Matahari pukul sepuluh pagi di Desa Asih tidak sedang bersahabat. Teriknya terasa membakar pori-pori, menyatu dengan debu jalanan yang beterbangan setiap kali kendaraan melintas. Mikayla Ashlyn, atau yang akrab disapa Mika, menyeka keringat di pelipisnya dengan punggung tangan. Rambut kuncir kudanya sudah sedikit berantakan, dan almamater biru kebanggaannya terasa semakin berat serta gerah.
Di usianya yang menginjak 25 tahun, Mika sebenarnya adalah mahasiswi tingkat akhir yang cukup matang. Namun, perjalanan panjang menuju lokasi Kuliah Kerja Nyata (KKN) ini benar-benar menguras sisa-sisa kesabarannya. Bersama lima teman se-jurusannya dari Departemen Manajemen Sumber Daya Perairan, Mika melangkah gontai menuju balai desa.
"Bisa pelan-pelan nggak sih, Mik? Balai desanya nggak bakal lari kok," keluh Rendy, salah satu teman jurusannya yang sibuk mengipasi diri dengan map plastik.
"Gue pengen cepet mandi dan selonjoran, Ren. Badan gue udah lengket semua kayak kena air payau," sahut Mika tanpa menoleh. Langkah kakinya yang jenjang dipercepat saat melihat bangunan balai desa yang bercat putih kusam di ujung jalan.
Pikiran Mika hanya satu: melapor ke Kepala Desa, mendapatkan kunci posko, lalu tidur. Ia sama sekali tidak memperhatikan sekelilingnya, bahkan ketika suara deru mesin motor sport yang cukup bising mendekat ke arah balai desa.
Mika baru saja hendak menaiki anak tangga pertama balai desa ketika sebuah motor Ninja hitam mengkilap berhenti mendadak di dekatnya. Suara decitan ban yang bergesekan dengan kerikil membuat debu membumbung tinggi, tepat mengenai wajah Mika.
"Uhuk! Uhuk! Aduh, apa-apaan sih!" Mika terbatuk-batuk, tangannya sibuk mengibas udara di depan wajahnya.
Tanpa menunggu debu mereda, seorang pria turun dari motor tersebut. Ia mengenakan jaket denim pudar yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan jam tangan hitam yang kokoh. Pria itu melepas helm full-face-nya, menampakkan wajah dengan garis rahang tegas dan tatapan mata yang tajam namun terlihat sangat tidak peduli.
Mika yang masih kesal karena disuguhi debu jalanan, tidak memperhatikan siapa yang ada di depannya. Ia justru merangsek maju, berniat masuk ke balai desa dengan cepat. Namun, pada saat yang bersamaan, pria berjaket denim itu berbalik badan dengan gerakan yang cukup lebar.
BRAAAK!
Tabrakan itu tidak terelakkan. Bahu Mika menghantam dada bidang pria itu dengan keras. Karena kehilangan keseimbangan, Mika hampir saja terjengkang ke belakang jika pria itu tidak secara refleks menarik lengan almamaternya—meski dengan cara yang kasar.
"Aduhh! Bisa nggak sih kalau jalan lihat-lihat!" bentak Mika seketika. Rasa perih di bahunya dan panasnya cuaca membuat emosinya meledak. Ia mendongak, menatap pria yang berdiri tegak di depannya.
Pria itu berumur sekitar 30 tahun. Wajahnya terlihat sangat dewasa, dengan sedikit bayangan janggut tipis yang menambah kesan maskulin namun dingin. Bukannya meminta maaf, pria itu hanya menatap Mika dengan pandangan datar, seolah-olah Mika hanyalah butiran debu yang baru saja ia tabrak.
"Seharusnya saya yang bilang begitu," suara pria itu berat dan dingin. "Ini balai desa, bukan pasar malam. Kalau jalan, mata itu dipakai, bukan cuma buat pajangan."
Mika melongo. "Eh? Lo yang naik motor ugal-ugalan sampai debunya kena muka gue, terus lo yang nabrak gue, sekarang lo yang nyolot? Sopan dikit kek sama tamu!"
Pria itu menaikkan sebelah alisnya. Ia melirik logo universitas di dada Mika. "Mahasiswa KKN?" tanyanya singkat, nadanya merendahkan.
"Iya! Kenapa? Masalah buat lo?" tantang Mika, sambil berkacak pinggang. Teman-teman Mika yang baru sampai di belakang hanya bisa saling lirik, merasa suasana menjadi sangat canggung.
Tanpa membalas ucapan Mika, pria itu hanya mendengus pelan—seperti tawa ejekan yang tertahan—lalu berjalan melewati Mika begitu saja menuju pintu utama balai desa.
"Heh! Gue belum selesai ngomong!" teriak Mika.
"Sudahlah, Mik. Malu dilihatin orang desa," bisik Rendy sambil menarik lengan Mika. "Ayo masuk, kita harus ketemu Kepala Desanya."
Dengan gerutuan yang tak kunjung henti, Mika merapikan pakaiannya dan masuk ke dalam ruangan. Di dalam, sudah ada beberapa perangkat desa yang duduk rapi. Namun, mata Mika membelalak saat melihat pria berjaket denim tadi sedang duduk dengan tenang di kursi utama di balik meja kayu besar bertuliskan: KEPALA DESA ASIH.
Seorang pria paruh baya, sekretaris desa, berdehem. "Selamat datang adik-adik mahasiswa. Silakan duduk. Perkenalkan, ini adalah Pak Alvaro, Kepala Desa kami yang baru menjabat satu tahun ini."
Mika merasa dunianya seolah runtuh dalam sekejap. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena jatuh cinta, tapi karena rasa malu yang luar biasa bercampur kesal. Pria yang tadi ia maki-maki, yang ia sebut 'ugal-ugalan' dan 'nyolot', ternyata adalah orang nomor satu di desa ini.
Alvaro, pria itu, perlahan membuka jaket denimnya, menyisakan kaos hitam polos yang membungkus tubuh atletisnya. Ia melipat tangannya di atas meja, menatap rombongan mahasiswa itu satu per satu, dan tatapannya berhenti cukup lama pada Mika yang kini menunduk pura-pura sibuk membetulkan tali sepatunya.
"Jadi," suara Alvaro memecah keheningan. "Ini mahasiswi yang katanya mau melakukan pemberdayaan di desa saya? Jalan di teras saja tidak becus, bagaimana mau mengurus perairan desa?"
Sindiran itu tajam, menusuk tepat di ulu hati Mika. Mika memberanikan diri mendongak, matanya berkilat marah meski ia tahu posisinya terjepit. "Mohon maaf sebelumnya, Pak... Alvaro. Saya tidak tahu kalau Bapak adalah Kepala Desa. Tapi tetap saja, prosedur keselamatan berkendara di area publik itu penting."
Alvaro menyeringai tipis, sebuah seringai yang lebih mirip tantangan daripada keramahan. "Di desa ini, prosedur pertama yang harus kamu pelajari adalah: jaga mulutmu. Saya tidak suka orang yang terlalu banyak bicara tapi sedikit bekerja."
Ia kemudian menggeser beberapa berkas di mejanya. "Laporan kalian sudah saya terima. Tapi jangan harap saya akan memberikan kemudahan kalau sikap kalian seperti ini. Kalian di sini untuk mengabdi, bukan untuk wisata kuliner atau sekadar cari nilai."
Suasana di dalam ruangan itu menjadi sangat kaku. Arga, salah satu teman Mika yang memang memiliki sifat kaku dan serius, mencoba menengahi dengan suara formalnya. "Mohon maaf, Pak Alvaro. Saya Arga, koordinator desa. Kami mohon bimbingannya selama di sini. Teman saya, Mikayla, mungkin hanya kelelahan karena perjalanan."
Alvaro melirik Arga datar. "Saya tidak butuh alasan. Besok pagi jam tujuh, saya tunggu kalian di dermaga. Kita lihat apa mahasiswi perairan ini cuma tahu teori atau memang bisa menyentuh air lumpur."
Setelah memberikan instruksi singkat mengenai tempat tinggal (posko), Alvaro langsung berdiri dan berjalan keluar ruangan tanpa basa-basi lagi. Aroma parfum woody yang maskulin tertinggal sejenak saat ia melewati Mika, membuat gadis itu mendengus kesal.
"Gila ya, itu Kades atau bos mafia? Dingin banget!" bisik Rendy setelah Alvaro menghilang dari balik pintu.
Mika hanya bisa mengepalkan tangannya. 25 tahun hidup, baru kali ini ia merasa sangat diremehkan oleh seorang pria. Apalagi pria itu hanya terpaut lima tahun darinya, namun bersikap seolah-olah ia adalah penguasa mutlak.
"Lihat aja nanti," gumam Mika dalam hati. "Alvaro atau siapa pun nama lo... gue bakal buktiin kalau gue bukan cuma mahasiswi manja yang nggak tahu apa-apa!"
Namun, Mika tidak menyadari bahwa tatapan tajam Alvaro tadi bukan sekadar rasa tidak suka, melainkan sebuah awal dari ujian yang akan mengubah masa KKN-nya menjadi sesuatu yang jauh lebih rumit dari sekadar meneliti kualitas air desa.
Malam itu, Posko KKN Desa Asih terasa lebih sempit dari aslinya. Bangunan tua yang dulunya bekas kantor koperasi itu kini dipenuhi dengan tas gunung, dus mie instan, dan gulungan kasur lantai. Mika baru saja selesai membersihkan wajahnya yang kusam akibat debu ninja milik Alvaro, namun hatinya masih terasa "berdebu" karena dongkol.
Lampu neon yang agak berkedip di ruang tengah menerangi sebuah bingkai foto kayu yang tergantung agak miring di dinding. Mika menyipitkan mata, lalu mendecih keras saat menyadari siapa yang ada di foto itu. Foto resmi Kepala Desa dengan seragam PDU putih lengkap dengan atributnya.
"Dihh, mukanya nyebelin banget! Ngapain dipajang di sini sih? Udah kayak hantu, di mana-mana ada!" rutuk Mika sambil menunjuk foto Alvaro. Di foto itu, Alvaro tidak tersenyum sama sekali—tatapannya lurus, tajam, dan seolah sedang menghakimi siapapun yang melihatnya.
"Hussst! Pelan-pelan, Mik! Kalau ada warga atau perangkat desa lewat depan posko terus denger gimana?" Siti, teman sekamar Mika, buru-buru membungkam mulut Mika dengan telapak tangannya.
Mika menepis tangan Siti dengan gemas. "Biarin! Gue masih kesel sama tuh kades. Bisa-bisanya dia ngejek gue di depan kalian semua. Dia pikir gue mahasiswi yang hobi tidur apa? Cuma gara-gara gue telat ngerem pas jalan kaki?"
"Tapi dia emang ganteng sih, Mik. Tipe-tipe cool misterius gitu," sahut Asia yang sedang sibuk mengoleskan lotion ke kakinya.
"Ganteng dari mana? Yang ada malah serem! Kayak kanebo kering, kaku banget!" balas Mika berapi-api. "Awas aja besok, dia bakal gue bikin kagum. Gue ini asisten laboratorium, gue tahu semua jenis plankton dan parameter air. Dia pikir gue cuma modal tampang doang ke sini?"
Asia terkekeh kecil, matanya melirik Mika dengan penuh arti. "Awas loh, Mik... benci sama cinta itu bedanya setipis kulit bawang. Nanti kalau lo baper sama Pak Kades, gue ketawain paling kenceng."
"Ihh, amit-amit jabang bayi! Mending gue jomblo seumur hidup daripada sama cowok modelan robot denim kayak dia!" Mika bergidik ngeri, lalu menarik selimutnya tinggi-tinggi, mencoba memejamkan mata meski bayangan wajah datar Alvaro terus menari-nari di pikirannya.
Pukul tujuh pagi tepat. Sesuai perintah "Sultan Desa Asih", Mika dan timnya sudah berdiri di pinggir dermaga kayu yang menjorok ke sungai besar yang menjadi urat nadi desa tersebut. Udara pagi masih berkabut, memberikan kesan dingin yang menusuk tulang.
Suara deru mesin motor Ninja itu kembali terdengar. Kali ini, Alvaro datang tidak sendirian. Ia diikuti oleh dua orang nelayan setempat. Alvaro turun dari motornya, melepas helm, dan menyisir rambutnya yang sedikit berantakan dengan jari—sebuah gerakan sederhana yang entah kenapa membuat Siti dan Asia terpaku sejenak.
Alvaro berjalan mendekat. Ia masih memakai jaket denim andalannya, namun kali ini ia mengenakan sepatu boots karet tinggi. Ia berhenti tepat di depan Mika, menatap jam tangannya sejenak, lalu menatap Mika dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Mika hari ini sudah "berperang". Ia memakai topi rimba, sepatu outdoor yang kuat, dan membawa tas berisi botol sampel serta alat penguji pH air. Ia sengaja memasang wajah paling sombong yang bisa ia buat.
"Bagus. Setidaknya kalian tahu cara bangun pagi," ucap Alvaro datar tanpa salam pembuka.
Mika maju satu langkah, menatap tepat ke manik mata Alvaro yang berwarna cokelat gelap. "Jadi, Pak Kades yang terhormat..." Mika sengaja menjeda kalimatnya. Ia mendekat sedikit, menurunkan volumenya hingga hanya Alvaro yang bisa mendengar suaranya yang terdengar mengejek. "...jadi bapak mau kita ngapain nih? Mau saya ajarin cara menghitung kelimpahan ikan, atau bapak mau pamer motor lagi?"
Alvaro tidak berkedip. Ia justru memberikan senyum miring yang terlihat sangat meremehkan. "Ooh, jadi kamu mau langsung pamer ilmu?"
Alvaro berbalik ke arah sungai. "Dermaga ini adalah titik pertemuan arus dari hulu dan limbah pemukiman. Sebulan terakhir, banyak keramba ikan warga yang mati mendadak. Nelayan bilang ini kutukan, saya bilang ini masalah sains."
Ia menunjuk ke arah tumpukan eceng gondok yang mengumpul di bawah kolong dermaga yang berlumpur tebal. "Jangan cuma berdiri di atas kayu yang kering, Mikayla. Turun ke bawah sana. Ambil sampel sedimen lumpur di titik paling dalam di bawah keramba itu. Saya mau tahu apa yang mengendap di sana."
Mika melihat ke bawah. Airnya keruh, kecokelatan, dan penuh dengan akar eceng gondok yang melilit. Belum lagi lumpurnya yang terlihat pekat dan hitam.
"Kenapa? Takut almamaternya kotor?" sindir Alvaro lagi. "Atau tangan asisten lab ini cuma bisa pegang mikroskop di ruangan ber-AC?"
Mika merasa harga dirinya diinjak-injak. Tanpa banyak bicara, ia segera melepas tasnya dan memberikannya pada Arga. "Siapa bilang gue takut?" tantang Mika (ia lupa menggunakan bahasa formal saking emosinya).
"Mika, jangan! Itu dalem loh," cegah Arga yang kaku.
Tapi Mika sudah terlanjur panas. Ia menuruni tangga kayu dermaga yang licin. Begitu kakinya menyentuh dasar sungai di pinggir, sensasi dingin dan lembeknya lumpur langsung meresap ke sepatunya. Ia terus berjalan hingga air mencapai pinggangnya.
"Siniin botol sampelnya!" teriak Mika pada teman-temannya.
Alvaro berdiri di pinggir dermaga, melipat tangan di dada, memperhatikan setiap gerakan Mika dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia tidak membantu, tidak juga pergi.
Mika mencoba menjangkau area di bawah keramba. Namun, kakinya tersangkut akar eceng gondok yang kuat. Ia mencoba menarik kakinya, tapi lumpur hisap di bawah sana seolah menahan pergerakannya.
"Aduh!" Mika kehilangan keseimbangan.
BYUURRR!
Mika jatuh terjerembab ke dalam air sungai yang keruh. Tubuhnya basah kuyup, rambutnya penuh dengan potongan daun eceng gondok, dan wajahnya terciprat lumpur hitam.
Tawa kecil terdengar dari arah dermaga. Bukan dari teman-temannya yang justru panik, melainkan dari Alvaro. Pria itu menunduk, menatap Mika yang malang dari ketinggian dermaga.
"Pelajaran pertama, Mahasiswi Perairan," ujar Alvaro dengan suara yang kini terdengar sedikit lebih santai namun tetap menyebalkan. "Alam tidak peduli seberapa pintar teorimu di kampus. Kalau kamu ceroboh, dia akan menenggelamkanmu."
Mika menyeka lumpur dari matanya dengan penuh amarah. Ia berdiri dengan susah payah, air sungai menetes dari ujung hidungnya. "Puas lo?!" teriaknya kencang, tidak peduli lagi pada sopan santun.
Alvaro terdiam sejenak melihat kemarahan murni di mata Mika. Ia kemudian mengulurkan tangan kanannya ke bawah, ke arah Mika. "Naik. Sebelum kamu kena gatal-gatal karena air itu sudah tercemar belerang tinggi."
Mika menatap tangan Alvaro yang kokoh dan bersih itu. Ada rasa ingin menepisnya, tapi kakinya benar-benar kaku karena dingin. Dengan kasar, ia menyambar tangan Alvaro.
Saat tangan mereka bersentuhan, sebuah sensasi aneh seperti sengatan listrik kecil terasa di kulit Mika. Alvaro menarik tubuh Mika ke atas dermaga dengan satu hentakan kuat, seolah berat badan Mika tidak ada artinya bagi pria itu.
Begitu sampai di atas, posisi mereka sangat dekat. Mika yang basah kuyup terengah-engah tepat di depan dada Alvaro. Aroma parfum maskulin Alvaro yang bercampur dengan bau bensin motornya menyeruak, entah kenapa terasa sangat kontras dengan bau amis sungai.
Alvaro melepaskan tangannya dengan cepat, lalu melepas jaket denimnya dan melemparnya ke arah kepala Mika, menutupi wajah Mika yang penuh lumpur.
"Pakai itu. Jangan sampai warga saya pikir saya baru saja menyiksa anak magang," ucap Alvaro dingin sambil berbalik menuju motornya. "Arga, bawa temanmu pulang. Besok jangan bawa dia kalau dia masih belum tahu bedanya sungai dan bak mandi."
Alvaro menaiki motor Ninjanya, menyalakan mesin dengan raungan keras, dan melesat pergi meninggalkan kepulan debu yang kembali menghujani Mika.
Mika menarik jaket denim itu dari kepalanya. Jaket itu hangat, dan aromanya sangat... Alvaro. Ia ingin sekali membanting jaket itu ke lantai, tapi badannya yang menggigil membuatnya terpaksa mengeratkan jaket mahal itu ke tubuhnya.
"Gue... benci... banget... sama dia!" desis Mika di sela gigi yang gemeletuk.
Siti dan Asia mendekat dengan wajah khawatir sekaligus menahan tawa. "Tadi itu... benci apa benci, Mik? Kok Pak Kades sampai ngasih jaket segala?" goda Asia pelan.
Mika hanya bisa melotot tajam, sementara di dalam hatinya, sebuah peperangan baru saja dimulai. Bukan hanya perang antara dirinya dan Alvaro, tapi perang melawan detak jantungnya sendiri yang mulai tidak beraturan.
Malam di Desa Asih terasa jauh lebih hidup dibandingkan siangnya. Lampu-lampu jalan yang temaram mulai menyala, dan aroma kayu bakar dari dapur-dapur warga menyeruak di udara. Mika, yang sudah mandi bersih hingga kulitnya nyaris memerah karena digosok sekuat tenaga untuk menghilangkan bau lumpur, melangkah keluar posko dengan langkah gusar.
Ia mengenakan kaus oblong putih dan celana kulot, rambutnya dibiarkan terurai namun masih menyisakan sisa-sisa kekesalan dari kejadian di dermaga tadi pagi. Di sampingnya, Siti berjalan sambil sesekali melihat peta desa di ponselnya.
"Gue laper banget, Ti. Sumpah, gara-gara insiden 'nyebur' tadi, kalori gue habis buat nahan emosi," keluh Mika sambil menendang kerikil di jalanan.
"Sabar, Mik. Itu di depan ada warung sate Madura yang katanya paling enak se-kecamatan. Kita makan enak malam ini, oke?" Siti mencoba menenangkan sahabatnya itu.
Mika mendengus. Mata indahnya melirik ke arah Balai Desa yang lampunya masih terang benderang. "Duh, bisa nggak sih warga desa sini tuh milih kepala desa yang bener dikit? Maksud gue, yang ramah, yang kebapakan, yang murah senyum gitu. Kenapa harus yang nyebelin kayak Dajjal itu yang dipilih? Udah kaku, sombong, sok jagoan lagi!"
Siti refleks menghentikan langkah dan membungkam mulut Mika untuk yang kesekian kalinya hari itu. "Mika, mulut lo! Jaga dong! Ini lingkungan warga, nanti kalau ada yang denger terus dilaporin ke Pak Alvaro, posisi kita di sini bisa makin susah!"
Mika melepaskan tangan Siti dengan kasar. "Gue kesel, Siti! Lo liat sendiri kan gimana dia ngetawain gue pas gue kejebur? Bukannya ditolongin malah dikuliahin. Dia pikir dia siapa? Dewa air?"
"Ya tetep aja dia Kades, Mik. Dan secara teknis, dia emang ganteng dan berwibawa, makanya warga sini hormat banget sama dia," bisik Siti.
"Ganteng nggak bisa dimakan! Yang ada bikin darah tinggi!" pungkas Mika sambil mempercepat langkahnya menuju warung sate yang asapnya sudah mulai terlihat mengepul di pinggir jalan.
Warung sate itu cukup ramai. Mika dan Siti berdiri di barisan antrean ketiga. Mika sudah membayangkan sepiring sate ayam dengan bumbu kacang yang melimpah. Perutnya sudah keroncongan hebat. Sepuluh menit mereka berdiri di sana, menahan liur setiap kali melihat potongan daging dibakar di atas arang.
Tepat saat orang di depan Mika selesai membayar dan Mika hendak melangkah maju ke depan sang penjual, sebuah bayangan tinggi besar tiba-tiba menyeruak dari samping. Tanpa permisi, tanpa merasa bersalah, sosok itu langsung berdiri tepat di depan hidung Mika, menghalangi pandangannya ke arah panggangan sate.
Pria itu masih memakai kaos hitam yang sama dengan tadi siang, namun kali ini dilapisi jaket bomber tipis. Bau maskulin yang khas—campuran kayu cendana dan sedikit aroma tembakau—langsung menyerbu indra penciuman Mika.
"Saya dulu Mbak... kayak biasa ya. Sepuluh tusuk, bumbunya pisah, banyakin kecapnya," ucap suara berat itu dengan nada yang sangat santai, seolah-olah dunia ini miliknya sendiri.
Mika membeku sejenak. Suara itu. Nada bicara yang otoriter itu. Ia mendongak dan benar saja, punggung tegap itu milik Alvaro.
Darah Mika langsung naik ke ubun-ubun. Rasa lapar yang berpadu dengan dendam tadi siang meledak seketika.
"Ehh, nggak bisa gitu dong! Saya duluan yang ngantre, Pak!" Mika berteriak cukup kencang hingga beberapa warga yang sedang makan menoleh ke arah mereka.
Alvaro sedikit memutar tubuhnya. Ia menunduk untuk menatap Mika, sebelah tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Matanya yang tajam menatap Mika dengan datar, tanpa ada rasa bersalah sedikit pun.
"Oh, kamu lagi," ucap Alvaro singkat.
"Iya, saya lagi! Bapak ini gimana sih? Katanya Kepala Desa, harusnya kasih contoh yang baik dong. Di mana-mana yang datang duluan itu yang dilayani duluan. Main potong antrean aja, emangnya bapak darurat apa? Kelaparan tingkat nasional?" cerocos Mika dengan nada yang sangat nyebelin.
Alvaro menaikkan sebelah alisnya. Ia melirik ke arah penjual sate, seorang wanita paruh baya bernama Bu Ida.
"Bu Ida, biasanya saya gimana?" tanya Alvaro tenang.
Bu Ida tersenyum canggung ke arah Mika. "Anu, Neng... Pak Kades ini biasanya memang pesan lewat telepon dulu tadi sebelum jalan ke sini. Jadi saya tinggal bungkusin pas beliau sampai."
Skakmat. Mika terdiam sejenak, wajahnya memerah bukan karena malu, tapi karena semakin kesal karena merasa kalah telak. Namun, dasar Mika yang keras kepala, ia tidak mau kalah begitu saja.
"Tetep aja! Meskipun pesan lewat telepon, kalau fisiknya belum sampai dan saya sudah berdiri di sini duluan, secara etika saya yang harus dilayani bayar duluan! Bapak jangan pakai jabatan buat nyerobot urusan perut orang lain!" Mika melipat tangan di dada, menantang tatapan Alvaro.
Alvaro menarik napas panjang, lalu melangkah satu langkah lebih dekat ke arah Mika. Jarak mereka kini hanya terpaut beberapa sentimeter. Mika bisa melihat pantulan cahaya lampu warung di mata gelap Alvaro.
"Kamu ini... hobi sekali berteriak, ya?" bisik Alvaro, suaranya rendah namun penuh penekanan. "Tadi siang teriak di sungai, sekarang teriak di warung sate. Apa semua mahasiswi kota memang tidak dibekali tata krama kalau berbicara dengan orang yang lebih tua?"
"Tata krama itu untuk orang yang menghargai orang lain, Pak Kades yang terhormat," balas Mika, suaranya pelan tapi tajam. "Bapak pikir dengan ngasih jaket tadi siang, saya bakal langsung tunduk sama bapak? Enggak ya!"
Alvaro melirik jaket denim yang tadi siang ia berikan, yang kini tidak dipakai oleh Mika melainkan disampirkan di tas Siti. "Oh, jadi itu alasan kamu marah-marah? Karena merasa berhutang budi?"
Alvaro kemudian merogoh dompetnya, mengeluarkan selembar uang seratus ribu, dan memberikannya kepada Bu Ida. "Bu, satenya Neng yang cerewet ini saya yang bayar. Tolong buatkan punya dia dulu, biar dia cepat kenyang dan berhenti membuat polusi suara di warung Ibu."
"Eh! Apa-apaan! Saya punya uang ya! Saya nggak butuh sedekah dari bapak!" Mika mencoba meraih uang itu tapi Alvaro lebih cepat menghalanginya dengan tangannya yang besar.
"Anggap saja itu kompensasi karena saya 'menyerobot' antreanmu, dan sebagai permohonan maaf karena saya membuatmu mandi lumpur tadi siang," ucap Alvaro dengan nada yang terdengar tulus namun tetap menyebalkan di telinga Mika.
Alvaro mengambil bungkusan satenya yang sudah jadi, lalu menoleh ke arah Mika sebelum pergi. "Satu lagi, Mikayla. Besok jam tujuh pagi di balai desa. Jangan telat, dan jangan pakai baju putih kalau tidak mau berakhir jadi cokelat lagi."
Tanpa menunggu jawaban, Alvaro berjalan menuju motor Ninjanya yang terparkir tak jauh dari sana. Suara mesin motor itu kembali menderu, memecah kesunyian malam Desa Asih.
Mika berdiri mematung di depan rombong sate. Tangannya masih mengepal.
"Gila... gila banget tuh orang!" Mika menghentakkan kakinya.
Siti mendekat sambil membawa bungkusan sate yang baru saja diserahkan Bu Ida. "Wah, beruntung banget lo, Mik. Udah dapet sate gratis, dibayarin Kades ganteng lagi. Tuh kan, apa gue bilang, benci ama cinta itu beda tipis."
"Diem lo, Siti! Gue nggak bakal makan sate ini kalau bukan karena gue laper banget!" Mika menyambar bungkusan itu dengan kasar.
Sepanjang jalan pulang ke posko, pikiran Mika tidak bisa lepas dari sosok Alvaro. Ada sesuatu dari pria itu yang membuatnya sangat terusik. Bukan hanya karena sifatnya yang otoriter, tapi karena cara Alvaro menatapnya—seolah-olah Alvaro bisa membaca semua kekesalan dan rasa tidak aman di dalam diri Mika.
"Dia pikir dia keren apa?" gumam Mika pelan sambil menggigit tusuk sate ayamnya. "Awas aja besok di balai desa. Gue bakal kasih liat data penelitian gue yang bakal bikin dia melongo."
Namun, di balik rasa bencinya yang meluap-luap, ada satu hal yang tidak bisa Mika pungkiri. Saat Alvaro berdiri sangat dekat dengannya di warung sate tadi, jantungnya berdegup sedikit lebih kencang dari biasanya. Dan itu bukan karena marah.
"Nggak, nggak mungkin. Gue pasti cuma lagi hipoglikemia karena telat makan," batin Mika mencoba menyangkal.
Malam itu, di bawah langit Desa Asih yang penuh bintang, Mika tidur dengan perasaan campur aduk. Ia tidak tahu bahwa Alvaro, di rumahnya yang besar, juga sedang duduk di teras sambil menyesap kopi, memikirkan seorang mahasiswi galak yang baru saja berani meneriakinya di depan umum—hal yang tidak pernah berani dilakukan oleh siapapun di desa itu selama setahun terakhir.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!