Indonesia
NovelToon NovelToon

Hiraeth

#1

Di sudut kamar yang paling terpencil di Mansion Gonzales, cahaya matahari senja menembus jendela, menyinari tumpukan sketsa dan gulungan kain sutra. Leonor Kaia sedang menekuni detail sulaman pada sebuah gaun couture rancangannya.

Di usia 22 tahun, Leonor adalah mahasiswi terbaik di fakultas desain mode universitasnya—sebuah pencapaian yang bagi dunia luar terasa luar biasa. Namun, di rumah ini, prestasi itu hanya dianggap sebagai hobi yang membuang-buang waktu.

Leonor memiliki rambut hitam panjang yang selalu tertata rapi, mencerminkan sisi feminin yang kuat. Namun, kecantikannya selalu terasa "salah" di mata ayahnya, David Gonzales.

"Leonor, turun sekarang. Makan malam akan segera dimulai!" Suara ketus pelayan terdengar dari balik pintu, tanpa ketukan.

Leonor menarik napas panjang. Makan malam di rumah ini bukanlah saat untuk berbagi cerita, melainkan panggung pemujaan bagi satu orang saja.

Meja makan panjang itu terbuat dari marmer Italia, namun suasananya sedingin es. David Gonzales duduk di ujung meja dengan wibawa pengusaha nomor empat di Los Angeles. Di sisi kanannya duduk sang istri ketiga, dan di sampingnya adalah Ethan, putra kesayangan yang baru berusia 21 tahun.

Di sisi lain, Leonor duduk berdampingan dengan Aurora, putri dari istri pertama David. Aurora, yang juga berusia 22 tahun, adalah mahasiswi jurusan seni peran. Mereka berdua, meskipun cantik dan berbakat, hanyalah "dekorasi" di mata sang ayah.

"Bagaimana kuliah bisnismu hari ini, Ethan?" tanya David. Suaranya yang biasanya berat dan menekan, tiba-tiba melunak penuh kebanggaan.

"Lancar, Ayah. Dosen memuji analisisku tentang pasar properti di Downtown. Aku yakin bisa membantu di kantor pusat musim panas ini," jawab Ethan dengan nada jemawa.

David tertawa lebar, sebuah suara yang jarang didengar Leonor.

"Bagus! Itulah anakku. Seorang laki-laki harus memegang kendali. Kau adalah pewaris tunggal kerajaan Gonzales. Jangan seperti kakak-kakakmu yang hanya tahu cara menghabiskan uang untuk kain atau sandiwara panggung."

Leonor menunduk, jarinya meremas serbet di bawah meja. Aurora di sampingnya hanya menatap piring dengan tatapan kosong; ia sudah terbiasa dengan penghinaan halus itu.

"Ayah," Leonor memberanikan diri bersuara. "Minggu depan adalah fashion show-ku. Aku akan menampilkan koleksi utamaku. Jika Ayah ada waktu..."

"Desain baju?" David memotong kalimat itu bahkan sebelum Leonor menyelesaikannya. Tatapannya beralih pada Leonor, dingin dan meremehkan.

"Kau menghabiskan biaya kuliah mahal hanya untuk menjadi penjahit? Mengapa kau tidak bisa setidaknya belajar akuntansi seperti Ayah dulu? Setidaknya Aurora, meski hanya bermain peran, masih bisa berguna untuk citra publik keluarga."

David meletakkan garpunya dengan denting yang keras. "Tapi kau, Leonor... kau bahkan tidak membawa nama Gonzales. Kau lahir sebagai pengingat bahwa ibumu, gadis miskin itu, tidak bisa memberiku apa yang kucari."

Hati Leonor mencelos. Ibunya, yang meninggal saat ia berusia 11 tahun, selalu menjadi sasaran kebencian David karena status sosialnya yang rendah dan karena hanya melahirkan seorang anak perempuan.

"Ethan adalah masa depan," lanjut David sambil menepuk bahu putranya.

"Dia belajar bisnis di kampus yang sama dengan kalian, tapi dia memikul beban yang jauh lebih mulia. Kalian berdua hanyalah menunggu waktu sampai ada pria dari keluarga kaya yang mau menikahi kalian."

Setelah makan malam, Leonor dan Aurora berdiri di balkon lantai dua, menatap lampu-lampu Los Angeles yang berkilauan.

"Dia tidak akan pernah melihat kita, Leo," bisik Aurora pahit.

"Mau sejuta kali aku masuk TV atau sejuta kali kau memenangkan penghargaan desain, di matanya kita tetap kegagalan karena kita bukan laki-laki."

Leonor membelai rambut panjangnya yang tertiup angin. "Aku tidak mengerti bisnis, Aurora. Aku tidak tahu cara membaca grafik saham atau melakukan akuisisi. Tapi aku tahu cara menciptakan sesuatu yang indah. Apakah itu benar-benar tidak berharga?"

"Bagi David Gonzales? Tidak," jawab Aurora. "Kecuali keindahan itu bisa ia jual untuk menambah digit di rekening banknya."

Malam itu, Leonor kembali ke meja kerjanya. Ia menatap sketsa gaun pengantin yang sedang dikerjakannya. Meskipun ayahnya membencinya, meskipun ia hidup tanpa marga Gonzales di belakang namanya, Leonor tahu satu hal: kreativitasnya adalah miliknya sendiri.

Ia mungkin tidak akan pernah menjadi pewaris perusahaan properti raksasa, tapi ia adalah ratu di dunianya sendiri—dunia warna, tekstur, dan bentuk.

Di kampus besok, saat ia berpapasan dengan Ethan yang selalu dikelilingi asisten dan kemewahan, Leonor akan tetap berjalan dengan kepala tegak. Ia adalah Leonor Kaia. Kaia adalah nama ibunya. Tanpa harta David, tanpa validasi sang ayah, ia akan tetap menjahit jalannya sendiri menuju kesuksesan, meski harus dimulai dari selembar kain sisa di rumah yang tidak pernah menganggapnya ada.

🌷🌷🌷🌷

Happy Reading Dear 😍

#2

Pagi itu, langit Los Angeles tampak cerah, namun bagi Leonor Kaia, udara selalu terasa berat setiap kali ia menginjakkan kaki di universitas. Ia turun dari bus kota—sangat kontras dengan mahasiswa lain yang membawa kendaraan mewah—lalu mulai berjalan menuju gerbang besar kampus dengan tas sketsa besar di bahunya.

Leonor mengenakan blazer krem rancangannya sendiri yang dipadukan dengan rok plisket anggun. Rambut panjangnya terurai, berkilau di bawah sinar matahari. Ia tampak seperti perwujudan kelembutan, hingga sebuah deru mesin yang memekakkan telinga merobek ketenangan pagi itu.

Vroom!

Sebuah Lamborghini Revuelto hitam pekat melaju kencang, membelah genangan sisa hujan semalam tepat di samping trotoar.

Splas!

Cairan cokelat kotor menghantam sisi kanan tubuh Leonor. Cairan itu meresap ke serat blazer buatannya, mengotori roknya, bahkan memercik ke helai rambut hitamnya. Leonor mematung. Matanya menatap noda itu dengan napas tertahan. Itu bukan sekadar baju; itu adalah prototipe desain yang ia kerjakan selama dua minggu tanpa tidur.

Mobil itu berhenti mendadak beberapa meter di depan gerbang utama. Pintu scissor-nya terangkat ke atas dengan angkuh. Leonor tahu siapa pemiliknya. Di kampus ini, hanya ada satu orang yang berani mengemudi seolah jalanan adalah sirkuit pribadinya: Edgar Castiel Martinez.

Jika David Gonzales adalah orang terkaya nomor lima, maka keluarga Martinez adalah pemegang takhta nomor satu. MTZ Group bukan sekadar perusahaan; itu adalah kekaisaran teknologi dan kedirgantaraan. Dan Edgar adalah pewaris tunggalnya.

Edgar keluar dari mobil, menurunkan kacamata hitamnya, lalu menatap Leonor dari ujung kaki hingga kepala. Tatapannya tidak mengandung penyesalan, melainkan penghinaan dingin.

"Hei!" teriak Leonor.

"Trotoar itu lebar. Kau yang berdiri terlalu dekat dengan jalan," ucap Edgar datar sebelum Leonor sempat memprotes.

"Aku berdiri di jalur pejalan kaki! Kau yang mengebut seperti orang gila!" balas Leonor, suaranya bergetar.

"Kau tahu berapa lama aku mengerjakan ini? Kau pikir uang bisa mengganti waktu dan dedikasi?"

Edgar mendengus sinis. Ia merogoh saku, mengeluarkan dompet kulit buaya, dan menarik selembar cek yang sudah ditandatangani tanpa nominal. Ia menyodorkannya dengan dua jari.

"Tulis berapa pun yang kau mau. Beli baju baru, tas baru, atau beli mobil agar kau tidak perlu berjalan kaki lagi," ucapnya dingin. "Jangan membuang waktuku hanya untuk masalah kain kotor."

Leonor menatap cek itu, lalu beralih pada Edgar dengan kebencian murni. Pria ini adalah versi lebih muda dari ayahnya: sombong, memuja materi, dan menganggap manusia lain sebagai gangguan yang bisa diselesaikan dengan uang.

"Simpan uangmu, Martinez," Leonor menepis tangan Edgar hingga cek itu jatuh ke aspal basah. "Tidak semua hal bisa kau beli dengan kesombonganmu. Kau pintar, kau kaya, tapi kau tidak punya kelas."

Mahasiswa di sekitar mulai berbisik. Tidak ada yang pernah berani bicara seperti itu pada Edgar. Bahkan Ethan pun selalu menjilat agar bisa masuk ke lingkaran pergaulan pria itu.

Mata Edgar menyipit. Ada kilat ketertarikan yang gelap di sana. "Kau... gadis yang tidak punya marga itu, kan? Anak David Gonzales dari istri simpanannya?"

Kata-kata itu menghujam jantung Leonor. Rahasia keluarganya ternyata sudah menjadi konsumsi publik.

"Namaku Leonor Kaia," ucapnya tegas, meski matanya mulai berkaca-kaca. "Dan setidaknya aku tahu cara menghargai orang lain, sesuatu yang tidak diajarkan di kelas bisnismu yang mahal itu."

Leonor berbalik, berlari menuju toilet gedung desain untuk membersihkan noda itu bersama air matanya yang mulai jatuh. Di sana, ia bertemu Aurora yang baru saja selesai kelas akting.

"Ya Tuhan, Leo! Apa yang terjadi?" Aurora segera membantu kakaknya.

"Martinez," jawab Leonor singkat dengan suara serak.

"Pria itu memang iblis," Aurora menghela napas. "Dia berteman baik dengan Ethan. Tadi pagi mereka tertawa di kantin, membicarakan proyek besar dari ayah. Ethan sangat bangga bisa bekerja sama dengan Edgar."

Leonor mengepalkan tangan. "Dunia ini memang tidak adil. Orang-orang seperti mereka selalu mendapatkan karpet merah, sementara kita harus berjuang hanya untuk tidak terinjak."

Siangnya, di kelas desain, dosen Leonor mengumumkan kolaborasi besar.

"Tahun ini, Fakultas Bisnis akan mengelola aspek komersial dari proyek kelulusan Fakultas Desain. Investor utamanya adalah MTZ Group," jelas sang dosen. Jantung Leonor seolah berhenti berdetak. "Karena nilaimu yang tertinggi, Leonor, kau akan bekerja sama dengan perwakilan utama MTZ Group."

Pintu ruang kelas terbuka. Edgar Castiel Martinez masuk dengan gaya angkuhnya, diikuti Ethan yang tersenyum lebar.

"Leonor," panggil dosen itu. "Kau akan bekerja sama dengan Mr. Edgar Martinez untuk proyek akhirmu."

Edgar memberikan senyum tipis yang penuh kemenangan. Seolah dunia kembali menegaskan bahwa uang dan kekuasaan selalu menemukan jalan untuk mengendalikan apa pun—termasuk Leonor.

🌷🌷🌷🌷

Happy Reading Dear 😍

#3

Cahaya lampu neon di kantin eksklusif fakultas bisnis terasa lebih menyilaukan daripada biasanya. Tempat ini bukan sekadar kantin, ini adalah arena gladiator bagi para pewaris takhta korporat.

Di meja panjang berlapis marmer di tengah ruangan, berkumpullah "The Untouchables" anak-anak dari daftar Forbes yang masa depannya sudah tertulis di atas kertas saham sebelum mereka lahir.

Di sana ada Ethan, yang tampak sibuk memamerkan jam tangan Patek Philippe terbarunya, dan beberapa putra pemilik bank ternama. Namun, pusat gravitasinya tetap satu, Edgar Castiel Martinez.

Leonor Kaia melangkah masuk dengan sisa noda air di roknya yang belum sepenuhnya hilang. Ia mencoba mengabaikan bisik-bisik yang mengikuti setiap langkahnya. Baginya, ruangan ini berbau keserakahan dan parfum mahal yang menyesakkan. Ia hanya ingin segelas jus jeruk dingin untuk mendinginkan kepalanya yang mendidih setelah pengumuman kolaborasi paksa itu.

"Satu jus jeruk, tanpa gula," ucap Leonor lembut pada pelayan.

Saat ia menunggu, sebuah bayangan tinggi menutupi pantulan cahaya di konter marmer. Aroma kayu cendana dan citrus yang mahal menyeruak, aroma yang kini Leonor kenali sebagai aroma masalah.

"Jus jeruk? Kau butuh vitamin C untuk memulihkan syaraf mu yang tegang, hm?"

Sebuah tawa remeh menyusul kalimat itu. Leonor menoleh dan mendapati Edgar berdiri tepat di sampingnya, bersandar pada konter dengan satu tangan di saku celana kainnya yang sempurna. Pria itu tampak sangat maskulin, sangat berkuasa, dan sangat menyebalkan.

Di meja elit, Ethan dan teman-temannya berhenti bicara soal indeks saham gabungan. Mereka semua menonton.

"Jangan ganggu aku, Martinez," desis Leonor, suaranya rendah namun tajam. "Bukankah kau punya jutaan dolar untuk dihitung di mejamu?"

Edgar justru melangkah satu tindak lebih dekat, menginvasi ruang pribadi Leonor. "Aku sedang menghitung kerugian ku, sebenarnya. Kerugian waktu karena harus bekerja sama dengan seorang desainer yang bahkan tidak bisa menjaga kebersihan pakaiannya sendiri."

Tangan Edgar terangkat, dengan gerakan yang sangat pelan dan berani, ia menyelipkan sehelai rambut panjang Leonor yang berantakan ke belakang telinga gadis itu. Tindakan itu terlihat sangat intim, sangat protektif, jika orang melihatnya dari jauh.

"Lihat mereka," bisik seorang mahasiswi di meja sebelah. "Edgar Martinez tidak pernah menyentuh wanita di depan umum selembut itu. Apa mereka punya hubungan?"

Leonor tersentak, wajahnya memanas bukan karena malu yang manis, tapi karena murka. Ia menepis tangan Edgar dengan kasar. "Jangan sentuh aku dengan tangan yang kau gunakan untuk membuang-buang uang haram mu!"

Edgar tidak marah. Ia justru tersenyum miring, jenis senyum yang membuat para wanita di ruangan itu menahan napas. "Kau galak sekali. Apakah itu cara pengrajin kain sepertimu menggoda pria? Dengan berpura-pura benci?"

"Aku tidak menggoda! Aku muak!" suara Leonor naik satu oktav.

"Oh, ayolah, Leonor," sahut Ethan dari meja utama, memancing tawa dari teman-temannya. "Semua orang tahu kau hanya mencari perhatian Edgar. Ayah pasti bangga jika kau bisa mendekati keluarga Martinez, meskipun kau bukan seorang Gonzales."

Kalimat Ethan seperti tamparan bagi Leonor.

Di ruangan itu, ia merasa telanjang. Rahasia bahwa ia tidak diakui ayahnya dilemparkan ke udara seperti sampah.

Edgar menatap Leonor yang matanya mulai berkaca-kaca, namun ia tidak berhenti. Ia justru membungkuk, mendekatkan wajahnya ke telinga Leonor sehingga napas hangatnya menyentuh kulit gadis itu.

"Jangan dengarkan adikmu," bisik Edgar, namun dengan volume yang cukup untuk didengar meja terdekat. "Kau terlalu cantik untuk menangis karena urusan saham. Bagaimana jika kita bicarakan proyek kita di tempat yang lebih... privat? Aku suka caramu melawan. Itu jauh lebih menarik daripada model-model yang biasanya mengejarku."

Bagi orang-orang di kantin, pemandangan itu terlihat seperti adegan film romantis, Sang pangeran kaya yang angkuh sedang membisikkan kata-kata cinta pada gadis jelita yang malu-malu. Mereka melihat Leonor yang wajahnya merah padam sebagai tanda jatuh cinta, padahal itu adalah tanda penghinaan yang luar biasa.

"Kau... kau pria paling rendah yang pernah kutemui!" teriak Leonor, suaranya bergetar.

Tepat saat itu, pelayan memberikan gelas jusnya. Tanpa berpikir panjang, Leonor meraih gelas itu, namun tangannya yang gemetar karena marah membuat gelas itu tergelincir.

Prang!

Bukan Edgar yang terkena tumpahan, melainkan Leonor sendiri. Jus jeruk itu membasahi bagian depan kemeja sutranya yang tipis, membuatnya tampak transparan dan melekat pada tubuhnya.

Edgar terdiam, matanya menatap tajam pada Leonor. Namun, bukannya mengejek, ia dengan cepat melepas jas designer-nya dan menyampirkan nya ke bahu Leonor, menutupi tubuh gadis itu dari tatapan lapar pria-pria di meja elit.

"Jangan dilepas," perintah Edgar, suaranya tiba-tiba menjadi sangat berat dan otoriter.

"Lepaskan aku!" Leonor mencoba meronta, namun Edgar mencengkeram bahunya dengan lembut tapi kuat, memaksanya untuk tetap tertutup jas tersebut.

"Wohoo! Edgar sang penyelamat!" sorak salah satu teman Ethan. "Romantis sekali! Sepertinya pernikahan bisnis antara Martinez dan putri yang tanpa nama akan segera terjadi!"

Tawa pecah di seluruh kantin. Leonor merasa bumi seolah runtuh di bawah kakinya. Ia merasa seperti bidak catur yang sedang dimainkan. Di mata semua orang, ia adalah gadis beruntung yang sedang dirayu oleh Edgar Martinez. Padahal baginya, jas yang tersampir di bahunya itu terasa seperti rantai yang mengikatnya pada pria yang paling ia benci di dunia.

Leonor tidak tahan lagi. Dengan wajah yang basah oleh air mata malu, ia berlari keluar dari kantin, masih mengenakan jas Edgar yang beraroma maskulin, sebuah pengingat bahwa ke mana pun ia lari, bayang-bayang pria itu dan kekuasaannya tidak akan pernah melepaskannya.

🌷🌷🌷🌷

Happy Reading Dear 😍

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!