Indonesia
NovelToon NovelToon

Murim'S Engineer

Bab 1: Akhir yang Baru

Perspektif: Jin Tae-Kyung (Kang Purnama - nama manusia sebelumnya)

---

Rasa sakit itu datang pertama.

Bukan rasa sakit yang tajam seperti pisau, tapi rasa sakit yang tumpul dan merambat—seperti ribuan jarum panas menusuk dari dalam perut, merayap ke dada, ke tenggorokan. Mataku terasa berat. Kelopak mata ini seperti terbuat dari timah.

"Aku... kenapa aku bisa merasakan sakit?"

Itu pertanyaan pertama yang muncul di kepalaku. Karena seharusnya aku sudah mati.

Kang Purnama, 34 tahun, insinyur teknik mesin lulusan ITB. Meninggal dunia karena tertimpa rangka baja di proyek pembangunan jembatan di Kalimantan. Kecelakaan kerja klasik: atasan memaksa lembur 36 jam non-stop, prosedur keselamatan diabaikan demi mengejar deadline, dan aku yang terlalu penurut untuk protes.

Aku ingat detik-detik terakhir itu. Derit besi yang menjerit. Teriakan rekan-rekan. Lalu gelap.

Tapi ini... ini bukan gelap yang abadi.

Aku mencoba membuka mata. Susah. Sekilas, kulihat langit-langit kayu dengan balok-balok lapuk. Bau anyir memenuhi hidung. Bau darah. Dan bau... jamu? Atau ramuan tradisional?

Suara bisik-bisik di kejauhan.

"...sudah tiga hari. Tidak sadar juga."

"Biarkan saja. Mungkin lebih baik begitu."

"Tapi Tuan Muda itu... beliau putra sah Klan..."

"Sah? Ha! Dengan ibu dari gundik? Jangan konyol. Sepupu Besar sudah menyiapkan segalanya. Sebentar lagi Klan ini akan punya pemimpin baru."

Percakapan itu seperti pisau yang mengupas kabut di kepalaku. Tiba-tiba, seperti kilat, ingatan asing membanjiri otakku.

Jin Tae-Kyung.

Usia 22 tahun.

Putra kedua dari Klan Jin yang terpuruk. Ibunya adalah selir yang sudah meninggal. Ayahnya, Patriark Jin, baru saja gugur dua minggu lalu dalam pertempuran melawan "Iblis" di perbatasan utara. Kakak laki-lakinya, putra mahkota dari permaisuri utama, tewas dalam pertempuran yang sama.

Dan sepupunya, Jin Hojun, ingin merebut posisi Patriark. Cara termudah? Menyingkirkan pewaris sah. Bahkan pewaris sekaliber putra selir sekalipun.

Aku diracun.

Sekarang aku mengerti. Aku, Kang Purnama, insinyur yang mati karena kelalaian sistem, telah terlahir kembali di tubuh pemuda malang ini. Diracun oleh keluarganya sendiri.

Ironis. Di kehidupan sebelumnya aku mati karena sistem yang brengsek. Di kehidupan ini, aku terlahir di tengah sistem kekeluargaan yang juga brengsek.

Perlahan, dengan seluruh energi yang bisa kukumpulkan, aku memaksa mataku terbuka.

---

Pandangan pertamaku adalah seorang pria tua.

Wajahnya keriput, jenggot putih tipis tak terawat, matanya sayu menatapku. Di pinggangnya terselip pedang tua—bukan pedang hiasan, tapi pedang yang jelas sudah kenyang pengalaman. Ada luka menganga di pelipisnya, dibalut kain seadanya.

"Tuan Muda!" bisiknya. Suaranya parau, tapi ada getar haru di sana. "Akhirnya... Hyun Moo sudah mengira Tuan tidak akan bangun."

Hyun Moo. Nama itu muncul dari ingatan Jin Tae-Kyung. Kepala keamanan klan. Satu-satunya pendekar level tinggi yang tersisa di klan ini. Setia pada Patriark lama. Tua. Dan—menurut ingatan itu—satu-satunya orang yang bisa dipercaya.

Aku ingin bicara. Tapi tenggorokanku rasanya seperti amplas.

Hyun Moo segera menyodorkan mangkuk. Air hangat. Aku minum pelan-pelan, merasakan cairan itu membasahi kerongkongan yang kering.

"Berapa... lama?" Suaraku keluar serak, asing di telingaku sendiri.

"Tiga hari, Tuan." Hyun Moo menunduk. "Kita sudah mencoba semua penawar. Tabib klan bilang... bilang itu sudah takdir."

"Tapi aku hidup."

Pria tua itu menghela napas panjang. "Iya. Tuan hidup. Tapi kita harus segera pergi."

Aku menatapnya. Butuh energi besar untuk duduk. Tubuh Jin Tae-Kyung ini ringkih, lemah. Tidak seperti tubuhku dulu yang terbiasa mengangkat beban dan berdiri 12 jam di lapangan. Ini tubuh bangsawan yang tidak pernah bekerja keras. Otot-ototnya atrofi. Tangannya halus, tidak kapalan.

"Jelaskan," kataku pendek. Nada bicaraku mungkin terlalu keras untuk ukuran orang baru bangun dari koma, tapi aku tidak peduli.

Hyun Moo menatapku sebentar. Mungkin dia heran dengan perubahan sikap. Jin Tae-Kyung yang dulu, berdasarkan ingatannya, adalah pemuda pendiam, penurut, dan mudah takut. Tidak seperti kakaknya yang gagah berani. Tapi sekarang? Pemuda yang baru bangun dari koma ini berbicara seperti komandan.

Tapi dia tidak bertanya. Dia hanya mengangguk.

"Sepupu Besar, Jin Hojun, sudah menguasai sebagian besar pendekar klan. Dengan kakak Tuan gugur, Tuan adalah satu-satunya pewaris darah Patriark. Tapi Hojun... dia tidak akan membiarkan itu terjadi."

"Jadi dia meracuniku."

"Tabib itu anak buahnya. Kami semua bodoh tidak menyadarinya sampai terlambat. Tuan koma selama tiga hari. Sebagian besar sudah menganggap Tuan... sudah pergi."

Aku tersenyum pahit. Hampir saja mereka benar.

"Berapa banyak pendekar yang masih setia?"

Hyun Moo diam sebentar. "Aku. Dan mungkin... beberapa prajurit rendahan yang tidak punya pilihan. Tapi mereka tidak akan berguna dalam pertarungan melawan Hojun."

"Aku tidak tanya tentang prajurit. Aku tanya tentang pendekar."

"Aku. Hanya aku." Hyun Moo menunduk dalam-dalam. "Maafkan aku, Tuan. Aku gagal mempertahankan kehormatan klan."

Aku mengamati pria ini. Di mataku sebagai insinyur, dia adalah aset. Sumber daya manusia yang setia, berpengalaman, dan jelas punya kemampuan tempur. Tapi lukanya... lukanya cukup parah.

"Lukamu bagaimana?"

"Pertarungan kecil dengan anak buah Hojun dua hari lalu. Saat membawa Tuan kabur ke sini. Aku menang, tapi..." ia memegang pinggangnya. "Tulang rusuk retak. Butuh waktu untuk pulih."

"Dia tahu kita di sini?"

"Rumah ini persembunyian lamaku. Cukup rahasia. Tapi... Hojun punya banyak mata. Mungkin besok, mungkin lusa, mereka akan datang. Kita harus pergi, Tuan. Selagi masih bisa."

Aku diam sejenak, memproses. Di kehidupan sebelumnya, aku terbiasa berpikir dalam sistem: input, proses, output. Masalah adalah variabel yang harus dipecahkan. Sekarang masalahnya adalah: aku lemah, sumber daya manusia hanya satu orang tua yang terluka, sumber daya material tidak jelas, dan musuh akan datang dalam waktu dekat.

Sial. Ini lebih parah daripada deadline proyek jembatan.

Tapi ada satu perbedaan besar. Di kehidupan sebelumnya, aku hanya pekerja. Sekarang? Aku adalah pewaris. Aku punya hak untuk memerintah. Aku punya alasan untuk melawan.

Aku mencoba menggerakkan tangan. Lemah. Sangat lemah. Racun itu masih menyisakan efek. Tubuh ini bahkan tidak mampu memegang mangkuk dengan mantap.

"Apa yang kita punya?" tanyaku.

"Maaf?"

"Harta. Uang. Senjata. Makanan. Apa yang kita punya di sini?"

Hyun Moo mengerutkan kening. Mungkin pertanyaan itu terlalu praktis untuk seorang bangsawan. Tapi dia menjawab.

"Rumah ini kecil. Dapur di belakang, persediaan beras untuk dua minggu. Sumur di halaman. Senjata... aku punya pedangku. Dan satu belati cadangan. Uang?" Ia tertawa pahit. "Aku bukan bendahara, Tuan. Mungkin beberapa koin perak."

Itu lebih buruk dari dugaanku. Dua minggu makanan. Satu orang tua terluka. Satu pedang. Dan musuh yang akan datang.

Tapi aku punya satu keunggulan yang tidak mereka miliki.

Pengetahuanku.

Aku bukan pendekar. Aku tidak bisa mengalahkan mereka dalam pertarungan satu lawan satu. Tapi aku insinyur. Aku tahu cara membuat sesuatu dari hampir tidak ada.

Di kehidupan sebelumnya, aku pernah ditugaskan ke proyek di daerah terpencil. Tidak ada listrik, tidak ada alat berat. Kami harus membangun jembatan dengan sumber daya minim. Di situlah aku belajar: kreativitas lebih penting daripada peralatan.

Sekarang, aku akan menggunakan pelajaran itu lagi.

"Hyun Moo."

"Iya, Tuan."

"Ceritakan padaku tentang Jin Hojun. Semua yang kau tahu. Kekuatannya, kelemahannya, berapa banyak anak buahnya, senjata apa yang mereka pakai. Dan yang paling penting..." aku menatap matanya serius. "...apa yang paling dia takuti?"

Pria tua itu mengangkat alis. "Tuan... kau baru sembuh. Kau butuh istirahat."

"Aku akan istirahat setelah tahu apa yang kita hadapi. Ceritakan."

Untuk beberapa detik, Hyun Moo menatapku dengan tatapan aneh. Seperti baru pertama kali melihatku. Mungkin dia heran, pemuda lemah yang biasa cengeng ini tiba-tiba berbicara seperti jenderal perang.

Tapi akhirnya dia mengangguk.

"Baik. Tapi biar kusingkat." Ia menarik napas. "Jin Hojun, 28 tahun. Level kultivasi? Mungkin tahap Puncak Lautan Qi. Bukan yang terkuat, tapi cukup berbahaya. Tapi kekuatan utamanya bukan di kultivasi. Dia licin. Pintar bersekutu. Saat ini, dia punya sekitar 30 pendekar yang setia. Sebagian besar level rendah sampai menengah. Tapi dia juga punya hubungan dengan Klan Gong—klan tetangga yang lebih besar. Mereka akan mendukungnya sebagai Patriark baru."

"Klan Gong. Mereka kuat?"

"Level berbeda. Klan Gong punya 500 pendekar, tiga di antaranya level Tinggi. Tapi mereka tidak akan campur tangan langsung. Ini masalah internal klan. Mereka hanya akan mengakui pemenang."

Aku mengangguk. Ini rumit. Tapi setidaknya tidak ada pasukan besar yang langsung menyerang. Belum.

"Apa yang paling dia takuti?"

Hyun Moo berpikir. "Dia takuti kegagalan. Dia takuti terlihat lemah di depan pengikutnya. Reputasinya dibangun di atas citra sebagai pemimpin yang pantas. Jika ada yang meruntuhkan citra itu..."

"Maka pengikutnya akan mulai ragu."

"Tepat."

Aku tersenyum tipis. Itu kelemahan yang bisa dieksploitasi.

Sekarang, bagaimana caranya?

Aku menatap langit-langit kayu yang lapuk. Mataku menyusuri setiap retakan, setiap balok penyangga. Di sudut ruangan, kulihat tungku kecil untuk menghangatkan ruangan. Di dekatnya, tumpukan arang.

Tiba-tiba, seperti lampu yang menyala, otak insinyurku bekerja.

Arang. Panas. Api.

Logam.

Klan ini—klan kecil yang terpuruk—pasti punya peralatan logam. Pedang, pisau, panci, apa pun. Dan di dunia ini, berdasarkan ingatan Jin Tae-Kyung, metalurgi mereka masih primitif. Mereka mengandalkan "Qi" untuk memperkuat senjata, bukan kualitas materialnya.

Tapi aku tahu cara membuat baja.

Bukan baja biasa. Baja berkualitas tinggi. Dengan proses yang benar, dengan kontrol suhu yang tepat.

Aku tahu cara membuat tungku yang lebih efisien.

Aku tahu cara membuat senjata yang tidak hanya mengandalkan Qi, tapi juga fisika dan material.

Perlahan, meskipun tubuhku lemah, senyum pertama muncul di bibirku.

"Hyun Moo."

"Iya, Tuan?"

"Kau bilang kita punya persediaan beras untuk dua minggu?"

"Benar."

"Bagus. Kita tidak akan kabur. Kita akan bertahan di sini. Tapi untuk bertahan, aku butuh kau melakukan sesuatu."

Pria tua itu menegakkan badan, meskipun raut wajahnya menunjukkan kebingungan.

"Apa yang Tuan perintahkan?"

"Aku butuh kau mencari tahu: di desa terdekat, apakah ada tukang besi? Atau setidaknya, peralatan bekas yang bisa kita beli? Palu, landasan, penjepit. Dan yang paling penting..." aku menatap matanya serius. "...batu bata tahan api. Atau tanah liat. Banyak."

Hyun Moo membelalak.

"Tuan... maaf, tapi untuk apa?"

Aku menatapnya, dan untuk pertama kalinya, kurasakan energi lama yang dulu selalu hadir saat memulai proyek baru. Semangat itu. Api itu.

"Kita akan membuat sesuatu," kataku pelan. "Sesuatu yang belum pernah dilihat dunia persilatan ini."

Aku melihat ke luar jendela kayu yang reyot. Matahari mulai terbenam, langit berubah jingga. Di kejauhan, kira-kira dua kilometer dari sini, mungkin markas Jin Hojun berada. Dia mungkin sedang merayakan kematianku.

Dia tidak tahu.

Dia tidak tahu bahwa yang dia bunuh bukan pemuda lemah Jin Tae-Kyung.

Yang dia hadapi sekarang adalah Kang Purnama. Insinyur yang terbiasa bekerja di bawah tekanan. Pria yang pernah membangun jembatan di tengah hujan badai. Pria yang tahu persis bagaimana membuat sesuatu dari ketiadaan.

Dan pria yang tidak akan pernah kalah lagi.

"Hyun Moo."

"Iya, Tuan."

"Ada satu hal lagi."

"Apa itu?"

Aku menatapnya, dan untuk pertama kalinya, nada bicaraku melunak.

"Terima kasih. Karena menyelamatkanku."

Pria tua itu terdiam. Untuk sesaat, kulihat matanya berkaca-kaca. Tapi cepat-cepat ia menunduk, menyembunyikan wajahnya.

"Aku hanya melakukan tugasku, Tuan."

"Tidak." Aku menggeleng. "Kau melakukan lebih dari tugasku. Kau mempertaruhkan nyawamu untuk putra majikanmu yang sudah mati. Itu... itu bukan sesuatu yang bisa kubayar dengan uang."

Hyun Moo tidak menjawab. Tapi bahunya sedikit bergetar.

Aku berbaring kembali. Tubuh ini masih sangat lemah. Tapi pikiranku sudah penuh dengan rencana.

Tungku. Baja. Senjata.

Dan mungkin... sesuatu yang lebih besar.

Aku tersenyum kecil menatap langit-langit.

Selamat datang di dunia baru, Purnama. Atau... Tae-Kyung.

Ayo kita tunjukkan pada mereka apa artinya melawan seorang insinyur.

---

[Bersambung ke Bab 2]

Bab 2: Rencana Seorang Insinyur

Malam pertama di dunia baru itu panjang.

Aku menghabiskan sebagian besar waktunya hanya untuk berbaring, memejamkan mata, tapi tidak tidur. Pikiranku bekerja seperti mesin yang baru dinyalakan setelah lama mati—berputar lambat pada awalnya, lalu semakin cepat, semakin panas, sampai akhirnya tak bisa dihentikan.

Evaluasi situasi.

Tubuh: lemah. Racun masih bersisa. Butuh waktu untuk pulih sepenuhnya. Berdasarkan getaran di tanganku, mungkin tiga sampai empat hari sebelum bisa melakukan aktivitas fisik ringan.

Sumber daya: satu orang tua setia dengan luka retak tulang rusuk. Satu rumah reyot. Makanan untuk dua minggu. Uang beberapa koin perak. Senjata satu pedang dan satu belati.

Musuh: tiga puluh pendekar dengan pemimpin licin yang punya koneksi ke klan besar.

Rasio kekuatan: 1:30. Dengan asumsi Hyun Moo bisa mengalahkan sepuluh orang sendirian (optimis, mengingat lukanya), maka aku harus mengalahkan dua puluh orang.

Aku hampir tertawa. Di dunia sebelumnya, rasio seperti ini berarti proyek gagal total. Tapi di sini? Di dunia di mana orang bisa terbang dan membelah batu dengan telanjang tangan? Mungkin lebih buruk.

Tapi aku punya keunggulan.

Mereka tidak tahu apa yang aku tahu.

---

Pagi datang dengan suara ayam berkokok di kejauhan. Cahaya matahari masuk melalui celah-celah dinding kayu yang tidak rapat. Aku membuka mata dan mendapati Hyun Moo sudah duduk di sudut ruangan, mengasah pedangnya. Gerakannya lambat, hati-hati. Wajahnya pucat.

"Kau tidak tidur?" tanyaku.

Hyun Moo menoleh. "Tuan juga."

"Aku tidak bisa tidur."

"Luka masih sakit?"

"Pikiranku lebih sakit daripada lukaku."

Pria tua itu tersenyum tipis. Entah mengerti, entah tidak. Tapi dia berdiri, berjalan ke dapur, dan kembali dengan semangkuk bubur hangat.

"Ini yang bisa kita buat. Hanya bubur. Tapi cukup untuk mengisi perut."

Aku duduk dengan susah payah. Tubuh ini terasa seperti besi tua yang berkarat. Setiap sendi berderit protes. Tapi aku berhasil mengambil mangkuk dan mulai makan.

Buburnya hambar. Hanya nasi yang dimasak dengan air. Tapi perutku yang kosong selama tiga hari menerimanya seperti makanan terbaik di dunia.

Sambil makan, aku bertanya, "Kau sudah berapa lama mengabdi pada klan kita?"

Hyun Moo duduk di seberangku. "Empat puluh tahun, Tuan. Sejak aku masih muda. Patriark—ayah Tuan—menyelamatkan hidupku dalam sebuah pertempuran. Sejak itu aku bersumpah setia."

"Dan kau tidak pernah menyesal?"

"Tidak pernah."

"Bahkan sekarang? Saat klan kita hancur, Patriark mati, dan satu-satunya pewaris adalah pemuda lemah seperti aku?"

Hyun Moo menatapku. Matanya tajam, tapi tidak ada penghinaan di sana. Hanya... keanehan.

"Tuan berbeda," katanya pelan.

"Berbeda?"

"Sebelum koma, Tuan adalah pemuda yang... maaf, Tuan... pemalu. Penurut. Tidak pernah bicara banyak. Tapi sekarang?" Ia menggeleng pelan. "Tuan bicara seperti orang yang sudah memimpin puluhan tahun. Ada sesuatu di mata Tuan. Sesuatu yang tidak kumengerti."

Aku diam sejenak. Harus hati-hati. Di dunia ini, reinkarnasi mungkin bukan hal yang aneh. Tapi lebih baik tidak menjelaskan terlalu banyak.

"Mungkin racun itu membunuh Jin Tae-Kyung yang lama," kataku akhirnya. "Yang tersisa hanya... ini."

Hyun Moo menatapku lama. Lalu dia mengangguk.

"Mungkin itu berkah tersembunyi, Tuan."

Aku tidak menjawab. Aku hanya melanjutkan makanku.

---

Setelah sarapan, aku memerintahkan Hyun Moo untuk memeriksa rumah ini secara detail. Setiap sudut, setiap ruangan, setiap benda yang mungkin berguna. Aku butuh inventarisasi lengkap.

Sementara dia pergi, aku berbaring lagi dan mencoba mengingat semua pengetahuan teknis yang pernah kudapatkan. Di kepala, aku mulai mendesain.

Pertama: tungku.

Tungku sederhana bisa dibuat dari tanah liat yang dicampur jerami. Tapi untuk mencapai suhu yang cukup untuk melelehkan besi, butuh lebih dari itu. Butuh refraktori. Butuh sistem aliran udara. Butuh bahan bakar berkualitas.

Arang bisa dibuat sendiri. Tapi butuh kayu. Banyak kayu.

Kedua: bahan baku.

Bijih besi? Tidak tahu di mana mendapatkannya. Tapi pasti ada. Dunia ini menggunakan logam untuk senjata, pasti ada tambang di suatu tempat. Tapi untuk sekarang, mungkin aku harus menggunakan barang bekas. Pedang rusak, peralatan dapur, apa pun yang mengandung besi.

Ketiga: senjata.

Apa yang bisa kubuat dengan sumber daya terbatas? Panah? Tidak efektif melawan pendekar level menengah. Mereka bisa menangkis panah dengan pedang.

Tapi bagaimana dengan panah dalam jumlah banyak? Puluhan, ratusan dalam waktu bersamaan?

Crossbow dengan mekanisme pengokang otomatis? Mungkin terlalu rumit untuk sekarang.

Atau...

Pikiranku berhenti pada satu ide. Ide gila. Tapi di dunia gila ini, mungkin itulah satu-satunya cara.

Aku tersenyum sendiri.

---

Hyun Moo kembali satu jam kemudian dengan laporan.

"Rumah ini punya tiga ruangan, Tuan. Ruang utama ini, dapur di belakang, dan satu kamar kecil. Di dapur ada peralatan masak: panci besi, wajan, pisau dapur. Di gudang kecil di belakang, ada peralatan pertanian: cangkul, sabit, sekop. Semua dari besi."

"Bagus," kataku. "Itu bahan baku kita."

"Bahan baku? Untuk apa?"

"Aku akan menjelaskan nanti. Ada lagi?"

Hyun Moo mengangguk. "Di belakang rumah, ada tumpukan kayu bakar. Cukup banyak. Mungkin untuk persediaan musim dingin. Dan di samping rumah, ada sumur. Airnya jernih."

"Tanah liat?"

"Di sungai kecil sekitar setengah li dari sini, ada tanah liat. Penduduk desa biasa mengambilnya untuk membuat periuk."

Aku mengangguk puas. Sumber daya yang cukup untuk memulai.

"Hyun Moo, aku butuh kau melakukan beberapa hal."

"Silakan perintah, Tuan."

"Pertama, pergi ke desa. Cari tukang besi. Beli semua peralatan bekas yang bisa kau dapatkan. Palu, landasan, penjepit. Jika tukang besi punya pipa besi, beli juga. Berapa pun harganya."

"Tapi Tuan, uang kita hanya..."

"Gunakan semua. Kita tidak butuh uang untuk hal lain. Makanan masih cukup untuk dua minggu."

Hyun Moo mengangguk, meskipun raut wajahnya menunjukkan kebingungan.

"Kedua, setelah itu, pergi ke sungai. Ambil tanah liat sebanyak yang bisa kau bawa. Simpan di halaman belakang."

"Tanah liat, Tuan?"

"Kau akan lihat nanti. Ketiga..." aku menatapnya serius. "Jangan bicara pada siapa pun tentang apa yang kita lakukan. Jika ada yang bertanya, katakan aku masih sakit parah dan kau sedang mencari ramuan. Jangan sebut tungku, jangan sebut besi, jangan sebut apa pun."

Hyun Moo menatapku dengan campuran rasa hormat dan kebingungan.

"Tuan... boleh aku bertanya?"

"Tentu."

"Sebenarnya... apa yang Tuan rencanakan?"

Aku diam sejenak. Lalu aku menatapnya lurus.

"Hyun Moo, kau percaya pada Qi? Pada kekuatan internal? Pada kultivasi?"

"Tentu. Itu dasar dari dunia persilatan."

"Kau tahu apa yang aku lihat ketika melihat pendekar mengeluarkan Qi?" Aku tidak menunggu jawabannya. "Aku melihat energi. Energi yang bisa diukur, diprediksi, dan... dimanfaatkan."

Hyun Moo mengerutkan kening.

"Tapi sebelum aku bisa memanfaatkan Qi, aku butuh sesuatu yang lebih dasar. Sesuatu yang tidak bergantung pada bakat atau darah biru."

"Apa itu, Tuan?"

"Baja."

Aku tersenyum melihat ekspresinya yang makin bingung.

"Dengar, Hyun Moo. Di dunia ini, kekuatan seorang pendekar tergantung pada level kultivasinya. Semakin tinggi level, semakin kuat Qi-nya, semakin kuat serangannya. Tapi ada satu hal yang selalu sama: senjata mereka."

"Senjata?"

"Pedang terbaik pun, jika terbuat dari besi biasa, akan patah jika bertemu dengan pedang dari baja berkualitas. Dan jika pedang itu patah di tengah pertempuran? Pendekar level tinggi pun bisa kalah oleh pendekar level rendah yang senjatanya utuh."

Pemahaman mulai muncul di mata Hyun Moo.

"Tuan... kau bisa membuat baja?"

"Aku bisa."

"Baja sejati? Bukan besi biasa?"

"Aku bisa membuat baja yang lebih keras, lebih tajam, lebih ringan dari apa pun yang ada di klan kita. Bahkan mungkin lebih baik dari pedang Klan Gong."

Hyun Moo terdiam. Matanya membelalak.

"Tapi... tapi itu... Tuan, jika itu benar, maka..."

"Maka kita tidak perlu mengalahkan tiga puluh pendekar. Kita hanya perlu membuat mereka ragu. Ketika senjata mereka patah oleh senjata kita, ketika baju besi mereka tidak bisa menahan tebasan kita, ketika mereka melihat bahwa Hojun membawa mereka ke pertempuran yang tidak bisa mereka menangkan... maka loyalitas mereka akan goyah."

Aku berhenti sejenak.

"Dan ketika loyalitas goyah, Hojun akan kehilangan kekuatannya."

Hyun Moo menatapku lama. Sangat lama. Lalu tiba-tiba, dia berlutut. Satu lutut menyentuh lantai. Kepalanya menunduk dalam-dalam.

"Tuan," suaranya bergetar. "Aku sudah mengabdi pada klan ini selama empat puluh tahun. Aku melihat Patriark bertarung dan mati dengan hormat. Aku melihat kakak Tuan gugur sebagai pahlawan. Tapi aku... aku tidak pernah melihat harapan seperti ini."

Dia mengangkat kepalanya. Matanya basah.

"Jika Tuan benar-benar bisa melakukan apa yang Tuan katakan... maka mungkin klan ini tidak akan mati. Mungkin kita bisa bangkit kembali."

Aku tidak tahu harus berkata apa. Di kehidupan sebelumnya, tidak ada yang pernah berlutut padaku. Aku hanya insinyur. Pekerja. Budak korporat.

Tapi di sini? Di sini aku adalah pemimpin. Harapan terakhir.

"Berdiri, Hyun Moo," kataku pelan. "Kita belum menang. Kita baru mulai. Dan untuk mulai, aku butuh kau melakukan apa yang kuperintahkan. Bisa?"

Hyun Moo mengangguk tegas. "Bisa, Tuan. Aku akan berangkat sekarang."

"Tunggu."

Aku meraih tangannya. Dia terkejut, tapi tidak menarik diri.

"Kau terluka. Jangan memaksakan diri. Jika situasi berbahaya, mundur. Aku lebih butuh kau hidup daripada membawa peralatan. Paham?"

Untuk sesaat, Hyun Moo terdiam. Lalu senyum tipis muncul di wajah tuanya.

"Tuan... kau berbeda. Sangat berbeda."

"Aku sudah bilang. Racun itu membunuh yang lama."

Dia tertawa kecil. "Mungkin racun itu adalah berkah, Tuan. Mungkin itu adalah takdir."

Dia pergi setelah mengucapkan salam. Aku mendengar langkah kakinya menjauh, lalu suara pintu kayu dibuka dan ditutup.

Aku sendirian.

Perlahan, dengan susah payah, aku bangkit dari tempat tidur. Tubuh ini masih lemah, tapi aku harus mulai bergerak. Tidak ada waktu untuk bermalas-malasan.

Aku berjalan ke dapur, berpegangan pada dinding setiap beberapa langkah. Di dapur, aku menemukan panci-panci besi, wajan tua, dan beberapa pisau. Aku mengambil salah satu pisau dan menimbangnya di tangan.

Besi biasa. Kualitas rendah. Mungkin mengandung terlalu banyak karbon. Getas.

Aku membaliknya, melihat permukaannya yang sudah berkarat di beberapa tempat.

"Dengan bahan baku seperti ini, kau mau membuat baja?" gumamku sendiri. "Kau benar-benar gila, Purnama."

Tapi orang gila adalah orang yang melakukan hal yang sama berulang-ulang dan mengharapkan hasil berbeda. Aku tidak akan melakukan itu. Aku akan melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan orang di dunia ini.

Aku berjalan ke halaman belakang. Di sana, sesuai laporan Hyun Moo, ada tumpukan kayu bakar. Kayu kering, bagus untuk membuat arang.

Di samping tumpukan kayu, ada area kosong dengan tanah yang rata. Di sinilah tungku pertama akan kubangun.

Aku membayangkannya di kepala. Bentuk silinder, diameter sekitar satu meter, tinggi satu setengah meter. Lubang udara di bagian bawah. Cerobong di bagian atas. Pintu kecil untuk memasukkan bahan bakar dan mengeluarkan terak.

Tanah liat sebagai bahan dasar. Jerami untuk memperkuat struktur. Arang sebagai bahan bakar. Dan sistem aliran udara yang efisien untuk mencapai suhu yang cukup tinggi.

Mungkin butuh beberapa kali percobaan. Mungkin akan gagal berkali-kali. Tapi aku punya waktu. Dua minggu. Mungkin kurang.

Angin sepoi-sepoi berhembus. Aku menatap langit yang cerah. Di kejauhan, kulihat kepulan asap tipis. Mungkin desa. Mungkin markas Jin Hojun.

Mereka tidak tahu.

Mereka tidak tahu bahwa di gubuk reyot ini, seorang pria yang seharusnya sudah mati sedang merencanakan kebangkitan.

Aku tersenyum. Untuk pertama kalinya sejak mati di jembatan Kalimantan, aku merasa hidup.

---

Hyun Moo kembali menjelang sore. Wajahnya kelelahan, tapi matanya bersinar.

"Aku berhasil, Tuan."

Dia meletakkan karung besar di lantai. Aku membukanya. Di dalamnya ada palu besi, landasan kecil (tapi berat), penjepit, dan beberapa batang pipa besi tipis. Juga ada kikir dan gergaji besi.

"Ini semua dari tukang besi di desa. Harganya... habis semua uang kita."

"Tidak apa-apa." Aku memeriksa peralatannya. Kualitas biasa, tapi masih layak pakai. "Tanah liat?"

"Di halaman belakang. Aku ambil dua karung. Cukup?"

"Cukup untuk memulai."

Hyun Moo menghela napas lega. Lalu dia mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Selembar kertas kumal.

"Ini juga, Tuan. Aku menemukannya di desa. Seorang pengembara menjualnya."

Aku membuka kertas itu. Itu adalah peta sederhana. Peta wilayah klan Jin dan sekitarnya. Markas klan, desa-desa, sungai, hutan. Dan yang paling penting... lokasi tambang besi kecil yang sudah ditinggalkan.

"Aku ingat tempat ini," kata Hyun Moo. "Dulu, puluhan tahun lalu, klan kita punya tambang kecil. Tapi kualitas bijihnya rendah, biaya operasional tinggi. Akhirnya ditutup."

Bijih besi.

Itu lebih berharga daripada emas sekarang.

"Kau bisa ke sana?"

Hyun Moo mengerutkan kening. "Bisa. Tapi butuh waktu setengah hari perjalanan. Dan medannya berat. Dengan luka ini..."

"Tidak sekarang." Aku menggeleng. "Prioritas kita sekarang tungku. Setelah tungku jadi dan aku bisa bergerak lebih baik, kita pikirkan tambang itu."

Aku menatap peta itu lama. Garis-garis sederhana itu, di mataku, bukan hanya peta. Itu adalah papan catur. Dan bidak-bidak mulai bergerak.

"Hyun Moo."

"Iya, Tuan."

"Besok kita mulai membangun. Kau akan jadi tenaga kerjaku. Siap?"

Pria tua itu tersenyum. Senyum pertama yang benar-benar tulus sejak aku bertemu dengannya.

"Siap, Tuan. Untuk pertama kalinya dalam dua minggu... aku merasa punya alasan untuk bangun pagi."

Aku menepuk bahunya. Hati-hati, agar tidak melukainya.

"Istirahat sekarang. Besok kita kerja keras."

Dia mengangguk dan pergi ke sudut ruangan, duduk bersila, memejamkan mata. Mungkin meditasi. Mungkin tidur. Aku tidak tahu.

Aku kembali ke tempat tidurku. Tubuh ini masih lemah, tapi besok akan lebih baik. Lusa akan lebih baik lagi.

Perlahan, mataku terpejam.

Dan untuk pertama kalinya sejak terbangun di dunia ini, aku tidur tanpa mimpi buruk.

---

[Bersambung ke Bab 3]

Bab 3: Percikan Pertama

Tiga hari berlalu seperti angin.

Tiga hari di mana tubuhku berjuang melawan sisa racun, dan pikiranku berjuang melawan keterbatasan dunia ini. Tiga hari di mana Hyun Moo menjadi tangan, kaki, dan punggungku—meskipun tulang rusuknya masih retak dan setiap gerakan membuatnya meringis kesakitan.

Tapi pagi ini, untuk pertama kalinya, aku bangun dengan perasaan berbeda.

Tanganku tidak lagi gemetar.

Aku duduk di tepi tempat tidur, mengepalkan telapak tangan, merasakan otot-otot yang mulai responsif. Masih lemah. Masih jauh dari kondisi ideal. Tapi cukup untuk mulai bekerja.

"Tuan sudah bangun?"

Hyun Moo masuk dengan semangkuk bubur. Wajahnya terlihat lebih segar daripada kemarin. Mungkin karena ada harapan. Atau mungkin karena lukanya mulai sembuh.

"Aku mau kerja hari ini."

"Tuan yakin? Tubuh Tuan masih..."

"Aku yakin." Aku mengambil mangkuk itu dan menghabiskan buburnya dalam beberapa suapan. "Kalau hanya duduk dan menunggu, aku akan gila. Lebih baik sakit karena bekerja daripada sakit karena tidak melakukan apa-apa."

Hyun Moo tersenyum. Sepertinya dia mulai mengerti cara berpikirku.

"Baik, Tuan. Apa yang harus kulakukan?"

Aku berdiri. Untuk beberapa detik, dunia terasa berputar. Tapi aku bertahan, berpegangan pada dinding kayu.

"Pertama, kita buat arang."

---

Pembuatan arang ternyata lebih sulit dari dugaanku.

Bukan secara teknis—aku tahu teorinya. Tapi secara fisik. Dengan tubuh yang baru pulih dari racun, mengangkut kayu dan menggali lubang adalah siksaan tersendiri.

Kami bekerja di halaman belakang. Hyun Moo menggali lubang bundar sedalam satu meter, sementara aku duduk di dekatnya, mengarahkan, menjelaskan, kadang-kadang ikut memindahkan kayu meskipun Hyun Moo selalu protes.

"Tuan, biar aku saja. Tuan belum sembuh."

"Aku butuh gerak. Diam terlalu lama malah bikin lemah."

Itu bohong. Sebenarnya aku hanya tidak tahan melihat orang tua itu bekerja sendirian. Di kehidupan sebelumnya, aku adalah pekerja. Aku tahu rasanya bekerja ketika tubuh sakit. Dan aku tidak tega membiarkan orang lain mengalaminya sendirian.

Setelah lubang selesai, kami menumpuk kayu di dalamnya. Kayu kering yang sudah dipotong kecil-kecil. Lalu menutupnya dengan daun pisang basah dan tanah, menyisakan lubang kecil untuk udara.

"Kita bakar perlahan," jelasku. "Api kecil, tanpa oksigen cukup. Kayunya akan hangus tapi tidak jadi abu. Itu arang."

Hyun Moo mengangguk-angguk. "Tuan tahu banyak tentang ini. Dari mana Tuan belajar?"

Aku diam sejenak. Lalu menjawab sejujurnya, meskipun tidak sepenuhnya jujur. "Aku banyak membaca. Dan... mengamati."

Untungnya Hyun Moo tidak bertanya lebih lanjut. Mungkin dia sudah memutuskan untuk tidak mempertanyakan perubahan drastis pada diriku.

Sore harinya, saat matahari mulai condong ke barat, kami membuka lubang itu. Arang pertama kami—hitam, ringan, dan saat dibakar menyala tanpa asap tebal.

"Ini..." Hyun Moo menatap arang itu dengan takjub. "Ini lebih baik dari arang biasa."

"Karena kita membuatnya dengan cara yang benar. Tanpa banyak oksigen, karbonnya murni. Panasnya lebih tinggi."

Tapi aku tahu ini baru permulaan. Arang berkualitas tinggi itu penting, tapi tanpa tungku yang tepat, semua ini sia-sia.

---

Hari keempat dan kelima habis untuk membuat batu bata dari tanah liat.

Kami mencetak tanah liat yang sudah dicampur jerami menjadi balok-balok persegi, lalu menjemurnya di bawah matahari. Hyun Moo awalnya skeptis.

"Tanah liat ini... kalau kering, dia rapuh, Tuan. Gampang hancur."

"Karena itu kita bakar nanti. Tanah liat yang dibakar dengan suhu tinggi akan berubah jadi keramik. Keras. Tahan panas."

Dan benar saja. Setelah tiga hari penjemuran, kami membakar batu bata itu dalam tumpukan kayu besar. Api berkobar semalaman. Dan paginya, ketika abu dingin, kami menemukan batu bata merah-oranye yang keras.

Hyun Moo mengambil satu, mengetuknya dengan buku jari. Suaranya nyaring.

"Luar biasa, Tuan. Ini... ini seperti batu bata untuk istana."

"Aku tidak butuh istana. Aku butuh tungku."

---

Hari ketujuh.

Tungku pertama mulai berdiri.

Aku sudah mendesainnya berkali-kali di kepala. Bentuk silinder, diameter satu meter, tinggi satu setengah meter. Dinding ganda dengan rongga di antaranya untuk isolasi. Lubang udara di bagian bawah yang bisa ditutup sebagian untuk mengatur aliran oksigen. Cerobong di atas. Pintu kecil di sisi untuk memasukkan bahan bakar dan mengeluarkan terak.

Membangunnya dengan batu bata tanah liat dan perekat dari campuran tanah liat cair lebih sulit dari yang kubayangkan. Apalagi dengan tenaga utama Hyun Moo yang tangannya terbiasa memegang pedang, bukan membawa batu bata.

Tapi akhirnya, setelah dua hari penuh keringat, umpatan, dan beberapa kali hampir roboh, tungku itu selesai.

Berdiri di halaman belakang rumah reyot, tungku itu terlihat... aneh. Terlalu modern untuk dunia ini. Seperti pesawat luar angkasa yang mendarat di desa terpencil.

Hyun Moo menatapnya dengan campuran takjub dan bingung.

"Tuan... ini benar-benar bisa melelehkan besi?"

"Bisa. Tapi kita harus uji dulu."

Kami menyalakan api pertama hari itu juga. Arang berkualitas tinggi kami masukkan melalui pintu atas. Hyun Moo memutar alat penghembus sederhana yang kubuat dari kulit kayu dan bambu—nenek moyang blower, tapi cukup efektif untuk memaksa udara masuk melalui lubang bawah.

Api berkobar. Panas mulai terasa.

Dan untuk pertama kalinya dalam seminggu, aku tersenyum lebar.

---

Malam harinya, saat api sudah padam dan tungku mendingin, Hyun Moo bertanya.

"Tuan, aku mengerti kita bisa melelehkan besi. Tapi... apa yang akan kita buat? Pedang? Kita hanya berdua. Bahkan jika kita punya seratus pedang, kita tidak punya seratus pendekar."

Aku duduk di beranda kayu, menatap langit malam yang penuh bintang. Udara dingin mulai turun.

"Kau benar," kataku. "Pedang saja tidak cukup. Tapi kau tahu apa yang bisa mengalahkan banyak musuh?"

"Apa?"

"Ketakutan."

Hyun Moo mengerutkan kening.

"Coba pikir," lanjutku. "Hojun punya tiga puluh pendekar. Mereka setia padanya karena mereka percaya dia akan menang. Mereka percaya karena mereka pikir kita lemah. Tapi bagaimana kalau tiba-tiba mereka melihat sesuatu yang tidak bisa mereka jelaskan? Sesuatu yang tidak bisa dihadapi dengan pedang?"

"Apa maksud Tuan?"

Aku menatapnya. "Kau pernah lihat petasan? Mercon?"

"Pernah. Biasanya untuk perayaan."

"Bayangkan petasan yang seratus kali lebih besar. Yang tidak hanya mengeluarkan suara, tapi juga menghancurkan apa pun di depannya."

Hyun Moo terdiam. Lalu matanya membelalak.

"Tuan... jangan bilang Tuan bisa..."

"Aku tidak yakin. Tapi aku bisa mencoba."

---

Hari kedelapan, kami mulai mengumpulkan bahan untuk "proyek rahasia" itu.

Belerang. Aku tahu ada di sekitar sini? Hyun Moo bilang ada sumber air panas di pegunungan timur, dan kadang-kadang ada batu kuning di sekitarnya. Belerang.

Arang. Kami sudah punya banyak.

Sendawa. Ini yang paling sulit. Tapi aku ingat—dari ingatan Jin Tae-Kyung yang lama—bahwa para tabib kadang menggunakan batu tertentu untuk obat. Batu yang rasanya dingin di lidah. Kalium nitrat. Sendawa.

"Kita butuh itu," kataku. "Cari di tabib desa. Beli kalau perlu. Tapi jangan bilang untuk apa."

Hyun Moo mengangguk. Dia sudah berhenti bertanya. Mungkin dia pikir aku gila. Tapi dia tetap melakukannya.

---

Sementara Hyun Moo pergi, aku mulai mengumpulkan panci-panci besi dan peralatan dapur yang tidak terpakai. Aku memotong-motongnya dengan pahat dan palu—susah payah, karena tanganku masih lemah—menjadi potongan kecil.

Besok, potongan ini akan kumasukkan ke tungku.

Besok, kita lihat apakah teoriku bekerja.

---

Hyun Moo kembali menjelang malam. Wajahnya tegang.

"Tuan, ada masalah."

Aku menegang. "Hojun?"

"Bukan. Atau... mungkin terkait." Dia menghela napas. "Di desa, ada kabar. Hojun akan mengadakan upacara besar tiga hari lagi. Pengangkatannya sebagai Patriark sementara. Dia akan mengumumkannya di depan semua tetua dan perwakilan klan tetangga."

Hatiku berdetak kencang.

"Tiga hari?"

"Iya. Setelah itu, secara resmi dia akan memegang kendali penuh atas klan. Semua sumber daya, semua pendekar yang masih netral, akan berada di bawahnya."

Aku diam, mencerna informasi ini.

Tiga hari.

Dengan tungku yang baru selesai, dengan bahan baku seadanya, dengan tubuh yang baru setengah pulih, aku harus melakukan sesuatu dalam tiga hari.

Tapi justru itulah yang membuat darahku mendidih.

Tekanan. Deadline. Itu sudah jadi makanan sehari-hari di kehidupan sebelumnya. Aku terbiasa bekerja di bawah tekanan. Aku justru lebih produktif saat dikejar waktu.

"Hyun Moo."

"Iya, Tuan."

"Kau bilang upacara itu tiga hari lagi. Di mana?"

"Di markas utama klan. Aula Leluhur."

"Berapa banyak orang?"

"Semua pendekar klan. Mungkin lima puluh orang, termasuk yang netral. Plus beberapa tamu dari klan tetangga."

Aku tersenyum tipis. Bukan senyum bahagia. Senyum predator.

"Lima puluh orang. Bagus. Semakin banyak, semakin baik."

"Tuan... apa yang Tuan rencanakan?"

Aku menatapnya. "Kau percaya padaku?"

"Sepenuhnya."

"Bahkan jika aku bilang kita akan menghancurkan upacara itu sendirian? Kau dan aku?"

Hyun Moo terdiam sejenak. Lalu dia tertawa. Tawa parau seorang pendekar tua yang sudah melihat banyak pertempuran.

"Tuan, empat puluh tahun lalu, aku bertarung melawan seratus musuh sendirian. Dan menang. Jadi ya, aku percaya. Tapi..." dia menatapku, "Tuan bukan pendekar. Tuan lemah. Bagaimana Tuan bisa bertarung?"

Aku berdiri, berjalan ke arah tungku yang masih hangat. Di sampingnya, ada karung berisi bubuk hitam yang baru saja kurakit—campuran arang halus, belerang, dan sendawa dengan perbandingan 15:3:2.

Bubuk mesiu.

Mesiu primitif, belum sempurna, tapi cukup untuk membuat suara dan cahaya. Cukup untuk membuat kaget. Cukup untuk menciptakan kekacauan.

"Aku tidak akan bertarung dengan pedang," kataku pelan. "Aku akan bertarung dengan ini."

Kulihat Hyun Moo menatap karung itu dengan rasa ingin tahu.

"Apa itu, Tuan?"

"Aku belum punya nama untuknya. Tapi percayalah... tiga hari lagi, Jin Hojun akan merasakan sesuatu yang belum pernah dia rasakan sebelumnya."

Aku mengepal tanganku. Untuk pertama kalinya dalam seminggu, tanganku tidak gemetar.

"Kita akan membuat kejutan untuk pesta pengangkatannya, Hyun Moo."

Pria tua itu tersenyum lebar.

"Aku tidak sabar melihat wajahnya, Tuan."

---

Malam itu, untuk pertama kalinya, aku tidur dengan senyuman di wajah.

Di luar, angin malam berhembus membawa aroma tungku dan asap. Di kejauhan, di markas klan, lampu-lampu masih menyala. Mereka mungkin sedang bersiap untuk pesta.

Mereka tidak tahu.

Mereka tidak tahu bahwa di gubuk reyot ini, seorang pria yang seharusnya sudah mati sedang mempersiapkan kejutan.

Percikan pertama telah menyala.

Dan api itu akan segera berkobar.

---

[Bersambung ke Bab 4]

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!