Indonesia
NovelToon NovelToon

Apocalypse Regression: Harem In The Zombie World

Kembali ke Hari Sebelum Apocalypse Dimulai

Sinar matahari musim semi menembus kaca jendela kelas 3-A SMA Fujimi, memantulkan debu-debu halus yang menari di udara yang tenang seperti partikel bintang jatuh. Suara dengung kipas angin di langit-langit bergelombang pelan, menyatu dengan suara monoton guru sejarah yang mengalir seperti aliran air yang tidak pernah berubah arah – sebuah melodi pengantar tidur yang bekerja terlalu baik bagi sebagian besar siswa yang sudah mulai menguap atau menyandarkan kepala di atas meja.

Yuuichi Shiro terbangun dengan napas tersengal, bahunya melompat ke atas seolah terkena kejutan dari dalam diri sendiri. Jantungnya berdegup kencang, kerasnya terdengar di telinganya sendiri seperti gendang perang yang dipukul tanpa jeda. Ia merasa seperti baru saja berlari melintasi gurun yang tak berujung, atau bahkan lebih buruk – berlari dari sesuatu yang mengincar nyawanya di dalam kegelapan yang pekat.

Keringat dingin membasahi tengkuknya, menetes perlahan di atas bekas luka lama yang membentang dari leher hingga bahu kiri – bekas yang selalu ia tutupi dengan kerah tinggi jaket kulit hitamnya yang sudah sedikit aus di sudut-sudutnya.

Matanya yang berwarna merah pekat – warna yang ia selalu sembunyikan di balik tatapan yang terlihat malas dan tidak peduli – kini bergetar hebat, menembus setiap sudut kelas seperti sedang mencari sesuatu yang hilang. Ia melihat tangannya dengan tatapan yang penuh ketakutan dan harapan bercampur. Kulitnya halus, tanpa noda darah yang pernah mengering di sana, tanpa bekas luka bakar yang menyakitkan akibat ledakan yang menghancurkan laboratorium, tanpa rasa dingin menusuk tulang yang pernah diberikan oleh virus Chimera yang merobek sel tubuhnya satu per satu.

"Aku... kembali?"

Bisikannya sangat pelan, hampir tidak terdengar di tengah riuh rendah suara murmur siswa dan dengungan kipas angin. Bibirnya sedikit menggigil saat ia melihat sekeliling kelas – meja-meja yang rapi, papan tulis yang penuh dengan catatan tentang Restorasi Meiji, tas-tas sekolah yang bersusun rapi di bawah kursi. Semuanya sama seperti dulu. Semuanya masih normal.

Ia menoleh ke samping, pandangannya langsung tertuju ke barisan depan. Di sana, Sakura Hoshino duduk dengan punggung tegap, ikat kepala hitam-merahnya yang selalu ia kenakan tepat di tengah dahi membuat helai rambut hitamnya tampak lebih rapi. Gadis itu sedang mencatat dengan tekun, tangan kirinya yang memegang pulpen bergerak dengan ritme yang teratur, sementara tangan kanannya menyusun buku catatan dengan hati-hati.

Pemandangan itu begitu biasa saja, begitu damai hingga membuat dada Yuuichi terasa sesak dan menyakitkan. Ia masih bisa merasakan sensasi menyakitkan di ujung jarinya – sensasi menyentuh wajah Sakura yang penuh dengan darah dan debu saat ia menghancur di tangan monster yang tak dikenal di kehidupan sebelumnya.

Tiba-tiba, sebuah suara sangat familiar menyambar langsung ke dalam kesadarannya – suara feminim dengan nada tajam yang selalu bisa membuat darahnya mendidih dan merindukan pada saat yang sama.

[ SISTEM PENDAKIAN APOKALIPS TELAH DIAKTIFKAN ]

"Oh, lihat siapa yang akhirnya bangun dari tidur cantiknya. Kau terlihat benar-benar menyedihkan, Kakak Bodoh. Apa kau sedang mencoba mengingat bagaimana cara bernapas – ataukah kau sudah lupa karena terlalu lama tenggelam di dalam mimpi burukmu?"

Yuuichi memejamkan mata sejenak, sebuah senyum tipis menyelimuti bibirnya – senyum yang penuh dengan kerinduan dan sedikit kesal. Miu. Masih sama seperti dulu, selalu menyindir namun selalu ada di sana ketika ia membutuhkannya.

"Miu, berapa lama lagi?" – tanyanya dalam hati, tidak perlu mengeluarkan suaranya.

"Enam menit tiga puluh dua detik sebelum acara utama dimulai. Jangan hanya duduk seperti patung kayu yang ditempatkan di taman. Statusmu sekarang memang cukup memuaskan... untuk seorang warga sipil yang dalam hitungan menit akan menjadi makanan untuk makhluk yang tidak punya hati nurani."

Sebuah layar transparan berwarna biru pucat muncul perlahan di depan matanya – hanya bisa dilihat olehnya sendirian. Garis-garis tulisan muncul satu per satu dengan efek cahaya yang lembut.

STATUS KARAKTER

Nama: Yuuichi Shiro

Level: 1

Poin Atribut: 0

ATRIBUT DASAR

Kekuatan (STR): 15

Kelincahan (AGI): 18

Ketahanan (VIT): 12

Kecepatan (SPD): 17

Penyembuhan (REC): 10

Kecerdasan (INT): 20

KETERAMPILAN AKTIF

- Pernapasan Matahari (Tingkat 1)

- Taekwondo Jin Mori (Tingkat 1)

- Keahlian Memasak (Tingkat 3)

Sebuah aliran energi hangat mulai merambat dari bagian tengah dadanya, menyebar perlahan ke seluruh ujung sarafnya seperti air hangat yang mengalir melalui pipa. Itu adalah efek dari paket hadiah yang diberikan oleh dewa sistem sebelum ia dikirim kembali ke masa lalu – sesuatu yang sudah terintegrasi dengan baik ke dalam tubuhnya meskipun levelnya masih rendah.

Ia berdiri secara tiba-tiba, membuat kaki kursinya yang terbuat dari kayu mengeluarkan suara decit yang keras di lantai kayu kelas. Seluruh kelas tiba-tiba sunyi – bahkan siswa yang sedang tertidur pun terbangun kaget. Pak Takagi, guru sejarah yang sedang menjelaskan tentang perubahan sosial setelah Restorasi Meiji, berhenti berbicara dan membetulkan letak kacamatanya yang tergeser.

"Shiro-kun? Ada masalahkah denganmu?" – tanya Pak Takagi dengan nada yang bingung namun tetap sopan.

Yuuichi tidak menjawab langsung. Matanya beralih ke jendela besar di sisi kanan kelas, menatap jauh ke arah gerbang sekolah yang terletak di bagian depan kompleks. Di sana, seorang pria berpakaian lusuh dengan baju yang sobek-sobek sedang berdiri di depan pagar besi. Ia membenturkan kepalanya ke jeruji baja secara terus-menerus – thump... thump... thump – dengan kekuatan yang luar biasa. Darah mulai melumuri permukaan besi yang dingin, namun pria itu tidak menunjukkan tanda-tanda berhenti. Beberapa guru yang sedang berjalan di halaman mulai mendekat dengan langkah khawatir, ingin memeriksa apa yang terjadi pada pria itu.

Yuuichi tahu persis apa yang akan terjadi selanjutnya. Guru pertama yang berani menyentuh bahu pria itu akan kehilangan lehernya dalam hitungan detik – rahang makhluk itu akan menggigit dengan kekuatan yang cukup untuk memotong tulang leher seperti pisau memotong mentega.

"Pak," – suara Yuuichi terdengar dalam dan tenang, namun ada kekuatan tersembunyi di dalamnya yang membuat seluruh kelas seketika benar-benar sunyi. "Tutup semua jendela dan kunci pintu kelas sekarang juga. Jangan tunda-tunda."

"Apa maksudmu dengan omongan itu, Shiro? Jangan sekali-kali bercanda di jam pelajaran saya. Kita sedang membahas materi penting yang akan keluar di ujian nasional –"

"LAKUKAN!"

Yuuichi membentak dengan suara yang menusuk, dan untuk sesaat, warna merah matanya berubah menjadi biru es yang sangat tajam. Suatu aura tegang dan menakutkan terpancar dari tubuhnya – cukup kuat untuk membuat Pak Takagi mundur selangkah hingga punggungnya menabrak papan tulis putih, membuat beberapa kapur terjatuh ke lantai.

Sakura Hoshino – sang ketua klub bela diri yang selalu dikenal dengan ketenangan dan kebijaksanaannya – berdiri dengan cepat dari kursinya. Matanya yang besar berwarna coklat tua menatap Yuuichi dengan tatapan penuh keheranan dan sedikit kekhawatiran.

"Shiro-kun, ada apa denganmu? Kau terlihat sangat berbeda dari biasanya. Seperti... seperti kau sudah mengetahui sesuatu yang tidak kita ketahui."

Yuuichi menatap Sakura, dan dalam sekejap, seluruh kenangan tentang masa lalu yang menyakitkan menghantam dirinya – bagaimana ia melihat gadis ini berjuang sendirian, bagaimana ia tidak bisa sampai tepat waktu untuk menyelamatkannya. Namun sekarang bukan saatnya untuk nostalgia atau penyesalan.

Ia berjalan mendekat ke arah Sakura, melewati meja-meja siswa yang masih kebingungan dan mulai berbisik satu sama lain. Saat ia berdiri tepat di depan gadis itu, tinggi badannya yang 185 cm membuat Sakura harus sedikit mengangkat kepala untuk melihat matanya.

Tanpa berkata apa-apa, Yuuichi mengulurkan tangan kanannya, menyentuh lembut ikat kepala merah yang dikenakan Sakura. Ia merapikannya dengan hati-hati, menyelaraskan bagian yang sedikit bergeser karena gerakan gadis itu saat menulis. Sentuhan itu lembut namun penuh makna – seperti sebuah janji dan peringatan pada saat yang sama.

"Sakura, ambil pedang kayumu yang selalu kamu simpan. Kiamat tidak akan menunggu kita sampai kita merasa siap menghadapinya."

"Heh, romantis sekali ya Kakak. Apa kau ingin aku memutar musik latar untuk momen drama yang penuh dengan sentuhan menyentuh hati ini? Bisa saja aku putar lagu slow yang cocok untuk adegan cinta di tengah akhir dunia lho."

Diam saja, Miu. Siapkan Inventaris untukku. Aku butuh Pedang Nichirin segera setelah segala sesuatunya mulai berantakan. – perintah Yuuichi dalam hati, sambil tetap memegang pandangan dengan Sakura.

Di luar kelas, sebuah teriakan melengking tiba-tiba memecah keheningan yang sudah mulai terasa tegang di sekolah. Teriakan yang penuh dengan rasa sakit yang luar biasa dan kengerian yang murni – suara yang tidak mungkin keluar dari mulut manusia yang normal.

Yuuichi menoleh cepat ke arah jendela tepat saat melihat guru olahraga mereka, Pak Suzuki, terguling di tanah dengan tenggorokan yang robek lebar. Darah mengalir deras ke atas rumput halus halaman sekolah, sementara 'pria' yang tadi membenturkan kepalanya ke pagar sekarang sedang mengoyak daging Pak Suzuki dengan tangan yang sudah berubah bentuk menjadi cakar panjang dan tajam.

Kekacauan sungguhan telah dimulai.

Siswa-siswa di kelas mulai berhamburan ke arah jendela, beberapa di antaranya menjerit histeris saat melihat pemandangan berdarah di luar sana. Suara jeritan dan teriakan mulai terdengar dari koridor dan kelas-kelas lain di sekitar mereka.

Yuuichi tetap berdiri tenang di tengah badai kepanikan yang mulai melanda. Ia mengambil jaket kulit hitamnya yang tersampir di sandaran kursinya, mengenakannya dengan gerakan yang lancar dan tertata – seperti seseorang yang sudah melakukan hal itu ribuan kali sebelumnya. Kulit jaket yang hangat menyelimuti tubuhnya, memberikan rasa nyaman yang ia butuhkan di saat seperti ini.

"Misi Utama sudah muncul belum, Miu?"

"Tentu saja sudah, Kakak. Selamat datang di hari pertama dari sisa hidupmu yang akan penuh dengan darah dan pertempuran. Semoga kau menikmatinya."

[ MISI UTAMA DIAKTIFKAN: SURVIVAL SEKOLAH ]

- Tujuan: Amankan keamanan Chika Kudou (berada di Ruang UKS) dalam waktu 10 menit.

- Hadiah: 5 Poin Atribut & Peningkatan Tingkat Keterampilan Pernapasan Matahari.

- Kegagalan: Kehilangan akses ke sumber daya medis utama dan penurunan stabilitas mental secara drastis bagi seluruh kelompok yang akan terbentuk.

Yuuichi menyeringai tipis – sebuah senyum yang tampak berbahaya namun juga sedikit menawan. Bibirnya sedikit menggerutu. "Chika-sensei, ya? Tunggu saja, aku sudah datang untukmu."

Ia menoleh kembali ke arah Sakura yang masih berdiri dengan wajah pucat, matanya menatap tak bergerak ke arah jendela di mana seorang siswa baru saja ditarik keluar oleh tiga sosok yang sudah tidak bisa disebut manusia lagi. Yuuichi mencengkeram bahu Sakura dengan cukup kuat, memberikan sedikit tekanan untuk membawanya kembali ke realitas yang menyakitkan ini.

"Ikut aku jika kau benar-benar ingin tetap hidup, Sakura. Dan jangan pernah sekali-kali lepaskan pandanganmu dari diriku. Jangan menyimpang dari jalan yang akan kutunjukkan."

Koridor SMA Fujimi yang biasanya dipenuhi dengan tawa siswa, suara tertawa yang riang, dan langkah kaki ringan saat mereka berlari dari satu kelas ke kelas lain – kini telah berubah menjadi lorong kegelapan dan kematian dalam hitungan detik saja. Suara kaca yang pecah berkumandang seperti petasan, bersahutan dengan jeritan histeris dari dalam kelas-kelas tetangga. Bau tembaga dari darah segar mulai menguar di udara, menggantikan aroma parfum siswa dan wewangian yang biasanya memenuhi koridor. Udara yang sebelumnya terasa membosankan dan hangat kini terasa berat dan menusuk hidung.

Yuuichi tidak punya waktu untuk membuang-buang tenaga. Ia menyambar tas sekolahnya yang terletak di atas meja – bukan untuk mengambil buku atau alat tulis, melainkan untuk memberikan sedikit beban pada ayunan tangannya jika diperlukan dalam pertempuran. Matanya bergerak cepat, mengamati setiap sudut koridor saat ia berjalan, sementara Sakura mengikuti di belakangnya dengan langkah yang sedikit gemetar.

Wajah cantik Sakura – yang biasanya selalu penuh dengan semangat dan senyum – kini tampak pucat seperti kain kertas, matanya yang besar menatap nanar ke arah jendela koridor di mana seorang siswi kelas dua baru saja ditarik keluar oleh makhluk yang kulitnya sudah berubah menjadi warna kebiruan pucat.

"Sakura! Fokuslah!"

Yuuichi meraih jemari tangan Sakura dengan cepat, meremasnya cukup kuat untuk menyampaikan kehangatan dari tubuhnya sekaligus sebagai peringatan agar gadis itu tidak lagi terpana. Kulit Sakura terasa dingin karena ketakutan, namun ada kekerasan tersembunyi di dalamnya yang membuat Yuuichi merasa lega.

"Pedangmu – di mana kamu menyimpan pedang kayumu?"

Sakura mengerjap mata dengan cepat, napasnya tersengal seperti baru saja tercekik. Ia menunjuk ke arah belakang kelas dengan tangan yang sedikit gemetar. "Di... di dalam loker belakang kelas milikku. Tapi Yuuichi-kun, apa yang sebenarnya sedang terjadi di sini? Guru Pak Suzuki tadi... dia benar-benar memakan orang!"

Yuuichi menghela napas pelan, tidak bisa menyalahkan Sakura karena merasa kaget. Siapa yang bisa menyangka bahwa dunia yang damai bisa berubah menjadi tempat surgawi dalam sekejap?

"Dunia sudah berubah, Sakura. Dan jika kau tidak bergerak sekarang juga, kau akan menjadi bagian dari kegilaan yang sudah mulai menyebar di mana-mana ini."

Tanpa menunggu jawaban lagi, Yuuichi berjalan dengan langkah lebar namun tetap waspada ke arah loker kayu yang terletak di sudut belakang kelas. Ia membuka pintu loker milik Sakura dengan sedikit kekuatan – kuncinya sudah tidak bisa digunakan lagi karena ia tidak punya waktu untuk mencari kunci. Di dalam loker, sebuah bokken (pedang kayu) yang terbuat dari kayu ek merah yang kokoh terletak rapi di atas bungkusan serbaguna.

Ia menyerahkan pedang kayu itu kepada Sakura, sementara di dalam pikirannya ia memanggil Miu lagi.

Miu, buka Inventaris. Keluarkan Pedang Nichirin untukku sekarang juga.

"Dimengerti, Kakak Bodoh. Sedang menarik barang dari celah dimensi penyimpanan... Jangan salahkan aku jika kamu merasakan sentuhan dingin di dalam kepalamu ya – celahnya memang sedikit dingin seperti lemari es yang tidak pernah dihidupkan."

[ ITEM DIKELUARKAN: PEDANG NICHIRIN (VARIAN BIRU ES) ]

Sebuah pendaran cahaya berwarna biru redup muncul perlahan di genggaman kanan Yuuichi, mulai dengan titik kecil yang kemudian membesar dan memadat menjadi bentuk yang jelas. Sebuah katana dengan sarung pedang berwarna hitam legam muncul di tangannya – gagang pedangnya memiliki ukiran motif es yang tampak se

Jalan Menjadi Penyelamat atau Kematian

Keheningan yang mencekam menyelimuti ruang UKS setelah pintu kayu tebal itu kembali terkunci dan dibarikade dengan lemari obat berat yang digeser bersama-sama. Di luar, suara garukan kuku kasar pada dinding beton seperti gergaji yang mengikis logam, diselingi erangan parau yang membuat kulit merinding – namun di dalam ruangan ini, waktu seolah berjalan dengan kecepatan yang jauh lebih lambat. Bau antiseptik yang tajam dari cairan pembersih menyengat hidung, berusaha gigih menutupi aroma kematian dan darah yang dibawa Yuuichi dari koridor yang sudah berubah menjadi medan perang.

Chika Kudou masih membenamkan wajahnya di dada Yuuichi, tubuhnya yang mungil tampak gemetar hebat seperti sedang berada di tengah badai salju. Yuuichi bisa merasakan getaran dari dada wanita itu yang berdenyut kencang, serta tetesan air mata hangat yang perlahan meresap melalui bahan jaket kulit hitamnya, menembus hingga ke kulitnya yang masih sedikit hangat akibat teknik Pernapasan Matahari. Ia tidak mendorongnya – tidak sekarang, tidak ketika guru yang pernah memberikan dia tempat berlindung dari dunia yang kejam itu sedang membutuhkan dukungan.

Tangannya yang masih memegang katana biru es perlahan menggerakkan sarung pedang, menyelaraskan bilah yang dingin dengan lubangnya dengan gerakan yang lembut dan hati-hati agar tidak membuat suara yang mengejutkan.

Klik.

Suara logam yang bertemu dengan sarungnya terdengar jelas di dalam ruangan yang sunyi, seperti sebuah tanda bahwa ancaman langsung telah berlalu – sekaligus peringatan bahwa mereka masih jauh dari aman.

"Sudah cukup, Sensei. Tarik napas dalam-dalam, perlahan saja," bisik Yuuichi dengan suara yang lembut namun tetap memiliki ketegasan yang mampu menenangkan. Suaranya tidak lagi dingin seperti saat ia menghadapi makhluk-makhluk itu di luar, melainkan kembali memiliki nada yang dikenal oleh para siswa di sekolah.

Chika perlahan mendongak, wajahnya yang biasanya selalu rapi dan bersih kini tampak berantakan – rambut pirangnya sedikit kusut, dan ada noda kecil debu di pipinya yang putih. Mata cokelatnya yang biasanya hangat seperti sinar matahari kini memerah dan sembab karena menangis. Ia menatap wajah Yuuichi dengan tatapan bingung, seolah sedang mencari sosok siswa malas yang sering tidur di belakang kelas atau menghilang saat jam pelajaran mulai bosan – namun yang ia temukan hanya sepasang mata merah dalam yang menyimpan kedalaman pengalaman yang tidak mungkin dimiliki oleh seorang siswa SMA biasa.

"Shiro-kun... tanganmu..." – Chika berbisik dengan suara yang masih menggigil, seraya meraih tangan kanan Yuuichi dengan jemari yang tipis dan masih gemetar. Sebagai seorang petugas medis yang telah terlatih dengan baik, insting untuk membantu dan merawat muncul dengan sendirinya, bahkan di tengah ketakutan yang menyelimuti dirinya. "Ada darah di sini."

"Ini bukan darahku," jawab Yuuichi dengan kalimat yang singkat namun jelas. Ia membiarkan Chika memegang tangannya, merasakan sentuhan lembut kulit wanita itu yang begitu kontras dengan kekerasan dan kejamannya yang baru saja ia lakukan di luar ruangan. Jari-jari Chika dengan hati-hati menyapu permukaan tangannya yang sedikit kotor, membersihkan noda cairan hitam pekat yang menempel di sana.

Di sudut ruangan yang jauh dari meja kerja, Sakura Hoshino berdiri dengan tubuh yang sedikit membungkuk, napasnya masih memburu seperti baru saja berlari sejauh kilometer. Ia memegang pedang kayunya dengan kedua tangan begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih dan uratnya menonjol. Matanya yang besar beralih dari Yuuichi ke arah jendela pintu yang buram, di mana bayangan beberapa mayat yang membeku akibat teknik es Yuuichi masih terlihat jelas. Bibirnya sedikit menggigil, namun tidak ada lagi tangisan atau histeria yang muncul darinya.

"Yuuichi-kun... apa yang akan kita lakukan sekarang? Kita tidak bisa terus berlindung di sini kan? Mereka..." – Sakura menoleh ke arah Yuuichi, matanya menunjukkan ketakutan namun juga kesediaan untuk menghadapi apa pun. "Mereka akan terus datang, dan suatu saat nanti pintu ini tidak akan mampu menahan mereka lagi."

Suaranya terdengar jauh lebih stabil daripada sebelumnya, tanpa nada gemetar yang terlihat saat mereka pertama kali keluar dari kelas – menunjukkan kekuatan mental yang dimiliki oleh seorang atlet bela diri yang telah terbiasa menghadapi tantangan dan tekanan.

Yuuichi perlahan melepaskan pelukan Chika, namun tangannya tetap berada di bahu guru itu untuk memastikan dia tetap berdiri dengan tegak dan tidak pingsan akibat syok. Ia berjalan dengan langkah mantap menuju meja kerja yang rapi milik Chika, mengambil sebuah peta denah sekolah yang terlipat rapi di sudut meja – peta yang biasanya digunakan untuk simulasi evakuasi saat terjadi kebakaran atau bencana alam. Ia membukanya dengan hati-hati, menyebarkannya di atas meja yang bersih dari noda darah atau kotoran.

"Menganalisis rute tercepat ke berbagai titik penting sekolah... Kakak, jika kau berniat menjadi pahlawan yang menyelamatkan seluruh siswa dan guru di sini, aku sarankan untuk melupakan ide itu sekarang juga. Tapi jika tujuanmu adalah menjemput si jenius sombong yang selalu merasa paling pintar di sekolah ini, kau harus melewati area laboratorium kimia di lantai dua."

Rina Suzuki. Nama itu muncul dengan sendirinya di benak Yuuichi. Gadis itu memang sering menyebalkan dengan sikapnya yang sombong dan logika yang selalu membuat semua orang merasa kalah, tapi otaknya yang cerdas adalah aset berharga yang tidak bisa ia biarkan hancur oleh virus yang tidak punya pikiran sama sekali. Di kehidupan sebelumnya, Rina adalah orang yang menemukan cara untuk memperlambat penyebaran virus dan membuat obat penahan sementara – sesuatu yang sangat penting untuk kelangsungan hidup mereka.

Yuuichi menoleh perlahan ke arah Sakura yang masih berdiri di sudut ruangan. Ia bisa melihat bahwa meskipun sudah lebih stabil, gadis itu masih dalam keadaan syok pasca-trauma setelah melihat pemandangan yang mengerikan di koridor. Tanpa berkata apa-apa, Yuuichi mengulurkan tangannya, menggunakan ibu jarinya untuk mengusap lembut pipi kanan Sakura yang terkena sedikit cipratan cairan hitam pekat dari tubuh salah satu makhluk yang mereka kalahkan.

"Kau melakukannya dengan sangat baik tadi, Sakura. Tanpamu yang membantu menghadapi makhluk di belakangku, aku mungkin akan terhambat di koridor dan tidak akan sampai tepat waktu untuk menyelamatkan Sensei," puji Yuuichi dengan nada rendah yang hanya bisa didengar oleh gadis itu. Sentuhan tangannya di pipi Sakura lembut, seperti ingin menunjukkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Pipi Sakura sedikit memerah dengan warna merah muda yang lembut di tengah wajahnya yang masih pucat. Ia menundukkan kepala sedikit, merasa sedikit malu namun juga terhibur oleh pujian dari Yuuichi. "Aku... aku hanya mencoba tidak menjadi beban bagimu. Aku tidak bisa hanya berdiri diam dan melihatmu berjuang sendirian."

"Ohoho! Poin kasih sayang antara kamu dan Sakura Hoshino meningkat sebanyak 15 poin lho, Kakak. Sekarang dia merasa dilindungi namun juga dihargai karena kontribusinya. Apa kau ingin aku memunculkan indikator 'Hubungan Cinta' di atas kepalanya agar lebih jelas? Bisa juga aku beri warna-warni biar lebih menarik!"

Diamlah, Miu. Cukup berikan aku pembaruan status karakter setelah pertarungan di koridor tadi.

[ PEMBARUAN STATUS KARAKTER ]

Nama: Yuuichi Shiro

Level: 2

Poin Atribut Tersedia: 5

Peningkatan Atribut Otomatis:

- Kekuatan (STR): 15 → 16

- Kecepatan (SPD): 17 → 18

(Efek penggunaan Keterampilan Pernapasan Matahari dalam pertempuran)

KETERAMPILAN

- Pernapasan Matahari: Tingkat 1 (Poin Pengalaman: 45/100)

- Taekwondo Jin Mori: Tingkat 1 (Poin Pengalaman: 30/100)

- Keahlian Memasak: Tingkat 3 (Poin Pengalaman: 70/100)

 yuuichi menatap layar transparan yang muncul di depannya, melihat poin atribut yang tersedia dengan cermat. Tanpa ragu sama sekali, ia mengalokasikan poin tersebut untuk menyeimbangkan ketahanan dan kelincahannya – dua hal yang sangat penting untuk bertahan hidup di dunia yang sudah berubah ini.

[ ALOKASI POIN ATRIBUT ]

- Ketahanan (VIT): 12 → 15

- Kelincahan (AGI): 18 → 20

Seketika setelah alokasi selesai, rasa lelah yang sempat menghinggapi otot-ototnya setelah menggunakan teknik Tarian Es Abadi mulai memudar dengan cepat. Tubuhnya terasa lebih ringan seperti sedang tidak membawa beban apa pun, dan indranya menjadi lebih tajam dari sebelumnya. Ia bisa mendengar detak jantung Chika yang mulai melambat dan kembali stabil, serta napas Sakura yang semakin teratur dan tidak lagi terengah-engah. Bahkan ia bisa mencium aroma alkohol medis yang tersembunyi di balik lemari obat jauh di sudut ruangan.

"Shiro-kun, aku sudah siap!" – Chika menghampiri mereka dengan langkah yang lebih mantap, tas medis besar berwarna oranye tersampir di bahunya. Ia telah mengganti sepatu hak tinggi hitam yang biasanya dikenakannya dengan sepatu kets putih cadangan yang ia simpan di dalam lemari kecil di sudut UKS, membuatnya lebih siap untuk berlari atau bergerak cepat jika diperlukan. Di tangannya, ia juga membawa sebuah tas kecil yang berisi beberapa botol air dan makanan ringan dari lemari penyimpanan darurat.

Yuuichi mengangguk dengan puas. Ia berjalan ke arah jendela kecil yang menghadap ke arah lapangan sekolah, mengintip dengan hati-hati melalui celah tirai yang ditarik sebagian. Di bawah sana, beberapa bus sekolah masih terparkir rapi di bawah kanopi tempat parkir bus – sebuah harapan untuk bisa keluar dari sekolah dan mencari tempat yang lebih aman. Namun, jalan menuju ke sana terlihat seperti jalan menuju mimpi buruk yang tak berujung – ribuan makhluk yang sudah tidak bisa disebut manusia lagi mulai memenuhi area terbuka, bergerak dengan langkah goyah namun terus-menerus mencari mangsa.

"Kita tidak akan keluar melalui gerbang depan atau menuju area parkir bus utama," kata Yuuichi sambil menunjuk ke beberapa titik pada peta denah yang terbuka di atas meja. "Ada lorong penghubung bawah tanah yang menghubungkan laboratorium kimia dengan gedung olahraga di sisi belakang sekolah. Di gedung olahraga ada pintu keluar darurat yang langsung menuju area parkir belakang – di situlah biasanya guru-guru memarkirkan mobil mereka."

"Tapi laboratorium kimia... itu area yang tertutup dan memiliki banyak ruangan kecil. Jika kita terjebak di sana..." – Sakura mendekat ke meja, melihat peta dengan tatapan ragu. Ia tahu bahwa area laboratorium memang sulit untuk dilewati jika ada banyak bahaya yang mengintai di sana.

"Maka kita tidak akan membiarkan diri kita terjebak di situ," potong Yuuichi dengan suara yang tegas dan penuh keyakinan. Ia menarik sarung katananya sedikit, membiarkan kilatan cahaya biru es dari bilah pedangnya terlihat jelas di bawah cahaya lampu ruangan. "Miu, aktifkan sistem radar musuh dengan jangkauan 50 meter. Aku ingin tahu secara pasti apa yang menunggu kita di koridor menuju laboratorium dan di dalamnya."

"Dimengerti, Kapten yang selalu berani mengambil risiko. Sedang melakukan pemindaian seluruh area lantai dua... Terdeteksi sekitar lima belas tanda kehidupan yang masih kuat namun tertekan di berbagai bagian lantai dua, dan sekitar tiga puluh 'boneka mati' yang berkeliaran di area sekitar laboratorium. Oh, dan satu tanda kehidupan yang cukup menarik – nampaknya si gadis kaya raya yang selalu sombong itu sedang mencoba membuat bom molotov menggunakan bahan kimia yang ada di laboratorium."

Yuuichi menyeringai sedikit mendengarnya. Rina Suzuki memang tidak pernah mengecewakan jika menyangkut insting bertahan hidup yang praktis dan kemampuan untuk berpikir cepat dalam keadaan darurat. Di kehidupan sebelumnya, gadis itu juga adalah orang yang paling cepat beradaptasi dengan keadaan baru.

"Ayo kita berangkat sekarang juga. Kita akan bergerak dalam formasi yang sudah aku tentukan. Sakura berada di tengah, Sensei berada tepat di belakangku. Jika aku bilang lari, kalian langsung berlari tanpa melihat ke belakang. Jika aku bilang tunduk atau bersembunyi, jangan bertanya kenapa dan lakukan saja," instruksi Yuuichi dengan suara yang jelas dan mudah dipahami. Ia tahu bahwa di saat seperti ini, kejelasan perintah adalah hal yang sangat penting untuk menyelamatkan nyawa.

Ia mendekati pintu yang telah dibarikade dengan lemari obat, tangannya kanan memegang gagang pintu sementara tangan kirinya tetap menggenggam gagang katananya yang dingin. Ia bisa merasakan ketegangan yang menyelimuti kedua wanita di belakangnya – napas mereka yang sedikit cepat, gerakan tubuh yang siap untuk bergerak kapan saja. Chika secara tidak sadar meremas ujung lengan jaket Yuuichi dengan tangannya, mencari rasa aman dan perlindungan dari sosok siswa yang kini tampak seperti satu-satunya harapan mereka.

Yuuichi menoleh sedikit ke belakang, memberikan tatapan yang menenangkan namun juga penuh janji yang tidak bisa diragukan lagi. "Selama aku masih bernapas dan masih bisa memegang pedang ini, tidak akan ada satu pun dari makhluk itu yang bisa menyentuh kalian berdua. Janjiku."

Dengan satu sentakan kuat dan cepat, Yuuichi menarik pintu dan menjatuhkan barikade lemari obat yang ada di depannya. Udara dingin yang masih tersisa dari efek teknik esnya tadi menyambut mereka dengan dingin yang menusuk tulang, sementara suara erangan dan garukan yang lebih keras terdengar dari koridor yang lebih luas – menyambut mereka saat mereka melangkah keluar dari zona aman sementara itu menuju kekacauan yang jauh lebih besar dan penuh dengan bahaya.

"Enam puluh detik lagi sampai kalian bertemu dengan Rina Suzuki, Kakak. Siapkan mentalmu dengan baik ya – gadis itu punya lidah yang lebih tajam daripada bilah pedangmu yang dingin itu lho. Siapa tahu saja, mungkin dia akan langsung menyuruhmu pergi karena merasa kamu hanya akan mengganggu pekerjaannya."

Yuuichi hanya mendengus pelan dalam hati, bibirnya sedikit mengerut. Ia sudah siap menghadapi apa pun yang ada di depan – baik itu makhluk-makhluk yang sudah mati namun masih bergerak, maupun ego besar seorang jenius yang berpikir dia tahu segalanya.

Kesatuan Tanpa Diucapkan

Langkah kaki Yuuichi yang dibalut sepatu bot taktis bergerak dengan keanggunan yang luar biasa, suara alas kakinya nyaris tak terdengar saat ia menapak di lantai koridor yang kini bersimbah cairan pekat seperti rawa hitam. Permukaan lantai yang biasanya licin akibat pembersihan rutin kini menjadi lebih licin dan berbahaya, namun setiap langkahnya tetap stabil dan tepat sasaran.

Di belakangnya, Chika Kudou berjalan dengan napas yang tertahan dalam-dalam, setiap gerakannya hati-hati seolah takut akan menarik perhatian sesuatu yang tidak terlihat. Jemarinya masih mencengkeram erat ujung lengan jaket kulit Yuuichi – kain yang sudah sedikit aus terasa seperti satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak hanyut dalam kegilaan yang telah menyambar seluruh dunia mereka. Ia tidak berani melihat ke sekeliling, hanya mengikuti bayangan tinggi Yuuichi yang selalu ada di depannya.

Sakura Hoshino mengikuti di posisi paling belakang, menjaga area belakang dengan waspada. Bokken kayu eknya terangkat dalam posisi siaga yang tepat – bukan terlalu tinggi untuk menghindari menarik perhatian, namun cukup siap untuk bertindak kapan saja. Matanya terus berpindah dengan cepat antara punggung Yuuichi dan lorong gelap di belakang mereka, menangkap setiap gerakan kecil atau bayangan yang muncul di sudut pandangannya. Keringat dingin mengalir perlahan di bawah seragam sekolahnya yang sudah sedikit kotor.

Udara di koridor lantai dua jauh lebih pengap daripada lantai tiga. Bau amonia yang tajam dari laboratorium kimia yang bocor dari beberapa ruangan bercampur dengan bau anyir yang memuakkan dari tubuh-tubuh yang sudah tidak bernyawa – sebuah kombinasi yang membuat tenggorokan terasa gatal dan mata menjadi perih. Cahaya lampu neon di langit-langit mulai berkedip-kedip, kadang padam total selama beberapa detik sebelum menyala kembali dengan cahaya yang lebih redup.

"Pelankan langkahmu," bisik Yuuichi dengan suara yang sangat rendah, hampir tidak terdengar. Ia mengangkat tangan kirinya perlahan, memberi isyarat jelas untuk berhenti. Jari-jarinya yang panjang menunjuk ke arah depan dengan gerakan yang lembut namun pasti.

Di depan mereka, sekitar sepuluh meter jauhnya, tiga sosok makhluk yang dulunya adalah siswa kelas dua sedang berkumpul di depan sebuah pintu laboratorium yang tertutup rapat. Pakaian seragam mereka yang dulu putih bersih kini sudah kotor dan sobek, kulit mereka berubah menjadi warna kebiruan pucat dengan bintik-bintik hitam yang menyebar seperti jamur. Mereka tidak menyadari kehadiran kelompok Yuuichi karena sibuk menggaruk pintu kayu itu dengan kuku yang sudah panjang dan runcing – hingga beberapa kuku terlepas dan meninggalkan bekas darah merah pekat yang panjang di permukaan kayu.

"Target terdeteksi dengan jelas. Tiga subjek aktif di depan, dan lima lagi yang dalam kondisi merangkak sedang bergerak melalui saluran ventilasi tepat di atas kepalamu, Kakak. Mau cara yang cepat dan hemat energi, atau cara yang artistik dengan banyak aksi seperti film laga?"

Yuuichi tidak membalas ejekan Miu yang selalu muncul di saat tidak tepat. Matanya menyipit, fokus menganalisis setiap gerakan makhluk-makhluk itu dengan cermat. Jika ia menggunakan teknik Pernapasan Matahari dengan efek es sekarang, suara pecahnya es yang seperti kaca yang hancur akan mengundang seluruh penghuni lantai ini ke arah mereka. Di ruangan yang sempit seperti koridor ini, itu adalah bencana yang bisa menghancurkan kelompok mereka dalam sekejap. Ia harus menggunakan cara yang lebih sunyi dan efisien.

"Sakura," – Yuuichi berbalik sedikit, bibirnya bergerak tanpa mengeluarkan suara keras. "Ambil yang paling kanan saat aku mulai bergerak. Gunakan teknik tusukan ke titik lemah, jangan lakukan ayunan lebar yang bisa membuat suara besar."

Sakura mengangguk dengan wajah yang kaku namun penuh tekad. Wajahnya yang cantik berkeringat dingin, tetesan keringat menetes di dahinya yang ditutupi oleh ikat kepala hitam-merahnya. Namun tidak ada rasa takut yang membuatnya goyah – hanya fokus yang dalam seperti saat ia menghadapi lawan di ajang pertandingan bela diri.

Tanpa memberikan peringatan lebih lanjut, Yuuichi melesat maju. Gerakannya yang dipercepat oleh atribut Kelincahan yang sudah mencapai angka 20 terasa seperti bayangan yang melintasi cahaya – cepat, licin, dan tidak meninggalkan jejak yang jelas. Sebelum zombie pertama sempat menoleh atau mengeluarkan suara geraman, tangan kirinya yang kuat sudah mencengkeram rahang makhluk itu dengan erat. Dengan kekuatan Kekuatan yang sudah meningkat menjadi 16, ia memutar leher makhluk itu dengan kecepatan yang terkendali hingga terdengar suara krek yang tumpul – suara patahan tulang leher yang tidak terlalu keras namun cukup untuk menandakan bahwa musuh itu sudah tidak berbahaya lagi.

Di saat yang sama, Sakura maju dengan keberanian yang luar biasa. Ia menghindari langkah yang salah dengan presisi seorang atlet berpengalaman, mendekat dari sisi kanan makhluk yang sedang sibuk menggaruk pintu. Tanpa ragu, ia menusukkan ujung pedang kayunya yang runcing tepat ke arah rongga mata zombie itu – titik lemah yang sudah ia pelajari selama bertahun-tahun di klub bela diri. Makhluk itu tersentak dan mulai bergoyang, lalu tumbang ke lantai saat Sakura memberikan dorongan tambahan dengan seluruh berat tubuhnya, memastikan bahwa musuh itu benar-benar tidak akan bangun lagi.

Zombie terakhir yang menyadari adanya bahaya mencoba menerjang ke arah Chika yang berada paling dekat dengan mereka. Tubuhnya yang kurus melesat dengan kecepatan yang tidak diharapkan dari makhluk yang bergerak goyah.

"Shiro-kun!" – pekik Chika dengan suara yang tertahan, tangannya mengepal erat dan tubuhnya mundur ke belakang seolah ingin mencari tempat berlindung.

Tanpa menoleh ke belakang atau kehilangan fokus, Yuuichi melakukan tendangan tumit belakang yang cepat dan akurat – salah satu teknik kunci dari Taekwondo Jin Mori yang ia kuasai. Tumitnya menghantam tepat di ulu hati zombie itu dengan kekuatan yang cukup untuk membuatnya terhempas ke dinding beton dengan suara thud yang menggema lembut. Sebelum makhluk itu bisa mengeluarkan suara geraman yang bisa menarik perhatian musuh lain, Yuuichi sudah melompat ke depannya dan menghujamkan belati kecil yang ia tarik dari inventaris sistem tepat ke ubun-ubunnya – titik yang paling rentan dan bisa mengakhiri nyawa makhluk itu dengan cepat.

"Keterampilan Bertarung: Efisiensi 95%. Poin Pengalaman untuk Taekwondo Jin Mori bertambah sebanyak 15 poin. Sekarang totalnya 45/100."

"Aman," ucap Yuuichi dengan kalimat yang singkat namun penuh makna. Ia mengelap permukaan belati kecil itu pada seragam zombie yang baru saja ia bunuh, membersihkan noda darah hitam yang menempel sebelum menyembunyikannya kembali ke dalam inventaris.

Ia kemudian beralih ke pintu laboratorium yang tadi digaruk oleh para zombie. Dari dalam ruangan, terdengar suara dentingan kaca yang bersentuhan dan bau belerang yang semakin menyengat keluar melalui celah-celah pintu. Yuuichi mengetuk pintu itu dengan pola tertentu – tiga ketukan pendek, satu ketukan panjang, lalu dua ketukan pendek lagi. Pola yang hanya mereka dua yang tahu sejak mereka masih berada di kelas satu.

"Rina Suzuki. Jika kau sedang merencanakan untuk meledakkan pintu ini sekarang juga dengan bahan kimiamu yang berharga, aku harus bilang itu adalah keputusan yang sangat bodoh," suara Yuuichi terdengar tenang namun penuh keyakinan, cukup keras untuk didengar dari dalam ruangan namun tidak terlalu keras untuk menarik perhatian musuh lain.

Hening sejenak menyelimuti koridor. Tidak ada suara yang terdengar dari dalam laboratorium selain suara peluit kecil dari alat ukur yang mungkin sedang bekerja. Kemudian, terdengar suara langkah kaki yang teratur dan mantap dari balik pintu – langkah kaki seseorang yang yakin dengan apa yang ia lakukan. Pintu terbuka sedikit, hanya menyisakan celah sempit yang cukup untuk melihat satu mata saja. Sebuah mata cokelat gelap yang penuh dengan kecerdasan dan rasa selidik menatap mereka dari balik kacamata berbingkai hitam yang khas.

"Yuuichi Shiro?" – suara yang keluar dari balik pintu dingin, jernih, dan tidak menunjukkan tanda-tanda ketakutan yang berarti. Bahkan dalam keadaan darurat seperti ini, nada suaranya tetap penuh dengan keyakinan diri. "Secara statistik, peluangmu untuk bertahan hidup sampai mencapai lantai ini setelah melewati koridor bawah yang penuh dengan bahaya adalah sekitar 12,4%. Kau telah melampaui ekspektasi yang aku tetapkan untukmu, sesuatu yang jarang terjadi pada orang lain."

Pintu kemudian terbuka sepenuhnya dengan gerakan yang lambat namun pasti. Rina Suzuki berdiri di sana dengan sikap yang tetap gagah, mengenakan jas laboratorium putih yang bersih menutupi seragam sekolahnya yang terbuat dari bahan mahal. Tangannya mengenakan sarung tangan karet biru muda yang sudah sedikit kotor, dan di meja kerja yang teratur di belakangnya, terdapat beberapa botol kaca yang sudah diisi dengan cairan kuning kecoklatan dengan sumbu kain yang siap digunakan – bom molotov buatan tangan yang terlihat cukup profesional.

"Dan aku lihat kau membawa beban tambahan," lanjut Rina sambil melirik Chika dan Sakura dengan tatapan yang sedikit meremehkan yang khas. Bibirnya sedikit mengerut seolah tidak menyukai adanya orang lain di samping mereka berdua.

"Mereka bukan beban, Rina," balas Yuuichi dengan nada yang tegas namun tidak kasar, sambil melangkah masuk ke dalam laboratorium yang lebih terang dan bersih dibanding koridor di luar. "Mereka adalah alasan kenapa aku masih repot-repot menggunakan kepalaku untuk berpikir daripada sekadar membekukan semua yang menghalangi jalanku."

Rina menutup pintu dengan hati-hati dan menguncinya kembali dengan presisi yang luar biasa – ia bahkan menggunakan beberapa barang berat untuk menyumbat celah pintu agar tidak mudah dibuka dari luar. Ia kemudian menatap Yuuichi dari atas ke bawah dengan tatapan yang teliti, seolah sedang melakukan pemeriksaan fisik menyeluruh. Wajahnya menunjukkan tanda-tanda kejutan yang tersembunyi saat ia menyadari perubahan yang luar biasa pada pria yang dulu ia anggap hanya siswa nakal yang tidak berguna dan sering menghilang dari kelas.

"Kau benar-benar berbeda sekarang. Pola pernapasanmu yang teratur seperti atlet profesional, caramu memegang senjata yang tidak terlihat namun selalu siap digunakan... semuanya tidak masuk akal secara biologis bagi seorang siswa SMA biasa," ujar Rina sambil menyesuaikan letak kacamatanya yang sedikit tergeser ke bawah hidungnya. Matanya menunjukkan rasa ingin tahu yang besar – sesuatu yang lebih kuat daripada rasa takut atau egoismenya.

Yuuichi mendekat ke arah Rina, memperpendek jarak antara mereka hingga gadis jenius itu harus sedikit mengangkat kepalanya untuk melihat matanya. Aroma parfum mahal yang selalu dikenakan Rina – aroma bunga mawar dan kayu cendana – bercampur dengan bau khas bahan kimia memenuhi indra penciuman Yuuichi, menciptakan kombinasi yang tidak terduga namun tidak menyebalkan.

"Dunia yang kau kenal dengan semua logika dan statistiknya sudah berakhir, Rina," kata Yuuichi dengan suara yang dalam dan penuh makna. Matanya merah pekat menatap langsung ke mata cokelat Rina, seolah bisa menembus pikiran dan perasaan dalam hati gadis itu. "Logika lamamu tidak akan berlaku lagi di dunia yang baru ini. Kamu bisa memilih untuk ikut denganku dan berkontribusi dengan otakmu yang cerdas, atau kau akan mati sendirian di antara botol-botol kimia ini saat oksigen di ruangan ini habis atau musuh menemukan cara untuk masuk ke sini."

Rina terdiam sejenak, menatap mata merah Yuuichi yang tampak seperti bisa melihat jauh ke dalam dirinya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ego besar yang selalu membuatnya merasa lebih baik dari orang lain mulai goyah. Ia bisa merasakan aura dominasi yang dipancarkan oleh Yuuichi – bukan dominasi yang kasar atau memaksa, melainkan dominasi seorang pemimpin yang tahu persis apa yang ia lakukan dan memiliki rencana yang jelas untuk masa depan.

"Aku butuh data yang cukup untuk memahami fenomena ini – bagaimana virus bisa mengubah manusia menjadi makhluk seperti itu, apa mekanisme kerjanya, dan bagaimana cara untuk membuat obat atau vaksin yang bisa menghentikan penyebarannya," Rina akhirnya bicara dengan suara yang lebih lembut dari biasanya, mencoba mendapatkan kembali kendali atas dirinya dan situasi sekitarnya. "Dan aku sudah menyadari bahwa laboratorium ini sudah tidak bisa memberiku fasilitas atau bahan yang aku butuhkan lagi. Baiklah, aku akan ikut denganmu. Tapi jangan harap aku akan menuruti semua perintah bodoh yang kamu berikan hanya karena kamu lebih kuat atau lebih berpengalaman dalam bertarung."

"Pemberitahuan Penting: Rina Suzuki telah bergabung dalam kelompok sementara. Sifat Tsundere terdeteksi pada level tinggi – suka menyalahkan namun sebenarnya peduli. Berhati-hatilah dengan lidahnya yang tajam ya Kakak, jangan sampai kamu terluka hati tanpa sadar."

Yuuichi hanya tersenyum tipis mendengar suara Miu di dalam kepalanya. Ia sudah tahu betul karakter Rina dan tidak keberatan dengan sikapnya yang seperti itu. "Miu, berikan aku rute terpendek dan paling aman melalui sistem ventilasi menuju gedung olahraga. Kita tidak bisa lagi melewati koridor utama seperti yang aku rencanakan. Ada sesuatu yang besar dan berbahaya sedang bergerak dari arah aula utama menuju ke sini."

"Memindai area sekitar dengan radar tingkat tinggi... Kau benar sekali, Kakak. Sesuatu yang sangat besar dengan tanda kehidupan masif sedang bergerak ke arah lantai ini. Aku menyebutnya 'The Tank' karena bentuk tubuhnya yang besar dan kokoh seperti tank tempur. Jika kau memutuskan untuk melawannya sekarang tanpa peningkatan atribut atau persiapan yang cukup, peluang kamu mati adalah sekitar 60%, dan peluang anggota kelompokmu terluka parah adalah lebih dari 85%."

Yuuichi menoleh perlahan ke arah ketiga wanita yang kini berada di dalam laboratorium bersamanya. Chika yang selalu penuh kasih dan siap membantu siapapun yang membutuhkan, Sakura yang setia dan selalu siap memberikan dukungan dengan kekuatannya, dan Rina yang jenius dan memiliki pengetahuan yang bisa menyelamatkan banyak nyawa. Kelompoknya yang kecil mulai terbentuk dengan sempurna – masing-masing memiliki keahlian dan peran yang berbeda namun sama pentingnya.

"Persiapkan diri kalian semua. Kita akan naik melalui sistem ventilasi udara untuk mencapai gedung olahraga. Rina, bawa semua bom molotov yang kamu buat – jangan tinggalkan satupun. Kita mungkin akan butuh sedikit pesta api untuk menyambut teman besar kita yang sedang datang ke arah sini di bawah sana," kata Yuuichi dengan suara yang penuh keyakinan, memberikan kepercayaan pada semua orang di sekelilingnya.

Saat Yuuichi membantu Chika naik ke atas meja kerja yang tinggi untuk mencapai lubang ventilasi yang terletak di dinding bagian atas, ia merasakan tangan kecil Rina menyentuh lengannya dengan lembut. Sentuhan itu singkat namun penuh makna.

"Yuuichi," bisik Rina dengan suara yang jauh lebih lembut dari biasanya, bahkan sedikit terdengar malu. Ia tidak berani melihat ke mata Yuuichi, hanya menatap lantai dengan wajah yang sedikit memerah. "Terima kasih... karena telah datang dan menjemputku. Karena telah menjadi salah satu dari 12,4% peluang yang aku hitungkan sebagai kemungkinan selamat."

Yuuichi tidak menjawab dengan kata-kata, hanya memberikan anggukan kecil yang penuh makna. Di dalam hatinya, ia tahu bahwa perjalanan yang sebenarnya baru saja dimulai – dan tantangan yang lebih besar dan lebih berbahaya dari yang pernah ia hadapi di kehidupan sebelumnya baru akan muncul saat mereka berhasil meninggalkan gedung sekolah ini dan memasuki dunia luar yang sudah berubah total.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!