Indonesia
NovelToon NovelToon

Misteri Kematian Ibu

Bab 1. Kematian Ibu

Vera membeku di tempat ketika melihat sebujur tubuh yang selama ini sangat dia sayangi dan selama ini hanya wanita itu yang membela dia ketika sedang bertengkar dengan Pak Darto, kini dia sudah tidak memiliki wanita yang biasa dia panggil dengan sebutan Ibu, Isak tangis memenuhi seluruh ruangan yang sangat besar ini.

Gadis berambut pirang ini hanya terdiam dengan tatapan kosong dan dia sama sekali tidak menyangka bahwa Bu Elma akan meninggal dengan sangat singkat seperti ini, pada selama ini dia tahu bahwa sang Ibu tidak memiliki penyakit berat dan tidak memiliki riwayat penyakit jantung namun Kenapa mendadak saja sekarang justru meninggal dunia.

Beribu pertanyaan muncul di kepala gadis ini namun sampai saat ini dia belum bertanya kepada semua orang yang ada di sana karena dia masih tenggelam dalam kesedihan yang begitu besar, Bu Elma adalah sosok yang sangat dia cintai walau Bu Elma bukan ibu kandung dari Vera itu sendiri.

Namun hubungan mereka sudah sangat dekat dan selama ini Bu Elma yang selalu membela ketika Vera sedang bermasalah dengan Pak Darto, sekarang justru wanita itu telah tiada sehingga membuat hati Vera hancur berantakan dan tidak tahu harus bagaimana untuk menata ulang hidup ini ketika nanti semua sudah berlalu dan pasti dia akan bertengkar lagi dengan Pak Darto.

Kini tangan yang biasa membelai kepala Vera dengan penuh kasih sayang tapi sudah kaku dan pucat pasi, semua yang ada di sana menangis dan bahkan sebagian mulai menatap Vera dengan tatapan tajam karena menganggap bahwa Vera tidak pernah pulang karena tidak tahu balas budi kepada Bu Elma.

Gadis ini memang tidak memiliki nama baik dalam keluarga Karena dia selalu bertentangan dengan Pak Darto dan semua keluarga menganggap bahwa yang durhaka adalah Vera, tidak pernah Mereka bertanya bila saat ada masalah dan justru akan terus menyalahkan tanpa memandang bagaimana kejadian itu bisa terjadi di antara mereka semua.

Yang paling membuat Vera merasa kehilangan adalah ketika dia harus merasakan kesedihan seperti ini, mana dia juga sempat mengingat ketika Bu Elma mengatakan untuk segera pulang dan memperbaiki hubungan yang sudah hancur berantakan ini namun Vera saat itu masih sempat menolak karena dia tidak ingin bertengkar lagi.

Sebab bila sudah pulang ke rumah maka pasti dia akan bertengkar dengan Darto, Ayah kandung dia sendiri dan selama ini memang mereka terus saja bertentangan seperti itu karena Vera yang membela Bu Elma ketika sedang di KDRT oleh Darto sehingga pria itu merasa sangat kesal dengan tindakan Vera yang selalu ikut campur.

"Kita akan segera memandikan almarhum." Bu Rina sebagai pemandi mayat membuka suara.

"Saya juga ikut memandikan ya, Bude!" pinta Arum anak paling bungsu.

"Iya, semua anak-anak ikut memandikan biar bisa menjadi kenangan akhir." Bu Rina setuju.

"Kau sana ikut memandikan juga karena kau harus membalas Budi kepada Elma." sengit Bu Nur.

"Iya, selama ini Elma selalu menyayangi dirimu seperti anak kandung dia sendiri tapi kau yang tidak tahu cara balas budi." sentak Erna adik dari Elma.

"Jangan di ungkit lagi masalah yang sudah berlalu mari kita membicarakan hal baik saja di depan almarhum." Bu Rina tidak ingin bila mereka bertengkar saat ini.

"Anak seperti dia kalau tidak diberi peringatan mana tahu mana yang salah dan yang benar, pikiran dia selama ini selalu saja mengatakan bahwa dia yang paling benar!" Erna berkata dengan suara pedas.

"Lalu menurut dirimu Ibu meninggal dunia karena salah aku juga?" Vera sudah berdiri dan menatap Erna dengan begitu tajam.

Erna ingin menjawab namun detik kemudian dia kembali bungkam karena melihat wajah Vera yang sudah begitu tegang dan juga penuh dengan emosi besar, iya tahu bahwa gadis ini agak gila dan gila sudah mengambil tindakan maka yang ada nanti dia akan babak belur di hajar oleh Vera, dari pada itu sampai terjadi maka lebih baik dia menutup mulut.

"Tidak ada yang salah, ini semua sudah ajal dari yang maha kuasa!" Darto membuka suara dengan bariton yang begitu keras.

"Dia ini selalu saja membuat masalah kalau sudah ada di rumah!" Erna menggeram kesal dan dia segera pergi menuju arah belakang.

"Tolong ingat bahwa saat ini kita sedang berduka dan aku tidak menerima masalah." Darto menatap Vera dengan begitu tajam.

"Jangan memarahi Kak Vera seperti itu karena dia juga tidak bersalah." Arum membela Vera karena dia memang selama ini sangat dekat.

"Ayo kita mandikan jenazah almarhum saat ini juga." Rina menghentikan perdebatan di antara mereka.

Jenazah Elma segera dibawa menuju arah belakang untuk di mandikan dan tidak sampai dia menunggu dengan sangat lama lagi karena tadi malam sudah menunggu kedatangan Vera cukup lama, hari ini juga dia akan segera dikuburkan bila tidak ada halangan atau segala macam yang menghalangi perjalanan mereka.

"Kakak tidak usah pikirkan ucapan Bibi Erna karena dia memang selalu saja seperti itu." Arum memegang tangan Vera.

"Sudah lah, Ibu nanti juga akan semakin merasa sedih kalau melihat kita selalu bertengkar seperti itu." Dina juga setuju dengan ucapan Arum.

"Ya." Vera hanya menjawab singkat.

"Pokok nya Kakak nanti tidak boleh berangkat lagi ke kota untuk merantau karena saat ini kita sudah tidak punya ibu!" tegas Arum yang masih SMP itu.

"Arum, jangan membicarakan itu sekarang karena kita mau memandikan mayat Ibu." Dina menatap adik bungsu mereka.

"Aku cuma takut bila nanti Kak Vera pasti akan berangkat lagi ke kota." lirih Arum.

Vera hanya tersenyum saja karena benar apa yang di katakan oleh Arum bahwa dia tidak mungkin bertahan di dalam rumah ini, dulu saat masih ada Elma saja dia sudah tidak sanggup untuk menjalani hidup bersama dengan keluarga yang ada di desa ini jadi bagaimana mungkin dia akan sanggup bertahan ketika Elma yang selalu membela saja sudah tidak ada lagi.

"Kenapa mayat Ibu membiru seperti ini, Bude?" Vera tertegun menatap mayat Elma.

"Nak tidak boleh mempertanyakan hal seperti itu di depan mayat." bisik Rina.

"Tapi ini bukan pasangan aneh bila seluruh tubuh menjadi biru seperti ini, apa mungkin ada sesuatu yang sudah terjadi?" Vera memang sama sekali tidak menyangka.

Rina terdiam sambil menggeleng karena dia juga tidak tahu apa yang telah terjadi kepada Elma ini, Darto mengatakan bahwa Elma meninggal dunia karena serangan jantung dan mereka hanya mendengar tentang kabar itu tanpa mengetahui secara jelas.

Selamat pagi besti, jumpa lagi di karya othor yang baru.

Bab 2. Berdebat

"Kau jangan selalu membuat masalah, Kak!" Dina terlihat tidak senang.

"Sekarang kau juga tidak percaya kepadaku?" Vera menatap dengan pandangan tajam.

"Aku tau kau selalu bermasalah dengan Ayah namun bukan berarti bisa sesuka hati mu begini." kesal Dina.

"Ini memang pasti berhubungan dengan dia, Ibu bukan meninggal karena penyakit biasa!" bentak Vera sangat emosi.

"Cukup!" Dina semakin emosi mendengar ucapan Vera yang terus terang menuduh Darto.

Vera juga kaget melihat reaksi Dina yang sudah sangat marah seperti itu, padahal selama ini adik nya tidak pernah membantah dia atau bahkan sampai mengeluarkan ucapan kasar seperti ini sehingga Vera menyadari bahwa mungkin saja Dina sangat tidak terima.

Namun Vera juga tidak bisa diam saja sekarang, karena dia menyadari ada sesuatu yang tidak beres dengan kematian Bu Elma. tubuh Ibu mereka membiru seolah luka lebam habis di pukuli, bagian leher juga ada yang membiru dan semua orang malah mengatakan bahwa itu adalah serangan jantung.

Sebab selama ini banyak warga yang meninggal ketika serangan jantung dan kondisi mereka memang seperti itu, sehingga saat ini sama sekali tidak ada yang mengatakan bahwa kematian dari Elma adalah hal yang tidak wajar, bahkan tidak ada yang bergunjing tentang kematian wanita itu dan menganggap bahwa tubuh yang membiru adalah hal yang aneh.

Hanya Vera yang masih tetap yakin bahwa ini ada sesuatu yang tidak beres di kematian sang Ibu, namun kepada siapa dia akan berbicara karena sekarang tanpa jelas bahwa tidak ada orang yang peduli dengan ucapan Vera, bahkan Dina saja tidak mau mendengarkan apa yang Vera katakan tentang kematian Bu Elma.

Padahal Vera adalah anak tiri dari Bu Elma ini namun ia tetap saja merasakan ikatan batin yang begitu kuat dan Dia merasa bahwa kematian dari Bu Elma pasti ada sesuatu yang tidak beres, ini hanya tinggal memutar otak bagaimana cara dia mengetahui apa yang telah terjadi dengan Bu Elma ini.

"Aku tidak mau bila nanti Kakak akan membuat masalah lagi, kita semua sedang berduka!" Dina menggeram kesal.

"Jadi menurut mu aku yang selama ini membuat masalah?" Vera bertanya tidak percaya.

"Sudah lah aku tidak ingin mencari masalah dengan dirimu." Dina langsung pergi begitu saja karena masih banyak yang harus dia urus.

"Hahhh tidak ku sangka bahwa dia juga beranggapan bahwa aku yang telah membuat masalah." Vera menarik nafas panjang.

"Kenapa kau sama sekali tidak menyangka bahwa memang dirimu itu yang selama ini selalu saja membuat masalah?" tegur sebuah suara dari belakang Vera berdiri saat ini.

Vera menoleh untuk melihat siapa orang tersebut dan ternyata memang benar karena dia juga sudah hafal dengan suara itu dan seketika Vera merasa enggan sekali untuk berdebat dengan orang ini, sebab posisi dia juga sedang berduka dan merasakan sedih yang begitu dalam atas kematian dari Bu Elma sehingga ada rasa enggan untuk menanggapi orang seperti ini.

Namun bila sudah berhadapan seperti ini jelas mereka akan berdebat satu sama lain karena selama ini seluruh keluarga beranggapan bahwa Vera selalu saja membuat masalah dengan keluarga besar, memang walau Vera adalah seorang gadis namun tetap saja dia tidak peduli bila sudah berdebat dengan Darto Ayah kandung dia sendiri.

"Sebaik nya kau besok langsung saja pulang ke kota agar tidak menambah masalah yang ada di sini." Erna berkata dengan sangat pedas.

"Memang nya kau siapa sehingga berani mengusir aku dari dalam rumah ini?" Vera berkata dengan suara menantang.

"Tidak ada yang ingin kau tetap berada di rumah ini karena kehadiran kau disini hanya membuat masalah besar!" bentak Erna.

"Apa kau takut aku akan mengetahui rahasia yang telah lama kau simpan?" Vera menyeringai iblis.

"Gadis gila!" bentak Erna sangat tidak terima.

"Sekali lagi kau ikut campur dalam masalah yang sedang aku urus ini maka bersiap saja aku akan memberikan masalah yang jauh lebih besar untuk dirimu itu!" ancam Vera tidak main main.

"Lakukan apa saja karena aku tahu kau memang gadis gila yang tidak tahu diri dan selama ini selalu saja membuat masalah dalam keluarga!" tantang Erna.

"Ya, mari kita lihat siapa pembuat masalah itu yang sebenarnya." angguk Vera tidak takut sama sekali.

Vera si gadis bengal dalam keluarga dan dia tidak pernah takut melawan siapa saja selagi dia merasa benar maka akan terus melawan orang yang menghadapi jalan, bahkan itu adalah Darto sekali pun dia sama sekali tidak peduli sehingga hal itulah yang membuat dia di kenal sebagai gadis durhaka dan tidak pernah menghormati orang tua.

Walau sudah mendapat cap buruk seperti itu namun Vera tetap tidak peduli dan dia tidak pernah menjelaskan kepada orang lain bahwa ini semua bukan salah dia atau bukan dia yang membuat masalah, dia tidak peduli dengan pandangan orang lain karena menurut dia itu sama sekali tidak berfungsi untuk hidup ini.

Jadi mau orang itu menganggap dia apa dan keluarga menganggap juga bahwa dia adalah gadis durhaka tetap saja Vera sama sekali tidak peduli, bisa dikatakan bahwa perasaan gadis ini memang telah mati dan perasaan yang membeku itu membawa masalah yang kian memburuk dalam keluarga karena seluruh keluarga tidak ada yang menaruh simpati terhadap dia.

"Ini rumah ku, kau hanya adik dari Ibu sehingga tidak ada hak untuk mengusir aku!" Vera menunjuk kening Erna.

"Kurang ajar!" Erna berteriak tidak terima.

"Apa kau baru tau kalau aku ini kurang ajar? semakin kau menantang aku maka akan aku tunjukan sifat itu." geram Vera sambil berlalu pergi.

Erna terdiam mematung karena di sini dia baru menyadari bahwa aura yang ada di dalam diri Vera sungguh begitu kuat sehingga dia tadi sempat merasa takut, apa lagi Erna juga mengetahui bahwa gadis ini memiliki beladiri yang cukup tinggi karena dia sering berlatih dengan beberapa persatuan yang ada di desa ini.

"Dia seberani itu, pantas saja selama ini dia terus bertengkar dengan Mas Darto." batin Erna.

"Awas saja nanti kalau sampai dia membuat masalah, aku tidak akan tinggal diam karena Mas Darto juga tidak suka kok dengan Vera." batin Erna kembali.

Dia merasa kalau Vera di rumah ini hanya seorang sampah saja sehingga tidak mungkin ada yang bisa membela dia untuk melakukan ini dan itu, sebab Darto saja sebagai ayah kandung Vera sama sekali tidak peduli dengan sepak terjang gadis tersebut dan terus saja mengabaikan sehingga orang lain yang ada di rumah ini pasti ikut merendahkan Vera juga.

Selamat malam Besti, jangan lupa like dan komen nya.

Bab 3. suara aneh

Tes.

Tes.

Air mata gadis yang selama ini selalu terkucil itu jatuh menetes ketika dia sedang sendirian di dalam kamar seperti ini, walau selama ini Vera terlihat begitu tangguh dan tidak pernah memiliki rasa sedih di dalam hati namun tetap saja bila sedang sendirian di dalam kamar maka dia akan merasakan kesedihan itu di dalam hati.

Apa lagi Dia adalah seorang gadis dan bisa di bilang selama ini sudah kurang kasih sayang dari seorang Ibu, Elma bukan lah Ibu kandung Vera karena Darto menikahi wanita itu ketika Vera sudah berusia sekitar tujuh tahun, Ibu kandung Vera meninggal dunia karena tercebur di dalam sumur dan itu ketika dia masih sangat kecil sekali.

Bisa di bilang bahwa sejak kecil dia memang sudah sangat menderita walau lahir dalam keluarga kaya dan bisa dikatakan anak semata wayang dari Darto dan juga Mayang, Mayang meninggal dunia dan kemudian baru Darto menikah lagi dengan Elma lalu kemudian sekarang Elma juga meninggal dunia.

Dulu kematian dari Mayang sudah cukup aneh namun saat itu Vera masih cukup kecil sehingga dia tidak tahu dan sampai sekarang memang tidak terungkap bagaimana Mayang bisa masuk ke dalam sumur itu, namun kali ini perasaan Vera begitu berbeda setelah melihat keadaan mayat Elma.

Sejak dia sudah mulai dewasa maka Vera menyadari bahwa ada yang tidak beres dengan Darto itu karena dia terlalu saja membuat masalah dan suka melakukan KDRT terhadap sang istri, Vera walau adalah anak tiri namun dia tetap membela Elma ketika Darto menghajar wanita itu untuk kepuasan tersendiri saat sedang emosi.

Namun semenjak dia merantau ke kota untuk ketenangan hidup ini maka memang Vera tidak mengetahui apakah Darto masih terus melakukan KDRT terhadap istri atau sudah, namun dia sangat yakin sekali bahwa kematian Elma ini ada yang tidak beres dan dia bertekad untuk mencari tahu sekaligus ingin mengungkap kematian dari Mayang ibu kandung dia dulu.

"Aku akan mencari tahu tentang kebenaran yang telah lama tersimpan." tekad Vera di dalam hati.

Terserah orang lain mau mengatakan apa karena bisa di bilang dalam rumah ini sudah tidak ada lagi yang berpihak kepada dia, terlebih lagi Erna yang selama ini selalu ikut campur dan tadi saja mereka bertengkar seperti itu sehingga membuat Vera merasa sangat kesal dan ingin marah habis-habisan.

Tuk.

Tuk.

Vera menoleh ketika dia mendengar suara ketukan sebanyak dua kali dan dia juga tidak mengetahui itu suara apa, namun dia segera bangkit karena mengira ada yang sedang mengetuk pintu kamar karena ingin membicarakan sesuatu.

Krieeeeett.

"Tidak ada orang." batin Vera setelah membuka pintu kamar ini.

Suasana rumah terlihat begitu sepi karena sekarang memang sudah sangat malam dan kemungkinan besar para manusia yang ada di dalam rumah ini sudah tertidur lelap, hanya Vera memang yang masih belum bisa tidur karena dia sedang memikirkan bagaimana keadaan Elma yang bisa meninggal dengan cara seperti itu.

Wuuussssh.

Wuuussssh.

"Kenapa jendela tidak di tutup?" batin Vera karena angin berhasil masuk dan meniup gorden yang ada di sana.

"Apa mereka lupa ya, tapi biasa nya Bik Nah tidak pernah lupa." Vera bergumam sendirian dan menutup jendela tersebut.

Wuuussssh.

"Siapa itu?!" Vera berteriak karena melihat orang berjalan cepat.

"Siapa barusan yang lewat, kenapa cepat sekali dia berjalan." Vera membuka pintu karena penasaran.

Yang ada dalam pikiran dia saat ini adalah bisa saja orang tersebut adalah maling yang ingin masuk ke dalam rumah, maka Vera mengambil tongkat besi yang ada di dekat sana karena memang selama ini Vera adalah sosok yang pemberani dan sedikit tomboy sehingga dia bisa dikatakan tidak memiliki rasa takut walau dirinya adalah seorang gadis dan sekarang sudah sangat malam sehingga sama sekali tidak ada orang yang terbangun.

Wuussssh.

Sraaaaaak.

"Banyak sekali daun kering ini." gumam Vera sambil menatap halaman.

"Sudah lama sekali ternyata aku tidak pulang, bahkan pohon jambu ini saja sudah sebesar ini." Vera tersenyum menatap pohon jambu yang dulu sering dia panjat.

Tuk.

Tuk.

"Suara itu lagi, kenapa suara itu terus saja datang sih?" heran Vera dan terus berjalan untuk keliling rumah ini.

Padahal suasana sangat gelap seperti ini namun itu tidak menyurutkan semangat Vera untuk keliling rumah ini agar dia bisa mengetahui itu tadi suara apa dan siapa yang sudah berjalan cepat, karena bagian depan rumah tidak ada maka Dia segera mencari di bagian samping karena bagian sana juga ada pintu yang bisa masuk ke dalam rumah.

"Siapa di sana?" Vera agak berteriak ketika melihat bayangan.

Kriiiik.

Kriiiiik.

"Sialan jangkrik ini, aku tanya yang lain malah dia pula yang jawab." rutuk Vera sambil terus mendekat.

Blaaaaaap.

"Hilang! padahal tadi aku melihat bayangan kok di sini." kaget Vera karena dia memang sempat melihat tadi.

Tapi ketika dia sudah mendekati dinding balik tembok dan ternyata memang tidak ada orang di sana bahkan bayangan yang tadi terlihat berdiri juga sudah tidak ada lagi di sana, entah apa yang sebenarnya sudah terjadi namun Vera sangat yakin bahwa ada sesuatu yang tidak beres dan kemungkinan besar itu adalah ulah dari manusia.

"Pasti ini ulah dari salah satu orang yang tidak menyukai aku." Vera berkata sangat yakin sekali.

Grosaaaak.

Grosaaaaak.

"Apa lagi? tidak mungkin dia cepat lari naik ke atas pohon rambutan itu!" Vera menatap daun rambutan yang sangat rimbun dan terus bergoyang kencang.

Suasana malam terasa begitu mencekam dan Vera sendiri tidak menyadari bahwa ini bukan malam biasa Karena Dia memang kurang percaya dengan hal gaib seperti itu, mungkin selama ini karena dia merantau ke kota sehingga selalu berpikiran realistis dan tidak mungkin ada setan yang bisa menakuti para manusia di rumah yang sangat ramai penghuni ini.

Tuk.

Tuk.

"Siapa sih yang sudah membuat suara itu?" kesal Vera karena suara tersebut kembali terdengar.

"Aku akan menemukan siapa pelaku ini dan akan aku hajar dia sampai habis!" kesal Vera.

Buaaaaaaak.

Braaaaaaak.

"Baru saja kau pulang dan sudah mau membuat masalah!" geram seseorang setelah menghantam kepala belakang Vera.

Gadis berambut pirang ini tergeletak di atas lantai Karena dia sudah pasti pingsan setelah mendapat hantaman yang begitu kencang dari seseorang, tanpa pikir panjang orang tersebut segera menggendong Vera untuk masuk kembali ke dalam rumah dan membaringkan dia di dalam kamar sana agar tidak ada yang mengetahui bahwa dia yang sudah memukul kepala Vera.

Selamat siang besti, jangan lupa like dan komen nya ya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!