Wilayah Tiongkok Timur, Provinsi FJ, Kota Nanmin.
Sebuah jeritan memilukan tiba-tiba menggema dari ruang Kelas 3 tingkat akhir SMA Qizhong, memecah suasana sore yang semula sunyi.
Zhang Yuze menatap kosong lembar ujian di hadapannya. Di sana, tercetak sebuah angka yang terasa begitu menusuk mata—nol besar yang dilingkari tebal dengan tinta merah.
Nilai nol.
Lingkaran mencolok itu hampir membuat pikirannya meledak. Dadanya terasa sesak, seolah ada sesuatu yang menekan dari dalam. Ia memang sudah memperkirakan hasil ujiannya akan buruk, tetapi yang benar-benar membuatnya frustrasi adalah kenyataan bahwa ia telah mengisi seluruh lembar jawaban—tidak satu pun dibiarkan kosong—namun tetap memperoleh nilai nol.
Nasib seolah sedang mempermainkannya. Bahkan satu soal pilihan ganda pun tidak ada yang tepat. Sebuah “keberuntungan” yang buruk hingga terasa tidak masuk akal.
Saat Zhang Yuze masih menatap lembar ujiannya dengan wajah muram dan penuh ketidakpuasan, seseorang di bangku depan tiba-tiba menoleh. Chen Jialong, sambil menggenggam kertas ujiannya sendiri, menampilkan ekspresi penuh kegembiraan, bahkan nyaris berlinang air mata.
“Yuze! Aku dapat tiga poin!” serunya dengan suara bergetar karena emosi. “Akhirnya, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku mengunggulimu! Langit benar-benar punya mata!”
“Kurang ajar! Terus saja pamer,” bentak Zhang Yuze kesal. “Ini cuma kebetulan!”
Dalam suasana hatinya yang sudah kacau karena nilai nol—yang merupakan pertama kali ia mengalaminya sepanjang hidup—Zhang Yuze tanpa ragu mengacungkan jari tengahnya ke arah Chen Jialong sebagai bentuk penghinaan setengah bercanda.
Pemuda di depannya itu bukan orang asing. Chen Jialong adalah sahabatnya sejak kecil, teman yang tumbuh bersamanya dari masa kanak-kanak hingga remaja. Entah kebetulan macam apa yang terjadi, mereka selalu berada di sekolah dan kelas yang sama—mulai dari SD, SMP, hingga SMA.
Kebetulan seperti itu tergolong sangat langka, dan mungkin karena itulah hubungan mereka terjalin begitu erat.
Dahulu, ketika nilai akademik Zhang Yuze masih cemerlang, Chen Jialong kerap bergantung padanya, menyontek jawabannya demi sekadar lulus. Ia tidak pernah sekali pun memiliki kesempatan untuk mengungguli Zhang Yuze dalam hal nilai.
Namun seiring berjalannya waktu, prestasi Zhang Yuze merosot tajam. Dan kini, pada ujian ini, Chen Jialong akhirnya—untuk pertama kalinya—berhasil melampauinya.
“Hmph!”
Di tengah perdebatan kecil mereka, terdengar dengusan tidak suka dari samping. Liu Mengting, kecantikan kelas 3 tingkat akhir—yang juga merupakan teman sebangku Zhang Yuze—mengeluarkan suara meremehkan. Ia mengayunkan tas sekolahnya ke bahu, menampakkan tengkuknya yang putih dan ramping, lalu melangkah pergi dengan anggun.
Punggungnya yang menjauh tampak begitu memesona.
Namun, bagi Zhang Yuze, pemandangan itu justru menusuk hatinya dengan kepahitan.
Sejak awal, ia merasa sangat terkejut—bahkan merasa seolah memperoleh keberuntungan besar—ketika mendapati dirinya duduk sebangku dengan gadis yang diakui seluruh kelas sebagai yang tercantik. Akan tetapi, siapa sangka bahwa ia tidak hanya tidak mendapatkan perlakuan istimewa, bahkan sejak menjadi teman sebangku di tingkat akhir, mereka hampir tidak pernah saling berbincang.
Barangkali, inilah jarak yang tak kasatmata antara siswa berprestasi dan siswa yang terpuruk.
Di dalam lubuk hatinya, Zhang Yuze menyimpan keinginan yang tidak pantas. Ia bahkan kerap memikirkan Liu Mengting dalam berbagai khayalan setiap malam sebelum tidur. Namun di dunia nyata, ia justru dipenuhi rasa sungkan dan gentar, tak berani melangkah sedikit pun melewati batas.
Sementara itu, Liu Mengting—mungkin karena memandang rendah teman sebangkunya yang dianggap menyia-nyiakan diri—juga dengan sengaja menjaga jarak yang jelas. Ia tidak pernah berbicara dengannya kecuali benar-benar diperlukan.
Hari ini, sikap ketidaksukaannya bahkan ditunjukkan secara terang-terangan.
Lagipula, siapa yang tidak tahu bahwa Zhang Yuze dan Chen Jialong telah dicap oleh seluruh SMA sebagai “Pemuda Empat Tanpa”: tanpa ide, tanpa jiwa, tanpa masa depan, dan—yang paling memalukan—tanpa pacar.
Saat Zhang Yuze hendak merapikan buku-bukunya dan bersiap meninggalkan kelas, kegaduhan tiba-tiba pecah di dalam ruangan.
Seorang remaja bertubuh tinggi besar dengan wajah garang melangkah masuk, diikuti beberapa berandal. Kehadirannya membuat suasana kelas langsung membeku.
Mengapa orang itu datang ke sini hari ini?
Keterkejutan terpancar jelas di wajah para siswa. Pemuda itu bukan orang sembarangan.
Ruan Zixiong berjalan lurus menuju bangku Zhang Yuze, lalu menghantamkannya dengan telapak tangan secara brutal.
“Bang!”
Kotak kacamata di atas meja langsung pecah berkeping-keping. Kekuatan hantaman itu membuat seluruh kelas terperanjat. Benar-benar pantas disebut sebagai salah satu dari sepuluh petarung terkuat di tingkat SMA.
Sejak tahun 2012, akibat berbagai faktor yang tidak diketahui secara jelas, atmosfer bela diri di Negara Donghua berkembang pesat dan menjadi tren. Banyak warga bergabung dengan berbagai perguruan bela diri, bahkan beberapa keturunan keluarga berpengaruh memilih masuk ke klan bela diri terpencil. Menyikapi fenomena tersebut, Kementerian Pendidikan bahkan mengganti mata pelajaran olahraga dengan seni bela diri, serta menjadikannya salah satu mata ujian masuk perguruan tinggi.
“Ruan Zixiong, apa maumu?” Zhang Yuze tiba-tiba berdiri, menatapnya dengan amarah.
Meski dari luar ia tampak tegar dan garang, kakinya tak kuasa menahan getar. Ia tahu betul bahwa orang di hadapannya adalah sosok yang ditakuti oleh seluruh siswa tingkat akhir. Menghadapinya secara langsung jelas bukan perkara mudah.
Melihat Zhang Yuze masih berani bersikap keras kepala, Ruan Zixiong sempat tertegun. Ia kemudian menyeringai dingin dan mengangguk perlahan.
“Berani juga kau,” ujarnya.
Ia lalu mendekatkan wajah ke telinga Zhang Yuze dan berbisik dengan nada dingin yang menusuk, “Jian Yumin sekarang bersamaku. Jangan pernah lagi mengganggunya. Kalau tidak, aku tidak akan melepaskanmu begitu saja.”
Jantung Zhang Yuze berdegup keras, seolah hampir hancur berkeping-keping. Namun ia memaksa dirinya untuk tetap tenang. Dengan tatapan dingin, ia menatap Ruan Zixiong dan berkata, “Ini urusanku dengan dia. Tidak ada hubungannya denganmu.”
Kata-kata itu membuat kilatan kejam melintas di mata Ruan Zixiong.
“Kalau begitu,” katanya pelan namun mengancam, “aku menantangmu secara resmi. Temui aku di arena setengah bulan lagi. Jika kau tidak datang, berarti kau pengecut.”
Setelah mengucapkan itu, Ruan Zixiong mendengus dingin dan pergi bersama rombongannya.
Begitu sosok itu menghilang, Zhang Yuze langsung terduduk, seolah beban besar baru saja diangkat dari pundaknya. Namun pikiran tentang ucapan Ruan Zixiong terus berputar di kepalanya, membuat dadanya terasa tidak nyaman.
Jian Yumin—gadis yang disebutkan tadi—adalah pacarnya sejak SMA. Ia tidak pernah menyangka bahwa seseorang akan merebutnya begitu saja. Pantas saja, setiap kali ia mencoba menemuinya dalam beberapa hari terakhir, selalu ada alasan untuk menghindar. Ternyata, ia telah memiliki kekasih baru.
Meski hubungan mereka bermula secara kebetulan dan tidak dilandasi perasaan yang terlalu dalam, tetap saja—pria mana yang tidak terluka ketika wanitanya direbut orang lain?
Kini, Zhang Yuze benar-benar telah menjadi “Pemuda Empat Tanpa” yang sesungguhnya.
“Yuze, bagaimana kau bisa menyinggung orang seperti dia?” Chen Jialong mendekat dengan wajah penuh kekhawatiran. “Perlu aku carikan seseorang untuk menengahi masalah ini?”
Persahabatan mereka tidak memungkinkan Chen Jialong untuk berpangku tangan begitu saja.
“Tidak perlu,” jawab Zhang Yuze singkat. Ia melirik sekeliling kelas, melihat beragam ekspresi yang tertuju padanya, lalu mengernyit. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik dan melangkah keluar dari ruangan.
Rumah Zhang Yuze terletak di kawasan permukiman elit di Jalan Jiangbin, Distrik Xiangcheng. Kedua orang tuanya adalah pegawai negeri, bahkan dapat dikatakan sebagai pejabat tingkat menengah. Kondisi ekonomi keluarganya tergolong cukup baik.
Ayahnya menjabat sebagai wakil kepala daerah Kabupaten Jingnan, meski belum masuk jajaran inti. Ibunya adalah wakil kepala Kantor Polisi Beitong di Distrik Xiangcheng. Keduanya sibuk dengan pekerjaan masing-masing, sering kali pergi pagi dan pulang larut, hingga jarang bertemu satu sama lain dalam sehari.
Karena itulah, tidak jarang Zhang Yuze harus menyiapkan makanannya sendiri.
Di balik rumah yang tampak mapan itu, hidupnya justru sedang berada di titik terendah—nilai nol, cinta yang direnggut, dan tantangan berbahaya yang menantinya di arena.
Dan tanpa ia sadari, inilah awal dari perubahan besar yang akan mengguncang seluruh hidupnya.
Setibanya di rumah, Zhang Yuze mendapati bahwa kedua orang tuanya masih belum pulang. Rumah besar itu terasa lengang dan sunyi, hanya diisi oleh suara langkah kakinya sendiri yang bergema samar di lantai. Tanpa ragu, ia segera mengganti pakaian dan memulai “rutinitas hariannya”.
Di sekolah, Zhang Yuze selalu menampilkan sosok yang tampak pendiam, muram, bahkan sedikit serius. Namun, hanya satu orang di dunia ini yang benar-benar mengenalnya—Chen Jialong, sahabatnya sejak kecil. Di mata Chen Jialong, Zhang Yuze sama sekali bukan pemuda lurus dan polos seperti yang terlihat di luar. Sebaliknya, ia adalah seorang mesum terpendam yang pandai menyembunyikan sisi gelapnya.
Komputer pribadinya hampir sepenuhnya dipenuhi film-film berlabel ramah segala usia—setidaknya begitu menurut kategorinya sendiri—yang jumlahnya nyaris memenuhi seluruh kapasitas hard drive. Lebih dari itu, Zhang Yuze bahkan merupakan anggota tingkat dua belas di sebuah situs dewasa ternama, dengan level keanggotaan yang konon lebih tinggi daripada beberapa administratornya.
Jika orang tuanya mengetahui sisi ini, entah ekspresi apa yang akan mereka tunjukkan.
Sore itu, Zhang Yuze duduk santai di depan komputer, menyesap minuman dingin sambil dengan tenang mengunduh beberapa film terbaru. Jari-jarinya bergerak cekatan di atas mouse dan keyboard, wajahnya memancarkan kepuasan kecil yang jarang ia rasakan akhir-akhir ini.
Namun, tepat ketika unduhan hampir selesai, bel pintu tiba-tiba berbunyi.
Deringannya yang nyaring membuat Zhang Yuze terkejut. Ia segera bangkit dari kursinya dan berjalan cepat menuju pintu depan. Dalam benaknya, ia mengira ayahnya telah pulang lebih awal.
Begitu pintu dibuka, ia tertegun.
Bukan ayahnya yang berdiri di sana, melainkan seorang pemuda asing berusia sekitar dua puluh tahunan, mengenakan pakaian sederhana, dengan tas selempang di bahunya. Penampilannya mirip seorang petugas pengantar barang.
“Apakah Anda Zhang Yuze?” tanya pemuda itu dengan nada sopan, menatapnya sekilas untuk memastikan.
“Ya. Saya,” jawab Zhang Yuze sambil mengangguk, sedikit kebingungan.
“Kalau begitu, mohon tanda tangan di sini. Ini paket Anda.”
Pemuda itu menyerahkan sebuah pena dan selembar kertas. Setelah memastikan identitas penerima, ia terlihat cukup lega.
Dengan perasaan heran, Zhang Yuze menandatangani namanya, lalu menerima sebuah paket berukuran sedang yang dibungkus rapi. Ketika ia mengangkat kepala kembali, si pengantar sudah berbalik pergi dengan langkah cepat, seolah takut berlama-lama.
Zhang Yuze berdiri sejenak di ambang pintu, menatap paket di tangannya dengan dahi berkerut. Ia yakin betul tidak memesan apa pun belakangan ini. Satu-satunya barang yang pernah ia pesan adalah sebuah majalah koleksi ilustrasi indah dari sebuah situs dewasa, itu pun sudah setengah tahun yang lalu. Ia bahkan telah membayar lunas, tetapi barangnya tidak pernah tiba. Pada akhirnya, ia mengira dirinya telah tertipu dan melupakan hal itu.
Mungkinkah paket ini adalah barang tersebut?
Jika benar, maka efisiensi pengirimannya sungguh keterlaluan.
Meski dipenuhi tanda tanya, rasa penasaran mengalahkan segalanya. Zhang Yuze membawa paket itu masuk ke dalam rumah, menutup pintu, lalu meletakkannya di atas meja ruang tamu. Dengan hati berdebar, ia mulai membukanya.
Lapisan demi lapisan dibuka.
Satu lapisan.
Dua lapisan.
Tiga lapisan.
Semakin lama, wajah Zhang Yuze semakin muram. Bungkusannya terlalu berlebihan. Rasanya seperti kain pembalut kaki perempuan tua di zaman dahulu—panjang, berbelit, dan sama sekali tidak efisien.
“Berlebihan sekali…” gumamnya kesal.
Akhirnya, setelah membuka entah berapa lapis, sebuah benda hitam pekat tersingkap di hadapannya.
Itu adalah sebuah buku.
Buku tersebut tampak sangat tebal, dengan sampul hitam polos tanpa satu pun tulisan atau pola. Zhang Yuze mengangkatnya perlahan. Ia terkejut ketika merasakan permukaannya—sangat halus, dingin, dan terasa aneh, seolah bukan terbuat dari kertas atau kulit biasa.
Dengan rasa ingin tahu yang memuncak, ia membuka buku itu secara perlahan.
Namun, apa yang ia lihat justru membuatnya kecewa.
Di halaman pertama, selain sebuah ilustrasi seorang pemuda berwajah licik dengan senyum nakal yang tampak penuh tipu daya, hanya terdapat tiga huruf besar yang tertulis mencolok:
"Cermin Pusaka Dewa"
“Uh…?”
Zhang Yuze terdiam, tercengang. Otaknya seakan berhenti bekerja.
Apa-apaan ini?
Tiba-tiba, sebuah suara terdengar di dalam benaknya.
“Jangan takut.”
Zhang Yuze terkejut setengah mati. Jantungnya hampir meloncat keluar dari dada. Ia menoleh ke kiri dan kanan, tetapi rumah itu kosong.
“Siapa?!” serunya panik.
“Aku adalah roh dari buku ini,” suara itu kembali terdengar, tenang dan dalam. “Aku adalah jiwa dari Cermin Pusaka Dewa.”
Suara itu tidak terdengar dari telinganya, melainkan langsung bergema di dalam kesadarannya.
Zhang Yuze menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. Meski rasa takut masih tersisa, rasa ingin tahunya jauh lebih besar.
“Apa maksud dari Cermin Pusaka Dewa ini?” tanyanya hati-hati.
“Seperti namanya,” jawab roh buku itu, “Cermin Pusaka Dewa adalah pusaka yang dapat menjadikanmu seorang dewa sejati. Selama kau mempelajari seluruh kemampuan yang tercatat di dalamnya dan memenuhi syarat hukum tertentu, kau akan mencapai keilahian.”
Jantung Zhang Yuze berdegup kencang.
Setiap kata itu terdengar terlalu fantastis, terlalu tidak masuk akal. Namun, kejadian yang tengah berlangsung di hadapannya membuatnya sulit untuk sepenuhnya menolak.
“Lalu… apa yang harus kulakukan?” tanyanya pelan, berusaha menekan kegembiraan yang mulai menyelinap ke dalam hatinya.
“Teteskan setetes darahmu ke tubuh pemuda dalam ilustrasi ini,” ujar Roh Buku. “Dengan begitu, kau akan menjadi muridnya. Hanya setelah itu kau dapat melihat isi sejati dari Cermin Pusaka.”
Zhang Yuze menatap ilustrasi di halaman pertama itu. Pemuda dalam gambar tampak tersenyum licik, seolah sedang mengejeknya.
Setelah ragu sejenak, ia mengangguk. Dengan gigi terkatup, ia menggigit ujung jarinya sendiri. Rasa perih menjalar, tetapi ia menahannya. Setetes darah segar jatuh dan menetes tepat di atas ilustrasi pemuda tersebut.
Dalam sekejap, darah itu terserap ke dalam halaman, seakan menghilang begitu saja.
Tiba-tiba, cahaya keemasan meledak keluar dari buku.
Cahayanya begitu menyilaukan hingga Zhang Yuze terpaksa memejamkan mata. Sinar hangat itu memenuhi seluruh ruang tamu, memantul di dinding dan langit-langit, menciptakan suasana yang nyaris sakral.
Beberapa saat kemudian, cahaya itu perlahan meredup dan akhirnya menghilang sepenuhnya.
Zhang Yuze membuka matanya.
Ia terkejut ketika mendapati bahwa halaman-halaman di balik halaman pertama kini dapat dibuka. Namun, rasa gembiranya hanya berlangsung sesaat. Saat ia mencoba membuka halaman kedua, buku itu kembali menolak.
Ia hanya bisa membuka halaman pertama.
“Apa yang terjadi?” tanyanya bingung. “Kenapa aku masih tidak bisa membukanya?”
“Itu karena tingkatmu saat ini masih terlalu rendah,” jawab Roh Buku dengan nada lembut. “Ketika energimu telah mencapai tingkat yang cukup untuk melihat isi di baliknya, halaman-halaman itu akan terbuka dengan sendirinya.”
“Energi?” Zhang Yuze mengernyit. “Energi apa?”
Roh Buku pun mulai menjelaskan secara rinci.
Sedikit demi sedikit, Zhang Yuze akhirnya memahami bahwa untuk mempelajari kemampuan supranatural dalam Cermin Pusaka Dewa, ia membutuhkan sesuatu yang disebut energi kepercayaan. Dan lebih jauh lagi, buku ini ternyata adalah kitab suci untuk menjadi Dewa Cinta.
Artinya, tugas utamanya adalah menaklukkan dan memikat berbagai wanita cantik, memperoleh kepercayaan, kekaguman, dan perasaan mereka sebagai sumber energi.
Zhang Yuze terdiam membeku.
Otaknya terasa seperti disambar petir.
Menjadi… Dewa Cinta?
Menaklukkan wanita sebagai kewajiban ilahi?
Segala yang baru saja ia dengar terlalu absurd, terlalu tidak masuk akal, hingga membuatnya benar-benar kehilangan kata-kata.
Namun jauh di lubuk hatinya, sebuah api kecil mulai menyala—api yang perlahan berubah menjadi harapan, kegembiraan, dan antisipasi yang sulit dijelaskan.
Tanpa ia sadari, hidupnya telah melangkah ke jalur yang sama sekali baru.
Dan sejak saat itu, takdir Zhang Yuze pun mulai berubah, selangkah demi selangkah, menuju jalan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Jika seseorang ingin mempelajari seluruh kemampuan yang tercatat di dalam kitab ini, maka energi yang dibutuhkan akan mencapai jumlah yang nyaris tak terbayangkan—sebuah angka astronomis yang jauh melampaui akal sehat manusia biasa.
Menurut penjelasan Roh Buku, setiap wanita dinilai berdasarkan peringkat kecantikan yang ditentukan oleh kualitas menyeluruh, mulai dari penampilan fisik, aura, temperamen, hingga pesona batin. Peringkat tersebut dibagi menjadi tujuh tingkatan, dari yang tertinggi hingga terendah: SSS, SS, S, A, B, C, dan D.
Mereka yang mampu masuk dalam daftar peringkat ini bukanlah wanita sembarangan. Setiap orang di dalamnya merupakan sosok luar biasa, kecantikan langka yang sulit ditemukan di antara kerumunan biasa.
Apabila Zhang Yuze berhasil menaklukkan salah satu dari mereka—sesuai dengan hukum yang ditetapkan oleh Hukum Afeksi—maka Cermin Pusaka Dewa akan memberinya Energi Iman yang setara dengan tingkatan wanita tersebut.
“Maksudmu… menaklukkan itu seperti apa, sebenarnya?” tanya Zhang Yuze dengan raut bingung.
Roh Buku menjawab dengan nada datar namun tegas, “Tentu saja, itu mencakup afeksi dan hasrat. Keduanya tidak dapat dipisahkan. Tanpa salah satu di antaranya, proses penaklukan tidak dianggap sah.”
Begitu mendengar penjelasan itu, ekspresi Zhang Yuze berubah seketika. Matanya berbinar, napasnya sedikit memburu.
Cermin Pusaka Dewa ini benar-benar terasa seperti pusaka yang diciptakan khusus untuk dirinya!
Menjadi dewa dengan cara seperti ini—jalan yang penuh keindahan dan godaan—benar-benar belum pernah ia dengar sebelumnya. Bahkan dalam khayalan paling liar sekalipun, ia tak pernah membayangkan bahwa takdir Dewa dapat ditempuh melalui jalur yang begitu… menyenangkan.
Ketika Zhang Yuze melihat rincian hadiah Energi Iman yang tertera di halaman tersebut, jantungnya nyaris meloncat keluar dari dadanya.
Menaklukkan seorang wanita peringkat D saja akan memberinya 5.000 poin Energi Iman.
Dan yang lebih mencengangkan, hadiah energi itu bersifat akumulatif—semakin tinggi peringkat kecantikan, semakin besar energi yang diperoleh. Jika berhasil menaklukkan wanita peringkat S, ia akan langsung menerima 80.000 poin Energi Iman.
Angka itu membuat Zhang Yuze tertegun.
Mulutnya sedikit terbuka, dan tanpa sadar air liurnya hampir menetes.
Perlahan, ia mengalihkan pandangannya ke daftar kemampuan yang tercantum di halaman pertama kitab. Ada lima kemampuan awal yang bisa dipelajari:
Koordinasi Tubuh (50)
Angin Cepat (100)
Penguatan Fisik (120)
Pelarian Tanah (200)
Pengembangan Daya Otak (300)
Angka-angka di dalam tanda kurung jelas menunjukkan kebutuhan Energi Iman untuk mengaktifkan masing-masing kemampuan.
“Namun,” suara Roh Buku kembali terdengar, mematahkan kegembiraan Zhang Yuze, “saat ini kau sama sekali tidak memiliki Energi Iman. Seluruh kemampuan ini memerlukan energi untuk digunakan.”
Zhang Yuze langsung membeku.
Ia benar-benar terpaku di tempatnya.
“Tidak punya… sama sekali?” gumamnya lirih.
Lalu dari mana ia harus mendapatkan energi itu sekarang?
Jika syarat awal untuk memperoleh energi adalah menaklukkan seorang wanita, dan sementara itu ia tidak memiliki satu pun kemampuan untuk mendukung proses tersebut, maka situasinya jelas tidak sederhana. Terlebih lagi, untuk benar-benar “menaklukkan”, ia harus mencapai tingkat afeksi dan hasrat tertentu—bukan sekadar basa-basi.
Seolah membaca kegundahannya, Roh Buku kembali berbicara dengan nada serius.
“Selain itu, mulai sekarang kau juga harus berlatih sebuah teknik penempaan tubuh. Seluruh kemampuan harus dimuat ke dalam tubuhmu sendiri. Untuk menempa besi, besi itu sendiri harus kuat. Jika kondisi fisikmu terlalu lemah, kau tidak akan mampu mengaktifkan kemampuan apa pun, karena energi pemicu tetap harus disuplai oleh tubuhmu sendiri.”
Begitu kata-kata itu diucapkan, Zhang Yuze merasakan sesuatu mengalir ke dalam benaknya.
Informasi asing—berupa rangkaian kalimat yang tampak rumit dan sulit dipahami—muncul begitu saja di pikirannya. Namun dengan bimbingan Roh Buku, makna dari setiap kalimat itu perlahan menjadi jelas.
Itu adalah sebuah metode penempaan tubuh bernama Seni Naga Tersembunyi Sejati.
Malam itu, Zhang Yuze tidak tidur sama sekali.
Sepanjang malam, ia duduk bersila di kamarnya, mengikuti alur pernapasan dan postur yang diajarkan dalam Seni Naga Tersembunyi Sejati. Keringat membasahi tubuhnya, otot-ototnya terasa nyeri, tetapi ia sama sekali tidak mengeluh.
Anehnya, meskipun semalaman tanpa tidur, Zhang Yuze justru merasa segar dan berenergi. Tubuhnya terasa lebih ringan, pikirannya lebih jernih, seolah ada sesuatu yang perlahan dibangkitkan dari dalam dirinya.
Namun, di balik semua itu, ada satu hal yang terus mengganjal hatinya.
Ia masih belum bisa mengaktifkan satu pun kemampuan.
Kelima kemampuan itu terasa begitu menggoda—terutama Angin Cepat dan Penguatan Fisik. Terlebih lagi, tantangan dari Ruan Zixiong di arena lima belas hari mendatang terus terngiang di kepalanya.
Jika ia tidak bisa menguasai kemampuan apa pun sebelum hari itu tiba, maka kekalahannya sudah dapat dipastikan.
Tanpa tidur yang cukup, Zhang Yuze meninggalkan rumah tepat pukul enam pagi. Ia sengaja berangkat lebih awal untuk menghindari jam sibuk para pelajar dan pekerja di dalam bus. Setelah membersihkan diri seadanya, ia membeli sarapan sederhana dan menyantapnya di perjalanan.
Sejak Cermin Pusaka Dewa mengakuinya sebagai tuan, kitab itu pun menyatu dengan tubuh Zhang Yuze, tersembunyi jauh di dalam dirinya.
Saat tiba di sekolah, suasana masih sangat lengang. Hanya beberapa sosok terlihat di kejauhan. Udara pagi terasa sejuk dan tenang.
Ketika Zhang Yuze hampir mencapai gedung pengajaran dan hendak menaiki tangga, sebuah suara rintihan tiba-tiba terdengar.
“Aduh…”
Zhang Yuze terkejut. Ia segera menoleh ke arah sumber suara dan mendapati seorang nenek tua terjatuh di dekat halaman depan.
Itu adalah Nenek Wang, petugas kebersihan sekolah yang setiap hari menyapu dan merapikan lingkungan sekolah.
Tanpa berpikir panjang, Zhang Yuze segera berlari menghampirinya dan membantu sang nenek berdiri.
“Nenek, apakah Anda tidak apa-apa?” tanyanya dengan penuh kepedulian.
Nenek Wang menggeleng pelan, lalu tersenyum hangat. “Terima kasih, Nak. Nenek baik-baik saja.”
Zhang Yuze mengangguk lega. Saat ia hendak mengucapkan terima kasih kembali, tiba-tiba ia merasakan getaran halus dari dalam tubuhnya.
Cermin Pusaka Dewa bereaksi.
Terkejut, Zhang Yuze segera mundur ke sudut yang sepi, memanggil Cermin Pusaka itu. Di permukaannya, muncul barisan informasi bercahaya:
Afeksi +20
Energi Iman saat ini: 20
“Apa?!”
Mata Zhang Yuze membelalak.
Belum selesai keterkejutannya, informasi tambahan kembali muncul:
Nama: Wang Alan
Jenis kelamin: Perempuan
Pekerjaan: Petugas kebersihan
Usia: 58 tahun
Informasi kontak: 77…
Zhang Yuze nyaris tidak bisa menutup mulutnya.
Cermin Pusaka ini bukan hanya mampu mengumpulkan Energi Iman, tetapi juga dapat menyelidiki data seseorang hingga sedetail ini. Benar-benar alat curang tingkat dewa!
Namun yang membuatnya paling merinding adalah kenyataan bahwa Nenek Wang memiliki dua puluh poin afeksi terhadapnya hanya karena satu tindakan kecil.
Seluruh tubuh Zhang Yuze merinding.
“Apa yang sebenarnya terjadi, Roh Buku?” tanyanya dengan suara bergetar karena kegembiraan.
“Rasa terima kasih dan afeksi adalah energi tak kasatmata yang muncul dari aktivasi emosi batin sesaat. Keduanya termasuk dalam kategori Energi Iman,” jelas Roh Buku dengan tenang. “Sebagai wadah, aku mengumpulkan energi-energi tersebut. Saat ini, kau telah memiliki dua puluh poin Energi Iman.”
Zhang Yuze menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya.
“Lalu… berapa batas maksimum afeksi seseorang?” tanyanya tiba-tiba.
“Batas maksimum afeksi setiap individu adalah seribu poin,” jawab Roh Buku. “Jika seorang wanita memiliki enam ratus poin afeksi terhadapmu, itu berarti ia telah memiliki perasaan yang cukup dalam. Jika mencapai sembilan ratus poin, maka kau dapat menembus batas fisik dengannya.”
Wajah Zhang Yuze langsung memerah.
Penjelasan itu terlalu blak-blakan, sama sekali tidak halus.
Namun justru pada saat itulah, Zhang Yuze menyadari sesuatu yang penting.
Musim semi dalam hidupnya… telah tiba.
Hal-hal yang sebelumnya terasa mustahil dan membingungkan kini mulai menunjukkan arah yang jelas. Selama ia berusaha lebih keras, selama ia mengumpulkan Energi Iman dengan konsisten, semua kemampuan luar biasa itu bukan lagi sekadar impian.
Mengingat arena lima belas hari lagi, mata Zhang Yuze memancarkan tekad yang belum pernah ada sebelumnya.
Ia mengepalkan tinjunya perlahan.
Waktu tidak banyak.
Dan ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!