Indonesia
NovelToon NovelToon

Lepaskan Aku, Tuan Jason

01| Perjodohan

Lelaki tampan dengan balutan jas mahal berwarna hitam memasuki kantor yang sebentar lagi akan berubah menjadi miliknya.

Dengan wajah yang terlihat tegas, lelaki yang menjabat sebagi CEO itu berjalan dengan angkuh dan penuh wibawa. Semua karyawan menundukkan kepalanya memberi salam kepadanya, tak terkecuali. Lelaki itu melangkah ke arah lift khusus untuk pemilik perusahaan ini.

“Maaf, maafkan saya,” ucap salah satu karyawannya yang tidak sengaja menabraknya, wajahnya mulai datar dan ia tidak suka ada orang asing menyentuh tubuhnya. Baik di sengaja atau pun tidak sengaja.

“Apakah matamu sudah tidak berfungsi?” ucap sarkas darinya membuat karyawan tersebut menundukkan kepalanya takut.

“Kau tidak perlu bekerja di sini lagi!” serunya tegas membuat karyawan tersebut gemetar ketakutan. Ia tidak bisa apa-apa saat dua satpam menyeretnya paksa untuk keluar, semua karyawan yang melihat kejadian itu terdiam dan merasa kasihan dengan karyawan yang baru saja di pecat itu.

“Kau sangat kejam dan angkuh,” gumam seseorang yang menatap bagaimana sikapnya terhadap karyawannya sendiri. Orang itu menatapnya dengan tatapan sedihnya, ia sudah tidak mengenalnya lagi, sikapnya sudah berubah sangat jauh dan itu membuatnya merasa terluka.

Jeon Jason nama lengkap dari lelaki yang baru saja memecat karyawannya sendiri, hanya karena tidak sengaja menabraknya.

Jason memasuki ruangannya dan di sambut oleh sekretaris cantik dengan pakaian seksinya. Jason hanya melirik muak sekretarisnya itu, ia sangat benci dengan wanita yang berpenampilan seperti itu dan baginya sangat menjijikkan untuk dilihat, kecuali kekasihnya yang sudah menjalin hubungan dengannya selama sebulan ini.

“Bagaimana bisa kau memecat orang begitu saja?” suara dengan penuh ketegasan itu menyambut Jason yang baru saja sampai di ruangannya. Jason melihat tuan Jeon, ayahnya yang sedang duduk di sofa.

“Dia sudah bersikap kurang ajar, karena menyentuhku!” jawab Jason dengan santai membuat ayahnya menghembuskan napas dan menyuruhnya untuk duduk. Tuan Jeon sengaja menemui putranya untuk membicarakan sebuah hal yang sangat penting.

“Ayah ingin membicarakan sesuatu yang sangat penting kepadamu!” ujar tuan Jeon setelah menyesap kopi di cangkir. Jason hanya terdiam menunggu ayahnya melanjutkan ucapannya.

“Ayah ingin kau menikah!” seru tuan Jeon membuat Jason sedikit terkejut, ia masih muda dan ia tidak ingin sebuah hubungan yang seserius itu.

Lagi pula, ia baru saja menjalin hubungan dan tidak mungkin ia langsung menikah begitu saja. Ayahnya ini memang sangat pintar mengada-ngada, Jason menyandarkan punggungnya di sofa dan tersenyum kecil.

“Ayah sedang bercanda? Aku baru saja menjalin hubungan dengan Heori satu bulan. Tidak mungkin aku langsung mengajaknya untuk menikah,” jelas Jason.

“Ayah tidak bilang kau harus menikahi Heori itu! Ayah sudah menemukan calonmu, sebentar lagi dia akan datang!” Kata tuan Jeon membuat Jason mengepalkan tangannya.

“Jadi, maksud ayah aku di jodohkan begitu?” tanya Jason dengan nada tidak terima.

“Ayah tidak akan memberikan harta Ayah kepadamu kalau kau menolak perjodohan ini!” tegas tuan Jeon yang tidak bisa di bantah oleh Jason.

Mereka berdua sama-sama terdiam cukup lama, tatapan tajam dan dingin satu sama lain membuat suasana ruangan menjadi cukup mencekam. Terdengar suara langkah kaki yang mulai mendekat, sekretaris Jason memberitahu kalau ada ingin bertemu dengannya dan Jason menyuruhnya untuk masuk ke dalam.

“Tuan Jeon memanggil saya?” tanya seseorang dengan suara lembutnya membuat Jason langsung mengalihkan pandangannya.

Jason melihat seorang wanita cantik dengan balutan baju kerja dan ada kartu nama perusahaannya, ternyata wanita itu salah satu karyawannya.

“Iya, kau bisa duduk di sebelah Jason!” perintah tuan Jeon membuat Jason mau pun karyawannya itu sama-sama terkejut mendengarnya, dengan langkah ragunya sang karyawan melangkah mendekati mereka dan duduk di sebelah Jason setelah menundukkan kepalanya sekali.

“Ini adalah Min Ara, calon istrimu!” ujar tuan Jeon membuat Jason terkejut, ia langsung bangkit dari duduknya dan menatap tajam ke arah Ara yang sedang menundukkan kepalanya.

Apa kata ayahnya? Wanita itu adalah calon istrinya? Karyawannya dan pastinya berbeda kasta dengan dirinya.

“Kau apakan Ayahku sampai dia memilihmu menjadi untuk calon istriku?” tanya Jason yang terus menatap tajam Ara.

“Jason! Jaga ucapanmu!” ucap marah tuan Jeon membuat Jason memutar bola matanya jengah. Ayahnya sudah gila menjodohkannya dengan orang miskin seperti wanita itu.

“Ayah tidak lihat dia itu miskin! Lebih baik aku menikahi Heori, wanita kaya dan berkelas,” ujar Jason membuat Ara menaikkan pandangannya. Ara menatap Jason yang terlihat sangat marah.

“Berani kau menatapku seperti itu?” tanya Jason kepada Ara yang begitu berani menatapnya.

“Ayah tidak akan merestuimu kalau bukan Ara calonnya dan ingat kau tidak akan menerima warisan kalau tidak mau menikah dengan Ara. Kau tinggal pilih akan menikah dengan Ara atau Heori itu? Ini keputusan Ayah yang tidak bisa di bantah!” pertanyaan yang sangat sulit untuknya. Jason menatap Ara dan ia sangat marah kepada Ara.

“Baik aku akan ikuti keinginan Ayah,” jawab Jason membuat ayahnya tersenyum senang.

“Besok kalian akan menikah dan semuanya sudah di persiapkan. Ara… kau akan tinggal di rumah hadiah pernikahan dariku dan Ibu Jason. Kalian akan tinggal di sana berdua, di sana juga kalian harus belajar mandiri,” jelas ayah Jason sambil mengusap puncak kepala Ara.

Jason yang melihat itu mengepalkan tangannya, ia tidak bisa menolak keinginan ayahnya. Karena, ia tidak akan mendapatkan warisan nantinya. Ia tidak bisa hidup tanpa harta, karena sedari kecil dirinya selalu di manjakan dan selalu di turuti keinginannya.

“Aku ingin pernikahannya tertutup dan hanya di datangi oleh keluarga saja! Tidak ada publikasi,” pinta Jason membuat ayahnya menatap ke arah Ara. Ara menganggukkan pelan kepalanya. Tuan Jeon menghela nafas dan menganggukkan kepalanya.

“Baik, kalau itu keinginanmu. Ayah akan turuti asalkan kau bersikap baik kepada menantu Ayah!” titah tuan Jeon membuat Jason menatap heran ayahnya.

“Kenapa Ayah bersikap seperti kepadanya? Apakah dia adalah wanita simpanan Ayah?” pertanyaan Jason membuat hati Ara terasa pedih. Tuan Jeon menatap tajam putranya yang sudah berbicara kurang ajar terhadapnya.

“Kau tidak bisa menjaga ucapanmu? Kau bisa saja menyakiti hati Ara!” seru marah tuan Jeon membuat Jason tertawa kencang.

“Ada apa ini? Kenapa Ayah membelanya sampai begitu? Ah—aku mengerti, apakah wanita ini sedang mengandung anak Ayah?” tuan Jeon langsung menampar keras putranya yang sudah kelewatan.

“Kurang ajar! Ayah tidak pernah mengajarkanmu berbicara seperti itu! Jaga ucapanmu atau posisimu akan di gantikan oleh Ara!” ancam ayahnya membuat Jason terdiam. Ia tidak tahu kenapa ayahnya bersikap seperti itu kepada Ara… bahkan sangat menjaga perasaan wanita itu.

“Aku akan membalasnya. Tunggu saja penderitaanmu akan di mulai sebentar lagi!” gumam Jason dengan mengepalkan tangannya sambil terus menatap tajam Ara yang baru saja keluar dari ruangannya bersama ayahnya.

...***...

Selamat datang di ceritaku yang berlatar negeri ginseng atau Korea.

Semoga kalian suka sama ceritanya

02| Pernikahan

Hari ini adalah hari pernikahan Jeon Jason dan Min Ara, sebentar lagi marga Ara akan berubah. Ia tidak tahu pernikahan ini akan membuatnya bahagia atau sebaliknya. Ia tidak tahu pernikahan ini benar atau tidak. Terlalu rumit untuk mendefinisikannya. Ara meremas gaun pengantin yang dipakainya. Ia menatap dirinya pantulan pantulan kaca besar di hadapannya.

Ara tidak bisa untuk menikah, mengingat tatapan Jason kepadanya, Jason tidak menyukainya. Itulah yang Ara pikirkan.

“Putriku yang satu ini memang sangat cantik,” ujar ibu Ara yang baru saja memasuki ruang rias, sang ibu tidak sendirian… ada ayah Ara yang juga bersamanya. Ara menatap sendu kedua orang tuanya.

“Ibu, Ayah,” Ara menghamburkan dirinya ke dalam pelukan kedua orang tuanya. Ibunya mengusap lembut punggung putrinya dan ayahnya mengusap puncak kepala putri kesayangannya.

“Putri Ayah jangan menangis begitu, ini kan hari bahagiamu. Kau harus tetap tersenyum,” ucap lembut ayah Ara membuat tangisannya semakin kencang menangis.

Cukup lama Ara menangis di dalam pelukan ibunya, kini Ara menatap lekat kedua orang tuanya yang tersenyum ke arahnya. Senyuman yang sangat ia rindukan itu membuatnya ingin lebih lama lagi bersama dengan kedua orang tuanya.

“Kenapa kau terlihat sangat sedih, sayang?” tanya lembut ibu Ara sambil mengusap puncak kepala sang putri.

“Apakah pernikahan ini benar? Ara takut Ibu, Ara rasa pernikahan ini terlalu cepat,” jujur Ara, ia sangat takut dengan pernikahan ini, karena Jason terlihat sangat membenci dirinya. Ia tidak ingin pernikahan ini hanya di anggap sebagai sebuah permainan saja, Ara tidak ingin main-main dalam pernikahan, ia ingin menikah sekali dalam hidupnya dan hidup bahagia bersama orang yang mencintai dan menyayanginya dengan tulus.

“Sayang, kau sudah cukup usia untuk menikah dan kami tidak bisa selalu berada di sisimu setiap saat. Bisa saja Tuhan memanggil kami berdua sebelum kau menemukan orang yang menggantikan kami untuk menjagamu,” jelas ibu Ara membuat Ara terdiam, ia anak bungsu sehingga kedua orang tuanya selalu protektif kepadanya.

“Sayang ini adalah jalan yang terbaik untukmu, Ayah dan Ibu sudah memikirkan hal ini. Kau tahu kita tidak bisa tinggal di kota ini dan kami sangat mengkhawatirkanmu di sini kalau kau tidak ada yang menjaga. Jadi, dengan adanya pernikahan ini akan ada sosok suami yang menjaga dan melindungimu,” jelas ayah Ara.

Ara menggigit bibir bawahnya mencoba untuk menahan emosinya. Sudah lima tahun lamanya ia tidak tinggal bersama kedua orang tuanya untuk belajar hidup mendiri dan bekerja di tempat yang sudah di impikannya, memang ia sangat senang berada di kota ini, tapi ia juga selalu merindukan kota tempatnya di lahirkan ke dunia ini.

“Kau jangan terlalu memikirkan hal yang tidak penting, Ayah yakin suamimu akan mencintaimu. Kau sangat baik dan lembut, tidak akan ada yang menolak sifatmu itu. Ayah yakin, cepat atau lambat dia akan benar-benar jatuh cinta kepadamu,” ujar ayahnya membuat Ara tersenyum kecil.

“Ini sudah waktunya, mari temui calon suamimu!” ayah Ara mengulurkan tangannya di depan Ara, dengan ragu Ara mulai menerima uluran tangan ayahnya dan mereka saling bergandengan menuju altar.

Di sana terlihat Jason yang mengenakan jas berwarna putih seperti gaun yang di gunakan olehnya, Ara sangat terpana dengan ketampanan Jason. Lelaki itu seperti seorang pangeran perkasa dan wajahnya yang tegas membuatnya terlihat begitu dewasa.

“Aku serahkan putri kesayanganku kepadamu. Jaga dan bahagiakan Ara,” ujar ayah Ara setelah Jason menggantikan posisi beliau menggandeng Ara.

“Aku berjanji kepadamu,” ucap Jason dengan senyuman tampannya membuat hati Ara berdebar.

Apakah Jason sudah berubah? Ia begitu tampan dengan tatapan lembut seperti itu.

Prosesi pernikahan berjalan dengan khidmat Ara sampai meneteskan air matanya, statusnya kini sudah berubah. Ia sudah menjadi seorang istri dari seorang Jeon Jason, ia tidak pernah membayangkan hal ini sebelumnya. Ara melirik ke arah Jason yang terus tersenyum lembut kepadanya, bahkan lelaki itu juga mengusap air Ara.

“Jangan buang air matamu secara percuma begini,” bisik Jason mengulurkan tangannya untuk menghapus air mata Ara yang membasahi pipi wanita itu.

Suara suaminya memang terdengar lembut, tapi Ara merasa ada isyarat tersembunyi di balik kalimat tersebut.

“Sekarang kalian di perbolehkan untuk berciuman!”

Jason mendekatkan wajahnya kepada Ara, Ara memejamkan matanya. Mereka mulai berciuman dengan lembut, semua orang bertepuk tangan melihatnya. Mereka melepaskan pangutannya dan saling bersitatap.

Ara menatap lembut Jason dan Jason menatapnya dingin, Ara terkejut melihatnya perubahan ekspresi suaminya.

“Akan ku buat hari-harimu seperti di neraka!” Bisik Jason dengan suara pelannya di depan wajah Ara.

Ara begitu sakit mendengarnya, jadi Jason yang bersikap manis tadi itu hanya berpura-pura saja. Ara tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

“Wah, mantu Ayah begitu cantik hari ini,” ujar tuan Jeon saat menghampiri kedua mempelai, Jason memeluk pinggang Ara begitu erat membuat wanita sedikit kesakitan.

“Ingat Jason! Jaga Ara baik-baik ia adalah istri paling baik untukmu!” Pesan ibu Jason sambil menatap lembut menantunya, Ara hanya tersenyum menanggapinya, meskipun ia sedang menahan sakit yang di berikan Jason di pinggangnya.

Kedua mempelai menyalami para tamu yang datang dengan senyuman yang terlihat bahagia di wajah keduanya, tapi mereka sama-sama berpura-pura. Ara ingin ini cepat selesai, ia sudah tidak sanggup lagi menahan sakit. Ia ingin menangis, namun ia menahannya dari tadi. Tidak mungkin ia menangis di depan kedua orang tuanya dan mertuanya, apalagi Jason. Ia tidak menyukai ada orang lain yang melihatnya menangis, sebab ia tidak akan menangis kalau itu tidak benar-benar terluka.

“Tidak akan ada resepsi! Jadi, kalau kedua orang tuaku memintanya kau harus menolaknya!” bisik Jason di telinga Ara membuat Ara memejamkan matanya, apakah begini rasa sakit sebenarnya? Sangat sesak dan terasa perih di dadanya, tetapi Ara hanya menganggukkan kepalanya.

“Wah, selamat ya temanku akhirnya sudah jadi suami orang,” kekeh seseorang yang datang menghampiri mereka, lelaki itu sangat tampan dan juga imut membuat Ara terpana melihatnya tersenyum dan matanya tidak terlihat sama sekali.

“Marten jangan mulai,” kesal Jason kepada orang yang bernama Park Marten itu.

“Wah, Jeon Ara sangat cantik. Pantas saja Jason ingin cepat-cepat menikahinya,” ujar Marten membuat Ara tersenyum kecut, ia tidak tahu sebenarnya. Ara hanya menganggukkan kepalanya.

“Terima kasih,” jawab Ara membuat Marten terkejut saat mendengar suara lembutnya.

“Cepatlah pergi! Masih banyak yang mengantri di belakang!” usir Jason kepada Marten dengan cara mendorongnya, Marten hanya mendengus pelan, sebelum mengedipkan sebelah matanya kepada Ara.

“Ingatlah! Jangan sampai orang kantor tahu kalau kau sudah menjadi istriku! Hubungan kita akan tetap menjadi atasan dan bawahan saja saat di kantor, jangan pernah menyapaku selama berada di area kantor! Dan selalu ingat bahwa kau bukan siapa-siapa bagiku, kau hanya orang miskin yang beruntung bisa menikah denganku, karena Ayahku. Satu lagi, kau jangan mengharapkan apapun dariku… kecuali penderitaan,” bisik Jason di telinga Ara.

Bersambung…

03| Permulaan

Ara menatap rumah mewah di hadapannya, ia baru saja sampai di rumah baru yang akan menjadi tempat tinggalnya bersama sang suami.

Jason sudah masuk lebih dahulu dan meninggalkannya, tanpa membantunya membawa barang-barangnya.

Ara tersenyum miris, ia menekan dadanya yang terasa sesak. Ara menarik kopernya dan tiba-tiba ada seseorang yang mengambil alih. Ara melihat seorang lelaki yang begitu tinggi di hadapannya.

“Saya Michael tangan kanan tuan Jason,” ujarnya membuat Ara tersenyum.

“Terima kasih,” ucap tulus Ara.

Mereka melangkah masuk ke dalam rumah. Ara menatap isi rumah yang menjadi tempat tinggalnya dengan senyumannya. Desain rumah ini begitu cocok dengan seleranya. Saat Ara ingin mengelilingi isi rumah ini, Jason datang dengan tatapan dinginnya.

“Kau tidur di kamar bawah! Kau tidak boleh masuk ke dalam kamarku tanpa ada izin dariku. Ingat kau hanya berstatus istri, tapi bukan berarti kau bisa seenaknya di sini. Ini adalah rumahku bukan rumahmu! Kau tidak boleh melarangku membawa siapa saja ke dalam rumah ini. Dan, kau tidak boleh membawa orang lain ke rumah ini tanpa seizinku,” ujar Jason tanpa menatap Ara sama sekali.

Ara hanya terdiam dan tersenyum kecil.

“Baik,” ucap Ara yang mengurungkan niatnya untuk mengelilingi rumah ini, ia memilih masuk ke dalam kamar saja.

Hatinya begitu lelah setelah seharian ini ia menahan semuanya. Ara ingin menangis di dalam kamarnya dengan keadaan sunyi tanpa ada seseorang yang mengetahuinya, itu akan membuat hatinya menjadi lebih tenang.

“Tuhan kenapa hatiku begitu sakit mendengarnya berkata seperti itu?” gumam Ara yang mulai menangis dalam kesunyian dengan lampu kamar yang sengaja ia matikan, sinar rembulan memberinya sedikit ketenangan dari jendela kamarnya.

“Apakah ini semua salah? Pernikahan ini salah? Jika benar bukalah hatinya untuk menerima kehadiranku di sini,” gumam lirih Ara sambil menekuk lututnya, ia menahan suara isaknya takut kedengaran.

Ara memejamkan matanya dan mulai beranjak dari duduknya. Ara melangkah ke jendela kamar dan menatap bulan yang memancarkan sinarnya di langit gelap.

“Aku sangat merindukanmu,” lirih Ara sambil menatap langit gelap, angin malam di biarkan menerpa wajah pedihnya dan rambutnya yang terurai.

...***...

Ara membuka matanya yang terasa berat itu, ia mendudukkan dirinya dan langsung bangkit dari ranjangnya.

Ia melangkah ke arah kamar mandi dan menatap wajahnya dengan mata bengkak di depan cermin. Ara memegang kedua matanya, ia melangkah ke arah shower ia menghidupkan air dingin dan berdiri di bawahnya. Ara tidak melepaskan baju yang di pakai, ia membiarkannya basah kuyub.

“Ini adalah awal dari kehidupan baruku,” gumam Ara sambil tersenyum menatap dirinya yang di guyur air pada cermin kamar mandi.

...***...

“Kau harus berangkat sendiri!” Kata Jason saat ia selesai dengan sarapannya, kepada Ara yang baru keluar dari kamar tamu.

Ara hanya menatap ke pergian Jason dengan tatapan sedih. Ia menatap menu makanan di atas meja, Ara tidak ingin makan. Perutnya tidak terbiasa untuk sarapan di pagi hari. Ara melangkah keluar rumah dan melihat mobil Jason sudah tidak ada di garasi.

“Nona saya antar,” ujar Michael yang tiba-tiba berada di depan Ara.

“Kau mengagetkanku saja!” kesal Ara membuat Michael menahan senyumannya.

“Mari nona,” ucap Michael sambil menunjukkan mobil mewah yang terpakir di halaman depan.

“Ini baru?” tanya Ara yang di balas anggukan dari Michael.

“Ini hadiah dari tuan Jeon untuk nona Ara,” jawab Michael membuat Ara terkejut, ia tidak suka dengan pemberian seperti ini.

ara tidak terbiasa mendapat hadiah mewah seperti ini, kecuali kalau ia di paksa oleh sang ayah untuk menerimanya.

“Aku naik taksi saja, kau tidak perlu mengantarku!” ujar Ara melangkah keluar dari gerbang dan mengabaikan panggilan Michael yang terus mengatakan ingin mengantarnya.

Beruntung, taksi melintas di hadapannya dan ia langsung masuk ke dalam taksi sebelum Michael sampai kepadanya.

“Perusahaan Jeon, Pak!” seru Ara sambil menyandarkan punggungnya di kursi.

Wanita itu menatap jalanan sekitar, motornya rusak dan masih berada di bengkel. Ia sangat rindu dengan motor kesayangannya itu, motor yang memiliki banyak kenangan baginya dan seseorang yang sangat berarti di hidupnya.

Ara tersenyum mengingatnya, kenangan yang tak pernah bisa ia hilangkan dari ingatannya.

“Sudah sampai, nona,” ujar sang sopir membuat lamunan Ara terhenti.

Ara melihat ke depan ternyata ia sudah sampai di depan kantornya. Ara segera membayar ongkos taksi dan keluar dari taksi.

“Ara!” pekik Nara sahabat Ara yang pertama dan satu-satunya saat ia menginjakkan kakinya di kantor tempatnya bekerja saat ini.

Ara tersenyum melihat Nara yang juga baru datang dan menghampirinya. Nara langsung memeluk erat tubuh Ara dan Ara membalas pelukannya tak kalah erat.

“Kau sudah selesai mengambil cuti sakitnya?” tanya Ara yang mengetahui kalau Nara sedang mengambil cuti, karena kondisi kesehatannya menurun beberapa waktu itu.

Sekarang saja wajah Nara masih terlihat pucat. Ara sampai tidak tega melihatnya, Ara merangkul Nara untuk memasuki gedung kantor.

Banyak sekali yang menyapa Ara dan Nara, karena Ara di kenal sebagai perempuan yang humble dan selalu bersikap lembut kepada siapa pun.

“Kau pasti kabur dari rumah sakit ya?” Ara memicingkan matanya menatap Nara yang tersenyum. Ara mencubit gemas pipi tembam Nara.

“Kau tahu sendiri kan? aku paling tidak betah berada di rumah sakit lama-lama,” jelas Nara membuat Ara menggelengkan kepalanya.

Sahabatnya ini memang tidak pernah bersahabat dengan tempat yang bernama rumah sakit, Nara pasti akan kabur saat mendengar akan di bawa ke sana.

“Dasar kau ini! Kau belum sembuh dan harus di rawat,” kesal Ara.

“Aku tidak kenapa-napa, hanya saja masih lemas,” jujur Nara untuk meyakinkan Ara yang sedang menatapnya khawatir. Ara tersenyum kecil dan menepuk pelan pundak sahabatnya itu.

“Kenapa kau tidak istirahat di rumah?” tanya Ara dengan suara lembutnya.

“Aku sangat bosan di kamar terus-menerus dan aku juga sangat merindukanmu yang selalu mengkhawatirkanku,” ujar Nara dengan nada menggodanya, Ara mendengus mendengarnya, tapi tak lama kemudian Ara mengembangkan senyumnya dan tertawa.

Mereka melanjutkan langkahnya ke arah lift untuk menaiki lantai di maja mereka bekerja, mereka beda divisi dan beda lantai, jadi mereka berdua akan bersama jika jam istirahat atau pulang dari kantor. Ara dan Nara jalan sambil bercanda.

Ara menghentikan langkahnya saat melihat suaminya di gandeng mesra oleh seorang wanita dengan pakaian seksi.

Ara masih menatap lurus, Jason baru saja memasuki lift khusus untuk pemilik perusahaan, ia membawa serta perempuan yang di peluk pinggangnya sangat mesra itu.

Ara sempat melihat mata tajam Jason yang sempat meliriknya sekilas, ia melihat jelas senyum miring tercetak di wajah suaminya dan Jason semakin merapatkan tubuh wanita seksi itu kepadanya.

Ara merasakan dadanya kembali sesak, ia memejamkan kedua matanya.

“Ini baru permulaan untukmu.”

Bersambung...

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!