Indonesia
NovelToon NovelToon

Dewa Kematian Dan Hantu Pedang : Menantang Takdir

Pertemuan Manusia dari Masa yang Berbeda

Takdir memang gemar memainkan jalannya sendiri, mempertemukan hal-hal yang tampak mustahil dalam satu waktu yang sama. Di masa ini, takdir mempertemukan dua arus waktu yang saling berlawanan. Seseorang dari masa depan yang kembali ke masa lalunya, dan seseorang yang bangkit dari masa lalunya untuk menapaki kembali jalan yang pernah ia lalui.

Boqin Changing adalah seorang pendekar yang pernah berdiri di puncak dunia persilatan. Ia memilih kembali ke masa lalunya bukan karena kebosanan, melainkan karena penyesalan yang menumpuk selama puluhan tahun hidupnya. Banyak orang yang ia cintai telah gugur ketika dirinya masih lemah, jauh sebelum ia mencapai kekuatan yang mampu melindungi mereka.

Pada kehidupan pertamanya, titik balik kekuatannya datang ketika ia memperoleh sebuah pusaka legendaris bernama Bola Pemanggil, sebuah artefak yang mampu menghadirkan para pengikut setia dari alam lain. Dengan bantuan pusaka itu, kekuatannya tumbuh dengan cepat, melampaui batas-batas pendekar biasa hingga akhirnya mencapai puncak dunia. Namun semakin tinggi ia berdiri, semakin terasa kehampaan di dalam hatinya. Kemenangan tidak mampu menghapus luka masa lalu yang telah terlanjur terjadi.

Hingga pada usia seratus dua puluh tahun, ia menemukan pusaka lain yang tak kalah luar biasa, Bola Masa Lalu. Artefak yang mampu mengembalikannya ke waktu yang telah lama berlalu. Tanpa ragu, ia menggunakannya dan kembali ke masa ketika segalanya belum terjadi.

Ia kembali dalam tubuh yang lemah, dengan kekuatan yang jatuh ke titik awal kehidupannya. Namun ia tidak menyerah. Berbekal ingatan dari kehidupan pertamanya, ia mulai menapaki kembali jalur kultivasi dengan langkah yang lebih pasti. Sedikit demi sedikit, kekuatannya kembali tumbuh.

Kali ini, ia berhasil menyelamatkan orang-orang yang dahulu tak mampu ia lindungi. Ia juga berhasil menghancurkan Kelompok Tengkorak Hitam, kelompok aliran hitam yang menjadi dalang kematian banyak orang yang ia cintai di kehidupan sebelumnya.

Namun takdir kembali menunjukkan sifatnya yang tak terduga. Perubahan yang ia lakukan perlahan menggeser alur sejarah. Dunia yang ia kenal mulai bergerak ke arah yang berbeda dari ingatannya.

Selepas menyelesaikan urusan besar di tanah kelahirannya, Kekaisaran Qin, ia melanjutkan perjalanan menuju Kekaisaran Shang untuk membantu seorang kenalan lama, seorang mantan kaisar yang digulingkan secara paksa.

Dengan kekuatan dan pengalamannya, Boqin Changing berhasil membantu orang itu merebut kembali takhtanya. Setelah keseimbangan kekaisaran itu pulih, ia kembali melanjutkan pengembaraannya.

Kini, Boqin Changing  yang mempunyai julukan Dewa Kematian memang belum kembali ke puncak kekuatannya. Ia berada di ranah Pendekar Bumi Puncak, sebuah tingkat kultivasi yang sudah tergolong sangat kuat di zaman ini. Meski demikian, ia belum merasa puas. Jalan kultivasi yang ia tempuh masih panjang, dan tekadnya untuk menjadi lebih kuat dari kehidupan sebelumnya terus mendorongnya melangkah maju.

Di sisi lain, pada masa yang sama, ada sesuatu yang bangkit dari bayang-bayang sejarah. Seseorang yang berasal dari masa lalu yang jauh lebih kelam daripada kisah kebangkitan Boqin Changing.

Tubuhnya pernah disegel dan dikurung di dalam sebuah peti kuno, dibiarkan tertidur oleh dunia yang berharap ia tidak akan pernah bangkit kembali. Segel itu diciptakan oleh banyak pendekar kuat di masa lampau, bukan untuk melindungi, melainkan untuk memastikan makhluk itu tidak lagi menginjakkan kaki di dunia manusia.

Namun keadaan berubah ketika para musuh Boqin Changing mulai kehabisan cara untuk menghadapinya. Kekuatan Boqin Changing yang terus meningkat membuat mereka mencari sesuatu yang bahkan mereka sendiri tak sepenuhnya pahami. Dalam keputusasaan, mereka memutuskan membuka segel kuno itu, berharap makhluk yang tertidur di dalamnya bersedia membantu mereka melawan pendekar yang sulit dikalahkan tersebut.

Segel itu pun terbuka. Makhluk yang terkurung lama itu akhirnya bangun dari tidur panjangnya. Tubuhnya tampak jauh berbeda dari manusia biasa. Tingginya hampir tiga meter, dengan tubuh besar dan kokoh seperti batu karang. Kulitnya berwarna ungu gelap, memantulkan aura liar yang menekan sekelilingnya. Wajahnya masih menyerupai manusia, namun keseluruhan penampilannya membuatnya lebih pantas disebut monster daripada manusia.

Pertemuan antara makhluk itu dan Boqin Changing tidak dapat dihindari. Pertarungan terjadi dengan cara yang jujur dan ksatria, tanpa tipu daya. Keduanya bertarung dengan seluruh kekuatan yang mereka miliki.

Tanah retak, udara bergetar, dan luka-luka berat mulai memenuhi tubuh mereka. Pertarungan itu berlangsung sengit hingga akhirnya makhluk tersebut tumbang.

Saat ia bersiap menerima kematian, Boqin Changing justru mengetahui sebuah kebenaran yang tak pernah ia duga. Roh pedang dari pusaka milik makhluk itu memperlihatkan kisah hidup tuannya. Sebuah kehidupan yang dipenuhi penderitaan dan kesalahpahaman.

Makhluk itu bernama Sha Nuo. Ia dilahirkan oleh manusia, namun sejak bayi telah memiliki tubuh yang menyerupai monster. Dunia menolaknya bahkan sebelum ia mampu berjalan. Hanya ayahnya yang menerima dan membesarkannya dengan penuh kasih, mengajarkan ajaran Aliran Putih tentang keadilan dan perlindungan terhadap yang lemah.

Meski Kelompok Aliran Putih sendiri tidak sepenuhnya menerima keberadaannya, Sha Nuo tetap berjuang melindungi orang-orang. Ia membantu memberantas kejahatan di berbagai tempat, dan perlahan sebagian orang mulai melihatnya bukan sebagai monster, melainkan sebagai pendekar yang berhati lurus.

Namun kekuatannya yang terus berkembang justru menimbulkan ketakutan di kalangan pendekar Aliran Hitam. Mereka khawatir suatu hari Sha Nuo akan menjadi ancaman yang tak bisa mereka kendalikan. Fitnah pun disebarkan. Kebohongan dipelintir menjadi kebenaran. Dunia yang sempat menerimanya kembali berbalik membencinya.

Sekte milik ayahnya dihancurkan. Satu-satunya keluarga yang ia miliki direnggut darinya. Kemarahannya meledak.

Para pendekar Aliran Putih yang tidak mengetahui kebenaran mengira Sha Nuo telah jatuh ke jalan gelap. Padahal semua itu hanyalah jebakan Aliran Hitam. Karena tak seorang pun mampu membunuhnya, mereka akhirnya menyegel tubuhnya dengan kekuatan gabungan banyak pendekar.

Kisah pahit itu terdengar oleh Boqin Changing tepat saat ia hendak mengakhiri hidup Sha Nuo. Pedang yang semula terangkat untuk mengeksekusi akhirnya diturunkan.

Boqin Changing memilih mengampuninya. Ia bahkan memberikan obat penyembuh untuk memulihkan luka-luka Sha Nuo. Keputusan itu mengubah arah hidup makhluk raksasa tersebut.

Sha Nuo kemudian memutuskan untuk mengikuti Boqin Changing. Ia bersumpah akan setia mendampinginya, bukan sebagai alat perang, melainkan sebagai seseorang yang akhirnya menemukan orang yang melihatnya sebagai manusia.

Boqin Changing lalu memberikan sebuah teknik khusus yang mampu mengubah bentuk tubuh Sha Nuo menjadi menyerupai manusia normal tanpa mengurangi kekuatannya. Dari berbagai kemungkinan, Sha Nuo memilih wajah dan penampilan ayahnya, sosok yang paling ia hormati sepanjang hidupnya. Sejak saat itu, Sha Nuo selalu mengikuti ke mana pun Boqin Changing pergi. Di dunia persilatan, namanya kemudian dikenal dengan julukan yang membuat banyak orang merinding saat mendengarnya, Hantu Pedang Sha Nuo.

Petualangan baru pun dimulai. Setelah menyelesaikan urusan di Kekaisaran Shang dan memastikan keseimbangan kembali pulih, Boqin Changing melangkah ke jalan yang lebih sunyi, di mana hanya ia dan Sha Nuo yang tahu arah yang akan ditempuh. Rencana kali ini berbeda dari sebelumnya. Tujuannya bukan menghadapi aliran hitam atau menguji batas kekuatannya, melainkan mencari sebuah pusaka yang berada di tingkatan alam, lebih tinggi dari pusaka langit yang pernah dikenal dunia persilatan.

Informasi itu datang dari pengikut setianya di kehidupan pertama, yang dulunya berhasil menemukan pusaka langka tersebut di dataran tinggi Goutian. Namun, Boqin Changing tidak menerima informasi itu secara lengkap. Di masa lalu, saat ia tenggelam dalam kebahagiaan dan kemenangan, ia tak sempat menanyakan banyak hal. Kini, dengan sedikit petunjuk yang tersisa, ia berniat menapaki kembali jejak pusaka legendaris itu. Ia juga tetap hati-hati agar tak membocorkan rahasia terbesar yang ia simpan, bahwa dirinya telah kembali ke masa lalu.

Sha Nuo, pengikut setia yang kini menjadi sahabat dan pelindungnya, tetap berada di sisi Boqin Changing. Sosoknya yang pernah dianggap monster kini berjalan dengan tenang, kekuatan dan kesetiaannya menjadi perisai bagi sang Dewa Kematian. Mereka berdua melewati lembah dan hutan yang belum banyak dijamah manusia, menapaki jalur yang jarang dilalui, menuju dataran tinggi Goutian yang tersembunyi di batas langit selatan.

Setiap langkah di perjalanan itu dipenuhi ketelitian. Boqin Changing memeriksa keadaan sekitar, membaca arus energi yang bergelora di alam, menyesuaikan diri dengan medan yang berbeda dari waktu sebelumnya. Ia sadar, meski kekuatannya telah tumbuh pesat, pusaka tingkat alam bukanlah sesuatu yang bisa diperoleh hanya dengan keberanian atau kekuatan fisik. Dibutuhkan ketajaman intuisi, kesabaran, dan pengetahuan yang mendalam akan rahasia dunia persilatan.

Sha Nuo mengikuti dengan penuh perhatian. Ia mengamati setiap gerak Boqin Changing, memahami maksud di balik setiap keputusan. Keheningan mereka dipecahkan oleh desir angin dan gemerisik daun, suara alam yang mengingatkan bahwa dunia persilatan bukan hanya arena kekuatan, tetapi juga teka-teki yang menunggu untuk dipecahkan.

Begitulah, di tengah jejak-jejak alam liar dan bayangan masa lalu yang terus menghantui, dua sosok ini menapaki babak baru dalam dunia persilatan. Tujuan mereka bukan sekadar pusaka, melainkan jawaban dari perjalanan panjang yang membentang antara takdir dan kebebasan, antara masa lalu yang pernah gagal dan masa depan yang kini dapat diubah.

Tingkatan Alam Ini

● Tingkatan Ranah Kultivasi Pendekar:

Dari yang paling lemah ke yang paling kuat.

• Pendekar Dasar adalah seseorang  telah menguasai jurus dasar beladiri. Mereka mengandalkan kekuatan fisik, namun belum mampu menggunakan tenaga dalam.

• Pendekar Pertama adalah pendekar dasar yang telah membuka dantiannya. Mereka sudah mampu menggunakan tenaga dalam dalam pertarungan.

• Pendekar Menengah adalah pendekar pertama yang telah membentuk setidaknya enam puluh lingkaran tenaga dalam.

• Pendekar Ahli adalah pendekar yang telah memperkuat dirinya hingga batas ototnya telah mencapai tingkatan kawat,  dan tulang tingkatan baja. Pendekar ahli memiliki minimal seratus dua puluh lingkaran tenaga dalam.

• Pendekar Raja adalah pendekar ahli yang telah memperkuat dirinya. Kekuatannya setidaknya menyamai sepuluh pendekar ahli.

• Pendekar Suci adalah pendekar raja yang berhasil membuka gerbang meridian pertama. Butuh sumber daya yang cukup besar untuk mencapai ranah kultivasi ini.

•Pendekar Bumi adalah pendekar suci yang telah membuka sepuluh titik gerbang meridiannya. Saat berada di ranah ini, seseorang dapat mengolah tenaga dalam jenis lain bernama qi.

• Pendekar Langit adalah pendekar bumi yang telah mengumpulkan minimal sepuluh ribu lingkaran qi. Kehadirannya dianggap mampu menggetarkan langit.

• Pendekar Alam adalah pendekar langit dengan kemampuan mengguncang dunia. Pada saat seseorang menembus ranah kultivasi ini, bumi akan bergetar hebat dan terjadi gempa dimana-mana. Seakan-akan sedang menyambut kelahiran pendekar alam.

• Pendekar Dewa adalah tingkatan pendekar di atas semua makhluk dunia. Hanya dengan tatapan mereka, makhluk hidup tunduk. Alam pun menghamba, awan-awan menutupi mereka dari matahari agar sang dewa tak terusik dan marah.

● Tingkatan Tulang Manusia.

Dari yang paling lemah ke yang paling kuat.

• Tulang Kayu

• Tulang Besi

• Tulang Baja

• Tulang Perunggu

• Tulang Perak

• Tulang Emas

• Tulang Berlian

● Tingkatan Pusaka

Dari yang paling lemah ke paling kuat

• Pusaka Kelas Tiga

• Pusaka Kelas Dua

• Pusaka Kelas Satu

• Pusaka Raja

• Pusaka Bumi

• Pusaka Langit

• Pusaka Alam

Semua tingkatan ini adalah tingkatan yang diketahui Boqin Changing di masa depan setelah berhasil berada di puncak dunia.

...********...

Pada masa ini, Boqin Changing dan Sha Nuo sedang menapaki tanah lembab di tepi hutan barat Dataran Goutian, langkah mereka tenang namun penuh keyakinan. Udara di sekitar terasa lebih berat daripada biasanya, seakan hutan ini menahan napasnya sendiri. Boqin Changing percaya, di kedalaman hutan ini tersimpan sebuah pusaka tingkat alam. Sesuatu yang hanya bisa dicapai oleh mereka yang mampu menembus batas-batas biasa dunia persilatan.

Mereka baru melangkah beberapa meter ke dalam hutan ketika sesuatu mengusik kesadaran mereka. Suara-suara yang samar namun bergerak cepat terdengar dari celah-celah pepohonan, lengkingan, gesekan, dan desir sayap kecil. Sha Nuo berhenti sejenak, matanya menyapu seluruh sekeliling, tangan secara naluriah mengepal di sisi pedangnya.

“Sesuai informasi sebelumnya,” ucapnya pelan, “tempat ini memang dihuni cukup banyak siluman.”

Ia mengangkat kedua tangannya sedikit ke depan, mengerahkan aura kematiannya yang pekat. Energi itu mengalir keluar dari tubuhnya seperti kabut hitam, menelan cahaya yang menyentuh daun-daun, dan segera terdengar suara lengkingan siluman di sekeliling mereka. Suara itu kacau, mengiris telinga, namun perlahan mereda.

Boqin Changing mengamati dengan cermat. Jelas, para siluman itu merasakan bahaya yang bukan sekadar peringatan. Mereka berdua bukanlah ancaman yang bisa dihadapi oleh makhluk-makhluk ini. Satu per satu, bayangan gelap yang bergerak di antara pepohonan memudar, siluman-siluman itu memilih untuk menghilang, menghindari konfrontasi dengan kedua pendekar itu.

Sha Nuo menatap Boqin Changing dengan sedikit tersenyum, nada suaranya kasar namun penuh kepuasan.

“Sepertinya mereka tahu, kita bukan lawan yang bisa mereka ganggu.”

Boqin Changing hanya mengangguk tipis. Tidak ada kata-kata yang diperlukan. Keheningan hutan kembali menguasai mereka, hanya terdengar suara langkah kaki dua pendekar yang menyusuri jalan setapak yang jarang dilalui. Setiap langkah membawa mereka lebih jauh ke dalam rahasia hutan barat. Rahasia yang tersembunyi di antara bayangan pepohonan dan aura alam yang belum pernah disentuh oleh tangan manusia biasa.

Mereka berdua kini bergerak dalam keselarasan sempurna, Boqin Changing dengan tatapan tajam yang menembus gelap, Sha Nuo dengan aura kematian yang tetap siap membungkam setiap ancaman. Hutan ini bukanlah tempat untuk sembarang orang, namun bagi mereka, ini hanyalah awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.

Langkah mereka terdengar ringan, namun setiap daun yang jatuh dan ranting yang patah seakan memperingatkan bahwa pusaka tingkat alam itu tidak akan menyerahkan dirinya begitu saja. Namun bagi Boqin Changing dan Sha Nuo, tak ada keraguan. Mereka akan menembus setiap rahasia, menaklukkan setiap penghalang, hingga pusaka itu berada di tangan mereka.

Keheningan hutan barat kini bukan lagi menakutkan. Ia menjadi saksi bagi kedatangan dua pendekar yang bukan hanya kuat, tetapi juga penuh tekad. Yang bahkan para siluman pun tahu, lebih baik menghindar daripada menantang.

Boqin Changing dan Sha Nuo terus melangkah lebih dalam ke hutan barat, menyusuri tanah lembab yang beraroma tanah basah dan dedaunan. Sesekali, Boqin Changing berhenti, menundukkan tubuhnya, menyalurkan fokus yang tajam, dan membuka Teknik Mata Dewa miliknya.

Tatapannya menembus rimbunan pepohonan, mencoba mendeteksi fluktuasi energi yang tidak kasat mata, aura pusaka yang mungkin tersisa, atau bahkan jejak pusaka alam yang tersembunyi jauh di dalam tanah. Ia juga menyapu sekeliling, menoleh ke atas cabang-cabang dan celah-celah akar, mencari tanda-tanda keberadaan makam kuno atau altar tersembunyi yang bisa menjadi tempat pusaka itu bersemayam.

Sha Nuo bergerak di sampingnya dengan waspada, matanya mengamati bayangan-bayangan yang mungkin bergerak di antara pepohonan. Ia tetap siap, pedangnya berada di genggaman, aura kematiannya samar-samar bergetar menandakan kewaspadaan tinggi.

Namun, hari itu, pencarian mereka tetap tak membuahkan hasil. Tidak ada tanda fluktuasi energi yang bisa dilacak, tidak ada makam kuno yang muncul di penglihatan mereka, seakan hutan ini menutup rapat rahasianya terhadap mata manusia.

Malam mulai merayap ke langit ketika keduanya memutuskan untuk beristirahat. Mereka memilih sebuah area terbuka yang cukup lapang, menyalakan api unggun dari ranting dan kayu kering, panasnya menembus dinginnya malam hutan. Api menari-nari, memantulkan cahaya ke wajah-wajah mereka yang lelah tapi tak kehilangan fokus. Makanan sederhana yang mereka bawa dimasak di atas api, aroma hangat menguar di udara malam.

Sambil makan, suasana menjadi lebih tenang. Boqin Changing menatap api unggun yang berkobar, pikirannya tetap berputar.

"Hari ini belum ada petunjuk," ucapnya pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.

Sha Nuo menatapnya, kemudian menimpali dengan nada sedikit bercanda tapi penuh makna.

"Hutan ini memang tak mau mengaku kalah begitu saja. Pusaka tingkat alam bukanlah sesuatu yang bisa kita temui hanya dengan langkah kaki."

Boqin Changing mengangguk, senyum tipis terlukis di bibirnya.

"Ini baru hari pertama. Besok, kita akan masuk lebih dalam, memeriksa daerah yang lebih tersembunyi. Aku yakin, sesuatu di sini pasti meninggalkan jejak, baik di tanah, udara, maupun energi yang bergetar di antara pepohonan."

Sha Nuo mengunyah sebentar, lalu menambahkan.

"Kau selalu percaya pada mata dan perasaanmu. Semoga kali ini juga tetap benar."

Malam itu, di tengah kegelapan hutan yang pekat namun dihiasi nyala api unggun, dua pendekar yang sudah menembus batas biasa dunia persilatan itu beristirahat. Di dalam diam, tekad mereka menguat, dan pikiran tentang pusaka yang tersembunyi tetap membara. Memberi mereka energi untuk hari-hari pencarian berikutnya.

Keheningan hutan malam kini menjadi saksi bagi kesabaran dan ketekunan dua pendekar yang tak hanya kuat, tapi juga penuh ketelitian, kesabaran, dan tekad untuk menaklukkan rahasia alam yang tersembunyi.

...********...

Selama seminggu berikutnya, Boqin Changing dan Sha Nuo terus menapaki jalan setapak yang membelah rimbunnya hutan barat Dataran Goutian. Setiap hari, mereka menyusuri hutan, memeriksa pepohonan tua yang menjulang, menyingkap semak-semak tebal, dan menelusuri aliran sungai yang berkelok, berharap menemukan sedikit petunjuk tentang keberadaan pusaka alam.

Namun, semakin dalam mereka melangkah, semakin jelas bahwa hutan ini menutup rapat rahasianya. Jejak-jejak energi yang samar pun tak kunjung muncul. Pusaka tingkat alam, yang seharusnya memancarkan aura yang dapat dirasakan oleh mata dan indera kuat mereka, tetap tersembunyi. Tidak ada altar kuno, tidak ada patung penjaga, bahkan tidak ada fluktuasi energi yang bisa ditangkap. Setiap usaha mereka seakan sia-sia.

Pada siang hari yang ketujuh, keduanya memilih untuk berhenti sejenak di sebuah tempat di dalam hutan yang dikelilingi pohon-pohon tua. Tanahnya lembab, dan cahaya matahari menembus celah-celah daun, menciptakan pola bayangan yang bergerak perlahan di atas rumput. Boqin Changing duduk bersandar pada akar pohon besar, sementara Sha Nuo menatap kosong ke kejauhan, wajahnya menunjukkan sedikit rasa bosan dan frustrasi.

“Sampai kapan kita akan di tempat ini?” tanya Sha Nuo dengan nada setengah bosan.

Boqin Changing tersenyum tipis, mengetahui bahwa Sha Nuo pasti mulai merasa jenuh dengan pencarian yang tampaknya tak berujung.

“Kalau kau mau, kau bisa pergi dulu dari sini. Nanti aku akan menyusul setelah menemukan tujuanku,” ucapnya, suaranya tenang namun penuh keyakinan.

Sha Nuo menggeleng.

“Tidak bisa begitu… Aku juga tidak tahu harus kemana jika pergi dari hutan ini. Yang ada, aku malah tersesat.”

Boqin Changing tertawa kecil mendengar jawaban itu, rasa ringan di hatinya. Namun tawa itu belum sempat hilang ketika tiba-tiba sesuatu mengguncang keheningan hutan.

Sebuah auman terdengar, keras, dalam, dan menggetarkan tanah. Posisi suaranya tidak jauh dari tempat mereka duduk. Sha Nuo seketika menegang, matanya melebar.

“Itu… binatang suci!” bisiknya dengan nada serius, suaranya nyaris tak terdengar di antara gemuruh auman yang bergema di hutan.

Boqin Changing mengangguk, merasakan getaran energi yang sama. Aura yang terpancar dari makhluk itu jauh melampaui batas normal, menandakan bahwa mereka tidak menghadapi sekadar siluman atau binatang biasa. Suara auman itu seperti panggilan alam, mengingatkan keduanya bahwa hutan ini masih menyimpan rahasia yang jauh lebih besar daripada yang bisa mereka bayangkan.

Mata Boqin Changing dan Sha Nuo bertemu, tanpa kata, mereka memahami bahwa pencarian mereka baru saja memasuki babak yang lebih berbahaya. Setiap langkah kini harus lebih waspada, setiap napas harus seirama dengan hutan, dan setiap gerakan harus memperhitungkan kemungkinan hadirnya kekuatan pusaka alam yang sejati.

Boqin Changing menatap pepohonan yang bergetar karena auman itu, sebuah senyum tipis namun penuh tekad terbentuk di wajahnya.

“Sepertinya, kita mungkin bisa menemukan jejaknya,” gumamnya pelan, suara yang hanya bisa didengar Sha Nuo.

Sha Nuo menggenggam pedangnya lebih erat, langkahnya perlahan bangkit.

“Aku siap. Apa pun yang muncul, akan kuhadapi.”

Pantas Tidak Ada yang Kembali dari Hutan Ini

Boqin Changing dan Sha Nuo bangkit hampir bersamaan. Perhatian keduanya kini sepenuhnya tertuju pada arah datangnya auman. Tanah masih bergetar samar, seakan hutan itu sendiri mengingatkan bahwa sesuatu yang besar sedang menunggu di kedalaman pepohonan.

Mereka berjalan tanpa tergesa, namun langkah mereka mantap. Daun-daun kering berderak pelan di bawah kaki, dan udara di sekitar terasa semakin berat setiap meter mereka mendekat.

Di tengah perjalanan, keduanya saling menatap sesaat. Tidak ada kata yang terucap, namun pemahaman yang sama terpancar dari mata mereka. Aura itu. Bukan hanya satu.

Boqin Changing memperlambat langkahnya sedikit, napasnya teratur, kesadarannya melebar ke segala arah. Ia bisa merasakan gelombang energi yang tidak wajar berkumpul di satu titik. Aura binatang suci yang kuat bercampur dengan ribuan aura siluman yang lebih kecil, berdesakan seperti arus sungai yang mengalir menuju pusat yang sama. Jaraknya tidak jauh lagi, mungkin hanya beberapa ratus meter dari tempat mereka berjalan sekarang.

Hutan di depan mereka terlihat lebih gelap, pepohonan tumbuh lebih rapat, dan suara kehidupan hutan yang biasa terdengar justru menghilang. Tidak ada burung, tidak ada serangga. Hanya tekanan energi yang membuat dada terasa berat.

Sha Nuo memecah keheningan dengan suara pelan namun pasti.

“Sepertinya… mereka terganggu dengan kehadiran kita.”

Boqin Changing tidak langsung menjawab. Ia merasakan hal yang sama. Selama seminggu mereka bergerak di dalam hutan ini dengan hampir tanpa gangguan. Para siluman memilih menjauh, bahkan tidak berani menunjukkan diri. Aura kematian Sha Nuo menjadi peringatan yang cukup jelas bagi makhluk-makhluk tingkat rendah itu.

Tidak ada perlawanan. Tidak ada penyergapan. Sekarang semuanya terasa masuk akal. Siluman-siluman itu tidak menyerah. Mereka hanya mundur dan mengadu.

Boqin Changing memandang lurus ke depan, matanya menyipit sedikit.

“Pemimpin hutan ini,” gumamnya pelan. “Binatang suci.”

Sha Nuo tersenyum tipis, namun tatapannya tetap dingin. Aura kematiannya perlahan meningkat, kabut hitam tipis mulai berputar di sekitar tubuhnya seperti bayangan yang hidup.

“Bagus,” katanya pelan. “Aku mulai bosan hanya berjalan tanpa pertarungan.”

Langkah mereka berlanjut, semakin dekat menuju pusat aura yang berkumpul. Kini suara gerakan mulai terdengar kembali. Bukan suara sembunyi-sembunyi seperti sebelumnya, melainkan suara makhluk dalam jumlah besar yang berkumpul tanpa mencoba menyembunyikan diri.

Cabang pohon bergetar pelan. Tanah bergetar lebih jelas. Kemudian, di antara pepohonan besar yang terbuka seperti sebuah arena alami, Boqin Changing dapat melihat bayangan-bayangan siluman berkumpul mengelilingi satu titik pusat.

Ribuan mata memandang ke arah mereka. Namun tidak ada yang menyerang. Semua siluman itu seperti menunggu.

Di tengah lingkaran itu, aura besar dan berat berdenyut seperti jantung hutan itu sendiri. Setiap denyutnya membuat udara bergetar, dan tekanan kekuatan itu jelas berasal dari makhluk yang belum sepenuhnya terlihat.

Boqin Changing berhenti melangkah. Sha Nuo berdiri di sampingnya. Untuk pertama kalinya sejak memasuki hutan barat Dataran Goutian, kedua pendekar itu benar-benar menemukan sesuatu yang tidak bersembunyi dari mereka. Sang penguasa hutan telah muncul.

Boqin Changing dan Sha Nuo menatap ribuan siluman yang kini memenuhi ruang terbuka di depan mereka. Makhluk-makhluk itu berdiri rapat, membentuk dinding hidup yang berlapis-lapis, dari siluman tingkat rendah hingga yang berumur ratusan tahun. Mata-mata buas memantulkan cahaya dingin di bawah bayangan pepohonan tua.

Sha Nuo justru terlihat senang. Ia merasa sudah lama sekali ia tidak merasakan medan pertempuran yang sesungguhnya. Selama perjalanan mereka, hampir tidak ada siluman yang berani mendekat. Aura kematiannya membuat makhluk-makhluk itu memilih bersembunyi daripada mati sia-sia. Kebosanan perlahan menumpuk di dalam dirinya, dan sekarang, ribuan siluman di depan mereka terasa seperti hiburan yang sudah lama ia tunggu.

Aura hitam tipis mulai berputar di sekeliling tubuhnya. Baginya, menghancurkan makhluk-makhluk ini mungkin akan terasa menyenangkan.

Namun tiba-tiba tanah bergetar. Getarannya jauh lebih kuat daripada sebelumnya. Akar-akar pohon berderak, dedaunan berjatuhan, dan kawanan siluman di depan mereka perlahan membuka jalan seperti ombak yang terbelah.

Kemudian sesuatu muncul dari belakang kerumunan itu dan mulai terbang. Seekor naga. Tidak, bukan hanya satu. Dua sosok raksasa perlahan menampakkan diri dari bayangan hutan.

Naga pertama berwarna hijau tua, tubuhnya panjang dan besar. Sisiknya memantulkan cahaya redup kehijauan, dan setiap tarikan napasnya menghembuskan kabut tebal yang membuat udara terasa berat. Tanduknya panjang dan melengkung, tanda usia yang sudah sangat tua.

Di sampingnya muncul naga kedua, berwarna merah muda pucat. Tubuhnya sedikit lebih kecil, namun tetap saja ukurannya sangat besar di mata manusia. Sisiknya berkilau lembut seperti batu giok yang memantulkan cahaya senja, dan matanya bersinar tajam penuh kesadaran.

Sha Nuo mengangkat alisnya sedikit.

“Akhir-akhir ini kita sering sekali bertemu naga,” katanya pelan.

Boqin Changing tidak menjawab. Matanya menyapu medan di depan mereka dengan cepat, menganalisis setiap detail.

Binatang suci naga adalah makhluk yang paling rumit untuk dihadapi. Mereka bukan hanya kuat secara fisik, tetapi juga memiliki kecerdasan tinggi dan kemampuan alami yang sulit diprediksi. Bahkan pendekar kuat pun tidak berani meremehkan naga.

Pandangan Boqin Changing berhenti pada naga hijau raksasa itu. Dari ukuran tubuh, kepadatan aura, dan tekanan energi yang dipancarkannya, ia bisa memperkirakan usia naga itu sudah sangat tua. Kekuatan makhluk itu kemungkinan sudah mendekati ranah pendekar bumi puncak.

Naga merah muda di sampingnya sedikit lebih lemah, namun tetap berada pada tingkat yang menakutkan bagi manusia biasa.

Tatapan Boqin Changing lalu bergeser ke kerumunan siluman. Di antara ribuan makhluk itu, ia menemukan empat aura yang berbeda. Empat raja siluman.

Raja siluman badak berdiri dengan kulit tebal keabu-abuan. Raja siluman harimau menatap dengan mata emas yang dipenuhi niat membunuh. Raja siluman kera menggenggam tongkat batu besar, tubuhnya penuh otot dan bekas luka. Lalu raja siluman kalajengking bersembunyi setengah tubuhnya di dalam tanah, ekornya melengkung tinggi dengan sengat hitam mengkilap.

Keempat raja siluman itu juga memiliki badan yang besar walaupun jelas tidak sebesar binatang suci. Hal itu wajar karena binatang suci adalah evolusi lanjutan dari raja siluman.

Ada jugq siluman seribu tahun dan siluman seratus tahun yang jumlahnya puluhan. Aura mereka saling bertumpuk, membuat tekanan di udara terasa seperti beban nyata yang menekan dada.

Boqin Changing menarik napas pelan. Hutan ini benar-benar penuh dengan makhluk kuat. Pantas saja tidak ada seorang pun pendekar yang bisa kembali hidup-hidup setelah memasuki hutan bagian barat Dataran Goutian. Tempat ini bukan sekadar hutan liar  ini adalah wilayah kekuasaan binatang suci dan para raja siluman.

Di tengah keheningan yang menegangkan itu, naga hijau perlahan mengangkat kepalanya tinggi-tinggi. Matanya yang besar dan dalam menatap langsung ke arah Boqin Changing dan Sha Nuo.

Naga hijau itu tidak langsung menyerang. Kepalanya sedikit menoleh ke samping, memberi ruang pada salah satu raja siluman untuk maju.

Raja siluman badak melangkah ke depan. Setiap pijakannya membuat tanah bergetar pelan. Tubuh besarnya seperti batu hidup, kulit abu-abu tebalnya dipenuhi retakan alami seperti permukaan karang tua. Ia berhenti beberapa ratus langkah dari Boqin Changing dan Sha Nuo, lalu menundukkan kepala sedikit ke arah kedua naga di belakangnya.

Kemudian ia mengeluarkan suara rendah dan berat. Bukan bahasa manusia.

Suara itu terdengar seperti campuran dengusan, getaran dada, dan bunyi kasar yang tidak memiliki bentuk kata yang jelas. Nada suaranya dalam dan berirama, seolah setiap bunyi membawa makna tertentu. Naga hijau membalas dengan geraman panjang, sementara naga merah muda mengeluarkan suara lembut yang hampir seperti desisan angin. Ribuan siluman di sekitar mereka tetap diam, seakan percakapan itu adalah sesuatu yang wajar.

Sha Nuo sedikit memiringkan kepalanya, lalu berbisik pelan tanpa mengalihkan pandangan dari raja siluman badak.

“Apa yang mereka bicarakan?”

Ia menoleh sebentar ke arah Boqin Changing, lalu mendesah kecil.

“Eh… untuk apa aku bertanya itu? Kau pasti juga tidak paham.”

Namun beberapa detik kemudian, suara tenang Boqin Changing terdengar.

“Raja siluman badak itu berkata bahwa kita berdua adalah dua orang yang selama seminggu ini masuk tanpa izin ke kawasan hutan mereka.”

Sha Nuo langsung menoleh cepat. Wajahnya yang biasanya datar kini menunjukkan keterkejutan yang jelas.

“Kau bisa bahasa siluman?”

Boqin Changing tetap menatap ke depan, ekspresinya tenang seperti biasa.

“Aku tahu sedikit.”

Boqin Changing memang menguasai sedikit bahasa siluman. Ia memperoleh pengetahuan itu dari salah satu pengikutnya yang ia panggil dari bola pemanggil di kehidupan pertamanya.

Sha Nuo menggelengkan kepalanya perlahan, napasnya terdengar seperti tawa kecil yang tertahan.

“Apa sebenarnya yang tidak kau bisa?”

Di depan mereka, raja siluman badak kembali bersuara. Kali ini nadanya lebih berat. Tanah di bawah kakinya retak tipis saat ia mengangkat kepala tinggi-tinggi.

Boqin Changing menyipitkan mata sedikit, mendengarkan dengan saksama.

“Naga itu tidak berniat langsung membunuh kita,” katanya pelan.

Sha Nuo mengangkat alis.

“Lalu?”

“Ia ingin memberi kita satu kesempatan untuk pergi dari hutan ini… sekarang juga,” jawab Boqin Changing datar.

Sha Nuo tertawa kecil.

“Mungkin ia ragu melawan kita.”

Boqin Changing melirik sebentar ke arah Sha Nuo.

“Mungkin.”

Udara di sekitar mereka terasa semakin tegang. Ribuan siluman masih diam, tetapi niat membunuh yang samar mulai menyebar seperti kabut tipis.

Naga hijau menghembuskan napas panjang. Kabut kehijauan keluar dari hidungnya dan menyapu tanah seperti awan rendah.

Boqin Changing tetap berdiri tegak. Sha Nuo justru tersenyum.

Aura kematian di sekeliling tubuhnya perlahan menguat. Kabut hitam mulai berputar lebih jelas, membuat siluman-siluman tingkat rendah di barisan depan mundur tanpa sadar.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!