"Kya ... dasinya mana, kok nggak ada?!" teriak Doni Wiratama pada istrinya, Kyara Nawasena.
"Bentar, Mas," sahut Kyara dari dalam kamar mandi.
"Cepetan Kya! Ini udah siang. Aku takut kesiangan! Nanti aku kena SP! Gajiku bulan ini bisa-bisa nanti dipotong," cerocos Doni dengan nada ketus dan penuh intimidasi.
Pintu kamar mandi terbuka, Kyara berlari tergopoh-gopoh ke arah lemari, membukanya dengan gerakan cepat. "Ini Mas, dasinya." Dia menyodorkan dasi berwarna merah marun itu kepada suaminya.
"Pasangin!" titah lelaki yang bekerja sebagai manajer keuangan di salah satu badan usaha milik negara di kota kembang tersebut.
Kyara tak banyak bicara, gegas melakukan apa yang diperintahkan suaminya. "Udah, Mas," katanya sambil merapikan dasi itu.
Tak ada ucapan terima kasih yang terucap, malah keluar perkataan tak mengenakan yang dilontarkan suaminya. "Minggir ih! Kamu bau asem!"
"Aku kan belum mandi, Mas," balas Kyara sambil memundurkan tubuh.
"Jorok!" dengus Doni sinis.
"Bukan jorok, Mas. Tapi belum keburu. Dari mulai bangun tidur ... aku langsung bebenah dan bergelut di dapur. Menyiapkan sarapan untuk kamu, Mama dan juga Dini. Belum lagi nyuci perabotan, dilanjut nyuci baju kali-"
"Udah! Udah! Kenapa kamu jadi curhat?!" bentak Doni. "Itu semua sudah menjadi tugasmu sebagai istri, jadi ... nggak usah ngeluh!" Doni berbalik, mengambil jas dan tas kerjanya. Lalu keluar dari kamar.
"Huuhhhh!" Kyara mengembuskan napas panjang yang terasa merontokkan tulang dan menyesakkan dadanya.
Dia kira, menikah dengan lelaki yang ia cintai dan mencintainya akan membuat hidupnya bahagia, namun ternyata harapan itu jauh dari kenyataan yang ia alami sekarang.
Doni yang dulu saat masa pacaran begitu memanjakan, menyayangi dan menghujaninya dengan cinta ... kini sering membentak dan mengabaikannya.
Begitu pun mertua dan adik iparnya. Awal menikah, mereka berdua bersikap sangat baik pada Kyara, tapi makin ke sini ... kebaikan itu seolah menghilang tergerus waktu.
Yang ada, hanya teriakan, bentakan, omelan dan perintah-perintah yang tiada habisnya, seolah dirinya bukan seorang menantu, tapi seorang pembantu.
"KYARAAA!" Satu teriakan menggelegar itu sontak membuyarkan kecamuk batin Kyara. Wanita berdaster cokelat muda itu buru-buru keluar dari kamarnya.
"Iya, Ma!" Turun terburu-buru dia dari lantai dua.
"Kamu ngapain sih di kamar mulu?! Tuh cucian belum dikeringin," sembur Hesti sambil menunjuk-nunjuk wajah Kyara dengan jemarinya yang gendut-gendut.
"Aku habis BAB, Ma. Perutku agak mul-"
"Alah! Udah! Nggak usah banyak alasan!" potong Hesti dengan mata melotot. "Sana ke belakang! Selesaikan pekerjaanmu, sekalian beresin tuh meja makan. Mama mau mandi dulu. Mau ke rumah makan. Kamu juga, setelah pekerjaan rumah selesai, segera susul Mama ke sana. Jangan males-malesan, ngerti?!"
Setelah menarik napas panjang, Kyara menganggukkan kepala. "Iya, Ma." Dia bergegas ke dapur, "Hm, Mas Doni pergi tanpa berpamitan lagi ke aku ..." lirihnya sambil memandangi kursi tempat suaminya biasa duduk.
Kyara mulai membereskan meja makan yang setiap pagi selalu berantakan. Nasi goreng yang tadi ia masak tak bersisa sebiji pun. Selalu seperti itu, jika dia tak pintar-pintar sarapan terlebih dahulu sebelum suami dan keluarganya bangun, Kyara pasti akan kelaparan karena tak pernah kebagian.
Setelah selesai membereskan meja makan dan mencuci perabotan, Kyara melangkah ke belakang untuk mengeringkan pakaian.
Itulah rutinitas pagi yang sudah ia jalani selama sepuluh tahun ini, berbakti pada suami dan keluarganya. Lebih tepatnya kerja rodi, bukan berbakti.
"Ya ampun ..." Kyara mendesah berat ketika melihat di keranjang cucian yang tadi pagi sudah kosong, kini ada lagi cucian kotor. "Kenapa pekerjaanku tidak selesai-selesai," kesahnya dengan rasa lelah yang menggerayangi jiwa dan raga. Kyara ingin mengeluh, tapi pada siapa. Ibunya sudah tiada, sedangkan ayahnya ... sudah menikah lagi dan hidup bahagia bersama keluarga barunya.
Suami yang seharusnya mendengarkan keluh kesahnya dan menjadi sandaran hidupnya, malah dia lah yang membuat hidup Kyara penuh dengan rasa lelah dan derita.
Dengan gerakan pelan, Kyara berjongkok untuk mengambil cucian baru itu, namun belum sempat tangannya menggapai ... lengkingan mertuanya kembali menusuk telinga.
"KYARAAA! DI MANA KAMU?! CEPETAN KE SINI!"
"Astagfirullah!" Kyara sontak bangkit dan berlari untuk menghampiri ibu mertuanya. "Ada apa, Ma?"
"Pergi ke tempat Si Tati sekarang juga! Ambilin gamis Mama yang kemarin kamu anterin ke sana. Bilang ke Si Tati, suruh dia memotong gamis punya Mama duluan. Gamis itu mau Mama pakai nanti siang ke pesta pernikahannya anak Pak Lurah."
"Tapi aku mau jemur baj-"
"Pergi sekarang, Kyara!" Dengan suaranya yang melengking, Hesti menghardik menantunya. Memotong ucapan Kyara sampai tak terlengkapi. "Cepetan ih!" tambahnya sambil memelototkan mata.
"Iya, Ma. Aku ke atas dulu, mau ambil sweater." Kyara bersiap berbalik, tapi Hesti melarangnya.
"Aduh! Nggak usah dandan-dandan. Gitu aja, cepetan! Lagian kalau pun dandan ... wajah kamu tetep kayak gitu. Tua, kayak ibu-ibu!" cemooh Hesti mendelikkan mata.
Kyara mengeleng pelan, sebelum akhirnya melangkah menuju pintu depan dan keluar dari rumah bertingkat tiga itu.
Kyara menutupi kedua dadanya yang besar dengan sebelah tangan. Daster yang dipakainya terasa terlalu tipis jika dikenakan keluar rumah. Dia jadi tidak percaya diri dan malu kalau berpapasan dengan orang.
Di tengah ketakutan itu, malah ada yang menegurnya, membuat Kyara terlonjak dan nyaris bertabrakan dengan orang yang menyapanya tersebut.
"Teh Kya mau ke mana?"
"Astagfirullah ..." Kyara mendongak, menatap wajah keriput namun tetap terlihat cantik, menurutnya. "Eh ... Oma Amisha, saya mau ke rumahnya Ceu Tati. Mau ngambil baju Mama mertua saya," jawab Kyara sambil membungkukkan sedikit tubuhnya.
"Ooh ... iya." Wanita berkerudung biru tua itu mengangguk.
"Oma sendiri mau ke mana?" Kyara melemparkan tanya balik pada tetangganya itu.
"Mau ke warung Bu Lalah. Mau ngambil pesenan ikan gurame sama udang. Cucu saya nanti siang mau ke sini," katanya memberitahu.
"Cucunya yang tinggal di Jakarta itu ya, Oma?" Oma Amisha menjawab pertanyaan Kyara dengan anggukkan. "Ya sudah Oma, kalau begitu saya duluan. Permis-"
"Tunggu Teh Kya!" Otomatis perkataan Kyara terpotong oleh ucapan Oma Amisha.
"Ada apa, Oma?"
Oma Amisha melepaskan kardigan rajut yang dipakainya. "Pakai ini, Teh. Bagian belakang daster kamu sobek," ucapnya seraya menyodorkan kardigan itu kepada Kyara.
"Hah? Sobek?" Kyara langsung menoleh ke belakang ... dan benar saja, bagian pinggang daster yang melekat di tubuhnya terbuka cukup lebar, sehingga bagian pinggangnya terlihat.
"Nih pakai saja," ulang wanita bergamis biru tua itu.
Kyara mengambilnya dengan ragu-ragu serta malu-malu. "T-Terima kasih, Oma. Nanti setelah saya cuci, saya akan mengembalikan kardigannya."
"Iya." Oma Amisha mengangguk.
Setelah memasangkan kardigan itu di tubuhnya, Kyara melanjutkan langkahnya ke rumah penjahit langganan mertuanya.
Untung saja, baju mertuanya sudah selesai. Jadi dia tak perlu menunggu. Kyara berlari pontang-panting kembali ke rumah. Takut diomeli lagi oleh mertuanya.
"Mana siniin bajunya!" Baru juga Kyara membuka pintu, sang mertua sudah menengadahkan tangannya.
"Ini, Ma. Untung bajunya udah selesai. Jadi nggak perlu nunggu lama," kata Kyara sambil memberikan baju tersebut.
"Eh ... itu kardigan siapa yang kamu pakai?" tanya Hesti dengan mata menyipit.
Kyara meremas bagian depan kardigan itu, tersenyum kikuk. "Kardigan ini punya Oma Amisha, Ma. Tadi aku ketemu dia di depan rumahnya. Dia lihat daster bagian belakangku robek, jadi dia meminjamkan kardigannya untuk aku pakai."
"Oh ... si Oma juragan kosan itu ya?"
Kyara mengangguk.
"Jangan lupa dibalikin. Malu-maluin aja. Daster udah jelek kok masih dipake! Kayak nggak dikasih nafkah aja sama suami," celetuk Hesti sambil berlalu.
"Emang enggak. Uang gaji Mas Doni kan hampir setiap bulan selalu dipinjam sama Mama dan Dini. Aku cuma kebagian struk gajinya doang ..." ucap Kyara tanpa suara. Tadinya ia ingin mengatakan perkataan itu dengan lantang, tapi mertuanya keburu masuk kamar.
Kyara kembali ke belakang untuk melanjutkan pekerjaannya. Ia berjongkok lagi, mengambil baju kotor yang tadi tertinggal. Lebih tepatnya baru dimasukkan ke keranjang. Dua celana jeans milik Dini dan satu jaket milik suaminya.
Seperti biasa, sebelum dimasukkan ke mesin cuci ... Kyara merogoh semua saku di dua celana jeans. Lalu beralih merogoh satu per satu saku di jaket milik suaminya. Ketika merogoh saku bagian kanan, Kyara menemukan selembar kertas.
Dia membuka kertas yang sudah dilipat-lipat itu, dan matanya langsung terbelalak. "Ini 'kan?"
"Tiga pcs celana dalam wanita, tiga pcs bra dan ..." Dada Kyara langsung sesak saat membaca kalimat terakhir. "S-Satu pcs lingerie merah." Ia menatap struk itu dengan mata berkaca-kaca. "Mas ..." Suaranya tercekat. "Ini belanjaan siapa? Apakah kamu membelinya untukku?" Pertanyaan itu menguar begitu saja di udara. Tak ada jawaban yang diterima Kyara.
Wanita berdaster cokelat muda itu menggigit bibir bawahnya. Dadanya makin sesak. Dari ujung jari sampai ke pergelangan tangan tiba-tiba bergetar.
"Jika Mas Doni membelinya untukku, lantas ... kenapa dia tidak memberikannya kepadaku?" Kyara meremas struk itu.
"Kya!" Teriakan mertuanya terdengar lagi. Kyara buru-buru memasukkan struk itu ke saku dasternya.
"Iya, Ma," sahutnya sambil menoleh pada Hesti yang sudah berpakaian rapi. Memakai one set abu-abu dan kerudung kekinian yang sengaja tak menutup telinga, sehingga anting besarnya terlihat jelas.
"Nanti kalau pekerjaanmu sudah selesai ... segera susul Mama ke rumah makan," ulangnya untuk kedua kali. "Jangan lupa kunci pintu, dan juga gerbang. Awas kalau kamu teledor!" Ia mengacungkan telunjuknya. "Mama nggak akan kasih kamu uang jajan," lanjutnya sambil mengibaskan kerudungnya kemudian berlalu dari hadapan Kyara.
"Uang jajan sepuluh ribu sehari saja, masih diancam tak akan diberikan," gumam Kyara sambil geleng-geleng kepala.
Pikirannya kembali melayang pada struk di saku dasternya, namun ia memilih untuk tak ambil pusing sekarang. "Mending aku beresin dulu deh pekerjaan ini. Biar nanti aku tanyain ke Mas Doni ... ini struk belanjaan siapa. Mungkin saja punya Dini," pungkasnya tak mau berburuk sangka, meski hatinya merasa curiga.
______
"Pak Doni ... bentar lagi bonus cair nih. Makan-makan yuk!" ajak salah satu rekan kerja Doni setengah bercanda.
"Hehe ... iya Pak Indra, alhamdulillah. Berkat doa Ibu, setiap bulan saya dapat bonus." Doni membalas dengan bangga. "Tapi maaf nih, lain kali saja ya makan-makannya. Soalnya saya sudah ada janji mau ngajak Ibu dan adik saya makan-makan di restoran ternama," lanjutnya menolak ajakan Indra.
"Ohh ... begitu ya, Pak. Tidak apa-apa. Merayakan bersama keluarga adalah hal utama. Lebih berkah."
Doni mengangguk.
"Kok makan-makannya cuma sama ibu dan adik, emang istrinya nggak akan diajak?" celetuk Ike, wanita berkerudung sage.
Doni tersenyum canggung. "Ah, istri saya terlalu sibuk dengan urusannya. Dia terlalu cuek. Lagian, buat apa saya ajak dia ... toh yang selama ini menyiapkan semua kebutuhan saya tuh ya, ibu saya. Dia mah bisanya cuma minta duit, ngabisin duit, dan selebihnya ongkang-ongkang kaki saja." Sungguh pandai Doni bersilat lidah, padahal kenyataannya adalah sebaliknya.
"Wah ... masa sih, Pak Don?" pekik Indra kurang percaya.
"Beneran Pak Indra. Saya sebenarnya sudah muak sama kelakuan dia, pengennya sih berpisah. Tapi ibu saya ... dia terus melarang saya. Katanya ... 'jangan gegabah untuk bercerai. Suatu hari nanti, Kyara pasti berubah' jadi ya, saya terpaksa bertahan. Meski jiwa dan raga saya tersiksa." Bibir Doni kembali melontarkan dusta.
"Wah, Pak Don sungguh hebat. Jarang-jarang loh ada suami sesabar dan sebijaksana Pak Don. Kalau saya jadi Pak Doni, sudah saya tendang tuh istri modelan begitu. Kalau perlu, talak tiga sekalian." Indra sampai menggebrak meja saking kesalnya.
Sementara Ike menyipitkan mata. Ada sorot keraguan dan ketidakpercayaan di matanya.
"Atau Pak Doni berat karena terikat oleh anak?" lanjut Indra bertanya.
Doni menggeleng cepat. "Tidak, Pak. Saya belum punya anak."
"Wahh ... kalau gitu mah buat apa dipertahankan, Pak. Ceraikan saja dia, dan cari wanita lain yang jauh lebih baik." Ucapan provokasi terlontar dari bibir hitam Indra. "Pak Doni kan tampan dan mapan, pasti banyak perempuan di luar sana yang mau jadi istri Pak Doni. Daun muda juga kayaknya ngantri."
Doni tertawa bangga. Ia seperti terbang ke atas awan mendengar pujian-pujian dari rekan kerjanya itu. "Ah, Pak Indra bisa saja." Ia pura-pura merendah, padahal hatinya bersorak mengakui. "Aku memang tampan. Aku memang mapan. Dan aku juga memang sudah jadi rebutan."
______
Rumah makan "Suka Rasa" sudah ramai bahkan sebelum jam makan siang tiba. Aroma gulai dan ayam goreng memenuhi udara. Piring-piring beradu, sendok berdenting, dan suara pelanggan saling bersahutan memesan menu.
Di tengah hiruk pikuk itu, berdiri sosok wanita berusia hampir tiga puluh lima tahun dengan wajah pucat namun tetap teduh.
"Kyara!" Suara nyaring itu membelah ruangan.
Semua pegawai langsung tahu siapa pemilik suara tersebut. Hesti, sang pemilik rumah makan, berjalan cepat dengan wajah tegang. Tangannya terlipat di dada, sorot matanya tajam mengawasi setiap gerakan menantunya. "Kenapa meja tiga belum dibersihkan? Pelanggannya sudah berdiri dari tadi!" hardiknya.
Kyara yang baru saja membawa nampan berisi tiga mangkuk soto langsung berbalik arah. "Iya, Ma. Aku bersihkan sekarang."
"Sekarang? Harusnya dari tadi! Kamu itu harus gesit! Jangan berleha-leha kayak gini!" suara Hesti semakin keras hingga beberapa pelanggan menoleh.
Kyara menunduk, menahan napasnya agar tetap stabil. "Baik, Ma." Kali ini, fokusnya terbagi. Pada pekerjaan dan juga struk belanjaan yang tadi ia temukan di saku jaket suaminya.
Belum sempat Kyara menyelesaikan satu tugas, suara itu kembali datang. "Air minum di meja tujuh kurang! Kamu nggak lihat? Mata kamu itu dipakai! Jangan cuma dijadikan pajangan!"
"Iya, Ma."
"Dan tolong senyum! Wajahmu itu seperti orang dipaksa kerja. Pelanggan jadi nggak nyaman!"
Kyara menarik sudut bibirnya pelan. Senyum yang dipaksakan, seperti biasa.
Para pegawai lain ... Dewi, Roy, dan Susi saling melirik. Tatapan mereka penuh iba. Sudah sepuluh tahun pemandangan seperti ini terjadi hampir setiap hari.
Sepuluh tahun sejak Kyara menikah dengan Doni dan masuk ke keluarga itu, lalu perlahan dijadikan pekerja tanpa henti di rumah makan milik mertuanya.
Dewi berbisik pelan pada Roy saat mereka menyusun piring di dapur. "Kasihan Mbak Kyara. Dari dulu Bu Hesti nggak pernah berubah ya."
Roy hanya menghela napas. "Sepuluh tahun loh. Nggak kebayang kalau aku di posisi dia."
Sementara itu di luar, Hesti masih berdiri mengawasi. "Kyara, cepat antar pesanan itu ke meja lima! Jangan lelet begitu! Kalau kamu malas-malasan, Mama akan laporkan kamu ke Doni!" ancamnya.
"Aku tidak malas-malasan, Ma. Hanya sedikit lelah," jawab Kyara pelan, hampir tak terdengar.
"Apa?" Hesti mendekat. "Ngomong yang jelas! Jangan cuma komat-kamit!"
"Aku tidak malas-malasan, Ma," ulang Kyara lebih jelas, tapi tetap dengan kepala tertunduk.
Hesti mendengus. "Kalau tidak malas, buktikan! Kerja itu pakai hati. Jangan setengah-setengah."
Kyara mengangguk lagi. Tangannya mulai gemetar saat menuangkan teh ke dalam gelas. Keringat di pelipisnya menetes, bukan hanya karena panas dapur, tapi karena tekanan yang tak pernah berhenti. Namun ia tetap bergerak cepat, berpindah dari satu meja ke meja lain, membersihkan sisa makanan, mencatat pesanan, mengangkat piring kotor, kembali ke dapur, lalu keluar lagi. Tak ada jeda.
Seorang pelanggan paruh baya memperhatikan adegan itu dengan alis berkerut. Ia berbisik pada istrinya, "Kasihan sekali pegawai itu dimarahi terus. Padahal dia rajin sekali."
Susi yang mendengar hanya bisa tersenyum kaku. "Pegawai?" batinnya. "Andai saja mereka tahu bahwa Mbak Kyara bukan hanya pegawai. Ia menantu yang tak pernah benar-benar dianggap keluarga oleh Bu Hesti," lanjut Susi masih dalam hati.
Di sudut dapur, saat akhirnya ada jeda beberapa detik, Dewi mendekat pelan. "Mbak, minum dulu sebentar," katanya lirih sambil menyodorkan segelas air.
Kyara tersenyum tipis. "Terima kasih, Wi." Belum sempat gelas itu menyentuh bibirnya, suara Hesti kembali menggelegar.
"Kyara! Kenapa diam saja di situ? Pelanggan datang lagi! Kerja itu jangan menunggu disuruh!"
Gelas itu kembali diletakkan. "Iya, Ma!" jawab Kyara cepat. Ia bergegas keluar, langkahnya ringan meski hatinya terasa berat.
Sepuluh tahun.
Sepuluh tahun ia menelan kata-kata tajam, perintah tanpa henti, dan tatapan merendahkan. Sepuluh tahun ia belajar menyimpan luka di balik senyum profesional yang dipaksakan.
Namun hari ini, setelah melihat struk tadi, entah kenapa, ada sesuatu yang terasa berbeda di dalam dadanya. "Aku tidak boleh terlalu lemah. Mungkin sesekali aku harus melawan."
Akhirnya, setelah tak henti dibentak dan disuruh ini itu oleh mertuanya, Kyara bisa sedikit bernapas lega dan melepaskan penat. Sebab sang mertua kini pergi ke acara pernikahan anak Pak Lurah.
"Mbak!" Dewi memanggil Kyara yang tengah bersandar di dinding dekat pintu dapur sembari selonjoran.
"Ada apa, Wi? Pelanggan berdatangan lagi?" Kyara bersiap bangun, tapi Dewi menahannya.
"Duduk aja, Mbak. Nggak ada pelanggan lagi kok. Masih yang tadi. Aku cuma mau ngasih ini." Dewi menyodorkan sebungkus roti pada Kyara. "Mbak dari tadi belum sempat makan siang 'kan? Mumpung Bu Hesti nggak ada, buruan makan dulu gih. Urusan pelanggan ... serahkan saja sama aku, Roy dan Susi," sambungnya.
Kyara tak lantas mengambil roti itu. Ia hanya menatapnya dengan mata yang tiba-tiba memanas, berkaca-kaca. "Makasih, Wi." Barulah ia mengambil roti itu setelah mengucapkan terima kasih. "Aku makan dulu ya, sekalian mau salat zuhur dulu."
"Iya, Mbak. Santai saja. Buruan ke musala gih." Dewi melempar senyum kecil, bertolak belakang dengan hatinya yang ingin menangis.
"Iya, Wi." Kyara beranjak dari posisinya, menepuk bokongnya, lalu berlalu keluar dari pintu belakang menuju musala.
Dewi memandangi kepergian Kyara dengan hati yang teriris. "Ya Allah ... Mbak. Malang sekali nasibmu. Dulu waktu pertama kali kamu datang ke sini, kamu tuh cantik, manis. Tapi sekarang ..." Dewi menggelengkan kepala pelan. "Ternyata menikah dengan lelaki yang kita cintai dan mencintai kita tidak menjamin rumah tangga bahagia. Huh ..." Dewi membuang napasnya kasar. "Aku bersyukur sekali menikah dengan lelaki pilihan orang tuaku." Usai lah gumaman Dewi. Wanita berambut sebahu itu kembali ke depan untuk membantu Roy dan Susi.
Kyara mengunyah roti pemberian Dewi dengan berlinang air mata. "Ya Allah ... aku sedih bukan karena dibentak oleh Mama Hesti, tapi aku menangis karena struk pembelian pakaian dalam itu. Hatiku sungguh tak tenang. Aku terus berpikir negatif pada suamiku. Apa mungkin dia punya wanita idaman lain?" Gumaman itu buyar karena dering ponsel di sebelahnya.
Kyara menoleh, matanya sedikit membeliak. "Mas Doni?" lirihnya diiringi jantung berdebar. Dengan tangan sedikit gemetar, Kyara mengangkat panggilan itu. "Assalamu'alaikum, Mas. Ada apa, tumben nelepon aku?"
Doni tak menjawab salam dari Kyara, ia langsung berkata. "Kamu lagi di rumah makan kan?"
"Iya, ada apa?"
"Mama ke mana, kok aku telepon nggak diangkat sama sekali sama dia?" Kyara kira, Doni meneleponnya untuk menanyakan dirinya, tapi ternyata hanya untuk menanyakan keberadaan mertuanya.
"Mama lagi pergi ke acara pesta pernikahannya anak Pak Lurah, Mas."
"Ohh ... pantesan."
"Memangnya ada apa?"
"Bukan urusan kamu," jawab Doni dengan nada ketus. Lalu panggilan pun diputus.
"Ya Allah ..." Kyara menurunkan ponselnya secara perlahan dari telinga. Tiba-tiba, ia jadi teringat masa lalu. Saat Doni masih sering meneleponnya setiap waktu. Menanyakan kabar, sudah makan atau belum dan masih banyak perhatian-perhatian lainnya.
Namun kini, semua itu tinggal kenangan. Tak ada lagi sikap romantis, telepon penuh rindu, pesan manis penuh cinta. Semuanya sudah hilang ditelan keangkuhan Doni yang makin merajalela.
"Sayang ... aku berjanji akan selalu ada di sisimu sampai maut memisahkan kita. Aku sangat mencintaimu."
Kyara tersenyum miris mengingat janji itu. "Katanya kamu janji akan selalu menemaniku sampai maut memisahkan, tapi kini, sebelum maut itu datang ... kamu tak pernah ada lagi di sisiku. Kamu terlalu sibuk dengan urusanmu. Dengan kesibukanmu, dengan ibu dan adikmu." Air mata yang tadi reda, kini berjatuhan lagi.
_____
"Masya Allah ... Bu Hesti. Itu cincin berlian asli ya?!" seru salah seorang ibu-ibu yang baru kembali dari mengambil hidangan prasmanan.
Hesti tersenyum sembari sengaja memamerkan cincin bermata berlian yang melingkar di jari tengahnya yang gemuk-gemuk. "Asli atuh. Masa palsu? Nggak level saya pakai barang imitasi, Bu Leha," celetuknya menyombongkan diri.
"Wahh ... coba saya pegang," pinta Bu Leha, namun Hesti segera menyembunyikan tangannya.
"Jangan. Nanti kadar berliannya berkurang. Ini hadiah ulang tahun dari Doni." Delikan mata ia berikan pada Bu Leha.
"Wah ... si Doni banyak uang juga ya, sampai bisa beliin cincin berlian buat Bu Hesti," ujar ibu berkerudung merah marun. "Memangnya jabatan dia di kantor itu apa ya, Bu?"
Dengan nada bangga, Hesti menjawab pertanyaan itu. "Ya bisalah. Jabatan dia di kantor tuh nggak kaleng-kaleng. Dia itu manajer keuangan. Gajinya juga di atas tiga puluh juta. Belum lagi ada bonus setiap bulannya. Banyak uang kan anakku."
"Masya Allah ... hebat!" Semua ibu-ibu yang mendengarkan celotehan Hesti berucap takjub.
"Kalau gaji si Doni sebesar itu ... kenapa istrinya masih suka pakai daster robek?" celetukan itu membuat Hesti menoleh ke arah suara, begitu pun ibu-ibu yang lainnya.
"Sok tahu sekali kamu, Erna!" bentak Hesti dengan ekspresi tak suka.
"Aku tidak sok tahu, Bu. Tapi aku sering melihat Kyara pake daster yang sudah robek kalau belanja ke warung Bu Lalah," sahut Erna lantang.
Hesti menelan ludah berkali-kali. Perkataan Erna bak sindiran keras baginya. Pandangannya berlarian ke sana kemari, menghindari tatapan ibu-ibu dan juga Erna sendiri. "Ah ... itu ... itu mah emang si Kyara-nya saja yang malas dandan," tepisnya. "Hampir setiap hari dia belanja baju, baik dari offline maupun online. Tapi ya gitu, dia itu jorok sekali. Padahal saya selalu mengingatkan dia, kalau mau keluar rumah tuh pakai baju yang sopan, jangan cuma dasteran saja. Tapi dianya keras kepala sekali. Susah dibilangin." Lidahnya tak kaku bersilat lidah. Daripada kebusukannya terbongkar, Hesti lebih memilih terus mengucapkan dusta.
"Oalah ... saya nggak nyangka loh kalau si Kyara itu jorok sekali," tanggap Bu Leha. "Padahal kalau dandan ... wajahnya pasti jadi bercahaya. Nggak kelihatan tua kayak sekarang ini."
Hesti mengulum senyum, batinnya bersorak gembira. "Yess! Semua orang percaya padaku. Biarlah nama baik si Kyara jelek di mata semua orang. Yang penting ... aku selamat."
"Kasihan anakmu loh, Ti. Masa manajer keuangan istrinya kayak tukang rongsokan," timpal ibu yang lain.
"Iya, ih. Minimal pakai baju yang modis gitu. Masa daster sobek masih dipakai aja. Nggak banget deh."
Di tempatnya, Erna hanya bisa geleng-geleng kepala. Niat wanita tiga puluh tiga tahun itu ... tadinya mau membongkar kebusukan Hesti dan kedua anaknya yang selama ini menzalimi Kyara, tapi ternyata ... wanita paruh baya itu sangat pandai bersilat lidah. Sampai para ibu-ibu pun termakan omong kosongnya. "Duh, Kya ... apes banget sih nasib kamu. Udah mah dizalimi, disuruh kerja bagai kuda, eh ... masih aja dijelek-jelekin sama mertuamu di hadapan semua orang. Miris, Kya. Seharusnya kamu nggak nikah sama lelaki nggak punya hati kayak si Doni."
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!