Indonesia
NovelToon NovelToon

Pergi Dengan 1 Milyar

BAB 1

Sepasang anak manusia, terlihat begitu menikmati pergulatan mereka di atas ranjang. Suara de sahan menjadi irama merdu yang meningkatkan ghairah. Keringat membasahi tubuh, dan nafas yang terdengar memburu.

Meski tak bisa melihat, Naka yakin wanita yang ada di atasnya sedang sangat menikmati permainan mereka. Malam ini, ia merasa jika Zea tak seperti biasanya. Wanitanya itu bergerak sangat liar, sangat agresif, hingga ia merasa baru mengetahui sisi lain Zea yang biasanya pemalu dan lemah lembut.

Bibir keduanya terus meracau akibat rasa nik mat yang mendera. Yang ada difikiran saat ini hanya bagaimana caranya mereguk kenikmatann setinggi mungkin, hingga akhirnya keduanya sama-sama mencapai titik tertinggi dari kepuassan.

Zea ambruk di atas tubuh sang kekasih. Ia merasa sangat lemas, hingga hanya untuk berguling kesamping Naka saja, rasanya tidak mampu.

Perlahan, tangan Naka mengusap lembut punggung polos Zea. Ia tak pernah tahu seperti apa wajah Zea, karena wanita itu bekerja menjadi perawatnya sejak ia buta karena kecelakaan 2 tahun lalu. Namun, meski tak tahu seperti apa wajahnya, ia yakin Zeanya sangat cantik. Tak hanya suaranya yang lembut, tubuh Zea juga menebarkan aroma harum yang ia sukai. Kulitnya mulus dan lembut seperti bayi, dan rambut panjangnya terasa halus saat disentuh.

Setelah merasa tenaganya sedikit pulih, Zea mengecup bibir Naka, menggulingkan tubuh ke sebelahnya, lalu memeluknya.

"Kamu menikmatinya?" tanya Naka. Sebelah tangannya menyentuh kepala Zea, lalu berusaha mengecupnya.

"Sangat."

Jawaban Zea membuat senyum Naka merekah. "Aku ingin segera bisa melihat, Ze. Aku tak sabar ingin melihat wajahmu." Sebelah tangannya menyusuri wajah Zea. Hidung mancung, pipi yang lembut, dan bibirnya yang kenyal serta lembab, menjadi bagian yang selalu ingin ia sentuh.

"Aku justru sebaliknya." Zea memejamkan mata, jemarinya bergerak menyusuri dada Naka yang basah oleh keringat. "Aku takut saat itu tiba, Naka. Aku takut, ekspektasimu terhadapku terlalu tinggi. Aku hanya gadis desa biasa, tidak cantik seperti gadis-gadis kota pada umumnya."

"Justru itulah kecantikan alami, Ze. Kecantikan anugerah dari Tuhan, bukan cantik karena polesan apalagi oplas."

"Aku ngantuk," Zea sedikit menggeser tubuhnya menjauhi Naka.

Terdengar helaan nafas panjang Naka. "Aku masih ingin pillow talk, Sayang," rengeknya. Sebelah tangan Naka berusaha menarik tubuh Zea merapat ke arahnya.

"Bicaralah kalau bagitu," Zea mengusap wajah Naka, menatap sambil tersenyum. Selalu seperti ini, Naka akan berusaha menghalanginya meninggalkan kamar.

"Aku ingin bicara sampai pagi, Ze."

Zea tertawa cekikikan. "Baiklah, bicaralah sampai pagi kalau seperti itu."

"Bicara sendiri maksud kamu?" Naka mendengus kesal. "Aku tahu, saat kamu bilang ngantuk, kamu akan segera kembali ke kamarmu. Iya kan?"

"Aku tidur disini malam ini."

Kening Naka mengkerut, tak percaya. "Kau yakin?"

"Hem," Zea mengangguk meski tahu sang kekasih tak bisa melihat itu.

Seketika, senyum Naka mengembang. Selama ini, Zea tak pernah mau tidur di kamarnya karena takut menjadi bahan gosip yang lainnya. Hubungan mereka sejatinya adalah tuan dan perawat, apa kata pekerja lain jika Zea tidur di kamarnya. Di rumah ini, Zea tak tidur sendirian, dia sekamar dengan Dinda, ART yang tugasnya bersih-bersih. Kalau Zea tidak kembali ke kamar, apa kata Dinda nantinya.

"Boleh gak, aku tidur disini malam ini?" Zea sengaja menggoda, mencubit pelan pinggang Naka.

Seketika Naka terkekeh, "Tentu saja boleh, aku malah senang. Ini impianku, bisa memelukmu sepanjang malam." Ia mengeratkan pelukannya, membenamkan wajah di ceruk leher Zea, menikmati aroma tubuh sang kekasih yang menjadi candunya.

"Hanya memeluk sepanjang malam?" goda Zea.

"Hahaha, aku tidak bisa janji."

Zea terkekeh sambil memukul pelan bahu Naka. Dan malam itu, keduanya berulang kali bercinta hingga dini hari.

Saat bangun dari tidurnya, Naka tak mendapati Zea ada di sebelahnya. Tangannya terus meraba-raba sebelah. "Ze, kamu dimana Ze? Ze!" panggilnya setelah yakin Zea tak ada di sisinya. "Ze, kamu di kamar mandi?" teriaknya, namun tak ada sahutan. "Ze!"

Naka bangun, meraba-raba ke arah nakas, mengambil ponselnya yang ada disana. Meski tak bisa melihat, ia bisa mengoperasikan ponsel yang sudah diatur untuk pengguna tuna netra. "Pasti kembali ke kamarnya," gerutunya. Mencoba menghubungi Zea, namun nomornya tidak aktif. Dari ponselnya, ia bisa tahu jika sekarang sudah jam 11 siang, rasanya mustahil Zea masih tidur.

Biasanya Zea selalu membangunkannya jam 7 pagi, membantunya bersih-bersih, sarapan, lalu ke kantor. Meski kondisinya tak bisa melihat, Naka masih ke kantor meski tidak setiap hari. Dia menduduki jabatan sebagai wakil direktur di perusahaan milik ayahnya.

Tok tok tok

Ketukan di pintu membuat Naka seketika tersenyum. Ia yakin itu Zea yang datang. "Ze, panggilnya begitu mendengar suara pintu dibuka."

"Selamat pagi, Tuan."

"Siapa kamu?" Naka mengernyit. Ia tahu itu bukan Zea, ia hafal suaranya. Mendengar suara derap langkah mendekat, ia meraih tongkat yang ada di dekat ranjang. "Siapa kamu?" ulangnya lagi.

"Saya Erika Tuan, perawat baru anda."

"Apa! Perawat baru?" Naka takut salah dengar.

"Benar, Tuan. Mulai hari ini, saya yang menjadi perawat anda, menggantikan Suster Zea."

"Tungu, tunggu!" Naka masih bingung. "Menggantikan Ze, apa maksudnya?"

"Suster Zea...sudah berhenti bekerja."

"Hah!" Mulut Naka terbuka lebar, syok. Ia lalu menggeleng cepat, tak percaya. Kemarin, semua baik-baik saja, bahkan semalaman mereka bercinta, mustahil Zea tiba-tiba berhenti. "Tidak mungkin."

Erika mendekat ke arah Naka. "Tuan ingin langsung sarapan atau mandi dulu?"

Naka menepis kasar tangan Erika yang menyentuh bahunya. "Jangan sentuh aku!" bentaknya. "Aku hanya mau diurus oleh Ze."

"Zea sudah tidak bekerja disini lagi," ujar Veri__ayah Naka yang tiba-tiba masuk. Laki-laki berperawakan tinggi besar dengan suara menggelegar itu, langsung mengambil alih percakapan. "Zea sudah tidak ada disini, dia sudah pergi."

"Apa maksud Papa?" Naka semakin bingung, ia menatap ke arah sumber suara. Zea tak mungkin pergi meninggalkannya, apalagi tanpa pamit seperti ini. "Papa memecat Ze?" ia mulai gelisah, takut terjadi sesuatu pada Zea sementara ia tak tahu apa-apa.

"Papa hanya menawarkan sesuatu, dan dia memilihnya."

"Menawarkan apa?" kening Naka mengkerut.

Veri berjalan mendekati Naka, berhenti beberapa meter di depan putranya tersebut. "Papa sudah tahu hubungan kalian."

Deg

Ekspresi wajah Naka langsung berubah gelisah. Selama ini, hubungannya dengan Zea memang ia sembunyikan rapat-rapat, terutama dari Papanya.

"Wanita itu hanya mengincar harta kamu, Naka. Dia memanfaatkan kondisimu yang tidak bisa melihat untuk mengambil hatimu. Membuatmu merasakan seolah-olah dia adalah satu-satunya wanita yang mau menerima kondisimu saat ini. Dia bermulut manis, pandai merayu dan mengambil hatimu. Dia buat kamu ketergantungan padanya agar kamu tidak bisa kehilangannya. Dia memanfaatkan kondisimu untuk bisa mendekatimu, tujuannya cuma satu, uang. Wanita miskin itu ingin kaya mendadak dengan cara instan," ujarnya penuh penekanan.

"Enggak!" Naka menggeleng cepat. "Ze bukan wanita seperti itu. Ze wanita yang tulus."

Tawa Veri langsung menggelegar, "Dia hanya menipumu, Naka. Dia hanya memanfaatkan kondisimu. Dia tidak tulus, dia hanya mengincar harta."

BAB 2

Veri berjalan ke arah sofa, menjatuhkan bobot tubuhnya dibatas sofa coklat yang begitu empuk. Ia merogoh saku jas, mengambil ponsel lalu mencari sesuatu. Dengan seringai tipis, memutar rekaman percakapannya dengan Zea beberapa hari yang lalu. "Coba dengarkan ini," meletakkan ponsel ke atas meja.

"1 milyar, aku rasa ini sudah lebih dari cukup untuk membuatmu meninggalkan putraku."

Naka mengernyit mendengar suara ayahnya. Dengan hati gelisah, berusaha menajamkan pendengaran. Ia tak menyangka, jika Ayahnya telah melakukan hal sejauh ini demi memisahkan ia dan Zea.

"Aku tahu wanita sepertimu hanya menginginkan harta. Kesempatan tidak datang dua kali, kapan lagi kamu mendapatkan 1 milyar tanpa melakukan apapun. Kamu tak sepadan dengan Kanaka, kalian tak setara."

Naka meremat sprei, dadanya berkecamuk mendengar Ayahnya begitu gamblang mengatakan soal kesenjangan mereka. Ia bisa membayangkan seperti apa perasaan Zea saat mendengarnya.

"Jangan terlalu tinggi bermimpi. Hanya ada di dunia dongeng seorang pria kaya mau dengan pembantu. Saat Kanaka bisa melihat nanti, kamu bukan lagi seleranya."

Telapak tangan Naka terkepal kuat, marah pada pernyataan Ayahnya yang jelas-jelas tidak benar. Cintanya tulus pada Zea, meski ia tak pernah melihat seperti apa wajahnya. Ia sudah terbiasa dikelilingi wanita cantik, namun menurutnya, hanya Zea lah yang benar-benar tulus. Ketulusan Zea yang membuat ia jatuh cinta. Ia yakin, Zea tak mungkin mau menerima uang itu. Ia sangat mengenal Zea, mustahil kekasihnya itu tergoda hanya dengan 1 milyar.

"Kesempatan tidak datang dua kali, bagaimana Zea? Pergi dengan 1 milyar, atau memilih tetap bertahan dengan catatan, saya tidak akan pernah merestui hubungan kalian?"

Waktu serasa berjalan lambat, tak kunjung terdengar suara Zea. Jantung Naka berdetak sangat cepat, antara tak sabar sekaligus takut mendengar jawaban Zea.

"Baiklah Tuan, saya terima uang itu."

Jeder!!

Naka syok, tak ada angin tak ada hujan, tapi ia seperti disambar petir. Dunianya seakan runtuh. Wanita yang ia kira tulus, ternyata lebih memilih uang 1 milyar dari pada memperjuangkan cinta mereka. Tubuhnya membeku, dadanya sesak. Tak ada yang keluar dari bibirnya, selain hanya gumaman 'tidak' yang sama sekali tak terdengar.

"Pilihan yang tepat Zea. Kamu memang wanita yang realistis," ujar Very sembari tertawa renyah.

Very tersenyum puas, mematikan rekaman, lalu menyimpan kembali ponsel ke dalam saku jasnya. "Kamu sudah dengar sendirikan, apa pilihan Zea?" menatap Naka dengan seringai tipisnya. "Dia tidak pernah mencintaimu Naka, dia hanya menginginkan uang. Andai saja kau melihat seperti apa ekspresinya kala itu, kau akan sangat membencinya. Dia begitu bahagia saat menerima uang tersebut. Ekspresinya sudah menjelaskan, jika ia telah berhasil mendapatkan tujuannya, yaitu uang."

Telapak tangan Naka makin mengepal kuat, nafasnya memburu, dan wajahnya merah padam. Ia sangat kecewa dengan pilihan Zea.

Very bangkit dari duduknya, merapikan jas karena harus kembali ke kantor. "Sudah cukup main-mainnya Naka, lanjutkan hidup dengan lebih serius. Ayah sudah mendapatkan donor mata, bersiap-siaplah untuk menjalani operasi dalam waktu dekat. Perusahaan menunggumu. Ayah sudah lelah, sudah ingin pensiun," beranjak pergi, meninggalkan kamar Naka.

Dengan dada bergemuruh hebat, Naka bangkit dari duduknya. Berjalan tak tentu arah, meraih apapun yang bisa diraih, lalu melemparkannya membabi buta.

Pyar, prang, bruk

Naka mengamuk, menghancurkan isi kamarnya.

Erika yang ada di sana sampai beberapa kali berteriak karena hampir terkena lemparan benda.

Tak peduli tubuhnya sakit karena menabrak meja, sofa, bahkan almari, Naka terus saja mengamuk, menghancurkan isi kamarnya yang memiliki banyak sekali kenangan bersama Zea selama 2 tahun ini.

Suster Erika yang ketakutan, akhirnya memilih kabur, keluar daripada kena lemparan barang.

"Arrgghhh!" Naka berteriak kencang, mengacak-acak ranjang, membuang bantal guling, menarik bed cover, sprei, dan apapun yang ada di sana.

Setelah lelah, ia menangis, tubuhnya ambruk ke atas ranjang, meringkuk sambil sesenggukan. Aroma tubuh Zea masih tercium sangat jelas disana. Bagaimana mungkin wanita yang semalam masih bercinta dengannya, pagi ini tiba-tiba telah meninggalkannya demi 1 milyar. Sampai detik ini, ia bahkan masih ingat bagaimana suara de sahan Zea semalam, juga bagaimana wanita itu menyebut namanya saat puncaknya datang.

"Ini pasti hanya mimpi," racau Naka. "Aku hanya perlu bangun. Iya, aku hanya perlu bangun," ia mencubit lengannya sendiri dengan sangat kuat, hingga rasanya sakitnya menjalar ke seluruh bagian lengan. "Hahaha," ia tertawa di sela-sela tangis. Ini bukan mimpi, ia tidak sedang tidur saat ini. Semalam, ia tidur sambil memeluk Zea, dan saat terbangun, ternyata wanita itu sudah pergi dengan 1 milyar. Wanita itu meninggalkannya. Ia telah kalah, kalau dengan uang 1 milyar.

Sekarang akhirnya ia tahu, kenapa Zea mau menginap di kamarnya semalam, kenapa Zea begitu agresif, itu semua karena semalam, adalah yang terakhir kalinya, semalam, adalah malam perpisahan.

...----------------...

"Tuan Naka tak mau makan, ia melempar makanan yang saya bawa," ujar Erika pada Very yang ada di meja makan, menikmati makan malamnya. Seharian ini, Naka belum makan sama sekali.

"Biarkan saja. Manusia punya insting untuk hidup, saat dipuncak kelaparan, dia pasti akan makan dengan sendirinya." Very hanya menanggapi dengan santai sambil menyendok makanannya ke dalam mulut. Ia sudah meminta Arka, orang kepercayaannya untuk memasang kamera di kamar Naka, jadi ia bisa memantau apa yang dilakukan putranya itu. Selama tidak melakukan hal yang berbahaya, ia biarkan saja Naka berbuat apapun. Ia yakin, semua ini tak akan lama, luka Naka akan disembuhkan oleh waktu. "Nanti saat ia sudah bisa kembali melihat dan bertemu dengan banyak sekali wanita cantik, ia pasti akan langsung lupa pada Zea," menyeringai tipis. "Bersihkan saja kamarnya, jangan ada pecahan beling berserakan."

"Em... tangan Tuan Naka terluka, tapi dia menolak saya obati," ujar Erika yang sedikit khawatir.

"Biarkan saja, hanya lupa kecil, ia tak akan mati karena kehabisan darah hanya karena luka itu."

BAB 3

( 8 Tahun kemudian )

Rizal memelankan laju mobil saat dirasa ada yang kurang mengena. Menepi lalu berhenti di depan sebuah ruko kosong untuk mengecek kondisi mobil yang ia curigai bermasalah dengan ban nya.

"Ada apa?" Naka yang duduk di bangku belakang, sibuk dengan laptop di pangkuan, menatap Rizal dari spion tengah.

"Sepertinya salah satu ban mobilnya ada yang kempes, saya cek dulu," izinnya lalu keluar setelah mematikan mesin mobil.

Ternyata dugaannya benar, Rizal berdecak lalu mengumpat melihat ban bagian belakang sebelah kiri kempes. Sepertinya terkena sesuatu, tapi kondisi bannya sendiri memang sudah sangat tipis, bisa dibilang tidak layak. Ia merutuki Adrian, supir kantor yang ada di pabrik Jombang, bisa-bisanya tidak mengecek kondisi mobil secara berkala.

Yang ia pakai saat ini adalah mobil kantor karena sedang berada di luar kota, tepatnya di sebuah kota kecil di Jawa Timur, Jombang. Bosnya sedang melakukan kunjungan sekaligus audit ke pabrik mereka yang ada disana.

"Gimana?" tanya Naka saat Rizal kembali ke dalam mobil.

"Bocor, Bos. Adrian sepertinya terlalu abai, kurang perhatian dengan kondisi mobil, hanya terus dipakai saja," gerutu Rizal sambil kembali memasang sabuk pengamannya. "Semoga saja ada bengkel tak jauh dari sini," ia memang kurang familiar dengan daerah sini. Sekarang saja, untuk menuju Surabaya, ia menggunakan map agar tidak salah jalan.

"Gak ada ban serep?"

"Gak ada."

Rizal kembali menjalankan mobil, berdoa dalam hati sembari mencari bengkel terdekat. Beruntung, sekitar 3 kilometer dari tempat ia berhenti tadi, ada sebuah bengkel mobil, langsung saja ia belokkan mobil kesana. Sebuah bengkel mobil yang tak begitu besar, ada tulisan Arjuna motor di bagian depannya. Terlihat ada dua mobil di dalam yang sedang diperbaiki.

Keluar dari mobil, Naka menunggu di sebuah kursi panjang dari bahan stainless steel yang ada di sisi kanan bengkel, sementara Rizal bicara dengan salah satu pegawai. Melihat jam di tangannya menunjukkan pukul 11.00 WIB, ia mulai gelisah. Bagaimana tidak, pukul 13.00 WIB nanti, ia ada meeting di sebuah hotel di Surabaya, takutnya tak bisa tiba tepat waktu. Terlihat karyawan bengkel sibuk memperbaiki dua buah mobil yang ada disana, tapi semoga mobilnya bisa didahulukan mengingat hanya ganti ban.

"Gimana?" tanya Naka saat Rizal duduk di sebelahnya.

"Langsung ditangani, gak akan lama," sahut sang asisten pribadi dengan wajah sedikit lega.

Naka membuka laptop yang ada di pangkuannya, sambil menunggu, memeriksa kembali materi meeting sebentar lagi. Kondisi di bengkel sedikit bising, membuat agak susah untuk konsentrasi.

"Tadi pesen es teh jumbo ya?"

Deg

Naka tersentak mendengar suara itu. Suara seorang perempuan yang amat ia kenal. Meski sudah lama tak mendengar suara itu, namun ia masih bisa mengingat dengan jelas. "Ze," gumamnya pelan, seraya mengangkat wajah, mencari sumber suara.

"Ini buat Mas nya yang jumbo, Mbaknya yang sedang."

Tatapan Naka langsung terkunci pada sosok perempuan yang berdiri di sisi bagian lain bengkel, di seberangnya, berdiri memunggunginya. Wanita berambut panjang yang dikuncir kuda, berpostur tubuh tinggi semampai, tampak sedang sibuk membagikan es teh dalam kemasan cup.

"Berapa semuanya Mbak?" tanya wanita muda yang memesan es teh.

"Total 10 ribu, Mbak. Jumbo 6 ribu, sedang 4 ribu."

Setiap wanita yang memiliki suara seperti Zea itu bicara, jantung Naka berdebar kencang. Ia tak bisa berpaling meski hanya sedetik, mengabaikan ponselnya yang berdering saking tak sabarnya melihat wajah wanita itu. Detik demi detik terasa lama, menunggu wanita itu menunjukkan wajahnya. Zea berumur 21 tahun saat meninggalkan, itu artinya, saat ini usianya sudah 29 tahun.

"Zara, aku pesen jumbo satu," teriak pemuda yang baru keluar dari kolong mobil. Pemuda pekerja bengkel yang mengenakan cattle pack warna biru dengan wajah dan tangan belepotan oli.

Zara? Kening Naka mengkerut, jadi namanya Zara, bukan Zea. Sekarang wanita itu menatap ke arah pegawai bengkel, membuatnya bisa melihat wajahnya dari sisi samping. Dari samping tampak masih muda, tapi entahlah kalau dari depan.

"Ish, kenapa gak bilang dari tadi, kan sekalian bisa aku bawain," gerutu Zara, menatap Andi sambil melotot.

"Halah, deket juga. Buruan, haus banget nih!" Andi mengusap lehernya. "Tawarin tuh, ada yang baru datang, kali aja mau es teh juga," menunjuk dagu ke arah Naka dan Rizal. "Kamu kalau pakai baju kuning gini, makin cantik deh," godanya sambil mengedipkan sebelah mata.

Zara hanya berdecak sambil geleng-geleng, bosan mendengar Andi yang tak pernah lelah gombalin dia.

Jika sejak tadi Naka fokus pada wanita bernama Zara, lain halnya dengan Rizal, ia malah fokus menatap Naka yang bengong, menatap wanita penjual es teh. Bosnya itu sama sekali tak menghiraukan ponselnya yang menggelepar-gelepar di atas kursi dan menimbulkan suara bising, dia "Pak, ponsel anda."

Naka yang tegang menunggu detik-detik Zara menatap ke arahnya, tak menghiraukan ucapan Rizal. Jantungnya berpacu, detik demi detik serasa sangat lambat, bahkan saat membalikkan badan, gerakan Zara terlihat seperti adegan slow motion, sungguh membuatnya tak sabar. Namun penantiannya akhirnya terbayar lunas, ia bisa menatap wajah wanita itu meski jaraknya agak jauh.

"Ze," gumam Naka pelan, nyaris tak terdengar. Tatapannya terpaku pada wanita muda yang berjalan ke arahnya. Cantik, usianya ia terka sekitar kepala dua. Mungkinkah dia memang Zea?

"Pak," Rizal menepuk bahu Naka. "Ponsel an," ucapannya menggantung di udara melihat Naka mengangkat telapak tangan, mengisyaratkan agar dia diam.

Naka terpaku, jantungnya berdebar kencang menyaksikan Zara dengan senyuman tipisnya berjalan ke arahnya. Namun tiba-tiba, langkah wanita itu terhenti sebelum sampai di depannya. Ekspresinya berubah, senyumnya hilang, menatap ke arahnya, lama.

"Ze," gumam Naka. Ia tak pernah tahu seperti apa wajah Zea, namun entah kenapa, hatinya meyakini jika wanita itu adalah Zea. Zea nya yang pergi 8 tahun lalu bersama uang 1 milyar.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!