“Azalea Nurul Huda binti Yahya Abdulrahman, aku jatuhkan talak satu. Mulai sekarang kamu bukan istriku lagi!”
Suara Reza menggema keras di ruang tamu yang masih dipenuhi bau kapur barus dan bunga melati dari karangan duka. Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirnya tanpa jeda dan tanpa ragu, bak petir yang membelah langit mendung di siang hari.
Azalea yang sedang duduk bersimpuh di atas sajadah tipis, masih mengenakan mukena putih karena sejak pagi tak berhenti membaca doa untuk almarhumah ibu mertuanya, tersentak hebat. Tangannya yang sejak tadi menggenggam tasbih terlepas. Butirannya berserakan di lantai, bergulir pelan seperti sisa-sisa harga dirinya yang baru saja dihancurkan. Ia menengadah perlahan.
Di hadapannya, Reza berdiri tegak. Wajahnya kaku. Tatapannya dingin. Tak ada duka, tak ada getir, tak ada penyesalan. Pria yang dulu memegang tangannya dengan gemetar saat ijab kabul itu kini tampak seperti orang asing.
Ruangan mendadak sunyi. Para pelayat yang tadi membaca tahlil kini saling berpandangan. Bisik-bisik mulai terdengar, tipis namun menyayat.
“Reza, apa yang kamu lakukan, hah?!” bentak Pak RT yang sejak tadi membantu menjamu tamu.
“Jangan sembarang kamu mengucapkan talak,” sambung Pak Usman, ustaz yang disegani warga. Sorot matanya tajam menatap Reza.
Namun, Reza hanya menarik napas pendek. “Aku menceraikan Azalea karena punya alasan.”
Nada suaranya tenang. Terlalu tenang untuk situasi sekejam ini.
Semua mata beralih kepadanya. Azalea merasakan puluhan tatapan menusuk punggungnya. Tiga tahun ia dikenal sebagai istri yang penurut, menantu yang sabar. Ia yang memandikan Bu Rosidah ketika lumpuh total. Ia yang mengganti popok wanita tua itu. Ia yang menahan muntah saat membersihkan luka. Ia yang tak pernah mengeluh meski punggungnya sering kram karena mengangkat tubuh renta itu sendirian. Kini, di hari ketujuh kematian ibu mertuanya, ia menerima talak.
“Katakan, apa alasan kamu menceraikan Lea?” tanya Bu RT dengan suara bergetar karena menahan marah.
Reza menoleh sekilas ke arah Azalea, lalu berkata datar, “Azalea itu wanita mandul. Sudah tiga tahun kami menikah, tapi dia belum juga hamil.”
Kalimat itu jatuh seperti batu besar di dada Azalea. Wajahnya memucat. Bibirnya bergetar.
“Bagaimana bisa aku cepat hamil, Mas?” Suara Azalea lirih namun jelas terdengar. “Selama tiga tahun ini kita hidup terpisah. Mas tinggal di kota, jarang pulang. Sementara aku di sini, mengurus Ibu.”
Air mata wanita cantik itu menetes tanpa bisa ia tahan. Azalea tak sedang membela diri, hanya menyampaikan kenyataan.
Bisik-bisik semakin ramai.
“Jangan-jangan Lea memang cuma dimanfaatkan ....”
“Kasihan sekali Lea ....”
Reza mendengus pelan. “Alasan tetap alasan. Faktanya kamu belum memberiku anak.”
“Sungguh tega sekali kamu, Reza!” Bu RT tak lagi mampu menahan emosinya. “Kamu menikahi Lea hanya untuk mengurus ibumu yang sakit! Setelah ibumu meninggal, kamu buang dia begitu saja?”
Pak Usman menggeleng pelan. “Wanita belum hamil belum tentu mandul. Itu urusan Allah. Sudahkah kalian periksa ke dokter? Sudahkah kamu sebagai suami menjalankan kewajibanmu dengan benar?”
Ekspresi Reza tak berubah sedikit pun.
Azalea menatap pria itu. Dulu, ia jatuh cinta pada kesederhanaan Reza. Pada janji-janji kecilnya tentang rumah tangga yang sakinah. Pada cara Reza menggenggam tangannya di bawah payung saat hujan pertama setelah mereka menikah. Kini semua itu terasa seperti mimpi yang tak pernah benar-benar ada.
“Kenapa Mas menuduh aku mandul tanpa tes dokter?” tanya Azalea lagi, suaranya semakin pecah.
“Tak perlu tes. Buang-buang uang saja,” jawab Reza ketus. “Kamu kira mudah cari uang? Kamu yang cuma diam di rumah mana tahu susahnya kerja.”
Kalimat itu lebih menyakitkan daripada talak yang baru saja ia ucapkan.
Diam di rumah?
Azalea ingin tertawa, tapi yang keluar hanya isak tertahan. Dialah yang bangun sebelum subuh, menyiapkan sarapan untuk ibu mertua yang tak bisa bangun sendiri. Dialah yang menggendong tubuh renta itu ke kamar mandi. Dialah yang menahan kantuk ketika malam-malam harus mengganti selang infus atau membersihkan muntahan.
“Astaghfirullahal’adzim!” Bu RT sampai memegang dadanya. “Kewajiban suami mencari nafkah dan memberi nafkah! Istri bukan beban!”
“Jangan merasa istri itu penghalang rezekimu,” tambah Pak Usman tegas. “Bisa jadi kemudahan yang kamu dapat selama ini karena doa istrimu.”
Namun, Reza tetap keras kepala. “Talak sudah terucap. Aku tidak akan menariknya kembali.”
Kalimat itu final.
Azalea menutup mata sejenak. Dadanya terasa sesak. Seolah udara tak lagi cukup untuk ia hirup.
Tiga tahun pengabdiannya berakhir dengan satu kalimat.
Azalea teringat malam-malam ketika ia menunggu Reza pulang, hanya untuk mendengar suaminya berkata lelah dan tertidur tanpa sepatah kata. Ia teringat bagaimana ia menahan rindu, menahan keinginan menjadi istri sepenuhnya, karena kondisi ibu mertua yang tak memungkinkan mereka tinggal bersama.
Azalea teringat ketika Reza berkata, “Sabar ya, Lea. Ibu lebih butuh kamu sekarang.”
Dan ia patuh.
“Baik,” akhirnya Azalea bersuara. Aneh, suaranya terdengar lebih tenang daripada yang ia rasakan. “Aku terima talak kamu, Mas.”
Ruangan kembali sunyi. Orang-orang ikut menahan napas dan sakit di dadanya.
“Tapi ingat,” lanjut Azalea, menatap lurus ke mata Reza, “Allah tidak tidur. Semua yang Mas lakukan kepadaku akan mendapat balasannya. Begitu juga segala hal yang aku lakukan untuk Ibu selama tiga tahun ini.”
Tangan Azalea gemetar ketika menghapus air mata. Namun, ia memaksa dirinya berdiri. Untuk pertama kalinya sejak tadi, punggungnya tegak.
“Karena Mas yang menggugat cerai, Mas urus sendiri ke pengadilan agama,” kata Azalea tegas. “Izinkan aku pergi dari rumah ini selama masa iddah.”
“Pergilah ke mana pun kamu mau,” jawab Reza tanpa beban. “Aku juga mau menjual rumah ini.”
Azalea tertegun.
Rumah ini. Rumah tempat ia belajar menjadi istri. Rumah tempat ia menangis diam-diam di dapur. Rumah tempat ia memeluk tubuh ibu mertua yang tak bisa lagi berbicara, hanya menatapnya dengan mata berkaca-kaca seolah mengucapkan terima kasih.
Rumah itu kini akan dijual. Seperti dirinya yang tak lagi dianggap bernilai.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Azalea melangkah ke kamar. Ia melepas mukenanya perlahan. Tangannya menyentuh ranjang yang dulu mereka gunakan bersama, meski lebih sering kosong di sisi suaminya. Ia mengambil koper kecil. Isinya tak banyak. Beberapa helai pakaian, mushaf Al-Qur’an, dan foto lama saat pernikahan mereka.
Dalam foto itu, Reza tersenyum hangat. Azalea memandangnya lama. Lalu, dengan tangan gemetar, ia menyelipkan foto itu ke dalam laci. Ia tak sanggup membawanya.
Ketika Azalea kembali ke ruang tamu dengan koper di tangan, para ibu memeluknya satu per satu. Tangis pecah.
“Yang sabar, Nak.”
“Kami tahu kamu sudah berbuat yang terbaik.”
“Kamu perempuan kuat.”
Bu RT memeluknya paling lama. “Kamu akan menyesal seumur hidup, Reza,” katanya lantang, menatap pria itu penuh murka. “Karena menceraikan istri yang begitu setia.”
“Aamiin!” sahut beberapa ibu serempak.
“Ini urusanku!” balas Reza tajam. “Kalian jangan ikut campur!”
Azalea tak menoleh lagi. Ia melangkah melewati ambang pintu. Langit sore itu kelabu. Angin berembus pelan, menerbangkan ujung jilbab putihnya. Setiap langkah terasa berat. Namun ia tahu, jika ia berhenti sekarang, ia akan runtuh. Di halaman rumah, ia berhenti sejenak. Menoleh untuk terakhir kalinya. Rumah itu menyimpan kenangan pahit dan manis. Tapi kini, semuanya telah usai.
Dalam hati, Azalea berbisik lirih, “Ya Allah, jika selama ini aku diuji karena kesabaranku, maka kini kuatkanlah aku karena kepergianku."
Air mata kembali jatuh. Dengan langkah tertatih namun pasti, Azalea Nurul Huda berjalan meninggalkan rumah itu, tanpa tahu ke mana ia akan pergi, tanpa tahu bagaimana esok menyambutnya. Yang ia tahu hanya satu. Hari ini, ia bukan lagi seorang istri. Dan hidupnya baru saja dihancurkan oleh satu kalimat yang diucapkan tanpa cinta.
Tidak terasa sudah empat bulan berlalu sejak kalimat talak itu meruntuhkan hidupnya. Empat bulan sejak Azalea melangkah keluar dari rumah yang pernah ia sebut surga kecilnya. Sejak itu ia belajar menerima kenyataan bahwa cinta yang ia pertahankan dengan kesabaran ternyata tak pernah benar-benar diperjuangkan oleh suaminya.
Kini ia berdiri di depan rumah tua peninggalan orang tuanya. Dindingnya retak di beberapa bagian. Catnya mengelupas, menyisakan warna kusam yang memudar dimakan waktu. Atapnya miring sedikit ke kiri, seolah ikut memikul beban kesedihan yang selama ini menghuni tempat itu.
Namun bagi Azalea, rumah itu bukan sekadar bangunan tua. Di sanalah ia tumbuh. Di sanalah suara tawa ibunya dulu memenuhi dapur kecil setiap pagi. Di sanalah ayahnya biasa duduk di teras, menyeruput kopi hitam sambil menunggu adzan subuh. Di sanalah ia dan kakak perempuannya saling mengejar di halaman, tertawa tanpa tahu bahwa waktu akan begitu kejam memisahkan mereka.
Kini, halaman itu sunyi. Hanya suara angin yang menggerakkan dedaunan kering.
“Apa kamu tidak akan menjual rumah ini, Lea?”
Suara Abah Iip, sesepuh desa yang sudah seperti kakek sendiri baginya, membuyarkan lamunannya. Lelaki tua itu berdiri dengan tongkat kayu di tangan, memandang rumah itu dengan sorot prihatin.
Azalea tersenyum kecil. Senyum yang lembut, tapi menyimpan banyak luka.
“Tidak, Abah,” jawab Azalea pelan. “Ini satu-satunya tempat yang aku punya. Makam ibu, bapak, dan kakak juga ada di sini. Walau aku merantau ke kota pasti nanti akan pulang juga ke sini.”
Abah Iip mengangguk pelan. Matanya berkaca-kaca.
“Rumah ini memang sudah tua. Tapi kenangan di dalamnya tidak pernah hilang,” gumamnya lirih.
Azalea menunduk. Dadanya menghangat sekaligus perih.
“Nanti sesekali Abah suruh orang untuk membersihkan rumah ini,” lanjut Abah Iip. “Biar tidak terlalu terbengkalai.”
“Terima kasih, Abah.” Azalea tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana. “Kalau ada tamu dari luar kampung yang butuh tempat tinggal, pakai saja rumah ini. Asal dijaga, jangan dirusak.”
Di kampung kecil itu memang tak ada penginapan. Jika ada tamu yang datang untuk urusan atau sekadar singgah, rumah Azalea sering dijadikan tempat menginap. Rumah yang sudah tua itu masih lebih berarti daripada dirinya di mata mantan suaminya.
Sore itu, setelah menziarahi makam orang tua dan kakaknya, Azalea duduk lama di samping nisan mereka.
“Ibu … Bapak … Kak,” gumam Azalea suaranya bergetar. “Lea mau ke kota. Lea mau mulai hidup baru.”
Angin berembus pelan, menyibakkan ujung jilbabnya. “Lea tidak punya siapa-siapa lagi. Tapi Lea janji, Lea tidak akan menyerah.”.Air mata menetes, jatuh membasahi tanah makam.
Kota menyambutnya dengan panas yang menyengat dan debu yang beterbangan..Begitu turun dari terminal, Azalea menggenggam tas ranselnya erat. Dunia terasa begitu luas dan asing. Orang-orang berlalu-lalang tanpa peduli siapa ia, dari mana ia datang, dan luka apa yang ia bawa.
Sebuah musholla kecil tak jauh dari terminal, Azalea melangkah ke sana. Waktu Zuhur mau hampir habis. Ia berwudhu dengan air yang terasa hangat karena terik matahari. Lalu berdiri dalam saf paling belakang, menunaikan salat dengan hati yang penuh harap.
Dalam sujudnya, ia menangis. “Ya Allah, aku tidak meminta hidup yang mewah. Aku hanya ingin pekerjaan yang halal. Aku ingin berdiri dengan kakiku sendiri. Tolong aku.” Doanya lirih, namun penuh keyakinan.
Usai salat Azalea duduk sambil mencari lowongan pekerjaan via online hingga waktu Ashar.
Usai salat Ashar, Azalea keluar dari musholla dengan langkah yang sedikit lebih mantap. Tetangganya di kampung pernah memberi tahu beberapa lokasi kontrakan murah dan kawasan industri yang sering membuka lowongan. “Asal tidak pilih-pilih kerja,” begitu pesan mereka.
Azalea memang tak berniat memilih. Lulusan SMK sepertinya tak punya banyak opsi. Menjadi pembantu rumah tangga, cleaning service, penjaga toko atau apa pun tak masalah, asal halal.
“Jalan Rajawali,” gumam Azalea sambil memandangi papan nama jalan. Ia tidak sadar bahwa alamat yang ia cari sebenarnya Jalan Cendrawasih.
Langkah Azalea membawanya masuk ke kompleks gedung-gedung tinggi yang menjulang angkuh. Kaca-kaca besar memantulkan cahaya matahari, menyilaukan mata. Mobil-mobil mewah hilir mudik karena jam pulang kerja telah tiba.
Azalea merasa kecil. Ia berdiri di antara dunia yang tampak begitu megah, sementara dirinya hanya membawa tas lusuh dan harapan yang rapuh.
Karena bingung, ia terus berjalan menuju perempatan tak jauh dari tempatnya berdiri. Lalu, matanya menangkap sesuatu. Seorang anak perempuan kecil berlari ke tengah jalan, mengejar bola merah muda yang menggelinding bebas.
“Awas!” teriak Azalea spontan.
Namun anak itu hanya tertawa, tak memedulikan klakson yang bersahut-sahutan.
“Non Elora!” teriak seorang wanita paruh baya dari seberang jalan, suaranya panik.
Dalam hitungan detik, Azalea melihat sebuah motor melaju cepat, menyalip kendaraan lain. Tanpa berpikir panjang, tubuhnya bergerak lebih cepat dari akalnya. Ia berlari. Kakinya terasa ringan sekaligus berat. Dunia seperti melambat. Suara klakson memekakkan telinga. Angin menerpa wajahnya. Tangannya terulur.
Sekali gerakan, Azalea menyambar bola itu dan meraih tubuh kecil si anak, memeluknya erat sebelum motor itu melintas hanya beberapa jengkal dari mereka. Jantungnya berdetak liar. Kakinya gemetar saat ia menepi. Anak kecil itu menatap wajahnya lekat-lekat. Mata bulatnya besar dan bening.
“Non Elora! Kamu tidak apa-apa?!” Wanita paruh baya itu berlari menghampiri mereka.
Azalea menyerahkan anak itu dengan tangan masih gemetar. “Anaknya tidak apa-apa, Tante?” tanyanya cemas.
Wanita itu yang kemudian dipanggil Bi Minah mengangguk cepat, wajahnya pucat. “Alhamdulillah … alhamdulillah.”
Namun anak kecil itu malah mendorongnya. “Ngak mau digendong, Bi Minah!” serunya manja, mengambil bola dari tangan Azalea.
“Bibi takut Non kenapa-kenapa. Nanti Daddy marahi Bibi.” Suara Bi Minah mengecil.
“Bi Minah ganggu caja!” Elora membanting bolanya. “Aku mau main sama Daddy! Bi Minah pulang caja cana!”
Azalea terdiam. Miris. Anak sekecil itu sudah bisa membentak orang yang jelas-jelas mencemaskannya.
“Tapi Daddy bilang lagi sibuk, Non. Mainnya besok saja, ya,” bujuk Bi Minah.
“Ngak mau!” Elora menangis keras, lalu berguling, tantrum.
Tangis itu bukan hanya tangis manja. Ada rasa sepi di sana.
Azalea berjongkok perlahan di hadapan anak itu. “Nama kamu Elora?” tanyanya lembut sambil mengulurkan tangan. “Kenalkan, Tante Azalea. Panggil saja Tante Lea.”
Elora menatap Azalea.
“Elora suka main bola?” tanya Azalea, tersenyum lembut.
Elora mengusap air matanya. “Tante mau main sama aku?”
Pertanyaan itu sederhana, tetapi entah kenapa hati Azalea terasa teriris. Ia teringat betapa dulu ia berharap bisa mendengar suara anak memanggilnya “Ibu”. Namun kini, ia bahkan tak pernah diberi kesempatan.
Hari sudah sore. Azalea sebenarnya harus mencari kontrakan. Mencari alamat yang benar, tetapi melihat wajah kecil itu, ia tak tega menolak.
“Main sebentar saja, ya. Habis itu harus pulang.”
Wajah Elora langsung berbinar. Senyumnya lebar sekali.
Mereka bermain bola di parkiran gedung tinggi itu. Azalea tertawa untuk pertama kalinya sejak lama. Tawanya ringan, tulus, meski di sudut hatinya masih ada perih yang belum sembuh.
Elora berlari-lari kecil, rambutnya yang diikat dua bergoyang-goyang. Bi Minah berdiri tak jauh dari mereka, memandangi dengan rasa lega.
Azan Magrib berkumandang. Azalea menghentikan permainan. “Elora, sudah sore. Harus pulang.”
“Ngak mau! Mau main cama Tante!” Elora cemberut.
“Elora, ayo pulang!” Suara pria terdengar dari belakang.
Dalam sekejap, Elora berlari meninggalkan Azalea. “Daddy!”
Azalea menoleh. Langkahnya terhenti. Napasnya tercekat. Dunia seolah berhenti berputar.
“E-Enzo…?” gumam Azalea lirih, hampir tak terdengar.
Azalea masih berdiri terpaku ketika pria itu melangkah mendekat. Setelan jas hitamnya rapi. Rambutnya tersisir ke belakang. Wajahnya lebih matang dari terakhir kali ia lihat, tetapi sorot matanya masih sama, dingin, dalam, dan sulit ditebak. Enzo, suami mendiang kakaknya, yang selama ini tinggal di Jerman, kini berada tepat di depan matanya.
“A-Aza … lea?” tanya Enzo terdengar ragu, seolah ia sendiri tak yakin dengan apa yang dilihatnya. Nama itu meluncur pelan dari bibirnya. Nama yang dulu sering ia dengar disebut Jasmine—kakak Azalea—dengan nada penuh sayang. Wajah wanita itu juga mirip dengan mendiang istrinya.
Azalea menelan ludah. Jantungnya berdetak tak karuan. “Mas Enzo ....” Suaranya hampir tak terdengar.
“Daddy, kenal cama Tante Lea?” Elora menggoyangkan ujung celana jas Enzo, memecah ketegangan di antara mereka.
Mata Azalea beralih kepada anak kecil itu.
Elora. Nama yang tadi ia dengar untuk pertama kalinya, tanpa tahu bahwa anak itu adalah darah daging keluarganya sendiri.
Azalea ingat jelas kabar kakaknya meninggal setelah melahirkan bayi perempuan. Sejak saat itu, hubungan mereka terputus.
“Dia … putri Kak Jasmine?” tanya Azalea dengan suara bergetar. Ia berjongkok perlahan, menatap wajah kecil yang begitu mirip kakaknya. Mata, lengkungan bibir, seolah Jasmine kecil hidup kembali di hadapannya.
Enzo mengangguk tipis. “Dia adiknya mommy kamu, El.” Nada suara pria itu datar dan terkesan formal. Tak ada kehangatan yang dulu sempat Azalea lihat saat ia berdiri di pelaminan bersama Jasmine.
“Adiknya mommy?” Elora memiringkan kepala. “Bealti caudalanya mommy? Cama kayak aku dan Kak Elza?” ucap Elora yang belum bisa mengucapkan huruf "S dan R".
Azalea tertegun. “Kak Elza?” bisiknya. Erza, anak Jasmine yang pertama.
Azalea tak tahu harus merasa apa. Bahagia karena menemukan sisa keluarga yang masih hidup? Atau sedih karena jarak yang selama ini memisahkan mereka?
“Iya, El,” ujar Enzo pada putrinya. “Kamu bisa memanggilnya Tante.”
Mata Azalea membulat. Ia tak menyangka Enzo akan mengakui identitasnya begitu saja. Ia kira pria itu akan bersikap dingin, menjaga jarak seperti dulu.
“Kalau begitu, Tante Lea boleh main ke lumah?” Elora menengadah penuh harap.
Sejenak, Azalea ikut menatap Enzo. Ada doa kecil di matanya.
Namun, Enzo hanya berkata singkat, “Kapan-kapan. Sekarang sudah sore, waktunya pulang. Nanti Oma marah.” Nada itu tegas, tak memberi ruang.
“Elora, kita pulang.” Enzo menggandeng tangan Elora.
“Baik, Daddy.” Elora cemberut kecil, lalu melambaikan tangan. “Tante Lea, nanti kita main belcama lagi, ya!”
“Iya.” Azalea tersenyum, menahan getar di dadanya.
Ia ingin bertanya banyak hal. Tentang Jasmine. Tentang kematiannya waktu itu. Tentang mengapa selama ini tak ada kabar. Tentang mengapa mereka seolah dilupakan dan sejak kapan Enzo tinggal di Indonesia.
Namun, kaki Enzo sudah melangkah pergi. Mobil hitam mewah itu menjauh.
Azalea berdiri sendiri di tepi parkiran, memandangi lampu belakang mobil yang perlahan menghilang. “Semoga kita bisa bertemu lagi,” gumamnya pelan.
***
Keesokan paginya, Azalea bangun lebih awal. Matanya sembap, tetapi semangatnya tak boleh padam. Semalam ia menerima email panggilan wawancara. Baru kemarin ia mengirim lamaran secara daring ke beberapa perusahaan dan hari ini salah satunya memanggilnya. Perusahaan itu bernama KAISER GROUP.
Azalea mengenakan kemeja putih sederhana dan rok hitam panjang. Jilbabnya ia setrika rapi. Ia ingin terlihat pantas, meski ia hanya melamar sebagai cleaning service. “Ya Allah, mudahkan aku saat interview nanti,” bisiknya sebelum berangkat.
Saat berdiri di depan gedung tinggi itu, Azalea tertegun. Ini tempat kemarin ia bertemu Elora dan Enzo. Jantungnya berdetak lebih cepat, tapi ia menepis pikiran itu. Fokusnya hanya satu, pekerjaan.
Saat melangkah ke area parkir, sebuah mobil melintas pelan di sampingnya. Azalea tanpa sengaja melirik. Dadanya seketika terasa sesak.
Pria di balik kemudi itu mirip mantan suaminya.
“Kok, mirip Mas Reza?” batin Azalea. Ia menggeleng pelan, merasa salah lihat.
Namun mobil itu berhenti tak jauh dari pintu masuk. Dan ketika Azalea melangkah melewatinya, waktu seakan berhenti.
Pria itu benar Reza. Lalu, di kursi sampingnya ada seorang wanita cantik berpakaian modis sedang tertawa manja. Sesaat kemudian, wanita itu meraih wajah Reza dan menciumnya singkat.
Azalea terdiam. Napasnya tercekat. “Mas Reza…?” gumamnya nyaris tanpa suara.
Reza terbelalak saat melihat wanita yang berdiri di depan mobil. “Azalea?!” ucapnya pelan, tak percaya.
“Siapa?” tanya Nadia, wanita yang duduk di samping Reza.
“Bukan siapa-siapa,” jawab Reza cepat.
Empat bulan lalu, pria itu menjatuhkan talak kepadanya dengan alasan ia mandul. Selama empat bulan juga, ia menangis sendirian di rumah tua orang tuanya.
Dan kini Reza tampak sangat bahagia bersama seorang wanita lain.
“Mas kerja di sini?” tanya Azalea, mencoba menjaga suaranya tetap stabil.
“Kamu kenal sama Reza?” tanya Nadia tajam.
Reza hendak membuka mulut, tapi Azalea lebih dulu berkata, “Dia mantan suamiku.”
Nadia tersentak. Wajahnya berubah.
Reza mendesah kesal. “Itu cerita lama,” katanya dingin. “Kamu mau apa di sini?”
“Aku mau interview.”
Nadia dan Reza saling berpandangan. Ada senyum tipis yang tak bisa Azalea artikan sebagai apa pun selain ejekan.
“Ayo, kita masuk,” ujar Nadia manja sambil menggandeng tangan Reza.
Mereka berjalan lebih dulu, meninggalkan Azalea dengan perasaan campur aduk.
Di ruang wawancara, Azalea kembali bertemu Nadia. Wanita itu kini duduk di balik meja HRD. Wajahnya profesional. Senyumnya tipis.
Setelah sesi tanya jawab singkat, Nadia menutup map lamaran Azalea. “Maaf, kualifikasi Anda tidak sesuai dengan kebutuhan perusahaan.”
Azalea tercekat. “Tapi, saya melamar sebagai cleaning service, Bu.”
Nadia menyandarkan tubuhnya. “Kami tetap punya standar.”
Lalu dengan suara lebih rendah, hampir berbisik namun cukup menusuk, “Orang kampung dengan pendidikan rendah seperti kamu ingin kerja di perusahaan besar? Jangan mimpi, deh.”
Azalea menunduk. Dadanya terasa panas. Ia tahu ini bukan soal kualifikasi. Ini soal siapa dia dan siapa Reza sekarang. Namun ia tak membalas. Ia hanya berdiri, membungkuk sopan. “Terima kasih atas waktunya.”
Azalea keluar ruangan dengan langkah yang terasa berat. Air matanya hampir jatuh, tapi ia tahan. Ia tak mau menangis di tempat yang bahkan tak menginginkannya.
Saat hendak masuk lift, pintu terbuka. Dan ia melangkah masuk tanpa sadar. Beberapa orang memandangnya aneh. Lift itu sunyi, luas, dan hanya ada dua orang.
“Eh, Enzo?” Azalea tersentak ketika melihat pria itu berdiri di sudut lift bersama seorang pria berkacamata.
“Siapa kamu? Tidak sopan bicara seperti itu,” tegur Ramon, pria berkacamata itu.
Azalea tidak sadar. Ia baru saja masuk lift khusus petinggi perusahaan.
“Kamu sedang apa di sini?” tanya Enzo datar.
“Mau melamar kerja,” jawabnya pelan. “Tapi, gagal.”
Tatapan Enzo mengeras. Ia menatap Azalea dari atas hingga bawah. Jilbab putih sederhana. Sepatu yang sudah agak usang. Map lamaran yang ia genggam erat.
“Kenapa gagal?”
“Tidak sesuai kriteria,” jawab Azalea dengan senyum tipis yang menyakitkan.
Pintu lift terbuka di lantai satu. Azalea buru-buru keluar, merasa tak pantas berada di sana. Namun—
“Tunggu.” Suara Enzo terdengar tegas.
Langkah Azalea terhenti. Ia menoleh.
Pria itu berjalan mendekat, meninggalkan Ramon yang tampak kebingungan. “Tadi kamu bilang gagal mendapatkan pekerjaan?”
“Iya.”
“Kalau begitu,” Enzo menatapnya lurus, “apa kamu mau bekerja kepadaku?”
Azalea terdiam.
“Sebagai pengasuh anak-anakku,” lanjut Enzo.
Jantung Azalea seakan berhenti. Pengasuh? Untuk Elora… dan Erza? Artinya ia bisa dekat dengan darah daging kakaknya.
Namun, harga dirinya? Setelah baru saja diinjak-injak mantan suaminya, kini ia ditawari menjadi pengasuh di perusahaan besar tempat mantan suaminya bekerja?
Enzo masih menatapnya. “Jawabanmu?” tanyanya singkat.
Dan Azalea berdiri di antara dua pilihan. Menelan gengsi demi bertahan hidup. Atau pergi, kembali berjalan tanpa arah di kota yang tak pernah ramah padanya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!