Indonesia
NovelToon NovelToon

Petani Sultan: Rahasia Kendi Dimensi

Bab 1: Warisan dalam Kaleng Biskuit

Hujan di kota ini seperti tidak punya belas kasihan. Sejak sore, langit menumpahkan air bah yang bercampur dengan debu aspal dan asap knalpot, menciptakan aroma anyir yang menyesakkan.

Di perempatan lampu merah yang macet, Banyu berdiri menggigil di samping gerobak motornya. Plastik terpal biru yang menutupi dagangannya koran sore dan majalah gosip berkibar-kibar dihajar angin.

Banyu merapatkan jaket parasutnya yang sudah tipis. Bibirnya membiru. Untuk orang normal, ini cuma hujan biasa. Tapi bagi Banyu, dingin ini seperti jarum es yang menusuk langsung ke jantungnya yang cacat.

Dari balik kaca mobil mewah yang berhenti di lampu merah, Banyu melihat sekelompok anak muda seusianya sedang tertawa-tawa. Mereka memakai jaket almamater universitas ternama.

Dada Banyu terasa nyeri. Bukan cuma karena penyakit jantung bawaannya, tapi karena rasa iri yang membakar.

Tiga tahun lalu, dia adalah siswa lulusan terbaik di SMA-nya. Nilai matematikanya sempurna, otak encer. Harusnya, dia ada di dalam mobil itu, tertawa membahas skripsi atau pacar. Tapi takdir berkata lain. Vonis dokter tentang jantungnya dan stroke mendadak yang menyerang kakeknya satu-satunya keluarga yang ia miliki memaksa Banyu mengubur mimpi kuliah.

Uang tabungan habis untuk obat. Beasiswa hangus karena dia harus bekerja. Dan kini, di sinilah dia. Seorang jenius yang berakhir jadi penjual koran di pinggir jalan. Sebatang kara, sakit-sakitan, dan miskin.

"Takdir emang brengsek," umpat Banyu lirih, suaranya hilang ditelan deru hujan.

Sadar tubuhnya sudah mencapai batas, Banyu memutuskan pulang. Dia tidak mau mati konyol di pinggir jalan.

Dia mendorong motor gerobaknya memasuki gang sempit menuju kosan. Namun, baru saja melewati tikungan gelap di bawah jembatan layang, jalanan dihadang.

Joni. Preman kampung berwajah tengil itu berdiri di tengah jalan sambil merokok, ditemani dua kacungnya yang cengengesan.

"Woi, Juragan Koran. Buru-buru amat?" Joni menyeringai, asap rokok mengepul dari mulutnya.

Banyu menghela napas berat. "Minggir, Jon. Gue lagi gak enak badan."

"Alah, alesan mulu lu kayak bajaj mogok," Joni melangkah maju, mencengkeram stang motor Banyu. "Setoran minggu ini mana? Gue liat tadi ada mobil beli majalah fashion mahal. Pasti cuan kan?"

"Itu duit modal, Jon. Buat beli obat gue," suara Banyu terdengar lemah. "Gue sesak napas hari ini. Tolong lah, jangan sekarang."

"Bodo amat sama napas lu! Gue butuh rokok!" Joni yang tak sabaran langsung merogoh saku jaket Banyu secara paksa.

Banyu mencoba menepis tangan Joni. "Jangan!"

Tepisannya lemah, tapi cukup membuat Joni tersinggung.

"Ngelawan lu ya?!"

BUGH!

Satu tendangan keras mendarat telak di dada Banyu.

Bagi orang sehat, itu cuma tendangan biasa. Tapi bagi Banyu, rasanya seperti dihantam palu godam. Jantungnya yang lemah seolah berhenti berdetak sesaat.

"Ugh..." Banyu terhuyung ke belakang, lalu ambruk ke aspal basah yang penuh genangan air kotor.

Gerobak motornya oleng dan terguling. Majalah dan koran dagangannya tumpah ke jalan, langsung basah kuyup tersiram hujan dan lumpur.

Joni kaget melihat Banyu jatuh dan tidak bangun-bangun, wajahnya pucat pasi seperti mayat.

"Woi, Jon... mati dia?" bisik salah satu kacung ketakutan.

"Cih, akting doang paling," Joni meludah ke arah Banyu, tapi kakinya mundur perlahan. "Cabut! Jangan sampe ada yang liat!"

Mereka lari meninggalkan Banyu yang terkapar sendirian di tengah hujan.

Sepi. Dingin. Gelap.

Banyu mencoba menarik napas, tapi paru-parunya seperti diisi beton. Sakitnya luar biasa. Setiap tarikan napas adalah siksaan. Dia ingin berteriak minta tolong, tapi suaranya tak mau keluar.

Gue... gak boleh mati di sini...

Dengan sisa tenaga terakhir, Banyu memaksakan diri untuk bangkit. Kakinya gemetar hebat, nyaris tak sanggup menopang berat badannya sendiri.

Dia berjalan tergopoh-gopoh, langkahnya sempoyongan seperti orang mabuk. Satu tangannya mencengkeram dada yang terasa mau pecah, sementara tangan lainnya meraba dinding gang yang kasar sebagai tumpuan agar tidak ambruk lagi.

Dia sengaja memilih jalan tikus yang gelap agar tidak berpapasan dengan orang. Dia tidak mau dikasihani, dan dia tidak punya uang untuk ke rumah sakit. Dia hanya ingin pulang dan bersembunyi.

Satu meter. Dua meter. Napasnya memburu, ngik-ngik seperti peluit rusak. Air hujan menyamarkan air mata yang meleleh di pipinya.

Kos-kosan Banyu adalah rumah tingkat dua milik pasangan paruh baya, Pak Rahmat dan Bu Yati. Mereka orang baik. Pak Rahmat dan Bu Yati tinggal di lantai dua, sementara tiga kamar di lantai bawah disewakan. Banyu bersyukur suasana sepi. Bu Yati dan Pak Rahmat sepertinya sedang di lantai atas. Tidak ada yang melihat betapa menyedihkannya dia saat ini.

Sesampainya di depan pintu kamar kosnya di lantai bawah.

Banyu membuka kunci dengan tangan gemetar, masuk ke kamar, dan langsung mengunci pintu kembali.

Dia ambruk di lantai dingin. Napasnya ngik-ngik seperti peluit rusak. Pandangannya mulai kabur. Gelap mulai merayap di pinggir matanya.

Dia merogoh saku celana, mencari botol obatnya. Kosong. Dia lupa, obatnya habis tadi pagi dan uang untuk membelinya tadi ada di dompet yang entah jatuh di mana saat dia ditendang Joni.

"Kek... Banyu capek, Kek..." bisiknya parau. "Banyu nyusul ya..."

Saat dia berbaring menanti ajal, matanya tertumbuk pada kolong tempat tidur. Di sana, tertutup debu tebal, ada sebuah kaleng biskuit tua. Kaleng Khong Guan karatan.

Ingatan masa lalu menyeruak di kepalanya yang pening.

"Nyu," suara serak kakeknya terngiang. "Kakek gak punya tanah atau emas buat kamu. Tapi di kaleng ini... ada satu-satunya harta warisan leluhur kita. Kalau kamu bener-bener putus asa, kalau dunia udah gak ngasih kamu jalan... buka kaleng ini."

Dulu, Banyu tidak pernah membukanya. Dia pikir itu cuma omongan orang tua yang mulai pikun. Paling isinya cuma surat-surat tagihan lama atau batu akik palsu. Dia terlalu sibuk berjuang hidup sampai lupa keberadaan kaleng itu.

Sekarang, di ujung nyawanya, rasa penasaran itu muncul.

Banyu mengulurkan tangan, menarik kaleng berdebu itu dengan susah payah. Dia membukanya.

Krekk... Tutup kaleng yang karatan terbuka.

Isinya kosong.

Hanya ada secarik kain merah kusam yang membungkus sesuatu. Banyu membuka kain itu.

Sebuah botol.

Bukan emas batangan. Bukan berlian. Cuma sebuah botol gepeng berwarna putih susu, seukuran telapak tangan, terbuat dari bahan mirip keramik atau tulang. Ada ukiran pohon aneh di permukaannya.

Banyu tertawa. Tawa yang kering dan miris.

"Hah... Kakek..." air matanya menetes lagi. "Ini harta karunnya? Botol rongsokan? Buat apa ini, Kek? Buat nimpuk Joni?"

Rasa putus asa menghantamnya lebih keras daripada tendangan Joni tadi. Dia merasa dibodohi oleh harapan terakhirnya. Hidupnya benar-benar lelucon.

Uhuk!

Dada Banyu berkontraksi hebat. Dia batuk keras, darah segar menyembur dari mulutnya, membasahi tangan dan botol yang dipegangnya.

Darah kental itu mengalir di permukaan botol putih itu, meresap ke dalam sela-sela ukiran pohon.

Banyu sudah pasrah. Matanya mulai menutup. Kegelapan total sudah di depan mata. Dia mendekap botol itu di dadanya, semacam refleks mencari pegangan terakhir sebelum mati.

Namun, tepat saat kesadarannya hampir putus, dia merasakan sesuatu.

Hangat.

Botol di dadanya terasa hangat. Bukan hangat karena suhu tubuh, tapi hangat yang berdenyut. Seperti ada jantung kedua yang hidup di dalam botol itu.

Cahaya putih samar berpendar dari ukiran pohon yang kini berwarna merah karena darah Banyu.

Rasa sakit di dada Banyu yang tadi seperti dihimpit beton, perlahan-lahan mencair. Rasa hangat itu merambat masuk menembus kulit, menyelimuti jantungnya yang rusak, memberikan sensasi nyaman yang belum pernah dia rasakan seumur hidup.

Napas Banyu yang tadi putus-putus, perlahan menjadi panjang dan lega.

Dalam kondisi setengah sadar dan bingung, Banyu tidak kuat lagi membuka mata. Dia pingsan di lantai kamar kosnya yang dingin, memeluk erat botol warisan kakeknya yang kini bersinar dalam gelap.

Bab 2: Zat Kimia dan Bau Got

Gelap. Hening. Dingin.

Banyu membuka matanya perlahan. Punggungnya terasa ngilu karena berbaring di ubin yang keras. Aroma kamarnya yang lembab campuran bau buku tua dan tembok berjamur menusuk hidung.

"Gue... di mana? Neraka?"

Banyu mencoba menggerakkan jari-jarinya. Bisa. Dia mencubit pipinya sendiri. Sakit.

"Sialan. Belum mati ternyata," gumamnya, antara lega dan kecewa.

Dia mencoba duduk. Anehnya, rasa sakit yang luar biasa di dadanya sensasi dihimpit beton yang dia rasakan saat merangkak pulang tadi sudah hilang. Hanya tersisa rasa nyeri samar, seperti memar bekas pukulan biasa.

Matanya tertuju pada benda yang masih dia dekap erat di dadanya.

Botol gepeng warisan kakek.

Cahaya bulan yang masuk malu-malu lewat ventilasi menyinari benda itu. Banyu terbelalak. Darah segar yang tadi dia muntahkan ke permukaan botol itu sudah lenyap tak berbekas. Botol itu kini bersih, putih mengkilap seperti keramik atau tulang gading kualitas tinggi.

Banyu mendekatkan botol itu ke matanya. Di bagian bawah botol, ada ukiran huruf kuno yang entah bagaimana bisa dia baca dengan jelas dalam kegelapan:

"Kendi Penyuling Jiwa"

"Penyuling Jiwa? Serem amat namanya. Jangan-jangan ini tempat nyimpen tuyul?"

Rasa penasaran mengalahkan rasa takutnya. Banyu mengguncang botol itu. Terasa ringan, seolah kosong. Dia membuka tutupnya yang berbentuk sumbat kecil.

Banyu membalikkan botol itu di atas telapak tangan kirinya, ingin memastikan isinya.

Tiba-tiba, setetes cairan bening meluncur keluar.

Tess.

Cairan itu jatuh tepat di punggung tangannya.

"Aduh!"

Banyu terlonjak. Cairan itu terasa panas menyengat saat bersentuhan dengan kulit, lalu berubah menjadi sensasi gatal yang aneh, seolah-olah cairan itu 'hidup' dan mencoba menyusup masuk ke dalam pori-porinya.

"Sialan! Zat kimia apa itu?" Banyu panik. "Jangan-jangan air keras?!"

Dia buru-buru menyambar kotak tisu di meja, menarik selembar, dan menggosok punggung tangannya dengan kasar. Dia takut kulitnya melepuh atau bolong.

Tapi setelah dilap, kulit tangannya baik-baik saja. Malah terlihat sedikit lebih bersih dan putih dibanding kulit sekitarnya. Cairan itu sudah kering atau lebih tepatnya, terserap habis.

"Aneh..."

Banyu menatap tisu di tangannya yang kini basah oleh cairan misterius itu. Dia bingung mau buang ke mana. Matanya melirik ke sudut kamar, ke sebuah pot tanaman Jeruk Kunci (Kasturi) yang sudah layu dan hampir mati kekeringan.

"Ya udahlah, sekalian jadi pupuk. Siapa tau mati sekalian," gumam Banyu asal.

Dia melempar gumpalan tisu basah itu ke dalam pot tanaman, tepat di atas tanah yang kering kerontang.

Setelah drama kecil itu, rasa kantuk yang luar biasa berat tiba-tiba menyerang Banyu. Kelopak matanya terasa ditarik gaya gravitasi. Tubuhnya menuntut istirahat total. Banyu merangkak naik ke kasur tipisnya, dan dalam hitungan detik, dia sudah pingsan lagi dalam tidur yang lelap tanpa mimpi.

"WOI! BANYU! BUKA PINTUNYA!"

"JANGAN MATI DULU WOI! UTANG LU BELUM LUNAS!"

DUG! DUG! DUG!

Suara gedoran pintu yang brutal memaksa Banyu membuka mata. Sinar matahari pagi sudah menerobos masuk, menyilaukan mata.

Banyu mengerang, kepalanya sedikit pening. Siapa yang pagi-pagi buta bikin rusuh?

Dia menyeret langkah gontai menuju pintu dan membukanya.

Di depan pintu berdiri Herman, sahabat kentalnya sejak SD. Wajah Herman yang biasanya cengengesan kini pucat pasi, keringat sebesar biji jagung membasahi dahinya. Napasnya ngos-ngosan seperti habis lari maraton.

Begitu melihat Banyu berdiri utuh, Herman langsung lemas dan bersandar ke kusen pintu.

"Allahu Akbar... Setan alas lu, Nyu! Gue kira lu udah jadi perkedel!"

Banyu menggaruk kepalanya yang gatal. "Apaan sih lu, Man? Pagi-pagi udah ngegas."

"Ngegas gundulmu!" Herman menoyor kepala Banyu. "Gue tadi lewat gang depan, liat gerobak motor lu ngeguling di got! Barangnya tumpah semua, ancur lebur! Gue kira lu diculik wewe gombel atau dilindes truk!"

Banyu terdiam. Ingatan semalam kembali. Joni. Pukulan. Hujan.

"Oh... itu..." Banyu tersenyum kecut. "Semalem gue dicegat si Joni. Biasa, malak. Gue didorong, gerobak jatoh. Gue lari pulang."

"Si Joni Anjing itu lagi?!" Herman mengepalkan tangan, wajahnya merah padam. "Kurang ajar! Liat aja, gue samperin tongkrongannya sekarang! Mentang-mentang ada bekingan polisi, belagu amat tuh curut!"

Herman sudah siap balik badan mau labrak Joni, tapi tiba-tiba dia berhenti. Hidungnya mengendus-endus udara.

Sniff... Sniff...

Herman menutup hidungnya dengan kaos, wajahnya berubah jijik.

"Buset! Bau apaan nih? Lu nyimpen bangke tikus di kamar?"

Banyu bingung. "Bangke apaan?"

"Badan lu, bego! Bau banget sumpah! Kayak got mampet campur trasi basi!" Herman mundur dua langkah, menjauh dari Banyu. "Lu gak mandi setahun apa gimana?!"

Banyu mengendus ketiaknya sendiri.

Huek!

Herman benar. Bau busuk yang tajam dan menyengat menguar dari tubuhnya. Banyu melihat lengannya. Ada lapisan lendir hitam tipis yang menutupi kulitnya, seperti daki yang sudah menumpuk sepuluh tahun dan baru keluar sekarang.

"Kok gue jadi gini?" Banyu kaget.

"Mandi sana! Gila lu, polusi udara!" teriak Herman sambil mengibas-ngibaskan tangan. "Gue tunggu di warkop depan aja deh. Bisa pingsan gue di sini."

Herman kabur, tak kuat menahan aroma "terapi detoks" alami dari tubuh Banyu.

Banyu malu setengah mati. Dia menyambar handuk dan sabun batangan, lalu berlari keluar kamar menuju kamar mandi umum di ujung lorong kosan.

Sialnya, ini jam sibuk pagi hari. Di depan kamar mandi sudah ada antrean.

Ada Rudi, tetangga kamar sebelah yang kerja jadi staf admin asuransi. Dia berdiri dengan kemeja licin dan dasi miring, memegang sikat gigi dengan gaya sok penting.

Begitu Banyu mendekat, Rudi langsung menutup hidung dengan dramatis.

"Ya ampun! Bau apaan ini?!" Rudi melirik Banyu dengan tatapan jijik. "Heh, Banyu! Lu sadar diri dong. Lu kan pengangguran, gak punya kerjaan. Mandinya ntar aja siangan! Bikin orang mau muntah aja pagi-pagi."

Banyu menunduk, sadar diri memang dia bau. "Maaf, Mas Rudi. Saya kebelet..."

"Alesan! Minggir lu, jangan deket-deket!" usir Rudi kasar.

"Mas Rudi, jangan kasar gitu dong."

"Pagi, Mas Banyu," sapa Laras ramah sesaat setelah keluar dari kamar mandi.

"Pa-pagi, Laras..." jawab Banyu gugup, berusaha menutupi badannya yang lengket dengan handuk.

"Laras, jangan deket-deket dia! Ini sumber penyakit!" seru Rudi sambil mengibas-ngibaskan tangan di depan hidung, mencoba cari muka. "Biar Mas aja yang marahin dia."

Laras malah tersenyum tipis pada Banyu. "Mas Banyu mau mandi ya? Duluan aja gapapa kok, Mas. iya kan Mas Rudi?"

"Eh, serius?" Banyu kaget. "Tapi Mas Rudi udah antre..."

"Mas Rudi kan cowok, pasti mandinya cepet. Mas Banyu keliatannya lebih urgent," potong Laras halus tapi menohok. "Masuk aja, Mas."

Rudi melongo, sikat giginya nyaris jatuh. "Laras! Kok dia diduluin?! Aku kan mau ngantor! Telat nih! Dia mah pengangguran, mandinya bisa taun depan!"

Laras menatap Rudi. "Mas Rudi, sesama tetangga harus saling ngerti. Mas Banyu lagi sakit perut kayaknya. Udah lah, Mas."

Mendapat "lampu hijau" dari bidadari kos, Banyu tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dia melempar senyum terima kasih ke Laras lalu menerobos masuk kamar mandi.

Blam! Klekk!

Pintu dikunci.

"WOI! BANYU! JANGAN LAMA-LAMA LU! GUE TELAT NIH!" teriak Rudi dari luar sambil menggedor pintu.

Di dalam, Banyu masa bodoh. Dia menyalakan kran air sekencang mungkin untuk meredam suara berisik Rudi.

Tubuhnya benar-benar kotor. Lapisan lendir hitam itu lengket seperti aspal cair. Banyu mengguyur tubuhnya dengan air dingin, lalu menggosok kulitnya dengan sabun colek ekonomi yang keras. Busa sabun langsung berubah warna menjadi abu-abu pekat.

Satu menit berlalu... Lima menit berlalu...

DUG! DUG! DUG!

"BANYUUU! LU TIDUR DI DALEM?! BUKA GAK?!" Rudi di luar sudah histeris. "GUE UDAH TELAT ABSEN FINGERPRINT, SETAN!!"

Banyu menyeringai tipis sambil terus menggosok punggungnya. Rasain lu, siapa suruh ngehina gue tadi, batinnya. Dia sengaja memperlama bilasannya.

Sepuluh menit kemudian, terdengar suara sumpah serapah terakhir dari luar. "ARGHH! AWAS LU YA! GUE MANDI DI KANTOR AJA! DASAR PENGANGGURAN MENYUSAHKAN!!"

Terdengar langkah kaki menghentak keras menjauh, diikuti suara motor yang digas kasar. Rudi akhirnya menyerah dan kabur.

Banyu tertawa pelan. Dia melanjutkan acara bersih-bersihnya dengan tenang. Total hampir setengah jam dia bertempur membersihkan daki-daki aneh itu sampai kulitnya benar-benar kesat.

Setelah bersih dan handukan, dia merasa... beda.

Tubuhnya terasa sangat ringan, seolah beban 10 kilo di pundaknya diangkat. Kulitnya terasa segar dan bisa bernapas. Rasa pegal bekas tidur di lantai hilang total.

Banyu keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di pinggang. Lorong sudah sepi. Rudi dan Laras sudah berangkat kerja.

Banyu berjalan cepat kembali ke kamarnya. Dia merasa penuh energi.

Sesampainya di kamar, dia langsung memakai kaos oblong dan celana pendek. Gerakannya gesit. Biasanya, aktivitas mandi dan pakai baju saja sudah bikin dia sedikit terengah-engah.

Dia membereskan kasurnya, melipat selimut, lalu memungut baju kotor di lantai. Semua dia lakukan dengan tempo cepat, tanpa sadar.

Setelah semua rapi, Banyu berdiri di tengah kamar. Dia diam.

Ada yang aneh.

Hening.

Tidak ada suara ngik-ngik dari dadanya. Tidak ada detak jantung yang memburu menyakitkan. Tidak ada rasa sesak yang biasanya muncul setiap kali dia habis bergerak.

Banyu meletakkan tangannya di dada kiri.

Dug... dug... dug...

Detaknya kuat. Tenang. Stabil. Seperti mesin motor baru yang stasioner.

Biasanya, setelah lari dari kamar mandi dan beres-beres kamar, dia harus duduk dulu 5 menit mengatur napas. Tapi sekarang? Dia merasa bisa lari keliling lapangan bola.

"Kok..."

Banyu menatap pantulan dirinya di cermin retak di dinding. Wajahnya tidak lagi pucat kebiruan. Ada rona merah segar di pipinya.

"Kok... gue gak ngos-ngosan?"

Banyu memegang dadanya lebih erat, matanya terbelalak tak percaya.

Bab 3: Cairan Ajaib

Banyu masih tak percaya.

Dia mencoba berlari kecil mengelilingi kamarnya yang sempit. Putaran pertama, aman. Putaran kedua, masih aman. Putaran ketiga, dia berhenti, menunggu rasa sakit di dada yang biasanya menyengat seperti ditusuk jarum.

Nihil. Hanya ada sedikit rasa sesak wajar selayaknya orang yang baru olahraga.

"Gila..." Banyu menatap cermin, meraba dadanya. "Jantung gue... beneran sembuh?"

Euforia meledak di kepalanya. Dia menyambar tali skipping di sudut ruangan, melompat-lompat antusias, lalu lanjut push-up sepuluh kali. Baru setelah itu dia merasa sedikit ngos-ngosan. Tapi ini ngos-ngosan sehat, bukan ngos-ngosan mau mati.

Beban berat yang menindih hidupnya selama 20 tahun lebih yang membuatnya gagal kuliah, susah cari kerja, dan dipandang sebelah mata tiba-tiba lenyap setengahnya. Rasanya ingin teriak, tapi dia sadar dinding kosan ini tipis. Bisa-bisa dilempar sandal sama Rudi tetangga sebelah.

Setelah tenang, otak Banyu mulai bekerja.

"Apa sebabnya? Gak mungkin gue sembuh gara-gara makan tumis kangkung Bu Yati kemarin."

Dia merunut kejadian beberapa hari terakhir. Kehujanan, dipukuli Joni, kecebur sungai, nemu botol aneh, lalu cairan dari botol itu meresap ke tangan...

"Cairan itu!"

Banyu menyambar Kendi Penyuling Jiwa di atas kasur. Dia yakin seyakin-yakinnya, cairan bening yang kita sebut saja Cairan Ajaib itulah penyebab keajaiban ini.

Dengan tangan gemetar, dia membuka tutup kendi, berharap ada sisa tetesan. Dia membalik botol, mengguncangnya pelan.

Kering. Tak ada setetes pun yang keluar.

"Yah... jangan bilang cuma sekali pake doang?" Banyu lemas. Kalau cuma sekali pakai dan belum sembuh total, tamatlah riwayatnya. Kesehatan adalah aset nomor satu. Tanpa kesehatan, mimpi jadi orang kaya cuma omong kosong.

---

Tiga hari berlalu.

Banyu absen jualan koran. Dia mengurung diri di kamar, seperti pertapa menunggu wahyu. Tiap beberapa jam sekali, dia mengecek kendi itu, berharap ada keajaiban kedua.

Dan kesabaran itu berbuah manis.

Pada petang hari ketiga, saat Banyu iseng membalik botol itu lagi, sebutir cairan bening perlahan merembes keluar dari mulut botol. Berkilau seperti berlian cair di bawah lampu kamar.

"Alhamdulillah!"

Kali ini Banyu tak mau rugi. Dia tak membiarkannya jatuh ke tangan atau tisu. Dengan gerakan cepat, dia menengadahkan kepala, membuka mulut, dan membiarkan tetesan Cairan Ajaib itu jatuh tepat di lidahnya.

Nyesss...

Rasanya hangat, sedikit manis seperti air kelapa muda, lalu berubah menjadi gelombang panas yang menjalar cepat ke seluruh tubuh. Dari tenggorokan, ke lambung, lalu menyebar ke ujung jari kaki dan tangan. Nyaman sekali.

Mata Banyu memberat. Kantuk yang luar biasa menyerang. Dia ambruk di kasur dan langsung tak sadarkan diri.

---

Banyu terbangun keesokan paginya dengan sensasi yang familiar.

"Ugh, bau apaan nih?"

Dia mengendus badannya sendiri. Bau busuk yang sama seperti tiga hari lalu kembali lagi. Kulitnya lengket oleh lapisan minyak hitam racun-racun tubuh yang dipaksa keluar.

Tapi kali ini Banyu malah tertawa lebar. Dia tak peduli badannya bau got. Dia langsung lompat dari kasur, melakukan burpees, push-up, sit-up, bahkan plank.

Satu jam berlalu. Keringat bercucuran deras, tapi napasnya tetap stabil. Jantungnya berdetak kuat, memompa darah dengan efisiensi mesin baru.

Banyu terduduk di lantai, napasnya teratur. Tiba-tiba, matanya panas. Air mata menetes tanpa bisa ditahan.

Ini pertama kalinya dia menangis sejak kakeknya meninggal lima tahun lalu. Dulu dia menangis karena putus asa, sekarang dia menangis karena lega.

"Kek, Banyu sembuh, Kek... Banyu bisa hidup normal..." bisiknya pada udara kosong.

Setelah puas meluapkan emosi, Banyu mandi bersih-bersih. Kini, dengan tubuh sehat, otak bisnisnya mulai jalan.

"Gue butuh duit. Banyak duit. Buat bales dendam sama kemiskinan, buat bikin orang-orang yang ngeremehin gue nelen ludah mereka sendiri."

Tapi gimana caranya? Jual Cairan Ajaib?

"Gila aja," Banyu menggeleng cepat. "Kalau ketauan gue punya obat ajaib, bisa-bisa gue diculik mafia medis atau jadi bahan percobaan lab. Ini rahasia negara."

Dia butuh cara memutar 'modal' ini tanpa ketahuan.

Mata Banyu menyapu seisi kamar, mencari inspirasi. Tatapannya berhenti di meja sudut. Di sana ada pot tanaman Jeruk Kasturi yang tadinya sekarat karena jarang disiram.

Tiga hari lalu, Banyu membuang tisu bekas lap cairan pertama ke pot itu.

Sekarang? Tanaman itu berubah total. Daunnya hijau pekat mengkilap seperti dipoles minyak. Bunganya mekar lebat, putih bersih, dan aromanya wangi semerbak memenuhi kamar. Bahkan sudah ada belasan buah jeruk muda yang montok-montok bergelantungan.

"Gila! Tiga hari doang udah kayak gini?" Banyu melongo. "Kalau tisu bekas aja efeknya sedahsyat ini, gimana kalau disiram langsung?"

Ide brilian langsung menyala di kepalanya: Pertanian Organik Super.

Dia akan menanam sayur dan buah pakai air campuran Cairan Ajaib. Hasilnya pasti premium, panen cepat, dan rasanya enak. Jual mahal pun orang pasti berebut. Aman, legal, dan cuan!

---

Banyu bergegas mandi, pakai baju rapi, lalu turun ke bawah mencari pemilik kos.

Dia menemukan Pak Rahmat dan Bu Yati sedang santai ngeteh di dapur.

"Eh, Banyu. Udah sembuh sakitnya?" tanya Bu Yati perhatian. Memang beberapa hari ini Banyu bilang sedang 'demam' sebagai alasan mengurung diri.

"Udah sembuh total, Bu. Berkat doa Ibu juga," jawab Banyu sambil nyengir, lalu beralih ke Pak Rahmat. "Pak Rahmat, lagi santai kan? Saya mau ngomongin bisnis dikit nih."

"Bisnis apaan? Mau jual koran lagi?" tanya Pak Rahmat sambil menyeruput teh tubruknya.

"Bukan, Pak. Gini... Lahan kosong di belakang kosan itu kan nganggur tuh, isinya cuma ilalang sama nyamuk. Boleh gak saya sewa buat nanem sayur?"

Pak Rahmat mengernyit. "Buat apa? Emang kamu bisa nyangkul?"

Banyu sudah menyiapkan alibi. "Jadi gini Pak, saya punya temen anak IPB (Institut Pertanian Bogor), dia lagi ngembangin bibit sayur varietas baru. Katanya cepet panen dan mahal harganya. Saya mau coba tanem, siapa tau hoki. Daripada saya nganggur kan?"

Pak Rahmat, yang dasarnya orang desa, langsung setuju kalau soal bercocok tanam. "Oalah, bagus itu! Anak muda emang harus kreatif. Ya udah pake aja, lahannya emang gak kepake kok. Gak usah bayar sewa lah, bersihin aja rumputnya."

"Waduh, jangan gitu dong, Pak," tolak Banyu halus. Dia punya prinsip: bisnis adalah bisnis. Kalau gratisan, nanti dia gak enak hati kalau sukses besar. "Saya tetep mau bayar. Itung-itung profesional."

"Halah, kamu ini kayak sama siapa aja," Pak Rahmat ngotot.

"Gini aja deh, Pak. Saya sewa lima puluh ribu sebulan. Tapi bayarnya ntar pas panen pertama. Gimana? Deal?" tawar Banyu.

Pak Rahmat tertawa. "Ya wis, sak karepmu (terserah kamu). Deal."

Bu Yati menimpali dengan wajah cemas, "Tapi Ny, kamu yakin kuat nyangkul? Jantung kamu kan..."

Banyu menepuk dadanya mantap. "Tenang aja, Bu. Dokter bilang olahraga ringan di kebun malah bagus buat terapi jantung. Itung-itung gym gratis."

Bu Yati akhirnya tersenyum lega. "Ya sudah kalau gitu. Awas jangan kecapekan ya."

Banyu tersenyum lebar. Izin lahan sudah di tangan. Modal bibit murah. Senjata rahasia siap.

"Tunggu tanggal mainnya," batin Banyu. "Bentar lagi Juragan Banyu bakal lahir!"

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!