Indonesia
NovelToon NovelToon

The Nerdy Couple [Jisung NCT X Karina Aespa]

BAB 1: Mahkota dari Kaca yang Pecah

​Aula Universitas Indonesia siang itu terasa seperti sebuah gladiator bagi para remaja jenius. Udara di dalam ruangan besar itu dipenuhi dengan aroma kecemasan dan ambisi yang pekat. Di atas panggung, sebuah spanduk besar bertuliskan “Olimpiade Sains Nasional Tingkat SMP – Babak Final” membentang gagah. Di bawahnya, hanya ada dua meja yang tersisa.

​Bima Arkana Adhikara Wijaya, duduk di meja sebelah kiri dengan punggung tegak sempurna, seolah-olah tulang belakangnya terbuat dari tiang besi. Seragam SMP internasionalnya yang berwarna biru navy tampak licin tanpa kerutan, mencerminkan kehidupan yang tertata dan disiplin tinggi. Di balik kacamata berbingkai perak yang bertengger di hidung mancungnya, mata Bima menatap tajam ke arah soal-soal fisika kuantum di depannya. Namun, setiap beberapa menit, matanya secara tidak sadar melirik ke barisan kursi tamu VIP di bagian depan.

​Sebuah kursi baja dengan sandaran beludru merah masih kosong. Di sana terdapat kertas bertuliskan nama, Adi Wijaya.

​Bima mengepalkan tangannya di bawah meja hingga kuku-kukunya memutih. Ayahnya kembali tidak datang. Bahkan untuk sebuah acara nasional di mana putranya sedang bertarung demi nama keluarga, Adi Wijaya lebih memilih berada di ruang rapat atau lapangan golf. Bagi ayahnya, prestasi Bima bukan lagi pencapaian, melainkan sebuah kewajiban. Jika Bima menang, itu sudah seharusnya. Dan jika Bima kalah, itu adalah kegagalan investasi.

​Rasa sesak mulai merayap di dada Bima, namun ia menekannya dengan kemarahan. Ia mengalihkan pandangannya ke arah lawan di meja sebelah kanan.

​Senara Zafira Atmaja, Gadis itu tampak sangat kecil di balik meja yang besar. Ia mengenakan seragam putih biru yang sudah mulai pudar warnanya, dan di bagian siku terdapat bekas jahitan tangan yang kasar. Senara tidak menatap kursi penonton, ia bahkan tidak menatap juri. Fokusnya hanya satu, lembar jawaban di depannya. Rambutnya dikuncir kuda dengan sangat kencang, membuat wajahnya terlihat pucat dan semakin tirus.

​Senara meremas pulpen murahnya hingga jari-jarinya gemetar. Bukan karena takut pada soal, melainkan karena ia tahu apa yang sedang ia pertaruhkan. Di dalam tas kainnya yang diletakkan di bawah kursi, terdapat sebuah amplop tagihan listrik rumah yang sudah berwarna merah, tanda peringatan terakhir sebelum pemutusan daya. Hadiah juara pertama olimpiade ini adalah satu-satunya harapan agar ibunya tidak perlu menangis lagi malam ini, saat ayahnya pulang dengan tangan kosong dan emosi yang meledak.

​"Waktu pengerjaan selesai. Mohon letakkan pulpen kalian!" suara juri bergema di seluruh aula.

#​Bima menarik napas panjang, melepaskan pulpen mahalnya dengan bunyi denting yang elegan. Ia menoleh ke arah Senara, yang tampak hampir pingsan karena menahan napas terlalu lama.

​"Kamu terlihat sangat menyedihkan, Senara," bisik Bima saat mereka berdiri untuk menunggu pengumuman. Suaranya rendah, hanya bisa didengar oleh gadis itu. "Tanganmu gemetar seperti orang yang belum makan tiga hari."

​Senara tidak menoleh. Ia hanya menatap lurus ke depan dengan mata yang memerah. "Aku memang belum makan, Bima. Dan gemetarku ini bukan karena takut, tapi karena aku muak melihat wajahmu yang merasa paling hebat hanya karena punya akses ke semua buku di dunia ini."

​Bima tertawa kecil, suara tawa yang hampa. "Dunia ini memang tidak adil, Senara. Dan kamu harusnya sadar bahwa pintar saja tidak cukup untuk mengalahkan orang yang memiliki segalanya seperti aku."

​"Kita lihat saja nanti," jawab Senara pelan namun penuh penekanan.

​Suasana menjadi sangat sunyi saat kepala juri naik ke podium. Ketegangan di antara Bima dan Senara seolah menciptakan medan listrik di udara. Ribuan pasang mata penonton tertuju pada mereka berdua, dua matahari dari dunia yang berbeda.

​"Dan pemenang Olimpiade Sains Nasional tahun ini, dengan selisih poin yang sangat tipis... 0,5 poin..." juri itu menjeda, menciptakan drama yang menyiksa. "...Selamat kepada... Senara Zafira Atmaja!"

​Gemuruh tepuk tangan memenuhi ruangan. Senara jatuh terduduk di kursinya, air mata akhirnya tumpah membasahi pipinya yang cekung. Ia menang, angka 0,5 itu adalah napas bagi keluarganya. Ia berdiri dengan kaki gemetar, berjalan menuju panggung untuk menerima piala dan cek simbolis hadiah uang pembinaan.

​Di tempatnya berdiri, Bima mematung. Wajahnya berubah pucat, lalu perlahan memerah karena malu dan marah yang luar biasa. Juara dua Nasional, bagi orang lain itu luar biasa. Namun bagi Bima, itu adalah hukuman mati. Ia bisa membayangkan ekspresi dingin ayahnya saat mendengar kabar ini. Ia bisa membayangkan sunyinya meja makan malam ini, di mana kegagalannya akan dibahas dengan nada yang lebih tajam dari pisau.

​Setelah acara selesai, di lorong belakang aula yang sepi, Bima mencegat Senara yang sedang membawa piala emas besarnya.

​"Selamat, Senara. Kamu baru saja memenangkan uang yang mungkin setara dengan gaji ibumu setahun," ujar Bima dengan nada menghina yang kental, mencoba menutupi luka egonya sendiri.

​Senara berhenti. Ia menatap Bima dengan pandangan yang tidak lagi mengandung rasa takut, melainkan kebencian murni yang bercampur dengan rasa kasihan. "Kamu tahu, apa yang paling menyedihkan darimu, Bima? Kamu punya piala perak di tanganmu, tapi kamu lebih tidak punya harga diri daripada aku yang memakai seragam loakan ini."

​Senara maju satu langkah, menatap tepat ke mata Bima yang tersembunyi di balik kacamata mahalnya. "Kamu kalah dari orang yang kamu anggap remeh. Dan rasa sakit dari angka 0,5 itu akan menghantuimu setiap malam. Karena kamu tahu, di atas kertas kamu lebih hebat, tapi dalam kenyataan, kamu tidak punya mental untuk menang di bawah tekanan."

​"Jaga bicaramu!" bentak Bima, langkahnya maju mengintimidasi.

​"Kenapa? Mau memukulku? Atau mau memanggil ayahmu agar membelikan piala emas untukmu?" Senara tertawa getir. "Oh, aku lupa. Ayahmu bahkan tidak mau repot-repot duduk di kursi itu untuk melihatmu gagal."

​Kalimat itu menghantam bagian terdalam dari luka Bima. Ia terdiam, rahangnya mengeras hingga berbunyi. Senara melewatinya begitu saja, meninggalkan aroma sabun cuci murah dan semangat yang membara.

​Bima berdiri sendirian di lorong yang dingin itu. Ia menatap trofi peraknya, lalu dengan gerakan tiba-tiba, ia melempar trofi itu ke dalam tempat sampah besar di sudut lorong. Ia tidak butuh perak. Ia tidak butuh pengakuan sebagai yang kedua.

​Malam itu, Bima pulang ke rumahnya yang seperti istana hantu. Benar saja, ayahnya tidak ada di rumah, hanya ada sebuah catatan di atas meja makan dari asisten ayahnya. “Tuan Adi kecewa dengan hasil olimpiade anda, Tuan muda. Beliau membatalkan makan malam besok. Silakan belajar lebih giat lagi.”

​Bima merobek kertas itu menjadi kepingan kecil. Ia masuk ke kamarnya, mematikan semua lampu, dan duduk di lantai di bawah cahaya bulan yang masuk dari jendela besar. Ia membuka buku catatannya, menuliskan nama "Senara Zafira Atmaja" di halaman paling depan dengan tekanan pulpen yang sangat kuat hingga kertasnya hampir robek.

​"0,5," bisiknya. "Aku akan membayar angka itu dengan kehancuranmu, Senara."

​Sementara itu, di sebuah rumah petak di pinggiran kota, Senara duduk di lantai bersama ibunya. Mereka makan nasi dengan garam dan satu butir telur yang dibagi dua, di bawah cahaya bohlam yang berkedip-kedip karena voltase yang tidak stabil. Piala emas itu diletakkan di tengah meja sebagai pusat gravitasi kebahagiaan singkat mereka.

​Senara menatap piala itu, namun pikirannya melayang pada tatapan mata Bima yang penuh kebencian. Ia tahu, kemenangannya hari ini baru saja membuka kotak pandora. Bima bukan tipe orang yang akan membiarkan kekalahan berlalu begitu saja.

​"Aku harus tetap jadi nomor satu," janji Senara pada dirinya sendiri. "Karena kalau aku jatuh sekali saja, orang-orang seperti Bima akan menginjakku sampai aku tidak bisa bangun lagi."

​Dua remaja itu, di tempat yang sangat berbeda, menutup mata mereka dengan pikiran yang sama, saling mengalahkan. Tidak ada cinta, tidak ada persahabatan. Yang ada hanyalah sebuah obsesi murni untuk menjadi yang teratas di atas penderitaan satu sama lain.

BIMA ARKANA ADHIKARA WIJAYA

SENARA ZAFIRA ATMAJA

BAB 2: Luka di Balik Angka

​Senin pagi di SMP Super Internasional biasanya menjadi panggung bagi Bima untuk berjalan bak pangeran yang baru saja memenangkan peperangan. Namun, hari ini, koridor sekolah yang berlapis marmer itu terasa lebih panjang dari biasanya. Bima melangkah dengan wajah kaku, matanya terpaku lurus ke depan, berusaha mengabaikan tatapan mata teman-temannya yang biasanya penuh kekaguman, kini berganti menjadi bisik-bisik yang tajam.

​Kabar tentang kekalahan Bima di Olimpiade Sains Nasional telah menyebar secepat kilat. Di sekolah elit ini, di mana setiap siswa dituntut untuk menjadi sempurna, dan menjadi nomor dua adalah skandal.

​"Hanya selisih 0,5 poin, katanya," bisik seorang siswi di dekat loker.

​"Tetap saja kalah, kan? Padahal dia sudah ikut kursus privat di Singapura musim panas kemarin," sahut temannya dengan nada meremehkan.

​Bima mengepalkan tangannya di dalam saku celana seragamnya yang disetrika rapi. Ia masuk ke dalam kelas unggulan dan mendapati meja belajarnya sudah penuh dengan tumpukan buku referensi baru yang dikirimkan oleh asisten ayahnya pagi tadi. Di atas tumpukan buku itu, terselip sebuah memo singkat dengan logo perusahaan ayahnya. “Jangan biarkan kesalahan memalukan ini terulang. Nilai harianmu akan dipantau lebih ketat.”

​Tidak ada kata semangat. Tidak ada pertanyaan apakah Bima baik-baik saja. Yang ada hanyalah tuntutan yang semakin mencekik.

​Bima duduk dan membuka buku fisikanya. Ia mulai mengerjakan soal-soal latihan dengan kecepatan yang mengerikan, seolah-olah ia sedang menyiksa dirinya sendiri dengan angka. Setiap kali ia melihat angka desimal, bayangan Senara yang mengangkat piala emas itu muncul kembali.

​"Kamu pikir kamu sudah menang, Senara?" gumam Bima sangat pelan. "Kamu hanya memenangkan satu pertempuran kecil karena keberuntungan nasibmu yang malang."

​Di belahan kota yang lain, SMP Negeri 12 menyambut Senara dengan keriuhan yang berbeda. Di sekolah yang dindingnya sudah mulai mengelupas dan atap laboratoriumnya yang bocor itu, Senara dianggap sebagai pahlawan. Sebuah spanduk darurat dari kain putih bertuliskan “Selamat kepada Senara Zafira Atmaja – Juara 1 Nasional” terpasang di gerbang sekolah.

​Namun, bagi Senara, semua perhatian itu terasa seperti beban tambahan di pundaknya. Saat ia berjalan masuk ke kelas, teman-temannya segera menyerbunya.

​"Nara! Makan-makan dong! Hadiah lombanya kan besar!" seru seorang anak laki-laki dari bangku belakang.

​"Iya, Nara! Traktir kita bakso di depan ya, waktu istirahat nanti!" timpal yang lain.

​Senara hanya bisa tersenyum kaku, senyuman yang bahkan tidak sampai ke mata. Ia memeluk tas kainnya lebih erat, mereka tidak tahu bahwa uang hadiah itu sudah habis sebelum ia sempat menyentuhnya. Sebagian besar ia berikan pada ibunya untuk membayar tunggakan kontrakan selama tiga bulan, dan sisanya digunakan untuk membeli obat asma ibunya yang sudah habis sejak minggu lalu.

​Di saku roknya, hanya tersisa uang dua ribu rupiah, ongkos bus untuk pulang nanti sore. Tidak ada uang untuk bakso, tidak ada uang untuk merayakan apa pun.

​"Maaf, teman-teman. Uangnya sudah aku tabung untuk biaya SMA nanti," bohong Senara dengan suara rendah.

​"Halah, sok rajin banget sih. Bilang saja pelit," cibir salah satu siswi populer di kelas itu, membuat suasana kelas mendadak dingin.

​Senara menunduk, membuka buku catatannya yang penuh dengan coretan rumus. Ia sudah terbiasa dianggap aneh, dianggap sombong, atau dianggap si kutu buku pelit. Ia tidak peduli, ia tidak punya kemewahan untuk peduli pada pendapat orang lain. Fokusnya adalah mempertahankan peringkat satu di sekolah ini agar beasiswanya tetap cair.

​Dua minggu berlalu, dan takdir kembali mempertemukan mereka dalam ajang lomba debat logika matematika tingkat Provinsi. Acara ini diadakan di sebuah aula perpustakaan daerah yang pengap dan penuh debu.

​Bima datang dengan seragam sekolahnya yang mewah, didampingi oleh dua orang guru pendamping yang tampak sangat segan padanya. Sementara Senara datang sendiri, turun dari angkutan umum dengan napas yang sedikit terengah karena ia harus berlari agar tidak terlambat.

​Saat mereka berpapasan di ruang tunggu, Bima sedang duduk di kursi sofa empuk sambil membaca jurnal ilmiah bahasa Inggris. Ia melirik Senara dari atas ke bawah. Senara mengenakan sepatu kets yang bagian depannya mulai jebol, yang berusaha ia tutupi dengan menginjakkan kaki kirinya ke belakang kaki kanan.

​"Masih memakai sepatu yang sama, Senara?" tanya Bima dingin tanpa mengalihkan pandangan dari jurnalnya.

​Senara duduk di kursi kayu keras di seberangnya. "Sepatuku tidak mempengaruhi cara otakku bekerja, Bima. Berbeda denganmu, sepertinya kamu butuh semua kemewahan ini hanya untuk merasa percaya diri."

​Bima menutup jurnalnya dengan suara dentuman yang keras. Ia menatap Senara dengan mata yang berkilat marah. "Kepercayaan diriku berasal dari fakta bahwa aku memiliki kapasitas untuk berada di sini. Sedangkan kamu? Kamu berada di sini karena kamu putus asa, dan orang yang putus asa biasanya akan melakukan kesalahan fatal saat ditekan."

​"Lalu, kenapa justru kamu yang terlihat tegang?" balas Senara tenang. "Apa ayahmu mengancam akan memotong uang sakumu kalau kamu kalah lagi dariku?"

​Rahang Bima mengeras. Senara selalu tahu di mana harus memukul agar terasa paling sakit. Sebelum Bima sempat membalas, panitia memanggil mereka untuk masuk ke ruang debat.

​Mosi debat kali ini adalah tentang "Penerapan Teorema Game Theory dalam Distribusi Kekayaan Nasional". Sebuah topik yang sangat berat untuk anak seusia mereka.

​Bima mengambil posisi. Ia berbicara dengan sangat fasih, suaranya mantap dan penuh wibawa. Ia memaparkan angka-angka makro, kebijakan fiskal, dan efisiensi pasar dengan sangat brilian. Ia tampak seperti seorang menteri keuangan muda yang sedang memberikan pidato kenegaraan. Guru-guru pendampingnya mengangguk puas, Bima merasa di atas angin.

​Namun, saat giliran Senara tiba, suasana ruangan berubah. Senara tidak berbicara tentang angka-angka abstrak di atas kertas.

​"Argumen Bima sangat indah dalam teori, namun buta dalam praktik," buka Senara, ia berdiri dengan tangan yang tidak lagi gemetar. "Bima bicara tentang efisiensi pasar, tapi ia mengabaikan variabel kemiskinan sistemik. Matematika bukan hanya soal hasil akhir yang besar, tapi soal distribusi yang adil. Jika variabel kemanusiaan diabaikan dalam sebuah persamaan, maka hasil akhirnya adalah ketidakseimbangan yang akan menghancurkan sistem itu sendiri."

​Senara membedah setiap argumen Bima dengan logika yang sangat tajam, namun dibungkus dengan empati yang mendalam. Ia menggunakan contoh-contoh nyata dari pasar tradisional, dari kehidupan buruh, hal-hal yang tidak pernah dilihat Bima dari balik jendela mobil mewahnya.

​Bima mencoba melakukan interupsi. "Variabel emosi tidak valid dalam logika matematika, Senara! Kamu hanya menggunakan retorika untuk menutupi kurangnya data teknismu!"

​"Logika tanpa konteks adalah kesombongan, Bima!" balas Senara dengan suara yang meninggi.

​Perdebatan itu berlangsung sengit selama satu jam. Keduanya saling serang, saling menjatuhkan, dan tidak ada yang mau mengalah. Juri tampak kebingungan sekaligus kagum, mereka belum pernah melihat dua anak SMP memiliki pemikiran sekompleks ini.

​Saat hasil akhirnya diumumkan, Bima dinyatakan sebagai pemenang dengan selisih skor yang sangat tipis. Juri menilai teknik penyampaian dan kelengkapan data Bima lebih unggul secara akademis.

​Bima menerima sertifikat juaranya. Namun, saat ia melihat ke arah Senara, ia tidak melihat rahang yang mengeras atau air mata yang menetes. Senara hanya mengangguk pelan, membereskan alat tulisnya, dan bersiap pergi.

​"Kamu menang kali ini," ucap Senara saat mereka berpapasan di pintu keluar. "Tapi kamu tahu sendiri, Bima. Kamu menang bukan karena logikamu lebih benar, tapi karena juri-juri itu berasal dari duniamu yang nyaman, mereka tidak berani menghadapi kenyataan yang aku paparkan."

​Bima terdiam. Ia menatap sertifikat di tangannya. Kemenangan ini seharusnya terasa manis, tapi kata-kata Senara membuatnya terasa hambar. Ia merasa seperti baru saja memenangkan pertandingan yang wasitnya memihak padanya.

​"Senara, tunggu," panggil Bima secara impulsif.

​Senara berhenti namun tidak berbalik.

​"Gunakan ini," Bima menyodorkan sebuah amplop cokelat kecil berisi uang tunai, uang saku tambahannya yang baru diberikan ayahnya pagi tadi. "Belilah sepatu baru, aku tidak mau rivalku terlihat seperti gelandangan di lomba berikutnya."

​Senara berbalik perlahan. Ia menatap amplop itu, lalu menatap mata Bima. Untuk pertama kalinya, Bima melihat rasa sakit yang murni di mata gadis itu, bukan kemarahan.

​"Simpan uangmu, Bima," kata Senara dengan suara yang sangat tenang namun bergetar. "Aku memang miskin, tapi aku tidak sedang menjual harga diriku padamu. Jika kamu ingin membantuku, kalahkan aku dengan jujur di lomba berikutnya, tanpa rasa kasihan sedikit pun."

​Senara pergi, meninggalkan Bima sendirian di koridor perpustakaan yang remang-remang. Bima meremas amplop cokelat itu, ia merasa sangat bodoh. Ia ingin menghina Senara, tapi malah berakhir merasa lebih rendah dari gadis itu.

​Malam itu, Bima pulang ke rumah dan mendapati ayahnya sedang mengadakan pesta kecil dengan rekan-rekannya. Bima mencoba menunjukkan sertifikat juaranya, namun ayahnya hanya melirik sekilas.

​"Hanya tingkat Provinsi? Beritahu Papa kalau kamu sudah menang tingkat internasional lagi," ucap Adi Wijaya sambil tertawa bersama temannya.

​Bima masuk ke kamarnya, melempar sertifikat itu ke lantai, dan mematikan lampu. Di kegelapan, ia membayangkan Senara yang mungkin sedang berjalan kaki pulang di bawah rintik hujan dengan sepatu jebolnya.

​Di tempat lain, Senara memang sedang berjalan kaki. Kakinya lecet dan perih, namun ia terus melangkah, menatap langit malam, mencari bintang yang paling terang.

​"0,5 poin di tingkat nasional, dan kalah tipis di tingkat provinsi," bisik Senara. "Tunggu saja, Bima. Di ujian akhir semester nanti, aku akan membuat selisihnya begitu jauh sampai kamu tidak bisa mengejarku lagi."

​Dua jiwa itu terus mengasah pikiran mereka dalam kesunyian. Mereka saling membenci, namun secara tidak sadar, mereka saling membutuhkan untuk tetap memiliki alasan untuk berjuang. Peringkat satu bukan lagi sekedar angka, melainkan harga diri yang dipertaruhkan di atas luka batin yang tak kunjung sembuh.

BAB 3: Menumpuk Tahta di Atas Kertas

​Awal semester ganjil di kelas dua SMP seharusnya menjadi waktu bagi para siswa untuk mulai memikirkan kenangan masa remaja. Namun, bagi Bima dan Senara, ini adalah awal dari musim perburuan. Poin-poin prestasi akademik bukan lagi sekedar angka, melainkan tumpukan batu bata yang mereka susun untuk membangun benteng pertahanan. Siapa pun yang memiliki tumpukan paling tinggi di akhir semester, dialah yang akan memegang kunci menuju SMA terbaik di negeri ini.

​Di SMP Super Internasional, Bima memulai harinya dengan rutinitas yang membosankan namun mematikan. Pukul tujuh pagi, ia sudah duduk di perpustakaan sekolah yang sepi, mengulas materi Kalkulus yang sebenarnya baru akan diajarkan dua bulan lagi. Ia tidak bisa memberikan celah sedikit pun. Di sekolah ini, anak-anak orang kaya lainnya mulai menyewa konsultan pendidikan dari luar negeri untuk mengejar posisinya.

​"Bima, ini daftar proyek sains kolaborasi untuk bulan depan," ucap Darmono, guru Fisika sekaligus koordinator prestasi sekolah. Ia meletakkan sebuah map di depan Bima. "Sekolah ingin kamu memimpin tim. Jika proyek ini menang di tingkat provinsi, poinmu akan sulit dikejar oleh siapa pun di angkatan ini."

​Bima menatap map itu dengan mata yang sedikit sembab karena kurang tidur. "Siapa saja anggota timnya, Pak?"

​"Pilih saja siapa pun yang kamu mau, semua anak di sekolah ini akan merasa terhormat jika satu tim denganmu," jawab Darmono dengan nada yang terdengar seperti penjilat.

​Bima mendengus pelan. Ia tahu bahwa satu tim dengannya berarti ia yang akan mengerjakan sembilan puluh persen tugasnya, sementara yang lain hanya akan menumpang nama dan membayar biaya operasional. Namun, ia tidak peduli. Ia hanya butuh poin itu, ia butuh daftar prestasinya terlihat begitu berkilau sehingga ayahnya tidak punya alasan untuk mencaci-makinya saat makan malam singkat mereka yang langka.

​"Saya akan kerjakan sendiri, Pak. Saya tidak butuh tim yang hanya akan memperlambat logika saya," ujar Bima dingin.

​Darmono tertegun, namun ia hanya bisa mengangguk. Di sekolah ini, Bima adalah aset yang lebih berharga daripada gedung laboratorium itu sendiri.

​Di belahan kota yang lain, Senara sedang berdiri di depan papan pengumuman SMP Negeri 12. Namanya tercantum sebagai peringkat satu umum untuk hasil tes diagnostik awal semester. Namun, di bawah namanya, ada coretan spidol merah yang bertuliskan. "Anak kesayangan guru, pantas saja, dapat bocoran soal."

​Senara menghela napas, ia menghapus coretan itu dengan ujung seragamnya yang kasar. Tuduhan seperti itu sudah menjadi makanannya sehari-hari. Mereka tidak tahu bahwa setiap malam, Senara harus belajar di antara suara gaduh tetangganya yang bermain kartu atau suara tv tua yang volumenya dipaksakan maksimal.

​"Nara, dipanggil Bu kepsek ke ruangan," lapor seorang siswa dengan nada malas.

​Senara merapikan rambutnya dan berjalan menuju ruang kepala sekolah. Di sana, ia ditawari sebuah tantangan yang berat.

​"Senara, sekolah kita terpilih untuk ikut Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR). Tapi, jujur saja, anggaran sekolah sangat terbatas. Sekolah tidak bisa membelikan alat-alat laboratorium yang canggih atau bahan kimia mahal," ucap Maria, kepala sekolah, dengan raut wajah menyesal. "Tapi jika kamu bisa memenangkan ini dengan bahan-bahan seadanya, poinmu untuk jalur prestasi SMA akan sangat aman. Kamu tahu sendiri, sainganmu dari sekolah elit itu pasti punya fasilitas lengkap."

​Senara terdiam sejenak. Ia memikirkan Bima, ia membayangkan Bima sedang duduk di lab mewahnya dengan mikroskop elektron dan sensor laser terbaru. Sementara dia? Dia mungkin hanya punya botol plastik bekas dan kertas lakmus sisa tahun lalu.

​"Saya akan coba, Bu. Saya akan cari cara agar logika saya lebih kuat daripada alat-alat mahal mereka," jawab Senara dengan keyakinan yang dipaksakan.

​Setelah informasi lomba itu, kehidupan mereka berubah menjadi seperti mesin. Bima menghabiskan jutaan rupiah untuk membeli jurnal-jurnal penelitian internasional agar proyek sainsnya memiliki landasan teori yang tak terbantahkan. Ia sering berada di laboratorium sekolah hingga penjaga sekolah harus mengusirnya pulang pada pukul tujuh malam.

​Suatu sore, Bima sedang mengamati reaksi kimia di dalam tabung reaksi ketika asisten ayahnya menelpon.

​"Tuan Muda, Tuan Adi berpesan agar Anda tidak hanya fokus pada satu proyek. Beliau ingin Anda juga mengambil sertifikasi bahasa Mandarin tingkat lanjut semester ini. Beliau bilang, juara sains saja tidak cukup untuk menjadi pemimpin perusahaan di masa depan."

​Bima melempar pipetnya ke meja. "Bilang pada Papa, aku bukan robot yang bisa diprogram dengan sepuluh perintah sekaligus!"

​"Maaf, Tuan Muda. Saya hanya menyampaikan pesan. Beliau bilang, jika Anda tidak bisa melakukannya, mungkin liburan akhir tahun Anda ke Swiss harus dibatalkan dan diganti dengan kelas tambahan."

​Bima mematikan teleponnya dengan kasar. Ia menatap pantulan wajahnya di kaca laboratorium. Ia terlihat lelah, kantung matanya menghitam, dan wajahnya tampak lebih tua dari remaja usia empat belas tahun lainnya. Namun, ia kembali mengambil pipetnya. Ketakutannya akan kekecewaan ayahnya jauh lebih besar daripada rasa lelahnya.

​Di tempat lain, Senara sedang mengumpulkan sampel air sungai yang kotor di dekat pasar, ia menggunakan botol bekas selai yang sudah dibersihkan. Rencananya adalah membuat alat filtrasi air bertenaga surya dari barang-barang bekas untuk proyek LKIR-nya.

​Bau air sungai itu sangat menyengat, dan beberapa orang pasar meneriakinya karena dianggap menghalangi jalan.

​"Ngapain sih, Dek, main air got kok pakai seragam?" ejek seorang pedagang sayur.

​Senara tidak membalas, ia fokus mencatat tingkat kekeruhan air tersebut. Tiba-tiba, gerimis turun. Senara buru-buru membungkus botol-botolnya dengan plastik. Ia harus berjalan kaki satu kilometer menuju warnet terdekat untuk mencari jurnal pendukung, karena ia tidak punya kuota internet di ponselnya yang layarnya retak.

​Di warnet, Senara duduk di pojok yang paling gelap agar tidak diganggu. Ia hanya punya uang lima ribu rupiah, yang berarti ia hanya punya waktu satu jam untuk mengunduh semua materi yang ia butuhkan. Jarinya bergerak sangat cepat di atas keyboard yang tombolnya sudah terkelupas.

​Saat sedang asyik membaca sebuah artikel ilmiah internasional, ia melihat sebuah nama yang familiar di kolom komentar diskusi jurnal tersebut. Bima_Wijaya99.

​Bima sedang mendebat seorang profesor dari universitas di luar negeri tentang teori termodinamika. Komentarnya sangat tajam, sombong, dan menunjukkan betapa banyak buku yang sudah ia baca.

​Senara tersenyum getir. "Jadi kamu ada di sini juga, Bima? Kamu sedang membangun bentengmu dengan emas, ya?"

​Senara ingin membalas komentar itu, ingin menunjukkan bahwa logika Bima memiliki celah. Namun, pengingat waktu di layar monitor warnet berbunyi. Waktunya habis, ia harus pergi sebelum tagihannya membengkak.

​Minggu berikutnya, sekolah mereka mengadakan "Simulasi Ujian Gabungan" yang diikuti oleh beberapa sekolah menengah di wilayah tersebut. Meskipun hanya simulasi, bagi Bima dan Senara, ini adalah medan latihan untuk saling menjatuhkan mental.

​Hasilnya keluar tiga hari kemudian. Di papan pengumuman gabungan yang diunggah secara online, nama mereka kembali berdampingan.

​1. Bima Arkana Adhikara Wijaya (Skor: 99,5)

Senara Zafira Atmaja (Skor: 99,2)

​Hanya selisih 0,3 poin.

​Bima menatap layar ponselnya di dalam mobil, ia tidak merasa lega meskipun berada di peringkat satu, selisih itu terlalu tipis. Itu artinya, satu kesalahan kecil saja dalam memilih jawaban pilihan ganda bisa membuatnya terjungkal.

​"Dia mengejarku lagi," desis Bima. "Bahkan tanpa buku-buku mahal, dia bisa mendapatkan skor 99,2?"

​Sementara itu, Senara yang melihat hasil itu di ponsel milik temannya, merasa sedikit kecewa namun tetap bersemangat. "0,3 poin... sedikit lagi. Aku hanya butuh lebih banyak waktu untuk belajar, dan aku akan melampauinya."

​Persaingan mereka di awal semester ini menjadi semakin personal. Mereka berdua sama-sama menimbun nilai, menimbun prestasi, dan menimbun rasa lelah. Di sekolah masing-masing, mereka dipuja sebagai bintang, namun di dalam hati, mereka merasa seperti tahanan yang sedang berusaha membeli kebebasan dengan nilai-nilai sempurna.

​Luka batin mereka belum sembuh, malah tertutup oleh tumpukan kertas ujian dan laporan praktikum. Dan mereka tidak sadar, bahwa semakin tinggi mereka membangun benteng itu, semakin keras pula benturan yang akan terjadi saat mereka akhirnya bertemu kembali di lomba tingkat provinsi bulan depan.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!