Indonesia
NovelToon NovelToon

GANTI MEMPELAI : MAHKOTA PELINDUNG TUAN ARDIANSYAH

Ganti mempelai

​Suasana di dalam bridal suite hotel bintang lima itu terasa mencekam, kontras dengan aroma mawar putih yang memenuhi ruangan. Suara bentakan keras merobek kesunyian.

​"Kau harus melakukannya, Gia! Tidak ada pilihan lain!"

​Gia gadis dua puluh tahun itu tersentak. Bahunya yang kecil bergetar di balik gaun pengantin berbahan lace mahal yang tampak terlalu besar untuk tubuh rampingnya. Ia menatap Ibu tirinya, Sarah, dengan mata yang sudah sembap.

​"Tapi Ma, ini pernikahan Kak Siska. Tuan Ares mengharapkan Kak Siska karena dia mencintai Kak Siska, bukan aku. Aku hanya orang asing bagi mereka!" suara Gia hampir hilang, tercekat oleh rasa takut.

​"Kakakmu itu bodoh! Dia malah kabur sama laki-laki tidak jelas itu tepat satu jam sebelum pernikahan! Padahal dia sudah dicintai Tuan Ardiansyah yang kaya raya!" Sarah mencengkeram lengan Gia kuat-kuat hingga gadis rapuh itu meringis kesakitan.

"Keluarga Ardiansyah juga sudah menginvestasikan miliaran rupiah ke bisnis Papamu. Kalau sampai pernikahan ini batal karena Siska kabur, kita semua hancur! Kamu mau kita gelandangan? Kamu mau Nenekmu celaka? Kamu mau membayar hutang budi karena kami sudah menampungmu selama ini, bukan?"

​Hutang budi. Kata-kata itu selalu menjadi cambuk yang melecut punggung Gia sejak Ibunya meninggal.

Dia yang disebut anak haram dari Papanya, harus tinggal bersama istri pertama Papanya, yaitu Sarah, setelah Ibunya meninggal.

Gia menjadi pelampiasan dendam sarah pada Ibunya. Selama tinggal di rumah Sarah, Gia diperlakukan bak pembantu meski saat datang ke rumah itu, Gia masih berusia dua belas tahun.

Gia tidak pernah merasakan yang namanya bahagia mulai saat itu. Hidupnya hanya penuh tekanan dan tekanan. Pernah Gia mencoba kabur, namun Sarah berhasil menemukannya.

Sarah selalu mengancam Gia dengan Neneknya yang berada di kampung. Katanya, Sarah akan membuat hidup Neneknya lebih menderita kalau Gia berani melarikan diri.

Jangan tanya bagaimana sikap Papanya, walau Papanya tau betul hidup Gia menderita di sana, Papanya tak bisa berbuat apa-apa. Papanya cendrung takut pada Sarah dan tak bisa membelanya. Pernah sekali Papanya memberi uang pada Gina secara diam-diam, namun berujung Gia dikunci dalam gudang selama dua hari tanpa makan.

Hal itu membuat Papanya lebih baik mengabaikan Gia daripada harus menunjukkan kasih sayangnya pada Gia. Papanya sendiri tak punya kuasa apa-apa karena sesungguhnya perusahaan yang Papanya pimpin adalah milik keluarga Sarah.

​"Tapi Tuan Aresta... d-dia pria yang berkuasa. Bagaimana kalau dia marah saat melihatku?" Gia masih sana ketakutan. Dia takut kalau Tuan penguasa yang terkenal kejam itu menyakiti dirinya karena berani membohonginya.

Semua orang tau bagaimana seorang Aresta Ardiansyah. Berani berurusan dengan pria itu, sama saja dengan cari m*ti.

​"Tutup wajahmu dengan veil. Pakai ini, diam, dan berjalanlah ke altar. Dia tidak akan sadar kalau kamu bukan Siska. Setelah sah, dia tidak akan bisa membatalkannya begitu saja!" Sarah benar-benar sudah tidak memiliki cara lain lagi untuk menghadapi Tuan Ardiansyah.

Daripada harus menerima kemarahan Tuan Ardiansyah karena tidak adanya mempelai wanita di atas altar, dia lebih baik mengorbankan anak haram dari suaminya itu. Baru kali ini Sarah merasa beruntung menampung Gia selama ini.

​Pintu kamar diketuk keras. "Waktunya sepuluh menit lagi. Mempelai pria sudah menunggu di altar!" Suara petugas hotel terdengar tegas.

​Gia menatap pantulan dirinya di cermin besar. Gadis malang dengan gaun pinjaman. Gaun yang sama sekali tidak pas di tubuh kecilnya. Ia merasa seperti domba yang sedang diantar ke sarang serigala. Rumor tentang Aresta Ardiansyah yang dingin, kaku, dan berusia jauh di atasnya membuat lututnya lemas. Dia benar-benar ketakutan, dia ingin sekali melarikan diri dari sana saat ini juga.

​Musik organ mulai mengalun megah. Pintu besar terbuka, menampakkan lorong panjang menuju altar. Di ujung sana, seorang pria berdiri dengan gagah.

Dialah Aresta Ardiansyah pria matang berusia tiga puluh lima tahun. ​Setelan tuksedo hitamnya melekat sempurna pada tubuh tegapnya. Wajahnya tegas, rahangnya keras, dan tatapan matanya tajam namun tenang. Ia tidak menoleh sedikit pun sampai Gia berada tepat di sampingnya.

​Gia menunduk dalam, tangannya yang memegang buket bunga lili gemetar hebat. Ia bisa merasakan aura dominan dari pria di sebelahnya.

​Saat pendeta mulai berbicara, Gia memberanikan diri melirik ke samping. Ia menatap sosok tinggi tegap di berbalut tuksedo mahal itu. Napas pria itu terdengar teratur tak menunjukkan kegugupan sama sekali. Gia hanya berharap kalau Ares tidak akan menyadari dirinya bukan Siska.

Rasanya Gia ingin tenggelam ke dalam samudera hingga tidak ada yang bisa menemukannya lagi. Dia ingin ada keajaiban saat ini dimana Kakaknya datang membatalkan pernikahan itu seperti dalam cerita-cerita klasik yang sering ia baca.

Gia memejamkan mata sampai keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Dia bahkan sampai tidak bisa mendengar suara pendeta yang berdiri tepat di depannya.

​Gia tersentak, nyaris menjatuhkan bunganya. Ia kembali memberanikan diri melirik dari balik kain tipis.

​Aresta tidak terlihat marah. Sudut bibirnya justru terangkat sangat tipis, sebuah senyum yang hanya bisa dilihat oleh Gia.

​"Bernapaslah!" bisik Aresta dengan suara bariton yang berat namun sangat lembut di telinga Gia.

"Ikuti saja kataku. Semua akan baik-baik saja, kau aman bersamaku!"

​Gia terpaku. Kalimat itu bukan ancaman. Itu adalah sebuah janji.

Nyonya Ardiansyah

Suasana gereja mendadak sunyi senyap saat pendeta mengucapkan kalimat yang dinanti.

"Mempelai pria dipersilakan membuka penutup wajah mempelai wanita dan menciumnya sebagai tanda ikatan suci!"

​Jantung Gia serasa berhenti berdetak. Ini dia, saat dimana penyamarannya terbongkar. Saat dimana kemarahan seorang Ardiansyah akan meledak dan menghancurkan keluarganya, terutama dirinya.

​Tangan Ares yang besar dan hangat bergerak perlahan. Jemarinya menyentuh pinggiran kain veil yang tipis. Sementara Gia memejamkan mata rapat-rapat, siap untuk dihina atau bahkan diusir dari altar itu. Gia akan menjadikan hari ini adalah hari paling buruk sepanjang dia puluh tahun hidupnya.

​Srett....

​Kain putih itu tersingkap. Cahaya lampu kristal langsung menerpa wajah Gia yang polos. Kecantikannya yang alami, dengan bulu mata yang basah karena sisa tangis dan bibir yang bergetar, terpampang nyata di depan mata Ares.

​Suara kasak-kusuk mulai terdengar dari barisan kursi keluarga. Mereka mulai menyadari ada yang berbeda dengan pengantin perempuan.

"Lho, itu bukan Siska!"

"Siapa gadis itu? Itukan anak haram Tuan Hilman?"

"Berani sekali mereka menipu keluarga Ardiansyah!"

​Hilman dan Sarah yang ada di barisan depan pucat pasi, tubuh mereka kaku ketakutan. Mereka menunggu ledakan amarah Ares dan keluarganya. Sarah lupa kalau banyak pasang mata yang menyaksikan pernikahan itu dan mereka semua bisa menjadi percikan api bagi keluarga Ardiansyah yang sedang menyiapkan bom waktu kemudian meledak begitu saja.

​Namun, Aresta Ardiansyah tetap bergeming. Ia tidak melepaskan pandangannya dari mata cokelat Gia yang ketakutan. Alih-alih mundur atau berteriak, Ares justru maju selangkah, memperpendek jarak hingga Gia bisa mencium aroma parfum maskulin yang menenangkan dari tubuh pria itu.

​Ares menunduk, mendekatkan bibirnya ke telinga Gia.

​"Jangan menunduk!" Bisiknya rendah dan sangat intim.

"Mulai detik ini, kamu adalah istriku. Tidak ada yang boleh melihatmu sebagai pengecut!"

​Ares kemudian berbalik menatap para tamu undangan dengan tatapan tajam yang seketika membungkam seluruh ruangan. Auranya begitu mengintimidasi hingga bisik-bisik itu hilang ditelan bumi. Suasana hening seketika, tatapan Ares sepertinya berhasil mengintimidasi begitu banyak tamu di ruangan itu.

​Ia kembali menatap Gia, lalu dengan lembut tangan besarnya meraih dagu gadis itu, mengangkatnya sedikit agar mata mereka bertemu. Di depan ratusan pasang mata, Ares mengecup kening Gia dengan sangat lama dan penuh takzim, sebuah tanda kepemilikan yang sah.

​"Terima kasih sudah berdiri di sini untukku, Gia!" Ucap Ares cukup keras agar terdengar oleh barisan depan, terutama Hilman dan Sarah.

​Gia terpaku. Pria itu menyebut namanya dengan lantang seolah tidak terjadi apa-apa saat ini. Ares seolah sudah tahu kalau dia bukan Siska. Tapi yang membuat Gia bingung, kenapa Ares justru melindunginya.

Semua tamu undangan masih kebingungan, mereka terus bertanya-tanya meski bibir mereka tak bisa bersuara karena dibungkam dengan tatapan tajam dari mata elang milik Ares.

🌹🌹🌹

​Perjalanan menuju mansion Ardiansyah terasa sangat panjang bagi Gia. Ia duduk merapat ke pintu mobil, merasa tidak pantas berada di dalam Rolls Royce mewah itu bersama pria sehebat Ares Ardiansyah.

​"Tuan..." Suara Gia mencicit.

​Ares yang sedang menutup tablet kerjanya menoleh. Ia melonggarkan sedikit dasinya, menanggalkan kesan kaku di altar tadi.

​"Ya, Gia?"

​"Kenapa Anda tidak marah? Anda tahu saya bukan Kak Siska. Keluarga saya... kami sudah menipu Anda!" Gia meremas jemarinya yang pucat.

​Ares menatap jemari kecil itu, lalu tanpa ragu ia meraih tangan Gia dan menggenggamnya di atas pangkuannya. Genggaman yang posesif namun lembut.

​"Aku tidak suka barang bekas, Gia!" Ucap Ares tenang.

"Kakakmu kabur karena dia tidak menghargai komitmen ini. Tapi kamu? Kamu gemetar ketakutan tapi tetap berdiri di sana demi keluargamu. Aku lebih suka pengantin yang memiliki hati, bukan sekadar nama di atas kertas!"

​Ares mendekatkan wajahnya, membuat Gia menahan napas.

"Mulai malam ini, kamu tidak perlu lagi melayani Papa dan Mama tirimu itu. Kamu adalah Nyonya Ardiansyah. Mintalah apa pun, maka aku akan memberikannya untukmu. Mengerti?"

​Gia hanya bisa mengangguk pelan, air mata haru mulai menggenang. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya setelah kepergian Ibunya, ada seseorang yang berdiri di depannya sebagai pelindung, bukan sebagai majikan.

Mansion Ardiansyah di malam hari tampak seperti istana dalam dongeng, namun bagi Gia, setiap sudutnya terasa asing dan mengintimidasi. Setelah acara resepsi yang kaku, ia kini berdiri di tengah kamar utama yang luasnya hampir sama dengan ruang keluarga di rumah Papanya.

​Harum aroma lilin terapi dan bunga lili putih memenuhi ruangan. Di atas ranjang king size dengan sprei sutra abu-abu, gaun pengantinnya yang berat terasa seperti beban yang mencekik lehernya.

​Cklek....

​Pintu terbuka. Ares masuk dengan langkah tegap. Ia sudah melepas jasnya, menyisakan kemeja putih dengan dua kancing teratas terbuka dan lengan yang digulung hingga siku. Wajahnya tampak lelah, namun sorot matanya tetap tajam.

​Gia menunduk dalam, tangannya meremas ujung gaunnya.

"Tuan..."

​Ares berhenti beberapa langkah di depannya. Ia menatap gadis yang kini resmi menjadi istrinya. Gadis yang tampak begitu kecil dan rapuh di tengah kemewahan ini.

​"Kamu tidak perlu gemetar begitu!" Suara Ares berat dan rendah.

"Aku tidak akan memakanmu!"

​Gia mendongak sedikit, matanya yang bulat tampak berkaca-kaca karena kelelahan dan rasa takut.

"Maaf, Tuan. Saya... saya hanya merasa ini semua seperti mimpi buruk yang tidak nyata!"

​Ares tertegun sejenak melihat kejujuran di mata Gia. Kebanyakan wanita akan melakukan apa saja untuk berada di posisi ini, tapi gadis ini justru menyebutnya mimpi buruk.

​"Dengar, Gia!"

Ares mendekat, membuat Gia secara refleks menahan napas.

"Pernikahan ini adalah transaksi untuk menyelamatkan muka keluargaku dan menolong ekonomi keluargamu. Aku tidak mengharapkanmu menjadi istri yang sempurna. Cukup jalankan peranmu di depan publik, dan kau akan mendapatkan apa pun yang kamu mau"

​"Termasuk kebebasan saya?" Gia bertanya dengan begitu percaya diri.

​Ares menyipitkan mata. Ia meraih dagu Gia dengan jemarinya, memaksa gadis itu menatapnya. Jarak mereka begitu dekat hingga Gia bisa mencium aroma maskulin bercampur kayu cendana dari tubuh Ares.

​"Kebebasanmu adalah milikku sekarang!" Ucap Ares dingin, namun jemarinya mengusap kulit pipi Gia dengan lembut, sebuah tindakan yang membingungkan.

"Mandilah. Pakai pakaian yang sudah disiapkan di ruang ganti. Aku akan tidur di sofa malam ini!"

"Di sofa? Tapi ini kamar Anda, Tuan!" Gia terperangah karena keputusan Ares itu.

​"Aku tidak akan memaksa satu ranjang denganmu kalau kamu memang belum mengijinkannya!" jawab Ares pendek sebelum berbalik menuju balkon.

​Saat Gia melangkah menuju kamar mandi, ia tidak menyadari bahwa Ares diam-diam memperhatikannya dari pantulan kaca. Ada sesuatu dari keteguhan hati gadis itu yang membuat dinding es di hati sang Tuan Besar sedikit retak.

​Malam itu, di bawah langit-langit mansion yang megah, dua orang asing tidur dalam satu ruangan yang sama. Yang satu terjaga karena rasa bersalah pada masa lalu, dan yang satu lagi terjaga karena ketakutan akan masa depan.

Dia istriku yang Sah

Gia baru saja keluar dari kamar mandi dengan mengenakan jubah tidur sutra yang terasa terlalu tipis di kulitnya. Kain seperti itu bahkan baru pertama kali melekat pada tubuhnya. Rambutnya yang basah tergerai, memberikan kesan alami yang jauh berbeda dari riasan tebal saat di altar tadi.

​Saat ia ragu-ragu untuk mendekati ranjang, sebuah dering ponsel memecah keheningan.

​Ares, yang tadi berdiri di balkon sambil menyesap rokok, segera merogoh sakunya. Ia melihat layar ponselnya, dan rahangnya mengeras. Ia tidak mengangkatnya segera, namun ponsel itu terus berdering dengan gigih.

​Gia terpaku di tempatnya. Ia bisa melihat nama yang tertera di layar karena ponsel itu tergeletak di meja nakas saat Ares hendak mengambil pengisi daya.

​Siska.

​Ares akhirnya mengangkat telepon itu. Ia tidak menjauh, seolah ingin menunjukkan pada Gia bahwa tidak ada yang perlu disembunyikan atau mungkin, ia ingin menyakiti Gia secara tidak sengaja.

​"Halo" suara Ares terdengar datar, namun ada getaran emosi yang tertahan.

​Suara isak tangis Siska terdengar cukup nyaring di ruangan yang sunyi itu.

"Ares... maafkan aku. Aku melakukan kesalahan besar. Aku terjebak, Ares... Aku diancam Rendy. Aku mau pulang, aku mau balik sama kamu, aku mohon tolong aku Res..."

​Gia meremas jemarinya, hatinya mencelos. Ia merasa seperti pencuri yang tertangkap basah di rumah orang lain. Ia berbalik, hendak masuk kembali ke kamar mandi untuk memberi privasi, namun suara Ares menghentikannya.

​"Mau ke mana, Gia?" tanya Ares tanpa menoleh pada Gia, namun tetap terhubung dengan Siska.

​"Gia? Kamu sama dia? Ares, kamu benar-benar menikahinya? Anak gundik itu hanya mau uangmu saha Res!" Suara Siska di telepon berubah menjadi histeris.

​Ares menatap Gia dengan tajam, namun kata-katanya ditujukan untuk Siska.

"Dia istriku sekarang, Siska. Kamu yang memilih untuk pergi, jadi jangan bicara seolah-olah kamu adalah korbannya!" Suara Ares masih begitu datar namun terdapat emosi di dalamnya.

​"Tapi aku mencintaimu!"

​"Cinta tidak meninggalkan orang di pernikahan!" Balas Ares dengan dingin.

"Jangan hubungi aku lagi. Urusan kita sudah selesai!"

​Ares memutuskan sambungan telepon dengan kasar dan melempar ponselnya ke atas ranjang. Suasana yang tadi canggung kini berubah menjadi tegang dan penuh amarah yang tertahan.

​Gia ketakutan sendiri melihat ponsel yang dilempar bagaikan barang tak berguna. Namun dia memberanikan diri untuk bersuara.

"Kalau Tuan masih mau sama Kak Siska, saya bisa pergi, Tuan. Kita bisa membatalkan ini sebelum semuanya terlambat!" Hanya mengatakan itu saja sudah membuat seluruh badan Gia gemetar, hakan telapak tangannya terasa basah karena keringat.

​Ares berjalan mendekat, langkahnya berat. Ia berhenti tepat di depan Gia, menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.

​"Kamu pikir pernikahan Ardiansyah adalah mainan yang bisa dibatalkan begitu saja?" Ares mencengkeram bahu Gia pelan, namun tegas.

"Bagiku Siska sudah mati sejak dia memutuskan untuk pergi dengan laki-laki lain. Jangan pernah tawarkan dirimu untuk pergi lagi, kecuali aku yang memintamu untuk pergi!"

​Ares melepaskan cengkeramannya dan berjalan menuju sofa, meninggalkan Gia yang berdiri mematung di samping ranjang besar itu. Malam itu, Gia menyadari satu hal, ia tidak hanya harus berhadapan dengan tembok es di hati Ares, tapi juga bayang-bayang Siska yang akan terus menghantuinya selama hidup disekitar Aresta Ardiansyah.

🌹🌹🌹

Pagi pertama di mansion Ardiansyah tidak terasa seperti bulan madu bagi Gia. Ia turun ke ruang makan dengan langkah ragu, mengenakan terusan selutut berwarna soft peach yang membuatnya tampak sangat muda dan polos.

​Di ujung meja panjang yang terbuat dari marmer mewah, Nyonya Ardiansyah, Ibu Aresta, sudah duduk dengan anggun, menyesap tehnya. Matanya yang tajam langsung menilai penampilan Gia dari ujung rambut hingga ujung kaki.

​"Duduklah!" Perintah Nyonya Ardiansyah tanpa senyum.

"Di rumah ini, sarapan dimulai pukul tujuh tepat. Saya harap besok kamu tidak terlambat lagi!"

​"Maaf, Ma!" Bisik Gia sambil menarik kursi dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara.

​"Jangan panggil saya Mama dulu. Statusmu di sini masih sangat baru!" Sahut wanita itu dingin.

Gia mengutuk mulutnya begitu lancang. Dia seolah lupa dengan statusnya karena berani memanggil Nyonya besar Ardiansyah dengan sebutan Mama. Seharusnya Kakaknya yang pantas memanggilnya Mama.

"Saya masih tidak habis pikir kenapa Aresta memilih melanjutkan pernikahan ini sama kamu setelah penghinaan yang dilakukan keluarga kamu. Kamu tahu, kan? Kamu hanyalah pengganti untuk menutupi rasa malu!"

​Gia menunduk, meremas serbet di pangkuannya. Kata-kata itu menghujam jantungnya, meski ia tahu itu benar.

​Tiba-tiba, langkah kaki yang berat terdengar mendekat. Aresta muncul dengan setelan kerja yang sangat rapi. Bukannya langsung duduk di kursinya, Aresta justru berjalan mendekati Gia.

​"Pagi, Gia!" ucap Aresta dengan suara bariton yang hangat, kontras dengan suasana dingin tadi.

​Sebelum Gia sempat menjawab, Aresta membungkuk sedikit dan mengecup kening Gia di depan ibunya. Kecupan itu singkat, tapi terasa sangat protektif.

​"Aresta, apa yang kamu lakukan?" tegur Nyonya Ardiansyah, mengerutkan kening tidak suka.

​Aresta duduk di samping Gia, bukan di ujung meja seperti biasanya. Ia meraih tangan Gia yang gemetar di atas meja dan menggenggamnya erat.

​"Aku sedang menyapa istriku, Ma!" jawab Aresta tenang sambil menatap ibunya.

"Dan soal status Gia, dia bukan pengganti. Dia adalah Nyonya Ardiansyah yang sah. Jadi, aku minta sama Mama untuk memperlakukannya dengan rasa hormat yang sama seperti Mama memperlakukanku!"

​"Tapi keluarganya sudah menipu kita!"

​"Yang melakukan kesalahan adalah Siska, bukan Gia!" Potong Aresta tegas. Ia kemudian menoleh pada pelayan.

"Bawa jus jeruk segar untuk istriku. Dia terlihat pucat pagi ini!"

​Aresta kemudian beralih pada Gia, suaranya melunak.

"Makanlah yang banyak. Setelah ini, aku akan mengajak kamu ke butik. Aku tidak mau istriku memakai pakaian lama yang terlihat tidak nyaman seperti ini!"

​Gia menatap Aresta dengan rasa tidak percaya. Pria yang semalam begitu dingin dan memilih tidur di sofa, kini berdiri seperti benteng di depannya. Meskipun Gia tahu ini mungkin hanya sandiwara di depan Mamanya, kehangatan tangan Aresta yang belum dilepaskan memberikan keberanian kecil di hatinya.

​"Terima kasih... Mas Ares!" ucap Gia lirih, mencoba memanggilnya dengan sebutan yang lebih akrab. Lebih tepatnya memberanikan diri entah nanti Ares akan menganggapnya salah atau tidak.

​Aresta tampak tertegun sejenak mendengar panggilan itu, namun sebuah senyum tipis yang hampir tak terlihat muncul di sudut bibirnya.

"Sama-sama, sayang!"

Gia tersentak, jantungnya seperti berhenti bekerja secara optimal karena panggilan sayang dari Ares. Apalagi usapan tangan di kepala Gia, rasanya hangat dan nyaman.

Ternyata mendapatkan perlakukan manis dan pembelaan di depan orang lain bisa membuat dirinya lebih tenang dan nyaman. Pantas saja selama ini Siska selalu terlihat percaya diri.

​Nyonya Ardiansyah hanya bisa mendengus kesal, menyadari bahwa putranya yang keras kepala itu telah menetapkan pilihannya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!