Pagi hari menyambut, membangunkan sosok gadis cantik dengan segala kesederhanaannya itu.
Baginya pukul empat pagi bukan sekadar waktu untuk bangun, melainkan waktu di mana ia merasa paling "hidup".
Sebagai seorang ustadzah muda yang tumbuh besar di bawah naungan Pesantren Al-Anwar.
Dia adalah Zunaira Prameswari, gadis berusia 24 tahun yang sehari-hari mengajar di pesantren Al-Anwar.
Dia telah lama berada di tempat ini dan semua yang ada di ini ia anggap sebagai bagian dari napasnya.
Zunaira berhenti sejenak menyeka keringat tipis di dahi dengan ujung khimar instannya yang berwarna abu-abu pudar.
Ia menatap langit fajar yang perlahan merekah di ufuk timur, menciptakan gradasi warna jingga dan ungu yang magis.
Di saat-saat seperti ini, kerinduan pada sosok ayah dan ibu yang tak pernah benar-benar ia ingat wajahnya sering kali datang mengetuk pintu hati.
Namun Zunaira bukan tipe wanita yang senang berkubang dalam kesedihan.
Baginya menjadi yatim piatu bukanlah label kemalangan, melainkan cara Allah memaksanya untuk hanya bersandar pada-Nya.
"Ustadzah Zu, kok sudah menyapu sendiri? Biar bagian piket saja yang teruskan." suara lembut itu datang dari arah belakang.
Zunaira menoleh dan mendapati Ummi Salamah, istri dari Kyai pengasuh pesantren berdiri dengan senyum keibuan yang tak pernah luntur.
Zunaira segera meletakkan sapunya dan mendekat untuk mencium tangan wanita yang sudah dianggapnya sebagai pengganti ibu kandung itu.
"Hanya mencari keringat sedikit Ummi, lagipula udara subuh ini sayang kalau dilewatkan hanya dengan duduk diam." jawab Zunaira santun.
Ummi Salamah mengusap bahu Zunaira lembut.
"Zunaira, hari ini kamu tidak perlu jadwal mengajar di kelas pagi, ummi minta tolong bantu di dapur utama karena ada tamu-tamu jauh yang akan datang dan... kamu sudah dengar kabarnya kan?" ucap ummi Salamah.
Zunaira tertegun, ia tahu ke mana arah pembicaraan ini.
"Tentang kepulangan Gus Azlan, Ummi?" tebak Zunaira.
Ummi Salamah mengangguk antusias.
"Putra kedua Ummi itu sudah selesai di Kairo, katanya sore ini sampai di bandara. Sudah hampir tujuh tahun dia di sana Zunaira dan Ummi hampir lupa bagaimana detail wajahnya jika tidak melihat foto-fotonya." ujar Ummi Salamah dengan senang.
Gus Azlan sendiri anak kedua dari tiga bersaudara, kakak pertamanya bernama Gus Haidar yang sudah menikah dan memiliki seorang putri kecil, dan sang adik yang begitu ceria bernama Arifa yang baru berusia 17 tahun.
Ada sesuatu yang berdesir di dada Zunaira mendengar nama itu yaitu Azlan.
Nama yang selama tujuh tahun ini hanya ia dengar lewat cerita-cerita kebanggaan para santri atau sesekali dalam doa-doa yang dipimpin Kyai di masjid.
Dulu sebelum berangkat ke Mesir Azlan adalah pemuda yang sangat tertutup berbeda dengan kakak sulungnya yang ekspresif atau adiknya yang bungsu yang ceria.
Azlan memiliki aura ketenangan yang membuat siapapun segan, termasuk Zunaira yang saat itu masih menjadi santri remaja.
"Nggih Ummi, Zunaira nanti segera ke dapur setelah merapikan mukena di kamar." jawab Zunaira sesingkat mungkin, mencoba menyembunyikan getaran di suaranya.
Langkah kaki Zunaira membawa dirinya kembali ke kamar kecilnya di pojok asrama ustadzah.
Kamar itu sederhana hanya ada sebuah kasur tipis, lemari kayu kecil dan rak buku yang penuh dengan kitab-kitab kuning.
Di atas meja kecilnya, tergeletak sebuah pembatas buku dari daun kering yang ia buat sendiri.
Di sana tertulis sebuah kalimat pendek.
“Cinta yang paling rahasia adalah cinta yang dibicarakan hanya antara hamba dan Tuhannya.”
Zunaira duduk di tepi kasur, ia teringat kejadian sepuluh tahun lalu saat ia baru berusia belasan tahun, diaman pertemuan nya dengan Gus Azlan membuat hatinya tergerak.
Suatu hari di perpustakaan pesantren yang sepi ia kesulitan mengambil kitab di rak yang tinggi.
Tiba-tiba sebuah tangan yang kokoh mengambilkan kitab itu dan meletakkannya di depannya tanpa sepatah kata pun.
Pemilik tangan itu adalah Azlan, ia hanya menunduk memberikan kitab tersebut lalu berlalu begitu saja.
Sejak saat itu Zunaira menanam sebuah rasa yang ia tahu diri tak boleh tumbuh liar.
Ia sadar siapa dirinya tapi seorang anak yang besar dari zakat dan sedekah, sementara Gus Azlan adalah pangeran pesantren dengan silsilah keluarga yang mulia.
Ia menggelengkan kepala, mencoba mengusir memori itu.
"Istighfar Zunaira, fokus pada pengabdian." bisiknya pada diri sendiri.
Di dapur utama suasana sudah sangat sibuk, aroma bumbu opor dan sambal goreng ati menyeruak di udara.
Zunaira segera bergabung mengiris bawang dengan kecepatan yang terlatih.
Teman-temannya sesama ustadzah sedang sibuk bergosip tentang betapa tampannya Gus Azlan sekarang berdasarkan foto terbaru yang beredar di grup pesan singkat pesantren.
"Katanya Gus Azlan sekarang lebih berisi, jenggotnya rapi persis orang Arab asli." celetuk Ustadzah Halimah sambil tertawa kecil.
"Kira-kira siapa ya yang akan jadi istrinya nanti? Pasti harus ning atau minimal anak kyai besar."
Zunaira hanya tersenyum tipis mendengarkan itu, dadanya terasa sedikit sesak tapi ia terus fokus pada bawang merah di depannya.
Ia merasa tidak berhak ikut dalam obrolan itu, baginya Azlan adalah matahari yang terlalu tinggi untuk disentuh oleh embun pagi seperti dirinya.
"Zunaira, kamu kok diam saja? Kamu kan dulu seangkatan sekolah di madrasah bawah sebelum Gus Azlan berangkat ke Mesir. Masih ingat wajahnya?" tanya ustadzah Halimah tiba-tiba.
Zunaira menghentikan irisan pisaunya sejenak.
"Hanya ingat sedikit Mbak, Gus Azlan kan orangnya pendiam sekali."
"Wah kalau dia pulang nanti pesantren ini bakal makin ramai, beliau kabarnya akan memegang kendali kurikulum bahasa Arab." lanjut Halimah tanpa sadar bahwa Zunaira sedang berjuang mengendalikan debar jantungnya sendiri.
Hari itu berlalu dengan penuh kesibukan, Zunaira sengaja menyibukkan diri agar pikirannya tidak melantur.
Ia memimpin kelas nahwu-sharaf sore itu dengan suara yang setenang mungkin, meskipun pikirannya sesekali melayang ke arah gerbang pesantren.
Setiap kali ada bunyi mesin mobil yang mendekat jantungnya seolah berhenti berdetak sejenak.
Mengapa ia merasa secemas ini? Padahal ia belum tentu bertemu langsung dengan Azlan.
Lagipula ia hanyalah salah satu dari puluhan pengajar di sini.
Malam harinya setelah shalat Isya berjamaah, seluruh pesantren tampak bersinar lebih terang dari biasanya.
Lampu-lampu hias dipasang di sepanjang jalan menuju rumah utama Kyai.
Zunaira memilih untuk tetap berada di teras asrama putri duduk di kursi kayu tua sambil memegang tasbihnya.
Ia menatap ke arah rumah utama yang berjarak sekitar dua ratus meter dari sana.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
...🥕🥕🥕🌟🌟🌟🌟🌟🥕🥕🥕...
...GUYS KARENA INI CERITA ISLAMI PERTAMA AUTHOR JADI KALAU ADA SALAH KATA ATAU PENGETAHUAN YANG KURANG PAS BOLEH KOMEN YA DI PART NYA SUPAYA BISA SALING BELAJAR BERSAMA...
...🥕🥕🥕🌟🌟🌟🌟🌟🥕🥕🥕...
...****************...
...Yeyyy cerita baru nihhh jangan lupa baca yaaaaa!!!...
...JANGAN lupa buat follow akun author biar gak ketinggalan cerita2 lainnya....
...Jangan lupa buat VOTE dan ULASAN BINTANG nya ya readers biar tambah semangat buat update ceritanya....
...Like dan komen juga yaaaaa...
...Follow juga IG author di @Lala_Syalala13 karena di sana ada rekomendasi cerita author lainnya yang gak author upload di sini....
Beberapa mobil hitam besar terlihat memasuki area parkir khusus keluarga.
Para santri putra bersorak rendah dan penuh suka cita.
"Gus Azlan sudah datang! Gus Azlan sudah sampai!" seru para santri.
Zunaira berdiri perlahan, dari kejauhan ia melihat sosok pria turun dari mobil.
Pria itu memakai jubah cokelat muda dengan syal melilit lehernya.
Gerakannya sangat tenang saat ia mencium tangan sang Ayah, Kyai besar lalu memeluk Ibunya.
"Selamat datang kembali nak." sambut kyai Hamid.
"Anak Ummi." seru Ummi Salamah memeluk erat sang anak.
"Selamat datang kembali Lan." sambut sang Abang yaitu Gus Haidar.
"Abanggggg!" teriak seorang gadis remaja memeluk erat tubuh abangnya yang begitu dia rindukan.
"Aduh, adik Abang udah besar aja." ucap Gus Azlan.
Meski dari jarak yang cukup jauh tapi Zunaira bisa merasakan aura kewibawaan yang terpancar.
Azlan telah kembali, bukan sebagai remaja pendiam yang dulu melainkan sebagai seorang alim yang nampak sangat matang.
Zunaira segera menundukkan pandangannya, ia membalikkan badan kembali masuk ke dalam kamarnya yang sunyi.
Ia menutup pintu rapat-rapat, seolah ingin mengunci perasaannya di sana.
"Selamat datang kembali Gus." bisiknya dalam gelap hanya didengar oleh dinding-dinding kamar.
"Semoga ilmu di Mesir membawa berkah bagi pesantren ini dan semoga... hati ini tetap tahu di mana tempatnya berdiri." lanjutnya.
Zunaira tidak tahu bahwa di rumah utama saat sedang memeluk Ummi-nya, Azlan sempat mengedarkan pandangan ke arah kompleks asrama putri.
Ia mencari sesuatu atau seseorang yang selama tujuh tahun di negeri orang yang selalu menjadi alasan baginya untuk segera menyelesaikan studi dan pulang.
Malam itu di bawah langit pesantren yang sama dua orang sedang menjaga rahasia masing-masing.
Satunya dalam kepasrahan seorang yatim piatu dan satunya dalam keteguhan seorang putra kyai.
Babak baru kehidupan Zunaira baru saja dimulai dan ia belum menyadari bahwa takdir memiliki cara yang unik untuk menyatukan dua titik yang selama ini dianggap mustahil oleh logika manusia.
Zunaira mengambil mushafnya membukanya pada surah Ar-Rahman.
Suaranya yang merdu mulai mengalun memecah kesunyian kamar ia ingin menenangkan jiwanya yang mendadak gaduh.
Di setiap ayat yang ia baca, ada harapan agar Allah senantiasa menjaga kesucian niatnya.
Pengabdian ini adalah segalanya bagi Zunaira dan ia tidak ingin perasaan liar itu merusak keberkahan yang telah ia bangun selama bertahun-tahun.
Di luar angin malam berhembus membawa aroma tanah basah seolah ikut mengaminkan doa-doa yang tersembunyi di balik tabir kepasrahan seorang Zunaira.
Perpustakaan pusat Pesantren Al-Anwar adalah sebuah bangunan tua dengan arsitektur perpaduan Jawa dan Timur Tengah.
Di dalamnya ribuan kitab tersusun rapi dalam rak-rak kayu jati yang aromanya selalu khas yaitu campuran antara bau kertas lama, kayu kering, dan sedikit sisa wangi kapur barus.
Bagi Zunaira tempat ini adalah pelarian terbaik ketika dunia di luar sana terasa terlalu bising dengan gosip kepulangan Gus Azlan yang tak kunjung reda.
...****************...
Pagi itu sinar matahari menerobos masuk melalui celah-celah jendela tinggi, yang menandakan pergantian hari berikutnya yang akan selalu hadir dengan cerita barunya.
Zunaira melangkah pelan di antara lorong-lorong rak kitab, ia sedang mencari kitab Fathul Mu'in jilid kedua untuk bahan referensi kelas fiqih yang akan ia ampu nanti sore.
Jarinya menelusuri punggung kitab satu per satu, bibirnya bergumam lirih membaca judul-judul yang tertulis dalam tulisan Arab gundul.
"Bukan yang ini... ah, sepertinya terselip di rak atas." gumamnya pada diri sendiri.
Zunaira menjinjitkan kakinya, tubuhnya yang mungil selalu menjadi kendala saat harus berhadapan dengan rak-rak kitab yang menjulang tinggi.
Ia mencoba meraih ujung kitab bersampul hijau tua itu namun jemarinya hanya mampu menyentuh tepiannya saja.
Saat ia hampir menyerah dan berniat mencari kursi kecil untuk pijakan sebuah bayangan panjang tiba-tiba menaungi tubuhnya dari belakang.
Sebuah tangan dengan jemari yang panjang dan bersih terulur melewati bahunya.
Tanpa menyentuh Zunaira sedikit pun tangan itu dengan mudah mengambil kitab yang tadi diincar Zunaira.
Aroma wangi oud yang lembut namun maskulin seketika memenuhi indra penciuman Zunaira yaitu sebuah aroma yang asing namun entah mengapa terasa sangat akrab di ingatannya.
Zunaira membeku, jantungnya berdegup kencang hingga ia takut suaranya bisa terdengar oleh orang di belakangnya.
Ia segera membalikkan badan dan refleks menundukkan pandangan sedalam-dalamnya.
"Ini yang kamu cari Ustadzah Zunaira?" seru orang tersebut.
Suara itu. Berat, bariton, dan memiliki intonasi yang sangat tenang.
Zunaira merasa lututnya sedikit lemas, ia tidak perlu mendongak untuk tahu siapa pemilik suara itu.
Pria itu menyebut namanya dengan begitu jelas, seolah nama "Zunaira" adalah sebuah kata yang sudah lama tersimpan di ujung lidahnya.
"Nggih... Matur nuwun Gus." jawab Zunaira dengan suara yang hampir menyerupai bisikan.
Tangannya gemetar saat menerima kitab yang disodorkan pria itu.
Pria itu adalah Gus Azlan, ia berdiri dengan jarak sekitar satu meter, jarak yang sangat sopan bagi seorang putra kyai di hadapan seorang ustadzah.
Azlan mengenakan koko putih bersih dengan sarung tenun berwarna gelap, di bahunya tersampir sebuah sorban yang tidak dipakai melainkan hanya diletakkan begitu saja.
Wajahnya yang dulu sering Zunaira lihat saat masih remaja kini telah bertransformasi menjadi wajah seorang pria dewasa yang penuh wibawa dengan gurat kecerdasan yang terpancar dari dahi dan matanya.
"Sudah lama sekali." kata Azlan kemudian.
Ia tidak segera pergi melainkan berdiri tegak sambil memegang sebuah kitab kecil di tangan kirinya.
"Terakhir saya melihatmu, kamu masih sering duduk di pojok masjid sambil menghafal Alfiyah, ternyata sekarang sudah menjadi ustadzah senior di sini." seru Gus Azlan.
Zunaira memberanikan diri sedikit mendongak hanya sampai sebatas dada Azlan lalu kembali menunduk.
"Gus masih ingat?" tanya Zunaira terkejut karena itu sudah lama sekali.
Azlan terdiam sejenak, ada jeda yang terasa begitu panjang di antara mereka.
"Ingatan saya untuk hal-hal yang berharga biasanya cukup kuat Zunaira."jawab Gus Azlan begitu ambigu sekali.
Kalimat itu sederhana namun bagi Zunaira, itu seperti ledakan kecil di dalam dadanya.
Hal-hal yang berharga? Apakah maksudnya adalah hafalan kitabnya, ataukah ada makna lain? Zunaira tidak berani berspekulasi.
Ia segera memeluk kitab hijau di dadanya seolah itu adalah tameng pelindung.
"Matur nuwun atas bantuannya Gus, saya... saya harus segera kembali ke asrama untuk persiapan kelas, assalamualaikum." pamit Zunaira terburu-buru.
"Zunaira." panggil Azlan lagi sebelum wanita itu melangkah jauh.
Zunaira menghentikan langkahnya namun tetap membelakangi Azlan.
"Abah sering bercerita tentang caramu mengajar, beliau sangat mengapresiasi pengabdianmu dan saya harap kita bisa bekerja sama dengan baik untuk memajukan kurikulum pesantren ini ke depannya."
Zunaira hanya mampu mengangguk kecil, lalu hampir berlari meninggalkan perpustakaan.
Ia terus berjalan dengan langkah cepat menyusuri koridor yang menghubungkan perpustakaan dengan area asrama putri.
Angin pagi berhembus kencang menerpa wajahnya yang terasa panas.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
...JANGAN LUPA BERI DUKUNGAN ⬇️⬇️⬇️...
...ULASAN DAN BINTANG LIMA NYA🌟...
...FAVORITKAN CERITA INI ❤️...
...VOTE 💌...
...LIKE 👍🏻...
...KOMENTAR 🗣️...
...HADIAHNYA 🎁🌹☕...
...FOLLOW IG @LALA_SYALALA13...
...SUBSCRIBE YT @NOVELLALAAA...
Saat sampai di kamarnya, ia segera menutup pintu dan bersandar di baliknya, ia menghirup oksigen dalam-dalam mencoba menetralkan ritme jantungnya yang berantakan.
"Ya Allah... jaga hati ini." bisiknya pelan.
Di sisi lain, di dalam perpustakaan yang kini kembali sepi Azlan masih berdiri di tempat yang sama.
Ia menatap ke arah pintu keluar di mana bayangan Zunaira baru saja menghilang.
Ia perlahan menghela napas panjang, sebuah senyum tipis yang sangat samar muncul di wajahnya yang biasanya kaku.
Ia membuka kitab yang ia pegang namun pikirannya tidak sedang berada pada teks-teks klasik tersebut.
Pikiran Azlan melayang kembali ke masa tujuh tahun lalu.
Saat ia memutuskan berangkat ke Kairo, ada satu alasan tersembunyi mengapa ia belajar dengan begitu giat hingga jarang sekali pulang ke Indonesia.
Ia ingin memantaskan diri, ia tahu statusnya sebagai putra kedua akan memberikan tanggung jawab besar dan ia tidak ingin menjadi sekadar "anak Kyai" tanpa isi.
Namun di balik itu ada memori tentang seorang santriwati yatim piatu yang selalu tekun belajar di bawah lampu neon masjid yang redup.
Sosok yang diam-diam selalu ia perhatikan dari balik jendela lantai dua kamarnya.
Kini, setelah tujuh tahun sosok itu tumbuh menjadi wanita yang luar biasa anggun dalam kesederhanaannya.
Tatapan matanya yang selalu tertunduk justru memancarkan kekuatan karakter yang luar biasa.
Siang harinya suasana pesantren terasa lebih sibuk dari biasanya, kabar bahwa Gus Azlan mulai turun tangan mengurus manajemen pesantren membuat para pengurus bergerak lebih cepat.
Zunaira mencoba tetap fokus pada tumpukan lembar jawaban ujian santriwati di hadapannya, namun fokusnya pecah saat seorang santri utusan mengetuk pintu kantor ustadzah.
"Ustadzah Zunaira dipanggil Kyai ke kediaman sekarang nggih." lapor santri tersebut.
Zunaira merapikan jilbabnya sejenak sebelum berangkat, perasaan waswas mulai muncul.
Biasanya Kyai memanggilnya jika ada urusan penting mengenai santri yang bermasalah atau urusan administrasi besar.
Namun saat ia sampai di ruang tamu kediaman Kyai yang luas ia tidak hanya melihat Kyai Hamid dan Ummi Salamah, tetapi juga Azlan yang duduk di sofa seberang dengan laptop dan beberapa tumpukan berkas.
"Sini nduk duduk." panggil Kyai Hamid dengan suara kebapakannya yang berat.
Zunaira duduk bersimpuh di atas karpet tebal, tidak berani duduk di sofa yang sama dengan para majikannya itu, ia menunduk khidmat.
"Begini Zunaira.." lanjut Kyai Hamid.
"Gus Azlan ini membawa banyak pemikiran baru dari Mesir, dia ingin mengubah metode pengajaran bahasa Arab di sini agar lebih aplikatif bukan hanya teori nahwu sharaf saja. Dan saya melihat selama ini kamu adalah pengajar yang paling telaten dan punya kedekatan emosional yang baik dengan para santriwati." ucap Kyai Hamid.
Zunaira mendengarkan dengan saksama, perasaannya mulai tidak enak atau lebih tepatnya mulai merasa terancam oleh kedekatan yang mungkin akan terjadi.
"Jadi Abah memutuskan agar kamu menjadi pendamping Azlan dalam menyusun kurikulum ini, kamu yang paling tahu kondisi lapangan di asrama putri sedangkan Azlan yang membawa standarisasi dari Al-Azhar. Bagaimana? Kamu bersedia kan?" tawar kyai Hamid.
Dunia seolah berhenti berputar sejenak bagi Zunaira, ia melirik sekilas ke arah Azlan.
Pria itu nampak tenang seolah sudah mengetahui keputusan ini sebelumnya, tatapan mata Azlan yang tadinya fokus pada layar laptop kini beralih pada Zunaira dan menantikan jawaban.
"Tapi Abah... saya merasa ilmu saya masih jauh di bawah Gus Azlan, takutnya saya malah menghambat kerja beliau." Zunaira mencoba mencari alasan diplomatis.
"Ilmu bisa dipelajari Zunaira tapi ketulusan dalam mengabdi itu yang sulit dicari, saya butuh orang yang mengerti hati pesantren ini dan itu adalah kamu." sahut Kyai Hamid mantap.
Zunaira tidak punya pilihan lain, menolak perintah Kyai sama saja dengan tidak hormat.
"Nggih Abah, saya sam'an wa tha'atan (mendengar dan taat)."
"Alhamdulillah." ucap Ummi Salamah sambil tersenyum lebar.
"Kalau begitu kalian bisa mulai berdiskusi sore ini di serambi masjid atau di kantor pengurus, cari tempat yang terbuka agar tidak menimbulkan fitnah."
Zunaira mengangguk pelan, ia tidak menyadari bahwa di hadapannya Azlan sedikit memperbaiki posisi duduknya, menyembunyikan rasa lega yang amat sangat di balik wajah datarnya.
Bagi Azlan ini adalah langkah awal dari sebuah perjalanan panjang yang sudah ia rencanakan sejak di negeri para nabi.
...****************...
Sore itu, saat Zunaira berjalan kembali menuju asramanya, ia merasa beban di pundaknya bertambah.
Bukan beban pekerjaan melainkan beban untuk terus menjaga hatinya yang kini dipaksa berada di dekat api.
Ia tahu bermain dengan api bisa membakar tapi ia juga tahu bahwa di balik api itu ada kehangatan yang selama ini ia rindukan dalam kesendiriannya sebagai seorang yatim piatu.
Di atas langit pesantren awan-awan berarak perlahan seolah sedang menata skenario pertemuan-pertemuan berikutnya yang akan menguji keteguhan janji Zunaira pada dirinya sendiri yaitu untuk tetap mencintai dalam diam ataukah akhirnya menyerah pada takdir yang sedang diuntai oleh sang pemilik semesta.
Zunaira menghela napas, jemarinya kembali memutar butiran tasbih di dalam saku gamisnya.
La haula wala quwwata illa billah... Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan-Mu, ya Allah.
Matahari mulai condong ke arah barat, menciptakan bayangan panjang dari tiang-tiang masjid yang megah.
Angin sore berhembus membawa aroma tanah dan melati yang tumbuh subur di halaman kediaman Kyai.
Bagi Zunaira sore ini terasa berbeda, ada beban yang lebih berat dari sekadar menyiapkan materi hafalan santri.
Ia harus melangkah menuju serambi masjid bagian utara, tempat yang telah disepakati untuk memulai diskusi kurikulum bersama Gus Azlan.
Zunaira berjalan dengan langkah yang sengaja diperlambat, ia menggenggam erat sebuah buku catatan bersampul cokelat dan beberapa lembar silabus lama.
Di dalam hatinya ia terus merapalkan doa agar Allah menjaga lisan dan hatinya.
Baginya bertemu dengan Azlan dalam jarak dekat dan membicarakan hal serius adalah sebuah ujian konsentrasi yang luar biasa.
Sesampainya di serambi ia mendapati Azlan sudah duduk di sana.
Pria itu duduk bersila di atas permadani tipis, menghadap ke arah taman.
Di depannya terdapat sebuah meja kayu kecil yang dipenuhi dengan kitab-kitab referensi dari Mesir dan sebuah laptop yang terbuka.
Azlan tampak begitu fokus kacamatanya bertengger di pangkal hidung memberikan kesan intelektual yang semakin kental pada raut wajahnya yang teduh.
"Assalamu’alaikum Gus, mohon maaf jika saya terlambat." sapa Zunaira dengan suara rendah tetap menjaga pandangannya pada lantai pualam yang dingin.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
...JANGAN LUPA BERI DUKUNGAN ⬇️⬇️⬇️...
...ULASAN DAN BINTANG LIMA NYA🌟...
...FAVORITKAN CERITA INI ❤️...
...VOTE 💌...
...LIKE 👍🏻...
...KOMENTAR 🗣️...
...HADIAHNYA 🎁🌹☕...
...FOLLOW IG @LALA_SYALALA13...
...SUBSCRIBE YT @NOVELLALAAA...
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!