Kelopak mata itu bergetar hebat sebelum akhirnya terbuka, menampakkan sepasang manik mata yang berpendar jingga keemasan. Rasa sakit yang menghujam ulu hati adalah hal pertama yang menyambut kesadarannya—rasa sakit yang terasa nyata, seolah-olah jiwanya baru saja dipaksa masuk ke dalam wadah yang terlalu sempit.
Dia tidak berada di kamarnya yang berantakan dengan poster anime. Tidak ada bau mie instan atau suara kipas angin PC yang menderu. Sebaliknya, indra penciumannya menangkap aroma kayu cendana yang mahal, parfum mawar yang menyengat, dan sesuatu yang jauh lebih dominan: aroma belerang dan api.
"Uh..."
Sebuah erangan rendah keluar dari tenggorokannya. Dia mencoba bangkit, namun tubuhnya terasa seberat timah. Saat tangannya menyentuh permukaan tempat tidur, dia merasakan sutra berkualitas tinggi. Dia menoleh ke samping, menatap cermin besar berbingkai emas yang berdiri tegak di sudut ruangan megah itu.
Bukan wajahnya.
Di dalam cermin itu, seorang pria muda menatap balik dengan ekspresi linglung. Rambut pirang pucat yang tertata rapi, setelan jas merah burgundy yang terlihat sangat arogan, dan aura kemewahan yang memuakkan.
Tunggu. Ini... Riser Phenex?
Ingatan terakhirnya adalah cahaya putih yang menyilaukan dan suara sosok yang mengaku sebagai Dewa, meminta maaf karena sebuah kecerobohan konyol yang mengakhiri hidupnya sebagai seorang otaku di usia muda.
Aku benar-benar bereinkarnasi? Tapi kenapa harus jadi ayam bakar ini?
Tepat saat pemikiran itu melintas, sebuah sensasi dingin yang kontras dengan suhu tubuhnya yang panas mulai merayap di belakang kepalanya.
[ Sinkronisasi Jiwa: 15% ]
[ Memproses memori inang... ]
[ Integrasi selesai. Selamat pagi, Pemalas. ]
Pria itu tersentak. Suara itu bukan suara robot yang datar. Itu suara perempuan—tajam, sedikit angkuh, tapi memiliki nada merdu yang familiar.
"Siapa?" gumamnya, suaranya kini terdengar jauh lebih berat dan penuh wibawa dibanding suara aslinya di dunia lama.
[ Aku Yui. Berhenti mencari di kolong tempat tidur, aku ada di dalam kesadaranmu. Dan tolong, bisakah kamu berhenti memasang wajah bodoh itu? Itu merusak reputasi visual yang sudah susah payah aku sinkronkan dengan seleramu. ]
Riser—nama yang kini harus dia terima—terkekeh pelan, meski dadanya masih terasa sesak. "Yui, ya? Nama yang bagus untuk sistem yang terdengar seperti sedang mengalami PMS."
[ Kamu ingin mati lagi? Aku bisa mengatur jadwalnya jika kamu mau. ]
"Galak sekali," Riser menghela napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya. Dia bangkit dari tempat tidur, berjalan perlahan menuju balkon kamar yang luas. Dari sana, dia bisa melihat pemandangan dunia bawah (Underworld) yang eksotis. Langit berwarna ungu kemerahan dengan kastel-kastel megah yang melayang di kejauhan.
Dia melihat tangannya sendiri. Nyala api kecil tiba-tiba muncul di ujung jarinya secara naluriah. Itu bukan api biasa; itu adalah api keabadian milik klan Phenex. Namun, di balik api itu, dia bisa merasakan sesuatu yang jauh lebih gelap, lebih berat, dan jauh lebih destruktif. Kekuatan yang diminta jiwanya sebelum terlahir kembali: kekuatan sang kapten dari tujuh dosa besar.
"Yui, status. Berikan aku gambaran tanpa basa-basi," ucap Riser sambil menyandarkan sikunya di pagar balkon, menatap hamparan wilayah Phenex yang luas.
Status Pengguna
Nama: Riser Phenex
Ras: Iblis Berdarah Murni
Gelar: Pewaris Ketiga Klan Phenex
Kekuatan Utama:
* Power of Darkness (Segel Level 1 - Sinkronisasi Dibutuhkan)
* Full Counter (Pasif/Aktif - Tergantung Reaksi Tubuh)
* Tori Tori no Mi: Model Phoenix (Terintegrasi dengan Darah Phenex - Tanpa Kelemahan Air)
Keahlian:
* Pengendalian Energi: Master
* Intuisi Pertempuran: Khusus
* Seni Bela Diri (Re-Taekwondo): Master
* Memasak: Master
Riser menatap daftar itu dengan senyum miring. "Master memasak? Dewa itu benar-benar mengabulkannya di tengah-tengah paket kekuatan tempur?"
[ Tentu saja. Seorang Raja butuh lidah yang tajam, bukan hanya pedang yang tajam. Lagipula, bukankah kamu yang bilang kalau jalan menuju hati wanita adalah melalui perut mereka? Dasar mesum. ]
Riser tertawa kecil, suara tawanya kini terdengar lebih santai, kehilangan kekakuan aristokrat aslinya. "Itu strategi, Yui. Bukan mesum. Ada perbedaan tipis di sana."
Tiba-tiba, pintu kamarnya diketuk dengan keras. Bukan ketukan pelayan yang sopan, melainkan ketukan yang terburu-buru dan penuh kecemasan.
"Kakak! Kak Riser! Kamu sudah bangun?"
Suara itu. Ravel Phenex. Adik perempuannya—atau setidaknya, adik dari tubuh ini.
Riser memejamkan mata sejenak, membiarkan memori asli dari Riser Phenex mengalir. Hari ini. Tanggal ini. Dia menyadari satu hal yang membuatnya mendengus geli.
"Yui, ini hari itu, kan?"
[ Ya. Hari di mana kamu seharusnya pergi ke dunia manusia untuk mempermalukan dirimu sendiri di depan Rias Gremory dan berakhir menjadi ayam panggang oleh seorang bocah yang berteriak 'Boost' setiap sepuluh detik. ]
Riser merapikan kerah jasnya, menatap pantulan dirinya di kaca balkon dengan tatapan yang kini tajam dan penuh percaya diri. Kesan arogan yang kosong telah hilang, digantikan oleh aura dingin yang analitis namun santai.
"Ayam panggang, ya? Kurasa menu hari ini akan berubah," bisik Riser. Dia berjalan menuju pintu, setiap langkahnya terasa lebih ringan seiring dengan teknik pernapasan yang dia pelajari dari memori bela dirinya yang baru.
Dia membuka pintu, dan di sana berdiri seorang gadis kecil dengan rambut pirang yang dikuncir dua, menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Ravel tampak siap untuk memohon sesuatu, kemungkinan besar memohon agar kakaknya tidak terlalu kasar pada Rias—atau sebaliknya, mengkhawatirkan kesombongan kakaknya sendiri.
Riser tidak menunggu Ravel bicara. Dia mengulurkan tangan, mengusap kepala adiknya itu dengan gerakan yang lembut namun tegas, sesuatu yang tidak akan pernah dilakukan oleh Riser yang asli.
"Ayo pergi, Ravel. Aku punya janji yang harus diselesaikan di Kuoh."
Ravel tertegun. Dia merasakan suhu tubuh kakaknya tidak lagi membara seperti api yang tak terkendali, melainkan terasa hangat dan menenangkan. "Kak... Riser?"
"Kenapa? Apa aku terlihat terlalu tampan hari ini sampai kamu lupa cara bicara?" Riser mengedipkan satu matanya, membuat Ravel tersipu malu sekaligus bingung dengan perubahan sikap kakaknya yang mendadak menjadi sangat santai.
[ Cih, mulai lagi sifat tebar pesonanya. ]
Riser hanya tersenyum tipis mendengar ejekan Yui di kepalanya. Dia melangkah melewati koridor panjang kastel Phenex, menuju lingkaran sihir transportasi yang sudah disiapkan. Targetnya jelas: Akademi Kuoh. Bukan untuk memaksa sebuah pernikahan, tapi untuk mengambil kembali kendali atas takdirnya sendiri.
Lingkaran sihir dengan lambang klan Phenex berpendar terang di tengah ruang klub Penelitian Ilmu Gaib. Cahaya api yang muncul tidak lagi terasa liar dan menyengat, melainkan memancar dengan tekanan yang tenang namun masif. Dari balik pendaran itu, Riser melangkah keluar dengan tangan terbenam di saku celananya. Ravel mengikuti di belakang, tampak sedikit canggung karena merasakan atmosfer kakaknya yang sangat berbeda dari biasanya.
Di depan mereka, Rias Gremory berdiri dengan wajah kaku. Di sampingnya, seorang pemuda berambut cokelat—Hyoudou Issei—mengepalkan tangan dengan kemarahan yang meluap-luap. Sisanya, Akeno, Kiba, dan Koneko, sudah dalam posisi siaga.
Riser menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan. Matanya sempat berhenti sejenak pada sosok Asia Argento yang berdiri gemetar di pojok ruangan.
[ Target Terdeteksi: Asia Argento. ]
[ Status: Ketakutan, Bingung, Memiliki potensi kemurnian tinggi. ]
[ Saran: Berhentilah menatapnya seperti predator, atau citra 'pahlawan' yang ingin kamu bangun akan hancur sebelum dimulai. ]
Diamlah, Yui. Aku sedang melakukan observasi, batin Riser datar.
"Riser Phenex..." Rias membuka suara, nadanya sedingin es. "Sudah kubilang, aku tidak akan menerima pernikahan ini. Kenapa kamu masih bersikeras datang ke sini dengan cara tidak sopan?"
Riser tidak langsung menjawab. Dia berjalan perlahan menuju sofa kulit yang ada di sana, melewati Issei seolah pemuda itu hanyalah hiasan dinding yang tidak penting. Gerakannya begitu santai, namun setiap langkahnya memberikan tekanan mental yang membuat Kiba Yuuto secara refleks memegang gagang pedangnya.
"Hei! Kau dengar tidak?! Jangan mengabaikan Buchou!" teriak Issei, melangkah maju untuk mencengkeram kerah jas Riser.
Wush—
Hanya dalam satu gerakan halus, Riser memiringkan tubuhnya sedikit. Dia tidak memukul, dia hanya membiarkan aura gelap dari Power of Darkness miliknya memercik tipis di ujung jarinya. Issei terpental mundur beberapa langkah seolah baru saja menabrak dinding yang tak terlihat.
"Berisik sekali," ucap Riser pelan, suaranya terdengar sangat manusiawi namun mengandung otoritas yang tidak bisa dibantah. "Aku datang ke sini untuk bicara dengan pemilik rumah, bukan dengan peliharaan yang belum diajari cara menggonggong pada tempatnya."
"Kau—!" Issei hendak maju lagi, namun Rias mengangkat tangannya, menghentikan pionnya.
Rias menatap Riser dengan dahi berkerut. Ada yang salah. Riser yang dia kenal adalah seorang narsistik yang akan berteriak tentang kehebatan api abadinya sejak detik pertama dia tiba. Riser yang ada di depannya sekarang terlihat... tenang. Terlalu tenang.
"Duduklah, Rias. Wajah cantikmu akan cepat keriput kalau kamu terus memasang ekspresi seperti ingin menelan orang hidup-hidup," ujar Riser sambil menyandarkan punggungnya di sofa, melipat kaki dengan gaya yang sangat elegan.
Ravel Phenex berdiri di samping kakaknya, matanya mengerjap tidak percaya. "Kak... Kakak benar-benar ingin bicara baik-baik?"
Riser melirik adiknya itu dan tersenyum tipis—senyum yang tulus, bukan seringai jahat. "Tentu saja. Aku bosan dengan drama yang tidak produktif."
Rias akhirnya duduk di hadapan Riser, meski tubuhnya tetap tegang. Akeno berdiri di belakangnya, matanya menyipit waspada, siap melepaskan petir kapan saja.
"Apa maumu, Riser? Jika ini tentang mempercepat pernikahan, jawabanku tetap tidak," tegas Rias.
Riser menyesap teh yang entah sejak kapan sudah disediakan oleh Yubelluna—ratunya yang muncul dari bayang-bayang di belakangnya. Dia menatap cairan teh itu sejenak sebelum menatap lurus ke mata biru Rias.
"Aku ke sini untuk menawarkan sebuah solusi. Sebuah Rating Game," ucap Riser tenang.
Issei berteriak lagi, "Tentu saja! Ujung-ujungnya pasti kau ingin pamer kekuatan, kan?!"
"Bisa kau tutup mulutnya, Rias? Atau perlu aku yang melakukannya secara permanen?" Riser melirik Issei dengan tatapan dingin yang membuat pemuda berambut cokelat itu mendadak membeku. Tekanan itu bukan berasal dari api, melainkan sesuatu yang jauh lebih purba dan mematikan.
[ Sinkronisasi Jiwa meningkat: 18%. ]
[ Catatan: Tekanan mental yang baru saja kamu lepaskan cukup efektif. Tapi hati-hati, jantung Issei hampir copot. ]
Riser kembali fokus pada Rias. "Jika aku kalah, aku akan membatalkan pertunangan ini secara resmi di depan Dewan Iblis dan menjamin kebebasanmu tanpa syarat. Aku juga akan menanggung semua konsekuensi sosial yang diterima keluarga Phenex."
Rias tertegun. Tawaran itu terlalu menguntungkan baginya. "Lalu... jika kamu menang?"
Riser meletakkan cangkir tehnya di meja dengan dentingan pelan. Dia memajukan tubuhnya, memberikan senyum misterius yang membuat jantung Rias berdegup lebih kencang karena alasan yang tidak dia pahami.
"Jika aku menang, kamu akan tetap bebas dari pernikahan ini. Tapi," Riser menjeda kalimatnya, matanya beralih ke arah Asia Argento sejenak sebelum kembali ke Rias. "Kamu dan seluruh Peerage-mu harus berhutang budi padaku. Dan suatu saat, aku akan menagih hutang itu dalam bentuk kerja sama faksi."
"Hah?" Rias benar-benar bingung. "Maksudmu, kau tidak ingin menikahiku meski kau menang?"
Riser tertawa lepas, suara tawa yang terdengar jujur dan sedikit sarkastik. "Rias, kamu wanita yang hebat dan cantik. Tapi aku tidak tertarik pada wanita yang hatinya tidak ada padaku. Aku punya harga diri yang lebih tinggi daripada sekadar mengemis cinta pada wanita yang membenciku."
Dia bangkit dari duduknya, merapikan jasnya yang tidak kusut sama sekali.
"Sepuluh hari dari sekarang. Siapkan bidak-bidakmu. Oh, dan satu hal lagi..." Riser berjalan menuju Asia Argento. Grayfia Lucifuge, yang baru saja muncul di ruangan itu untuk memantau, terkejut melihat pergerakan Riser yang begitu tenang namun tak terdeteksi.
Riser berdiri di depan Asia, yang gemetar ketakutan. Bukannya menyakiti, Riser justru mengulurkan tangannya dan menepuk bahu Asia dengan lembut.
"Jangan takut, Biarawati. Di dunia ini, kekuatan bukan hanya untuk menghancurkan, tapi untuk melindungi hal yang layak dilindungi. Cobalah untuk makan lebih banyak, kamu terlihat terlalu pucat."
Setelah mengatakan itu, Riser berbalik dan berjalan menuju lingkaran sihir transportasi.
"Sampai jumpa di arena, Rias Gremory. Cobalah untuk tidak membuatku bosan."
[ Misi Tersembunyi Selesai: Mengubah Persepsi Awal. ]
[ Hadiah: Peningkatan kontrol Tori Tori no Mi (Model Phoenix). ]
[ Komentar Yui: Tidak buruk untuk seorang otaku yang biasanya hanya bicara dengan bantal guling. Kamu terlihat sedikit keren tadi... sedikit saja. ]
Riser hanya tersenyum tipis saat tubuhnya menghilang ditelan api merah keemasan, meninggalkan ruangan klub yang kini dipenuhi oleh keheningan yang mencekam dan rasa penasaran yang luar biasa dari pihak Rias.
Kembali ke wilayah kediaman Phenex, suasana tidak lagi terasa sama bagi Riser. Jika dulu dia melihat kastel ini sebagai simbol kesombongan, kini dia melihatnya sebagai aset strategis. Namun, ada satu hal yang mengganggunya: Peerage aslinya. Meskipun mereka setia, Riser tahu bahwa untuk mencapai targetnya—membangun kekuatan yang bisa menantang tatanan dunia—dia membutuhkan individu dengan potensi yang lebih spesifik.
Riser berdiri di tengah lapangan pelatihan pribadi yang luas. Udara di sekitarnya bergetar karena panas yang terpancar secara alami dari tubuhnya. Di depannya, Yubelluna berdiri dengan sikap sempurna, tongkat sihirnya tergenggam erat, namun matanya memancarkan kebingungan yang mendalam.
"Tuanku Riser," suara Yubelluna memecah keheningan. "Anda meminta saya untuk menyerang dengan kekuatan penuh? Tanpa ada bidak Pawn atau Knight yang menjaga Anda?"
Riser meregangkan lehernya, bunyi gemertak tulang terdengar memuaskan. "Benar, Yubelluna. Aku ingin kau melepaskan sihir ledakanmu yang paling kuat. Jangan menahan diri jika kau tidak ingin melihatku menguap."
[ Sinkronisasi Jiwa: 21% ]
[ Kondisi Tubuh: Optimal ]
[ Saran: Gunakan teknik pernapasan Re-Taekwondo untuk menstabilkan aliran energi iblis. Jika kamu ceroboh, pakaian mahalmu akan terbakar lagi. ]
Yui, bisakah kau memberikan sedikit dukungan moral daripada mengkhawatirkan jas ini? batin Riser sambil tersenyum kecut.
[ Dukungan moral tidak akan melindungimu dari ledakan sihir tingkat tinggi. Konsentrasi, Pemalas. ]
Riser mengambil kuda-kuda rendah. Tubuhnya tidak lagi tegang. Dia mengingat setiap gerakan Jin Mori, setiap aliran Renewal Taekwondo yang kini tertanam di otot-ototnya. Dia tidak hanya mengandalkan api; dia mengandalkan kontrol.
"Mulailah," perintah Riser.
Yubelluna tidak lagi ragu. Sebagai Queen yang loyal, dia menuruti perintah tuannya. Dia mengangkat tongkatnya, lingkaran sihir ungu besar tercipta di atas kepalanya.
"Jika itu kemauan Anda... Arcane Burst!"
Seketika, serangkaian bola energi destruktif meluncur dengan kecepatan tinggi menuju Riser. Setiap bola itu cukup kuat untuk meratakan sebuah bangunan beton.
Riser tidak menghindar. Dia justru maju.
Langkah pertama: Penguasaan Medan.
Dengan gerakan yang hampir tidak tertangkap mata, Riser menggeser tumpuan kakaknya. Saat bola energi pertama hampir menyentuh wajahnya, dia memutar tubuhnya—sebuah gerakan spinning hook kick yang sempurna—namun alih-alih menendang fisik, kakinya membawa aliran udara yang dipadukan dengan energi Full Counter.
Blar!
Bola energi itu meledak, namun arah ledakannya berbalik seratus delapan puluh derajat ke arah serangan berikutnya, menciptakan reaksi berantai di udara.
[ Teknik Terdeteksi: Penangkapan Momentum. ]
[ Efektivitas: 85% ]
Riser terus bergerak. Dia melesat di antara ledakan, bayangannya tampak seperti kilat pirang. Saat dia berada cukup dekat dengan Yubelluna, dia tidak menyerang. Dia berhenti tepat di depan hidung ratunya, membiarkan energi panasnya menyelimuti mereka berdua tanpa menyakiti gadis itu.
Yubelluna gemetar, bukan karena takut, tapi karena intensitas aura yang dikeluarkan Riser. Ini bukan lagi api yang membabi buta. Ini adalah kekuatan yang terkendali, tajam, dan sangat dominan.
"Kau terlalu lambat dalam memicu ledakan kedua, Yubelluna," bisik Riser tepat di telinganya. "Di medan perang yang sesungguhnya, satu detik keraguan adalah tiket menuju pemakaman."
Riser menjauhkan dirinya, mematikan aura panasnya seketika. "Tapi, akurasi sihirmu meningkat. Itu bagus."
Yubelluna membungkuk dalam, wajahnya sedikit merona. "Terima kasih atas bimbingannya, Tuanku. Namun... saya merasa Anda berbeda. Teknik bela diri yang Anda gunakan... saya belum pernah melihatnya di buku sejarah iblis mana pun."
Riser tertawa kecil, dia berjalan menuju tepi lapangan di mana sebotol air dingin telah disiapkan. "Sebut saja itu hobi baru. Membaca buku tua ternyata ada gunanya juga."
[ Kebohongan yang sangat payah. ]
[ Peringatan: Energi dalam tubuhmu sedang bergejolak. Efek penggunaan 'Full Counter' pada tubuh iblis yang belum terbiasa mulai terasa. ]
Riser merasakan dadanya sedikit sesak. Dia duduk di bangku taman, mencoba mengatur napasnya. "Yui, apa masalahnya? Tubuh Phenex seharusnya bisa beregenerasi dengan cepat."
[ Regenerasi Phenex bekerja pada kerusakan fisik. Namun, teknik yang kamu gunakan menuntut beban mental dan jalur energi yang berbeda dari sihir iblis biasa. Kamu butuh sinkronisasi yang lebih tinggi jika ingin menggunakan kekuatan Meliodas tanpa efek samping. ]
"Begitu ya... Jadi aku masih harus banyak berlatih," gumam Riser.
Dia kemudian menoleh ke arah Yubelluna yang masih berdiri setia di sana. Riser telah mengambil keputusan. Dia tidak bisa membawa seluruh Peerage lamanya ke jalan yang penuh bahaya ini. Dia butuh mereka untuk tetap aman, sementara dia membentuk tim khusus yang bisa mengikuti kecepatannya.
"Yubelluna," panggil Riser dengan nada serius.
"Iya, Tuanku?"
"Setelah Rating Game melawan Rias selesai... aku akan menyerahkan posisi pimpinan Peerage asliku kepada Ravel. Dia butuh perlindungan, dan kalian adalah orang-orang yang paling aku percayai untuk menjaganya."
Mata Yubelluna membelalak. "Apa? Tapi... bagaimana dengan Anda? Seorang King tanpa Peerage adalah sasaran empuk."
Riser berdiri, menatap langit Underworld yang luas. "Aku tidak bilang aku akan sendirian. Aku hanya bilang, aku akan membangun tim yang baru. Tim yang mampu berdiri di puncak dunia bersamaku. Dan kau..." Riser menatap Yubelluna dengan tatapan yang dalam. "Aku ingin kau tetap bersamaku. Bukan hanya sebagai bidak, tapi sebagai salah satu pilar kekuatanku."
Yubelluna merasa jantungnya berdegup kencang. Kata-kata Riser tidak terdengar seperti perintah seorang tuan kepada budaknya, melainkan ajakan seorang pria kepada rekannya.
"Saya... saya akan mengikuti Anda ke mana pun, bahkan ke dasar neraka sekalipun," jawab Yubelluna dengan kemantapan hati yang mutlak.
Riser tersenyum puas. Satu pilar telah diamankan. Kini, dia hanya perlu memenangkan Rating Game konyol itu dan mulai mencari anggota-anggota barunya yang telah dia rencanakan dalam ingatannya.
[ Analisis: Loyalitas Yubelluna meningkat drastis. ]
[ Saran: Gunakan waktu luangmu untuk mulai mempelajari koordinat dunia manusia. Target pertama: Saeko Busujima. ]
"Saeko, ya?" Riser menyeringai. "Gadis dengan pedang yang haus darah. Dia akan sangat cocok di timku."
Malam di dunia manusia memiliki aroma yang sangat berbeda dengan Underworld. Jika di rumahnya Riser mencium bau belerang dan kemewahan yang kaku, di sini—di tengah hiruk-pikuk kota yang diselimuti lampu neon—dia mencium bau kebebasan, polusi, dan potensi.
Riser melangkah keluar dari gang gelap, menyesuaikan letak kerah jaket hitamnya. Dia meninggalkan setelan jas mahalnya di kastel, beralih ke pakaian yang lebih kasual namun tetap berkelas: kaos hitam pas badan yang menonjolkan hasil latihan fisiknya, dibalut jaket kulit dan celana jins gelap. Penampilannya kini benar-benar menyerupai Kuze Masachika, namun dengan sorot mata yang jauh lebih tajam dan berbahaya.
[ Lokasi: Kota Kuoh - Sektor Barat. ]
[ Target Terdeteksi: Fluktuasi energi kehidupan yang tajam di area dojo tua. ]
[ Jarak: 400 meter. ]
Yui, pastikan kehadiranku tidak terdeteksi oleh jaringan pengawas Gremory atau Sitri. Aku tidak ingin Sona Sitri yang cerewet itu datang menanyakan visaku, batin Riser sambil berjalan santai.
[ Sudah diatur. Aku telah menyelimuti keberadaanmu dengan frekuensi energi rendah yang menyatu dengan latar belakang kota. Selama kamu tidak melepaskan api Phoenix-mu seperti orang gila, mereka hanya akan melihatmu sebagai pemuda tampan yang sedang mencari alamat. ]
Riser mendengus geli. "Pemuda tampan, ya? Setidaknya sistem ini jujur soal visualku."
[ Jangan terlalu percaya diri. Itu hanya protokol deskripsi objektif. ]
Riser terus berjalan, melewati deretan toko yang sudah tutup hingga sampai di sebuah area yang lebih sunyi. Di sana, berdiri sebuah dojo tua dengan papan nama kayu yang sudah mulai lapuk. Namun, di balik dinding kayu itu, Riser bisa mendengar suara yang sangat spesifik.
Slash! Slash!
Suara tebasan pedang kayu yang membelah udara dengan presisi yang mengerikan. Riser berhenti di depan gerbang, tidak langsung masuk. Dia menyandarkan tubuhnya di pagar batu, memejamkan mata sejenak untuk mempertajam indranya.
[ Intuisi Pertempuran Aktif. ]
[ Analisis: Setiap tebasan mengandung niat membunuh yang murni. Subjek tidak hanya berlatih teknik, dia sedang menekan insting liarnya. ]
Riser membuka pintu geser dojo dengan gerakan yang sangat pelan. Di dalam, di bawah cahaya remang dari lampu gantung yang bergoyang, seorang gadis dengan rambut ungu panjang yang diikat ekor kuda sedang mengayunkan bokken (pedang kayu). Keringat membasahi tubuhnya, membuat pakaian latihannya menempel erat, namun fokusnya tidak goyah sedikit pun.
Saeko Busujima.
Riser memperhatikan setiap gerakannya. Saeko bukan sekadar ahli pedang; ada kegelapan di dalam setiap ayunannya. Kegelapan yang dicari Riser.
"Tebasanmu terlalu penuh dengan penekanan," suara Riser memecah keheningan dojo, terdengar santai namun bergema di setiap sudut ruangan.
Saeko bereaksi seketika. Dalam hitungan detik, dia sudah berbalik dan mengarahkan ujung pedang kayunya tepat ke arah tenggorokan Riser. Matanya yang dingin dan tajam menatap pria asing yang tiba-tiba muncul di wilayah pribadinya.
"Siapa kau? Dan bagaimana kau bisa masuk tanpa membuat suara?" tanya Saeko dengan nada rendah yang mengancam.
Riser tidak mundur. Dia justru melangkah maju satu inci, membiarkan ujung pedang kayu itu nyaris menyentuh kulit lehernya. Dia menatap mata Saeko dengan senyum miring yang provokatif.
"Hanya seorang pelancong yang tertarik dengan aroma darah di tengah kota yang damai ini," jawab Riser tenang. "Kau punya bakat yang disia-siakan di sini, Saeko Busujima. Pedangmu menangis karena dia tidak diberi makan dengan benar."
Pupil mata Saeko bergetar. Kalimat itu menghantam bagian terdalam dari rahasia yang selama ini dia sembunyikan—hasratnya akan kekerasan. "Kau bicara seolah-olah kau tahu sesuatu tentangku."
"Aku tahu lebih banyak dari yang kau bayangkan," Riser mengangkat tangannya, perlahan menjauhkan ujung bokken itu dari lehernya dengan satu jari. "Dunia ini jauh lebih luas daripada sekadar kompetisi kendo tingkat nasional. Ada tempat di mana haus darahmu bukan dianggap sebagai kutukan, melainkan sebuah anugerah."
Saeko menurunkan pedangnya, namun kewaspadaannya tetap di tingkat tertinggi. "Kau bukan manusia biasa, kan? Atmosfer di sekitarmu... terlalu berat."
Riser tertawa pelan. "Pengamatan yang bagus. Jadi, bagaimana kalau kita membuat kesepakatan? Aku akan memberimu kesempatan untuk melepaskan monster di dalam dirimu, dan sebagai gantinya, kau akan meminjamkan pedangmu padaku."
[ Sinkronisasi Jiwa: 23% ]
[ Status Subjek: Tertarik namun Skeptis. ]
[ Saran: Berikan sedikit demonstrasi. Wanita seperti dia hanya menghormati kekuatan. ]
Riser mengangguk dalam hati. "Ambil pedang kayumu, Saeko. Serang aku dengan niat untuk membunuh. Jika kau bisa menyentuh pakaianku saja, aku akan pergi dan tidak akan mengganggumu lagi. Tapi jika kau kalah... kau harus mendengarkan penawaranku sampai selesai."
Saeko terdiam sejenak, sebelum akhirnya sebuah senyum tipis yang haus akan tantangan muncul di wajah cantiknya. "Menarik. Jangan menyesal jika tulangmu patah, Tuan Asing."
Saeko mengambil posisi kuda-kuda Chudan-no-kamae. Udara di dalam dojo mendadak menjadi sangat dingin. Dalam sekejap, dia melesat maju.
"Hah!"
Pedang kayu itu meluncur dengan kecepatan yang mustahil bagi manusia biasa, mengincar pelipis Riser. Namun, bagi Riser yang memiliki Intuisi Pertempuran tingkat Khusus, gerakan itu seolah melambat. Dia tidak menghindar jauh; dia hanya memiringkan kepalanya beberapa milimeter.
Angin tebasan itu menerpa pipi Riser, namun tidak mengenainya.
Saeko tidak berhenti. Dia memutar tubuhnya, melepaskan serangkaian tebasan beruntun yang mengincar titik-titik vital. Riser bergerak dengan keanggunan seorang penari, tangannya tetap berada di saku jaketnya. Setiap serangan Saeko hanya menemui udara kosong.
"Kenapa? Apa hanya ini kemampuan monster di dalam dirimu?" ejek Riser, memprovokasi insting liar Saeko.
Saeko menggeram pelan. Matanya mulai berkilat dengan cahaya yang sedikit berbeda. Dia melepaskan tebasan vertikal yang sangat kuat—serangan yang dia gunakan untuk membelah musuhnya di masa lalu.
Riser berhenti menghindar. Dia mengangkat tangan kirinya, bukan untuk menangkap, tapi untuk menyentuh sisi pedang kayu itu saat meluncur turun. Dengan sedikit sentuhan energi Full Counter yang disesuaikan, dia membelokkan momentum serangan Saeko.
Brak!
Saeko kehilangan keseimbangan karena kekuatannya sendiri yang berbalik arah. Sebelum dia bisa pulih, Riser sudah berada di belakangnya, tangan kanannya melingkari pinggang Saeko sementara tangan kirinya menahan pergelangan tangan gadis itu yang memegang pedang.
Napas Saeko memburu. Dia bisa merasakan suhu tubuh Riser yang panas—jauh lebih panas dari manusia mana pun—dan aroma maskulin yang dominan.
"Game over, Saeko," bisik Riser di dekat telinganya.
Saeko terengah-engah, tubuhnya gemetar bukan karena takut, tapi karena sensasi aneh yang menjalar di tulang belakangnya. Kekuatan pria ini... begitu mutlak dan menenangkan di saat yang bersamaan.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Saeko dengan suara yang sedikit parau.
Riser melepaskan pelukannya perlahan, membiarkan Saeko berbalik menghadapnya. "Namaku Riser Phenex. Dan aku datang untuk menawarimu kursi di meja para penguasa."
[ Misi Sampingan: Rekrutmen Ksatria Pertama (Progres 50%). ]
[ Komentar Yui: Cara yang sangat klise untuk menggoda wanita, tapi aku harus mengakui, itu cukup efektif. Dia sudah terpikat. ]
Riser hanya tersenyum tipis. Dia tahu, malam ini baru saja dimulai, dan Saeko Busujima adalah kepingan pertama dari Peerage impiannya.
Keheningan menyelimuti dojo tua itu setelah badai serangan Saeko mereda. Lampu gantung di langit-langit masih bergoyang pelan, menciptakan bayangan yang menari-nari di atas lantai kayu yang lecet. Saeko berdiri mematung, menatap tangannya yang masih bergetar. Dia tidak pernah merasa sebodoh ini, namun di saat yang sama, dia tidak pernah merasa sehidup ini.
Riser berjalan menuju tengah dojo, tempat cahaya lampu paling terang menyinari. Dia berbalik, menatap Saeko yang masih mencoba mengatur napasnya yang tidak beraturan.
"Dunia yang kau tinggali sekarang terlalu sempit untuk pedangmu, Saeko," ucap Riser, suaranya berat dan bergema. "Kau mencoba menekan instingmu karena kau takut akan dianggap sebagai monster oleh masyarakat yang lemah ini. Tapi bagiku? Insting itu adalah permata yang belum diasah."
Saeko mengangkat kepalanya, menatap Riser dengan sorot mata yang mulai kehilangan keraguan. "Jika aku mengikutimu... apa yang akan berubah? Apakah aku hanya akan menjadi pelayanmu?"
Riser tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar jujur. "Pelayan? Aku punya banyak pelayan di kastelku. Aku ke sini bukan untuk mencari seseorang yang bisa membuatkanku teh. Aku mencari Ksatria. Seseorang yang akan berdiri di garis depan bersamaku, seseorang yang akan menebas siapa pun yang berani menghalangi jalanku."
Riser merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil beludru berwarna merah darah. Saat dia membukanya, sebuah bidak catur Knight (Ksatria) yang terbuat dari kristal transparan berpendar dengan cahaya ungu kemerahan yang mistis.
[ Item Terdeteksi: Evil Piece - Knight. ]
[ Status: Siap untuk proses reinkarnasi. ]
[ Peringatan: Subjek memiliki kompatibilitas tinggi (92%). Proses akan menyebabkan lonjakan energi yang signifikan. ]
"Ini adalah tiketmu menuju dunia yang sebenarnya," Riser mengangkat bidak itu. "Ini akan mengubah rasmu menjadi Iblis. Kau akan kehilangan kemanusiaanmu dalam artian biologis, tapi kau akan mendapatkan kekuatan, umur panjang, dan yang paling penting... tujuan yang nyata."
Saeko berjalan mendekat. Dia menatap bidak catur itu dengan rasa ingin tahu yang mendalam. Dia bisa merasakan tarikan magnetis dari benda kecil tersebut. "Menjadi iblis... kedengarannya seperti sebuah dosa besar."
"Dosa hanyalah masalah sudut pandang, Saeko," balas Riser tenang. "Di duniaku, kekuatan adalah kebenaran. Dan aku berjanji padamu satu hal: di bawah kepemimpinanku, kau tidak akan pernah lagi merasa harus menyembunyikan siapa dirimu yang sebenarnya."
Riser mengulurkan tangan kanannya, sementara tangan kirinya memegang bidak Knight. "Pilihan ada di tanganmu. Tetap di sini sebagai manusia yang kesepian dengan pedang kayu, atau ikut bersamaku dan ukir namamu di sejarah dunia bawah dengan darah musuhmu."
Tanpa ragu lebih lama lagi, Saeko meletakkan tangan lembutnya di atas telapak tangan Riser yang panas. "Ambil aku, Riser Phenex. Jika kau bisa memberiku tempat di mana aku tidak perlu lagi menahan diri, maka jiwaku adalah milikmu."
Riser menyeringai. "Pilihan yang cerdas."
"Yui, mulai prosesnya," perintah Riser dalam hati.
[ Memulai Protokol Reinkarnasi. ]
[ Menyelaraskan Frekuensi Jiwa... ]
[ Integrasi Evil Piece: Knight - Saeko Busujima. ]
Seketika, bidak di tangan Riser terbang melayang di depan dada Saeko. Cahaya ungu yang sangat terang meledak, memenuhi seluruh ruangan dojo. Riser bisa merasakan energi kehidupan Saeko mulai menyatu dengan energi iblis yang dia suntikkan melalui bidak tersebut.
"Aaakh...!"
Saeko mengerang saat tubuhnya mulai mengalami perubahan seluler. Keringat dingin mengucur deras, dan aura kemerahan mulai menyelimuti kulitnya. Namun, di tengah rasa sakit itu, ekspresi wajah Saeko justru tampak sangat puas. Dia merasa seolah-olah sebuah beban berat yang selama ini menekan dadanya perlahan-lahan terangkat.
[ Analisis Integrasi: ]
* Ketahanan Fisik: Meningkat 300%
* Kecepatan Reaksi: Meningkat 500%
* Bangkitnya Bakat Terpendam: Aura Pedang Crimson Edge terdeteksi.
Tiba-tiba, dari bayang-bayang di belakang Saeko, sebuah pedang muncul secara perlahan. Itu bukan pedang fisik biasa, melainkan manifestasi dari Sacred Gear yang terbangkitkan karena lonjakan energi iblis: 《Muramasa: Crimson Edge》. Sebuah katana dengan bilah hitam pekat dan garis merah darah di tengahnya.
[ Peringatan Sistem: Sacred Gear Terdeteksi. ]
[ Nama: Muramasa - Crimson Edge. ]
* Efek: Menghisap energi kehidupan dari luka yang ditimbulkan pada musuh.
* Skill Pasif: Bloodlust Empowerment - Semakin banyak darah yang tumpah, semakin tajam bilahnya.
Proses itu berakhir dengan sebuah dentuman energi yang cukup kuat untuk meretakkan kaca-kaca jendela dojo. Cahaya memudar, menyisakan Saeko yang kini berlutut dengan satu kaki di depan Riser. Penampilannya tidak banyak berubah secara fisik, namun auranya... kini dia terasa seperti pedang terhunus yang siap membelah dunia.
Saeko menatap tangannya, lalu menatap katana yang kini ada di sampingnya. Dia merasakan kekuatan yang meluap-luap, sebuah insting predator yang kini sepenuhnya berada di bawah kendalinya.
"Bagaimana perasaanmu, Ksatria-ku?" tanya Riser, mengulurkan tangan untuk membantu Saeko berdiri.
Saeko menyambut tangan Riser, berdiri dengan keanggunan yang baru. Dia membungkuk hormat, bukan karena kewajiban sistem, tapi karena rasa hormat yang tulus. "Luar biasa. Saya merasa seolah-olah baru saja bangun dari mimpi buruk yang panjang, Tuanku."
Riser tersenyum puas. Dia bisa merasakan koneksi antara dirinya dan Saeko melalui bidak Knight tersebut. "Bagus. Tapi ini baru permulaan. Kau butuh senjata yang lebih baik daripada sekadar pedang kayu."
[ Komentar Yui: Selamat, Pemalas. Kamu baru saja mendapatkan satu pengikut setia yang sangat berbahaya. Dan omong-omong, dia sedang menatapmu dengan cara yang... yah, cukup 'haus'. ]
Riser mengabaikan komentar Yui, meski dia menyadari tatapan intens dari Saeko. "Istirahatlah malam ini, Saeko. Besok, aku akan membawamu ke Underworld untuk memulai latihan yang sesungguhnya. Kita punya Rating Game yang harus dimenangkan dalam sepuluh hari."
"Apapun perintah Anda, Tuanku," jawab Saeko, suaranya kini mengandung nada kepatuhan yang manis namun tetap mematikan.
Riser menatap ke luar jendela, ke arah langit malam kota Kuoh. Satu kepingan telah terpasang. Sekarang, pikirannya beralih ke target selanjutnya: seorang gadis dengan seragam perawat sekolah yang memiliki kemampuan penyembuhan yang sangat dia butuhkan.
"Selanjutnya... Shizuka Marikawa," gumam Riser.
Malam semakin larut, namun atmosfer di dalam dojo tua itu masih terasa bergetar akibat sisa-sisa energi proses reinkarnasi. Saeko berdiri di hadapan Riser, jemarinya perlahan mengusap bilah Muramasa yang baru saja tercipta dari jiwanya. Ada keheningan yang nyaman di antara mereka, jenis keheningan yang hanya bisa dipahami oleh dua orang yang baru saja mengikat takdir melalui darah dan sumpah.
Riser memperhatikan Ksatria pertamanya itu dengan saksama. Dia bisa merasakan melalui koneksi bidak Knight bahwa Saeko sedang mengalami lonjakan emosi—campuran antara euforia kekuatan dan rasa syukur yang mendalam.
"Jangan terlalu lama terpaku pada pedang itu, Saeko. Dia adalah bagian dari dirimu sekarang. Dia akan tumbuh seiring dengan keinginanmu untuk menang," ucap Riser, suaranya melunak, kehilangan nada provokatif yang dia gunakan saat bertarung tadi.
Saeko menyarungkan katananya dengan gerakan yang sangat halus. Suara dentingan logam yang bertemu dengan sarungnya terdengar seperti tanda titik yang sempurna bagi latihan malam ini. Dia melangkah mendekati Riser, langkahnya kini jauh lebih ringan, hampir tidak bersuara di atas lantai kayu.
"Terima kasih, Tuanku Riser," bisik Saeko. Dia berdiri cukup dekat sehingga Riser bisa mencium aroma keringat dan sisa-sisa energi iblis yang menguar dari tubuhnya. "Bukan hanya untuk kekuatan ini, tapi karena Anda melihat... monster itu, dan Anda tidak berpaling."
Riser tersenyum tipis. Dia mengulurkan tangan, menyentuh dagu Saeko dan mengangkat wajahnya agar mata mereka bertemu. "Monster adalah istilah bagi mereka yang takut akan kekuatan yang tidak mereka pahami. Bagiku, kau adalah karya seni yang paling mematikan yang pernah kutemukan."
[ Sinkronisasi Jiwa: 25% ]
[ Status Subjek: Loyalitas meningkat pesat. Detak jantung subjek tidak stabil. ]
[ Saran: Kamu bisa melanjutkan momen romantis ini, atau kita bisa fokus pada agenda berikutnya sebelum matahari terbit. Aku menyarankan yang kedua jika kamu tidak ingin kehabisan waktu. ]
Yui, kau benar-benar pengganggu suasana yang profesional, batin Riser dengan nada jengkel yang jenaka.
Riser melepaskan tangannya dan berbalik menuju pintu dojo. "Bersihkan dirimu dan siapkan barang-barangmu yang paling penting. Aku akan menunggumu di luar. Kita punya satu persinggahan lagi sebelum kembali ke Underworld."
"Tentu saja. Saya tidak akan lama," jawab Saeko dengan patuh.
Sepuluh menit kemudian, Saeko keluar dari dojo. Dia tidak lagi mengenakan seragam kendonya, melainkan pakaian kasual yang terdiri dari celana pendek hitam dan kemeja putih yang sedikit longgar, dengan tas panjang berisi pedangnya yang disampirkan di bahu. Keanggunannya sebagai putri keluarga Busujima tetap terpancar, namun kini dengan aura predator yang lebih tajam.
Mereka berjalan menembus sunyinya kota Kuoh. Riser memimpin jalan dengan bantuan navigasi dari Yui. Target berikutnya adalah sebuah apartemen yang tidak jauh dari area sekolah Akademi Kuoh.
"Siapa yang akan kita cari sekarang, Tuanku?" tanya Saeko, berjalan selangkah di belakang Riser.
"Seorang dokter—atau lebih tepatnya, perawat sekolah," jawab Riser tanpa menoleh. "Kita butuh penyembuh. Di medan perang, pedangmu bisa patah dan tubuhku bisa terluka. Shizuka Marikawa adalah variabel yang akan memastikan kita tetap berdiri di saat yang lain tumbang."
[ Lokasi Target: Apartemen Green Terrace, Lantai 3. ]
[ Status: Subjek sedang tidur. ]
[ Catatan: Subjek memiliki gelombang otak yang sangat... unik. Tingkat kecerobohannya di atas rata-rata manusia normal. ]
Riser mendongak menatap gedung apartemen kelas menengah di depannya. Dia menghela napas pendek. Dia tahu Shizuka Marikawa dari memori dunianya yang dulu—seorang wanita yang diberkati dengan fisik yang luar biasa namun memiliki kepribadian yang sangat santai, hampir ke titik linglung.
"Saeko, tetaplah di bayang-bayang. Biarkan aku yang bicara. Dia tipe wanita yang mudah terkejut," instruksi Riser.
Riser tidak menggunakan pintu depan. Dengan satu lompatan ringan yang didukung oleh energi iblisnya, dia mendarat di balkon lantai tiga. Pintu geser balkon itu tidak terkunci—sangat khas Shizuka. Riser melangkah masuk ke dalam ruangan yang sedikit berantakan dengan buku-buku medis dan beberapa botol minuman ringan yang kosong.
Di atas sofa besar, seorang wanita berambut pirang panjang tertidur dengan posisi yang sangat tidak beraturan. Dia mengenakan baju tidur tipis yang hampir tidak bisa menutupi lekuk tubuhnya yang sangat provokatif.
Riser berdeham pelan, namun tidak ada reaksi. Dia mendekat dan mengetuk meja kaca di samping sofa.
"Dokter Marikawa?"
Shizuka menggeliat. Dia membuka matanya perlahan, mengerjap beberapa kali menatap sosok pria asing yang berdiri di ruang tamunya di tengah malam. Bukannya berteriak histeris, dia justru menguap lebar dan mengucek matanya.
"Hmm? Apa ini sudah pagi? Dan... siapa kau? Apa kau pasien baru yang tersesat?" tanya Shizuka dengan suara serak yang mengantuk.
Riser terdiam sejenak. Tingkat ketenangan—atau kebodohan—wanita ini benar-benar di luar nalar.
"Aku bukan pasien, Shizuka," Riser duduk di kursi tunggal di depan sofa, menyilangkan kakinya dengan tenang. "Aku datang untuk memberimu tawaran pekerjaan yang tidak bisa kau tolak. Pekerjaan yang melibatkan lebih dari sekadar mengobati luka lecet siswa SMA."
Shizuka akhirnya duduk tegak, yang sayangnya justru membuat pakaian tidurnya semakin melorot, sesuatu yang tampaknya tidak dia pedulikan sama sekali. Dia menatap Riser dengan mata cokelatnya yang besar, mulai menyadari bahwa pria di depannya memiliki aura yang sangat tidak biasa.
"Pekerjaan? Tapi aku sudah punya pekerjaan di sekolah... meskipun gajinya sering habis untuk belanja," gumam Shizuka, memiringkan kepalanya dengan polos.
Riser tersenyum. "Bagaimana jika kubilang aku bisa memberimu fasilitas medis terbaik yang belum pernah ada di dunia ini, keamanan absolut, dan... koleksi minuman berkualitas yang tidak akan pernah habis?"
Mata Shizuka berbinar mendengar kata 'minuman' dan 'fasilitas'. "Kedengarannya menarik... tapi kau terlihat sedikit berbahaya. Seperti tipe pria yang akan membawa kabur perawatnya ke tempat terpencil."
"Tempat itu memang terpencil, dan ya, aku memang berbahaya," jawab Riser sambil bangkit dan berjalan mendekatinya. Dia mengeluarkan bidak Bishop (Uskup) dari sakunya. Pendaran cahaya hijau dari bidak itu segera menarik perhatian Shizuka.
"Wah... kristal yang cantik," ucap Shizuka, mencoba menyentuhnya.
[ Peringatan: Sinkronisasi dengan Shizuka Marikawa dimulai. ]
[ Status: Subjek memiliki potensi tersembunyi sebagai Great Healer. ]
[ Komentar Yui: Cepatlah, sebelum dia tertidur lagi. Wanita ini benar-benar unik dalam artian yang merepotkan. ]
Riser menangkap tangan Shizuka yang hendak menyentuh bidak itu. "Sentuh ini, dan hidupmu tidak akan pernah membosankan lagi, Shizuka. Kau akan menjadi penyembuh pribadiku, jantung dari timku."
Shizuka menatap mata Riser yang berpendar kemerahan di kegelapan malam. Ada sesuatu dalam tatapan pria itu yang membuatnya merasa aman, sebuah dominasi yang tidak menindas, melainkan melindungi.
"Baiklah, Tuan Tampan yang Berbahaya. Aku selalu buruk dalam menolak hal-hal yang terlihat berkilau," ucap Shizuka dengan tawa kecil yang ceria.
Sesaat setelah jarinya menyentuh bidak Bishop, cahaya hijau zamrud meledak di dalam apartemen, memulai transformasi yang akan mengubah perawat sekolah yang ceroboh ini menjadi salah satu penyembuh paling ditakuti di duni bawah.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!