Indonesia
NovelToon NovelToon

Pak Guru, Saranghaeyo

Episode 1 Gabutnya Orang Kaya

Sebuah keluarga kaya raya terdiri dari Tri Suhartanto usia 50 tahun, Wita Suhartanto usia 45 tahun, Sherina usia 25 tahun, dan Syarif usia 17 tahun. Keluarga Suhartanto merupakan keluarga konglomerat, terkaya dan segani di kota B. Meskipun kaya raya dan bergelimang harta, keluarga mereka tidak sombong selalu membantu dan terkenal dermawan.

Suatu malam, setelah makan malam semuanya berkumpul di ruangan keluarga. “Kalian merasa jenuh gak sih?” celetuk Daddy Tri.

Seketika semuanya menoleh ke arah Tri. “Maksud Daddy apa?” tanya Mommy Wita.

“Daddy kok akhir-akhir ini merasa sangat jenuh dengan kehidupan kita. Rasanya hidup kita gak ada tantangan sama sekali,” sahut Daddy Tri.

Wita menghela napas berat. “Sebenarnya Mommy juga begitu Dad, tapi Mommy gak berani bilang sama Daddy,” ucap Mommy Wita.

“Kalian bagaimana?” tanya Daddy Tri kepada Sherina dan juga Syarif.

“Gabut banget Dad, tiap hari melakukan kegiatan itu-itu saja. Kalau aku lihat teman-teman Syarif, pulang kuliah ada yang jualan, ada yang ngerjain apa kek, hanya aku saja yang gak ngelakuin apa-apa,” sahut Syarif.

“Ya, kalau begitu bantuin dong,” ledek Sherina.

“Gue sih mau bantuin, tapi mereka aja yang gak mau dibantuin. Katanya gak enak nyuruh anak konglomerat,” sahut Syarif.

“Kalau kamu Sherin, bagaimana?” tanya Daddy Tri.

Sherina menyimpan ponselnya. “Sama Dad, tiap hari hanya berkas perkerjaan yang Sherina lihat. Kadang mau jalan-jalan ke Mall malas, gak ada yang aneh di Mall gitu-gitu aja,” sahut Sherina.

Satu keluarga itu menghela napas mereka secara bersama-sama. Entah apa yang ada dipikiran mereka, pada saat kebanyakan orang ingin berada di posisi mereka, mereka justru ingin merasakan kehidupan masyarakat kalangan bawah. Tri tampak terdiam dan berpikir sejenak.

“Bagaimana kalau kita pindah ke kampung? Kita bisa merasakan kehidupan ala-ala kalangan bawah,” seru Daddy Tri.

“Pasti seru tuh, Dad. Kita tinggal di rumah yang terbuat dari kayu, terus pergi ke sawah, habis itu masak sekeluarga dengan bahan-bahan seadanya,” sahut Syarif.

“Ah, seru abis pastinya. Cus Dad, kita pindah ke kampung aja,” tumpal Sherina.

“Bagaimana Mon?” tanya Daddy Tri meminta persetujuan istrinya.

“Mommy setuju banget,” sahut Mommy Wita.

“Ok, kalau begitu Daddy suruh Wanto untuk mencari kampung yang enak dan nyaman untuk ditempati,” ucap Daddy Tri.

Tri pun meng otak-atik ponselnya dan langsung menghubungi Wanto yang merupakan asisten pribadinya. Awalnya Wanto terkejut dengan permintaan Bosnya itu, tapi tidak ada jalan lain selain mengikuti apa yang diperintahkan. Tri memutuskan sambungan teleponnya memberikan waktu Wanto untuk mencari sebuah kampung.

“Bagaimana Dad?” tanya Sherina.

“Wanto akan mencari kampung yang enak dan nyaman untuk kita tinggalin,” sahut Daddy Tri.

“Mantap, aku sudah gak sabar ingin cepat-cepat pindah ke kampung,” seru Syarif antusias.

Mereka semua memang sudah tidak sabar ingin cepat-cepat pindah ke kampung. Mereka belum tahu bagaimana rasanya tinggal di kampung yang jauh dari mana-mana. Mungkin malam itu adalah malam terakhir mereka bisa tidur dengan nyenyak.

***

Satu minggu kemudian....

Setelah lumayan lama mencari, akhirnya Wanto pun menemukan sebuah kampung yang diinginkan oleh keluarga Bosnya. Wanto sudah mengecek ke sana langsung dan membeli sebuah rumah yang paling bagus di kampung itu. Rumahnya terbuat dari batu bata karena kebetulan rumah itu mau dijual, tapi rumah itu lumayan besar dan bagus untuk dikalangan perkampungan.

“Tuan, serius Tuan dan keluarga Tuan mau pindah ke kampung? Nanti Tuan bakalan kesusahan loh,” seru Wanto.

“Serius, justru jika kami kesusahan itu merupakan tantangannya dan kami ingin merasakan seperti itu,” sahut Daddy Tri.

Wanto sampai geleng-geleng dan melongo mendengar jawaban dari Tri. Wanto berpikir kalau Bosnya itu sudah kecelakaan dan kepalanya terbentur sehingga otaknya geser sedikit. Bagaimana Wanto tidak melongo, kebanyakan orang tidak mau hidup kesusahan, sedangkan Bosnya justru ingin merasakan kesusahan.

“Pokoknya besok kita berangkat, kamu antar saya dan keluarga saya habis itu kamu boleh pulang lagi dan jaga perusahaan selama saya pergi,” seru Daddy Tri.

“Apa perlu saya cari pembantu untuk bantu-bantu selama di sana?” tanya Wanto.

“Gak usah, pokoknya saya dan keluarga saya ingin sekali hidup mandiri,” sahut Daddy Tri.

“Baik Tuan.”

Tiba-tiba pintu ruangan Tri terbuka dengan kasar. Adik Tri yang bernama Hari datang dengan wajah tidak bersahabat. Tri memberi kode kepada Wanto untuk pergi keluar dan Wanto mengerti itu dan langsung pamit.

“Duduklah,” seru Daddy Tri.

“Mas Tri itu bagaimana sih? Bisa-bisanya punya rencana konyol seperti itu?” kesal Hari.

“Konyol bagaimana? Mas sama istri dan anak-anak memang sudah memikirkan semuanya, jadi Mas tolong kamu ambil alih dulu perusahaan ini selama Mas tidak ada di sini,” ucap Daddy Tri.

“Astaga Mas, jadi Mas seriusan mau pindah ke kampung? Lebih baik Mas pikir-pikir lagi deh, jangan sampai Mas menyesal,” seru Hari.

“Mas sudah memikirkan semuanya, pokoknya Mas dan keluarga hanya ingin merasakan hidup sederhana saja,” sahut Daddy Tri.

“Kalian memang benar-benar gila,” kesal Hari.

“Mas titip perusahaan ini ya,” seru Daddy Tri.

“Mas, saya juga punya perusahaan bagaimana dengan perusahaan saya kalau harus mengurus perusahaan ini juga,” protes Hari.

“Yaelah, masa seorang Hari Suhartanto yang merupakan pengusaha hebat kewalahan ngurus dua perusahaan?” ledek Daddy Tri.

“Memangnya Mas pikir ini perusahaan ecek-ecek apa? Bagaimana kalau perusahaan ini saya buat bangkrut saja sekalian?” geram Hari.

“Enak saja, mau cari mati kamu!” Tri kesal dan memukul kepala adiknya itu.

“Ya, makanya jangan ngadi-ngadi jadi orang. Hidup susah kok ingin nyobain,” geram Hari.

“Sudah jangan banyak bacot kamu, pokoknya jaga perusahaan selama Mas tidak ada. Kalau tidak, perusahaan kamu yang akan Mas buat bangkrut,” ancam Daddy Tri.

Hari hanya bisa diam dan pasrah. Ancaman Tri memang tidak pernah main-main, bisa-bisa perusahaan dia memang bakalan dibuat bangkrut kalau dia tidak mau mengikuti keinginan kakaknya itu. “Gak asyik, Mas itu bisanya cuma ngancam saja,” kesal Hari.

Tri terkekeh. Hari dan Wanto memang satu-satunya orang yang Tri percaya. Hari adalah adik yang sangat perhatian kepada Tri, bahkan pencapaian Tri dan Hari saat ini merupakan kerja sama dan kerja keras antara kakak beradik itu.

Terlahir dari keluarga serba ada, membuat Tri dan Hari tumbuh dengan keuangan yang sangat cukup. Sehingga pada saat kedua orang tua mereka meninggal, mereka tidak merasakan kesusahan sama sekali.

“Ya, sudahlah terserah Mas saja,” ucap Hari kesal.

“Nah, gitu dong. Adik itu harus mendukung apa yang dilakukan kakaknya selama apa yang dilakukan itu baik dan tidak merugikan,” seru Daddy Tri dengan senyumannya.

Hari hanya bisa memutar bola matanya jengah. Ternyata ngeri juga kalau orang kaya gabut, sekalinya gabut mereka ingin hidup susah seperti orang susah yang sering mereka lihat.

Episode 2 Pindah Ke Kampung

Setelah semuanya diurus oleh Herman, pagi ini keluarga Suhartanto sudah bersiap-siap untuk pindah ke Kampung. Mereka menarget jangka waktu 1 tahun untuk tinggal di kampung. Semua barang-barang seperti baju sudah duluan dibawa oleh anak buah Tri.

“Semuanya sudah siap, Tuan,” seru Wanto.

“Ayo, anak-anak kita berangkat!” seru Daddy Tri.

Istri dan anak-anaknya memperhatikan rumah mereka. “Kita pergi dulu ya, kalian harus jaga rumah ini baik-baik,” perintah Mommy Wita kepada pekerja di rumahnya.

“Baik, Nyonya,” sahut semuanya serempak.

Semuanya pun memasuki salah satu mobil mewah milik Tri. Wanto mulai melajukan mobilnya menuju kampung yang akan menjadi tempat tinggal mereka untuk sementara waktu. Wanto benar-benar tidak habis pikir, bisa-bisanya keluarga Bosnya ingin merasakan hidup susah.

“Nanti kalau sampai di kampung Lu jangan mengeluh ya, Kak,” seru Syarif.

“Apaan, gue gak bakalan ngeluh. Lebih baik Lu semangati diri Lu sendiri Dek, sebelum Lu nyemangatin gue,” sahut Sherina.

“Sudah jangan berisik, pokoknya nanti di kampung kita harus benar-benar mandiri jangan ada bantuan apa pun,” ucap Daddy Tri.

“Ngomong-ngomong, Mommy bisa masak gak?” tanya Syarif.

Seketika Wita gelagapan. “Bi—bisa dong, tenang saja,” sahut Mommy Wita gugup.

“Kok aku gak yakin Mommy bisa masak? Selama ini aku belum pernah melihat Mommy masak,” celetuk Sherina.

“Jangan sembarangan kamu Sher, Mommy dari dulu bisa masak hanya saja Daddy kalian tidak memperbolehkan Mommy untuk masak, akhirnya Mommy tidak pernah masak lagi,” sahut Mommy Wita sedikit kesal.

“Baguslah kalau Mommy bisa masak, setidaknya nanti kita di kampung tidak akan kelaparan,” ucap Syarif.

Wita seketika terdiam. “Mampus, aku sama sekali tidak bisa masak. Jika aku bilang gak bisa masak, bisa-bisa anak-anak meledek aku dan harga diri aku akan hancur di hadapan anak dan suami aku sebagai seorang ibu karena gak bisa masak,” batin Mommy Wita.

Sejak kapan Wita bisa masak, dia saja terlahir sebagai anak tunggal di keluarganya. Jangankan masak, pergi ke dapur pun dia jarang sekali. Apalagi di rumah dia sekarang, untuk yang masak saja sudah ada chef yang handle.

“Ngapain takut, sekarang ada google tinggal lihat google saja,” batin Mommy Wita dengan percaya diri penuh.

Sementara itu suasana di kampung tampak riuh, saat ada beberapa orang yang memadukan barang-barang ke rumah yang akan ditempati keluarga Suhartanto. “Wuidih, siapa yang membeli rumah Juragan Handoko, ya?” seru Nining.

“Entahlah, yang jelas kita akan mempunyai tetangga baru nanti,” sahut Badru.

“Mudah-mudahan saja tetangga baru kita tidak sombong,” sambung Ismail.

Kampung itu tidak terlalu terpencil bahkan ke pasar pun hanya butuh waktu satu jam. Jalan di kampung itu juga sudah lumayan bagus dan tidak terisolir. Bahkan mobil besar pun sudah masuk ke kampung itu.

Para Ibu-ibu di kampung itu sudah berkumpul melihat barang-barang berdatangan ke rumah itu. “Apa yang menempati rumah itu orang kaya?” seru salah satu Ibu-ibu.

“Entahlah. Tapi kalau orang kaya, ngapain mau pindah ke kampung? Enak tinggal di kota, serba ada,” sahut Ibu yang satunya lagi.

Menjelang siang, mobil mewah milik Tri pun sampai di kampung itu. Warga kampung sampai melongo, bahkan anak-anak kecil sudah pada berlarian mengejar mobil Tri. “Aduh, kenapa anak-anak itu ngejar mobil kita sih? Kalau jatuh bagaimana?” seru Mommy Wita khawatir.

“Mungkin anak-anak di sini baru pertama kali lihat mobil bagus,” sahut Syarif.

“Mereka belum pernah melihat mobil bagus Nyonya, paling yang masuk ke kampung ini hanya mobil bak terbuka untuk mengangkut hasil perkebunan mereka,” ucap Wanto.

“Serius Pak? Mereka gak pernah lihat mobil kaya gini?” tanya Sherina tidak percaya.

“Iya, Non,” sahut Wanto.

Akhirnya Wanto pun menghentikan mobilnya di depan rumah yang Tri beli. Para warga sudah berkumpul di sana, seperti yang sedang melihat sebuah kejadian kriminal kaya di Tv-tv. “Anjir, mobilnya keren banget,” seru Badru.

“Fix mereka orang kaya,” tumpal Ismail.

Tri dan yang lainnya pun keluar dari mobil. Semuanya menyunggingkan senyuman kepada warga di sana sebagai senyuman perkenalan. Semua warga melongo melihat keluarga Tri, aura konglomeratnya terlihat kuat meskipun cara berpakaian mereka sudah sesederhana mungkin.

“Gila, ganteng banget,” seru Nining.

“Bening banget,” seru Badru dan Ismail melihat ke arah Sherina.

“Salam kenal Ibu-ibu, Bapak-bapak, kami penghuni rumah ini semoga kita bisa bertetangga dengan baik,” ucap Daddy Tri.

“Selamat datang Pak Tri, perkenalkan nama saya Joko dan saya RW di kampung Suka Bahagia ini,” seru Pak Joko menghampiri keluarga Tri.

“Mohon bimbingannya Pak, kami baru pertama tinggal di kampung,” seru Mama Wita.

“Iya, Bu.”

Sherina melihat ke arah Nining, Badru, dan Ismail lalu menyunggingkan senyuman membuat Badru dan Ismail salah tingkah. “Ih, kayanya mereka baik deh,” seru Nining.

Keluarga Tri pun masuk ke dalam rumah. Para warga mulai membubarkan diri. “Adem banget rumahnya,” seru Syarif.

“Ini ya, rasanya tinggal di rumah kecil kaya kalangan bawah,” seru Mommy Wita.

“Tidak begitu buruk kok, Mom,” sahut Sherina.

“Kalau di Jakarta, rumah ini sebesar kamar gue,” seru Syarif.

“Mom, Daddy lapar,” celetuk Daddy Tri.

“Sherin juga Mom,” timpal Sherina.

“Syarif juga,” sambung Syarif.

Wita kaget mendengar permintaan suami dan juga anak-anaknya itu. “Nyonya, bahan makanan sudah ada di dalam kulkas dan bumbu-bumbu lainnya, Nyonya tinggal masak saja,” seru Wanto.

“Ah, iya,” sahut Mommy Wita gugup.

Wita pun melangkahkan kakinya ke dapur dengan langkah ragu-ragu. Dia tidak tahu harus masak apa dan bagaimana caranya. “Bagaimana mau masak, cara masaknya saja aku gak tahu,” gumam Mommy Wita.

Wita mengeluarkan ponselnya dan melihat cara memasak di dalam Youtube. Cukup lama Wita memperhatikan, hingga akhirnya dia pun memberanikan diri untuk memulai masak. “Semoga saja berhasil, dan mereka suka dengan masakan aku,” gumam Mommy Wita kembali.

Seperti layaknya wanita yang sedang masak, Wita begitu sangat sibuk meskipun dia juga bingung bumbu apa yang dia masukan ke dalam masakannya. Wanto pamit pulang ke Jakarta karena dia harus mengurus perusahaan Tri bersama Hari. Tri dan kedua anaknya rebahan sembari menunggu Wita selesai masak, Tri tidur di karpet, Sherina di atas sofa, dan Syarif di samping Daddynya.

“Mommy lama banget masaknya,” keluh Sherina.

Saking lamanya menunggu Wita selesai masak, semuanya pun sampai ketiduran. Entah apa yang Wita masak sampai-sampai begitu sangat lama untuk menyelesaikannya. Dua jam pun berlalu, akhirnya masakan Wita selesai.

“Akhirnya selesai juga, pasti mereka makannya lahap,” gumam Mommy Wita dengan kondisi wajahnya yang sudah acak-acakan.

Wita kemudian menghidangkan hasil masakannya di meja makan. Senyuman tersungging di wajah Wita, tapi tidak tahu bagaimana nanti reaksi suami dan kedua anaknya kala mencicipi masakannya itu. Wita berharap mereka suka dan memakan habis hasil kerja kerasnya.

Episode 3 Keluarga Harmonis

Wita melihat suami dan kedua anaknya sudah tertidur pulas. “Astaga, kok mereka malah ketiduran sih?” seru Mommy Wita.

Wita membangunkan suami dan kedua anaknya. “Ayo bangun, katanya lapar ingin makan,” seru Mommy Wita.

“Mommy lama banget masaknya, jadi kita ngantuk,” sahut Syarif.

“Maaf, ayo bangun kita makan bersama,” seru Mommy Wita.

Ketiganya bangun dengan perut yang sudah sangat lapar. Mereka menuju meja makan dengan wajah yang berbinar-binar karena masakan Mommy mereka sudah selesai. Tapi, pada saat sampai di meja makan selera makan mereka tiba-tiba hilang melihat kondisi masakan Wita.

Ketiganya saling pandang satu sama lain. “Ini masakan Mommy?” tanya Daddy Tri tidak percaya.

“Iya dong, memangnya masakan siapa lagi?” sahut Mommy Wita dengan senyumannya.

Wita memberikan semuanya piring dan mengambilkan nasi. Jika Nasi masaknya memang benar karena gampang tinggal masukan ke dalam Rice cooker. Yang jadi masalah itu adalah lauk pauknya.

“Mommy masak apa ini?” tanya Sherina lirih.

“Tumis kangkung, tempe goreng, ayam goreng, makanlah,” seru Mommy Wita dengan menopang wajahnya sendiri.

“Mommy tidak makan?” tanya Syarif.

“Nanti saja, kalian dulu yang makan nanti baru Mommy,” sahut Mommy Wita.

Lagi-lagi ketiganya saling pandang satu sama lain. Sherina mengambil tumis kangkung, dia sedikit kesusahan karena kangkungnya tidak dipotong-potong, Wita langsung memasaknya begitu saja. Syarif dan Tri tampak meringis melihat masakan Wita, yang sama sekali tidak menggugah selera.

“Dad, makan duluan dan cicipi masakan Mommy,” celetuk Syarif dengan senyumannya.

“Iya Dad, buruan makan, Mommy penasaran bagaimana menurut Daddy masakan Mommy,” timpal Mommy Wita.

“Dasar anak durhaka,” batin Daddy Tri dengan kesalnya.

Akhirnya dengan ragu-ragu, Tri pun memasukan tumis kangkung ke dalam mulutnya. Tri membelalakkan matanya karena rasanya aneh dan tidak enak sama sekali. “Kalian makan dulu yang banyak ya, Mommy ingin mandi gerah,” seru Mommy Wita.

Ketiganya langsung mengangguk dengan semangat. Setelah Wita masuk ke dalam kamar mandi, Tri langsung memuntahkan makanannya. Tri minum sebanyak mungkin membuat Sherina dan Syarif meringis.

“Bagaimana Dad? Enak tidak?” tanya Sherina.

“Gak enak, rasanya aneh,” bisik Daddy Tri.

“Terus bagaimana dong?” seru Syarif.

“Kita buang saja semua lauk pauknya, soalnya kalau bilang sama Mommy masakan dia gak enak, bisa-bisa Mommy kamu marah dan kalian tahu ‘kan marahnya Mommy kalian seperti apa?” sahut Daddy Tri.

“Mubazir Dad, bagaimana kalau kita kasih aja sama tetangga,” seru Syarif.

Sherina dengan cepat memukul kepala Syarif dengan sendok. “Gila Lu, Daddy aja sampai mau muntah, terus sekarang Lu mau kasih ke orang? Lu mau cari perkara, Dek,” kesal Sherina.

“Ya, sudah buruan buang keburu Mommy selesai mandi,” seru Syarif.

Ketiganya sibuk memasukan semua lauk pauknya ke dalam kantong kresek. Hanya nasi yang tidak mereka buang karena kalau nasi itu tidak baik jika dibuang-buang. Akhirnya mereka hanya bisa makan sama nasi saja.

Tidak lama kemudian, Wita pun selesai mandi lalu berganti baju. Setelah berganti baju, dia menghampiri semuanya ke meja makan. Betapa bahagianya Wita saat melihat semuanya habis.

“Hah, serius masakan Mommy habis semua?” tanya Mommy Wita tidak percaya.

“Iya, Mom. Ternyata masakan Mommy enak sekali, iya ‘kan anak-anak?” seru Daddy Tri dengan mengedipkan sebelah mata sebagai kode.

“Iya, Mom. Enak sekali, Kak Sherina sampai nambah dua kali,” dusta Syarif.

Sherina menendang kaki Syarif, sembari senyum yang dipaksakan. “Wah, Mommy bahagia sekali. Padahal itu pertama kali Mommy masak loh, bumbu-bumbunya pun asal-asalan karena Mommy tidak tahu. Tapi kalau kalian suka, besok Mommy akan masak lagi untuk kalian,” seru Mommy Wita dengan senyumannya.

Ketiganya meringis, mereka tidak bisa berkata apa-apa lagi. Jabatan Wita di keluarga sangat mengerikan, bahkan ketiganya akan tunduk pada apa yang diucapkan oleh Wita. Wita adalah ras terkuat di bumi yang memiliki kekuatan empat elemen api, air, angin, dan tanah yang sangat sulit terkalahkan oleh Tri dan kedua anaknya.

“Sherina, kamu bantu Mommy mencuci piring dan gelas kotor ini,” seru Mommy Wita.

“Ok, Mom.”

Keduanya pun mencuci piring di dapur, sedangkan Tri dan Syarif duduk di ruang tamu. “Daddy sih pakai memuji masakan Mommy segala, kalau begini ‘kan jadi ribet ke depannya,” kesal Syarif.

“Ya, habis mau bagaimana lagi? Memangnya kamu berani protes masakan Mommy kamu?” tanya Daddy Tri.

“Beuhhh.... Gak berani,” sahut Syarif dengan sengirannya.

“Ya, makanya kita cari aman saja. Kaya yang gak tahu aja, Mommy kamu kalau sudah marah, auranya bisa mengalahkan setan bahkan setan juga bakalan sungkem sama Mommy kamu,” seru Daddy Tri.

“Hayo loh, aku aduin sama Mommy kalau Mommy mirip setan kata Daddy,” seru Syarif.

Seketika Tri mengambil bantal kursi dan membekap wajah Syarif dengan bantal itu. “Ampun gak?” seru Daddy Tri.

Syarif terus berontak dan berhasil lolos. “Gila, Daddy mau bunuh Syarif!” seru Syarif dengan napas ngos-ngosan.

“Kamu yang bikin ulah duluan. Awas saja kalau sampai kamu ngadu sama Mommy,” ancam Daddy Tri.

Syarif menatap Tri dengan tatapan menantang, setelah itu dia pun memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya. Keluarga Tri, memang keluarga yang sangat asyik dan juga kocak. Meskipun keluarga konglomerat, tapi mereka tidak kaku seperti orang-orang kaya pada umumnya.

***

Malam pun tiba, Syarif dan Sherina duduk termenung di teras. Perut mereka sangat lapar karena tadi hanya makan nasi saja.

“Kak, lapar gak?” seru Syarif.

“Lapar bangetlah,” sahut Sherina.

“Pesan gofood saja,” ucap Syarif.

“Memang bisa masuk ke kampung ini kalau kita pesan gofood?” tanya Sherina.

“Gak tahu, coba saja,” sahut Syarif.

Badru dan Ismail lewat depan rumah mereka. “Tetangga baru tuh, kita kenalan yuk!” seru Badru.

“Ayo!”

Keduanya menghampiri Sherina dan juga Syarif. “Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam.”

“Hai, tetangga baru,” seru Badru.

“Hai juga,” sahut Sherina.

Ismail membersihkan tangannya dengan bajunya lalu mengulurkan tangan ke arah Syarif dan Sherina. “Kenalkan aku Ismail bin Marzuki biasa dipanggil Mail,” seru Mail.

“Gue Syarif.”

“Sherina.”

Mail tidak melepaskan tangannya, dia malah senyum-senyum membuat Sherina bingung. “Woi, gantian,” seru Badru.

“Aku Badru,” ucap Badru.

Mereka pun berkenalan satu sama lain. “Kamu kerja apa? Kok aku baru lihat seragam kaya gitu?” tanya Sherina kepada Mail.

“Aku polisi kampung,” sahut Mail.

“Hah, polisi kampung? Kok gua rasanya baru dengar, mana seragamnya hijau lagi bukanya kalau polisi itu coklat ya,” seru Syarif bingung.

“Dia Hansip, bukan Polisi,” sela Badru.

“Hansip itu apa?” tanya Sherina.

“Hansip itu pertahanan sipil,” sahut Mail.

“Tugasnya ngapain aja?” tanya Sherina kembali.

“Buat ngamanin kampung aja dan jaga-jaga kampung,” sahut Mail.

“Oh begitu,” sahut Sherina dan Syarif bersamaan.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!