Matahari Jakarta sedang terik-teriknya saat Sienna Anindita melangkah keluar dari gerbang rumah sahabatnya. Senyumnya masih tersisa, membayangkan betapa lucunya bayi mungil yang baru saja ia jenguk. Setitik rasa hangat muncul di hatinya—keinginan sederhana untuk memiliki kebahagiaan kecil seperti itu, jauh dari dinginnya tembok rumah keluarga Holland.
Sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam berhenti tepat di depannya. Kaca jendela menurun perlahan, menampilkan sosok pria dengan setelan rapi yang sangat familiar.
"Om Mahesa?" Sienna sedikit terkejut.
Mahesa, pria berusia 37 tahun yang menjabat sebagai pemilik jaringan hotel ternama itu, tersenyum ramah. Wajahnya yang matang dan pembawaannya yang tenang selalu berhasil membuat Sienna merasa aman. Selama ini, Mahesa adalah satu-satunya orang dewasa yang memperlakukannya seperti manusia di saat Papa tirinya, Holland, dan Neneknya memperlakukannya seperti pajangan rusak.
"Sienna? Kebetulan sekali Om lewat sini habis ada meeting," ucap Mahesa lembut. "Ayo masuk, Om antar pulang. Bahaya gadis secantik kamu nunggu taksi di siang bolong begini."
Sienna sempat ragu, namun rasa percayanya pada Mahesa jauh lebih besar. "Apa tidak merepotkan, Om?"
"Tentu tidak. Ayo."
Sienna masuk ke dalam mobil yang sejuk itu. Aroma parfum maskulin yang mahal menyeruak, namun ada semacam aroma tambahan, manis namun tajam yang sedikit asing di hidungnya.
"Bagaimana kuliahmu? Papa tirimu tidak lagi memaksamu menikah dengan kolega bisnisnya yang tua itu, kan?" tanya Mahesa sambil mulai melajukan mobil.
Sienna menghela napas berat. "Masih sama, Om. Nenek juga makin menekan. Rasanya aku ingin lari saja."
Mahesa terkekeh pelan, tangannya yang terbalut jam tangan mewah menepuk bahu Sienna sekilas. "Sabar, ya. Om selalu ada di pihakmu. Kalau ada apa-apa, kamu tahu harus cari siapa."
"Terima kasih, Om. Om Mahesa memang yang paling baik."
Sienna menyandarkan kepalanya ke jok mobil. Entah kenapa, rasa kantuk yang luar biasa tiba-tiba menyerang. Matanya terasa sangat berat, dan aroma manis di mobil itu kini terasa mencekik.
"Om... baunya kok aneh..." gumam Sienna lirih.
"Itu hanya pengharum mobil baru, Sienna. Tidurlah sebentar, nanti kalau sampai Om bangunkan," suara Mahesa terdengar jauh, sangat jauh, sebelum akhirnya kegelapan menelan kesadaran Sienna sepenuhnya.
Kepala Sienna terasa seperti dihantam palu saat ia mulai membuka mata. Pandangannya kabur, langit-langit putih dengan lampu kristal mewah menjadi hal pertama yang ia lihat. Ia tidak berada di mobil. Ia berada di sebuah kamar hotel yang sangat luas.
Sienna berusaha duduk, namun tubuhnya terasa lemas seperti jeli. Ia menyadari tasnya tergeletak di lantai, dan pintu balkon tertutup rapat.
Cklek.
Suara pintu kamar mandi yang terbuka membuat jantung Sienna mencelos. Ia mendengar suara langkah kaki, lalu suara bariton yang sangat ia kenali sedang berbicara di telepon. Sienna membeku, ia memilih tetap memejamkan mata dan berpura-pura masih pingsan.
"Tenang saja, Holland. Barangmu sudah aman bersamaku di Grand Deluxe," ucap suara itu. Itu Mahesa. Namun, nadanya tidak lagi ramah. Ada nada rakus dan dingin di sana.
"..."
"Tentu, transfer sisanya besok pagi setelah transaksi resmi. Tapi ingat perjanjian kita, sebelum dia benar-benar menjadi 'milikku' secara hukum besok, aku ingin 'mencicipinya' malam ini. Anggap saja sebagai bonus karena aku sudah menutupi hutang-hutang judimu."
"..."
Mahesa tertawa kecil, suara tawa yang membuat bulu kuduk Sienna berdiri. "Sienna itu cantik, Lan. Terlalu mubazir kalau hanya didiamkan. Dia pikir aku orang baik yang tulus membantunya. Gadis kecil yang malang, dia tidak tahu kalau dialah bayarannya."
Sienna merasa dunianya runtuh saat itu juga. Air mata nyaris jatuh, namun ia sekuat tenaga menahannya. Rasa mual meluap di dadanya. Pria yang ia anggap pelindung, pria yang ia panggil 'Om' dengan penuh rasa hormat, ternyata tak lebih dari seorang predator hidung belang yang baru saja membelinya dari sang Ayah tiri.
Mahesa menutup teleponnya. Langkah kakinya mendekat ke arah tempat tidur tempat Sienna berbaring.
"Bangunlah, Sayang... Om tahu kamu sudah sadar," bisik Mahesa tepat di samping telinga Sienna.
Sienna membuka matanya lebar-lebar. Tidak ada lagi gurat ketakutan, yang ada hanyalah kilatan amarah yang membara. Ia segera bangkit duduk, menjauh dari jangkauan tangan Mahesa yang nyaris menyentuh pipinya.
Mahesa sedikit terkejut, namun kemudian seringai menjijikkan muncul di wajahnya. "Ah, sudah bangun? Lebih cepat dari yang kukira. Efek obatnya ternyata tidak bertahan lama pada tubuh mungilmu."
"Kau bajingan, Mahesa!" desis Sienna. Suaranya rendah dan tajam. "Beraninya kau dan Holland melakukan ini padaku? Kau pikir aku ini barang dagangan?"
Mahesa tertawa lepas, ia melonggarkan dasinya seolah-olah sudah memenangkan pertandingan. "Sienna, Sienna... dunia ini memang tentang jual beli. Papa tirimu butuh uang untuk menutup lubang hutangnya, dan aku butuh mainan baru yang cantik. Kamu seharusnya bersyukur, daripada dijual pada kakek-kakek rekan bisnis Holland yang lain, lebih baik denganku, kan? Aku kaya, aku masih gagah, dan aku bisa menjamin hidupmu."
"Menjamin hidupku?" Gadis berumur 19 tahun itu meludah ke samping. "Kau hanya pria tua kesepian yang harus membeli gadis karena tak ada perempuan waras yang mau dengan monster sepertimu!"
Wajah Mahesa memerah. Amarahnya terpancing. "Jaga mulutmu, jalang kecil! Aku sudah membayar mahal untukmu. Malam ini, kau akan belajar bagaimana cara melayani tuanmu!"
Mahesa merangsek maju, hendak mencengkeram bahu Sienna dan membantingnya kembali ke ranjang. Ia mengira Sienna hanyalah gadis lemah yang akan menangis tersedu-sedu.
Namun, ia salah besar.
Saat tangan Mahesa terjulur, Sienna dengan gerakan kilat menangkap pergelangan tangan pria itu. Dengan teknik aikido yang sempurna, ia memilin lengan Mahesa hingga terdengar bunyi krek yang linu.
"Aghhh! Sialan! Apa yang kau lakukan?!" Mahesa mengerang kesakitan, tubuhnya terpaksa membungkuk mengikuti arah puntiran tangan Sienna.
"Kau pikir aku diam saja selama ini karena aku lemah?" bisik Sienna tepat di telinga Mahesa, suaranya sedingin es. "Aku berlatih bela diri bertahun-tahun untuk menghadapi hari seperti ini. Hari di mana sampah sepertimu mencoba menyentuhku."
“Kau—”
Mahesa yang kalap mencoba menyerang dengan tangan satunya, sebuah pukulan mentah diarahkan ke wajah Sienna. Dengan gerakan head movement yang lincah, Sienna menghindar. Ia kemudian memberikan dua pukulan cepat ke arah ulu hati Mahesa hingga pria itu tersedak oksigen.
"Ini untuk kepercayaan yang kau khianati!"
Sienna menarik kerah kemeja Mahesa, lalu menghantamkan lututnya dengan kekuatan penuh tepat ke arah 'aset' kebanggaan Mahesa.
DUAK!
"ARRRRGHHHH!"
Mahesa menjerit melengking, suara jantannya hilang seketika. Ia jatuh berlutut, wajahnya membiru, tangannya memegangi pangkal pahanya dengan gemetar hebat. Ia bahkan tidak sanggup mengeluarkan suara lagi, hanya erangan tertahan yang menyedihkan.
Sienna berdiri tegak, merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan. Ia mengambil tasnya dan menatap Mahesa yang terkapar di lantai hotel dengan tatapan jijik.
"Satu hal yang perlu kau tahu, Mahesa. Transaksi ini batal. Dan beritahu Holland, mulai detik ini, dia tidak punya anak tiri lagi."
Sienna melangkah menuju pintu. Sebelum keluar, ia berbalik sekilas. "Oh, dan jangan coba-coba mengejarku kalau kau masih ingin organ reproduksimu itu berfungsi. Karena lain kali, aku tidak akan hanya menendangnya, tapi menghancurkannya."
Sienna keluar dari kamar hotel itu dengan langkah mantap. Adrenalinnya terpacu. Ia tahu, setelah ini Holland dan Mahesa tak akan tinggal diam. Ia harus menghilang. Ia harus mencari cara agar tidak ada lagi pria yang bisa mengklaim dirinya sebagai milik mereka.
Dan saat itulah, sebuah ide gila melintas di kepalanya saat ia melewati sebuah papan iklan klinik fertilitas internasional di jalan pulang.
Bayi tabung.
Jika ia hamil, tidak akan ada pria yang mau membelinya untuk dijadikan istri simpanan atau alat politik keluarga. Ia akan memiliki dunianya sendiri.
Sebuah mobil kembali menepi di depan Sienna, tapi bukan Mahesa melainkan pria lain yang membuat mata Sienna mendadak berembun sebab sudah lama mereka tak bertemu.
“Sienna, habis tawuran dari mana sampai rambutmu berantakan gitu?” Pria itu bingung karena penampilan Sienna yang biasanya anggun kini bak disambar petir.
Kak, tolong kirim aku ke Meksiko…
Tiba-tiba banget ke Meksiko… kau mabuk ya, Si?
Aku tidak mabuk, aku maunya hamil sekarang juga!
HA-HAMIL?! Belum nikah, tapi pengen hamil?
Setan apa yang sudah merasukimu?
_____
Bersambung............
Assalamualaikum reader… kembali lagi dengan cerita baru author. Spin off dari novel sebelumnya. Jangan lupa masukkan ke favorit, like, komen, rate dan vote. Semoga suka dan terhibur, terima kasih…💕
Malam itu, Sienna meringkuk di sofa rumah Harris. Ia menolak tidur di kamar, merasa lebih siaga jika berada dekat pintu keluar. Baginya, rumah keluarga Holland sudah mati. Ia tidak sudi kembali kesana hanya untuk diseret ke altar atau ke ranjang pria tua lainnya.
Ibunya? Sienna menghela napas sesak. Ibunya wanita baik, tapi terlalu lemah di bawah telunjuk Holland. Belum lagi Aluna, adik tirinya yang pasti sedang tertawa kegirangan jika tahu Sienna menghilang.
"Tidur, Si. Di sini aman. Kakak nggak akan biarin Holland masuk ke sini," suara Harris terdengar tulus dari ambang pintu kamar.
Sienna hanya mengangguk kecil, meski otaknya terus berputar menyusun rencana gila yang sempat ia ucapkan di mobil tadi.
Keesokan paginya, matahari baru saja mengintip saat Harris terbangun. Ia berniat membuatkan sarapan dan bicara serius—mencoba menyadarkan Sienna bahwa ide "hamil sekarang juga" adalah kegilaan tingkat dewa.
Namun, ruang tamu itu kosong. Selimut sudah terlipat rapi, tapi sosok adiknya telah raib. Harris panik, ia segera memeriksa dompetnya di atas meja makan. Kosong melompong. Hanya tersisa secarik kertas dengan tulisan tangan Sienna yang terburu-buru.
Kak Harris, maafkan aku. Aku pinjam uang dan paspormu. Aku harus pergi jauh sebelum mereka menemukanku. Aku tidak mencuri uangmu, aku hanya meminjamnya. Begitu bayinya lahir dan aku punya kehidupan baru, aku akan mengembalikan setiap peraknya.
Jangan cari aku. Aku butuh kebebasan ini.
Sienna.
Harris mengacak rambutnya frustasi, tapi sedetik kemudian ia terduduk dan mengembuskan napas lega.
"Dasar bocah nekat... Tapi setidaknya dia masih menganggapku kakaknya sampai mau pinjam uang."
****
Suasana di mansion Elson terasa mencekam. Karangan bunga duka cita memenuhi halaman, namun sang tuan rumah, Kalendra Elson, tampak seperti patung es tanpa emosi. Istrinya telah pergi selamanya akibat kanker yang membunuhnya.
Kalendra berdiri di balkon, menatap kosong ke depan. Harapannya untuk memiliki pewaris melalui prosedur bayi tabung yang mereka rencanakan berbulan-bulan lalu, kini terkubur bersama peti mati istrinya.
"Marco," panggil Kalendra dingin tanpa menoleh pada asisten pribadinya.
"Ya, Tuan?"
"Pergi ke Bank Sperrma rumah sakit. Perintahkan mereka untuk memusnahkan benihku sekarang juga. Istriku sudah tidak ada, maka tidak ada alasan bagiku untuk menanam benih itu di rahim wanita mana pun. Aku tidak butuh pewaris jika bukan dari dia."
"Tapi Tuan, itu adalah cadangan terakhir—"
"Lakukan saja!" gertak Kalendra dengan suara rendah yang menggetarkan ruangan.
Marco membungkuk dalam, lalu segera pergi menjalankan perintah. Kalendra ingin menghapus semua jejak harapan yang tersisa agar ia bisa fokus menjadi monster yang lebih kejam di Black Lotus.
Namun, di lantai bawah, seorang pria tua dengan tongkat berkepala singa mendengar semuanya. Elson Senior, ayah Kalendra, mengerutkan kening tajam.
"Gila! Dia ingin memutus garis keturunan Elson hanya karena satu wanita?" geram Elson Senior.
Ia segera memberi kode pada orang kepercayaannya yang tersembunyi di balik pilar. "Ikuti Marco. Cegah pemusnahan itu. Katakan pada pihak rumah sakit, pindahkan benih Kalendra ke tabung rahasia atau berikan pada siapa pun yang membutuhkan prosedur bayi tabung secara ilegal hari ini juga. Pastikan benih itu hidup, di rahim mana pun itu terserah! Aku ingin cucu, bukan kehampaan."
Takdir mulai bermain. Di satu sisi, seorang gadis nekat sedang menuju klinik dengan uang pinjaman, dan di sisi lain, seorang kakek mafia sedang berusaha menyelamatkan garis keturunannya dengan cara apa pun.
****
Klinik Fertilitas International Hope di perbatasan Meksiko bukanlah tempat bagi mereka yang taat hukum. Disini, uang bisa membeli segalanya. Mulai dari identitas palsu hingga prosedur bayi tabung tanpa pertanyaan.
Di salah satu koridor laboratorium yang dingin dan steril, Marco berjalan dengan wajah tegang, membawa surat perintah resmi dari Kalendra untuk pemusnahan benih. Namun, ia tidak tahu bahwa setiap langkahnya dibayangi oleh anak buah Elson Senior.
"Ini data pasien atas nama Kalendra Elson," Marco menyerahkan berkas itu kepada seorang petugas lab bermata licik. "Tuan Elson meminta benih itu dimusnahkan sekarang juga di depan mata saya."
Si petugas lab mengangguk, namun sebelum ia sempat menekan tombol penghancur pada mesin pendingin nitrogen, ponselnya bergetar.
Sebuah pesan singkat masuk: 'Sepuluh kali lipat dari gajimu jika kau menukar tabung itu sekarang. Biarkan Marco melihat tabung kosong yang dihancurkan.'
Petugas itu menelan ludah. Ia melirik ke arah pintu lab di mana seorang pria berpakaian serba hitam. Utusan Elson Senior—memberikan kode kecil.
Sementara itu, di ruang tunggu yang remang-remang, Sienna duduk dengan gelisah. Ia menggunakan nama samaran dan menutupi muka menggunakan masker. Tangannya gemetar memegang tas berisi uang hasil "pinjaman" dari Harris.
"Pasien nomor 404, silakan masuk," panggil seorang perawat.
Sienna berdiri. Ini dia. Langkah pertama menuju kebebasannya. Ia tidak peduli siapa pendonornya, yang ia tahu, pria yang mendonorkan benih di klinik ilegal ini biasanya hanyalah orang-orang yang membutuhkan uang. Ia hanya ingin seorang anak agar Holland tidak bisa menjualnya lagi.
Kembali ke dalam laboratorium, kekacauan terencana sedang terjadi.
Petugas lab dengan tangan gemetar mengambil tabung perak milik Kalendra Elson kode ELSON-VEO-99. Sesuai instruksi rahasia dari ayah Kalendra, ia harus segera mengeluarkan benih itu dari daftar pemusnahan.
"Maaf, mesinnya sedikit macet," petugas itu beralasan pada Marco untuk mengalihkan perhatian.
Dengan gerakan secepat kilat, ia menukar tabung Kalendra dengan sebuah tabung kosong yang sudah disiapkan. Tabung kosong itulah yang dimasukkan ke dalam mesin penghancur. Brak! Tabung itu hancur berkeping-keping di depan mata Marco.
"Selesai. Benih Tuan Kalendra sudah musnah," ucap petugas itu. Marco mengangguk puas dan segera pergi untuk melapor pada sang Bos Mafia bahwa tugasnya tuntas.
Namun, begitu Marco hilang dari pandangan, petugas lab itu kembali berkeringat dingin. Pria utusan Elson Senior masuk ke dalam lab.
"Mana tabung aslinya?" tanya sang utusan dingin.
"I-ini. Tapi saya harus memasukkannya ke mana? Jika tetap di sini, Tuan Kalendra bisa curiga suatu saat nanti."
"Masukkan ke dalam prosedur pasien ilegal pertama yang masuk hari ini. Siapa pun dia. Elson Senior ingin benih ini tumbuh, tidak peduli di rahim siapa. Kami akan mengawasinya dari jauh."
Si petugas lab melihat daftar antrian. Matanya tertuju pada nomor 404. "Ada seorang gadis muda, baru saja masuk ke ruang tindakan."
"Lakukan sekarang. Dan pastikan semua catatan medisnya dihapus setelah prosedur selesai."
Di dalam ruang tindakan yang sunyi, Sienna berbaring. Ia tidak tahu bahwa dalam hitungan menit, bukan benih pendonor biasa yang akan masuk ke tubuhnya.
Bukan benih dari pria miskin yang butuh uang, melainkan "pewaris tahta" dari sindikat Black Lotus yang paling ditakuti di dunia.
"Tarik napas dalam, Nona. Kita mulai prosedurnya," ucap dokter.
Sienna memejamkan mata rapat-rapat. Ia membayangkan wajah Holland, Mahesa, dan Neneknya.
'Mulai hari ini, aku bukan lagi milik kalian. Aku adalah ibu dari anakku sendiri.'
Ia tidak sadar, bahwa ia baru saja masuk ke dalam kandang singa yang jauh lebih berbahaya. Benih milik Kalendra Elson—sang duda impoten yang baru saja berduka—kini telah berpindah tempat.
Jangan lupa masukkan ke favorit, like, komen, rate dan vote. Semoga suka dan terhibur, terima kasih…💕
Dua hari sebelum Sienna pergi.
Brak!
Suara hantaman vas bunga yang pecah berkeping-keping menggema di ruang tamu keluarga Holland. Mahesa berdiri dengan wajah merah padam, sebelah tangannya memegangi bagian selangkangannya yang masih terasa nyeri berdenyut.
"Bajingan! Kau bilang anak itu penurut, Holland!" teriak Mahesa kalap. "Dia hampir membuatku cacat! Dia menyerangku seperti kesetanan!"
"Tenang, Mahesa. Itu pasti hanya kepanikan sesaat. Sienna tidak mungkin bisa bela diri, dia gadis rumahan yang lemah—" putus Holland.
"Lemah matamu!" bentak Mahesa kasar.
"Dia memiting tanganku sampai hampir patah! Sekarang dia hilang, dan uang yang kuberikan padamu... aku mau uang itu kembali jika kau tidak bisa membawanya ke hadapanku malam ini juga!"
Di sudut ruangan, Nenek Marisa, sang matriark keluarga yang angkuh mengetukkan tongkatnya ke lantai dengan keras. Matanya yang tajam menatap jijik ke arah Scarlett, ibu kandung Sienna yang hanya bisa berdiri gemetar di pojok ruangan.
"Anak tidak tahu diuntung!" maki Marisa.
"Sudah dibesarkan di rumah mewah ini, malah mempermalukan keluarga dengan kabur seperti jalang. Sienna itu benar-benar bibit rusak, persis seperti ayahnya dulu! Tidak berguna!”
"M-maaf, Ibu... Sienna mungkin hanya takut," lirih Scarlett dengan suara pelan.
"Takut? Dia itu licik, Scarlett! Lihatlah anakmu itu, dia menghancurkan kesepakatan bisnis besar!" Marisa beralih menatap Holland. "Cari dia sampai ketemu. Seret dia pulang, ikat kalau perlu! Jangan biarkan dia membawa lari harga diri keluarga!"
Sementara itu, di sofa lain, Aluna—putri kandung Holland sekaligus adik tiri Sienna yang hanya beda setahun tampak asyik memainkan kukunya. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang ia sembunyikan di balik ponsel.
'Baguslah kalau dia pergi selamanya,' batin Aluna senang.
Selama ini, perhatian Holland dan Mahesa selalu tertuju pada kecantikan Sienna yang klasik. Jika Sienna tidak ada, maka Aluna lah yang akan menjadi putri tunggal di rumah ini.
***
Malam semakin larut, namun kecemasan Scarlett tidak terbendung. Ia tahu putrinya tidak akan sanggup bertahan hidup sendirian tanpa bantuan. Hanya ada satu nama yang muncul di kepalanya. Seseorang yang sangat ia rindukan, namun juga sangat ia takuti karena luka masa lalu.
Harris.
Putra sulungnya yang telah memutus hubungan dengannya sejak ia memutuskan menikah dengan Holland. Scarlett nekat menyelinap keluar rumah dan memacu mobilnya menuju sebuah apartemen di pinggiran kota.
Dengan tangan gemetar, ia mengetuk pintu unit itu berkali-kali.
Cklek.
Pintu terbuka, menampilkan sosok Harris yang tampak kacau dengan rambut berantakan. Mata Harris menyipit tajam saat melihat siapa yang datang.
"Mama?" Harris berdesis, suaranya dingin tanpa kehangatan. "Untuk apa Mama ke sini? Bukankah Mama sudah bahagia di istana Holland-mu itu?"
"Harris... tolong..." Scarlett terisak, ia tidak peduli lagi dengan harga dirinya. "Sienna hilang. Dia kabur dari hotel Mahesa. Apa dia ke sini? Mama mohon, katakan padaku kalau dia aman."
Harris terdiam. Ia melihat gurat kelelahan dan ketakutan yang nyata di wajah ibunya. Namun, rasa kecewanya masih terlalu besar.
"Dia memang ke sini," jawab Harris datar.
Mata Scarlett berbinar. "Di mana dia? Mama mau bicara—"
"Dia sudah pergi. Jauh… sekali," potong Harris. Ia menyandarkan tubuhnya di bingkai pintu. "Dan jangan harap Mama atau Holland bisa menemukannya. Sienna sudah memilih jalannya sendiri karena Mama tidak pernah bisa melindunginya di rumah neraka itu."
"Harris, tapi dia masih kecil, dia—"
"Dia tidak kecil lagi, Ma! Dia lebih berani dari Mama!" suara Harris naik satu oktaf. "Dia pergi untuk menyelamatkan dirinya sendiri dari pria-pria brengsek pilihan kalian. Pulanglah, Ma. Katakan pada Holland, Sienna sudah mati atau apa pun terserah. Jangan cari dia lagi kalau Mama masih punya sedikit rasa sayang padanya."
Harris menutup pintu dengan keras tepat di depan wajah Scarlett, meninggalkan wanita itu menangis tersedu-sedu di koridor yang dingin
****
Beberapa jam kemudian, Aluna tampak melangkah menuju dapur, mengambil segelas jus jeruk dingin seolah tidak ada drama besar yang terjadi.
Scarlett, ibu Sienna, terlihat terduduk lemas di meja makan sambil sesenggukan. Aluna mendekatinya, meletakkan gelas itu dengan dentingan kecil yang disengaja.
"Duh, Mama... berhenti menangis, deh. Suara tangisan Mama itu bikin telingaku sakit," ucap Aluna dengan nada yang pura-pura prihatin, namun matanya berkilat mengejek.
Scarlett mendongak dengan mata sembab. "Aluna, kakakmu sedang dalam bahaya. Bagaimana bisa kamu begitu tenang?"
Aluna tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat merdu namun berbisa. Ia membungkuk, menyejajarkan wajahnya dengan Scarlett, lalu berbisik pelan agar tidak terdengar oleh Holland atau Marisa.
"Kak Sienna itu tidak dalam bahaya, Ma. Dia itu cuma pencitraan saja," desis Aluna. "Dia kabur karena dia tahu dia tidak akan bisa mendapatkan harta Papa. Dia itu egois. Dia pergi, lalu meninggalkan Mama di sini untuk menanggung malu. Apa itu yang dinamakan anak berbakti?"
"Sienna tidak seperti itu!" bantah Scarlett lemah.
"Oh, ya? Lalu kenapa dia tidak mengajak Mama? Kenapa dia hanya memikirkan keselamatannya sendiri?" Aluna berdiri tegak, memutar-mutar helai rambutnya. "Seharusnya Mama sadar, di rumah ini, Sienna itu cuma benalu. Dan sekarang benalunya sudah dicabut. Bukankah hidup Mama akan lebih tenang tanpa harus melihat Papa memukuli Sienna setiap hari?"
Aluna meminum jusnya perlahan, lalu tersenyum lebar.
"Lagipula, Ma... aku sudah membantu Kak Sienna, lho."
Scarlett terbelalak. "Membantu apa?"
"Aku yang membisikkan pada Papa tempo hari kalau Om Mahesa sangat menyukai Sienna. Aku bilang pada Papa kalau Sienna juga diam-diam suka pada Om Mahesa. Kalau aku tidak bicara begitu, mana mungkin Papa secepat itu menjualnya, kan?"
"K-kau... kau yang merencanakan ini semua?" Scarlett menutup mulutnya, tak percaya.
Aluna mengedikkan bahu dengan santai. "Aku cuma mempercepat takdir, Ma. Aku ingin dia pergi secepat mungkin. Sayangnya, rencana Om Mahesa sedikit berantakan karena Kak Sienna ternyata bisa main kasar. Tapi tidak apa-apa, yang penting sekarang dia sudah jadi buronan Papa. Dia tidak akan berani menampakkan mukanya lagi di sini."
Aluna mendekatkan wajahnya lagi ke telinga Scarlett, kali ini dengan ancaman yang nyata.
"Jadi, jangan coba-coba mencari dia. Kalau Mama berisik dan membuat Papa makin stres, aku tidak segan-segan bilang pada Papa kalau Mama masih menyimpan perhiasan dari almarhum ayah Sienna untuk bekal kabur. Mama mau dibuang ke jalanan juga?"
Scarlett terdiam. Aluna, gadis yang selama ini tampak manja di depan Holland, ternyata adalah iblis kecil yang sangat licik. Setelah itu, Aluna meninggalkan Scarlett yang tertunduk sedih. Setetes air mata jatuh menimpa kulit keriput tangan kirinya.
Sienna…. Maafkan Ibu tidak bisa berbuat apa-apa untukmu.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!