"Laras, kamu sudah kirim uang bulanan untuk Ibu dan Tiara?" tanya Arga sambil mengunyah sarapannya.
Seperti bulan-bulan sebelumnya selama empat tahun ini, Arga selalu menagih istrinya untuk menyokong kebutuhan ibu dan adik bungsunya. Ibu Arga adalah seorang janda, dan Tiara masih menempuh bangku perkuliahan. Meski Arga memiliki dua kakak, satu laki-laki dan satu kakak perempuan, entah mengapa seluruh beban finansial ibu dan adiknya justru dilimpahkan kepada Laras.
"Iya, Mas. Sudah," jawab Laras singkat. Ia terus mengunyah nasi gorengnya tanpa sekalipun menoleh ke arah suaminya.
Tiba-tiba, ponsel Arga bergetar. Sebuah notifikasi pesan masuk membuatnya langsung berhenti makan. Setelah membaca pesan tersebut, wajahnya berubah merah. Ia menatap Laras dengan sorot mata tajam.
"Apa maksudnya ini, Laras? Hah?" Arga menyodorkan layar ponselnya, memperlihatkan pesan protes dari ibunya.
"Maksud Mas?" tanya Laras pura-pura tidak mengerti, padahal ia tahu persis apa yang sedang dipermasalahkan suaminya.
"Kenapa kamu cuma kirimin Ibu dan Tiara masing-masing satu juta? Biasanya kamu kasih Ibu enam juta dan Tiara tiga juta. Belum lagi Tiara bilang ini waktunya bayar uang semester!" suara Arga mulai meninggi.
Sudah Laras duga, Ibu Ajeng pasti langsung melapor pada anaknya itu. Padahal baru sepuluh menit yang lalu Laras mentransfer uangnya. Cepat sekali mereka mengadu pada anaknya itu.
Selama empat tahun pernikahan, Laraslah yang memenuhi segala kebutuhan ibu mertua dan adik iparnya. Awalnya, Laras tidak keberatan karena ia menganggap itu sebagai bentuk bakti. Namun, lama-kelamaan kebaikannya justru dimanfaatkan. Arga seolah lepas tangan dan mengabaikan tugasnya sebagai kepala rumah tangga.
"Maaf, Mas. Mulai bulan ini aku hanya bisa memberi jumlah segitu. Aku juga punya banyak kebutuhan pribadi. Lagipula, masih ada Mas Dimas dan Mbak Maya yang bisa membantu. Ibu dan Tiara bukan tanggung jawab penuhku, Mas," ucap Laras tenang namun tegas.
"Laras! Kamu mau perhitungan dengan keluargaku? Gaji kamu itu besar, apa salahnya membantu mereka? Mereka itu keluarga kamu juga atau jangan-jangan uangnya mau kamu kasih ke orang tuamu sendiri?" tuduh Arga dengan nada kasar.
"Kalaupun aku mau memberi orang tuaku, itu hakku, Mas. Itu uangku sendiri. Sekarang aku tanya padamu, apa yang sudah kamu berikan untuk orang tuaku sampai kamu berani menuntutku terus-menerus?" Laras membalas telak. "Mas Dimas punya gaji yang mapan, Mbak Maya punya toko sembako besar. Mereka sanggup membantu. Jadi, satu juta dariku sudah lebih dari cukup untuk Ibu."
Brak!
Argamenggebrak meja makan, tak terima dengan argumen istrinya. Baginya, Laras sudah sangat berani dan melampaui batas. Namun, Laras tidak gentar sedikit pun.
"Laras, kamu itu istriku! Kamu harus patuh padaku. Tiara itu mau bayar uang semester. Kalau tidak bayar, dia tidak bisa ikut ujian. Jangan egois jadi orang!" Arga mencoba merendahkan suaranya, mencoba memanipulasi perasaan Laras.
"Maaf Mas, tetap tidak bisa. Aku butuh uang karena besok siang aku akan pergi berlibur dengan teman-temanku. Sekali-kali, kamulah yang bayar uang semester Tiara. Selama tiga tahun ini, aku terus yang menanggungnya," ujar Laras sambil menyudahi sarapannya.
"Gajiku mana cukup untuk bayar semester Tiara! Kamu kan tahu gajiku kecil! Untuk apa kamu liburan? Lebih baik uangnya dipakai untuk hal yang lebih penting, untuk bayar semester Tiara!" bentak Arga yang kian geram.
Laras hanya menghela napas panjang. Ia sudah muak bertengkar pagi-pagi. Ia bangkit, membawa piring dan gelas bekasnya ke wastafel, lalu mencucinya sendiri. Selama dua tahun ini, ia juga mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tanpa asisten rumah tangga demi menghemat biaya.
Selesai mencuci piring, Laras bersiap berangkat ke kantor. Namun, saat melewati Arga yang masih merengut di meja makan, ia menghentikan langkahnya.
"Oh iya, Mas. Mulai bulan ini aku juga tidak mau lagi membayar cicilan mobil Tiara. Aku sendiri pakai mobil kantor, tapi malah aku yang membayar mobil Tiara. Jangan lupa, cicilannya delapan juta dan jatuh tempo setiap tanggal tiga," ucap Laras telak.
"Apa?!"
Argatersentak. Wajahnya pucat pasi. Gajinya akan habis tak bersisa jika harus menanggung cicilan mobil itu sendirian.
"Kamu tidak bisa egois begini, Laras! Kalau cicilannya tidak dibayar, nanti mobilnya ditarik. Ayolah Laras, jangan perhitungan begini!"
"Minta tolong saja pada Mas Dimas atau Mbak Maya kalau kamu tidak punya uang. Aku berangkat dulu. Assalamualaikum," ucap Laras seraya melangkah pergi tanpa menoleh lagi.
"Laras! Laras! Sial!" teriak Arga, namun diabaikan.
Laras berjalan menuju mobilnya yang terparkir di halaman rumah sederhana namun minimalis itu. Rumah itu ada sebelum mereka menikah dan itu adalah hadiah dari Ayah Laras saat ulang tahunnya.
"Ck…. Aku nggak mau dimanfaatkan lagi sama kalian. Cukup sudah aku menanggung hidup kalian selama empat tahun ini," batin Laras mantap sambil menginjak pedal gas, meninggalkan rumah yang selama ini terasa menyesakkan itu. Arga menuju rumah ibunya saat jam makan siang.
"Istri kamu benar-benar keterlaluan Arga, masa dia kirim uang cuma satu juta buat Ibu dan Tiara. Uang segitu mana cukup untuk sebulan? Mana Tiara mau bayar semester bulan ini."
Arga menarik napas panjang sebelum akhirnya berterus terang kepada ibu dan adiknya. "Bu, sepertinya Laras lagi marah. Dia tidak mau lagi membayar uang semester Tiara dan untuk uang bulanan kalian, Laras hanya akan memberikan satu juta untuk ke depannya. Bahkan, cicilan mobil Tiara pun sudah tidak mau dia bayar lagi. Aku benar-benar pusing, Bu," akunya dengan wajah frustrasi.
"Apa?!"
Bu Ajeng dan Tiara terperanjat secara bersamaan. Keduanya merasa syok sekaligus tidak terima dengan keputusan sepihak dari Laras.
"Kurang ajar sekali Laras itu! Apa dia sudah tidak mau lagi menjadi bagian dari keluarga kita?" seru Bu Ajeng dengan nada penuh kemarahan. "Mana cukup uang satu juta untuk satu bulan? Lalu bagaimana dengan kuliah Tiara? Ibu harus bicara langsung dengannya!"
Tiara pun tak kalah sengit menimpali. "Mas, kalau mobil itu sampai ditarik, aku mau naik apa ke kampus? Selama ini aku juga ngaku sama teman-teman kalau mobil itu Mas beli cash. Mbak Laras benar-benar keterlaluan!" ucapnya tanpa rasa hormat sedikit pun pada kakak iparnya.
"Eemh... sabar yah. Sepertinya saat ini Laras lagi marah. Untuk bulan ini, minta Mas Dimas atau Mbak Maya dulu," usul Arga mencoba mencari jalan keluar.
"Tidak bisa! Kasihan kakak-kakakmu, Arga. Mereka sudah punya anak, pasti kebutuhannya besar. Cicilan mobil Tiara dan uang semesternya saja sudah sepuluh juta lebih, itu jumlah yang banyak. Ibu tidak mau membebani mereka kalau mereka sendiri yang harus menanggungnya." tegas Bu Ajeng.
Alasan itulah yang membuat Bu Ajeng enggan meminta bantuan pada anak pertama dan keduanya. Di sisi lain, ia sadar Laras bergaji besar. Hal itulah yang membuatnya selalu mengandalkan sang menantu, meskipun selama ini ia sendiri tidak pernah benar-benar menyukai Laras.
"Nanti Ibu akan ke rumahmu. Mumpung besok hari Minggu, Ibu mau menginap sekalian. Bilang pada istrimu, suruh dia pulang cepat dan siapkan makan malam yang enak," perintah Bu Ajeng lagi.
"Asyik…. Aku mau makan sop buntut buatan Mbak Laras," tambah Tiara dengan sikap manja yang kurang ajar.
Argapun mengadu lagi tentang rencana istrinya. "Tapi Laras besok mau pergi liburan sama teman-temannya."
"Apa-apaan itu? Enak sekali dia mau bersenang-senang sementara uang semester adiknya saja belum dibayar. Daripada dipakai liburan, lebih baik uangnya untuk bayar kuliah dan cicilan mobil Tiara. Nanti Ibu akan marahi dia. Seenaknya saja menghamburkan uang," ucap Bu Ajeng.
Karena jam istirahat kantor hampir usai, Arga pun pamit. Kantornya memang cukup dekat dengan rumah ibunya, hanya sekitar 15 menit perjalanan.
Setelah Arga pergi, Tiara kembali bertanya karena penasaran. "Bu, sebenarnya gaji Mbak Laras itu berapa sih?"
"Kata kakakmu sih lebih dari 40 juta, belum lagi kalau dia dapat bonus dan tunjangan. Dia kan punya jabatan tinggi di perusahaannya," jawab Bu Ajeng.
Tiara hanya bisa berdecak kagum. "Waoowh... banyak banget Bu."
Laras bersama ketiga sahabatnya baru saja menyelesaikan reservasi tiket pesawat. Besok, tepat hari Minggu jam sebelas pagi, mereka akan terbang untuk berlibur selama empat hari.
"Ras, apa suamimu nggak bakalan marah kalau kamu liburan?" tanya Erika.
"Bodo amat. Aku sudah tidak peduli lagi," jawab Laras santai.
Ketiga temannya saling lirik dan tersenyum tipis. Mereka sudah tahu segalanya tentang kehidupan rumah tangga Laras. Mereka paham bagaimana selama ini Laras dimanfaatkan oleh keluarga suaminya. Bahkan, mereka sudah berkali-kali menasihati agar Laras berhenti memanjakan keluarga suaminya, namun selama ini Laras seolah menutup telinga.
"Yakin bisa sebodoh amat itu?" goda Rani bercanda.
"Yakin, dan aku serius. Aku sudah sadar kalau Mas Arga dan keluarganya hanya memanfaatkanku. Mereka menjadikanku sumber uang. Mulai bulan ini, aku tidak mau lagi menanggung kehidupan mereka. Biaya kuliah adiknya, cicilan mobil, atau biaya-biaya lainnya. Kalaupun aku membantu, cukup sewajarnya saja," tegas Laras, membuat sahabat-sahabatnya merasa lega.
"Wah, sepertinya ada yang baru lepas dari pengaruh 'guna-guna' nih, Ran, Rik!" seloroh Andin sambil tersenyum lebar.
"Kamu benar, Din. Guna-guna dari mbah dukunnya sepertinya sudah luntur hahah," timpal Erika disambut tawa renyah mereka berempat.
Alih-alih tersinggung, Laras justru ikut tertawa. Ia merasa sindiran itu ada benarnya. Selama ini ia seolah terhipnotis, selalu menuruti apa pun kata Arga dan ibu mertuanya, Bu Ajeng.
"Sudah sore, yuk kita pulang. Jangan lupa besok jemput aku, ya!" Laras mengingatkan temannya sebelum mereka berpisah.
Sebenarnya, jam kerja Laras di hari Sabtu hanya sampai jam dua siang. Namun, ia sengaja tidak langsung pulang dan memilih menghabiskan waktu di kafe yang tak jauh dari kantornya. Ia sengaja mengabaikan pesan singkat bahkan panggilan telepon dari suaminya. Laras pulang dengan tangan hampa, tak ada makanan yang ia beli. Biasanya, jika sedang malas memasak, ia akan membelikan makanan untuk orang di rumah. Tapi kali ini tidak. Biarkan suaminya mencari makan sendiri.
**
Sementara itu, Bu Ajeng dan Tiara sudah menunggu di rumah sejak jam empat sore. Mereka bisa masuk karena Arga memang sudah memberikan kunci cadangan kepada mereka. Namun, hingga pukul setengah enam, Laras belum juga menampakkan batang hidungnya.
"Sudah jam segini istrimu belum sampai rumah, Ga? Ke mana dia? Apa dia tidak tahu kalau Ibu dan Tiara datang? Kamu sudah kasih tahu dia, kan?" cecar Bu Ajeng pada putranya.
"Sudah, Bu. Arga sudah kirim pesan, tapi belum dibaca sampai sekarang. Padahal kalau Sabtu dia pulang jam dua. Sepertinya dia sengaja, Bu. Masih marah gara-gara tadi pagi," adu Arga seperti anak kecil.
"Benar-benar istrimu itu! Kalau bukan karena gajinya yang besar, Ibu tidak akan sudi menjadikannya menantu!" omel Bu Ajeng lagi.
Arga hanya diam. Sebenarnya, ia pun tidak sungguh-sungguh mencintai Laras. Ia menikahinya hanya karena Laras memiliki pekerjaan mapan dengan gaji fantastis. Impian Arga sejak dulu adalah menikahi wanita kaya agar hidupnya enak tanpa perlu banting tulang. Meski Laras bukan anak konglomerat, gajinya sudah cukup untuk dimanfaatkan. Terbukti selama empat tahun pernikahan, Arga hanya memberi uang bulanan ala kadarnya, sementara Laras yang menanggung semua beban rumah tangga hingga biaya hidup ibu dan adiknya.
Deru mesin mobil terdengar di halaman.
"Itu suara mobil Mbak Laras," ucap Tiara tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya.
Bu Ajeng tetap duduk tegak di sofa ruang tamu, menyiapkan rentetan "kata-kata mutiara" yang sudah tersusun di kepalanya untuk menyambut sang menantu.
Di luar, Laras menghela napas panjang saat melihat mobil adiknya terparkir. "Mobil Tiara? Hah... pasti ada Ibu juga. Drama apa lagi kali ini?" gumamnya malas.
Laras turun dari mobil, menenteng tasnya, dan melangkah masuk. Ia sudah menyiapkan mental.
"Assalamualaikum," ucap Laras pelan.
"Waalaikumussalam! Dari mana saja kamu jam segini baru pulang? Pulang kerja itu seharusnya langsung ke rumah, bukan malah nongkrong tidak jelas!" sambut Bu Ajeng dengan nada tinggi.
"Aku habis kumpul sama teman kantor, Bu. Aku juga capek kerja, butuh refreshing otak," jawab Laras, berusaha tetap sopan.
"Kamu itu seorang istri. Tidak pantas nongkrong-nongkrong seperti itu. Daripada uangnya habis buat hura-hura, lebih baik buat bayar semesteran Tiara. Ingat, kamu belum bayar tagihannya!" seru Bu Ajeng lagi.
Laras menghela napas berat. Niatnya ingin langsung mandi dan istirahat, tapi justru disambut omelan tak berujung. "Bu, aku capek dan mau mandi. Tolong jangan bahas soal uang dulu. Kalau Ibu mau menginap di sini silakan, tapi maaf, aku mau ke kamar."
"Laras! Yang sopan kalau bicara sama Ibu! Ibu bicara benar, malah kamu abaikan begitu saja!" bentak Arga, mencoba membela ibunya.
Laras melirik suaminya sekilas dengan tatapan dingin. Ia malas berdebat, apalagi waktu Magrib sudah hampir tiba.
"Aku tidak mengabaikan Ibu, Mas. Tadi pagi kan sudah kujelaskan, soal semesteran dan cicilan mobil, aku tidak mau menanggungnya lagi. Untuk jatah bulanan Ibu dan Tiara, aku hanya bisa memberi sekadarnya. Lagipula ada Mas Dimas dan Mbak Maya, kenapa harus aku yang menanggung semuanya? Sudahlah, aku capek."
Laras melangkah pergi meninggalkan sekumpulan orang yang seolah tidak tahu diri itu.
"Mbak Laras, jangan lupa masak! Aku mau makan sop buntut!" teriak Tiara dengan nada memerintah.
Laras tidak menjawab. Ia terus berjalan menuju kamarnya dengan tekad yang semakin bulat untuk berhenti menanggung hidup mereka.
Laras menutup pintu kamarnya dengan kasar. Dadanya bergemuruh menahan sesak, selama ini ia tidak hanya diperas tapi juga diperlakukan tak lebih dari seorang pembantu oleh keluarga suaminya.
"Dasar anak tidak tahu sopan santun. Bisa-bisanya dia berteriak pada istri kakaknya sendiri begitu? Apa dia pikir aku ini pembantunya?" gumam Laras geram dalam kesendiriannya. Ia membandingkan dengan adiknya sendiri yang memiliki perangai jauh lebih baik daripada Tiara.
"Lagipula, aku yang punya uang, kenapa mereka yang mengatur? Ini uangku, bukan uang kalian! Mulai sekarang, aku tidak akan membiarkan kalian memanfaatkan aku lagi," tegasnya dalam monolog yang penuh tekad.
Laras sama sekali tidak berniat keluar kamar lagi malam itu. Ia segera menyibukkan diri dengan packing barang-barang yang akan dibawa berlibur sebelum beristirahat. Soal makan malam, ia sudah tidak peduli. Mereka bertiga sudah dewasa dan bisa memasak atau membeli makanan sendiri jika lapar.
Sambil merapikan koper, Laras mengambil ponsel dari tasnya. Ia segera mengirim pesan kepada Rani, meminta agar dijemput lebih awal. Laras sadar betul bahwa besok pasti akan ada drama besar jika ia pergi secara terang-terangan, maka ia memutuskan untuk berangkat jam setengah enam pagi, sebelum penghuni rumah lainnya terbangun.
"Laraaaaaas...!!!"
Pekikan melengking Bu Ajeng memecah keheningan pagi pukul tujuh. Wanita itu sudah tampil rapi, siap untuk menyantap sarapan. Namun, langkahnya terhenti kaku di depan meja makan. Tidak ada kepulan uap nasi hangat, tidak ada aroma masakan. Yang ada hanyalah tumpukan piring kotor sisa semalam yang mulai mengering, bekas makan malam tiga porsi ayam bakar yang dipesan Arga melalui grabfood.
Laras benar-benar tidak menyentuhnya. Sejak pukul setengah enam pagi, ia telah melesat pergi, dijemput oleh Rani dan Andin. Arga, yang masih terbuai mimpi, sama sekali tidak menyadari bahwa istrinya benar-benar nekat melakukan rencana liburan itu.
"Ada apa sih, Bu? Pagi-pagi sudah teriak, ganggu orang tidur saja." keluh Tiara yang muncul dari kamar tamu dengan wajah bantal dan rambut kusut.
"Lihat itu! Istri kakakmu sampai jam segini belum bangun, apalagi masak. Dasar menantu pemalas. Laraaasss, Bangun!!" teriak Bu Ajeng lagi, urat lehernya tampak menegang.
Tiara menggaruk telinganya yang gatal karena suara cempreng ibunya. "Ya ampun, Bu. Kalau kesal tinggal gedor saja kamarnya, tidak usah teriak-teriak begitu. Sakit telinga Tiara dengarnya."
Bu Ajeng mendengus, lalu melangkah lebar menuju kamar Laras dan Arga. Pintu kayu itu menjadi sasaran kemarahannya.
Braakk! Braakk!
"Laras! Bangun! Matahari sudah tinggi, kamu masih enak-enakan tidur! Cepat bangun dan siapkan sarapan!" titahnya dengan suara lantang yang menggelegar.
Di dalam kamar, Arga mengerang. Kepalanya berdenyut mendengar keributan itu. Dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya, ia turun dari ranjang dan membuka pintu yang sudah tidak terkunci.
"Ada apa sih, Bu? Ini hari Minggu, Arga mau istirahat." ucapnya dengan mata sayu.
"Mana istrimu??? Jam segini belum kelihatan batang hidungnya. Meja makan masih berantakan dari semalam. Dasar istri tidak berguna. " cerca Bu Ajeng tanpa jeda.
Arga mengucek matanya, lalu menoleh ke arah ranjang yang sudah rapi untuk seseorang yang baru bangun tidur. Kamar mandi pun terbuka lebar dan kosong.
"Laras tidak ada, Bu. Sepertinya sudah bangun." gumam Arga pelan.
"Kalau sudah bangun, kenapa dia tidak masak? Ke mana dia?!"
"Mungkin lari pagi atau ke pasar. Biasanya kan memang begitu kalau hari Minggu." jawab Arga mencoba membela diri sekaligus mencari alasan yang logis.
Namun, insting Bu Ajeng berkata lain. Ia melirik ke arah garasi samping. "Tidak mungkin ke pasar. Motor dan mobil kantornya masih ada di garasi. Jangan-jangan dia benar-benar pergi liburan? Arga, cepat cek barang-barangnya!"
Jantung Arga mencelos. Ia teringat perdebatan mereka kemarin. Ia segera melangkah menuju lemari tempat penyimpanan koper. Kosong. Tempat itu kini hanya menyisakan ruang hampa.
"Kopernya tidak ada, Bu. Sialan, dia benar-benar pergi!" geram Arga, tangannya mengepal kuat.
"Coba periksa pakaiannya!" perintah Bu Ajeng lagi.
"Tidak bisa, Bu. Lemari pakaiannya selalu dikunci dan kuncinya dia bawa sendiri. Aku telepon saja dia. " Arga meraih ponselnya di atas nakas. Baru saja ia hendak mencari kontak istrinya, sebuah notifikasi pesan masuk muncul di layar.
[Maaf ya, Mas, aku pergi tidak pamit dulu. Kalau aku pamit, pasti kamu tidak akan kasih izin. Yang jelas, dari kemarin aku sudah bilang kalau aku mau liburan. Aku pergi empat hari Mas.]
"Kurang ajar!" Arga memaki. Rahangnya mengeras. Laras yang biasanya penurut, kini berani menentangnya secara terang-terangan.
"Laras liburan, Bu. Ini dia baru kirim pesan." ucap Arga dengan nada malas yang menyembunyikan rasa jengkel yang luar biasa.
"Menantu sialan." Bu Ajeng berteriak murka. "Dia lebih mementingkan liburan daripada membayar uang semester Tiara? Awas saja kalau kamu pulang, Laras. Ibu tidak akan memaafkanmu."
Drama kepergian Laras belum juga mereda hingga siang hari. Bu Ajeng terus menggerutu, meluapkan kekesalannya kepada siapa saja yang lewat, termasuk Dimas, putra sulungnya yang baru saja tiba.
Namun, kedatangan Dimas bukan membawa solusi, melainkan beban baru. Dimas hanya duduk diam mendengarkan keluhan ibunya tentang Laras yang 'kurang ajar', sementara pikirannya sendiri sedang carut-marut.
"Terus biaya semester Tiara bagaimana, Bu?" Tiara merengek, wajahnya ditekuk masam. "Cicilan mobilku juga sudah jatuh tempo."
Bu Ajeng menghela napas berat. "Ibu juga bingung. Dimas, kamu ada simpanan tidak? Ibu pinjam dulu untuk bayar semester dan cicilan Tiara. Nanti kalau Laras sudah pulang dan kasih uang, pasti Ibu kembalikan."
Dimas membuang napas dengan kasar. Alih-alih membantu, kedatangannya justru memiliki niat yang sama.
"Justru Dimas ke sini mau pinjam uang sama Ibu." ucap Dimas terus terang. "Dimas lagi susah, Bu. Gaji Dimas memang lumayan, tapi tidak cukup untuk gaya hidup istri Dimas. Sinta juga belum bayar SPP dua bulan, lalu sekolahnya mau ada acara jalan-jalan ke luar kota. Dimas butuh 10 juta, Bu."
Bu Ajeng terdiam. Rumah yang biasanya disubsidi oleh Laras itu kini terasa mencekam. Sang donatur telah pergi mencari ketenangannya sendiri, meninggalkan keluarga yang selama ini hanya tahu cara meminta tanpa pernah menghargai kehadirannya.
Dimas memasang wajah sepucat mungkin, sebuah topeng kesedihan yang ia rancang demi memancing iba sang ibu. Ia tahu persis bahwa Bu Ajeng masih menyimpan rahasia kecil, satu set perhiasan berharga yang bisa menjadi penyelamatnya.
Padahal, di balik alasan biaya sekolah Sinta (anaknya yang terpaksa bersekolah di tempat elit demi gengsi sang istri), tersembunyi sebuah kebohongan besar. Uang itu bukan untuk pendidikan, melainkan untuk membiayai ambisi Ratih, istrinya yang ingin berpelesir mewah bersama geng sosialitanya. Ratih dan Bu Ajeng sebenarnya adalah dua sisi dari koin yang sama, haus akan pujian, gemar pamer, dan tak peduli dari mana uang itu berasal, asalkan keinginan mereka terpenuhi saat itu juga.
"Dimas, kamu benar-benar sesusah itu, Nak?" tanya Bu Ajeng dengan suara bergetar. "Ibu tidak punya uang tunai lagi. Sawah bagian kalian sudah ludes terjual. Harapan Ibu satu-satunya cuma Laras, tapi menantu tidak tahu diuntung itu malah pergi bersenang-senang."
"Apa Ibu benar-benar tidak punya simpanan lain?" pancing Dimas dengan nada mendesak.
Bu Ajeng terdiam, batinnya berperang. Aku hanya punya satu set perhiasan terakhir. Kalau kujual, aku pakai apa saat arisan nanti? pikirnya cemas. Namun, sedetik kemudian ia mencoba menghibur diri. "Mungkin aku bisa pakai perhiasan imitasi dulu. Lagipula, kualitasnya mirip sekali dengan yang asli. Sialan kau Laras, andai saja kau tidak pergi, aku tidak perlu mengorbankan emas ini."
"Ibu masih punya perhiasan," ucap Bu Ajeng akhirnya, menyerah pada rasa sayangnya yang pilih kasih. "Kalau kamu memang terdesak, juallah. Kasihan Sinta kalau harus malu karena belum membayar sekolah."
"Ibu! Kok malah perhiasannya dijual untuk Mas Dimas?" seru Tiara tidak terima. "Terus bagaimana dengan biaya kuliahku dan cicilan mobilku?!"
Tiara mengepalkan tangan. Rasa iri membakar dadanya. Sejak dulu, ia merasa ibunya selalu menomorsatukan Dimas dan Maya, sementara dirinya selalu dianaktirikan.
"Masalah itu gampang, nanti kita tinggal paksa Laras," jawab Bu Ajeng enteng. "Kalau kita desak terus, dia pasti akan menyerahkan uangnya."
"Terima kasih, Bu. Terima kasih banyak!" Dimas berseru girang. "Dimas janji akan segera mengembalikannya, bahkan Dimas lebihkan nanti. Sekarang kita pulang, biar hari ini juga perhiasannya bisa Dimas jual."
"Iya, Ibu bereskan barang-barang dulu." sahut Bu Ajeng sambil menoleh ke arah Tiara. "Tiara, cepat kemas barangmu. Kita pulang sekarang. Nanti kalau Laras sudah kembali, kita ke sini lagi."
"Baiklah, Bu," gumam Tiara pelan, meski hatinya masih diliputi dongkol.
Di sudut ruangan, Dimas tersenyum lebar, merasa beban berat baru saja terangkat dari bahunya. Ia bisa bernapas lega karena istrinya tidak akan murka atau mendiamkannya lagi. Lebih dari itu, ia telah lolos dari ancaman besar; Ana tidak akan jadi angkat kaki menuju rumah orang tuanya hanya karena masalah uang.
Sangat ironis. Bu Ajeng lebih memilih mengorbankan emasnya demi menantu lain Ratih daripada membantu Tiara, dan mereka semua berencana mengeroyok Laras begitu dia pulang.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!