanan sang Penakluk Langit baru saja dimulai. Dan langkah pertama akan dipenuhi dengan darah mereka yang pernah menghinanya.
[Bersambung ke Bab 2)
Malam turun lembah Lembah Kuburan Senjata, membawa serta kenyamanan yang mencekam. Tidak ada suara jangkrik atau burung malam di sini; makhluk hidup secara keseluruhan menghindari tempat yang dipenuhi aura kematian dan besi berkarat ini. Satu-satunya suara yang terdengar adalah desau angin yang melewati celah-celah ribuan pedang yang tertancap di tanah, menciptakan simfoni dengungan rendah yang terdengar seperti ratapan hantu.
Di tengah kegelapan itu, di tepi sebuah kolam air keruh yang tersembunyi di balik bebatuan, sesosok tubuh sedang membersihkan diri.
Itu adalah Ye Yuan.
Cairan hitam lengket berbau busuk yang sebelumnya menutupi sekujur tubuhnya perlahan luruh terbawa udara dingin. Itu adalah "Kotoran Duniawi"—residu racun dan ketidakmurnian yang telah mengendap di dalam tulang, otot, dan meridiannya selama tujuh belas tahun. Bagi seorang yang berkepentingan, proses pembersihan sumsum dan pencucian tulang seperti ini biasanya hanya terjadi ketika seseorang menembus ranah komputasi yang sangat tinggi, atau memakan pil cakrawala yang sangat langka. Namun, Ye Yuan mengalaminya hanya dalam satu jam setelah berkontak dengan pedang patah itu.
Saat dia membasuh wajahnya, Ye Yuan melihat pantulan dirinya di permukaan udara yang tenang, diterangi oleh cahaya bulan purnama yang pucat.
Dia hampir tidak mengenali pemuda yang menatap ke belakang dari permukaan udara itu.
Wajahnya yang dulunya pucat dan sakit-sakitan kini memiliki rona kemerahan yang sehat. Kulitnya yang kasar karena kerja paksa kini tampak lebih halus, namun di baliknya tersembunyi ketangguhan seperti kulit badak. Otot-otot di lengan dan dada tidak membesar secara berlebihan seperti beruang, tetapi menjadi padat, terdefinisi dengan tajam, dan menyimpan kekuatan eksplosif yang siap meledak kapan saja.
Namun, perubahan terbesar ada di matanya.
Mata hitamnya kini memiliki kedalaman yang menakutkan, seolah-olah ada jurang tanpa dasar di dalamnya. Sesekali, kilatan ungu samar berkedip di pupil matanya, sisa dari energi pedang yang baru saja ia serap.
Ye Yuan keluar dari udara, habitatnya bukan karena dingin, tetapi karena kegembiraan yang meluap-luap. Dia mengenakan kembali celana murid luarnya yang robek-robek—satu-satunya pakaian yang dia miliki—dan menatap ke arah tumpukan batu tempat dia meletakkan pedang patah itu.
Pedang itu terletak di sana, tampak seperti rongsokan besi biasa. Hitam, kusam, dan patah. Tidak ada yang akan mengira bahwa benda inilah yang telah mengubah takdirnya.
"Sutra Hati Pedang Asura..." Ye Yuan menggumamkan nama teknik yang terukir dalam ingatannya.
Dia duduk bersila di atas sebuah batu datar di sebelah pedang itu, mencoba memahami informasi yang memenuhi kepalanya. Teknik memperluas di Benua Roh Azure biasanya dibagi menjadi empat tingkatan: Kuning, Misteri, Bumi, dan Langit. Setiap tingkatan dibagi lagi menjadi Rendah, Menengah, dan Tinggi.
Teknik dasar Sekte Pedang Surgawi,Seni Pedang Awan Putih, adalah teknik tingkat Kuning Menengah. Hanya murid inti yang dapat mempelajari tingkat Kuning Tinggi.
Namun,Sutra Hati Pedang Asuraini... Ye Yuan tidak bisa merasakan batasannya. Teknik ini terasa kuno, buas, dan mendominasi, seolah-olah berasal dari era sebelum sistem levelan ini diciptakan.
"Teknik ini gila," bisik Ye Yuan setelah merenung beberapa saat. "Kultivator biasa menyerap Qi dari alam—dari pohon, angin, dan matahari. Tapi Sutra ini... ia memaksaku untuk menyerap 'Qi Logam' dan 'Niat Membunuh' dari senjata."
Itu menjelaskan mengapa dia dikirim ke tempat ini. Bagi orang lain, Lembah Kuburan Senjata adalah tempat yang mematikan karena aura tajam yang tak terkendali. Tapi bagi praktisiSutra Hati Pedang Asura, tempat ini adalah surga. Ribuan pedang yang dibuang di sini mengandung sisa-sisa energi logam yang bisa dia lahap.
"Mari kita coba."
Ye Yuan memejamkan mata. Dia mengaktifkan mantra pertama dari sutra tersebut.
Wuuung...
Udara di sekitarnya bergetar. Jika ada orang lain yang melihat, mereka akan menyaksikan pemandangan yang mengerikan. Kabut tipis berwarna kemerahan mulai bangkit dari tumpukan pedang-pedang tua di sekitar Ye Yuan. Itu adalah sisa-sisa esensi besi dan kebencian yang terperangkap dalam senjata-senjata rusak itu.
Kabut itu ditarik paksa ke arah Ye Yuan, masuk melalui pori-pori kulitnya.
"Ah!" Ye Yuan penuh gigi.
Rasanya sakit. Sangat sakit.
Jika menyerap Qi alam rasanya seperti berendam di udara hangat, menyerap Qi Pedang rasanya seperti digosok dengan kertas amplas kasar dari dalam daging. Energi tajam itu mengiris meridiannya, merobek otot-otot mikroskopisnya, lalu dengan cepat menyembuhkannya kembali menjadi lebih kuat dan lebih keras.
Ini bukanpemiskinan. Ini adalah penyiksaan diri untuk menempa tubuh manusia menjadi senjata hidup.
Menghancurkan lalu membangun kembali. Mematahkan lalu menyambung kembali. Itulah jalan Asura.
Satu jam berlalu. Dua jam.
Keringat dingin bercampur sedikit darah merembes dari kening Ye Yuan. Namun, dia tidak berhenti. Kebenciannya terhadap penghinaan yang dia terima pagi ini menjadi bahan bakar tekadnya. Wajah Li Feng yang sombong, tawa para murid lain, datangnya dingin Penatua Penguji—semua itu berputar di kepalanya.
Aku akan menahan rasa sakit ini! Dibandingkan rasa sakit sampah menjadi yang diinjak-injak, rasa sakit fisik ini adalah anugerah!
LEDAKAN!
Suara ledakan tumpul terdengar dari dalam tubuh Ye Yuan. Pusaran energi di Dantian-nya berputar semakin cepat. Kabut abu-abu di sekelilingnya tersedot habis dalam satu tarikan napas panjang.
Ye Yuan membuka matanya. Sinar ungu memancarkan terang dari matanya sebelum meredup kembali.
"Ranah Pengumpulan Qi Tingkat Empat..."
Ye Yuan menggenggam tangannya, merasakan aliran tenaga yang melonjak. Dia baru saja menembus satu tingkat lagi hanya dengan bermeditasi beberapa jam di tempat ini. Kecepatan ini sangat mengerikan. Jika tetua sekte tahu, mereka pasti akan membedah tubuh Ye Yuan untuk mencari tahu rahasianya.
Namun, Ye Yuan tahu bahwa kenaikan tingkat yang cepat ini bukan tanpa harga. Dia merasa sangat lapar. Tubuhnya membakar energi dengan kecepatan gila untuk meregenerasi sel-sel yang rusak akibat latihan tadi.
"Aku butuh makanan. Dan aku butuh menguji kekuatan ini."
Ye Yuan berdiri dan mengambil pedang hitam patah itu. Beratnya yang seratus kilogram kini terasa sedikit lebih ringan, mungkin terasa seperti lima puluh kilogram baginya sekarang. Masih berat, tapi bisa dikendalikan.
Dia melihat sebuah batu granit sebesar kerbau dewasa di depannya.
DalamSutra Hati Pedang Asura, ada satu teknik bela diri dasar yang muncul bersamanya. Namanya sederhana, tanpa embel-embel bunga-bunga seperti teknik sekte pada umumnya.
[Tebasan Pembelah Gunung]
Tidak ada gerakan yang rumit. Tidak ada penari pedang yang indah. Hanya satu konsep: Mengalirkan seluruh kekuatan fisik dan Qi ke satu titik ledak, lalu mendekatkan pedang dengan niat mutlak untuk menghancurkan apa pun yang ada di depan.
Ye Yuan memasang kuda-kuda. Dia memegang gagang pedang patah itu dengan kedua tangannya. Dia menarik napas dalam, membayangkan dirinya adalah raksasa yang memegang kapak pembelah dunia.
Qi di Dantian-nya mengalir deras ke lengan, lalu ke pedang. Bila hitam yang kusam itu tiba-tiba berdengung. Garis-garis merah samar menyala di sepanjang retakan logamnya.
"Hancur!"
Ye Yuan mengayunkan pedang itu secara vertikal.
Sederhana. Brutal. Cepat.
BLARR!
Suara hantaman keras menggema di lembah sunyi itu. Debu batu beterbangan ke segala arah.
Ketika debu mereda, mata Ye Yuan membelalak. Batu granit sebesar kerbau tidak terbelah rapi. Batu itu... meledak. Bagian tengahnya hancur menjadi kerikil, sementara sisa-sisanya terlempar beberapa meter.
Ini bukan memotong. Ini menghancurkan.
Karena pedang ini patah dan tumpul di titik, ia tidak memotong seperti silet, melainkan menghantam seperti palu godam dengan tepi yang tajam. Daya rusaknya jauh lebih mengerikan daripada pedang tajam biasa. Jika hantaman ini mengenai tubuh manusia... Ye Yuan bergidik membayangkannya. Tulang lawan pasti akan menjadi bubuk.
"Luar biasa..." Ye Yuan menyeka keringat di dahinya. "Dengan kekuatan ini, bahkan tingkat Lima pun mungkin tidak akan bisa menahan satu seranganku jika mereka meremehkanku."
Tiba-tiba, telinga Ye Yuan yang kini jauh lebih tajam menangkap suara langkah kaki.
Bukan satu orang. Ada tiga orang. Mereka berjalan menuruni jalan setapak menuju lembah, tidak berusaha menyembunyikan kehadiran mereka.
"Sial, tempat ini bau sekali! Kenapa Li Feng menyuruh kita turun ke sini malam-malam begini?" suara seorang pria menggerutu.
"Berhentilah mengeluh, Wang Hu. Li Feng berkata si sampah Ye Yuan itu mungkin sudah mati keracunan aura pedang. Kita hanya perlu memastikan dia mati, lalu mengambil token identitasnya untuk dilaporkan. Setelah itu, Li Feng berjanji memberi kita masing-masing satu Pil Pengumpul Qi."
"Hehe, benar juga. Lagipula, aku ingin melihat wajah putus asa si sampah itu sebelum dia mati. Berani-beraninya dia menatap Tuan Muda Li dengan mata menantang tadi pagi."
Ye Yuan membukakan matanya. Dia mengenali suara itu.
Wang Hu. Salah satu pesuruh setia Li Feng. Dia adalah murid luar tingkat senior yang sudah mencapai Ranah Pengumpulan Qi Tingkat Empat. Dua orang lainnya kemungkinan besar adalah kacung-kacungnya yang berada di Tingkat Tiga.
Di masa lalu, Ye Yuan akan ketakutan dan mencari tempat persembunyian. Wang Hu sering memukulinya dan merampas jatah makanannya setiap bulan. Bagi Ye Yuan yang dulu, Wang Hu adalah mimpi buruk.
Tapi sekarang?
Sudut bibir Ye Yuan mengangkat senyuman dingin. Senyuman yang tidak pernah dia tunjukkan sebelumnya. Darah di dalam tubuhnya mendidih, bukan karena takut, tapi karena dorongan aneh dariSutra Asura.
Ada rasa haus yang menuntut untuk dipuaskan.
Kamu Yuan tidak lari. Dia justru berjalan santai menuju area terbuka, sambil mengayunkan pedang patahnya di tanah. Ujung pedang yang berat itu menggores bebatuan, menciptakan percikan api dan suaraJalan... Jalan...yang nyaring di kenyamanan malam.
Di depan sana, tiga sosok muncul dari balik kabut. Mereka memegang obor.
Wang Hu, seorang pemuda bertubuh kekar dengan wajah penuh bekas jerawat, berhenti mendadak saat melihat sosok yang berdiri menghalangi jalan mereka.
Cahaya obor menyinari wajah Ye Yuan.
"Hah? Itu dia!" seru salah satu kacung Wang Hu. "Dia masih hidup! Dan... hei, dia terlihat bersih?"
Wang Hu maju ke depan, menatap Ye Yuan dengan bertanya. "Wah, wah. Lihat siapa ini. Tuan Muda Sampah ternyata sedang jalan-jalan malam. Aku pikir kau sudah jadi mayat kering."
Wang Hu mengarahkan pedangnya ke wajah Ye Yuan. "Berlututlah. Mungkin kalau kau menjilat sepatuku, aku akan membuat kematianmu cepat."
Dua temannya tertawa terbahak-bahak, suara mereka memantul di dinding lembah.
Kamu Yuan hanya diam. Dia menatap Wang Hu dengan datar, seolah melihat orang mati. Sikap tenangnya ini membuat Wang Hu merasa tidak nyaman. Seharusnya Ye Yuan gemetar, menangis, dan memohon ampun seperti biasanya.
"Kenapa kau diam saja, Bisu?!" bentak Wang Hu, merasa harga dirinya terusik. "Kau tuli?!"
"Aku hanya sedang berpikir," jawab Ye Yuan akhirnya. Suaranya tenang, namun membawa hawa dingin yang menusuk.
"Berpikir apa? Berpikir cara memohon ampun?" cibir Wang Hu.
"Bukan," Ye Yuan menggeleng pelan. Dia mengangkat pedang patahnya dengan satu tangan, mengarah lurus ke arah Wang Hu. "Aku sedang berpikir...di bagian mana aku harus mematahkan tulangmu agar kau merasakan sakit yang sama seperti yang kualami selama tiga tahun ini."
Hening sejenak.
Lalu, tawa meledak lebih keras dari sebelumnya.
"Hahahaha! Kalian dengar itu? Si sampah mengancamku! Dia pikir dia siapa? Pendekar pedang?" Wang Hu tertawa sampai memegangi kedalaman itu. "Baiklah, Sampah. Karena kamu ingin bermain keras, jangan salahkan aku jika aku tidak sengaja memotong tanganmu!"
"Serang dia! Hajar dia sampai lumpuh!" perintah Wang Hu kepada dua temannya.
Dua murid itu, keduanya di Tingkat Tiga, melesat maju. Mereka menghunus pedang besi standar sekte. Gerakan mereka cukup cepat bagi manusia biasa, tapi di mata Ye Yuan yang baru... gerakan itu penuh celah.
Lambat. Terlalu lambat.
Persepsi Ye Yuan telah meningkat drastis. Dia bisa melihat lintasan pedang mereka bahkan sebelum mereka dikurung.
"Mati kau!" Murid pertama dikurung ke arah bahu Ye Yuan.
Kamu Yuan tidak mundur. Dia melangkah maju.
Bau!
Bukan suara dentingan pedang yang indah, melainkan suara hantaman logam yang kasar. Ye Yuan mengayunkan pedang patahnya secara horizontal, menangkis serangan itu.
Tidak, bukan menangkis. Dia menghantamnya.
Saat pedang patah yang berat itu digerakkan dengan pedang besi murid tersebut, pedang besi itu langsung bengkok dan patah menjadi dua bagian. Kekuatan hantaman itu tidak berhenti di situ; momentum pedang Ye Yuan terus melaju, menghantam dada murid itu.
"Argh!"
Terdengar suara tulang rusuk yang retak. Murid itu terlempar ke belakang seperti layang-layang putus tali, muntahan darah di udara, dan jatuh pingsan seketika.
Satu serangan. Satu detik.
Murid kedua yang sedang bersiap menyerang dari samping membeku di tempat. Mata terbelalak horor. Dia melihat temannya hancur berkeping-keping. "B-bagaimana mungkin? Kamu tidak punya Qi..."
Ye Yuan menoleh padanya. "Giliranmu."
Sebelum murid kedua sempat bereaksi, Ye Yuan memutar tubuhnya, menggunakan momentum berat pedangnya untuk melakukan tendangan memutar. Kaki Ye Yuan, yang kini sekeras baja, menghantam perut murid itu.
Bugh!
Murid kedua terlipat ganda, membayangkan isi perut, dan jatuh berlutut sambil mengerang kesakitan. Dia tidak bisa bangun lagi.
Saat ini, hanya tersisa Wang Hu.
Tawa Wang Hu sudah lama menghilang. Wajahnya pucat pasi di bawah cahaya obor yang bergetar di tangan. Dia menatap Ye Yuan seolah-olah ada hantu yang melihat. Dia bisa merasakan aura Qi yang memancarkan dari tubuh Ye Yuan.
"Tingkat...Tingkat Empat?!" Wang Hu tergagap. "Tidak mungkin! Pagi ini kamu tidak punya bakat! Bagaimana kamu bisa mencapai Tingkat Empat dalam sehari?! Iblis macam apa kamu?!"
Ketakutan mulai terjadi di hati Wang Hu. Bahkan dia membutuhkan empat tahun untuk mencapai tingkat ini.
"Kau banyak bicara," kata Ye Yuan dingin. Dia melangkah mendekati Wang Hu, langkah kakinya berat dan mantap.Ketuk... Ketuk... Ketuk...
“Ja-jangan mendekat!” Wang Hu panik. Dia membuang obornya dan mengalirkan seluruh Qi-nya ke pedangnya. Bila sepatunya bersinar biru samar. "Aku akan membunuhmu!Teknik Pedang Awan Putih: Tusukan Kilat!"
Wang Hu menerjang dengan putus asa. Ini adalah serangan terkuatnya, sebuah tusukan lurus yang cepat mengarah ke tenggorokan Ye Yuan.
Ye Yuan tidak menghindar. Mata yang tajam menangkap ujung pedang itu.
Saat pedang itu tinggal satu inci darinya, tangan kiri Ye Yuan bergerak secepat kilat.
Merebut!
Ye Yuan mengumpulkan pisau pedang Wang Hu dengan tangan kosong!
"Apa?!" Wang Hu berteriak histeris.
Telapak tangan Ye Yuan memang terluka dan berdarah, tapi tulang dan ototnya begitu padat sehingga pedang itu tidak bisa memotong lebih dalam. Qi pelindung samar-samar telapak tangan.
"Pedangmu lemah," kata Ye Yuan datar. “Sama seperti tekadmu.”
Krak!
Ye Yuan mengepalkan tangannya, dan retakan muncul di pedang Wang Hu. Dengan sentakan yang kuat, dia menarik pedang itu—dan pemiliknya—mendekat.
Tangan kanan Ye Yuan yang memegang pedang patah terayun ke atas. Bukan bagian tajamnya, melainkan bagian punggung pedang yang tebal. Dia memukulkan punggung pedang itu ke bahu Wang Hu.
KRAK!
"AAAAAAARRGGHH!"
Tulang selangka Wang Hu hancur berkeping-keping. Dia jatuh pasar-guling di tanah, menjerit seperti babi yang disembelih. Rasa sakit yang luar biasa membuatnya hampir pingsan, tapi ketakutan membuatnya tetap sadar.
Ye Yuan berdiri di atasnya, menatap ke bawah dengan mata dingin tanpa emosi. Pedang patah di tangannya meneteskan darah—darah dari tangan Ye Yuan sendiri, dan darah dari musuh-musuhnya.
Di bawah sinar bulan, bayangan Ye Yuan tampak memanjang, menutupi tubuh Wang Hu yang gemetar.
"Tolong...tolong jangan bunuh aku..." Wang Hu menangis, air mata dan ingus bercampur di wajahnya. "Aku... aku hanya disuruh Li Feng! Aku akan memberi apa saja! Pil! Batu Roh! Ambillah semuanya!"
Wang Hu dengan gemetar melepaskan kantong penyimpanan (Storage Bag) dari pinggangnya dan melemparkannya ke kaki Ye Yuan.
Ye Yuan memungut kantong itu. Dia tahu aturan sekte. Membunuh sesama murid dilarang keras, kecuali di panggung duel hidup-mati. Jika dia membunuh Wang Hu di sini, Li Feng dan ayahnya (Sang Tetua) akan punya alasan sah untuk mengeksekusi Ye Yuan.
Ye Yuan belum cukup kuat untuk melawan satu sekte.
"Kau beruntung, aturan sekte menyelamatkan nyawa anjingmu malam ini," desis Ye Yuan. Dia menendang wajah Wang Hu sekali lagi, cukup keras untuk merontokkan beberapa gigi dan membuatnya pingsan.
"Tapi ingat ini," bisik Ye Yuan ke telinga Wang Hu yang sudah tidak sadarkan diri, lebih sebagai peringatan untuk dirinya sendiri. "Hutang darah harus dibayar darah. Li Feng adalah target berikutnya."
Ye Yuan dengan cepat menggeledah dua murid lainnya, mengambil kantong penyimpanan mereka juga. Di dunia yang dimaksudkan, sumber daya adalah segalanya. Dia baru saja mendapatkan modal pertama dari musuh yang datang mengantarkan nyawa.
Dia melihat ke sekeliling. Pertarungan ini pasti akan menarik perhatian penjaga jika dia berlama-lama.
Ye Yuan menyarungkan pedang patahnya di punggung, merasakan denyutan hangat dari pisau itu seolah memuji kinerjanya. Dia berbalik dan menghilang ke dalam kegelapan lembah yang lebih dalam, menuju hutan pedang yang lebih padat di mana tidak ada seorang pun yang berani masuk.
Malam ini, nama Ye Yuan masih dianggap sampah oleh dunia.
Namun di lembah terkutuk ini, seekor naga muda baru saja meyakinkan darah pertamanya.
[Bersambung ke Bab 3]
Kamu Yuan tidak bodoh. Setelah menghajar Wang Hu dan anjing-anjingnya, dia tidak kembali ke gubuk penjaga di tepi lembah. Tempat itu terlalu terbuka.
Dia menyeret tubuhnya yang lelah namun penuh adrenalin ke bagian dalam Lembah Kuburan Senjata, ke sebuah gua alami yang tersembunyi di balik air terjun kecil yang tercemar karat. Di sini dia akan memeriksa “hadiah” yang ditinggalkan musuh-musuhnya.
Di dalam gua yang lembap, diterangi oleh jamur lumut yang berpendar redup, Ye Yuan duduk bersila. Di hadapannya terbentang tiga kantong kain kusam. Itu adalah Kantong Penyimpanan (Storage Bag) tingkat rendah milik Wang Hu dan dua kacungnya.
"Mari kita lihat seberapa kaya anjing peliharaan Li Feng," gumam Ye Yuan.
Dia membuka kantong milik dua murid kacung terlebih dahulu. Isinya mengecewakan. Hanya ada beberapa keping emas—yang tidak berguna bagi pemiliknya—dan roti kering yang sudah keras. Namun, di kantong Wang Hu, mata Ye Yuan berbinar.
"Lima Batu Roh tingkat rendah, satu botol Pil Penyembuh Luka, dan... sebuah buku teknik bela diri dasar?"
Batu Roh adalah mata uang sekaligus sumber energi bagi yang kuat. Bagi murid luar miskin seperti Ye Yuan, mendapatkan satu batu saja butuh kerja keras tiga bulan. Lima batu adalah kekayaan kecil!
Tanpa membuang waktu, Ye Yuan meminum satu butir Pil Penyembuh Luka. Rasa hangat menjalar ke seluruh tubuhnya, meredakan nyeri di otot-ototnya yang dipaksa bekerja melebihi batas tadi.
Selanjutnya, dia mengambil satu Batu Roh. Batu itu seukuran jempol, berwarna putih susu dan memancarkan pendaran lembut.
"DenganSutra Hati Pedang Asura, seberapa cepat aku bisa menyerap ini?"
Ye Yuan memejamkan mata. Dia mengaktifkan teknik pernapasannya.
Wuuush!
Jika murid biasa menyerap energi Batu Roh seperti meminum air dengan sedotan, Ye Yuan menyerapnya seperti jeda menelan lautan. Pusaran hitam di Dantian-nya berputar gila-gilaan. Batu Roh di tangannya bergetar, lalu direbut kembali, dan akhirnya hancur menjadi debu putih hanya dalam waktu lima menit!
Ye Yuan membuka matanya, terkejut. "Lima menit?! Biasanya butuh satu malam penuh untuk menyerap satu batu!"
Efisiensi teknikAsuraini mengerikan. Energi murni itu langsung konversi menjadi Qi tajam yang memperkuat fondasi Ranah Pengumpulan Qi Tingkat miliknya Empat.
Ye Yuan melirik pedang tepat di sebelahnya. Pedang itu tampak diam, tetapi Ye Yuan bisa merasakan “kepuasan” samar darinya. Pedang itu telah meminum darah Wang Hu, dan sebaliknya, ia memberikan pemahaman pertarungan yang lebih tajam kepada Ye Yuan.
"Kau lapar, kan?" Ye Yuan mengelus bilah pisau kasar itu. "Tenang saja. Satu bulan lagi adalah Ujian Sekte Luar. Akan ada banyak darahmu di sana."
Sementara itu, di Puncak Awan Putih, suasana di kediaman mewah Li Feng jauh dari kata tenang.
MALA!
Sebuah vas bunga porselen mahal hancur berkeping-keping di lantai. Li Feng berdiri dengan wajah merah padam, dadanya naik turun menahan amarah.
Di depannya, dua murid Kacung tergeletak dengan tubuh gemetar. Di saat darurat di belakang mereka, Wang Hu terbaring pingsan dengan bahu yang hancur total dan wajah yang bengkak tak berbentuk.
"Kalian bilang..." suara Li Feng rendah tapi berbahaya, "Si Sampah Ye Yuan... yang melakukan ini?"
B-benar, Tuan Muda Li! salah satu kacung menjawab terbata-bata, tidak berani mengangkat wajah. "Dia...dia seperti setan! Kekuatannya tiba-tiba melonjak! Dia mematahkan pedang besi kami dengan tangan kosong! Dia pasti sudah mencapai Tingkat Empat!"
"Tingkat Empat? Mustahil!" Li Feng menendang meja di depannya hingga terbalik. "Halaman ini batu penguji menunjukkan dia nol besar! Bagaimana mungkin sampah tanpa Dantian bisa melompat ke Tingkat Empat dalam setengah hari?! Apa kalian sedang mengarang cerita karena gagal menjalankan tugas?!"
"Sumpah demi Langit, Tuan Muda! Kami tidak berbohong! Matanya... matanya bersinar ungu! Dan dia menggunakan pedang patah berkarat yang sangat berat!"
Li Feng membayangkannya. Dia menatap Wang Hu yang sedang mendesah. Luka di bahu Wang Hu sangat mengerikan—tulang selangkanya hancur menjadi bubuk, seolah dipukul oleh palu raksasa, bukan ditebas pedang.
Hanya seseorang dengan kekuatan fisik monster yang bisa melakukan ini.
Otak licik Li Feng mulai berputar. Jika Ye Yuan benar-benar menyembunyikan kekuatannya selama ini, maka dia berbahaya. Jika sekte tahu ada murid yang bisa melompat ke Tingkat Empat dalam sehari, para Tetua pasti akan berebut mengangkatnya menjadi murid.
"Tidak... dia tidak boleh bangkit," desis Li Feng. "Ayahku sudah mengatur agar dia dibuang. Jika dia kembali dan bersinar, ayah posisiku dan aku akan terancam."
Li Feng menoleh ke arah pelayan pribadinya yang berdiri di sudut ruangan, seorang pria tua bungkuk dengan licik.
"Paman Gui, haruskah aku mengirim pembunuh bayaran malam ini?" tanya Li Feng.
Pria tua itu menggeleng pelan. "Jangan, Tuan Muda. Wang Hu sudah gagal. Jika Ye Yuan mati misterius malam ini, kualitasnya akan mengarah langsung ke Anda. Sekte melarang pembunuhan sesama murid di luar arena."
"Lalu aku harus membiarkan sampah itu hidup?!"
"Hanya sebentar," Paman Gui tersenyum, menampilkan gigi kuningnya. "Satu bulan lagi adalahUjian Hidup-Mati Tahunan. Di sana, semua murid luar wajib bertarung untuk memperebutkan posisi murid dalam. Di atas panggung itu... kematian adalah hal yang lumrah. Kecelakaan bisa terjadi."
Mata Li Feng berbinar tajam. "Benar. Di panggung resmi, aku bisa membunuh dengan dijanjikan sendiri di depan semua orang. Aku akan menghancurkan tulang-tulangnya satu per satu."
Li Feng melemparkan kantong koin ke arah dua kacung yang masih tergeletak. "Bawa Wang Hu ke tabib. Pastikan dia menutup mulut. Dan sebarkan berita ke seluruh sekte..."
Li Feng .
"Katakan bahwa Ye Yuan telah menemukan teknik iblis sesat dan menjadi gila di Lembah Kuburan Senjata. Buat semua orang membencinya sebelum dia bahkan naik ke panggung."
Kembali di gua lembap.
Ye Yuan bersin tiba-tiba. Dia menggosok hidungnya. "Pasti ada yang membicarakanku."
Dia tidak peduli. Fokusnya sekarang hanya satu: Menjadi lebih kuat.
Batu Roh sudah habis. Pil sudah ditelan. Sekarang, dia harus mengandalkan sumber daya utama di tempat ini: Ribuan pedang rusak.
Ye Yuan berdiri sambil memegang pedang patahnya. Dia berjalan keluar gua, menuju tumpukan pedang tua yang paling padat aura besinya.
"Sutra Hati Pedang Asura, Tahap Satu: Tubuh Baja," gumamnya.
Dia menusukkan pedang patahnya ke tanah.
Ye Yuan mulai berlatih. Bukan pengamatan diam, tapi latihan fisik. Dia mengayunkan pedang seberat lima puluh kilogram itu ribuan kali.
Satu.Keringat mendengarkan.
Seratus meristem.Otot menjerit.
Seribu.Telapak tangannya melepuh, pecah, lalu sembuh kembali oleh pedang energi.
Setiap kali dia mengayun, pedang patah itu menyedot sedikit "sari pati" dari pedang-pedang rongsokan di sekitarnya. Karat di pedang-pedang lain bertambah tebal, sementara pedang di tangan Ye Yuan semakin hitam pekat dan berkilau dingin.
Malam itu, Lembah Kuburan Senjata tidak tidur. Suara deru angin dari tebasan pedang Ye Yuan menjadi lagu pengantar tidur bagi para pedang hantu.
Satu bulan lagi.
Ye Yuan bersumpah, saat dia keluar dari lembah ini, dia tidak akan lagi menjadi "sampah". Dia akan menjadi mimpi buruk bagi mereka yang pernah mencapainya.
[Bersambung ke Bab 4]
Poin Ringkas Bab Ini:
Penjarahan:Ye Yuan dapat 5 Batu Roh (sumber daya penting) dan menyadari kecepatan pukulannya yang tidak wajar.
Intrik Musuh:Li Feng tidak langsung menyerang lagi, tapi merencanakan pembunuhan "legal" di turnamen sekte bulan depan.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!