Angin malam di perbatasan Desa Karang Jati bertiup lebih dingin dari biasanya, membawa aroma tanah basah dan sisa-sisa pembakaran ilalang yang menyesakkan dada. Di sebuah gubuk tua yang berdiri merana di tepian persawahan batas sakral antara peradaban manusia dan keangkeran Hutan Weling , seorang pria duduk gelisah.
Karno, pria berperawakan gempal dengan kulit legam terbakar matahari, berkali-kali membenahi letak sarungnya. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut pada hantu hutan, melainkan karena bayangan sosok wanita yang ditemuinya siang tadi di toko material perbatasan.
Ratri.
Nama itu sempat menjadi kutukan sekaligus pemuas nafsu di desa mereka dua tahun lalu. Namun, Ratri yang dilihat Karno tadi siang bukanlah Ratri yang dulu mereka seret ke ladang jagung. Bukan lagi wanita kota yang tampak lemah, kusam karena kemiskinan, dan mudah menangis. Ratri yang tadi siang berdiri di hadapannya adalah jelmaan bidadari yang keluar dari kegelapan. Kulitnya putih bersih seolah bersinar di bawah terik matahari, matanya tajam namun memikat, dan bibirnya merah merekah tanpa perlu banyak polesan.
Karno menelan ludah. Ia teringat bagaimana Ratri menyetujui ajakannya untuk bertemu malam ini. "Datanglah ke gubuk batas desa, Mas Karno. Kita bicara... atau mungkin lebih dari sekadar bicara," bisik Ratri tadi siang, suaranya halus seperti sutra namun dingin seperti es.
"Dia pasti masih dendam soal video itu," gumam Karno pada diri sendiri. Ya, Karnolah yang dulu merekam aksi bejat sepuluh pria menggilir Ratri. Karno juga yang menyebarkan rekaman itu hingga Bayu, suami Ratri, kalap dan mengusir istrinya sendiri dalam keadaan telanjang bulat. Tapi melihat kecantikan Ratri sekarang, Karno merasa rasa bersalahnya bisa ditebus dengan satu malam lagi. Ia merasa yakin, Ratri adalah wanita lemah yang bisa ia taklukkan kembali dengan kata-kata manis atau sedikit ancaman jika perlu.
Langkah kaki yang ringan di atas daun-daun kering memecah lamunan Karno. Dari balik kegelapan barisan pohon jagung yang menjulang tinggi, muncullah sosok wanita itu. Ratri mengenakan kebaya tipis berwarna hitam yang membalut tubuh moleknya dengan sempurna. Rambutnya yang panjang tergerai, menebarkan aroma melati yang menusuk hidung , aroma yang anehnya terasa sangat purba dan magis.
"Kau datang, Mas," suara Ratri membelah kesunyian malam.
Karno berdiri dengan kaku. "Ratri... kamu... kamu cantik sekali. Benar-benar beda."
Ratri melangkah masuk ke dalam gubuk yang hanya diterangi sebuah lampu teplok kecil. Cahaya temaram itu menari-nari di wajahnya, menciptakan bayangan yang aneh di dinding gubuk. "Hidup di kota sebelah memberiku banyak pelajaran, Mas. Termasuk pelajaran tentang bagaimana menghargai kecantikan yang ku punya."
Karno mendekat, keberaniannya mulai tumbuh. "Aku minta maaf, Ratri. Soal video itu... soal malam itu di ladang ini. Aku khilaf. Kami semua khilaf karena kamu terlalu cantik."
Ratri tertawa kecil. Suara tawanya terdengar merdu namun ada nada sumbang yang membuat bulu kuduk sedikit meremang. "Khilaf? Sepuluh orang khilaf bersamaan? Itu luar biasa, Mas. Tapi sudahlah, aku sudah tidak ingin membahas masa lalu yang menyakitkan itu. Aku hanya ingin merasakan... apakah laki-laki desa ini masih sehebat dulu."
Kata-kata itu seperti bensin yang menyambar api di dalam dada Karno. Tanpa membuang waktu, Karno merengkuh tubuh Ratri. Kulit wanita itu terasa sangat dingin, hampir seperti menyentuh mayat yang baru saja dimandikan, namun aromanya begitu memabukkan hingga Karno mengabaikan akal sehatnya.
Mereka bergumul di atas balai-balai bambu yang berderit. Karno merasa berada di puncak dunia. Belum pernah ia merasakan gairah sehebat ini. Kecantikan Ratri seolah mengisap seluruh kesadarannya. Ia merasa sangat puas, sangat berkuasa, seolah ia adalah raja yang sedang menaklukkan kembali wilayah jajahannya.
Namun, di tengah puncak kenikmatan yang luar biasa itu, suasana tiba-tiba berubah mencekam.
Lampu teplok di sudut ruangan tiba-tiba padam, namun ruangan itu tidak sepenuhnya gelap. Ada cahaya kemerahan yang samar keluar dari tubuh Ratri tepatnya dari arah pangkal pahanya.
Jleb!
"AAAGHHH!"
Jeritan Karno tertahan di tenggorokan. Rasa sakit yang tak terlukiskan menghantam pusat kejantanannya. Itu bukan sekadar rasa sakit biasa. Rasanya seolah ada ribuan jarum panas yang menusuk, diikuti oleh sensasi robekan yang brutal. Sesuatu di dalam diri Ratri seolah memiliki nyawa sendiri , sesuatu yang tajam, bergerigi, dan sangat lapar.
Karno mencoba menarik dirinya mundur, namun tubuhnya kaku, lumpuh total. Ia merasa seperti ada rahang yang kuat sedang mengunyah alat vitalnya dari dalam. Rasa sakit itu mencabik-cabik sarafnya, membuatnya ingin berteriak sekeras mungkin, namun suaranya hanya keluar berupa rintihan parau yang menyedihkan. Air mata dan keringat dingin bercucuran di wajahnya yang kini pucat pasi.
Dalam kondisi antara sadar dan tidak, penglihatan Karno mulai berhalusinasi atau mungkin itulah kenyataan yang sebenarnya. Di atas balai-balai itu, sosok Ratri terlihat menghilang. Sebagai gantinya, Karno melihat seekor makhluk mengerikan berjongkok di hadapannya. Makhluk itu menyerupai anjing hutan atau serigala berbulu hitam legam dengan mata merah menyala yang haus darah. Makhluk itu sedang asyik... mengunyah.
Darah segar berceceran di lantai gubuk. Karno melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana makhluk itu mengoyak-ngoyak daging di antara selangkangannya, melahap habis "kejantanannya" dengan suara kunyahan yang menjijikkan.
Krak... krak... slruppp...
"Tidaaakkk... ampung... tolong..." Karno merintih, tubuhnya bergetar hebat.
Tiba-tiba, ilusi itu buyar. Makhluk itu menghilang, dan Ratri kembali duduk di sana, di pinggir balai-balai. Ia tampak sangat tenang, seolah tidak terjadi apa-apa. Ratri merogoh saku kebayanya, mengeluarkan sebatang rokok , dan menyulutnya. Asap rokok yang harum melati mengepul, menutupi bau anyir darah yang memenuhi ruangan.
Ratri menoleh ke arah Karno yang terkapar tak berdaya dengan celana yang bersimbah darah. Wanita itu tertawa ,kali ini tawa yang penuh dengan kebencian dan kepuasan yang murni.
"Enak, Mas Karno? Itulah rasanya puncak kenikmatan yang kuberikan," ucap Ratri dingin. Ia menyesap rokoknya dalam-dalam, lalu menyemburkan asapnya tepat ke wajah Karno yang sedang menangis pilu.
"Kau... kau setan, Ratri! Apa yang kau lakukan padaku?!" tangis Karno pecah. Rasa sakit itu masih ada, membakar setiap jengkal kulitnya.
Ratri bangkit berdiri. Ia mendekati Karno yang menggeliat kesakitan. Tanpa belas kasihan, Ratri meludah tepat ke luka berdarah di selangkangan Karno. Ia kemudian mengangkat kakinya yang mungil dan menginjak tepat di atas kemaluan Karno yang sudah hancur itu dengan tumitnya.
"Ughhh!" Karno hampir pingsan karena rasa sakit yang meledak sekali lagi.
"Ini baru permulaan, Karno," desis Ratri, wajahnya mendekat ke telinga pria itu. "Dulu kalian menggilirku seolah aku bukan manusia. Kalian menginjak harga diriku, suamiku membuangku seperti sampah karena video busukmu itu. Sekarang, giliran aku yang memanen apa yang kalian tanam."
Ratri menekan kakinya lebih keras, memutar tumitnya di atas luka itu. Ratri melangkah mundur, membuang puntung rokoknya ke wajah Karno. "Sampaikan salamku pada teman-temanmu yang lain. Katakan pada mereka... Ratri sudah kembali."
Kesadaran Karno mulai menipis. Pandangannya menggelap seiring dengan rasa sakit yang terus menghujam. Hal terakhir yang ia dengar adalah suara tawa Ratri yang menjauh, menyatu dengan suara burung hantu yang bersahutan di Hutan Weling.
_________
Cahaya matahari pagi yang menusuk lewat celah-celah pepohonan jagung membangunkan Karno. Ia tersentak, nafasnya memburu seolah baru saja lari maraton. Ia merasakan dingin yang luar biasa. Saat ia melihat sekeliling, ia menyadari bahwa ia tidak lagi berada di gubuk.
Ia tergeletak di tengah ladang jagung. Tempat yang sama di mana dua tahun lalu ia dan kawan-kawannya melakukan perbuatan terkutuk itu pada Ratri.
"Mimpi... itu pasti mimpi buruk," bisik Karno dengan bibir gemetar.
Ia teringat rasa sakit yang luar biasa semalam. Dengan tangan gemetar, ia meraba celananya. Kering. Tidak ada darah. Ia buru-buru membuka ikatan sarungnya dan memeriksa bagian dalamnya. Kejantanannya masih di sana. Masih utuh secara fisik. Tidak ada luka robek, tidak ada bekas gigi, dan tidak ada pendarahan seperti yang ia lihat dalam "halusinasinya" semalam.
Karno mengembuskan napas lega yang panjang. "Hanya mimpi... hanya halusinasi karena aku terlalu tegang."
Ia mencoba berdiri, namun kakinya terasa lemas. Ia teringat betapa cantiknya Ratri semalam dan betapa nikmatnya hubungan itu sebelum "mimpi buruk" itu dimulai. Secara naluriah, Karno mencoba membangkitkan gairahnya kembali, membayangkan lekuk tubuh Ratri.
Namun, sesuatu yang aneh terjadi.
Tidak ada reaksi. Biasanya, hanya dengan sedikit bayangan saja, "senjatanya" akan bereaksi. Namun sekarang, bagian tubuhnya itu terasa dingin, seperti sepotong daging mati yang hanya menempel di tubuhnya. Ia mencoba meraba, memijat, dan merangsang dirinya sendiri dengan penuh kepanikan.
Nol. Mati total.
Karno mulai berkeringat dingin lagi. Ia teringat ucapan Ratri dalam mimpinya: "...mati rasa seumur hidup... memohon kematian tapi tidak akan datang."
Ia mencoba memejamkan mata dan berkonsentrasi, namun yang muncul di pikirannya justru bayangan makhluk serigala yang sedang mengunyah sesuatu yang kenyal dengan bunyi krak yang nyata. Di saat itulah, Karno menyadari satu hal yang lebih mengerikan dari kematian.
Karno jatuh terduduk di antara batang-batang jagung, meratapi nasibnya yang kini lebih hina dari sekadar mati. Di kejauhan, ia seolah mendengar sayup-sayup suara tawa seorang wanita yang terbawa angin pagi, mengingatkannya bahwa pembalasan dendam baru saja dimulai.
Ini Karya horor terbaruku.. Jangan lupa follow ya biar dapat Update karya- karya ku lainnya , support nya ya ,like komen dan follow nya.
Terimakasih
Matahari baru saja naik sepenggalah ketika jeritan histeris Lastri, istri Karno, memecah kesunyian ladang jagung di perbatasan desa. Sejak semalam, suaminya tidak pulang. Kabar burung menyebar cepat; warga berbisik-bisik bahwa Karno mungkin "diculik demit alas" atau disembunyikan oleh penunggu Hutan Weling karena nekat berkeliaran di batas desa saat malam Jumat Kliwon.
"Karno! Mas Karno!" teriak Lastri dengan suara parau.
Beberapa warga lelaki yang membawa parang dan pentungan menyisir rimbunnya batang jagung yang menjulang tinggi. Mereka menemukan Karno tergeletak telentang di titik yang paling angker bekas tempat "pesta pora" mereka dua tahun lalu. Tubuh Karno dingin, kulitnya pucat seolah darahnya telah diisap habis, namun napasnya masih ada.
Saat diguncang oleh warga, Karno tersentak bangun dengan mata melotot. Ia tidak bicara. Ia hanya menatap langit dengan pandangan kosong, lalu meraba selangkangannya berkali-kali dengan gerakan panik yang aneh.
"Kamu kenapa, Mas? Dicuri wewe gombel?" tanya seorang warga dengan nada setengah bercanda.
Karno tidak menjawab. Ia bangkit dan berjalan terseok-seok pulang, mengabaikan istrinya yang menangis sesenggukan. Sejak saat itu, Karno bukan lagi Karno yang dulu. Ia pulang membawa "oleh-oleh" kegilaan yang tak kasat mata.
Tiga hari berlalu sejak kejadian di ladang, dan perilaku Karno semakin mengkhawatirkan. Ia sering duduk di depan rumah, menatap setiap wanita yang lewat dengan pandangan yang mengerikan campuran antara nafsu liar dan ketakutan yang mendalam. Di matanya, realita mulai bergeser. Setiap lekuk tubuh wanita, setiap helai rambut yang tergerai, dan setiap aroma wangi sabun yang tercium, berubah menjadi sosok Ratri dalam penglihatannya.
Pikirannya terus-menerus memutar kejadian di gubuk itu. Rasa sakit yang tajam, rahang bergerigi yang mengunyah dagingnya, dan tawa Ratri yang sedingin es. Namun, syaraf-syaraf di otaknya yang sudah rusak oleh trauma ghaib justru menciptakan dorongan kompensasi yang gila. Ia merasa harus membuktikan bahwa dirinya masih laki-laki, bahwa ia belum "mati".
Sore itu, hawa udara terasa gerah. Karno berjalan menuju kebun belakang rumahnya dengan tatapan nanar. Di sana, di balik rimbunnya pohon pisang, ia melihat sesosok wanita sedang membungkuk mencari rumput.
Dalam pandangan Karno yang sudah terdistorsi, wanita itu mengenakan kebaya hitam tipis. Kulitnya putih bersinar dan aroma melati yang menusuk tiba-tiba memenuhi indra penciumannya. "Ratri..." bisik Karno dengan air liur yang nyaris menetes. Gairah liar yang gelap mendidih di kepalanya, menutupi kenyataan bahwa sosok yang sedang membelakanginya itu adalah Mbah Mijah, nenek tua renta berusia delapan puluh tahun yang tubuhnya sudah membungkuk seperti udang.
Tanpa peringatan, Karno menerjang. Seperti binatang buas yang kelaparan, ia menanggalkan sarungnya di tengah kebun dan menyerang nenek tua itu. Mbah Mijah menjerit, namun suaranya lemah tertelan tenaga Karno yang sedang kerasukan.
"Ratri... kamu milikku... kamu tidak bisa membunuhku!" racau Karno sambil melakukan tindakan asusila yang sangat tidak pantas di bawah sinar matahari sore yang mulai jingga.
Petaka itu memuncak saat anak bungsu Karno, Adi, pulang bermain layangan melewati kebun. Bocah sepuluh tahun itu terpaku melihat pemandangan menjijikkan di depan matanya: bapaknya sendiri, telanjang bulat, sedang menindih Mbah Mijah yang meronta-ronta di atas tumpukan rumput.
"IBUUUU! BAPAK GILA! BAPAK SAMA MBAH MIJAH!" jerit Adi sambil berlari kencang menuju rumah.
Lastri yang sedang menggoreng tempe di dapur langsung melempar sodetnya. Ia berlari ke kebun diikuti oleh beberapa tetangga yang kebetulan lewat karena mendengar teriakan Adi. Saat mereka sampai di sana, pemandangan itu membuat semua orang mual sekaligus murka.
"KARNO! KEPARAT KAMU!" teriak Lastri. Ia tidak peduli lagi pada rasa malu. Diambilnya sebilah bambu pagar, lalu dipukulkannya ke punggung telanjang suaminya berkali-kali. "SETAN APA YANG MASUK KE TUBUHMU, MAS!"
Warga berdatangan. Bukannya menolong, banyak dari mereka yang justru tertawa terpingkal-pingkal sambil menunjuk-nunjuk. "Oalah, Karno... Karno! Sudah tidak ada perawan di desa ini sampai nenek-nenek dicicipi juga?" ejek seorang warga.
"Karno sudah miring otaknya! Pulang dari ladang jagung langsung jadi pemangsa nenek-nenek!" sahut yang lain diiringi tawa riuh.
Mbah Mijah, yang berhasil lepas, duduk sambil memperbaiki kainnya yang koyak dengan tangan gemetar. Wajahnya merah padam karena terhina. Sambil menunjuk ke arah selangkangan Karno dengan telunjuknya yang keriput, ia berteriak dengan suara melengking:
"Dasar laki-laki bejat! barangmu itu tidak bangun daritadi, masih juga kamu paksa masuk ! dia mati seperti kayu kering! Dasar gendeng , sampai sakit punyaku di gesek gesek lawong punyamu itu udah layu !"
Mendengar sumpah serapah itu, tawa warga semakin pecah. Karno yang tiba-tiba tersadar dari ilusinya, menatap sekeliling dengan wajah horor. Ia melihat Mbah Mijah yang asli bukan Ratri. Ia melihat istrinya yang mengamuk, dan warga yang menontonnya seolah ia adalah binatang sirkus yang menjijikkan.
Dengan rasa malu yang memuncak, Karno menyambar sarungnya dan berlari masuk ke dalam rumah, mengunci diri di kamar.
Malam harinya, rumah itu terasa seperti kuburan. Lastri hanya diam di ruang tengah, menangis meratapi nasibnya yang memiliki suami "sakit jiwa". Namun, di dalam kamar, Karno sedang bertarung dengan ketakutan yang luar biasa. Kalimat Mbah Mijah dan ucapan Ratri di dalam mimpinya terus bergema: Mati rasa seumur hidup.Dia mati seperti kayu kering.
"Tidak mungkin... itu hanya kebetulan," gumam Karno.
Ia ingin membuktikan bahwa sumpah itu tidak berlaku. Dengan wajah memelas, ia keluar kamar dan mendekati Lastri. Ia mencoba membujuk istrinya, memohon maaf dengan seribu janji, dan akhirnya menarik paksa istrinya ke dalam kamar. Lastri, yang meskipun benci tapi masih merasa itu adalah kewajibannya, hanya bisa pasrah.
Namun, di atas ranjang itulah neraka yang sebenarnya dimulai.
Karno mencoba segala cara. Ia menciumi istrinya dengan kasar, mencoba membangkitkan gairah yang ia harapkan masih tersisa. Satu menit, lima menit, hingga setengah jam berlalu. Keringat dingin mulai bercucuran di dahi Karno.
"Barang" itu tetap diam. Dingin. Mati.
Seolah-olah seluruh syaraf di sana telah dicabut. Tak peduli sekeras apa pun Karno mencoba, organ vitalnya tetap terkulai layu, pucat, dan tanpa gairah sedikit pun. Lastri yang awalnya hanya diam, mulai menatap suaminya dengan tatapan aneh.
"Kenapa, Mas? Benar kata Mbah Mijah tadi?" tanya Lastri datar, ada nada ejekan dalam suaranya yang terluka.
"Diam! Ini hanya karena aku capek!" bentak Karno. Ia mencoba lagi dengan lebih agresif, namun tiba-tiba, suhu di dalam kamar turun drastis.
Lampu bohlam di langit-langit berkedip-kedip sebelum akhirnya padam total.
Dalam kegelapan itu, penglihatan Karno kembali berubah. Ia tidak lagi melihat istrinya. Di sudut kamar, ia melihat bayangan hitam besar berjongkok. Dua mata merah menyala menatapnya tajam. Bunyi geraman rendah terdengar, diikuti suara kunyahan yang sangat nyata: Krak... krak... slrupp...
Karno melihat ke bawah, ke arah selangkangannya. Dalam ilusinya, ia melihat kemaluannya berlumuran darah, dan sosok anjing hitam itu sedang menarik urat-urat dari dalamnya. Rahang makhluk itu tampak haus akan sari pati kejantanannya.
"TIDAAAKKK! JANGAN MAKAN PUNYAKU! AMPUN, ! AMPUN!"
Karno menjerit histeris. Ia melompat dari ranjang, menendang-nendang udara kosong seolah sedang mengusir binatang buas. Ia meringkuk di pojok ruangan sambil menutupi kemaluannya dengan kedua tangan, tubuhnya bergetar hebat.
"Mas! Kamu kenapa, Mas?!" Lastri berteriak panik, meraba-raba dalam gelap mencari lampu senter.
Begitu senter dinyalakan, Lastri melihat suaminya sedang menangis meraung-raung seperti anak kecil, kencing di celana karena ketakutan, sambil terus meracau tentang "anjing hitam" dan "permintaan ampun ".
"Ampun, ... kembalikan punyaku... jangan dimakan... sakitttt!"
Lastri bergidik ngeri. Mendengar kata " jangan dimakan " membuat jantungnya berdegup kencang. "Ini bukan gila biasa," bisik Lastri dalam hati.
Ketakutan melihat suaminya yang nyaris kehilangan kewarasan, Lastri lari keluar rumah sambil berteriak memanggil bantuan. "TOLONG! PAK RT! TOLONG! MAS KARNO KESURUPAN!"
Malam itu, warga kembali berkumpul di depan rumah Karno, mendengarkan jeritan seorang pria yang sedang dikuliti oleh dendam ghaib yang tak terlihat.
Jangan lupa support Thor ya... Like..like..komen nya jugaa ..menerima setiap masukan uang eehhh..kritik dan saran.
Jangan lupa follow juga.Terimakasih
Suasana di depan rumah Karno malam itu benar-benar kacau. Bau pesing dari celana Karno bercampur dengan aroma minyak kayu putih yang dioleskan warga ke pelipis pria yang terus meracau itu. Pak RT, seorang pria paruh baya bernama Hardo yang memiliki pengaruh besar namun menyimpan kebusukan di balik seragamnya, berdiri dengan raut wajah yang sulit diartikan. Ada guratan kecemasan yang mendalam di dahinya, bukan karena kasihan pada Karno, melainkan karena permintaan maaf bahkan ampunan ,secara tidak langsung mengingatkan nya kepada kejadian dua tahun silam.
"Sudah, sudah! Jangan dibiarkan di sini, malah bikin gaduh desa. Bisa-bisa warga lain ikut ketakutan," seru Pak RT Hardo sambil mengibaskan tangan, mencoba menenangkan kerumunan yang semakin sesak.
"Tapi Pak RT, ini Mas Karno kesurupan demit ladang! Harus dipanggilkan dukun," sahut salah seorang warga dengan wajah pucat.
"Dukun apa? Ini sarafnya kena! Mungkin dia terlalu banyak tekanan. Lastri, pakai mobilku di depan. Bawa dia ke rumah sakit di kota sekarang juga. Ajak pamanmu untuk memegangi dia, jangan sampai dia lompat dari mobil," perintah Pak RT dengan tegas.
Lastri, yang sudah tidak memiliki kekuatan lagi untuk berdebat, hanya bisa mengangguk pasrah. Dengan bantuan beberapa warga, tubuh Karno yang lemas namun sesekali masih kejang itu diangkat ke atas mobil. Karno terus bergumam, suaranya parau seperti gesekan amplas. "Anjing itu... dia bawa giginya... giginya di dalam... ampun..."
Suara mesin mobil menderu, memecah kesunyian malam yang mencekam. Mobil itu bergerak menjauh, meninggalkan kepulan asap dan tanda tanya besar di benak warga. Setelah mobil itu hilang dari pandangan, bisik-bisik mulai menjalar seperti api di atas rumput kering.
"Kalian dengar tidak? Dia meminta ampun terus-terusan,apakah itu setannya Ratri yang kita perkosa tempo lalu dan kita bakar gubugnya" bisik seorang pria dengan kumis tipis, salah satu dari sepuluh orang yang dulu ikut di ladang jagung. Wajahnya tampak gelisah.
"Ah, paling cuma igauan. Kan dulu kita memang... ah, sudahlah. Mungkin dia cuma merasa bersalah saja," jawab temannya, mencoba menenangkan diri sendiri meski tangannya gemetar saat menyulut rokok.
"Tapi kenapa di ladang jagung itu? Kenapa baru sekarang? Jangan-jangan Ratri kirim santet dari tempat persembunyiannya, kalaupun dia masih hidup" sahut yang lain.
Pak RT Hardo berdeham keras, mematikan spekulasi liar itu. "Sudah! Bubar semua! Jangan bikin gosip yang tidak-tidak. Besok masih banyak kerjaan. Masuk rumah masing-masing!"
Warga pun bubar dengan perasaan tidak tenang. Mereka tidak tahu bahwa di kegelapan Hutan Weling, sepasang mata merah sedang mengawasi mereka, dan seorang wanita sedang menghitung mundur waktu kehancuran mereka.
_______
Esok paginya, matahari terbit dengan cahaya yang tampak terlalu pucat. Kabut tipis masih menyelimuti jalanan aspal yang menghubungkan Desa Karang Jati dengan desa tetangga. Di perbatasan desa, terdapat sebuah Toko Material "Maju Jaya" yang menjadi satu-satunya tempat warga membeli kebutuhan bangunan.
Pagi itu, suasana toko cukup ramai. Beberapa pelaku pemerkosaan Ratri kebetulan sedang berada di sana. Ada Bambang yang sedang memesan semen, dan Sugeng yang sedang duduk di atas tumpukan bata sambil menggoda pelayan toko. Mereka sedang menertawakan kejadian Karno semalam, mencoba menganggapnya sebagai lelucon agar ketakutan mereka sendiri sirna.
"Si Karno itu memang lemah. Baru diganggu bayangan saja sudah gila. Harusnya dia bangga, sudah mencicipi wanita kota gratisan, malah jadi gila," tawa Sugeng meledak, diikuti kekehan Bambang.
Namun, tawa itu tiba-tiba terhenti secara mendadak. Seperti ada tangan ghaib yang mencekik tenggorokan mereka hingga suara mereka hilang ditelan udara.
Sebuah mobil sedan hitam mengkilap, jenis mobil yang jarang masuk ke desa pelosok seperti ini, berhenti tepat di depan toko material. Debu jalanan beterbangan, menciptakan tirai tipis saat pintu mobil terbuka.
Seorang wanita turun dari mobil itu.
Ia mengenakan terusan kain batik sutra yang jatuh dengan indah di lekuk tubuhnya. Kacamata hitam besar bertengger di hidungnya yang mancung, namun ia kemudian membukanya dengan gerakan anggun. Rambutnya disanggul modern, memperlihatkan lehernya yang jenjang dan putih bersih putih yang tidak wajar, seolah-olah ia memancarkan cahaya sendiri di tengah debu toko material.
Dia adalah Ratri.
Bambang hampir menjatuhkan nota semennya. Sugeng yang tadi duduk santai, kini berdiri dengan kaku, mulutnya menganga. Jantung mereka berdegup kencang hingga terasa sakit di dada. Ini bukan Ratri yang mereka kenal. Ini bukan wanita yang dulu mereka seret dan mereka injak-injak kehormatannya. Wanita di depan mereka adalah sosok yang memiliki aura kekuasaan yang sangat dominan, sangat cantik, namun memberikan sensasi dingin yang merambat hingga ke tulang belakang.
Ratri melangkah maju. Setiap langkah kakinya yang mengenakan sandal berhak tinggi terdengar seperti detak jam kematian di telinga mereka. Tak... tak... tak...
Aroma melati yang sangat kuat dan segar tiba-tiba memenuhi area toko material, mengalahkan bau semen dan debu kayu. Aroma itu begitu memabukkan, membuat para pria yang ada di sana tanpa sadar menarik napas dalam-dalam, terpesona sekaligus merasa ngeri.
"Selamat pagi, Bapak-bapak," suara Ratri mengalun merdu, namun ada nada sarkasme yang tajam seperti sembilu.
Bambang menelan ludah dengan susah payah. "Ra... Ratri? Kamu... kamu kembali?"
Ratri menoleh ke arah Bambang. Matanya berkilat aneh. Di mata Bambang, sesaat ia melihat bayangan hitam besar berdiri di belakang Ratri, namun saat ia berkedip, bayangan itu hilang. "Kenapa, Mas Bambang? Kelihatannya kaget sekali melihat saya. Seperti melihat hantu saja."
"Bukan... bukan begitu. Kamu... makin cantik," sahut Sugeng dengan suara yang bergetar karena nafsu yang tiba-tiba bangkit.
Ratri tersenyum lebar, memperlihatkan deretan giginya yang putih dan rapi. Namun bagi siapa pun yang melihat dengan batin yang peka, senyum itu tampak seperti seringai pemangsa. "Terima kasih. Saya kembali untuk mengurus beberapa hal yang tertinggal. Saya ingin merenovasi rumah saudara suami di desa sebelah, jadi saya butuh banyak material."
Warga desa lainnya yang sedang berbelanja mulai berbisik-bisik. "Itu kan Ratri? Istrinya si Bayu yang dulu diusir?"
"Loh, kok jadi seperti nyonya besar begitu? Cantik sekali, sampai-sampai aku tidak berani menatap matanya."
Ratri mengabaikan bisikan itu. Ia mendekati meja kasir, melewati Bambang dan Sugeng begitu saja. Namun, saat ia melewati mereka, Ratri sengaja menyentuhkan ujung jemarinya yang dingin ke lengan Sugeng.
Sugeng tersentak. Rasa dingin itu seperti sengatan listrik yang membekukan darahnya. Sesaat, ia merasa seolah ada sesuatu yang merayap masuk dari pori-pori kulitnya, menuju ke arah bawah perutnya.
"Saya butuh semen lima puluh sak, besi pondasi, dan beberapa perlengkapan lain. Kirim ke alamat ini," ucap Ratri sambil meletakkan selembar kartu nama berwarna emas di atas meja.
Pemilik toko, seorang pria tua, mengangguk dengan gemetar, terhipnotis oleh tatapan mata Ratri. "Ba... baik, Nyonyah. Segera kami siapkan."
Setelah menyelesaikan urusannya, Ratri berbalik. Ia kembali menatap Bambang dan Sugeng yang masih berdiri mematung. Kali ini, Ratri mendekat, memperpendek jarak hingga aroma tubuhnya membuat kepala kedua pria itu pusing.
"Bagaimana kabar yang lain? Mas Karno, Mas Agus... dan tentu saja, Pak RT Hardo?" tanya Ratri dengan nada santai, seolah menanyakan kabar teman lama.
"Karno... Karno sedang sakit. Dia dibawa ke rumah sakit kota tadi malam," jawab Bambang dengan suara serak.
Ratri menunjukkan ekspresi prihatin yang dibuat-buat. "Oh, sayang sekali. Padahal saya baru saja kembali. Sampaikan salam saya untuknya kalau dia sudah... sadar.
Ratri kemudian beralih menatap Sugeng. Ia menatap tepat ke arah mata Sugeng, lalu turun ke arah selangkangannya dengan tatapan yang penuh arti. "Dan kamu, Mas Sugeng... jaga kesehatanmu ya. Kangen tubuh gagah mu ini lagi ."
Ratri tertawa kecil .Tanpa menunggu jawaban, Ratri berjalan kembali ke mobilnya. Sebelum masuk, ia sempat melirik ke arah jalanan desa yang mulai ramai. Di sana, beberapa warga berdiri terpaku menonton pemandangan itu. Ratri memberikan lambaian tangan yang anggun kepada mereka semua, seolah ia adalah seorang ratu yang sedang menyapa rakyatnya.
Begitu pintu mobil tertutup dan mesin menderu pergi, Bambang dan Sugeng seperti baru saja dilepaskan dari sebuah cengkeraman yang mencekik. Mereka berdua terengah-engah, keringat dingin membanjiri kaos mereka.
"Geng... kamu rasa tidak?" tanya Bambang dengan wajah pucat.
"Rasa apa?" Sugeng mencoba mengatur napasnya.
"Wanita itu sudah sangat jauh berbeda dengan wanita yang kita pakai ramai-ramai dulu."
Kembalinya Ratri bukan sekadar kepulangan seorang wanita yang pernah tersakiti. Kemunculannya hari ini adalah sebuah deklarasi perang. Sebuah teror resmi yang dimulai di bawah terang matahari, di depan mata semua orang, untuk menunjukkan bahwa dia tidak lagi bersembunyi.
Teror itu kini bukan lagi bisikan di ladang jagung, melainkan sebuah sosok nyata yang terlalu cantik untuk menjadi manusia, dan terlalu dingin untuk memiliki hati. Desa Karang Jati baru saja menerima tamu yang akan mengubah setiap kenikmatan mereka menjadi siksaan yang abadi.
Sementara itu, di dalam mobil, Ratri menatap spion. Ia melihat bayangan dirinya sendiri, dan di sampingnya, tampak sosok samar makhluk berbulu hitam dengan gigi bergerigi yang sedang menjilati darah imajiner di cakarnya. Ratri tersenyum tipis. "Sabar, Suanggi... setelah ini, giliran mereka yang paling berisik yang akan kita bungkam."
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!