Hujan di Varethra tidak pernah membawa berkah.
Setiap tetes yang jatuh dari langit merah tua itu terasa seperti noda—seperti darah yang telah terlalu lama teroksidasi, berubah warna menjadi cokelat kusam sebelum menyentuh ubin-ubin batu di alun-alun pusat. Kabut tipis merayap di antara menara-menara gothic yang menjulang begitu tinggi sehingga puncak-puncaknya tenggelam dalam kegelapan abadi, seolah kota ini dibangun oleh raksasa yang lupa menyelesaikan atapnya. Arsitektur di sini tidak dirancang untuk kenyamanan manusia; ia dirancang untuk mengingatkan setiap jiwa yang melangkah di bawah lengkungannya bahwa mereka hanyalah bayangan yang kebetulan memiliki daging.
Alun-alun Eksekusi—begitu penduduk Varethra menyebutnya, meskipun secara resmi tempat ini bernama Plaza Keadilan Abadi—sedang dipenuhi oleh dua ribu pasukan bersenjata lengkap. Mereka berdiri dalam formasi sempurna, baju zirah besi mereka yang hitam menyerap cahaya obor yang berderet di sepanjang perimeter, menciptakan ilusi bahwa tanah itu sendiri sedang menganga dan menelan segala sesuatu yang mendekat. Helm-helm mereka menutupi seluruh wajah kecuali celah sempit di bagian mata, sehingga tidak ada yang bisa melihat apakah para prajurit itu merasa jijik, takut, atau sekadar bosan dengan apa yang akan terjadi malam ini. Mungkin mereka tidak merasakan apa pun. Mungkin itulah persyaratan utama untuk bertugas di bawah Kanselir Morvain: kemampuan untuk menyaksikan kengerian tanpa berkedip.
Di tengah formasi itu, seorang pria tua berlutut.
Lututnya telah menekan batu basah selama lebih dari tiga jam sekarang, dan meskipun tubuhnya menggigil karena hawa dingin yang merembes dari tanah ke tulang-tulangnya yang rapuh, ia tidak mengeluh. Tangan-tangannya terikat ke belakang dengan rantai besi yang berkarat—bukan karena besi baru tidak tersedia, tetapi karena besi berkarat sengaja dipilih untuk membuat luka di pergelangan tangannya semakin terinfeksi. Detail kecil yang kejam. Varethra adalah kota yang menguasai seni detail kejam.
Pria tua itu bernama Eldrin Voss. Tiga bulan lalu, ia adalah arsitek tertinggi Katedral Sanctum, orang yang merancang hampir semua struktur baru di Distrik Atas selama empat puluh tahun terakhir. Kini ia adalah pengkhianat negara, dinyatakan bersalah karena "mengganggu keseimbangan struktural fondasi kekuasaan"—sebuah tuduhan yang sengaja dibuat ambigu sehingga tidak ada yang benar-benar tahu apa artinya, tetapi semua orang tahu konsekuensinya.
"Eldrin Voss."
Suara itu datang dari suatu tempat di atas. Bukan dari langit, melainkan dari balkon marmer yang menjorok dari fasad gedung pengadilan—sebuah struktur yang ironisnya juga dirancang oleh Voss sendiri bertahun-tahun lalu. Seorang pria paruh baya dengan jubah merah tua berdiri di sana, tangannya bersilang di belakang punggung, ekspresinya tidak terbaca seperti topeng batu. Itu adalah Hakim Agung Thalric, tangan kanan Kanselir Morvain, dan orang yang telah menjatuhkan hukuman mati ini tanpa persidangan yang layak disebut adil.
"Eldrin Voss," ulang Thalric, kali ini lebih keras, karena angin malam mencoba mencuri suaranya dan membawanya ke menara-menara yang menjulang di kejauhan. "Kamu telah dihukum karena kejahatan terhadap stabilitas Varethra. Apakah kamu memiliki kata-kata terakhir?"
Pria tua itu tidak segera menjawab.
Ia menunduk lebih dalam, sehingga dagunya hampir menyentuh dadanya, dan untuk beberapa detik yang terasa seperti selamanya, satu-satunya suara yang terdengar adalah desisan obor dan derap pelan sepatu bot prajurit yang bergeser berat badan dari satu kaki ke kaki lain. Beberapa penonton—warga biasa yang diizinkan menyaksikan eksekusi sebagai pengingat akan "keadilan"—berbisik di antara mereka sendiri, berspekulasi apakah Voss telah kehilangan kemampuan bicara karena ketakutan, atau apakah ia sedang berdoa kepada dewa-dewa yang mungkin sudah lama meninggalkan kota ini.
Ketika Eldrin Voss akhirnya mengangkat kepalanya, matanya tidak menunjukkan rasa takut.
Yang terlihat di sana adalah sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
Pengertian.
"Kata-kata terakhir?" suara Voss serak, seperti batu yang digesekkan satu sama lain setelah bertahun-tahun tidak tersentuh. "Aku punya banyak kata, Hakim Agung. Tapi tidak ada satu pun yang akan kau izinkan untuk mengguncang kursi yang kau duduki."
Thalric tidak merespons. Ekspresinya tetap datar, tetapi jari-jarinya—yang tersembunyi di balik lipatan jubahnya—mengepal sedikit lebih erat.
"Kutukan," lanjut Voss, dan sekarang ada getaran di suaranya yang tidak berasal dari kedinginan, "bukanlah senjata orang lemah, Hakim. Kutukan adalah pengakuan bahwa keadilan sejati tidak akan pernah datang dari tangan-tangan seperti milikmu. Jadi aku tidak akan mengutukmu. Aku hanya akan mengatakan ini."
Ia menarik napas panjang, dan kabut dari mulutnya naik ke udara malam seperti hantu yang baru lahir.
"Arsitek itu sedang memperhatikan."
Keheningan yang mengikuti adalah jenis keheningan yang berbeda. Bukan keheningan kosong, melainkan keheningan yang penuh—penuh dengan ketegangan, penuh dengan pertanyaan, penuh dengan sesuatu yang tidak terlihat namun terasa seperti tekanan di belakang tulang dada setiap orang yang mendengarnya.
Thalric mengangkat tangannya.
"Itu cukup."
Dia memberi isyarat, dan dari barisan depan pasukan, seorang algojo melangkah maju. Tidak ada kapak besar atau pedang eksekusi yang megah—Varethra telah meninggalkan tontonan semacam itu satu generasi yang lalu. Algojo modern cukup membawa pisau pendek yang dirancang untuk menusuk tepat di antara tulang rusuk ketiga dan keempat, menembus jantung dalam satu gerakan cepat. Efisien. Tidak berantakan. Tidak ada drama yang tidak perlu.
Kecuali drama sudah terlanjur terjadi.
"Tunggu."
Suara itu tidak keras. Sebenarnya, suara itu cukup tenang—tenang seperti permukaan danau yang menyembunyikan pusaran di kedalamannya. Namun entah bagaimana, suara itu memotong keheningan dengan presisi pisau bedah, dan setiap prajurit di alun-alun itu merasakan rambut di tengkuk mereka berdiri.
Thalric membeku. Tangannya masih terangkat di udara, setengah isyarat, setengah perintah yang belum selesai.
Mata semua orang tertuju pada sosok yang berjalan keluar dari bayang-bayang lengkungan batu di sisi timur alun-alun.
–
Ilyas Renvar tidak pernah berjalan dengan tergesa-gesa.
Pada usianya yang ke-21 tahun, ia telah mempelajari satu kebenaran fundamental tentang dunia: kecepatan adalah ilusi yang diciptakan oleh orang-orang yang takut kehilangan kendali. Orang yang benar-benar mengendalikan situasi tidak perlu berlari. Ia cukup hadir, dan realitas akan menyesuaikan diri di sekelilingnya.
Malam ini, ia mengenakan pakaian gelap yang terdiri dari beberapa lapisan—kemeja wol tipis di bagian paling dalam, kemudian jaket kulit tanpa lengan yang dipasangi pelat baja ringan di area bahu dan dada, dan di atas semua itu, jubah panjang berwarna abu-abu arang yang hampir menyentuh tanah. Tidak ada lambang atau tanda pengenal di mana pun. Tidak ada yang bisa mengidentifikasinya sebagai anggota faksi mana pun, loyalis kepada siapa pun, atau ancaman bagi siapa pun. Itulah intinya.
Namun, ada satu hal yang tidak bisa ia sembunyikan.
Tangannya.
Bahkan di bawah cahaya obor yang berkedip-kedip, energi di sekitar telapak tangan Ilyas terlihat jelas—seperti panas yang keluar dari aspal di hari musim panas, tetapi dalam bentuk ungu pucat yang berdenyut pelan mengikuti detak jantungnya. Itu bukan ilusi cahaya. Itu bukan trik sulap murahan. Itu adalah sesuatu yang tidak dapat dijelaskan oleh siapa pun di Varethra, meskipun semua orang telah mendengar desas-desus tentang "anak yang terkutuk" dari Distrik Bawah yang memiliki hubungan dengan Arsitek.
Beberapa prajurit di barisan depan secara naluriah mundur setengah langkah. Yang lain memegang tombak mereka sedikit lebih erat.
Ilyas berhenti tepat di tepi lingkaran dalam formasi pasukan, sekitar sepuluh meter dari tempat Eldrin Voss berlutut. Ia tidak berusaha melewati barisan. Ia tidak perlu. Jarak itu sudah cukup untuk didengar, dan itulah yang ia inginkan.
"Hakim Agung Thalric," sapanya, dan meskipun kata-katanya sopan, tidak ada sedikit pun rasa hormat dalam nadanya. "Aku ingin mengajukan permohonan."
Thalric menatapnya dari ketinggian balkon. Untuk sesaat, sesuatu yang mirip dengan kekaguman—atau mungkin kejengahan—berkedip di matanya. "Kamu tidak memiliki hak untuk mengajukan permohonan apa pun, anak muda. Pengadilan ini sudah selesai. Hukuman sudah dijatuhkan."
"Hukuman dijatuhkan kepada Eldrin Voss karena kejahatan yang tidak didefinisikan, dalam persidangan yang tidak pernah tercatat, oleh hakim yang ditunjuk bukan dipilih." Ilyas mengangkat satu alis, dan senyum tipis—begitu tipis sehingga hampir tidak ada—muncul di sudut bibirnya. "Kedengarannya seperti keadilan yang efisien. Sangat Varethra."
Seorang perwira di dekatnya menghunus pedangnya setengah inci dari sarung. "Kurang ajar—"
"Diam," kata Thalric. Satu kata, datar, tanpa emosi. Perwira itu langsung membeku.
Hakim Agung itu menatap Ilyas lebih lama kali ini, dan ketika ia berbicara lagi, suaranya telah berubah. Masih resmi, tetapi ada lapisan di bawahnya—rasa ingin tahu yang tidak ingin ia tunjukkan tetapi tidak bisa sepenuhnya disembunyikan. "Kamu adalah Ilyas Renvar, bukan? Anak yang selamat dari Insiden Menara Selatan, tujuh belas tahun lalu."
Nama itu menggantung di udara seperti asap.
Ilyas tidak mengonfirmasi maupun menyangkal. Ia hanya terus menatap Thalric dengan mata yang warnanya sulit ditentukan—kadang tampak cokelat, kadang abu-abu, tergantung bagaimana cahaya menyentuhnya. "Permohonanku sederhana. Biarkan Eldrin Voss hidup. Bukan karena dia tidak bersalah—aku tidak cukup naif untuk percaya bahwa 'bersalah' dan 'tidak bersalah' masih berarti sesuatu di kota ini. Tapi karena dia memiliki informasi yang kau butuhkan."
Thalric menyeringai. Itu bukan senyuman yang ramah. "Kami yang membutuhkan informasi? Atau kamu?"
"Kita semua." Ilyas mengangkat tangan kanannya sedikit—hanya sedikit—dan energi ungu di sekitarnya berdenyut lebih terang untuk sesaat sebelum meredup lagi. Beberapa prajurit di baris depan menarik napas tajam. "Kau tahu apa yang terjadi tujuh belas tahun lalu, Hakim Agung. Kau tahu bahwa Menara Selatan tidak runtuh karena kesalahan struktural. Kau tahu bahwa ada sesuatu—seseorang—yang menghancurkannya dari dalam. Dan kau tahu bahwa Eldrin Voss adalah satu-satunya arsitek yang selamat dari malam itu."
Untuk pertama kalinya, pria tua yang berlutut itu bereaksi.
Eldrin Voss mengangkat kepalanya dan menatap Ilyas dengan mata yang tiba-tiba menjadi sangat lebar—bukan karena ketakutan, tetapi karena pengakuan. Seperti seseorang yang melihat hantu dari masa lalu yang telah lama ia kubur dalam-dalam, hanya untuk menyadari bahwa hantu itu tidak pernah benar-benar mati.
"Kau..." bisik Voss, suaranya hampir tidak terdengar di atas deru angin. "Kau adalah..."
"Jangan," potong Ilyas, tanpa menoleh ke arah Voss. Matanya tetap tertuju pada Thalric. "Jangan sebut namaku di sini. Bukan di depan mereka."
Thalric menghela napas panjang—napas seorang pria yang sudah terlalu tua untuk permainan politik anak muda tetapi tidak punya pilihan selain tetap bermain karena tidak ada orang lain yang bisa. "Apa yang kamu tawarkan, Ilyas Renvar?"
"Kesempatan."
"Untuk apa?"
"Untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di menara itu. Siapa—atau apa—yang menghancurkannya. Dan mengapa hal yang sama akan terjadi lagi pada menara berikutnya, dan berikutnya, sampai tidak ada yang tersisa dari Varethra selain debu dan kenangan pahit."
Keheningan.
Angin bertiup lebih kencang, membawa serta bau logam dan tanah basah. Obor-obor berderak dan hampir padam sebelum kembali menyala. Di kejauhan, seseorang membunyikan lonceng—satu kali, nada rendah yang bergetar di udara seperti peringatan yang tidak diindahkan.
Thalric menatap Ilyas untuk waktu yang lama. Kemudian ia mengalihkan pandangannya ke Eldrin Voss, lalu kembali ke Ilyas. Dan untuk sesaat—hanya sesaat—topeng ketidakpeduliannya retak, memperlihatkan sesuatu di bawahnya yang mirip dengan kelelahan yang mendalam.
"Tangkap dia," kata Thalric.
Bukan perintah yang dramatis. Bukan teriakan. Hanya dua kata, diucapkan dengan nada seorang pria yang telah membuat keputusan dan tidak ingin membuang lebih banyak waktu untuk memikirkannya.
Dua puluh prajurit bergerak serentak.
Ilyas tidak berlari.
Ia tersenyum.
Dua puluh prajurit tidak cukup.
Itu adalah kalkulasi pertama yang melintas di benak Thalric ketika ia melihat apa yang terjadi di bawah sana, tetapi ia terlalu terlatih untuk membiarkan keterkejutannya muncul ke permukaan. Sebaliknya, ia menggenggam erat pagar balkon marmer itu, buku-buku jarinya memutih, dan ia mengamati dengan mata yang tidak berkedip.
Ilyas tidak mengeluarkan senjata. Ia tidak perlu.
Ketika prajurit pertama—seorang pria besar dengan bekas luka di rahangnya—mencoba menangkap pergelangan tangan Ilyas, energi ungu di telapak tangan pemuda itu menyala seperti api yang tiba-tiba disentuh bensin. Bukan ledakan. Bukan kilatan yang dramatis. Hanya sebuah denyut yang cepat, hampir tidak terlihat, tetapi ketika denyut itu menyentuh sarung tangan besi prajurit tersebut, logamnya berubah warna menjadi merah karatan dalam hitungan detik, lalu hancur menjadi debu.
Prajurit itu berteriak—bukan karena kesakitan, tetapi karena terkejut. Tangannya sekarang telanjang, sarung tangannya telah runtuh di sekeliling jari-jarinya seperti cangkang telur yang dihancurkan, dan kulit di bawahnya memerah karena sesuatu yang mirip dengan sengatan listrik tapi tidak persis sama.
"Jangan menyentuhku," kata Ilyas, dan suaranya masih tenang. Masih datar. Seolah-olah ia sedang menjelaskan cuaca, bukan mengancam dua puluh tentara bersenjata. "Aku tidak ingin melukai siapa pun malam ini. Tapi aku juga tidak akan membiarkan kalian membawa Eldrin Voss ke kematiannya sebelum ia mengatakan apa yang perlu dikatakan."
Prajurit kedua lebih pintar—atau mungkin lebih pengecut. Alih-alih menyentuh Ilyas langsung, ia mencoba menombaknya dari belakang, berharap serangan kejutan akan berhasil di mana kekuatan mentah gagal.
Ilyas tidak menoleh.
Namun tombak itu berhenti sekitar setengah meter dari punggungnya, seolah-olah menabrak dinding tak terlihat. Ujung logamnya membengkok dengan suara yang aneh—bukan dentang metalik yang biasa, tetapi lebih seperti suara kertas diremas, sesuatu yang tidak seharusnya dihasilkan oleh besi. Prajurit itu terhuyung mundur, matanya melebar di balik helmnya, dan tombaknya jatuh ke tanah dengan bunyi gemerincing yang nyaring.
"Sialan," bisik seseorang di barisan belakang.
"Bentuk lingkaran!" perintah seorang kapten—wanita dengan rambut pendek dan bekas luka bakar di leher kirinya. "Jangan biarkan dia mendekati tahanan!"
Prajurit-prajurit itu bergerak dengan disiplin yang terlatih selama bertahun-tahun. Dalam hitungan detik, mereka telah membentuk dua baris melingkar di sekitar Eldrin Voss, dengan perisai mereka menghadap ke luar dan tombak mereka mengarah ke Ilyas. Formasi pertahanan standar untuk melawan ancaman tunggal. Efektif melawan sebagian besar serangan.
Ilyas tertawa.
Bukan tawa yang keras atau mengejek. Lebih seperti hembusan napas yang disertai getaran di tenggorokan—pengakuan bahwa sesuatu itu absurd. "Kalian pikir perisai bisa melindungi kalian? Kalian pikir besi adalah penghalang? Di Varethra, Kapten, besi adalah konduktor. Kalian hanya membuat dirimu menjadi target yang lebih mudah."
Kapten wanita itu tidak menggoyahkan ekspresinya. "Kami memiliki perintah untuk melindungi tahanan sampai eksekusi dilaksanakan. Kami akan melaksanakannya atau mati mencoba."
"Pilihan yang mengagumkan," kata Ilyas. "Sangat mengagumkan. Juga sangat bodoh."
Ia melangkah maju satu langkah.
Seluruh barisan pertama mundur satu langkah.
Kapten itu berteriak, "Tahan posisi!" tetapi suaranya sedikit meninggi di akhir, memberikan petunjuk kecil bahwa bahkan ia pun tidak sepenuhnya yakin dengan perintahnya sendiri.
Dari balkon, Thalric menyaksikan semuanya dengan ekspresi yang tidak berubah. Namun di dalam kepalanya, ia sudah menghitung. Dua puluh prajurit melawan satu pemuda dengan kekuatan yang tidak diketahui. Jika Ilyas benar-benar sekuat yang ditunjukkan oleh energi ungu itu—mampu menghancurkan logam hanya dengan sentuhan—maka dua puluh tidak akan cukup. Seratus mungkin tidak akan cukup. Dan Thalric tidak memiliki seratus prajurit di sini malam ini. Ia hanya memiliki dua ribu, tetapi mereka tersebar di seluruh perimeter alun-alun, tidak terkonsentrasi di satu titik.
Kesalahan taktis.
Ia akan membicarakan hal ini nanti dengan komandan pasukan. Jika ada nanti.
"Renvar," panggil Thalric, suaranya memotong ketegangan di udara. "Apa yang sebenarnya kamu inginkan? Jika kamu hanya ingin menyelamatkan nyawa Voss, kamu sudah bisa melakukannya sekarang. Kamu jelas memiliki kemampuan untuk melarikan diri bersamanya. Tapi kamu tidak melakukannya. Kamu masih berdiri di sini, berbicara. Jadi bicaralah. Apa yang kamu inginkan?"
Ilyas berhenti melangkah.
Untuk pertama kalinya malam itu, ia mengalihkan pandangannya sepenuhnya dari prajurit-prajurit di sekitarnya dan menatap langsung ke arah Thalric. Matanya—abu-abu sekarang, mungkin karena pantulan cahaya obor—terlihat seperti kaca yang dipoles, memantulkan kembali apa pun yang dilihatnya tanpa menambahkan apa pun dari dirinya sendiri.
"Aku ingin kau mengerti sesuatu, Hakim Agung," kata Ilyas. "Kau duduk di balkon indahmu, mengenakan jubah merah yang harganya setara dengan pendapatan setahun keluarga di Distrik Bawah, dan kau berpikir bahwa kau memegang kendali. Kau berpikir bahwa Kanselir Morvain memegang kendali. Bahwa Varethra adalah mesin yang sempurna, dan kalian berdua adalah insinyurnya."
Ia menggelengkan kepala perlahan.
"Kalian bukan insinyur. Kalian hanyalah penumpang yang kebetulan duduk di kursi depan ketika mesinnya mulai meledak."
"Metafora yang puitis," komentar Thalric, nada suaranya tetap datar. "Tapi tidak menjawab pertanyaanku."
"Pertanyaanmu tidak relevan," balas Ilyas. "Apa yang aku inginkan tidak penting. Yang penting adalah apa yang akan terjadi jika kau tidak mendengarkanku malam ini."
Ia mengangkat tangan kirinya—bukan tangan kanan yang berdenyut dengan energi ungu, tetapi tangan kiri yang tampak normal, tanpa cahaya, tanpa kekuatan yang terlihat. Dengan lembut, ia menunjuk ke arah menara tertinggi di Distrik Atas, menara yang menjulam di kejauhan dengan puncaknya yang runcing menembus kabut.
"Menara Keadilan," katanya. "Dibangun dua belas tahun lalu. Arsiteknya? Eldrin Voss. Materialnya? Batu granit dari tambang timur, campuran besi dan perak di fondasinya, dan sedikit—sangat sedikit—dari debu yang diambil dari reruntuhan Menara Selatan."
Nama "Menara Selatan" lagi.
Thalric merasakan sesuatu yang dingin merayap di tulang punggungnya, tetapi ia tidak membiarkannya terlihat. "Apa maksudmu?"
"Maksudku, Hakim Agung, bahwa Menara Keadilan memiliki fondasi yang sama dengan Menara Selatan. Fondasi yang sama yang runtuh tujuh belas tahun lalu dan membunuh tiga ratus tujuh puluh dua orang dalam satu malam. Tiga ratus tujuh puluh dua orang, Thalric. Apakah kau tahu angka itu? Apakah kau pernah menghitungnya? Atau bagi orang sepertimu, mereka hanya statistik?"
Kapten wanita itu menarik napas tajam. Beberapa prajurit lainnya saling berpandangan—gerakan kecil di balik helm mereka, hampir tidak terlihat, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa Ilyas telah berhasil melakukan sesuatu yang tidak berhasil dilakukan oleh pemberontak mana pun dalam satu dekade terakhir.
Ia telah membuat mereka berpikir.
"Apa yang kau katakan tidak masuk akal," potong Thalric, tetapi ada nada defensif dalam suaranya yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya. "Menara Keadilan telah berdiri selama dua belas tahun. Tidak ada tanda-tanda kerusakan struktural. Inspeksi dilakukan setiap enam bulan—"
"Oleh siapa?" tanya Ilyas. "Oleh arsitek yang ditunjuk oleh Kanselir? Oleh inspektur yang bayarannya berasal dari kas kota yang sama yang mendanai pembangunan menara? Kalian tidak pernah benar-benar memeriksa fondasinya, Thalric. Kalian hanya memeriksa bagian yang terlihat. Karena kalian takut dengan apa yang akan kalian temukan jika kalian menggali lebih dalam."
Ia melangkah maju lagi, dan kali ini, tidak ada prajurit yang mundur—bukan karena mereka tidak takut, tetapi karena mereka telah mencapai batas lingkaran dan tidak punya tempat untuk pergi kecuali ke belakang, dan di belakang mereka adalah Eldrin Voss yang masih berlutut.
"Tiga hari lagi," kata Ilyas, suaranya turun menjadi bisikan yang anehnya terdengar oleh semua orang di alun-alun itu, "Menara Keadilan akan runtuh. Sama seperti Menara Selatan. Sama seperti Menara Timur yang runtuh lima tahun sebelum aku lahir. Sama seperti semua menara yang dibangun di atas fondasi yang sama—fondasi yang diletakkan bukan oleh manusia, tetapi oleh Arsitek."
Nama itu.
Arsitek.
Sekarang semua orang di alun-alun itu berdiri diam. Obor-obor terus berderak. Angin terus bertiup. Namun ada keheningan yang begitu dalam di antara para prajurit itu sehingga sehelai rambut pun yang jatuh akan terdengar seperti guntur.
Eldrin Voss, yang selama ini diam, tiba-tiba tertawa.
Bukan tawa orang gila. Bukan tawa orang yang putus asa. Tapi tawa orang yang telah menyimpan rahasia begitu lama sehingga rahasia itu mulai membusuk di dalam dirinya, dan sekarang—akhirnya—seseorang telah datang untuk mengambilnya.
"Dia benar," kata Voss, suaranya serak tetapi jelas. "Setiap kata yang dia ucapkan benar. Aku yang merancang fondasi itu. Aku yang mencampur debu dari reruntuhan ke dalam campuran batu. Aku melakukannya atas perintah—"
"Tutup mulutmu!" bentak Thalric, dan sekarang topengnya benar-benar retak. Wajahnya memerah karena amarah—atau mungkin ketakutan—dan tangannya yang sebelumnya tergenggam rapi di belakang punggung sekarang mengepal di samping tubuhnya. "Kamu adalah terpidana mati. Tidak ada yang percaya pada kata-kata seorang pengkhianat."
"Tapi mereka akan percaya pada bukti," kata Ilyas pelan.
Ia menekuk jari-jari tangan kanannya, dan energi ungu di sekitarnya mulai berputar—perlahan pada awalnya, kemudian semakin cepat, menciptakan pusaran kecil di udara di depannya. Pusaran itu berubah bentuk, memadat, dan dalam hitungan detik, sebuah objek terbentuk di telapak tangannya.
Sebuah batu.
Batu kecil, abu-abu, tidak istimewa. Batu yang bisa ditemukan di mana saja di Varethra.
Tapi batu ini berdenyut dengan cahaya yang sama seperti energi di tangan Ilyas. Denyut yang teratur. Denyut yang mengingatkan pada detak jantung.
"Ini adalah sampel dari fondasi Menara Keadilan," kata Ilyas. "Aku mengambilnya tiga malam yang lalu, dari celah di ruang bawah tanah yang tidak pernah diperiksa siapa pun. Batu ini mengandung jejak yang sama dengan debu dari Menara Selatan. Jejak Arsitek."
Ia melempar batu itu ke arah Kapten wanita itu.
Kapten itu menangkapnya—secara refleks—dan kemudian hampir menjatuhkannya lagi ketika batu itu terasa hangat di tangannya, berdenyut seperti sesuatu yang hidup. Ia menatap batu itu, kemudian menatap Ilyas, kemudian menatap Thalric di balkon.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, Kapten itu tampak ragu.
"Kapten Vex," panggil Thalric, suaranya tajam. "Serahkan batu itu kepada salah satu letnanmu. Itu adalah barang bukti dalam penyelidikan—"
"Tidak," kata Kapten Vex.
Seluruh alun-alun terdiam.
Kapten Vex—wanita dengan rambut pendek dan bekas luka bakar di leher—menggenggam batu itu erat-erat di tangannya dan menatap langsung ke arah Thalric. "Dengan hormat, Yang Mulia, aku tidak bisa mengabaikan apa yang baru saja kulihat. Batu ini... batu ini tidak normal. Jika benar bahwa fondasi Menara Keadilan terbuat dari material yang sama dengan Menara Selatan, maka kita semua dalam bahaya. Bukan hanya tahanan ini. Bukan hanya pemuda ini. Tapi semua orang yang bekerja di menara itu. Semua orang yang tinggal di sekitarnya."
"Kapten Vex, kau melampaui wewenangmu—"
"Aku tidak melampaui wewenang apa pun, Yang Mulia. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh setiap prajurit Varethra: melindungi rakyat. Dan rakyat tidak akan terlindungi jika kita membiarkan sebuah menara runtuh di atas kepala mereka hanya karena kita terlalu sombong untuk mengakui bahwa kita mungkin salah."
Thalric menatap Kapten Vex seolah-olah ia baru saja ditampar.
Di bawah, di tengah alun-alun, Ilyas tersenyum—senyum tipis yang tidak mencapai matanya.
"Kau lihat, Hakim Agung?" katanya pelan. "Bahkan di dalam pasukanmu sendiri, ada orang yang masih ingat apa artinya menjadi manusia. Mungkin sudah waktunya kau mulai mendengarkan mereka."
Ia berbalik menghadap Eldrin Voss, yang masih berlutut tetapi sekarang matanya berbinar—bukan dengan harapan, tetapi dengan sesuatu yang mirip dengan rasa ingin tahu yang baru lahir.
"Bangun, Arsitek Tua," kata Ilyas. "Malam ini, kau tidak akan mati. Karena malam ini, kita mulai membongkar kebohongan yang telah dibangun di atas tulang-tulang orang mati selama tujuh puluh tahun terakhir."
Ia mengulurkan tangan kirinya—tangan yang normal, tanpa energi—kepada Voss.
Voss menatap tangan itu untuk beberapa detik yang terasa seperti selamanya. Kemudian, perlahan, dengan gerakan yang terasa berat karena usia dan kelelahan, ia mengangkat tangannya yang terikat dan meletakkannya di telapak tangan Ilyas.
Rantai besi di pergelangan Voss berkarat dalam hitungan detik dan hancur menjadi debu.
"Terima kasih," bisik Voss.
"Jangan berterima kasih dulu," jawab Ilyas. "Kita baru saja memulai perang. Dan di Varethra, perang tidak pernah berakhir dengan bahagia."
Tidak ada yang berani menghentikan mereka.
Ilyas berjalan dengan langkah tenang, Eldrin Voss di sisinya—tubuh tua itu masih menggigil, tetapi kakinya bergerak dengan tekad yang lahir dari empat puluh tahun membangun kota yang sama yang kini hendak membunuhnya. Mereka melewati barisan prajurit yang membelah diri seperti lautan yang tunduk pada angin yang lebih kuat. Beberapa prajurit menunduk, tidak mau bertemu mata Ilyas. Yang lain menatap lurus ke depan, rahang mengeras, mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa mereka tidak takut.
Kapten Vex berdiri di samping formasinya, batu kecil yang berdenyut itu masih tergenggam di tangannya. Ia tidak memberi perintah untuk mengejar. Ia juga tidak memberi perintah untuk membiarkan mereka pergi. Ia hanya berdiri di sana, seperti patung yang sedang bergumul dengan dewa-dewa yang tidak pernah menjawab doanya.
Dari balkon, Thalric menyaksikan semuanya dalam diam.
Wajahnya kembali menjadi topeng batu—tidak ada amarah, tidak ada ketakutan, tidak ada apa pun yang bisa dibaca oleh siapa pun di bawah sana. Namun jari-jari tangannya, yang kini tergenggam di belakang punggungnya, bergerak dengan ritme yang tidak disadari oleh siapa pun kecuali dirinya sendiri. Satu per satu. Ibu jari menyentuh telunjuk. Telunjuk menyentuh jari tengah. Jari tengah menyentuh jari manis. Sebuah pola. Sebuah kebiasaan lama yang muncul hanya ketika ia benar-benar ketakutan.
Ketika Ilyas dan Voss mencapai tepi alun-alun, tepat di bawah lengkungan batu tempat Ilyas pertama kali muncul, pemuda itu berhenti.
Ia tidak menoleh.
Tapi suaranya terdengar jelas, seolah-olah angin malam sengaja membawanya kembali ke balkon tempat Thalric berdiri.
"Tiga hari, Hakim Agung. Tiga hari sampai Menara Keadilan runtuh. Kau punya waktu itu untuk mengevakuasi siapa pun yang masih kau anggap berharga. Atau kau bisa terus berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja, seperti yang selalu kau lakukan."
Ia melangkah ke dalam bayang-bayang lengkungan.
Dan menghilang.
Bersama Eldrin Voss.
Bersama semua jawaban yang selama dua belas tahun terakhir Thalric coba kubur di bawah batu, beton, dan kebohongan.
—
Kapten Vex baru menyadari bahwa ia telah menahan napas ketika Ilyas tidak lagi terlihat. Udara yang keluar dari paru-parunya terasa panas dan tipis, seperti napas seseorang yang baru saja selamat dari tenggelam. Ia menggenggam batu di tangannya lebih erat—masih hangat, masih berdenyut, masih mengingatkannya bahwa apa yang baru saja terjadi bukanlah mimpi.
"Kapten."
Suara itu datang dari belakangnya. Letnan Erris, pria muda dengan jenggot tipis yang baru mulai tumbuh, berdiri dengan ekspresi gelisah. "Kapten, apa perintah kita? Apakah kita mengejar?"
Vex menatap Letnan Erris untuk waktu yang lama. Ia mengingat bagaimana Erris bergabung dengan pasukan tiga tahun lalu—penuh semangat, penuh keyakinan bahwa Varethra adalah kota yang adil. Vex tidak ingin menjadi orang yang menghancurkan keyakinan itu. Tapi ia juga tidak bisa terus membiarkan Erris hidup dalam kebohongan.
"Tidak," kata Vex akhirnya. "Kita tidak mengejar."
"Tapi Kapten—"
"Itu perintah, Letnan."
Erris menutup mulutnya. Ada kekecewaan di matanya, tapi juga kelegaan yang tidak ingin ia akui. Tidak ada prajurit di alun-alun itu yang benar-benar ingin mengejar Ilyas Renvar malam ini. Mereka mungkin tidak akan mengakuinya dengan suara keras, tetapi mereka semua merasakannya: ada sesuatu yang berbeda tentang pemuda itu. Sesuatu yang tidak bisa dilawan dengan tombak dan perisai.
"Formasi bubar," perintah Vex, suaranya kembali ke nada komandan yang tegas. "Kembali ke pos masing-masing. Aku akan melapor ke Hakim Agung."
Prajurit-prajurit itu bergerak dengan efisien, tetapi gerakan mereka terasa berat—seperti orang yang baru saja dimakamkan hidup-hidup dan kemudian digali kembali, masih belum percaya bahwa mereka bisa menghirup udara bebas.
Vex menaiki tangga batu menuju balkon tempat Thalric masih berdiri.
Hakim Agung itu tidak bergerak ketika Vex tiba. Matanya tetap tertuju pada lengkungan tempat Ilyas menghilang, meskipun tidak ada lagi yang bisa dilihat selain bayangan dan kabut.
"Yang Mulia," kata Vex, membungkuk sedikit. "Aku—"
"Kau tidak perlu menjelaskan, Kapten." Suara Thalric datar. Terlalu datar. "Aku melihat apa yang terjadi. Aku mendengar apa yang dikatakan pemuda itu. Pertanyaannya sekarang adalah: apa yang akan kau lakukan dengan batu di tanganmu?"
Vex menunduk melihat batu itu. Masih berdenyut. Masih hangat.
"Aku akan membawanya ke ahli geologi kota," jawab Vex hati-hati. "Minta mereka menganalisis komposisinya. Jika benar bahwa fondasi Menara Keadilan terkontaminasi—"
"Tidak."
Vex mengangkat kepalanya, terkejut.
Thalric akhirnya menoleh. Matanya—gelap, tanpa kilau—menatap Vex dengan intensitas yang membuat Kapten itu merasakan dingin yang tidak ada hubungannya dengan cuaca. "Kau akan memberikan batu itu kepadaku. Dan kau akan melupakan semua yang terjadi malam ini."
"Yang Mulia, dengan hormat—"
"Itu bukan permintaan, Kapten Vex. Itu perintah."
Keheningan menganga di antara mereka berdua. Angin malam bertiup di antara menara-menara, membawa serta bau logam dan sesuatu yang manis—mungkin bunga dari taman Kanselir di kejauhan, mungkin sesuatu yang lain.
Vex merasakan beban batu di tangannya. Beban sebuah pilihan.
"Aku tidak bisa melakukan itu, Yang Mulia," katanya, dan suaranya lebih tenang daripada yang ia rasakan. "Jika benar bahwa Menara Keadilan akan runtuh dalam tiga hari, maka tiga ribu orang bekerja di gedung itu setiap hari. Belum lagi penduduk di sekitar—"
"Tiga ribu?" Thalric tersenyum. Senyum yang tidak memiliki kehangatan. "Kau benar-benar percaya angka itu? Kau benar-benar percaya bahwa Kanselir Morvain akan membiarkan tiga ribu rakyatnya mati sia-sia?"
"Aku tidak tahu apa yang dipercaya Kanselir. Tapi aku tahu apa yang dipercaya oleh hati nuraniku."
"Ah." Thalric menghela napas panjang—napas seorang pria yang telah mendengar kata "hati nurani" terlalu sering dari orang-orang yang kemudian mati karena kebaikan mereka. "Hati nurani. Barang mewah yang hanya mampu dimiliki oleh mereka yang tidak duduk di kursi kekuasaan."
Ia mengulurkan tangannya.
"Berikan batu itu, Kapten. Ini kesempatan terakhirmu."
Vex menatap tangan itu. Tangan yang telah menandatangani ratusan surat perintah eksekusi. Tangan yang mungkin juga telah menandatangani surat kematian untuk tiga ribu orang yang tidak tahu bahwa mereka sedang bekerja di atas fondasi yang terkutuk.
Perlahan, sangat perlahan, Vex mengangkat tangannya.
Dan melemparkan batu itu ke jurang di bawah balkon.
Thalric terkejut—hanya sekejap, tetapi cukup lama untuk dilihat oleh Vex. Batu itu jatuh ke dalam kabut, menghilang ke dalam kegelapan di antara bangunan-bangunan tua, dan detak denyutnya yang lembut lenyap bersama suara pecahan batu di kejauhan.
"Apa yang kau lakukan?" desis Thalric.
"Yang seharusnya aku lakukan sejak awal," jawab Vex. "Menghancurkan bukti? Tidak, Yang Mulia. Aku hanya mengembalikannya ke tempatnya. Biarkan tanah Varethra sendiri yang memutuskan apakah ia akan berbicara atau tetap diam."
Ia membungkuk sekali lagi—dalam, formal, tanpa rasa hormat.
"Jika Yang Mulia mengizinkan, aku akan kembali ke pos tugasku. Atau kau bisa memenjarakanku sekarang. Tapi ketahuilah: jika kau memenjarakanku, maka akan ada lebih banyak orang yang bertanya mengapa seorang kapten yang baru saja melihat bukti keruntuhan menara tiba-tiba menghilang. Dan pertanyaan, Yang Mulia, adalah racun yang tidak bisa diobati oleh penjara mana pun."
Tanpa menunggu jawaban, Vex berbalik dan berjalan menuruni tangga batu, meninggalkan Thalric sendirian di balkon dengan kegelapan dan angin malam yang semakin dingin.
—
Di dalam bayang-bayang lengkungan batu, Ilyas berdiri diam.
Ia tidak benar-benar menghilang. Ia hanya berdiri di sana, di balik pilar batu yang tebal, cukup jauh dari cahaya obor sehingga matanya yang gelap menyatu dengan kegelapan. Eldrin Voss bersandar di dinding di sampingnya, dadanya naik turun dengan cepat—bukan karena kelelahan fisik, tetapi karena gelombang adrenalin yang masih mengalir di tubuh tua itu.
"Dia membuang batu itu," bisik Voss, matanya terbelalak. "Kapten itu... dia membuang satu-satunya bukti yang kita miliki."
"Bukan satu-satunya," jawab Ilyas, suaranya nyaris tak terdengar. "Hanya satu dari banyak."
"Apa maksudmu?"
Ilyas tidak menjawab. Matanya tetap tertuju pada balkon tempat Thalric berdiri, mengamati bagaimana Hakim Agung itu berdiri diam selama satu menit penuh sebelum akhirnya berbalik dan masuk ke dalam gedung pengadilan. Pintu di belakangnya tertutup dengan bunyi gedebuk rendah—tertutup, tidak dibanting. Thalric masih cukup tenang untuk tidak membanting pintu. Itu berarti ia belum panik. Itu berarti ia masih berbahaya.
"Kita harus pergi," kata Ilyas. "Sebelum dia mengirim pasukan lain setelah kita. Bukan pasukan biasa, kali ini. Tapi pasukan bayangan."
"Pasukan bayangan?" Voss mengerutkan kening. "Aku tidak pernah—"
"Tentu saja kau tidak pernah. Tidak ada yang pernah." Ilyas mendorong dirinya menjauh dari pilar dan mulai berjalan menyusuri gang sempit di antara dua bangunan tua. "Ikuti aku. Jangan bicara. Jangan bertanya. Dan apa pun yang terjadi, jangan menyentuh apa pun yang berwarna ungu."
Voss mengikuti tanpa bertanya lebih lanjut. Mungkin karena ia terlalu lelah untuk bertanya. Mungkin karena ia telah belajar, selama empat puluh tahun menjadi arsitek Varethra, bahwa beberapa pertanyaan lebih baik tidak dijawab.
Mereka berjalan dalam diam selama hampir dua puluh menit, melewati lorong-lorong yang semakin sempit, menaiki tangga-tangga batu yang licin karena lumut, melewati jembatan penghubung yang menghubungkan satu bangunan ke bangunan lain di atas jalan-jalan yang tidak pernah dilihat oleh sinar matahari. Voss kehabisan napas setidaknya tiga kali, tetapi Ilyas tidak pernah memperlambat langkahnya. Ia tampaknya tahu persis ke mana ia pergi—setiap belokan, setiap tikungan, setiap celah sempit yang membutuhkan tubuh untuk memiringkan bahu agar bisa lewat.
Akhirnya, mereka sampai di sebuah pintu kayu yang tampak seperti bagian dari dinding—tidak ada gagang, tidak ada engsel yang terlihat, hanya retakan tipis di sekelilingnya yang menunjukkan bahwa itu sebenarnya bisa dibuka.
Ilyas meletakkan telapak tangan kanannya di tengah pintu.
Energi ungu menyala—bukan denyut seperti sebelumnya, tetapi cahaya yang stabil, merayap dari telapak tangannya ke serat-serat kayu, mengisi retakan-retakan dengan cahaya yang lembut. Pintu itu berderit pelan dan terbuka ke dalam, mengungkapkan ruangan kecil yang hangat—dinding batu, lantai kayu, satu jendela bundar yang menghadap ke menara-menara Distrik Atas di kejauhan. Sebuah perapian kecil menyala di sudut, meskipun tidak ada kayu yang terbakar dan tidak ada cerobong asap yang terlihat.
"Selamat datang di rumah amanku," kata Ilyas, melangkah masuk. "Bukan istana. Tapi cukup aman dari mata-mata Thalric. Setidaknya untuk malam ini."
Voss masuk, matanya menjelajahi ruangan itu dengan naluri seorang arsitek—mengukur dimensi, mencari kelemahan struktural, menghitung berapa banyak beban yang bisa ditahan oleh langit-langit. "Ini... ini adalah ruang di antara dinding. Tidak tercatat dalam peta kota mana pun."
"Karena tidak ada yang tahu bahwa ruang ini ada. Kecuali aku." Ilyas menutup pintu di belakang mereka, dan segera setelah pintu itu tertutup, energi ungu di sekelilingnya meredup, lalu padam sepenuhnya. Untuk pertama kalinya malam itu, ia tampak... lelah. Bukan lelah fisik, tetapi lelah yang lebih dalam—kelelahan seseorang yang telah memakai topeng terlalu lama.
Voss menatapnya dengan seksama.
"Kau bukan hanya seorang pemuda dengan kekuatan aneh, kan?" kata Voss perlahan. "Kau tahu tentang Menara Selatan. Kau tahu tentang debu dari reruntuhan. Kau tahu tentang Arsitek. Hal-hal yang seharusnya hanya diketahui oleh segelintir orang—dan kebanyakan dari mereka sudah mati."
Ilyas berbalik menghadap jendela bundar. Dari sini, Menara Keadilan terlihat jelas—menjulang di kejauhan, puncaknya yang runcing menembus kabut merah, obor-obor di sepanjang dindingnya berkelap-kelip seperti bintang-bintang yang jatuh.
"Aku tahu lebih dari yang seharusnya," aku Ilyas, suaranya datar. "Dan kurang dari yang kubutuhkan. Itulah sebabnya kau masih hidup, Arsitek Tua. Bukan karena kebaikan hatiku. Tapi karena kau adalah potongan terakhir dari teka-teki yang selama tujuh belas tahun tidak bisa kuselesaikan."
Ia menoleh, dan untuk pertama kalinya, Voss melihat sesuatu di mata pemuda itu yang bukan kendali atau ketenangan.
Ada kesedihan di sana. Kesedihan yang tua dan dalam, seperti sumur yang tidak pernah melihat matahari.
"Ceritakan tentang Menara Selatan," kata Ilyas. "Ceritakan tentang malam ketika tiga ratus tujuh puluh dua orang mati. Ceritakan tentang apa yang kau lihat di fondasi bangunan itu sebelum runtuh. Dan ceritakan tentang Arsitek—entitas yang kau sebut dalam kata-kata terakhirmu di alun-alun."
Ia menarik kursi kayu sederhana dan duduk di hadapan Voss.
"Karena malam ini, Arsitek Tua, aku tidak akan membiarkanmu tidur sampai semua kebenaran keluar dari mulutmu. Bahkan jika kebenaran itu akan membuat kita berdua ingin mati."
Voss menatap Ilyas untuk waktu yang lama.
Kemudian, perlahan, ia duduk di lantai—karena tidak ada kursi lain—dan mulai berbicara.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!