Di tengah lapangan luas Akademi Kesatria Kerajaan Aurelius, seorang gadis berambut hitam legam berdiri dengan pedang kayu di tangannya. Rambutnya diikat tinggi, memerlihatkan wajah tegas dengan rahang yang mengeras oleh tekad.
Namanya Elara Ravens.
Putri dari Duke Alaric Ravens dan Duchess Liora Ravens. Keturunan keluarga kesatria legendaris yang namanya tercatat dalam sejarah perang dan kemenangan.
Dan hari ini, seperti hari-hari sebelumnya, ia kembali berdiri di arena.
Di hadapan Elara berdiri seorang pria bertubuh besar, bahu lebar, dan tinggi hampir satu setengah kepala darinya. Seragam latihan pria itu sudah basah oleh keringat, napasnya berat, namun sorot matanya penuh percaya diri.
"Putri Duke? Aku akan berusaha tidak terlalu keras padamu," ejek pria itu pelan, cukup keras untuk didengar murid lain yang mengerumuni arena.
Terdengar tawa kecil di antara para penonton.
Elara tidak menjawab. Ia hanya mengatur napas. Kakinya bergerak ringan. Jari-jarinya menggenggam gagang pedang dengan mantap. Ia tahu satu hal; ia tidak boleh kalah dalam duel satu lawan satu.
"Mulai!" Suara instruktur menggema.
Pria itu menyerang lebih dulu. Tebasan lurus dari atas, kuat dan berat, mengandalkan tenaga.
Elara menggeser tubuhnya ke samping. Debu beterbangan saat kakinya berputar cepat. Ia menangkis, lalu membalas dengan tusukan cepat ke sisi lawan.
Pria itu terkejut bahwa Elara cukup cepat dari dugaannya.
Tebasan berikutnya lebih brutal. Elara melompat mundur, lalu maju kembali, memanfaatkan celah di antara pernapasan lawan. Pedangnya menghantam pergelangan pria itu.
"Argh!"
Pedang kayu pria itu terlepas.
Elara tidak memberi kesempatan. Dalam satu gerakan luwes, ia menyapu kaki lawan hingga terjatuh dan menempelkan ujung pedangnya di leher pria itu.
Hening.
Beberapa detik yang terasa panjang.
"Pemenang! Elara Ravens!"
Suara tinggi sang instruktur memecah keheningan.
Sorak-sorai terdengar. Tidak terlalu meriah, tetapi cukup keras untuk menandakan pengakuan.
Elara berdiri tegak. Dada naik turun ketika paru-parunya mengambil napas dengan rakus. Keringat mengalir di pelipis sang gadis.
Ia menang.
Namun saat Elara berbalik meninggalkan arena, bisikan itu kembali terdengar.
"Dia memang lumayan kalau satu lawan satu."
"Coba saja tiga orang berturut-turut, pasti tumbang."
"Tidak seperti Evan Ravens."
"Namanya juga si Putri Yang Gagal."
Nama Evan selalu datang seperti bayangan panjang di belakang langkah Elara.
Evan Ravens, kembaran Elara. Kesatria termuda di Kerajaan Aurelius. Jenius pedang dan si anak ajaib yang menjadi kebanggaan keluarga. Putra sempurna dari Duke Alaric Ravens dan Duchess Liora Ravens.
Elara mengepalkan tangannya setiap kali dibandingkan seperti itu. Ia tahu kelemahannya melebihi siapa pun.
Jika bertarung satu lawan satu, Elara masih bisa mengandalkan teknik dan kecepatan. Namun bila harus menghadapi tiga orang berturut-turut, staminanya akan habis. Tubuhnya seolah menolak untuk bertahan lebih lama.
Entah mengapa, sejak kecil, napasnya selalu lebih pendek. Tenaganya lebih cepat terkuras.
Dan dunia tidak peduli pada alasan.
Dunia hanya peduli pada hasil.
Satu jam kemudian, latihan berlanjut pada simulasi pertarungan berantai.
"Elara Ravens, bersiap."
Tiga murid pria maju bergantian.
Pertarungan pertama, Elara menang. Cepat dan bersih.
Pertarungan kedua, ia masih menang, meski napasnya mulai berat.
Pertarungan ketiga ... tangannya mulai gemetar.
Tebasan lawan terasa lebih berat untuk Elara hindari. Kaki Elara terasa seperti terisi timah yang membuatnya tak mampu bergerak.
Satu detik lengah.
Pedang kayu menghantam bahu gadis itu.
Elara terhuyung.
Serangan berikutnya mengenai perutnya.
Dan Elara jatuh berlutut.
"Tumbang!"
Suara instruktur terdengar tanpa emosi.
Tawa kecil kembali terdengar dari pinggir arena.
"Sudah kuduga."
"Selalu begitu."
"Masih bermimpi menjadi kesatria seperti dua kakaknya. Benar-benar memalukan."
"Elara memang tidak sehebat Evan dan Tuan Rowan."
Nama itu lagi.
Nama yang seperti cambuk di punggungnya.
Elara bangkit perlahan. Bahunya sakit akibat hantaman pedang kayu, namun yang lebih menyakitkan adalah bisikan itu.
Elara tidak pernah bisa menang lebih dari tiga orang. Ia selalu kehabisan tenaga. Dan rankingnya di akademi tetap berada di bawah.
Padahal darah Ravens mengalir di nadinya.
Sang ibu adalah pendekar pedang yang pernah memimpin pasukan di garis depan perang.
Ditambah ayahnya adalah Duke yang dihormati dan ditakuti.
Namun Elara?
Ia hanya bayangan redup di samping cahaya Evan dan anggota keluarga lainnya.
"Oi, pecundang."
Suara itu datang dari belakang saat Elara berlari mengelilingi lapangan latihan untuk hukuman tambahan stamina.
Seorang senior berdiri di jalur lari. Tubuhnya tinggi, wajahnya tampan dengan senyum miring yang meremehkan. Ia termasuk dalam lima besar akademi.
"Masih saja mencoba keras, ya? Tapi percuma. Kau bukan Evan. Dan tidak akan pernah bisa menjadi seperti dia," kata si senior.
Elara terus berlari, tidak menjawab.
Senior itu tertawa kecil lalu berjalan sejajar dengan sang gadis.
"Kasihan Duke Alaric. Punya anak laki-laki sehebat Evan, keponakan yang luar biasa, tapi anak perempuan yang satu ini malah memalukan," cemooh si senior itu dengan sengaja.
Beberapa murid lain tertawa.
"Bayangkan dilahirkan oleh Duchess Liora yang luar biasa, tapi stamina saja tidak punya. Duchess kasihan sekali punya putri tidak berguna seperti ini," tambah pria itu.
Kaki Elara sedikit goyah, tapi ia tetap berlari.
Tapi kemudian ....
SRET!
Kaki senior itu menyandung langkah Elara.
Elara kehilangan keseimbangan. Tubuhnya terlempar ke depan dan menghantam tanah dengan keras.
Debu mengepul.
Tawa pecah di sekitar lapangan.
"Lihat! Putri Duke jatuh!"
"Seperti anak kecil!"
"Seharusnya perempuan bermain rumah-rumahan saja!"
Telapak tangan Elara perih. Lututnya tergores.
Elara terdiam beberapa detik.
Lalu perlahan bangkit.
Senior itu menatap sang gadis dengan senyum mengejek. "Jangan marah. Aku hanya ingin mengingatkan posisimu."
Dan sesuatu di dalam diri Elara yang selama ini ia tekan, ia telan, dan ia simpan, akhirnya retak.
Elara melangkah maju.
Tanpa peringatan, tinju Elara melayang.
BUGH!
Wajah senior itu terpental ke samping.
Lapangan mendadak hening.
Senior itu terhuyung, lalu menggeram. "Berani sekali kau!"
Pria itu membalas.
Namun Elara sudah bergerak lebih dulu. Ia menerjang, menjatuhkannya ke tanah. Tangannya menghantam wajah pria itu berkali-kali.
"Berani menyebut keluargaku seperti itu?! Kau mau mati, huh?!" bentak Elara.
Senior itu mencoba melawan, tapi Elara menindihnya dengan kemarahan yang selama ini dipendam.
"Cukup!"
Suara keras menggema.
Seorang guru berlari mendekat dan menarik Elara dari atas tubuh senior itu.
"Elara Ravens! Apa yang kau lakukan?!" seru guru tersebut.
Elara terengah-engah. Rambutnya berantakan. Wajahnya merah oleh amarah.
"Dia menyandungku," kata Elara dingin.
"Dan itu alasanmu berkelahi seperti orang barbar?" Sang guru menatap tajam Elara.
Senior itu bangkit sambil menyeka darah di sudut bibirnya. "Dia menyerang lebih dulu, Guru."
Tatapan sang guru beralih pada Elara. "Sudah cukup. Selalu saja kau membuat masalah," katanya.
Elara menegang.
"Lihat saudaramu, Evan Ravens. Sempurna dalam segala hal. Tenang. Terhormat. Tidak pernah mempermalukan akademi," ujar sang guru.
Setiap kata terasa seperti pisau.
"Sedangkan kau? Putri Duke memang, tapi jika kelakuanmu seperti ini, siapa yang akan menghormatimu?" lanjut sang guru.
Tawa kecil terdengar lagi dari murid lain.
Elara mengangkat dagunya. Tatapannya berubah dingin. Sombong. Menantang.
"Walau aku menjadi pecundang sekali pun, aku tetap putri Duke Alaric Ravens," kata Elara pelan namun jelas.
Lapangan membeku.
"Dan sebagai putri Duke, aku punya hak untuk menghukum mati siapa pun yang tidak sopan pada anggota keluargaku," lanjut Elara.
Beberapa murid tersentak.
Wajah sang guru memerah oleh amarah. "Kau mengancam?"
"Jika diperlukan," balas Elara.
"Elara Ravens! Aku akan melaporkan ini pada Kepala Akademi!" bentak sang guru.
Elara menatapnya tanpa gentar. "Silakan."
Amarah sang guru semakin membuncah dan berkata, "Bagaimana bisa Duchess Liora yang begitu hebat melahirkan anak tidak pembuat onar sepertimu?"
Waktu seperti berhenti.
Udara terasa membeku.
Nama Ibunya kembali digaungkan.
Orang yang selalu memeluk Elara tanpa membandingkannya dengan Evan. Orang yang sangat Elara hormati.
Dan pria ini berani menyebut ibu Elara seperti itu.
Tanpa berpikir atau pun ragu Elara melayangkan tinjunya.
BUGH!
Suara benturan terdengar jelas saat kepalan tangan Elara menghantam wajah sang guru.
Semua orang terdiam.
Sang guru kehilangan keseimbangan, tidak menyangka bahwa ia akan mendapatkan sebuah pukulan keras
Elara berdiri di hadapan pria yang tidak akan pernah ia panggil guru lagi. Napas Elara berat dengan matanya menyala seperti bara.
"Jangan menyebut ibuku seperti itu," kata Elara tajam dan menggetarkan.
Elara kembali melayangkan tinjunya ke wajah sang guru.
Tentu seluruh lapangan latihan Akademi Kesatria Kerajaan Aurelius menyadari satu hal ...
Elara Ravens mungkin lemah dalam stamina.
Mungkin kalah dalam ranking dan selalu dibandingkan. Namun darah kesatria legendaris itu tetap mengalir panas dalam dirinya.
Dan jika dunia ingin terus menginjaknya maka Elara Ravens akan menggigit balik, meski harus berdiri sendirian.
Mereka lupa kalau panggilan Elara adalah Si Anjing Gila.
Dan itu bukan hanya sekedar panggilan.
Langit di atas menara Akademi Kesatria Kerajaan Aurelius berwarna kelabu pucat ketika Elara Ravens berdiri di depan pintu kayu besar berukir lambang pedang bersilang.
Lambang kehormatan dan sumpah, tempat di mana para calon kesatria ditempa bukan hanya dengan baja, tetapi juga dengan aturan.
Tangan Elara mengepal di sisi tubuh. Bekas lecet di telapak tangannya masih terasa perih. Namun rasa perih itu tidak ada apa-apanya dibanding panas yang masih membara di dadanya.
Elara tahu mengapa ia dipanggil.
Guru yang dipukulnya tentu tidak tinggal diam.
"Elara Ravens?"
Suara penjaga di samping pintu membuat Elara menoleh. "Kepala Akademi menunggumu."
Elara menarik napas panjang.
Lalu mendorong pintu.
Ruangan Kepala Akademi luas, dipenuhi rak buku tebal dan peta pertempuran kuno yang tergantung di dinding. Di belakang meja kayu besar duduk seorang pria paruh baya dengan rambut keperakan dan sorot mata tajam namun tenang.
Kepala Akademi Armand Valerius.
Pria yang pernah memimpin pasukan kerajaan dalam tiga perang perbatasan.
Pria yang dihormati bahkan oleh Duke Alaric Ravens.
Dan satu-satunya orang di akademi ini yang tidak pernah menatap Elara dengan ekspresi kecewa atau membandingkannya dengan Evan.
"Elara?" panggil sang kepala akademi pelan.
Elara menunduk seperlunya. "Kepala Akademi."
"Duduklah," suruh Armand.
Elara menurut.
Suasana hening beberapa detik. Hanya suara jarum jam mekanik yang berdetak di sudut ruangan.
"Aku sudah mendengar laporan lengkap. Kau terlibat perkelahian dengan senior. Itu bukan hal baru di akademi ini," ulas Armand akhirnya.
Nada suara sang Kepala Akademi datar. Tidak marah atau pun menghakimi.
"Namun ... kau juga memukul seorang guru. Kau tahu apa arti tindakan itu?" tanya sang kepala Akademi.
Elara tidak menjawab.
"Memukul sesama murid adalah pelanggaran disiplin. Tapi memukul guru adalah pelanggaran terhadap tatanan kehormatan," kata Kepala Akademi.
Elara mengangkat wajahnya. "Dia tidak hanya menghina saya tapi juga ibu saya."
Armand terdiam.
"Apa pun alasannya, tidak ada yang berhak menyebut Duchess Liora Ravens seperti itu," lanjut Elara, suaranya bergetar menahan amarah.
Tatapan Armand melembut. "Aku tahu. Aku mengenal ibumu. Ia salah satu kesatria terbaik yang pernah aku lihat. Aku juga tahu, kau tidak akan menyerang tanpa alasan."
Kalimat itu membuat Elara diam.
Hening kembali menyelimuti ruangan.
"Namun, Elara. Akademi ini berdiri atas satu prinsip. Semua murid setara. Tidak peduli putra Duke, anak pedagang, atau yatim piatu dari desa." Armand menatap Elara.
Elara menggigit bibirnya.
"Jika aku membiarkan tindakanmu tanpa konsekuensi karena kau adalah putri Duke Alaric Ravens, maka keadilan di tempat ini runtuh," lanjutnya.
"Saya tidak meminta perlakuan khusus," potong Elara cepat.
"Aku tahu. Justru itulah mengapa aku menghargaimu." Armand menyandarkan tubuhnya.
Elara terdiam.
"Namun kau harus memahami bahwa kehormatan seorang kesatria bukan hanya tentang seberapa keras ia bisa menyerang. Tetapi seberapa mampu ia menahan diri," lanjut Armand.
Elara mengepalkan tangannya. "Apakah menahan diri berarti membiarkan orang merendahkan keluarga kita?" tanyanya tajam.
"Menahan diri berarti memilih waktu dan cara yang tepat untuk bertindak," kata Armand.
"Dan jika waktu itu tidak pernah datang? Jika setiap hari yang datang hanya ejekan? Perbandingan? Bisikan tentang betapa sempurnanya Evan Ravens dan betapa gagalnya saya?" suara Elara meninggi.
Nama itu menggema di ruangan.
Armand menatap Elara lama. "Aku tidak pernah melihatmu sebagai kegagalan, Elara."
Kalimat itu membuat Elara terdiam.
"Tahukah kau, mengapa aku tidak pernah membandingkanmu dengan Evan?" lanjut Armand pelan.
Elara tidak menjawab.
"Karena kau bukan Evan," ujar Armand.
Jawaban sederhana itu membuat tenggorokan Elara terasa sesak.
"Kau memiliki gaya bertarung yang berbeda. Refleksmu cepat dan analisis pertarunganmu tajam. Namun tubuhmu memiliki batas yang berbeda," Armand mengingatkan.
Batas.
Kata yang selalu Elara benci.
"Dan dunia tidak selalu adil pada batas itu," lanjut Armand.
Elara menatap meja kayu di depannya.
"Namun tetap saja. Kau telah melanggar aturan yang tidak bisa kuabaikan," suara Armand kembali tegas.
Elara menoleh cepat. "Apa maksud Anda?"
Armand menarik napas panjang. "Mau tidak mau, kau harus menerima skorsing."
Waktu seperti berhenti.
"Apa?" Elara terkejut setengah mati.
"Skorsing sementara dari seluruh kegiatan akademi," ulang Armand.
Elara membelalak. "Berapa lama?"
"Satu minggu," jawab sang Kepala Akademi.
Satu minggu?!
Tiga hari lagi adalah pertandingan kenaikan ranking. Pertandingan yang ditunggu semua murid, termasuk Elara.
Elara berdiri mendadak. "Tidak! Tiga hari lagi pertandingan ranking!"
"Aku tahu."
"Saya sudah berlatih untuk itu selama berbulan-bulan!" seru Elara tak terima.
"Dan kau seharusnya memikirkan konsekuensinya sebelum mengayunkan tinju pada seorang guru." Nada suara Armand tetap tenang, namun tegas.
Elara kembali dipenuhi amarah.
"Elara, aku tidak meragukan semangatmu. Namun jika kau tidak mampu mengendalikan emosimu, maka jalan kesatria akan menjadi jalan yang kejam bagimu," ucap Armand. Kata-kata itu terasa seperti vonis.
"Apakah Anda akhirnya mengatakan saya tidak cocok menjadi kesatria?" Elara menatap kesal pria itu.
Armand terdiam beberapa detik. "Aku mengatakan jalan ini membutuhkan lebih dari sekadar keberanian." Jawaban yang tidak langsung, namun cukup jelas.
Elara merasakan sesuatu runtuh di dalam dirinya.
"Aku tidak terima," kata Elara lirih namun keras.
"Keputusan sudah ditetapkan," tegas sang kepala akademi.
Sunyi kembali.
"Pergilah dan gunakan waktu ini untuk berpikir," ujar Armand.
Elara berdiri kaku beberapa detik, lalu berkata, "Sepertinya kualitas akademi ini sudah turun. Tidak hanya membiarkan para calon kesatria menghina kesatria lain. Tapi justru yang seharusnya dibela jadi penjahatnya. Kalian tidak pantas untuk dipanggil guru atau kesatria sama sekali."
Dan Elara berjalan keluar tanpa menoleh lagi.
Koridor akademi terasa lebih panjang dari biasanya. Langkah Elara berat. Amarah dan kekecewaan bercampur menjadi satu.
Skorsing.
Elara dilarang ikut pertandingan.
Kesempatan untuk menjadi kesatria resmi kini hilang sudah. Semua karena satu pukulan untuk membela diri.
Saat Elara berbelok di ujung koridor, sosok familiar berdiri di sana.
Rambut hitam legam yang tertata rapi. Postur tegap. Seragam kesatria yang terpasang sempurna.
Evan Ravens, kembaran Elara kini berdiri di hadapan sang gadis.
"Elara?" Suara Evan tenang, namun ada ketegangan di dalamnya.
"Ada apa?" tanya Elara datar.
"Kepala Akademi memanggilku. Katanya kau tidak hanya berkelahi, tapi juga memukul seorang guru," tuntut Evan dengan tatapan tajam.
Elara membuka mulut untuk menjelaskan.
Namun Evan memotong. "Kenapa kau harus menyelesaikan semuanya dengan kekerasan?"
Elara diam.
Nada suara Evan tidak tinggi, tapi cukup untuk menusuk. "Kau tahu ini akademi, bukan arena jalanan."
Elara menatap Evan tajam. "Kau tahu dengan pasti kenapa aku melakukan itu?"
Evan terdiam.
"Mereka merendahkanku. Mereka merendahkan Papa dan Mama," beritahu Elara.
"Aku tahu. Tapi memukul guru?" kata Evan cepat.
"Ia menghina Mama!" seru Elara.
"Kalau begitu kau bisa melapor pada Papa! Papa akan mengurusnya." suara Evan mulai meninggi.
Elara menatapnya lama. Lalu tertawa pahit.
"Kau enak bisa bicara seperti itu karena semua orang berpihak padamu," ujar Elara.
Evan mengerutkan kening.
"Kau tidak pernah merasakan berada di posisiku." Ucapan Elara mendingin.
"Elara-"
"Kau tidak pernah tahu rasanya direndahkan setiap hari! Selalu dibanding-bandingkan! Kau selalu dielu-elukan sebagai Tuan Sempurna!" seru Elara lepas kendali.
Beberapa murid yang lewat mulai melirik.
"Sedangkan aku? Aku hanya seseorang yang gagal!" suara Elara bergetar.
"Elara!" Evan berseru keras.
Suara itu menggema di koridor.
Elara terdiam.
Itu pertama kalinya Evan meninggikan suara padanya.
Evan menghela napas panjang. Bahunya sedikit turun.
"Kita tidak bisa menyelesaikan ini di sini. Kita bicarakan di rumah. Bersama Papa dan Mama," kata Evan lebih tenang.
Elara menepis tangan Evan yang hendak menyentuh lengannya. "Tidak perlu. Lebih baik kau urus saja urusanmu."
"Elara-"
"Bukankah kau sibuk dengan upacara pengangkatanmu sebagai kesatria resmi kerajaan? Jangan ganggu aku," suara Elara dingin.
Langkah Elara cepat menjauh.
"Elara?!"
Evan memanggil lagi.
Namun Elara tidak menoleh. Koridor panjang itu seolah menelan langkahnya.
Evan berdiri sendirian, rahangnya mengeras.
"Brengsek," gumam Evan pelan, bukan pada Elara, melainkan pada keadaan yang tak pernah sederhana bagi mereka berdua.
Dan di luar gedung akademi, angin musim semi berhembus lebih kencang.
Seolah tahu bahwa di antara dua anak Ravens, retakan kecil baru saja terbentuk.
Retakan yang mungkin akan mengacaukan kedekatan si kembar karena yang menyentuh harga diri, kehormatan, dan bayangan panjang dari nama besar keluarga Ravens.
Langit sore di atas Kerajaan Aurelius perlahan berubah keemasan ketika Elara Ravens melangkah keluar dari gerbang Akademi Kesatria.
Biasanya, selepas pelajaran, ia akan berjalan pulang menyusuri jalan batu menuju Kediaman Duke Ravens yang menjulang anggun di distrik bangsawan. Biasanya, ia akan mengatur napasnya, mengulang teknik di kepala, atau memersiapkan diri menghadapi tatapan para pelayan yang selalu terlalu hormat dan terlalu berhati-hati.
Namun hari ini, langkah sang gadis tidak mengarah ke rumah. Kakinya berbelok menuruni jalan besar yang ramai, menuju jantung ibu kota.
Elara tidak ingin pulang lalu melihat wajah Papa yang tenang namun penuh kasih. Tidak ingin melihat Mama yang mungkin akan menatapnya dengan lembut dan itu justru lebih menyakitkan.
Elara bahkan belum mau melihat Evan dengan seragam resminya yang segera akan menerima pengangkatan sebagai kesatria kerajaan. Terutama setelah pertengkaran mereka tadi.
Gadis itu bahkan tidak tahu harus berkata apa jika mereka bertanya. Mungkin Elara sedang tidak ingin mendengar apa pun tentang dirinya.
Angin sore menyibakkan rambut hitam Elara. Pasar mulai ramai oleh pedagang yang menyalakan lentera. Aroma roti hangat, sup kaldu, dan daging panggang bercampur di udara.
Langkah Elara akhirnya berhenti di depan bangunan kayu dua lantai yang tidak mewah, namun hangat.
Papan kayunya bertuliskan: 'Kuali Besi Berderak.'
Tempat makan sederhana yang sudah ia datangi sejak beberapa tahun lalu, tanpa pengawalan, tanpa identitas sebagai putri Duke, hanya sebagai Elara. Walau semua orang tahu Elara adalah putri Duke, tapi di sini semua orang melihat Elara hanyalah seorang gadis biasa.
Elara mendorong pintu.
Bel kecil di atasnya berdenting.
Suasana di dalam riuh oleh tawa dan dentingan cangkir kayu. Bau daging panggang langsung menyambutnya seperti pelukan hangat.
Beberapa pelanggan mengenalinya, menyambut Elara dengan suka cita seperti teman dekat.
Itulah yang Elara suka.
Gadis itu duduk di meja pojok dekat jendela.
"Seperti biasa!" seru Elara pada pelayan muda yang berlari kecil menghampirinya.
Tak lama kemudian, sepiring besar daging panggang dengan kentang rebus dan roti hangat diletakkan di hadapannya.
Elara menatap makanan itu. Uapnya mengepul. Aromanya menggoda.
Namun Elara hanya menusuknya pelan dengan garpu kayu.
Pikirannya kembali pada kejadian di akademi.
Skorsing.
Pertandingan ranking.
Tatapan kecewa Kepala Akademi.
Dan wajah Evan.
Elara memejamkan mata sesaat. Ia tahu Evan tidak bersalah. Ia tahu kembarannya itu hanya khawatir. Namun kata-kata Evan tadi terasa seperti penghakiman.
Kenapa kau harus melakukan semuanya dengan kekerasan?
Karena aku lelah. Karena aku selalu kalah. Karena aku tidak pernah cukup, batin Elara.
Elara menelan ludah.
Dan untuk kini rasa bersalah menyelinap pelan di antara amarahnya. Ia tidak seharusnya melampiaskan emosinya pada Evan.
Evan tidak pernah menganggap Elara demikian. Justru dunia lah yang melakukannya.
"Elara Ravens!"
Sebuah pukulan keras mendarat di punggungnya.
"AGH!" Elara tersedak hampir menjatuhkan garpunya.
Elara berbalik dengan wajah meringis.
Seorang perempuan bertubuh tinggi dengan rambut cokelat kemerahan yang digelung sembarangan berdiri di belakangnya, tangan bertolak pinggang dan senyum lebar menghiasi wajahnya. Matanya tajam seperti elang, namun penuh kehidupan.
Namanya Mirena Valen. Namun Elara memanggilnya Bibi Mirena, sang pemilik tempat makan ini.
"Kenapa kau memasang wajah murung seperti itu, Tuan Putri?" seru Mirena penuh semangat.
Elara memijat punggungnya. "Agh, Bibi! Kau itu pemilik bar atau tukang pukul sebenarnya? Kenapa pukulanmu selalu terasa sampai ke tulang?"
Mirena tertawa keras, suara tawanya memenuhi ruangan.
"Itu karena kau kurang makan! Ototmu tidak ada! Makan banyak daging! Baru bisa kuat! Lihat ini!" Mirena menepuk lengannya sendiri yang kekar.
Elara menghela napas panjang. Namun tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat.
Senyum pertama Elara hari ini.
Mirena memerhatikannya dengan mata menyipit. "Nah, itu baru wajah Elara yang kukenal. Sekarang katakan, kenapa kau yang biasa tidak diam kini wajahnya ditekuk seperti roti basi?"
Elara mendelik. "Kau membuatku terdengar seolah aku biang keributan di sini, Bibi."
Mirena menyeringai. "Bukankah memang seperti itu?"
Beberapa pelanggan tertawa kecil mengejek Elara.
Elara menatap para pelanggan yang justru semakin tertawa. "Diam kalian!"
Mirena duduk di hadapannya tanpa izin. "Jadi, apa yang terjadi? Biasanya kau datang kemari dengan cerita tentang duel yang hampir kau menangkan atau bagaimana kau mengalahkan pria dua kali ukuranmu."
Elara terdiam sejenak. Lalu berkata pelan, "Aku diskors."
Mirena membelalak. "Kau apa?"
"Diskors," ulang Elara.
"Kenapa? Bukankah tiga hari lagi ada ujian kenaikan ranking?" tanya Mirena.
Elara menusuk dagingnya lagi, tapi tak benar-benar memakannya. "Aku memukuli seniorku."
Mirena mengangguk pelan. "Bukankah itu sudah biasa."
Elara menatap Mirena dengan air muka protes. "Dan aku juga memukul seorang guru," tambahnya.
Hening.
Beberapa detik yang terasa panjang.
Lalu Mirena tertawa keras hingga hampir terjatuh dari kursinya.
"Benar-benar seperti dirimu!"
"Bibi!" Elara mendesis malu.
Mirena menyeka sudut matanya yang berair karena tertawa. "Biar kutebak. Mereka meremehkanmu lagi?"
Elara mengangguk pelan. "Dan kali ini mereka membawa-bawa soal ibuku."
Senyum Mirena perlahan memudar. Wajahnya berubah serius. Tangannya terlipat di dada.
"Oh. Kalau begitu kau tidak salah memukul mereka," kata Mirena pelan namun tegas,
Elara terkejut.
"Jika aku di sana, aku juga akan memukul mereka. Tidak peduli itu guru sekali pun," lanjut Mirena.
Beberapa pelanggan yang mendengar mengangguk setuju.
"Bukan soal mereka meremehkanmu saja. Tapi mereka berani mengungkit Duchess Liora Ravens. Salah satu pahlawan kerajaan ini," kata Mirena.
Elara menunduk. Dadanya terasa hangat sekaligus berat.
"Tapi tetap saja aku diskors," ucap Elara.
Mirena mendecak pelan. "Elara."
"Bibi, bagaimana jika aku berhenti saja menjadi kesatria? Kepala Akademi mengatakan secara tidak langsung aku tidak pantas jadi kesatria," kata Elara.
"Kau salah makan hari ini? Sejak kapan kau jadi pesimis seperti ini?" Mirena memasang wajah terkejut.
Elara mengangkat bahu lemah. "Mungkin aku memang tidak cocok. Staminaku lemah. Aku selalu kalah kalau melawan lebih dari tiga orang. Semua orang membandingkanku dengan Evan. Kurasa aku jadi pemilik bar sepertimu saja," katanya setengah bercanda.
Mirena mendengus keras. "Kalau begitu kurasa aku harus menjejalkan seluruh panggangan dagingku ke mulutmu sampai kau sadar."
Elara terkekeh.
"Menyerah bukan seperti dirimu. Bukankah kau yang berdiri di atas meja ini setahun lalu dan berteriak bahwa kau akan menjadi kesatria terhebat sepanjang masa?" lanjut Mirena.
Wajah Elara langsung memerah. "Bibi! Jangan ingatkan kejadian memalukan itu!"
Pelanggan di meja sebelah ikut tertawa.
Mirena tertawa lagi dan memukul punggung Elara sekali lagi.
"AGH! Bibi!" protes sang gadis.
"Kalau kau menyerah, aku akan benar-benar memukulmu sampai sadar! Menyerah bukan gayamu, Tun Putri!" kata Mirena.
Elara tertawa. Tawa yang lebih tulus dari sebelumnya.
Untuk sesaat, beban di dadanya terasa lebih ringan.
Namun sebuah getaran aneh menjalar di lantai kayu.
Elara mengerutkan kening. "Apa itu?"
Gelas-gelas di rak mulai bergetar.
Lentera bergoyang.
DUARR!!
Ledakan dahsyat mengguncang seluruh bangunan.
Dinding kayu hancur. Kaca jendela pecah berkeping-keping.
Elara tidak sempat berpikir. Tubuhnya terlempar ke belakang. Dunia berputar dalam sekejap.
Suara kayu patah, jeritan orang, dan debu memenuhi udara.
Lalu gelap.
Beberapa detik atau menit kemudian.
Elara membuka mata perlahan, tubuhnya terasa berat.
Debu mengaburkan pandangan gadis itu.
Elara menyadari dirinya tergeletak di lantai, tertimpa meja yang pecah dan serpihan dinding.
Sakit menjalar di seluruh tubuh Elara ketika ia mencoba bergerak
"Bibi?" suara Elara serak ketika melihat Mirena tak jauh darinya
Gadis itu memaksakan diri mengangkat meja yang menindihnya. Dengan susah payah, ia merangkak keluar.
Elara mendapati Mirena tergeletak tak sadarkan diri dengan kepala berlumur darah.
"Bibi?!"
Elara merangkak mendekat.
Namun sebelum ia sempat menyentuh Mirena ... bayangan besar menutupi cahaya senja.
Tanah kembali bergetar.
Elara menoleh perlahan.
Dan napasnya terhenti ketika netranya menatap yang tidak pernah ia sangka.
Sosok raksasa berdiri di tengah reruntuhan bar. Tubuhnya menjulang lebih tinggi dari bangunan dua lantai yang kini setengah hancur. Kulitnya kelabu seperti batu, dengan retakan merah menyala di sela-selanya. Mata kuningnya menyala buas. Taring panjang menyembul dari rahangnya.
Monster.
Bukan sekedar binatang liar. Ini makhluk kelas tinggi. Sesuatu yang biasanya hanya muncul di perbatasan kerajaan, bukannya di tengah ibu kota.
Elara melangkah maju. Setiap langkahnya menghancurkan batu dan kayu di bawahnya.
Elara membelalak. Tubuhnya gemetar, namun bukan karena takut tapi karena ia tahu keadaan terburuknya.
Gadis itu sedang diskors. Ia dilarang bertarung apalagi membawa pedang, bahkan bukan kesatria resmi.
Namun di belakang Elara, Mirena tak sadarkan diri. Dan di sekitar, orang-orang berteriak ketakutan.
Darah Ravens mengalir panas di nadi Elara. Staminanya mungkin lemah. Rankingnya mungkin rendah, namun ia tetap putri Duke Alaric Ravens.
Elara perlahan berdiri.
Tangan Elara gemetar, tapi ia menggenggam pecahan kayu panjang seperti tombak darurat. Matanya menatap monster itu tanpa berkedip.
"Kalau kau ingin menghancurkan tempat ini, kau harus melewatiku dulu," ujar Elara
Angin berhembus membawa debu dan bau asap.
Dan monster itu mengaum.
Suara yang mengguncang sisa-sisa dinding. Bersama Elara yang berada di sana.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!