Indonesia
NovelToon NovelToon

Istri Yang Diremehkan: Dokter Jenius

Chapter — 1.

Arunika berdiri di depan meja makan panjang itu dengan tenang. Gaun rumahnya sederhana, rambut cokelat gelapnya tergerai rapi hingga bahu. Wajahnya tanpa riasan berlebihan, hanya sentuhan tipis yang membuatnya tampak bersih dan profesional.

Namun di ruangan megah itu, ia tetap terlihat seperti seseorang yang tak penting.

Mertuanya, Mirna Wijaya, meletakkan sendok dengan bunyi cukup keras.

“Masakan ini kurang asin,” ucapnya dingin.

Arunika mengangguk pelan.

“Baik, Mah. Nanti saya perbaiki.”

Di ujung meja, suaminya Simon Wijaya, bahkan tak mengangkat wajah dari layar ponselnya. “Ma, nanti malam ada jamuan dengan klien Singapura. Arunika nggak perlu ikut.”

Mirna tersenyum tipis.

“Memang sebaiknya begitu, istri pengusaha besar seharusnya punya wawasan... bukan cuma pintar di dapur.”

Kalimat itu meluncur halus, tetapi mengandung luka. Namun Arunika tetap berdiri tegak, ia menatap suaminya. “Kalau memang tidak diperlukan, aku tidak akan datang.”

Simon akhirnya menoleh pada Arunika, tatapannya datar. “Kamu nggak keberatan?”

“Tidak,” jawab Arunika tenang.

Dan memang benar, ia... tidak keberatan. Karena malam ini, ia sudah memiliki agenda yang jauh lebih penting daripada sekadar menghadiri jamuan makan yang penuh basa-basi.

Satu jam kemudian, Arunika memasuki ruangannya di lantai dua rumah besar itu. Begitu pintu tertutup, ekspresinya berubah.

Tenang, tegas dan terlihat fokus. Ia membuka lemari tersembunyi di balik panel kayu, di dalamnya tersimpan tas kulit hitam dan jas laboratorium putih yang terlipat rapi.

Nama bordir di dada kiri itu tertulis, Dr. Arunika Maheswari, Sp.BTKV—Spesialis Bedah Toraks, Kardiak, dan Vaskular.

Ia mengenakan jas itu dengan gerakan terlatih.

Ponselnya bergetar.

“Ya?” jawabnya singkat.

Suara di seberang terdengar cemas namun penuh hormat. “Dokter, pasien aneurisma sudah tiba. Tekanan darah tidak stabil, kami menunggu Anda.”

“Aku sampai dalam dua puluh menit, siapkan ruang operasi. Jangan mulai tanpa saya!”

Nada suaranya berubah sepenuhnya, tidak lembut dan tidak ada keraguan. Ia mematikan panggilan, meraih tasnya, lalu berjalan keluar melalui pintu samping rumah yang jarang digunakan.

Tak ada yang tahu, karena tak ada yang bertanya. Sebab di rumah itu, keberadaannya memang tak pernah dianggap penting.

Tak berapa lama di sisi lain kota, lampu ruang operasi Rumah Sakit Cakrawala menyala terang. Tim dokter berdiri siap. Begitu Arunika masuk, seluruh ruangan terasa berbeda.

“Laporan singkat,” kata wanita itu sambil mengenakan sarung tangan steril.

“Perempuan, 42 tahun. Aneurisma pecah, pendarahan masif.”

Arunika menatap monitor beberapa detik.

“Clamp di sini,” ujarnya menunjuk cepat. “Kita kontrol aliran dulu, jangan panik.”

Seorang dokter muda menelan ludah. “Dokter… risiko kematian—”

“Fokus pada prosedur, bukan statistik,” potong Arunika tenang.

Pisau bedah berpindah ke tangannya, gerakannya presisi. Tidak tergesa-gesa, bahkan tangannya tidak gemetar. Waktu berjalan hampir tiga jam. Ketika akhirnya Arunika melepas sarung tangan, suara monitor berdetak stabil.

Pasien selamat.

Seluruh tim mengembuskan napas lega.

“Terima kasih, Dokter Arunika,” ucap Kepala Anestesi dengan hormat.

Arunika hanya mengangguk kecil. “Pastikan observasi ketat dua puluh empat jam.”

Ia berjalan keluar tanpa mencari pujian. Baginya, ini bukan kehebatan. Ini... tanggung jawab.

Saat ia kembali ke rumah menjelang tengah malam, ruang tamu masih menyala. Simon duduk di sofa dengan jas yang belum dilepas.

“Kamu dari mana?” tanya pria itu singkat.

“Keluar sebentar.”

“Sebentar sampai hampir tengah malam?”

Arunika menatap suaminya tanpa ekspresi. “Ada urusan.”

Simon menyunggingkan senyum miring yang meremehkan. “Urusan apa memangnya? Kamu bahkan tidak bekerja, kau hanya... ibu rumah tangga biasa.”

Hening.

Arunika bisa saja menjawab, ia bisa saja mengatakan bahwa malam ini ia menyelamatkan satu nyawa. Bahwa tangannya melakukan operasi yang bahkan tak semua dokter berani ambil. Tapi ia memilih diam, karena pengakuan yang dipaksakan tak pernah bernilai.

“Aku lelah, kalau tidak ada yang penting... aku istirahat dulu.” Ucap Arunika pelan.

Simon berdiri. “Kamu tahu? Kadang aku berharap punya istri yang bisa kubanggakan di depan rekan bisnis.”

Langkah Arunika terhenti, namun ia tidak berbalik. “Semoga suatu hari nanti kamu mendapatkannya,” jawabnya lembut.

Ia berjalan naik ke lantai dua tanpa menyadari bahwa kalimat itu akan menjadi kenyataan—dengan cara yang tak pernah mereka bayangkan.

Malam itu... di kamar yang sama tetapi terasa begitu jauh, Arunika berdiri di depan cermin.

Ia menatap bayangannya sendiri, tidak perlu pengakuan untuk mengetahui nilai dirinya. Namun suatu hari nanti… dunia yang meremehkannya akan berdiri dan menyebut namanya dengan hormat.

Chapter — 2.

Perjamuan malam itu digelar.

Simon berdiri di tengah aula hotel dengan jas hitam mahal dan senyum profesional. Di sampingnya, bukan Arunika. Melainkan seorang wanita muda bergaun merah anggur, anggun dan percaya diri.

“Ini dokter Riana,” ujar Simon ringan kepada para tamu.

Riana tersenyum manis, tangannya menyentuh lengan Simon seolah refleks, namun terlalu lama untuk disebut kebetulan.

Beberapa tamu saling pandang.

“Bukankah Anda sudah menikah, Tuan Simon?” tanya seseorang.

Simon tertawa kecil. “Istri saya kurang nyaman dengan acara formal seperti ini.”

Riana menimpali lembut, “Istri Pak Simon lebih suka di rumah.”

Kalimat itu terdengar polos, tapi maksudnya sangat jelas.

Sementara di rumah besar itu, Arunika sedang menutup laptopnya. Ia baru saja menyelesaikan revisi jurnal medis yang akan dikirim ke konferensi internasional—tentu saja dengan nama pena dan alamat korespondensi pribadi.

Ponselnya bergetar.

Pesan anonim masuk.

Suamimu tampak sangat serasi dengan seorang wanita malam ini.

Ada foto terlampir. Simon dan Riana berdiri terlalu dekat, senyum mereka terlalu intim untuk sekadar hubungan profesional.

Arunika menatap foto itu beberapa detik, ia hanya mematikan layar. Beberapa hal memang sudah lama ia pahami tanpa perlu bukti.

Dua hari kemudian, makan malam keluarga diadakan. Nyonya Mirna duduk tegak seperti biasa, sementara Simon terlambat datang.

Dan ketika Simon akhirnya datang, ternyata Riana ikut masuk. “Mama minta laporan proyek, jadi aku ajak Riana sekalian. Dia adalah dokter yang akan terlibat dalam proyek ini. Riana sangat berbakat dan memiliki kemampuan yang tidak perlu diragukan lagi.“

Nyonya Mirna tersenyum pada Riana, lebih hangat daripada pada menantunya sendiri. “Silakan duduk, dokter.”

“Panggil saja saya Riana, Tante."

Arunika tetap diam di kursinya, Riana menoleh kepadanya. “Oh, Mbak Arunika ya? Saya sering dengar nama Mbak.”

“Dari mana?” tanya Arunika tenang.

“Dari Mas Simon, katanya Mbak tidak suka dunia kerja yang sibuk.”

Mas, bahkan wanita itu berani memanggil Simon dengan sapaan yang begitu akrab.

Simon tidak membantah.

Arunika hanya menatap suaminya, dan tersenyum tipis.

“Benar begitu, Mas?” tanyanya lembut.

Simon menyandarkan tubuhnya. “Kamu memang tidak bekerja, kan?”

Nyonya Mirna ikut menambahkan, “Perempuan yang terlalu berpendidikan sering sulit diatur, untung kamu tidak seperti itu.”

Kalimat itu terdengar seperti pujian, padahal penghinaan.

Arunika tersenyum tipis. “Benar, saya tidak berpendidikan. Jadi... tidak sulit diatur.”

Simon tidak menyadari nada kalimat itu berubah, karena yang sebenarnya terjadi adalah... Arunika tidak lagi berusaha mengatur dirinya demi siapa pun.

Satu minggu kemudian, Simon mendapat kabar buruk. Tender proyek rumah sakit swasta terbesar di kota itu gagal ia menangkan, kontrak miliaran rupiah jatuh ke perusahaan pesaing.

Simon membanting map di meja.

“Siapa direktur medis mereka?” tanyanya kesal.

“Seorang investor baru, namanya Angkasa Wiratama,” jawab asistennya.

Nama itu asing.

Namun dalam dunia medis, nama itu mulai sering disebut. Angkasa dikenal sebagai pengusaha muda yang mengakuisisi beberapa fasilitas kesehatan dan mendatangkan dokter-dokter terbaik secara diam-diam.

Malam itu, Arunika menerima surel resmi.

📂📧 Kami berharap Anda bersedia menjadi kepala tim bedah untuk proyek pusat jantung terpadu kami. Identitas Anda akan tetap kami lindungi sesuai permintaan sebelumnya.

Ia membaca nama pengirimnya—Angkasa Wiratama. Ia belum pernah bertemu pria itu, namun mereka sudah berkorespondensi selama setahun. Semuanya profesional, tanpa pernah membahas kehidupan pribadi.

Arunika membalas singkat.

Saya bersedia, dengan satu syarat... kerahasiaan identitas saya tetap menjadi prioritas.

Balasan datang cepat.

📂📧Tentu, kami menghargai pilihan Anda.

Arunika lalu menutup laptop.

Sementara di ruang kerja lain rumah itu, Simon sedang merencanakan strategi untuk menjatuhkan pesaingnya—tanpa tahu bahwa istri yang ia remehkan adalah bagian dari fondasi proyek tersebut.

Esoknya... saat makan malam.

Konflik memuncak saat media bisnis memuat artikel.

“Proyek Pusat Jantung Terpadu Akan Dipimpin Dokter Jenius yang Identitasnya Dirahasiakan.”

Simon membaca berita itu sambil mencibir.

“Dokter jenius? Hanya gimmick pemasaran.”

Arunika duduk di seberangnya, menyeruput teh. “Kata ‘jenius’ tidak digunakan sembarangan,” ucapnya ringan.

Simon menatapnya. “Kamu mengerti dunia medis sekarang?”

“Aku suka membaca.”

Riana yang juga kembali datang, duduk di samping Simon tersenyum tipis. “Kalau saya jadi istri pengusaha besar, saya mungkin akan bantu mencari relasi medis... bukan hanya membaca.”

Simon tertawa kecil. “Kamu memang ambisius, Riana.”

Keduanya pun larut dalam percakapan hangat, seolah dunia hanya milik mereka berdua tanpa sedikit pun memberi ruang bagi Arunika.

Namun Arunika tidak perduli, ia kemudian beranjak dari duduknya. “Permisi, saya ke atas dulu.”

Langkahnya tetap tenang. Namun di dalam dirinya, keputusan lama semakin matang. Dokumen perceraian sudah direvisi, rekening pribadi sudah dipisahkan. Apartemen kecil sudah ia beli atas nama sendiri, semua sudah direncanakan rapi olehnya.

Bukan semata karena Riana—wanita yang kini semakin terang-terangan mendekati suaminya. Melainkan karena ia tak ingin terus hidup sebagai bayangan di rumah yang seharusnya menjadi tempatnya berdiri sejajar, bukan tersisih dalam diam.

Malam berikutnya, Simon mendapat undangan eksklusif. Pertemuan tertutup dengan pemilik proyek pusat jantung terpadu. Tempatnya, ruang VIP Rumah Sakit Cakrawala.

Simon tersenyum puas. “Kesempatan membalikkan keadaan.”

Ia tak tahu, bahwa di gedung yang sama di lantai berbeda, istrinya sedang memimpin simulasi operasi untuk proyek tersebut. Dan mereka akan berada di satu gedung… tanpa menyadari betapa dekat rahasia itu dengan kehancuran.

Chapter — 3.

Undangan itu eksklusif.

Pertemuan tertutup antara jajaran investor proyek Pusat Jantung Terpadu dan beberapa perusahaan konstruksi besar, termasuk perusahaan milik keluarga Wijaya.

Simon berdiri di depan cermin, merapikan dasinya. “Aku bawa Riana,” ucapnya datar saat melihat Arunika duduk membaca di sofa.

Arunika mengangkat wajahnya. “Bukankah dia hanya dokter? Kenapa harus ikut?”

“Dia juga sekretaris proyek sekarang, dia lebih mengerti dunia medis daripada kamu.” Ucap Simon sinis.

Kalimat pahit itu sengaja dilempar, Arunika mengangkat bahu lalu kembali menunduk membalik halaman buku yang ia baca.

Satu jam kemudian, di ballroom VIP Rumah Sakit Cakrawala, pertemuan berlangsung formal. Investor utama belum menunjukkan diri, semua komunikasi dilakukan melalui perwakilan dan layar presentasi.

Riana berdiri di samping Simon, membisikkan beberapa istilah medis seolah-olah ia penasihat utama.

Beberapa direktur melirik mereka dengan samar.

“Saya dengar kepala tim bedah proyek ini sangat selektif,” ujar salah satu investor.

Simon tersenyum percaya diri. “Kami siap bekerja sama dengan siapa pun, bahkan dengan dokter jenius itu.”

Di lantai atas gedung yang sama, ruang simulasi operasi sedang aktif. Arunika berdiri dengan scrub biru tua, masker tergantung di lehernya. Tatapannya fokus pada layar 3D anatomi jantung.

“Ulangi skenario ruptur aorta,” perintahnya tegas.

Tim mengikuti tanpa ragu.

Angkasa Wiratama berdiri di sudut ruangan, mengamati tanpa mengganggu. Ia baru pertama kali bertemu langsung dengan wanita yang selama ini hanya ia kenal lewat surel profesional.

Begitu simulasi berakhir, Angkasa melangkah mendekati Arunika. “Halo, akhirnya kita bertemu langsung.”

Ia mengulurkan tangan dengan senyum ramah, Arunika sempat terdiam beberapa detik sebelum akhirnya menyambut uluran tangan pria itu. “Saya juga, senang bertemu dengan Anda.”

“Kamu tidak pernah hadir dalam pertemuan investor,” ucap Angkasa.

“Karena mereka hanya perlu hasil, bukan wajah saya,” jawab Arunika singkat.

Angkasa tersenyum tipis. “Perusahaan Wijaya sedang berusaha mendekati proyek ini.”

“Tolak secara halus.” Jawab Arunika tegas.

“Penolakanmu terdengar pribadi.” Mata Angkasa menyipit.

“Tentu saja ini profesional.” Arunika bicara dengan nada tenang, namun ada kilat dingin di matanya.

Angkasa termasuk pribadi dengan naluri yang tajam. Di balik nada tenang Arunika, ia dapat menangkap tekanan—sebuah getar kebencian yang terselip rapi. Namun ia memilih untuk tidak mengusiknya lebih jauh.

“Bagaimana kalau kita makan siang bersama? Izinkan saya mentraktir Anda, Dokter,” tawarnya ringan.

Sebenarnya, Arunika tidak terbiasa menjalin interaksi di luar kepentingan pekerjaan. Ia menjaga batas dengan tegas. Namun mengingat kerja sama yang akan terjalin dengan perusahaan Angkasa, akhirnya ia mengangguk pelan.

“Baik.”

Disaat bersamaan, Simon berjalan menuju lift eksekutif. Namun karena lift khusus sedang digunakan, resepsionis memintanya menunggu dan menggunakan lift umum.

Simon mengembuskan napas panjang, menahan kesal, namun tetap menurut. Pintu lift terbuka di lantai dua belas. Beberapa dokter melangkah keluar lebih dulu. Lalu… seorang wanita masuk ke lift lain bersama seorang pria.

Arunika?

Wanita itu berdiri berdampingan dengan Angkasa. Pintu lift perlahan menutup, memutus pandangan Simon sebelum ia sempat memastikan lebih jelas.

Ia menggeleng pelan, menepis pikirannya sendiri. Tidak mungkin Arunika berada di gedung Rumah Sakit Cakrawala.

*****

Di meja makan, Nyonya Mirna memandang Arunika dengan tatapan menyelidik.

“Kamu akhir-akhir ini sering keluar malam.”

“Kadang-kadang,” jawab Arunika.

“Perempuan yang terlalu banyak kegiatan di luar rumah sering lupa tanggung jawab,” sindir Nyonya Mirna.

Simon menimpali tanpa menoleh, “Tidak mungkin juga ada yang mencarinya untuk pekerjaan penting,” nada suaranya seperti biasa, meremehkan Arunika.

Riana yang duduk di samping Simon tersenyum samar. “Sekarang dunia kerja keras sekali, Tante. Tidak semua orang mampu bersaing.”

Arunika hanya diam menatap piringnya, heningnya bukan kelemahan... itu perhitungan.

Esoknya...

Perusahaan Wijaya tiba-tiba kehilangan dua klien medis besar dalam seminggu, kontrak dialihkan ke perusahaan pesaing yang terafiliasi dengan investor proyek pusat jantung.

Simon mulai curiga ada yang membocorkan strategi internal. Ia memeriksa email staf, memanggil manajer, bahkan menyelidiki direksinya sendiri.

Tidak ada kebocoran.

Yang tidak ia tahu, keputusan itu bukan sabotase.

Itu seleksi.

Angkasa secara sistematis memutus kerja sama dengan perusahaan yang memiliki reputasi etika buruk dalam pengelolaan fasilitas kesehatan. Dan laporan itu berasal dari audit independen. Audit yang diminta Arunika… dengan identitas anonim.

Namun dalam hal pribadi, hubungan Simon dan Riana makin terang-terangan. Di setiap jamuan, Riana diperkenalkan sebagai “sekretaris pribadi”. Namun tangan yang terlalu sering bersentuhan, tatapan yang terlalu lama bertahan membuat para tamu berbisik. Foto-foto mereka mulai beredar di media sosial kalangan bisnis.

Nyonya Mirna pura-pura tidak melihat, dia bicara pada putranya. “Selama citra keluarga tidak rusak, Mama tidak peduli.”

Arunika mendengar kalimat itu dengan jelas. Malamnya, ia membuka brankas kecil di ruangannya.

Map cokelat itu kini lengkap. Dokumen perceraian, bukti transfer dana pribadi, sertifikat apartemen, hingga kontrak profesional jangka panjang dengan proyek pusat jantung. Namun ia belum menandatangani gugatan, karena ia menunggu momen yang tepat.

___

Riana menerima tawaran mendadak dari pihak investor proyek pusat jantung—undangan wawancara tertutup untuk posisi tim medis inti. Ia datang dengan penuh percaya diri, namun wawancara itu berlangsung singkat. Pertanyaannya tajam, teknis, dan mendalam. Riana mulai berkeringat.

Seorang Panelis bertanya, “Jika terjadi diseksi aorta tipe A intraoperatif, apa langkah pertama Anda?”

Riana terdiam beberapa detik terlalu lama, saat menjawab bahan jawabannya tidak meyakinkan.

Dua hari kemudian, surat penolakan resmi dikirim ke perusahaan Wijaya.

Simon murka. “Mereka mempermainkan kita!”

Riana menggigit bibir. “Mungkin… mereka sudah punya kandidat.”

Memang sudah.

Dan kandidat itu sedang berdiri di ruang operasi, menyelamatkan pasien gagal jantung stadium akhir dengan prosedur yang belum banyak dilakukan di negara itu. Operasi tersebut direkam untuk jurnal internasional, nama operator tetap dirahasiakan. Namun dunia medis mulai berbisik... Dokter jenius itu nyata.

Orang-orang menanti kemunculan sosok Dokter Jenius dengan penuh antusias. Namun di rumah, justru hinaan terhadap Arunika kian terang-terangan.

“Kamu seharusnya belajar dari Riana,” ujar Nyonya Mirna suatu malam. “Perempuan harus punya nilai jual.”

Simon menambahkan tanpa ragu, “Setidaknya Riana bisa berdiri sejajar denganku.”

Arunika akhirnya menatap suaminya, tatapannya tenang. “Sejajar?” ulangnya pelan.

“Ya, bukan hanya menjadi beban.”

Arunika tersenyum, bukan senyum terluka. Melainkan senyum seseorang yang sudah selesai menoleransi. “Kalau begitu… mungkin sudah waktunya kamu berdiri dengan orang yang kamu anggap sejajar.”

Simon tak menangkap makna tersembunyi di balik kalimat itu. Padahal, di antara kata-kata yang diucapkan Arunika dengan tenang… terselip arti sebuah perpisahan.

Seminggu kemudian, sebuah pengumuman besar muncul di media nasional.

“Pusat Jantung Terpadu Akan Mengumumkan Kepala Tim Bedah dalam Gala Medis Eksklusif.”

Acara pengumuman di Gala Medis itu akan dihadiri seluruh investor, perusahaan mitra, dan tokoh bisnis kesehatan—termasuk Simon.

Dan untuk pertama kalinya… Arunika menerima undangan resmi atas namanya sendiri. Namun bukan sebagai istri siapa pun, melainkan sebagai tamu kehormatan rahasia. Identitasnya masih tersembunyi, tetapi panggungnya… sudah disiapkan.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!