Bunyi detak jantung bayi dari alat Doppler masih terngiang di telinga Rengganis saat ia melepaskan stetoskop dari lehernya.
Ruang praktiknya yang beraroma antiseptik dimana dunianya ia memegang kendali penuh. Namun, tepat setelah pasien terakhir keluar, kendali itu seolah perlahan menguap.
Tok, tok, tok.
Pintu terbuka sedikit, menampakkan wajah Perawat Dina.
"Masuklah, Dina." ucap Rengganis.
"Dokter, ini laporan terakhir. Besok pagi jadwal penuh, ada dua tindakan operasi caesar di jam delapan dan sepuluh."
Rengganis hanya mengangguk pelan, jemarinya memijat pangkal hidung yang terasa penat.
"Terima kasih, Dina. Pastikan semua hasil lab mereka sudah masuk ke meja saya sebelum subuh."
Ia menghela napas panjang, bersiap melepas jas putih kebanggaannya untuk pulang dan menenggelamkan diri dalam tumpukan jurnal medis. Namun, lamunannya terputus saat pintu ruangannya kembali terbuka.
Rengganis mengira kalau Dina kembali masuk ke ruangannya. Namun sosok yang paling ia hindari jika sedang merasa lelah yaitu kedua orang tuanya.
"Ganis, ayo siap-siap. Kita makan malam di luar, Papa sudah pesan tempat," ujar Papa Baskoro dengan nada yang tidak menerima penolakan.
Rengganis mematung, tangannya tertahan di kancing jas.
"Pa, aku baru saja menyelesaikan sepuluh pasien. Aku lelah. Kalau ini soal perjodohan lagi, tolong. Aku sudah besar."
Mama Ira melangkah masuk sambil menatap putrinya dengan tatapan penuh kasih sayang dan gemas kepada putrinya.
"Bukan besar, Ganis. Tapi tua," sahut Mama Ira tajam namun tenang.
Perkataan yang dilontarkan oleh Mama, menghantam Rengganis lebih keras dari diagnosa medis manapun.
"Umur kamu sudah empat puluh tahun. Sampai kapan kamu mau mengurusi kelahiran anak orang lain, sementara rahimmu sendiri kamu biarkan mati rasa?"
Mama Ira mendekat, menyentuh bahu Rengganis yang kaku.
"Papa dan Mama juga ingin menggendong cucu dari darah dagingmu sendiri, sebelum kami tidak lagi kuat untuk sekadar berdiri."
Keheningan menyelimuti ruangan kerjanya. Di luar sana, Rengganis adalah dokter spesialis yang dipuja. Namun di hadapan kedua orang tuanya, ia hanyalah seorang wanita yang dianggap sedang berlomba dengan waktu yang hampir habis.
Rengganis menghela napas panjang, sebuah hembusan napas yang membawa sisa-sisa kelelahannya dari ruang operasi.
Dengan gerakan lunglai, ia melepas jas putih kebanggaannya, menyampirkannya di kursi kerja dengan perasaan kalah.
"Baiklah. Kita makan malam," ucapnya datar.
Wajah Papa seketika cerah, kerutan di dahinya memudar digantikan senyum kemenangan.
"Begitu baru anak Papa. Jangan sampai stetoskop itu membuatmu lupa cara menikmati hidup, Ganis."
Rengganis tidak menyahut dan langsung mengambil kunci mobilnya.
Rengganis melajukan sedan hitamnya membelah kemacetan kota menuju restoran yang telah ditentukan, sementara kedua orang tuanya berada di mobil lain.
Di sepanjang jalan, Rengganis terus merapal argumen di dalam kepala tentang alasan medis, statistik kesuburan, hingga kesibukan jadwal operasi—semua sudah ia siapkan untuk menolak siapa pun pria malang yang akan dijodohkan dengannya malam ini. Namun, semua argumen itu runtuh saat ia melangkah masuk ke ruang VIP restoran tersebut.
"Rudy! Amora! Sudah lama menunggu?" suara Papa menggema akrab.
Rengganis berdiri mematung di belakang orang tuanya.
Di depan sana, Om Rudy dan Tante Amora menyambut dengan hangat. Namun, perhatian Rengganis terkunci pada sosok pria yang duduk di sebelah mereka.
Pria itu berdiri dengan sopan, mengenakan kemeja slim-fit yang membungkus tubuh atletisnya dengan sempurna.
Wajahnya bersih, tajam, dan memancarkan kepercayaan diri yang hanya dimiliki oleh mereka yang dunianya baru saja dimulai.
'Dia masih sangat muda. Mungkin dua puluh lima?' batin Rengganis.
Ada gejolak rasa tidak nyaman yang tiba-tiba merayap di tengkuknya.
"Rengganis, Permadi. Kalian mengobrol lah. Papa dan Mama tidak akan menganggu kalian." ucap Mama yang kemudian mengajak mereka ke meja lain.
Setelah mereka pergi dan meninggalkan mereka berdua.
Rengganis menyesap air putihnya, lalu meletakkan gelasnya dengan denting yang sengaja ia buat tegas
Ia memutuskan untuk berbicara langsung pada intinya.
"Dengar, Permadi, atau siapa pun namamu. Lupakan saja perjodohan konyol ini. Kamu masih sangat muda. Jalanmu masih panjang, kariermu sedang naik daun. Kamu seharusnya mencari seseorang yang sebaya dengan kamu. Bukan malah terjebak dengan wanita yang menghabiskan harinya di antara bau obat-obatan."
Rengganis menyandarkan punggung, yakin argumennya akan membuat pemuda itu mundur. Namun, yang terjadi justru sebaliknya.
Permadi tidak terlihat tersinggung.
Ia justru menggeser kursinya, mencondongkan tubuh ke arah Rengganis hingga aroma parfum sandalwood yang maskulin menyerbu indra penciuman Rengganis.
"Kenapa harus dilupakan?" bisik Permadi dengan tatapan matayang tajam mengunci tatapan Rengganis.
"Aku justru suka sama...." ucap Permadi.
Permadi menjeda kalimatnya sejenak, memberikan penekanan yang membuat jantung Rengganis seolah berhenti berdetak.
"...Tante."
Rengganis membelalakkan matanya saat mendengar perkataan dari Permadi.
Perkataan Permadi terdengar seperti ejekan sekaligus tantangan yang dilontarkan dengan nada yang sangat, sangat menggoda.
Rengganis merasa otoritasnya sebagai dokter spesialis yang disegani baru saja runtuh hanya dengan satu sebutan singkat dari bibir pria "berondong" di hadapannya.
Rengganis merasakan desiran panas menjalar dari leher hingga ke puncak kepalanya.
Selama lima belas tahun kariernya, ia telah menghadapi berbagai macam pasien mulai dari yang paling kooperatif hingga yang paling keras kepala, namun belum pernah ada yang berani meruntuhkan martabatnya hanya dengan satu kata.
"Tante?" Rengganis mengulang kata itu dengan nada rendah yang berbahaya.
Ia meletakkan sendoknya dengan denting yang cukup keras hingga menarik perhatian pelayan di kejauhan.
Ia memajukan tubuhnya, menatap lurus ke dalam manik mata Permadi yang berkilat jenaka.
"Dengar ya, Adik Permadi. Saat saya sedang berjuang mati-matian di bangku kuliah kedokteran, kamu mungkin masih sibuk menangis karena lututmu lecet jatuh dari sepeda. Saat saya sudah memegang pisau bedah untuk menyelamatkan nyawa, kamu mungkin baru saja belajar cara memakai dasi yang benar."
Rengganis menyunggingkan senyum tipis yang meremehkan.
"Saya tidak butuh 'teman bermain' yang masih bau kencur. Saya butuh partner hidup yang setara, bukan anak ingusan yang sedang mencari pelampiasan rasa penasaran pada wanita yang lebih matang."
Bukannya menciut, Permadi justru tertawa renyah.
Tawa yang terdengar sangat lepas dan menyebalkan bagi Rengganis.
Pria itu menyandarkan punggung ke kursi, melipat tangan di depan dada dengan pose yang sangat dominan untuk seseorang yang baru saja disebut 'anak ingusan'.
"Tajam sekali. Saya suka dedikasi Anda pada profesi, Dokter Rengganis," ujar Permadi sambil menatap wajah Rengganis membelalakkan.
"Bagaimana kalau kita taruhan, Tante?"
Rengganis mengernyitkan dahi. "Taruhan? Kamu pikir pernikahan ini permainan judi?"
"Bukan judi, tapi pembuktian," sahut Permadi cepat.
Ia mencondongkan tubuh lagi, kali ini suaranya merendah menjadi bariton yang dalam.
"Kita jalani pernikahan ini. Kita ikuti kemauan orang tua kita. Dan saya akan buktikan bahwa 'anak ingusan' ini bisa memberikan kebahagiaan yang tidak akan pernah bisa diberikan oleh pria-pria membosankan seumuran Tante."
Permadi mengamati reaksi Rengganis yang masih mematung karena syok.
"Jika dalam satu tahun Tante tidak jatuh cinta pada saya, Tante boleh pergi dan saya yang akan menanggung semua cercaan keluarga besar. Tapi jika sebaliknya..." Permadi menggantung kalimatnya, membiarkan imajinasi Rengganis bekerja sendiri.
Rengganis menarik napas tajam saat mendengar perkataan dari Permadi.
Harga dirinya merasa tertantang. Sebagai wanita yang terbiasa menang dalam argumen medis, ia merasa konyol jika harus kalah telak oleh keberanian seorang pemuda di depannya.
"Kamu terlalu percaya diri, Permadi," desis Rengganis.
"Itu karena saya tahu apa yang saya mau," jawab Permadi mantap.
"Jadi, bagaimana, Dokter? Apakah Anda cukup berani untuk bertaruh dengan masa depan Anda sendiri?"
Rengganis merasakan jantungnya berdegup kencang karena emosi yang meluap.
Harga dirinya sebagai dokter spesialis yang terbiasa memegang kendali terasa diinjak-injak oleh seringai meremehkan pria di depannya.
Bagi Rengganis kata mundur berarti mengakui bahwa ia takut pada "anak ingusan" ini.
"Deal."
Satu kata itu meluncur dingin dari bibir Rengganis.
Ia menatap tajam ke mata Permadi, seolah sedang menandatangani surat operasi yang berisiko tinggi.
"Jangan menyesal kalau nanti kamu yang menangis minta pulang ke rumah mamamu, Permadi."
Tepat saat itu, kedua pasang orang tua mereka kembali ke meja dengan wajah penuh harap.
"Jadi, bagaimana?" tanya Papa sambil matanya melirik canggung ke arah Rengganis yang biasanya akan langsung meledak jika dijodohkan.
Rengganis menarik napas panjang, lalu berdiri dengan anggun namun tatapannya tetap menantang ke arah Permadi.
"Ganis setuju, Pa. Kami akan menikah."
Keheningan seketika menyelimuti meja tersebut. Mama Ira hampir menjatuhkan tas tangannya karena syok, sementara Om Rudy dan Tante Amora saling pandang dengan binar bahagia yang tak terbendung.
"Serius, Sayang? Kamu tidak sedang bercanda kan?" tanya Mama Ira memastikan.
"Ganis serius, Ma. Tapi..."
"Tapi ada satu hal lagi," potong Permadi tiba-tiba, suaranya mantap dan penuh otoritas yang tak terduga.
Ia berdiri di samping Rengganis, tingginya yang menjulang membuat Rengganis merasa sedikit terintimidasi.
Permadi menoleh ke arah orang tua mereka dengan senyum tipis.
"Om, Tante, Papa, Mama. Karena jadwal praktik Rengganis sangat padat dan perusahaanku sedang dalam masa ekspansi besar. Aku pikir tidak perlu menunggu bulan depan. Kita lakukan pernikahan inisekarang."
"Apa?!" Rengganis memekik dengan matanya yang membelalak sempurna hingga hampir keluar dari kelopaknya.
"Permadi, jangan gila! Pernikahan itu butuh persiapan bulan—"
"Aku sudah menyiapkan semuanya, Rengganis. Penghulu, saksi, bahkan tim MUA sudah menunggu di ruang VIP sebelah. Semua administrasi di KUA sudah aku 'kondisikan' sejak minggu lalu karena aku tahu kalau kamu tidak suka membuang waktu." sela Permadi dengan nada tenang yang sangat menyebalkan.
Rengganis terpaku di tempatnya. Belum sempat ia melayangkan protes kedua, pintu geser ruang VIP terbuka.
Dua orang wanita membawa koper kosmetik besar dan beberapa asisten masuk dengan sigap.
Di belakang mereka, seorang pria berseragam resmi dengan map cokelat dan seorang penghulu tersenyum ramah ke arah mereka.
"Dokter Rengganis? Mari, kami hanya punya waktu tiga puluh menit untuk merias Anda sebelum akad dimulai," ucap salah satu perias dengan sopan.
Rengganis menoleh ke arah Permadi yang kini sedang merapikan lengan kemejanya dengan santai.
Pria itu mendekat ke telinga Rengganis, membisikkan kata-kata yang membuat bulu kuduknya meremang.
"Selamat datang di duniamu yang baru, Tante. Kamu bilang aku anak ingusan, tapi anak ingusan ini baru saja membuatmu masuk ke dalam jebakan yang paling manis."
Rengganis hanya bisa membeku saat para perias mulai menarik lengannya.
Ia adalah seorang dokter yang terbiasa menjahit luka, tapi kali ini, ia merasa dialah yang sedang "dijahit" masuk ke dalam sebuah takdir yang sama sekali tidak ia duga.
Tiga puluh menit berlalu seperti mimpi buruk yang sangat terorganisir.
Rengganis menatap pantulan dirinya di cermin besar ruang VIP.
Kebaya putih brokat dengan potongan elegan membungkus tubuh matangnya dengan sempurna.
Riasannya tipis namun berkelas, menyamarkan kelelahan di bawah matanya, tapi tidak bisa menyembunyikan kegelisahan yang berkecamuk di dadanya.
Ia melangkah keluar dan mendapati kedua orang tuanya sudah mengenakan seragam keluarga yang senada.
Mama Ira tampak menyeka air mata bahagia, sementara Papa Baskoro menatapnya dengan bangga seolah baru saja memenangkan lotere terbesar dalam hidupnya.
"Ganis, kamu cantik sekali," bisik Mama Ira, merapikan sedikit tatanan rambut putrinya.
Rengganis hanya bisa diam membeku. Di tengah ruangan yang sudah disulap menjadi tempat akad nikah sederhana.
Permadi sudah duduk bersila di hadapan penghulu.
Jas hitamnya tampak sangat kontras dengan kemeja putih bersih di dalamnya.
Sorot matanya tajam, tidak ada lagi jejak 'anak ingusan' yang tadi ia olok-olok di sana.
Saat Rengganis dituntun untuk duduk di sebelah pria itu, Permadi sedikit memiringkan kepalanya.
Dengan gerakan yang sangat tipis namun sengaja, ia mengedipkan sebelah matanya ke arah Rengganis. Sebuah gestur yang seolah mengatakan: Game over, Tante.
"Saudara Permadi, apakah Anda sudah siap?" tanya Penghulu.
"Siap, Pak," jawab Permadi dengan suara bariton tanpa ragu sedikit pun.
Papa Baskoro menjabat tangan Permadi. Genggaman itu terasa begitu kuat di mata Rengganis.
Jantungnya berdebar sangat kencang, lebih kencang daripada saat ia menghadapi pasien dengan pre-eklampsia berat.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau, Permadi Wijaya bin Rudy Wijaya, dengan putri kandung saya, Rengganis Leksananingtyas, dengan mas kawin uang sebesar seratus juta rupiah, dibayar tunai!"
"Saya terima nikah dan kawinnya Rengganis Leksananingtyas binti Baskoro dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!" ucap Permadi dengan satu tarikan nafasnya.
"Sah?"
"SAH!"
Gemuruh doa mulai terdengar. Rengganis merasa dunianya seolah berputar.
Hanya dalam hitungan jam, statusnya berubah dari seorang dokter spesialis yang skeptis terhadap cinta, menjadi istri sah dari seorang pria yang usianya terpaut lima belas tahun darinya.
Permadi menoleh ke arahnya, kini dengan senyum kemenangan yang paling tulus sekaligus menyebalkan yang pernah Rengganis lihat. Ia meraih tangan Rengganis.
"Selamat datang di hidupku, Istriku," bisik Permadi tepat di telinganya.
Rengganis merasakan jemari Permadi yang hangat saat ia meraih tangan pria itu.
Kemudian ia membungkuk dan menyentuhkan keningnya pada punggung tangan suaminya.
Aroma maskulin yang elegan kembali menyerbu indra penciumannya, mengingatkan Rengganis bahwa ini bukan lagi sekadar simulasi medis atau mimpi buruk akibat kurang tidur. Ini nyata.
Permadi menatap istrinya dengan binar kemenangan yang tidak disembunyikan.
Permadi berdiri dan menjabat tangan Papa Baskoro dengan penuh hormat namun tetap terlihat dominan.
"Papa, Mama. Karena akad sudah selesai Aku mohon izin untuk membawa Rengganis pulang ke rumahku malam ini juga. Sebagai suami, aku ingin kami memulai malam pertama kami di tempat kami sendiri."
Rengganis tersentak. Pulang? Malam ini juga? Ia bahkan belum sempat berpamitan dengan tumpukan jurnal medis di meja kerjanya.
"Tapi, barang-barangku, bajuku, semua masih di rumah," sela Rengganis.
Ia mencoba mencari celah untuk menunda kenyataan bahwa ia harus berduaan dengan pemuda ini.
Papa Baskoro terkekeh-kekeh, menepuk bahu Permadi dengan akrab seolah mereka sudah berteman selama puluhan tahun.
"Sudah, jangan khawatir soal itu, Ganis. Barang-barangmu Papa antar besok pagi ke rumah Permadi. Malam ini, bawa saja dirimu sendiri. Kamu sudah resmi jadi tanggung jawab suamimu."
Mama Ira menambahkan dengan senyum penuh arti, "Lagipula, Permadi bilang dia sudah menyiapkan 'keperluan mendesak' untukmu di sana, Sayang."
Rengganis menoleh ke arah Permadi, menuntut penjelasan lewat tatapan matanya. Namun, Permadi hanya membalas dengan senyum simpul yang misterius.
"Ayo, Dokter. Pasienmu yang paling rewel malam ini adalah aku," bisik Permadi tepat di samping telinga Rengganis.
Mereka pun melangkah keluar dari restoran. Di lobi, sebuah mobil sport mewah sudah menunggu.
Permadi membukakan pintu untuk Rengganis dengan gerakan yang sangat ksatria dimana tipe gerakan yang biasanya hanya dilihat Rengganis di drama Korea yang sering ditonton perawat-perawatnya di rumah sakit.
Begitu mesin mobil menderu dan meninggalkan area restoran, keheningan di dalam kabin terasa begitu pekat.
Rengganis menatap keluar jendela, melihat lampu-lampu kota yang berkelebat, sementara Permadi menyetir dengan satu tangan yang santai, sesekali melirik 'istri matangnya' itu.
"Kenapa diam saja, Tante? Takut ya, berduaan dengan anak ingusan?" ucap Permadi dengan tertawa kecil.
Di dalam kabin mobil yang kedap suara itu, Rengganis duduk dengan punggung tegak dan tangan bersedekap.
Di balik wajahnya yang tenang dan profesional, otaknya sedang menyusun skenario yang jauh dari kata romantis.
Ia sedang membayangkan bagaimana jadinya jika tangannya yang terbiasa memegang pisau bedah itu berpindah ke leher suaminya yang menyebalkan ini.
Sedikit tekanan pada arteri karotis, dan pria berisik di sampingnya ini pasti akan diam.
Pluk!
Sebuah tepukan ringan di pundak membuyarkan fantasi gelapnya.
Rengganis tersentak, hampir saja ia melayangkan tas tangannya ke arah Permadi.
"Tante ngelamun apa?" tanya Permadi tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan, namun seringai nakal itu kembali muncul.
"Jangan-jangan Tante lagi ngelamun malam pertama, ya?"
Rengganis memutar bola matanya, mendengus keras.
"Jangan terlalu percaya diri. Aku cuma sedang berpikir, berapa lama waktu yang dibutuhkan sampai kamu bosan dengan permainan konyol ini."
Permadi melirik sekilas, lalu tiba-tiba melepaskan tawa yang menggema di seluruh ruang mobil.
"Duh, Tante. Jangan tegang-tegang amat. Ingat ya, anak ingusan ini belum siap kalau Tante agresif di malam pertama," ucap Permadi sambil terus tertawa terbahak-bahak, seolah kata-katanya adalah lelucon paling lucu di dunia.
"Sabar, Tante. Tenaga saya memang masih banyak, tapi saya juga tahu diri kalau Tante sudah umur segini butuh banyak istirahat."
"Permadi! Berhenti memanggilku Tante dan berhenti membicarakan hal-hal mesum! Aku ini istrimu, bukan pasien psikiatri!"
"Lho, tadi katanya aku anak ingusan? Jadi wajar dong aku panggil Tante," sahut Permadi dengan nada tanpa dosa.
Ia memutar kemudi dengan lincah, memasuki kawasan perumahan elit dengan gerbang yang dijaga ketat.
Mobil itu akhirnya berhenti di depan sebuah rumah minimalis modern yang sangat megah.
Arsitekturnya penuh dengan kaca besar, memancarkan kesan maskulin namun sangat elegan dan menggambarkan kepribadian pemiliknya.
Permadi mematikan mesin mobilnya, lalu menoleh sepenuhnya ke arah Rengganis.
"Kita sudah sampai di 'kandang' saya, Dokter Rengganis. Di sini, tidak ada perawat Dina, tidak ada Papa Baskoro, dan tidak ada pasien. Cuma ada kamu dan aku suamimu yang paling tampan ini."
Rengganis menelan salivanya saat mendengar perkataan dari suaminya.
Ia merasa seperti baru saja masuk ke sarang serigala yang berkedok anak domba.
Rengganis melangkah masuk ke dalam rumah modern itu dengan langkah kaku.
Begitu pintu tertutup, ia langsung mencari meja terdekat, mengambil secarik kertas dan pulpen dari tasnya.
Dengan gerakan cepat dan emosional, ia menuliskan beberapa poin 'perjanjian batasan' agar hidupnya tetap aman dari jangkauan pria muda ini.
"Ini," ucap Rengganis ketus sambil menyodorkan kertas itu ke dada Permadi.
"Baca dan patuhi. Tidak ada kontak fisik tanpa izin, kamar terpisah, dan—"
Sret! Sret!
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Permadi sudah merobek kertas itu menjadi serpihan kecil di depan matanya.
Potongan kertas itu jatuh ke lantai seperti konfeti yang mengejek.
"Peraturanmu membosankan, Tante," ujar Permadi dengan nada rendah yang berbahaya.
Kemudian ia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah map dokumen yang jauh lebih tebal.
"Sekarang, pakai peraturanku." ucap Permadi sambil melemparkan dokumen itu ke meja.
"Cepat tanda tangani kontrak ini, atau aku akan langsung menagih hak asasi suamiku malam ini juga."
Rengganis mendengus remeh. "Kamu mengancamku? Kamu pikir aku ta—"
Kalimat Rengganis terhenti seketika saat ia melihat Permadi mulai melepaskan kancing kemejanya satu per satu.
Bukan dengan cara yang elegan, melainkan dengan gerakan konyol sekaligus provokatif—semacam joget erotis amatir yang sangat menyebalkan namun entah bagaimana membuat Rengganis salah tingkah.
"Satu kancing lepas, dua kancing lepas. Tante mau lihat kelanjutannya?" goda Permadi sambil menggoyangkan bahunya, memamerkan otot dadanya yang mulai terlihat di balik kemeja yang terbuka.
"Permadi! Berhenti! Apa yang kamu lakukan?!" teriak Rengganis dengan wajahnya yang memerah seperti kepiting rebus.
Ia tidak menyangka "anak ingusan" ini akan senekat itu untuk mengerjainya.
"Tanda tangan sekarang, atau kemeja ini melayang ke lantai dalam hitungan ketiga!"
Permadi mulai memutar-mutar kemejanya di udara seolah sedang berada di atas panggung klub malam.
Rengganis yang panik, malu, dan tidak sanggup melihat pemandangan "absurd" di depannya itu langsung menyambar pulpen.
Tanpa membaca satu kata pun dalam dokumen setebal sepuluh halaman itu, ia membubuhkan tanda tangannya dengan tangan gemetar.
"Sudah! Diam dan pakai baju kamu!" seru Rengganis sambil membanting pulpen itu.
Permadi seketika berhenti berjoget dan kembali memakai kemejanya dengan senyum kemenangan yang paling lebar.
Ia mengambil dokumen itu, memeluknya di dada seolah-olah itu adalah harta karun.
"Pilihan yang cerdas, Istriku," bisik Permadi sambil mengerling nakal.
"Tante baru saja menandatangani kesepakatan untuk liburan berdua ke Labuan Bajo dan janji untuk tidak mengusirku dari kamar utama."
Rengganis tertegun. "Apa? Kamu curang! Aku belum baca!"
"Salah sendiri Tante lebih milih tanda tangan daripada lihat aku striptease," tawa Permadi meledak, meninggalkan Rengganis yang hanya bisa berdiri mematung sambil merutuki keputusannya yang impulsif.
Permadi dengan sigap menghindar, melompat ke balik sofa ruang tamu sambil melambaikan kertas kontrak itu tinggi-tinggi di udara.
Wajahnya yang tampan terlihat sangat puas melihat dokter spesialis yang biasanya dingin dan kaku itu kini tampak seperti remaja yang sedang meledak amarahnya.
"Sabar, Tante! Jangan lari-lari, nanti asam uratnya kambuh lho!" ejek Permadi sambil tertawa terbahak-bahak.
"Sini kamu, anak ingusan! Sobek kertas itu sekarang juga!" teriak Rengganis.
Ia tidak peduli lagi dengan keanggunan kebayanya.
Ia mengangkat sedikit kain bawahnya agar bisa melangkah lebih lebar, mengejar Permadi yang lincah berpindah dari satu sisi ruangan ke sisi lainnya.
Permadi berhenti sejenak, membuka halaman kedua dengan dramatis.
"Ayo dengarkan poin nomor lima, Tante! 'Pihak Kedua alias Rengganis, wajib mencium pipi Pihak Kesatu setiap kali Pihak Kesatu pulang kerja sebagai asupan vitamin supaya tidak tipes.'"
"GILA! Aku ini dokter, bukan suster pribadi kamu!" Rengganis melemparkan bantal sofa ke arah Permadi, namun dengan gesit pria itu menghindar.
"Lanjut poin nomor delapan!"
Permadi berteriak sambil berlari menuju tangga, " 'Pihak Kedua dilarang memanggil Pihak Kesatu dengan sebutan 'Dek', 'Berondong', atau 'Bocah', melainkan harus memanggil dengan sebutan 'Sayang' atau 'Mas Suami Tampan'. Jika melanggar, denda satu kali pelukan durasi tiga puluh detik!'"
"PERMADIIIIII! SINI KAMU!"
Rengganis benar-benar hilang kendali dan berlari menaiki tangga mengejar Permadi.
Suara derap langkah kaki mereka bergema di seluruh rumah mewah itu.
Rengganis yang biasanya memegang kendali penuh di ruang operasi, kini justru dipermainkan oleh suaminya sendiri.
Sial bagi Rengganis, kakinya tersangkut ujung kain kebayanya sendiri di anak tangga terakhir.
"Aaah!"
Dalam sekejap, Permadi yang tadinya berada beberapa langkah di depan, langsung berbalik dan menangkap tubuh Rengganis sebelum jatuh tersungkur.
Kekuatan fisik Permadi bukan main-main, ia langsung menahan pinggang Rengganis dengan satu lengan yang kokoh, membuat jarak wajah mereka hanya terpaut beberapa sentimeter.
Napas Rengganis tersenggal-senggal, dadanya naik turun karena emosi dan kelelahan.
Permadi menatapnya, tidak lagi tertawa, namun dengan tatapan yang sangat intens dan hangat.
"Tuh kan, baru saja dibilang jangan lari-lari," bisik Permadi rendah.
"Kenapa Tante berambisi sekali mengejar aku? Segitu cintanya ya sampai mau menangkap saya secepat ini?"
Rengganis mematung sampai jantungnya berdegup kencang, dan kali ini ia tidak yakin apakah itu karena habis berlari atau karena tatapan pria yang baru saja ia nikahi ini.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!