(VOLUME 1: DARAH DI JURANG)
Angin musim gugur bertiup dingin di Kota Qinghe, membawa aroma dupa dan kue bulan yang manis.
Di kediaman Klan Lin, ratusan lampion merah tergantung di setiap sudut atap, bergoyang pelan seperti hantu api yang menari. Malam ini adalah Festival Bulan, satu-satunya malam di mana klan kecil di pinggiran Benua Timur ini melupakan kerasnya dunia kultivasi dan menikmati kehangatan fana.
Lin Xuan duduk di atas genteng paviliun timur, menatap bulan purnama yang bersinar terang di langit. Di tangannya, ia memegang sebuah liontin giok murah hadiah untuk ibunya.
"Xuan'er, turunlah. Ayahmu memanggil."
Suara lembut itu membuat Lin Xuan menoleh. Di halaman bawah, ibunya, Li Rou, melambaikan tangan. Wanita itu tampak anggun meski mengenakan jubah sederhana. Di sampingnya berdiri Lin Xiao, Patriark Klan Lin, pria paruh baya dengan wajah tegas namun mata yang hangat saat menatap putranya.
Lin Xuan melompat turun dengan ringan. Di ranah Qi Condensation Lapisan 3, lompatan setinggi lima meter hanyalah hal sepele.
"Ibu, Ayah," sapa Lin Xuan sopan.
Lin Xiao menepuk bahu putranya. "Kau sudah 15 tahun. Bakatmu memang bukan yang terbaik di kota ini, tapi kau rajin. Sebagai Patriark, aku bangga."
"Ayah tidak perlu menghiburku. Aku tahu Akar Roh ku hanya tiga elemen," Lin Xuan tersenyum kecut. Di dunia ini, kekuatan adalah segalanya. Tanpa bakat, ia hanya akan menjadi manajer toko klan atau penjaga gerbang.
"Kekuatan bukan hanya soal bakat, tapi juga takdir," Lin Xiao merendahkan suaranya, lalu mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil dari lengan bajunya. "Ini hadiah ulang tahunmu. Sebuah Pil Pengumpul Qi."
Mata Lin Xuan membelalak. Pil Pengumpul Qi harganya 500 Batu Roh. Itu pendapatan klan selama tiga bulan!
"Ayah, ini terlalu..."
"Ambillah," potong ibunya sambil tersenyum, menyematkan liontin giok pemberian Lin Xuan ke pinggangnya. "Kami hanya ingin kau aman. Jika kau bisa mencapai Lapisan 6 sebelum umur 20, kau bisa masuk sekte menengah dan hidup tenang."
Hidup tenang. Itulah impian terbesar klan kecil seperti mereka.
Namun, takdir seringkali memiliki selera humor yang kejam.
Tepat saat Lin Xuan hendak menyentuh kotak itu, angin berhenti bertiup.
Suara jangkrik lenyap.
Suara tawa dari aula utama klan terhenti seketika.
Tekanan udara berubah menjadi berat, seolah-olah langit tiba-tiba runtuh menimpa dada setiap orang di kediaman itu.
BOOOM!
Bukan suara ledakan, melainkan suara udara yang dipaksa menyingkir. Di atas langit malam, bulan purnama yang indah perlahan tertutup bayangan raksasa.
Sebuah Kapal Perang Kuno sepanjang tiga ribu meter membelah awan, melayang tepat di atas kediaman Klan Lin. Lambung kapal itu hitam pekat, dihiasi ukiran tengkorak perak yang menyala.
Bendera raksasa berkibar di atasnya, menyulam satu kata yang membuat darah setiap kultivator di Benua Timur membeku:
"BAYANGAN" (Shadow).
Sekte Bayangan Abadi. Salah satu dari Tanah Suci Delapan Bintang. Penguasa mutlak wilayah ini. Keberadaan mereka setara dengan dewa bagi klan semut seperti Klan Lin.
Wajah Lin Xiao memucat, darah seakan terkuras habis dari tubuhnya. "Kenapa... kenapa Raksasa seperti mereka ada di sini?"
Dari atas kapal perang, tujuh sosok turun perlahan. Mereka tidak menggunakan pedang terbang atau artefak, melainkan berjalan di udara tanda ranah Core Formation atau lebih tinggi.
Tekanan aura (Killing Intent) yang mereka pancarkan membuat pelayan-pelayan Klan Lin yang fana langsung memuntahkan darah dan pingsan. Lin Xuan merasa lututnya gemetar hebat, tulang-tulangnya berderit menahan beban tak kasat mata.
Sosok pemimpin di udara itu adalah seorang tua berjubah ungu. Matanya tertutup, seolah memandang klan di bawahnya pun tak layak baginya.
"Patriark Klan Lin," suaranya pelan, tapi menggema di seluruh kota seperti guntur. "Keluarlah."
Lin Xiao gemetar, ia menatap istrinya sekilas, tatapan perpisahan yang pilu, sebelum melangkah maju dan berlutut di halaman.
"Hamba Lin Xiao, menyapa Tetua Agung Sekte Bayangan. Apa... apa kesalahan klan kecil kami hingga Tuan Agung turun ke sini?"
Orang tua itu membuka matanya. Hitam. Tanpa bagian putih sedikitpun.
"Kesalahanmu adalah memiliki sesuatu yang bukan hakmu," ucap orang tua itu datar. Ia mengangkat satu jari.
"Serahkan Cincin Jiwa Kuno. Atau malam ini, Kota Qinghe akan kuhapus dari peta, mulai dari anjing penjaga hingga bayi yang baru lahir."
Lin Xuan yang berlutut di belakang ayahnya bingung. Cincin apa? Klan Lin miskin, harta warisan leluhur hanya pedang besi karatan.
Tapi ia melihat punggung ayahnya menegang kaku. Dan yang lebih mengerikan, ia melihat ibunya, Li Rou, mundur selangkah. Wajah wanita itu bukan takut, melainkan... pasrah.
"Hitungan ketiga," kata Tetua itu.
"Satu."
Seorang murid Klan Lin yang mencoba lari di gerbang depan tiba-tiba meledak menjadi kabut darah tanpa disentuh.
"Dua."
Lin Xiao mendongak, matanya merah. "Tuan! Hamba tidak tahu cincin apa yang..."
CRAAAASH!
Sinar pedang hitam meluncur dari jari si Tetua. Tanpa peringatan, tanpa suara.
Kepala Lin Xiao terpisah dari lehernya, menggelinding pelan di atas tanah batu, berhenti tepat di depan lutut Lin Xuan.
Darah hangat muncrat membasahi wajah Lin Xuan.
Dunia hening.
Tidak ada teriakan. Tenggorokan Lin Xuan tercekat. Otaknya menolak memproses apa yang dilihat matanya. Kotak Pil Pengumpul Qi di tangannya jatuh, isinya menggelinding bercampur darah ayahnya.
"Ayah...?" bisik Lin Xuan, suaranya pecah.
Tetua di langit mendengus dingin. "Masih mau berpura-pura? Geledah mayatnya. Bunuh sisanya. Jangan sisakan satu nyawa pun."
"TIDAK!"
Teriakan itu bukan dari Lin Xuan, tapi dari Li Rou. Ibunya.
Wanita lembut itu tiba-tiba menerjang ke arah Lin Xuan, bukan untuk memeluk, tapi mencengkeram kerah bajunya dengan kekuatan yang mengejutkan.
"Xuan'er! Lari ke Jurang Belakang! JANGAN MENOLEH!"
"Ibu! Ayah... Ayah mati..." Lin Xuan menangis histeris, akalnya hilang.
"DENGARKAN IBU!" Li Rou menampar wajah Lin Xuan keras sekali, menyadarkannya dari syok. Air mata mengalir di pipi wanita itu, tapi matanya menyala dengan tekad gila.
Tangan kanan Li Rou tiba-tiba bergerak, jari-jarinya menegang seperti cakar. Dan di depan mata Lin Xuan yang terbelalak ngeri, ibunya menusukkan tangan itu ke dadanya sendiri.
Sreeeet!
Daging robek. Tulang rusuk patah.
Li Rou tidak berteriak. Ia merogoh ke dalam rongga dadanya sendiri, ke dalam jantung yang masih berdetak, dan menarik keluar sebuah cincin hitam kusam yang berlumuran darah segar.
Cincin itu selama ini disembunyikan di dalam jantungnya!
"Ambil..." desis Li Rou, memuntahkan darah segar. Ia menjejalkan cincin basah dan hangat itu ke tangan Lin Xuan yang gemetar. "Ini dosaku... tapi ini harapanmu. Hiduplah... balaskan kami!"
Sebelum Lin Xuan bisa menjawab, Li Rou menghimpun sisa tenaga terakhirnya dan mendorong tubuh putranya sekuat tenaga ke arah jurang di belakang kediaman.
Pada saat yang sama, ratusan sinar pedang dari Sekte Bayangan turun seperti hujan meteor, membakar Aula Klan Lin menjadi neraka.
Saat tubuh Lin Xuan terlempar ke udara menuju kegelapan jurang, pemandangan terakhir yang ia lihat adalah ibunya yang berdiri di tepi tebing, merentangkan tangan untuk menghalangi sinar pedang yang mengejar, sebelum tubuh wanita itu hancur lebur ditelan cahaya hitam.
"IBUUUUUUUU!!!"
Teriakan Lin Xuan ditelan oleh angin malam dan kegelapan jurang yang tak berujung.
...RANAH KULTIVASI...
...Qi Condensation (Lapis 1-9) → Dasar fisik....
...Foundation Establishment → Membangun pilar spiritual....
...Core Formation → Memadatkan inti tenaga dalam....
...Nascent Soul → Kelahiran jiwa baru yang abadi....
...Soul Transformation → Kekuatan memengaruhi materi dengan jiwa....
...Ascendant → Menyatu dengan ketiadaan....
...Nirvana → Tahap setengah dewa....
...God Emperor → Penguasa hukum alam semesta....
Angin menderu di telinga Lin Xuan seperti jeritan hantu yang kelaparan.
Tubuhnya jatuh bebas menembus kabut tebal Jurang Maut. Gravitasi menariknya tanpa ampun, seolah-olah neraka sendiri sedang membuka mulut untuk menelannya.
Sreeeet!
Punggungnya menghantam cabang pohon yang tumbuh menjorok dari dinding tebing.
"Uhuk!"
Darah muncrat dari mulutnya. Cabang itu patah seketika, tapi cukup untuk memperlambat laju jatuhnya sedetik. Tubuhnya berputar, menabrak batu, memantul, lalu menghantam akar raksasa yang menjuntai di kegelapan.
Krak!
Suara tulang patah terdengar jelas. Tulang rusuk kiri, tulang selangka kanan, dan kaki kirinya hancur.
Rasa sakit yang tak terbayangkan meledak di seluruh sarafnya, membuatnya ingin pingsan. Tapi dia tidak bisa pingsan.
Tangan kanannya, yang sejak tadi mengepal erat, masih menggenggam benda terakhir pemberian ibunya. Cincin itu.
Tubuh Lin Xuan tersangkut di antara jalinan akar pohon tua yang tumbuh seratus meter dari dasar jurang. Di bawahnya, kegelapan pekat menanti. Di atasnya, hanya ada kabut hitam dan sisa-sisa asap kebakaran dari kediaman klan Lin.
Hening.
Hanya suara tetesan darahnya sendiri yang jatuh menimpa daun kering. Tes... tes... tes...
"Ibu... Ayah..."
Suaranya parau, hampir tak terdengar. Air mata bercampur darah mengaburkan pandangannya. Ingatan tentang kepala ayahnya yang menggelinding dan ibunya yang merobek dada sendiri berputar di kepalanya seperti mimpi buruk yang tak berujung.
Rasa sakit fisik ini tidak sebanding dengan lubang menganga di hatinya.
"Kenapa..."
"Kenapa kami?"
"Hanya karena sebuah cincin..."
Kemarahan mulai menggantikan rasa takut. Kebencian mulai membakar kesedihan.
Saat itulah, cincin di genggamannya bereaksi.
Cincin hitam kusam itu basah oleh darah ibunya, dan sekarang terendam oleh darah Lin Xuan. Benda itu bergetar. Bukan getaran mekanis, melainkan denyutan seperti jantung yang baru bangun dari tidur panjang.
Darah di tangan Lin Xuan tidak menetes lagi. Darah itu disedot.
"Argh!" Lin Xuan mengerang saat merasakan sensasi terbakar di telapak tangannya. Cincin itu memanas, menyerap esensi darahnya dengan rakus.
Wuuuung...
Kabut merah tipis merembes keluar dari cincin, memadat di udara lembap jurang, membentuk siluet samar seorang pria tua berjubah kuno.
Pria itu tidak menapak tanah, melainkan melayang setengah jengkal di atas akar pohon. Wajahnya samar, tapi matanya bersinar merah darah tajam, tua, dan penuh dengan aura kejahatan yang purba.
Ini bukan dewa penolong. Ini adalah iblis yang terkurung.
Sosok itu menatap Lin Xuan yang sekarat dengan tatapan merendahkan, seolah melihat serangga yang hampir mati terinjak.
"Menyedihkan," suara sosok itu bergema langsung di dalam kepala Lin Xuan, dingin dan menusuk. "Aku menunggu sepuluh ribu tahun untuk bangun, hanya untuk dibangunkan oleh bocah Qi Condensation Lapisan 3 yang sedang menangis?"
Lin Xuan mencoba mengangkat kepalanya, tapi lehernya terlalu sakit. "Si... siapa kau?"
"Siapa aku tidak penting bagimu sekarang, Bocah," sosok itu melayang mendekat. "Yang penting adalah kau akan mati dalam waktu sepuluh napas lagi. Paru-parumu bocor. Jantungmu melemah."
Sosok itu menunjuk ke arah atas, ke arah langit yang tak terlihat.
"Dan orang-orang yang membantai klanmu? Mereka sedang tertawa sekarang. Membagi harta keluargamu. Meminum arak di atas mayat ayahmu. Dan kau? Kau akan membusuk di sini, menjadi makanan cacing jurang, dilupakan sejarah."
Setiap kata itu seperti pisau yang mengiris hati Lin Xuan.
"Diam..." desis Lin Xuan.
"Kenapa aku harus diam?" Sosok itu terkekeh sinis. "Kenyataan memang pahit. Di dunia kultivasi, kelemahan adalah dosa asal. Orang tuamu mati bukan karena mereka jahat, tapi karena mereka lemah. Kau jatuh ke sini karena kau lemah."
"DIAM!" Lin Xuan berteriak, memuntahkan gumpalan darah lagi. Matanya yang tadinya redup kini menyala dengan kegilaan. "Aku akan membunuh mereka... Aku akan membunuh mereka semua! Sekte Bayangan... Tetua itu... semuanya!"
Sosok tua itu tersenyum lebar. Senyum yang mengerikan hingga memperlihatkan gigi-gigi tajam dari asap merah.
"Bagus. Kebencian. Itu bahan bakar yang jauh lebih murni daripada Qi alam semesta."
Sosok itu merendahkan tubuhnya, mendekatkan wajah asapnya ke wajah Lin Xuan.
"Namaku Gu Tianxie. Dunia dulu memanggilku Dao Leluhur Gu. Tapi itu masa lalu."
"Aku bisa menyelamatkanmu. Aku bisa memberimu kekuatan untuk memenggal kepala tetua yang membunuh ayahmu. Aku bisa membuatmu berdiri di puncak dunia, menginjak semua sekte sombong itu di bawah kakimu."
Lin Xuan menatap mata merah itu. Dia tahu ini bukan tawaran gratis. Dia pernah mendengar dongeng tentang kultivator iblis yang menipu manusia.
"Apa... bayarannya?" tanya Lin Xuan serak.
Gu Tianxie tertawa, suara tawanya membuat dinding jurang bergetar. "Anak pintar. Tidak ada yang gratis di bawah langit ini."
"Bayarannya sederhana. Tubuhmu, rasa sakitmu, dan jalan hidupmu. Cincin ini, Cincin Samsara Darah, membutuhkan darah untuk berfungsi. Setiap kali kau meminjam kekuatanku, kau harus membayar dengan rasa sakit seratus kali lipat. Dan suatu hari nanti, ketika kau mencapai puncak... kau harus melakukan satu hal untukku."
"Apa itu?"
"Membangkitkan tubuh asliku dan membunuh musuhku di Alam Dewa Tertinggi."
Lin Xuan tidak peduli tentang Alam Dewa. Dia tidak peduli tentang musuh orang tua ini. Yang dia pedulikan hanyalah pedang di leher Sekte Bayangan.
"Jika aku menolak?"
"Kau mati di sini. Sekarang."
Pilihan yang mudah.
Lin Xuan memejamkan mata. Bayangan ibunya yang merobek dada sendiri melintas lagi. Hiduplah... Balaskan kami.
Dia membuka matanya. Tidak ada lagi keraguan. Hanya ada dingin yang membeku.
"Aku terima," bisik Lin Xuan. "Ambil apapun yang kau mau. Selama aku bisa membunuh mereka."
"Sepakat," kata Gu Tianxie.
Sosok asap itu tiba-tiba meledak, berubah menjadi ribuan jarum merah kecil yang menusuk masuk ke dalam pori-pori Lin Xuan.
"AAARGHHHHH!"
Lin Xuan menjerit. Rasanya bukan seperti disembuhkan, tapi seperti direbus hidup-hidup.
Cincin di tangannya bersinar menyilaukan. Energi merah pekat mengalir deras ke dalam tubuhnya yang hancur.
Krak! Krak! Krak!
Tulang-tulangnya yang patah dipaksa menyatu kembali dengan kasar. Serpihan tulang yang hancur dibakar menjadi abu, digantikan oleh sumsum baru yang berwarna hitam kemerahan.
"Tahan rasa sakitnya!" suara Gu menggema di kepalanya. "Ini adalah hadiah pertamaku! Teknik Penempaan Tulang Asura! Hancurkan untuk membangun! Mati untuk hidup kembali!"
Dagingnya yang robek merajut diri dengan kecepatan yang terlihat mata telanjang. Tapi proses regenerasi itu lebih menyakitkan daripada saat terluka. Saraf-sarafnya menjerit, mengirim sinyal penderitaan ke otak tanpa henti.
Lin Xuan menggigit bibirnya hingga putus, darah mengalir ke dagu. Dia menolak untuk pingsan. Dia menanamkan rasa sakit ini dalam-dalam ke ingatannya.
Ingat rasa sakit ini, Lin Xuan, batinnya berteriak. Setiap detik rasa sakit ini adalah hutang yang harus dibayar oleh Sekte Bayangan!
Satu jam kemudian.
Cahaya merah meredup.
Di atas akar pohon tua itu, seorang pemuda duduk bersila. Pakaiannya compang-camping, berlumuran darah kering. Tapi tubuh di balik kain robek itu kini utuh. Kulitnya pucat seperti mayat, tapi di bawahnya tersembunyi kekuatan ledakan yang tak pernah dia miliki sebelumnya.
Lin Xuan membuka matanya.
Pupil matanya yang hitam kini memiliki setitik cahaya merah di tengahnya. Aura naif seorang bocah desa telah lenyap sepenuhnya, digantikan oleh aura dingin seorang pembunuh yang baru lahir.
Dia mengangkat tangannya, menatap cincin hitam di jari manisnya.
"Sekte Bayangan..." gumamnya pelan. Suaranya datar, tanpa emosi, tapi lebih menakutkan daripada teriakan kemarahan manapun.
"Tunggu aku."
Lin Xuan terbangun karena rasa lapar.
Bukan rasa lapar biasa yang meminta nasi atau roti. Ini adalah kelaparan yang mendasar, seolah-olah setiap sel di tubuhnya sedang berteriak meminta bahan bakar. Perutnya melilit bukan karena kosong, tapi karena sumsum tulang barunya membutuhkan energi untuk memadat.
Ia membuka mata. Gelap.
Dia berada di dasar Jurang Maut. Cahaya matahari dari atas sana tidak mampu menembus kabut tebal berlapis-lapis. Satu-satunya penerangan berasal dari jamur-jamur raksasa setinggi manusia yang memancarkan cahaya biru pucat dan menyeramkan (bioluminescent).
Udara di sini lembap, berbau lumut busuk dan bangkai hewan yang membusuk.
Lin Xuan mencoba duduk.
Krak!
Tanah batu di bawah telapak tangannya retak saat ia menekannya untuk bangun.
Lin Xuan tertegun. Dia menatap tangannya. Kulitnya pucat pasi, hampir transparan hingga pembuluh darah biru di bawahnya terlihat jelas. Tapi saat dia mengepal, dia merasakan kekuatan yang asing. Lengannya terasa berat, padat, seperti diisi timah cair.
"Kau sudah bangun, Bocah," suara Gu Tianxie bergema di dalam kepalanya, malas dan serak.
"Berapa lama aku pingsan?" tanya Lin Xuan. Suaranya sendiri terdengar berbeda—lebih berat dan dingin.
"Tiga hari. Cukup lama bagi seekor Serigala Gigi Baja untuk menemukanmu dan menjadikanmu makan malam."
Lin Xuan menoleh tajam.
Di balik keremangan jamur bercahaya, sekitar sepuluh langkah darinya, sepasang mata kuning menyala menatapnya.
Seekor serigala setinggi pinggang manusia keluar dari bayangan. Bulunya kaku seperti jarum besi, dan dari mulutnya yang meneteskan liur, terlihat taring-taring yang berkilap logam.
Serigala Gigi Baja (Steel-Tooth Wolf). Binatang buas Tingkat 1 Menengah. Setara dengan Kultivator Qi Condensation Lapisan 4.
Dulu, saat Lin Xuan masih di Lapisan 3 dengan tubuh manusia biasa, dia harus lari jika melihat makhluk ini. Kulitnya terlalu keras untuk pedang biasa.
"Pedangku..." Lin Xuan meraba pinggangnya. Kosong. Pedang besi klan Lin patah saat dia jatuh.
"Kau tidak butuh besi rongsokan itu," cibir Gu di kepalanya. "Tubuhmu sekarang adalah senjata. Kitab Suci Tulang Asura tahap awal: Tulang Besi Hitam. Uji coba kekuatan barumu."
Serigala itu menggeram rendah, merasakan perubahan aura mangsanya. Namun insting binatangnya mengatakan bahwa manusia di depannya terluka dan sendirian.
GRAAARR!
Serigala itu menerjang. Kecepatannya seperti bayangan hitam.
Lin Xuan tidak sempat berpikir. Insting bertarungnya mengambil alih. Dia tidak menghindar. Dia maju.
DUAGH!
Serigala itu menabrak dada Lin Xuan. Taring bajanya menancap di bahu kiri Lin Xuan.
"ARGH!" Lin Xuan berteriak.
Rasa sakitnya bukan main. Seperti bahunya disiram air keras dan ditusuk paku panas sekaligus. Ingat, Cincin Samsara Darah meningkatkan sensitivitas rasa sakit 100 kali lipat. Gigitan yang seharusnya hanya sakit biasa, kini terasa seperti penyiksaan neraka.
Tapi anehnya... taring itu tidak menembus dalam.
Hanya kulit luar yang robek. Taring baja serigala itu berhenti saat membentur tulang selangka Lin Xuan.
Ting!
Suara logam beradu dengan logam terdengar jelas.
Serigala itu terkejut. Matanya membelalak bingung. Gigitannya yang biasa meremukkan tulang mangsa, kini tertahan.
Mata Lin Xuan memerah karena rasa sakit yang gila, tapi bibirnya menyeringai. Adrenalin dan kemarahan membanjiri otaknya.
"Sakit sekali..." desis Lin Xuan, napasnya memburu. "Tapi... kau tidak bisa membunuhku!"
Tangan kanan Lin Xuan bergerak, mencengkeram leher serigala itu. Cengkeramannya kuat, jari-jarinya menekan seperti catut besi.
KREK!
Suara tulang leher serigala yang retak terdengar renyah.
Serigala itu melolong kesakitan, mencakar-cakar dada Lin Xuan dengan kaki depannya. Baju Lin Xuan robek, kulit dadanya tergores berdarah-darah. Rasa sakit itu bertumpuk-tumpuk perih, panas, menyengat.
Tapi Lin Xuan tidak melepaskan. Dia justru mempererat cengkeramannya, mengabaikan rasa sakit yang membuat pandangannya berkunang-kunang.
"Mati... MATI KAU!"
Lin Xuan mengangkat serigala seberat 80 kilogram itu dengan satu tangan, lalu membantingnya ke tanah batu.
BAM!
Serigala itu masih meronta.
Lin Xuan mengangkat tinju kirinya. Qi merah tipis menyelimuti kepalan tangannya.
BAM!
Kepala serigala itu retak. Darah muncrat ke wajah Lin Xuan.
BAM! BAM! BAM!
Lin Xuan memukul lagi dan lagi. Dia tidak berhenti meski serigala itu sudah berhenti bergerak. Dia memukul sampai kepala binatang buas itu hancur menjadi bubur daging dan tulang. Dia melampiaskan semua ketakutan, semua kesedihan, dan semua kemarahannya pada bangkai itu.
"Cukup," suara Gu menghentikannya.
Lin Xuan terengah-engah. Tangannya berlumuran darah kental dan otak serigala. Dia duduk terkulai di samping bangkai itu, seluruh tubuhnya gemetar karena sisa adrenalin dan rasa sakit dari luka-lukanya.
"Kau bertarung seperti orang gila. Tanpa teknik, hanya nafsu membunuh," komentar Gu datar. "Tapi untuk pemula, itu lumayan."
Lin Xuan menatap mayat serigala itu. Ini pertama kalinya dia membunuh sesuatu dengan tangan kosong sebrutal ini. Perutnya mual.
"Sekarang, makan," perintah Gu.
Lin Xuan terdiam. "Apa?"
"Cincinmu butuh energi. Tulangmu butuh kekuatan dan Qi darah untuk pulih dari retakan kecil akibat benturan tadi. Di sini tidak ada Pil Pemulihan. Kau harus mengambilnya dari alam."
"Maksudmu... memakan daging mentah ini?" Lin Xuan menatap daging serigala yang hancur itu dengan jijik. Dia manusia beradab, bukan binatang.
"Kau ingin balas dendam?" suara Gu menjadi dingin dan tajam. "Sekte Bayangan meminum arak spiritual dan memakan daging naga setiap hari. Kau pikir kau bisa mengejar mereka dengan memakan jamur dan minum air embun? Jangan naif!"
"Di jalan Asura, segala sesuatu yang bernyawa adalah sumber daya. Darah adalah arakmu. Daging adalah pilmu. Makan, atau mati kelaparan di sini."
Perut Lin Xuan berbunyi keras lagi, kali ini disertai rasa sakit yang menusuk. Tubuhnya menuntut asupan.
Lin Xuan menatap darah yang menggenang di batu. Anyir. Merah.
Dia memejamkan mata, membayangkan wajah ibunya yang tersenyum, lalu wajah ayahnya yang terpenggal.
Rasa jijik itu perlahan hilang, digantikan oleh tekad dingin.
Dia mengulurkan tangan, merobek paha serigala itu yang masih hangat. Darah menetes dari sela-sela jarinya.
Lin Xuan membuka mulutnya dan menggigit daging mentah itu.
Rasanya amis, kenyal, dan memuakkan. Dia ingin muntah, tapi dia memaksanya masuk ke tenggorokan.
Saat daging itu masuk ke perut, Cincin Jiwa Kuno di jarinya bersinar redup. Sensasi hangat menyebar dari perut ke seluruh tulang-tulangnya. Rasa sakit di bahunya mereda sedikit. Tenaganya kembali.
Ini... ini berhasil, batinnya ngeri sekaligus takjub.
Dia menggigit lagi. Dan lagi.
Di kegelapan dasar jurang, seorang pemuda duduk sendirian di samping bangkai serigala, memakan daging mentah dengan wajah tanpa ekspresi, sementara mata merah hantu tua mengawasinya dengan kepuasan.
Malam itu, Lin Xuan belajar satu hal: Di dunia ini, hanya ada dua jenis makhluk.
Mangsa dan Pemangsa.
Dan dia bersumpah tidak akan pernah menjadi mangsa lagi.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!