Angin pagi berhembus lembut melewati puncak Gunung Hwa, membawa serta aroma dedaunan basah dan tanah yang baru saja diguyur hujan semalam. Di atas gunung itulah berdiri megah perkumpulan persilatan terkemuka di wilayah barat Murim, Klan Pedang Kang. Puluhan bangunan beratap lengkung berjejer rapi, dengan paviliun latihan terluas di bagian tengah, tempat para murid muda biasa mengasah teknik pedang mereka sejak matahari terbit.
Namun, di sudut paling belakang kompleks Klan Kang, di luar tembok batu yang tinggi dan kokoh, ada satu bangunan reyot yang hampir roboh. Atapnya bocor di tiga tempat, dinding kayunya lapuk dimakan usia, dan halaman depannya hanya tanah kering yang ditumbuhi ilalang liar. Itulah gudang penyimpanan peralatan usang. Dan di halaman gudang itulah, seorang pemuda kurus berkaus lusuh sedang menyapu dedaunan kering dengan gerakan lambat dan tanpa semangat.
Kang Ha-neul.
Dulu, nama itu disebut dengan nada kagum dan iri. Tiga tahun lalu, saat usianya baru lima belas tahun, ia berhasil mencapai level 3 Bintang Roh Pedang—rekor termuda dalam sejarah Klan Pedang Kang. Para tetua meramalkan ia akan menjadi penerus klan berikutnya. Ayahnya, Kang Jin-ho, yang waktu itu menjabat sebagai pemimpin klan, menepuk pundaknya dengan bangga. Ibunya tersenyum haru di samping adik perempuannya, Soo-ah, yang masih berusia tiga belas tahun dan bertepuk tangan riang.
Itu dulu.
Sekarang, Kang Ha-neul hanyalah kenangan. Yang tersisa hanyalah "sampah", "kegagalan", "aib klan"—sebutan-sebutan yang setiap hari ia dengar dari mulut orang-orang yang dulu membungkuk hormat padanya.
Swishh...
Sapunya bergerak pelan, mengumpulkan dedaunan kering ke satu tumpukan. Debu-debu beterbangan, membuatnya terbatuk kecil. Ia berhenti sejenak, mengusap keringat di dahi dengan lengan bajunya yang sudah kusam.
"HAHAHAHA! Lihat tuh si sampah, udah pagi-pagi udah keringatan aja!"
Tawa cemooh terdengar dari arah gerbang belakang. Tiga orang pemuda berpakaian latihan serba abu-abu melangkah masuk ke area gudang. Yang paling depan, dengan dada membusung dan senyum sinis, adalah Kang Dae-ho. Sepupu Ha-neul sendiri, putra dari paman Ha-neul yang kini menjabat sebagai pemimpin klan sementara.
Dae-ho kini berusia sembilan belas tahun, dengan postur tegap dan wajah yang selalu penuh kesombongan. Ia baru saja mencapai level 2 Bintang Roh Pedang—masih di bawah rekor Ha-neul dulu, tapi ia adalah yang terkuat di antara murid generasi muda saat ini. Di belakangnya, dua orang pengikut setianya, Kang Sung-min dan Kang Jae-won, ikut tertawa seperti anjing yang setuju dengan tuannya.
Ha-neul tidak menjawab. Ia menunduk dan kembali menyapu.
"Woi, sampah! Gw ngomong sama lo, dengerin dong!" Dae-ho melangkah mendekat. Dengan sengaja, ia menginjak sapu Ha-neul hingga patah. Krak!
Ha-neul mengangkat wajah. Matanya sayu, tanpa ekspresi. "...Ada perlu apa ke mari?"
"Wah, berani juga nanya? Lo pikir lo siapa, hah? Berdiri di sini aja udah bikin malu klan. Masih aja sombong kayak dulu." Dae-ho menyeringai lebar. "Gua baru dengar kabar gembira, nih. Bentar lagi Paman (panggilan untuk ayah Dae-ho) bakal ngumumin secara resmi kalau lo dicoret dari daftar penerus. Udah pas, lah. Sampah kayak lo emang ga pantes jadi penerus."
Sung-min menimpali, "Iya, daripada jadi aib, mending jadi kuli aja terus. Lumayan, gudangnya jadi bersih."
Mereka tertawa lagi.
Tangan Ha-neul mengepal di samping tubuh. Dalam hati, api kecil menyala. Tiga tahun ia menahan semuanya. Tiga tahun ia menerima hinaan, tendangan, ludahan, tanpa pernah sekali pun membalas. Tapi setiap kali, api itu terus membara, meski ia berusaha mati-matian untuk memadamkannya.
"Kenapa diem? Sakit hati, ya?" Dae-ho mencondongkan tubuh, wajahnya hanya beberapa senti dari wajah Ha-neul. "Lo mau ngelawan? Ayolah, gebuk gua. Buktikan kalau lo masih layak disebut murid Klan Pedang Kang. Tapi lo bisa? Sekarang tenaga lo aja udah kayak cacing, mana bisa lawan gua?"
Ha-neul menarik napas panjang. Perlahan, ia melepaskan kepalan tangannya.
"...Urusanku dengan klan bukan urusanmu. Aku hanya menyapu halaman ini karena diperintahkan. Jika urusanmu sudah selesai, pergilah."
Dae-ho mengerjap. Ia tidak menyangka akan mendapat respons sedatar itu. Biasanya, ia ingin melihat raut sakit, marah, atau bahkan tangis dari Ha-neul. Tapi pemuda kurus di depannya ini seperti tembok batu. Tidak ada ekspresi apa pun.
"Tch." Dae-ho meludah ke samping. "Dasar pecundang. Ayo, kita pergi. Ngomong sama sampah ga ada gunanya."
Ketiganya berbalik. Sebelum pergi, Dae-ho berhenti dan menoleh.
"Oh iya, nanti sore ada rapat keluarga. Lo juga harus datang. Panggilan resmi dari ayah gua. Jangan telat, ya. Ga enak kalau sampai diusir paksa."
Tawa mereka kembali terdengar, lalu lenyap di balik gerbang.
Ha-neul berdiri diam. Angin kembali berembus, menerpa wajahnya yang pucat. Ia memandangi sapu yang patah di tanah. Perlahan, ia membungkuk dan mengambilnya.
Di balik pintu gudang yang reyot, terdengar suara langkah kecil. Seorang gadis muda berusia enam belas tahun keluar, berlari kecil mendekati Ha-neul. Wajahnya bulat dengan mata yang selalu bersinar hangat. Ia mengenakan baju sederhana tambalan, sama lusuhnya dengan pakaian kakaknya.
"Kang Oppa!" panggilnya. Suaranya cemas. "Aku dengar suara Dae-ho tadi. Ia apa-apain kamu lagi?"
Ha-neul menoleh, dan untuk pertama kalinya pagi itu, sudut bibirnya terangkat sedikit. Senyum kecil yang hangat.
"Tidak apa, Soo-ah. Hanya bicara biasa."
Soo-ah—adik satu-satunya—mengerutkan kening. "Bohong. Aku tahu suara Dae-ho kalau lagi ngejek. Ia selalu kasar sama Oppa."
"Sudah biasa." Ha-neul mengangkat potongan sapu. "Lihat, sapunya patah. Nanti kita perbaiki."
Soo-ah memajukan bibirnya, kesal, tapi kemudian menghela napas pasrah. Ia tahu kakaknya tidak akan pernah mengeluh. Dari saku bajunya, ia mengeluarkan bungkusan kain kecil.
"Ini." Ia menyodorkannya. "Aku ambil jatah sarapanku tadi pagi. Lumayan, masih ada nasi dan sedikit sayur."
Ha-neul menatap bungkusan itu, lalu menatap adiknya. "Soo-ah, kamu harus makan cukup. Kamu masih tumbuh."
"Oppa lebih butuh. Aku udah kenyang, kok." Soo-ah tersenyum lebar, tapi matanya berkata lain.
Ha-neul diam sejenak. Dadanya terasa sesak. Ia adalah kakak, seharusnya ia yang memberi makan adiknya. Tapi lihat sekarang. Justru Soo-ah yang selalu menyisihkan jatahnya untuknya. Rasa bersalah menggerogoti hatinya setiap kali ini terjadi.
"Simpan saja," katanya akhirnya. "Nanti kita makan bareng saat siang."
Soo-ah menggeleng. "Oppa harus makan sekarang. Nanti kalau siang, Dae-ho bisa datang lagi dan ganggu. Aku ga mau Oppa latihan dalam keadaan lapar."
"Latihan?"
"Ya, Oppa kan pasti latihan lagi di balik gudang, 'kan? Meski Oppa pikir aku ga tau, aku tau kok." Soo-ah menyeringai. "Setiap malam, Oppa selalu keluar dengan pedang kayu dan baru balik pas subuh."
Ha-neul tertegun. Ia tidak menyangka adiknya memperhatikan.
"Jangan khawatir." Soo-ah meletakkan bungkusan itu di telapak tangan Ha-neul. "Aku ga akan bilang siapa-siapa. Tapi Oppa harus janji, jangan terlalu keras sama diri sendiri. Oppa tetap Oppa-ku yang paling hebat, meski semua orang bilang sebaliknya."
Ha-neul menatap adiknya lama. Matanya terasa perih, tapi ia menahannya. Ia tidak boleh menangis. Bukan di depan Soo-ah.
"...Makasih, Soo-ah."
Soo-ah mengangguk senang. Ia lalu berjingkat, menepuk pundak kakaknya. "Aku ke dapur dulu, bantu-bantu Nyonya Min. Nanti kalau ada sisa, aku ambil buat Oppa. Sampai nanti!"
Ia berlari kecil meninggalkan halaman belakang.
Ha-neul menatap kepergian adiknya hingga sosoknya hilang di balik gerbang. Lalu ia menunduk, membuka bungkusan kain itu. Nasi putih dengan sedikit sayur hijau. Sederhana, tapi baginya itu adalah harta karun.
"Kau harus bertahan, Ha-neul," bisiknya pada diri sendiri. "Bukan untuk klan. Bukan untuk harga diri. Tapi untuk Soo-ah. Untuk satu-satunya keluarga yang tersisa."
Ia duduk di undakan kayu gudang yang reyot, mulai menyuap nasi itu perlahan. Semburat mentari pagi mulai meninggi, menembus celah-celah atap yang bocor. Di kejauhan, terdengar suara gemuruh para murid yang memulai latihan pagi. Suara pedang beradu, teriakan semangat, dan tepuk tangan riuh.
Dunia di luar sana berputar. Dunia di mana ia dulu menjadi pusat perhatian.
Dan di sudut gudang ini, Kang Ha-neul, sampah Klan Pedang Kang, hanya bisa mengunyah nasi dingin sambil menatap langit.
Ia tidak tahu bahwa di dalam saku celananya, sebuah cincin giok hitam peninggalan ayahnya—yang selalu ia bawa ke mana-mana sebagai jimat—bergetar samar. Sangat samar. Hampir tak terasa.
Seperti ada sesuatu yang mulai terjaga dari tidur panjang.
Matahari mulai condong ke barat ketika Ha-neul berjalan melewati koridor batu yang menghubungkan area belakang dengan kompleks utama Klan Pedang Kang. Sepatu jerami usangnya menapak pelan di atas batu andesit yang terawat rapi—kontras dengan penampilannya yang lusuh. Dua orang murid lewat di sampingnya, mendengus dan mempercepat langkah seolah tak ingin berlama-lama berada di dekatnya.
Ha-neul tidak peduli. Pikirannya sibuk dengan apa yang akan terjadi sebentar lagi.
Rapat keluarga.
Ini bukan rapat biasa. Ini adalah pengumuman resmi. Dae-ho sudah memberitahunya pagi tadi, meski dengan cara yang menghina. Ayah Dae-ho, Kang Jin-sung—paman Ha-neul—akhirnya akan secara sah mencoret namanya dari garis suksesi kepemimpinan klan.
Secara teknis, itu hanya formalitas. Semua orang sudah tahu statusnya saat ini. Tapi mendengarnya diucapkan di depan para tetua, di depan sisa-sisa keluarga yang masih ada... itu adalah pukulan terakhir. Penghapusan total atas apa yang pernah ia miliki.
Ruang leluhur terletak di bangunan paling tengah dan tertinggi. Atapnya bersusun tiga dengan ukiran naga dan burung hong yang dilapisi emas. Dua patung singa batu berjaga di pintu masuk, matanya yang bulat seolah menghakimi setiap orang yang melangkah masuk.
Ha-neul berhenti di depan pintu. Ia bisa mendengar suara percakapan dari dalam.
"...tidak ada pilihan lain, demi masa depan klan." Itu suara pamannya, berat dan penuh wibawa.
"Tapi secara adat, bukankah garis keturunan langsung tetap harus diutamakan?" Suara lain, lebih tua. Mungkin tetua Kang Sung-ho, salah satu dari sedikit orang yang masih diam-diam membela ayah Ha-neul dulu.
"Tetua Sung-ho, saya paham kekhawatiran Anda. Tapi lihatlah kenyataannya. Anak itu bahkan tidak mampu mengumpulkan sedikit pun energi pedang selama tiga tahun. Apa kita akan menyerahkan Klan Pedang Kang pada seseorang yang tak bisa membedakan pedang dengan besi tua?" Suara Jin-sung terdengar masuk akal. Terlalu masuk akal.
Ha-neul menarik napas panjang. Lalu ia melangkah masuk.
Semua mata tertuju padanya. Sekitar dua belas orang duduk di bantalan sesuai urutan senioritas. Di altar belakang, terpampang puluhan tablet kayu bertuliskan nama para leluhur Klan Pedang Kang. Lilin-lilin menyala redup, menciptakan bayangan yang menari-nari di dinding.
Kang Jin-sung duduk di kursi utama—kursi yang dulu diduduki ayah Ha-neul. Di sampingnya, Nyonya Min, istri pamannya, menatap Ha-neul dengan sorot mata dingin. Di belakang mereka, Kang Dae-ho berdiri dengan senyum puas.
"Ha-neul." Jin-sung memanggil dengan nada resmi. "Duduk."
Ha-neul duduk di bantalan paling ujung, paling jauh dari altar. Posisi terendah.
Tetua Kang Sung-ho—pria tua berambut putih dengan jenggot panjang—menatapnya dengan iba. Tapi ia tak bisa berbuat banyak. Suara terbanyak sudah berpihak pada Jin-sung.
"Kita berkumpul di sini untuk membahas hal penting," Jin-sung memulai. "Seperti yang kalian tahu, tiga tahun lalu, klan kita kehilangan pemimpin yang hebat, Kang Jin-ho, karena serangan mendadak dari para pembunuh bayaran tak dikenal. Sejak saat itu, saya dipercaya untuk memegang tampuk kepemimpinan sementara hingga putra sulungnya, Kang Ha-neul, siap menggantikan."
Ia berhenti, menatap Ha-neul. Semua orang ikut menatap.
"Namun, takdir berkata lain. Akibat luka yang dideritanya saat mencoba membela ayahnya, meridian Ha-neul rusak parah. Selama tiga tahun, tak ada kemajuan. Bahkan, level kultivasinya terus merosot hingga ke level 1 Bintang Roh Pedang—level terendah yang pernah tercatat dalam sejarah klan kita."
Bisik-bisik mulai terdengar. Beberapa tetua menggeleng.
"Saya sudah berkonsultasi dengan para tabib terbaik. Semua berkata: pemulihan tidak mungkin. Luka meridiannya terlalu parah, seperti sungai yang bendungannya hancur total. Airnya sudah mengering."
Jin-sung menghela napas, berpura-pura sedih. "Dengan berat hati, sebagai pemangku sementara, saya mengusulkan agar status Kang Ha-neul sebagai pewaris resmi dicabut. Kita butuh penerus yang kuat untuk menghadapi ancaman dari luar. Apakah ada yang keberatan?"
Sunyi.
Tetua Sung-ho membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Ia tahu ini sudah ditentukan sebelumnya. Keberatan hanya akan mempermalukan dirinya sendiri.
"Kalau begitu, saya minta—"
"Saya tidak keberatan."
Semua orang terkejut. Suara itu datang dari Ha-neul sendiri.
Ia bangkit berdiri. Wajahnya datar, tanpa ekspresi. Matanya kosong menatap pamannya.
"Ha-neul... kamu..." Jin-sung tampak tidak percaya. Ia pikir akan ada perlawanan, tangisan, atau setidaknya permohonan.
"Apa gunanya mempertahankan sesuatu yang memang bukan milik saya lagi?" Ha-neul berkata pelan. "Saya hanya ingin satu hal, Paman. Biarkan saya dan Soo-ah tinggal di gudang belakang. Kami tidak butuh apa-apa dari klan. Cukup izin untuk tetap tinggal."
Nyonya Min mendengus pelan. "Huh, memangnya mau ke mana? Di luar sana kalian akan mati kelaparan."
"Diam!" desis Jin-sung pada istrinya. Lalu ia menatap Ha-neul dengan sorot mata yang sulit diartikan. Ada kemenangan di sana, tapi juga sedikit... rasa bersalah? Atau mungkin hanya perasaan lega karena hambatan terakhir tersingkir.
"Dikabulkan," katanya akhirnya. "Kamu dan adikmu boleh tinggal. Sebagai keluarga, kami tidak akan membiarkan kalian terlantar."
Omong kosong. Ha-neul tahu itu. Tapi ia hanya mengangguk.
"Terima kasih, Paman."
Ia berbalik, melangkah keluar dari ruang leluhur tanpa menunggu acara selesai. Di ambang pintu, ia berpapasan dengan Dae-ho yang menyeringai lebar.
"Selamat, sepupu. Sekarang statusmu resmi: sampah." bisik Dae-ho.
Ha-neul tidak menjawab. Ia terus berjalan.
Malam turun dengan cepat di Pegunungan Hwa. Udara dingin menusuk tulang, apalagi di gudang reyot yang dindingnya penuh celah. Ha-neul duduk di sudut ruangan, menatap lilin kecil yang hampir habis. Soo-ah sudah tidur di pojok lain, terbungkus selimut tipis tambalan. Ia tidak tahu apa yang terjadi di ruang leluhur tadi. Ha-neul tidak punya hati untuk menceritakannya.
Tangannya meraba saku celana. Jari-jarinya menyentuh benda keras dan dingin. Cincin giok hitam peninggalan ayahnya.
Ia mengeluarkannya, menatapnya di bawah cahaya lilin yang temaram. Cincin itu sederhana, tanpa ukiran atau hiasan, hanya batu giok hitam pekat dengan sedikit urat merah di dalamnya. Ayahnya memberikannya saat Ha-neul berusia sepuluh tahun, sehari setelah ia berhasil mencapai level 1 Bintang Roh Pedang untuk pertama kalinya.
"Ini pusaka keluarga, Nak. Sudah diwariskan turun-temurun dari generasi pertama Klan Pedang Kang. Suatu hari nanti, saat kamu siap, cincin ini akan membantumu."
Ha-neul teringat kata-kata itu. Waktu itu ia bertanya, "Membantu bagaimana, Ayah?"
Ayahnya hanya tersenyum misterius. "Kamu akan tahu saat waktunya tiba."
Sekarang ayahnya sudah tiada. Dan Ha-neul tidak pernah tahu apa maksudnya. Cincin ini tidak pernah melakukan apa pun selain menjadi pengingat akan masa lalu yang indah.
Ha-neul menghela napas. Ia memutar-mutar cincin di jarinya.
"Ayah... aku gagal," bisiknya dalam gelap. "Aku kehilangan segalanya. Maafkan aku."
Udara dingin menusuk, membuatnya menggigil. Ia ingin menangis, tapi air matanya sudah lama kering. Tiga tahun penuh penderitaan telah mengajarinya bahwa menangis tidak berguna. Hanya tindakan yang berarti.
Tapi apa yang bisa ia lakukan? Dengan kekuatan yang hampir habis, dengan status sampah yang kini resmi disahkan... apa masa depannya? Menjadi kuli di klannya sendiri sampai mati? Melihat Soo-ah tumbuh dalam kemiskinan, tak bisa menikah dengan baik karena status kakaknya yang hina?
Tidak.
Ia menggenggam cincin itu erat-erat. Hingga ujung jarinya memutih.
Tiba-tiba—
Ssssttt...
Ha-neul tersentak. Ia mendengar sesuatu. Seperti desisan ular, tapi sangat pelan, hampir tak terdengar. Dan anehnya, desisan itu datang dari... cincin di tangannya?
Ia menatap cincin itu. Di bawah cahaya lilin yang redup, ia melihat sesuatu. Urat merah di dalam batu giok hitam itu... bergerak. Perlahan, seperti aliran darah.
"Ha—?"
Belum sempat ia berteriak kaget, ujung jarinya yang tergenggam erat tiba-tiba terasa perih. Seperti tertusuk jarum. Darah menetes dari sela-sela jarinya, meresap ke permukaan cincin.
Dan cincin itu... menyala.
Bukan api, tapi cahaya merah gelap yang keluar dari celah-celah batu giok. Cahaya itu menjalar ke tangannya, terasa hangat—tidak panas, hanya hangat seperti tangan seseorang yang memegangnya. Ha-neul ingin melepaskan cincin itu, tapi tangannya seolah terkunci. Ia tidak bisa bergerak.
"A-Apa... apa ini?!"
Cahaya merah itu semakin terang. Memenuhi seluruh ruangan. Ha-neul melihat bayangan-bayangan aneh menari-nari di dinding. Dan suara desisan itu berubah menjadi tawa. Tawa tua, serak, seperti orang yang sudah lama tidak menggunakan pita suaranya.
"Heh... akhirnya... setelah seratus tahun..."
Dari pusaran cahaya merah itu, perlahan-lahan terbentuk sesosok bayangan. Samar-samar, berbentuk manusia. Rambut panjang tergerai, jubah hitam compang-camping, dan yang paling mencolok—sepasang mata merah menyala yang menatap Ha-neul tepat di wajah.
Ha-neul tersentak mundur, jatuh tersungkur. Mulutnya terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar. Ketakutan luar biasa mencengkeram hatinya.
Sosok bayangan itu tertawa lagi. Kali lebih keras.
"Jangan takut, bocah. Aku bukan hantu... yah, mungkin sedikit hantu. Tapi aku lebih tepatnya disebut... arwah penasaran."
Ia melayang mendekat, menunduk, menatap Ha-neul dari atas. Senyum tipis terukir di wajah transparannya.
"Namaku Hyeol-geon. Dulu orang-orang memanggilku Iblis Pedang Berdarah. Dan kau... kau keturunan siapa? Aroma darahmu... aku mengenalnya."
Ha-neul hanya bisa terpaku, jantung berdebar kencang, otaknya berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi.
Dan di luar gudang, angin malam bertiup lebih kencang, seolah menyambut kembalinya sesuatu yang telah lama terkubur.
Ha-neul jatuh terduduk di lantai kayu gudang yang berderit. Punggungnya membentur tumpukan karung goni, tapi ia tidak merasakan sakit. Semua perasaannya kini terfokus pada satu titik: sosok bayangan transparan yang melayang di depannya, memancarkan cahaya merah redup.
Mulutnya terbuka lebar, tapi suara tak kunjung keluar. Lidahnya bagai kelu.
Sosok itu—yang menyebut dirinya Hyeol-geon—mencondongkan tubuh. Wajahnya samar, seperti lukisan cat air yang kena air, tapi dua mata merahnya bersinar tajam menembus bayang-bayang. Ia menatap Ha-neul dengan rasa ingin tahu.
"Heh, jangan pingsan dulu, bocah. Aku sudah menunggu seratus tahun untuk berbicara dengan seseorang. Kalau kau pingsan sekarang, aku akan kesepian lagi."
Ha-neul menggigit bibir bawahnya hingga terasa perih. Bukan mimpi. Ini nyata.
"Ka-kau... apa kau... iblis?" Suaranya bergetar.
Hyeol-geon terkekeh. "Iblis? Bisa dibilang begitu. Dulu banyak orang memanggilku iblis. Tapi sekarang, aku hanya arwah tua yang terperangkap dalam cincin." Ia melayang berputar, mengamati gudang reyot itu. "Dan kau... kau tinggal di tempat seperti ini? Dengan baju compang-camping? Keturunan siapa sebenarnya kau?"
Ha-neul masih belum bisa tenang. Dadanya naik turun cepat. Tapi naluri bertahan hidupnya mulai bekerja. Perlahan, ia merangkak mundur, tangannya meraba-raba mencari sesuatu—apa saja—yang bisa dijadikan senjata.
Gerakan itu tidak luput dari penglihatan Hyeol-geon.
"Oh, mau ambil senjata? Di belakangmu ada cangkul tua berkarat. Tapi percuma, bocah. Aku sudah mati. Kau tidak bisa membunuh orang mati."
Ha-neul berhenti. Napasnya mulai sedikit terkendali. "...Apa maumu?"
"Pertanyaan bagus." Hyeol-geon melayang lebih dekat, lalu duduk bersila di udara, persis di depan Ha-neul. "Seratus tahun aku terperangkap dalam cincin sialan ini. Tidak bisa bicara, tidak bisa bergerak, hanya bisa diam dan mengamati dunia luar lewat celah kecil. Dan kau tahu apa yang paling menyebalkan?"
Ha-neul menggeleng pelan.
"Melihat keturunan bodoh yang mewarisi cincin ini tapi tidak pernah tahu cara mengaktifkannya! Enam generasi, Ha-neul. Enam generasi keluargamu memakai cincin ini hanya sebagai perhiasan. Tidak ada satu pun yang cukup berbakat atau cukup putus asa untuk menggenggamnya erat hingga berdarah."
Ha-neul menatap cincin di tangannya. Darah masih membasahi permukaannya, perlahan meresap masuk.
"Kau... kau tahu keluargaku?"
"Tentu saja. Aku yang memberi cincin ini pada leluhur pertamamu, Kang Dae-gun, seratus lima puluh tahun lalu. Saat itu ia menyelamatkanku dari kejaran musuh. Sebagai balas budi, aku tinggal di cincin ini dan membantunya membangun Klan Pedang Kang."
Ha-neul terbelalak. Klan Pedang Kang dibangun dengan bantuan arwah ini?
"Tapi setelah Dae-gun mati, aku tertidur. Bangun sebentar untuk melihat generasi selanjutnya, lalu tertidur lagi. Bangun, tidur. Bangun, tidur. Hingga akhirnya... tak ada satu pun yang bisa membangunkanku. Mereka semua terlalu... biasa saja."
Hyeol-geon menatap Ha-neul dengan sorot baru. Ada kilat penasaran di mata merahnya.
"Tapi kau... kau berbeda. Saat kau menggenggam cincin itu tadi, aku merasakan sesuatu. Keputusasaan yang dalam. Kemarahan yang membara. Dan... rasa sakit. Banyak rasa sakit. Cukup kuat untuk menarikku keluar dari tidur panjang."
Ha-neul diam. Semua yang dikatakan arwah itu benar. Keputusasaan. Kemarahan. Rasa sakit. Itulah dirinya saat ini.
"Jadi, bocah. Ceritakan padaku. Siapa namamu? Dan mengapa pewaris Klan Pedang Kang hidup seperti gelandangan di gudang reyot?"
Ha-neul butuh waktu sepuluh menit untuk menceritakan semuanya. Tentang kejeniusannya di masa kecil. Tentang kematian ayahnya yang misterius. Tentang luka meridian yang tiba-tiba menghancurkannya. Tentang tiga tahun pengucilan dan hinaan. Tentang adiknya, Soo-ah, satu-satunya alasan ia masih bertahan. Dan tentang hari ini, ketika statusnya sebagai pewaris resmi dicabut di depan para leluhur.
Hyeol-geon mendengarkan tanpa menyela. Wajah transparannya tidak menunjukkan ekspresi, tapi mata merahnya berkedip-kedip setiap kali Ha-neul menyebut detail penting.
Saat Ha-neul selesai, sunyi menguasai gudang untuk beberapa saat.
Lalu Hyeol-geon tertawa.
"HAHAHAHAHA!"
Tawanya menggema di ruangan sempit, membuat Ha-neul terkejut. Arwah tua itu tertawa terbahak-bahak, memegangi perut, berguling-guling di udara.
"Kenapa kau tertawa?!" Ha-neul kesal. Ia baru saja menceritakan penderitaannya, dan makhluk ini malah tertawa?
"Maaf, maaf..." Hyeol-geon menyeka air mata imajinernya. "Ini cuma... lucu. Sungguh lucu. Kau bilang luka meridianmu adalah kutukan? Kau bilang itu karena serangan pembunuh bayaran?"
Ha-neul mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"
Hyeol-geon berhenti tertawa. Ekspresinya berubah serius. Ia melayang mendekat, menatap Ha-neul lekat-lekat.
"Bocah, apa yang mereka bilang tentang lukamu? Detail."
"Dokter klan bilang... meridian utamaku hancur. Seperti bendungan yang jebol. Energi tidak bisa mengalir. Setiap kali aku mencoba mengumpulkan Qi, semuanya bocor keluar. Tidak ada yang bisa diperbaiki."
"Hm. Dan kau percaya itu?"
"Mereka tabib terbaik di wilayah ini."
"Tabib sampah lebih tepatnya." Hyeol-geon mendengus. "Dengar, bocah. Aku sudah hidup lebih dari dua ratus tahun. Aku pernah melukai ribuan orang dan menyembuhkan ribuan lainnya. Aku tahu setiap jenis luka meridian yang ada di dunia persilatan ini."
Ia mengangkat tangan transparannya, menunjuk ke arah dada Ha-neul.
"Lukamu bukan karena hancur. Lukamu adalah segel. Teknik Segel Meridian Naga Tidur. Jurus kuno yang hanya dikuasai oleh segelintir ahli tingkat atas."
Ha-neul membeku. "Se...gel?"
"Betul. Seseorang dengan sengaja memasang segel di meridianmu. Itu sebabnya energimu bocor. Bukan karena rusak, tapi karena diblokir. Dan teknik ini... hanya bisa dipasang oleh seseorang yang levelnya jauh di atasmu. Bahkan mungkin di atas level ayahmu dulu."
Dunia Ha-neul seolah berhenti berputar.
Segel. Bukan kutukan. Bukan luka. Tapi SEGEL. Seseorang dengan sengaja melakukan ini padanya.
"Tapi... siapa? Dan kenapa?"
"Itu pertanyaan yang harus kau cari jawabannya sendiri." Hyeol-geon menyeringai. "Tapi satu hal yang pasti: orang yang memasang segel ini tahu persis apa yang ia lakukan. Ia ingin kau menderita. Ia ingin kau jatuh. Dan sepertinya... ia berhasil."
Ha-neul menggenggam tangannya erat-erat. Rasa sakit, amarah, dan kebingungan bercampur jadi satu di dadanya.
Selama tiga tahun ia mengira dirinya cacat. Selama tiga tahun ia menerima hinaan sebagai takdir. Selama tiga tahun ia menyerah pada nasib.
Tapi ternyata... ini semua ulah seseorang.
"Bisa... bisa kau membukanya?" Suara Ha-neul bergetar. Bukan karena takut, tapi karena harapan yang baru lahir.
Hyeol-geon mengangkat alis. "Kau serius?"
"Aku tidak punya apa-apa lagi. Tapi jika benar ini segel... jika benar kekuatanku bisa kembali..." Ha-neul menatap arwah itu dengan mata membara. "Aku akan melakukan apa saja."
"Apa saja?"
"Apa saja."
Hyeol-geon diam sejenak. Lalu senyum lebar mengembang di wajah transparannya. Senyum yang sama seperti seratus lima puluh tahun lalu, saat ia pertama kali melihat Kang Dae-gun, leluhur Ha-neul, berdiri di hadapannya dengan tekad yang sama.
"Baik. Aku akan membantumu, Kang Ha-neul. Tapi ini bukan transaksi gratis. Aku membuka segelmu, kau mengembalikan kekuatanmu, dan suatu hari nanti... kau akan membantuku juga."
"Membantu apa?"
"Membalaskan dendamku." Mata Hyeol-geon menyala lebih terang. "Ada seseorang yang harus kubunuh. Tapi karena aku sudah mati, kau yang akan melakukannya untukku."
Ha-neul tidak bertanya siapa. Tidak bertanya bagaimana. Ia hanya mengangguk.
"Setuju."
Hyeol-geon terkekeh. "Kau bahkan tidak bertanya detailnya. Bocah nekat."
"Karena apa pun detailnya, tidak mungkin lebih buruk dari hidupku sekarang."
Arwah itu tertawa lagi. Kali ini tawanya lebih hangat.
"Aku suka gaya bicaramu, Kang Ha-neul. Aku suka sekali."
Ia melayang mundur, mengamati Ha-neul dari atas ke bawah.
"Tapi sebelum kita mulai, kau harus tahu. Proses pembukaan segel ini tidak mudah. Bisa memakan waktu bertahun-tahun. Kau harus berlatih lebih keras dari siapa pun. Dan kau harus merahasiakan keberadaanku dari siapa pun, termasuk adikmu. Jika musuh-musuhku tahu aku masih hidup dalam bentuk arwah... kau akan mati sebelum segelmu terbuka setengah."
Ha-neul mengangguk mantap. "Aku mengerti."
"Bagus." Hyeol-geon menggosok-gosok tangan. "Sekarang, mulai besok pagi, kita mulai pelatihan. Tapi malam ini... kau harus istirahat. Wajahmu pucat seperti mayat. Masa muridku lebih pucat dari gurunya?"
Ha-neul tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, ia merasakan sesuatu yang hangat di dadanya.
Bukan harapan. Tapi setidaknya... alasan untuk terus hidup.
Ia menengok ke pojok ruangan. Soo-ah masih tidur pulas, tak terganggu oleh kejadian malam ini. Mungkin itu baik. Untuk sekarang, lebih baik adiknya tidak tahu.
Ha-neul menatap cincin di jarinya. Cahaya merahnya sudah meredup, tapi ia bisa merasakan kehangatan aneh dari benda itu.
"Ayah... kau bilang cincin ini akan membantuku saat waktunya tiba." bisiknya. "Sekarang aku tahu maksudmu."
Hyeol-geon mendengus. "Sudah, jangan baper. Tidur! Besak kau harus bangun dua jam sebelum subuh. Pemanasan lari keliling gunung tiga putaran."
"Tiga putaran? Gunung ini luasnya—"
"Empat putaran kalau protes."
Ha-neul memilih diam dan merebahkan diri di tumpukan karung.
Di luar, angin malam bertiup pelan. Ranting-ranting pohon menari-nari ditiup angin. Dan di langit, awan hitam perlahan bergeser, menampakkan secercah sinar bintang.
Esok adalah hari pertama perjalanan panjang.
Esok, Kang Ha-neul akan mulai bangkit dari kuburnya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!