Indonesia
NovelToon NovelToon

HEARTS & SCALPELS: The Silent Recipe

Bab 1 Pisau dan Gula

Aroma rosemary dan bawang putih yang ditumis dengan mentega memenuhi udara apartemen Sheril malam itu. Sangat berbeda dengan aroma formalin dan besi yang seharian Sheril cium di tempat kerjanya.

"Sedikit lagi, Sayang. Jangan mengintip," suara lembut itu berasal dari dapur.

Jungkook berdiri di sana, masih mengenakan apron hitamnya. Tangannya yang dipenuhi tato terlihat sangat terampil mengayunkan pisau dapur di atas talenan. Ia membalikkan badan, memberikan senyum kelinci yang selalu berhasil meluluhkan rasa lelah Sheril setelah seharian membedah mayat di ruang forensik.

Jungkook berjalan mendekat, mengecup dahi Sheril lama sebelum menyelipkan selembar tisu untuk mengusap noda kecil di pipi kekasihnya.

Sheril mengusap pipinya yang baru di bersihkan Jungkook.

Jungkook tersenyum, "aku rasa itu cream malammu sayank"

Sheril mengangguk mengerti.

"Kamu terlihat pucat. Kasus baru lagi?"

Sheril mengangguk lemas, menyandarkan kepalanya di dada bidang Jungkook.

"Dua korban baru. Pelakunya sangat rapi, Kook. Hampir... artistik. Aku dan V sampai pusing"

Tatapan Jungkook meredup sedetik—hanya sedetik—sebelum ia kembali tersenyum ceria.

"Lupakan soal mayat. Malam ini hanya ada kamu, aku, dan steak wagyu spesial buatanku. Aku tidak ingin ada bau kematian di meja makan kita." kata Jungkook mendekat dan mencolek hidung Sheril

Sheril mengangguk, wajahnya mendongak menatap kekasihnya.

"Brak!"

Pintu apartemen terbuka tanpa diketuk. Jin masuk dengan gaya khasnya, membawa tiga kantong plastik besar berisi camilan mahal.

"Adikku tersayang! Kenapa kau terlihat kurus sekali?" Jin langsung menghampiri Sheril, mengabaikan Jungkook yang mendengus kesal karena momen romantisnya diganggu. Jin memegang wajah Sheril, membolak-baliknya seolah memeriksa barang dagangan. "Apa bocah tukang masak ini memberimu makan dengan benar?" tanya Jin melirik Jungkook sesaat

"Kalau tidak, biar Oppa seret dia ke kantor polisi!" lanjut Jin menatap Jungkook dengan tatapan garang.

"Jin Hyung, aku ini koki terbaik, bukan tukang masak sembarangan," protes Jungkook sambil meletakkan piring di meja.

"Tetap saja, adikku harus makan banyak!" Jin mengeluarkan sekotak vitamin dan cokelat impor dari kantongnya.

"Ini, makan ini. Oppa sengaja mampir sebelum balik ke kantor. Kasus psikopat ini membuat seluruh departemen gila, aku tidak mau kau ikut sakit."

Tak mereka sadari dari tadi seseorang juga sudah duduk di ruang tamu apartemen itu. Dia adalah suga, si ahli IT. Ia sibuk dengan ponselnya.

Suga tidak banyak bicara. Ia hanya melirik Sheril sekilas dengan tatapan dingin khasnya.

"Suga oppa" sapa Sheril

"Hmmm"

"Makanlah yang banyak Sheril. Jangan hanya minum kopi, Aku cukup lelah mendengar Oppa mu mengomel" ucap Suga datar tanpa mengalihkan pandangan dari layar.

Namun, tanpa suara, ia meletakkan sebuah flashdisk di meja dekat tas kerja Sheril. "Aku sudah meretas data satelit di sekitar TKP terakhir. Mungkin bisa jadi petunjuk untuk di cocokan dengan para korban. Jangan beritahu RM aku memberikannya padamu."

"Suga-ya, kau selalu saja dingin tapi perhatian," goda Jin sambil merangkul bahu Suga, yang langsung ditepis oleh pria itu.

Sheril tersenyum melihat kekacauan manis di ruang tamunya. Ada abangnya yang protektif, rekan kerja yang jenius, dan kekasih yang sangat mencintainya.

Malam semakin larut. Setelah Jin dan Suga pamit kembali ke markas, Jungkook memeluk Sheril dari belakang saat mereka berdiri di balkon.

"Kamu bahagia, Sheril sayank?" bisik Jungkook di telinganya.

"Sangat bahagia, Kook. Aku memiliki kakak dan kekasih yang menyayangiku dan aku selalu merasa aman bersamamu."

Jungkook membenamkan wajahnya di leher Sheril, menghirup aroma parfum wanita itu yang bercampur dengan aroma sabun rumah sakit. Matanya yang bulat dan jernih menatap ke arah lampu-lampu kota Seoul yang gemerlap, tepat ke arah sebuah gang gelap tempat penemuan mayat tadi pagi.

"Aku juga bahagia sayank. Aku akan melakukan apa pun untuk menjagamu tetap bahagia," gumam Jungkook pelan. Tangannya memeluk Sheril makin kuat, memejamkan matanya. Menghirup aroma sheril yang membuat candu. Dalam hatinya ia selalu berjanji akan melakukan apapun untuk sheril.

"Apa pun."

...****************...

BAB 2: Presisi Pisau Bedah

Bau deterjen lavender di kemeja Jungkook adalah hal terakhir yang Sheril ingat sebelum ia terbangun karena dering ponsel yang menyakitkan telinga. Pukul 03.15 pagi. Suara bising di luar apartemen menunjukkan bahwa kota Seoul tidak pernah benar-benar tidur, namun di dalam kamar ini, keheningan terasa menenangkan.

"Sheril, maaf membangunkanmu. Tapi kamu harus ke laboratorium sekarang," suara V terdengar rendah dan serak di seberang telepon.

Ada nada penuh kepanikan yang tidak biasa, sebuah getaran yang jarang Sheril dengar dari rekannya yang biasanya dingin itu. "RM Hyung menemukan sesuatu yang... tidak masuk akal."

Sheril melirik ke sampingnya. Tempat tidur itu kosong, hanya menyisakan kerutan pada sprei satin abu-abu. Jungkook biasanya memang sudah bangun sepagi ini untuk pergi ke pasar ikan guna mencari bahan baku terbaik untuk restorannya. Namun, ada rasa dingin yang tertinggal di bantal itu, seolah pria itu sudah pergi jauh sebelum ia ikut terbangun karena dering ponselnya.

Lampu neon yang berkedip di lorong ruang forensik membuat suasana semakin suram, memantul di atas lantai marmer yang terlalu bersih. V berdiri di sana, mengenakan jubah operasi hijau lengkap dengan masker yang menutupi separuh wajahnya. Ia menatap sebuah mayat yang baru saja tiba, terbaring kaku di atas meja stainless steel.

"Lihat ini," kata V tanpa basa-basi saat Sheril baru saja mengikat rambutnya dan mengenakan jubah hijau yang sama.

V menunjuk ke arah leher korban—seorang wanita muda. Sebuah sayatan melintang, sangat bersih, tanpa ada jaringan yang koyak secara kasar. Sheril mendekat, jemarinya yang terbungkus sarung tangan lateks menyentuh pinggiran luka dengan hati-hati.

"Sayatan ini dilakukan dengan satu gerakan pasti," gumam Sheril. Ia mengambil kaca pembesar, meneliti setiap milimeter luka tersebut.

"Tekanan yang diberikan sangat konstan dari awal hingga akhir. Pelakunya bukan amatir yang panik. Dia sangat paham anatomi tubuh... atau sangat terbiasa menggunakan pisau yang sangat tajam setiap hari."

"Tapi Bukan itu yang membuat RM Hyung memanggil kita secepat ini," potong V.

Ia menggunakan pinset untuk membuka rongga mulut korban yang sudah membiru. "Lihat di bawah lidahnya. Ini yang membuatku muak."

Sheril menahan napas. Di sana, terselip sebuah hiasan kecil dari daun peterseli yang segar dan setetes saus merah pekat yang sudah mengental. Penempatannya sangat presisi, ditata begitu cantik seolah mulut mayat itu adalah piring hidangan penutup di sebuah restoran bintang lima.

"Ini bukan sekadar pembunuhan, Sheril," bisik V, matanya menatap tajam ke arah Sheril.

 "Ini adalah penyajian. Pelakunya ingin kita melihat ini sebagai karya seni."

Di tempat lain, di markas pusat kepolisian yang remang, Suga tidak tidur. Matanya yang memerah menatap layar monitor yang menampilkan ribuan baris data transaksi keuangan dan log aktivitas internet. RM berdiri di belakangnya, menyilangkan lengan di dada dengan raut wajah frustrasi yang tak bisa disembunyikan.

"Suga, kau menemukan sesuatu dari rekaman CCTV di sekitar restoran tempat korban terakhir terlihat?" tanya RM, suaranya berat karena kelelahan.

Suga terdiam sejenak. Jemarinya berhenti menari di atas keyboard. Di salah satu sudut layarnya yang tersembunyi, ia melihat sebuah rekaman buram. Sosok pria berhoodie hitam keluar dari pintu belakang sebuah restoran yang sangat ia kenal—restoran milik Jungkook. Pria itu membawa sebuah kantong plastik besar yang tampak berat pada jam dua pagi.

Suga tahu jam operasional restoran itu. Jam dua pagi adalah waktu di mana Jungkook biasanya masih berada di rumah bersama Sheril.

"Servernya sedang down di area itu, Hyung. Aku sedang mencoba memulihkannya lewat backdoor," bohong Suga dengan nada datar yang sempurna. Suaranya tidak bergetar sedikit pun, meski jantungnya berdegup kencang.

RM menghela napas berat, menepuk bahu Suga.

 "Cepatlah. Jin sudah sangat emosional. Korban kali ini adalah anak dari teman baiknya. Jika kita tidak menemukan titik terang dalam 24 jam, dia bisa saja menghancurkan siapa pun yang dicurigainya."

Setelah RM keluar, Suga mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih.

Ia membuka sebuah folder terenkripsi di komputernya yang berisi foto-foto Sheril. Ia melakukan ini bukan hanya karena tugas, tapi karena ia tahu dunia Sheril sedang berada di ujung tanduk.

"Kenapa kau melakukan ini, Kook? Kau akan menghancurkannya," gumam Suga lirih pada layar monitor yang dingin.

Di sebuah bar tersembunyi yang hanya diterangi lampu kemerahan, Jimin menyesap anggur merahnya dengan gerakan anggun. Di sampingnya, J-Hope sedang asyik memainkan pisau lipat, memutar-mutarnya di antara jari-jari yang sangat lincah, menciptakan kilatan cahaya yang mengancam.

"Kau melihat ekspresi koki kesayangan kita tadi saat kita menitipkan 'paket' itu di dapur belakangnya?" Jimin terkekeh. Suaranya lembut, namun menyimpan kegilaan yang murni.

J-Hope tertawa lepas, sebuah tawa yang terdengar ceria namun sama sekali tidak mencapai matanya yang dingin.

"Dia terlalu mencintai dokternya itu, Jimin-ah. Dia pikir dengan mengikuti instruksi kita dan membersihkan 'sampah' yang kita tinggalkan, dia bisa menjauhkan Sheril dari bahaya."

J-Hope menusukkan pisaunya ke atas meja kayu dengan dentuman keras.

"Dia bodoh. Semakin dia mencoba membersihkan jejak kita, semakin banyak bau darah yang tertinggal di tangannya sendiri. Dia sudah menjadi bagian dari kita, suka atau tidak."

Jimin tersenyum, mengeluarkan ponselnya dan menatap foto Sheril yang sedang tertawa di depan restoran Jungkook. "Aku tidak sabar melihat wajahnya saat dia menyadari bahwa daging yang dia autopsi di laboratorium... mungkin saja pernah mampir di dapur kekasihnya."

...****************...

BAB 3: Aroma Pagi yang Berbeda

Matahari baru saja merayap naik, menyisipkan garis-garis cahaya tipis melalui celah gorden apartemen yang belum sempat dibuka. Namun bagi Sheril, pagi ini tidak membawa kesegaran. Kepalanya terasa berat, seolah ribuan jarum kecil menusuk saraf-saraf di balik pelipisnya. Aroma formalin yang pekat seolah masih bersarang di paru-parunya, tidak peduli seberapa keras ia menggosok tubuhnya di bawah pancuran air hangat tadi malam.

Ia keluar dari kamar dengan langkah gontai, masih mengenakan jubah mandi tebal berwarna putih. Di ruang tengah, suasana tampak tenang. Suara desis mentega di atas wajan dan aroma harum bawang putih yang ditumis seketika menyambut indranya. Itu adalah aroma yang seharusnya menenangkan—aroma "rumah".

Jungkook ada di sana. Di balik konter dapur yang bersih, ia tampak sangat fokus. Ia mengenakan kaus oblong hitam yang pas di tubuhnya, memperlihatkan otot lengan yang bergerak ritmis saat ia bekerja. Rambutnya sedikit acak-acakan, khas orang yang baru bangun tidur tapi sudah sibuk dengan dunia kulinernya.

"Kamu sudah bangun sayang?" suara Jungkook memecah keheningan.

Ia tidak menoleh, matanya tetap tertuju pada talenan di depannya. "Aku membuatkanmu Omelet Soufflé dan salad dengan saus balsamic. Kamu butuh tenaga setelah lembur malam yang panjang di lab dan kembali subuh tadi"

Sheril tersenyum tipis, bersandar pada pilar kayu yang memisahkan ruang makan dan dapur.

"Baunya harum sekali, Kook. Terima kasih."

Namun, senyum Sheril memudar perlahan saat langkahnya mendekat ke meja makan.

 Matanya, yang sudah terlatih selama bertahun-tahun untuk mendeteksi detail sekecil apa pun di ruang otopsi, tanpa sengaja tertuju pada tangan Jungkook.

Jungkook sedang memotong peterseli dan beberapa hiasan sayuran untuk mempercantik piringnya. Gerakannya sangat cepat, presisi, dan tenang. Pisau chef yang sangat tajam itu seolah-olah merupakan perpanjangan dari jarinya sendiri.

Deg.

Jantung Sheril seolah berhenti berdetak sesaat. Ia teringat luka di leher mayat wanita muda yang ia bedah tiga jam lalu. Sayatan melintang yang bersih. Sudut masuknya pisau. Tekanan yang konsisten.

Di depan matanya sekarang, Jungkook melakukan hal yang sama. Ia memegang pisau dengan posisi jari telunjuk menekan bagian punggung pisau untuk memberikan kendali penuh—sebuah teknik yang memastikan sayatan tidak akan bergerigi. Jungkook menarik pisau itu dalam satu tarikan panjang yang halus saat membelah tomat ceri, persis seperti cara pelaku membelah jaringan kulit korban semalam.

"Kook..." suara Sheril tertahan di tenggorokan.

"Ya, Sayang?" Jungkook menoleh. Kali ini ia tersenyum, tapi sorot matanya terlihat sangat lelah, meskipun ia berusaha menutupinya dengan senyuman di wajahnya.

"Teknik memotongmu... kau belajar dari mana?" tanya Sheril berusaha terdengar biasa saja, meski tangannya mulai terasa dingin.

Jungkook terdiam sejenak, pisaunya berhenti di udara. Ia menunduk menatap peterseli yang sudah terpotong rapi.

 "Oh, ini? Ini teknik dasar Prancis. Kenapa? Apa terlihat aneh?" Ia menatap Sheril dengan tersenyum kemudian terkekeh kecil, lalu melanjutkan pekerjaannya.

Sheril berjalan lebih dekat, matanya kini tertuju pada setumpuk peterseli yang sudah disisihkan Jungkook di pinggir piring. Bentuknya kecil, melengkung sempurna, dan segar. Ingatan Sheril kembali ke ruang forensik yang dingin—ke momen saat V menggunakan pinset untuk mengambil peterseli yang identik dari bawah lidah korban.

Tidak, itu tidak mungkin, batin Sheril berteriak. Jungkook adalah pria yang menyelamatkanku dari depresi. Dia pria yang menangis saat jariku teriris kertas. Dia tidak mungkin...

"Sheril? Sayang, Kamu melamun?"

Tiba-tiba tangan Jungkook sudah berada di pipinya. Hangat. Namun, Sheril tidak bisa tidak memperhatikan bekas kemerahan kecil di sela kuku ibu jari Jungkook. Itu bukan noda saus. Itu warna dari bekas luka yang sangat ia kenal. Darah yang sudah mengering.

"Tanganmu kenapa?" Sheril meraih tangan Jungkook, memeriksanya dengan insting seorang dokter.

Jungkook dengan lembut namun cepat menarik tangannya kembali.

 Ia memasukkannya ke dalam saku apron hitamnya.

"Hanya kecelakaan kecil saat memotong daging di restoran tadi malam. Stok daging datang terlambat, dan aku sedikit terburu-buru. Jangan khawatirkan luka kecil ini"

"Yang harus dipikirkan itu kamu, setiap malam selalu lembur dan kurang tidur." kata Jungkook menatap kekasihnya dengan wajah cemberut.

Sheril hanya menarik nafas panjang, ia kemudian mengecup bibir Jungkook pelan.

"Aku baik-baik saja. Ini resiko pekerjaan sayang" kata Sheril.

Jungkook hanya menarik nafasnya dalam, ia sangat paham bagaimana Sheril mencintai pekerjaannya.

Jungkook lalu menyajikan piring itu di depan Sheril di atas meja makan, Sebuah hidangan yang indah. Estetik. Sempurna. Namun di mata Sheril, hidangan itu kini tampak seperti replika dari TKP yang ia kunjungi semalam. Aroma saus merah yang tadi terasa menggugah selera, kini mulai tercium amis di hidungnya.

"Makanlah, mumpung masih hangat," desak Jungkook. Ia duduk di kursi seberang Sheril, menopang dagu dengan kedua tangannya, memperhatikannya dengan tatapan intens.

Sheril mengambil garpu dengan tangan yang sedikit gemetar. Setiap kunyahan terasa membuat ia mual. Pikirannya berkecamuk. Ia ingin bertanya lebih banyak, tapi ia takut pada jawaban yang mungkin akan ia dapatkan.

Tiba-tiba, ponsel Sheril di atas meja bergetar. Sebuah pesan masuk dari Suga.

Suga: "Sheril, jangan makan apa pun yang mencurigakan pagi ini. Aku baru saja menemukan sesuatu di log pengiriman restoran Jungkook. Kita perlu bicara di kantor. Sekarang."

Sheril menelan ludahnya dengan susah payah. Ia mendongak dan mendapati Jungkook masih menatapnya. Senyum kelinci pria itu tidak berubah, tapi entah mengapa, di bawah cahaya pagi yang cerah ini, bayangan Jungkook di dinding tampak lebih besar dan lebih gelap dari biasanya.

"Ada apa? Dari siapa?" tanya Jungkook lembut, namun nadanya menuntut.

"Hanya... hanya Jin Oppa," bohong Sheril, jantungnya berpacu cepat. "Dia bilang ada berkas yang tertinggal. Aku harus segera kembali ke lab."

Jungkook berdiri, berjalan memutar meja, lalu mengecup puncak kepala Sheril. "Hati-hati di jalan. Jangan terlalu lelah. Ingat, dunia ini penuh dengan orang jahat, Sheril. Hanya di sini, bersamaku, kamu benar-benar aman."

Kata-kata itu seharusnya terdengar seperti janji cinta, namun di telinga Sheril, itu terdengar seperti sebuah peringatan.

Saat Sheril melangkah keluar pintu, ia sempat menoleh ke belakang. Ia melihat Jungkook kembali ke dapur, mengambil pisau besarnya, dan mulai mengasahnya. Suara gesekan logam itu menggema di lorong apartemen yang sepi. Srek. Srek. Srek.

Dunia Sheril yang berwarna merah muda kini mulai memudar, menyisakan warna kelabu yang dingin—sama seperti warna meja otopsi yang menantinya di rumah sakit.

...****************...

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!