Perawang-Riau, 03-03-2026
***
Sudah setengah tahun lamanya Abram menderita penyakit kulit misterius yang tak kunjung sembuh.
Awalnya hanya muncul sebagai bintik-bintik kemerahan di lengannya, tapi seiring waktu, luka menyebar ke seluruh tubuhnya, dari dahi hingga tumit.
Kulitnya kini penuh dengan nanah kental yang bercampur darah, dan baunya yang menyengat dan busuk, bahkan dari jarak beberapa meter.
Ia sudah tidak bisa menghitung berapa kali ia terbangun di tengah malam karena rasa gatal dan sakit.
Di dapur yang kumuh dan sesak, Abram melihat lemari es yang kosong dan rak makanan yang hanya tersisa roti kering.
Ia mengeluarkan tangan yang kulitnya mengelupas, mengambil gelas dan menuangkan sedikit air dari keran.
Air itu tidak akan cukup untuk memasak apa-apa, apalagi sudah tidak ada bahan makanan lagi.
Hidungnya terasa tersumbat, bukan hanya karena bau dirinya sendiri, tapi juga karena penyakitnya yang membuatnya sering terkena pilek.
"Akhirnya harus keluar juga ya untuk membeli makanan," gumamnya sambil meraih tumpukan baju bekas yang ada di atas kasurnya yang bau.
Ia memakai baju dengan tiga lapis baju agar nanah dan bau busuk tidak terlalu menyebar.
Setelah itu, ia memasang masker kain tebal yang sudah sering ia digunakan, menutupi hidung dan mulutnya hingga hanya mata yang terlihat.
Mata Abram yang dulu bulat kini tampak sayup karena nanah juga tumbuh di kelopak matanya.
Di dalam laci meja, ia mengambil sisa uang hasil penjualan tanah terakhir yang ditinggalkan orang tuanya sebelum meninggal dunia.
Saat ia pertama sakit, tanah itu adalah satu-satunya harta yang bisa ia jual untuk biaya pengobatan dan kebutuhan hidup.
Tapi Sekarang, uang yang tersisa sudah semakin sedikit hanya cukup untuk membeli beras dan lauk sederhana untuk beberapa hari.
Abram juga tidak bisa bekerja lagi, setiap tempat yang pernah ia datangi untuk mencari pekerjaan langsung menolaknya begitu melihat kondisi kulitnya, bahkan teman yang pernah ia bantu dulu juga menolaknya.
Ia juga sudah berkali-kali berobat ke puskesmas setempat dan bahkan ke dokter swasta yang lebih mahal.
Dokter tidak bisa menentukan penyakitnya, beberapa dokter mengatakan itu adalah infeksi jamur yang parah, Dokter yang lain menduga jika penyakit Abram menular.
Obat-obatan yang diberikan tidak membuatnya sembuh, malah membuat kondisi kulitnya semakin parah, dengan kudis yang semakin dalam dan nanah yang semakin banyak keluar.
Beberapa kali Abram merasa ingin menyerah, tapi ingatan akan orang tuanya yang selalu mengajarkannya untuk tidak mudah putus asa membuatnya tetap bertahan.
Setelah siap, Abram membuka pintu rumahnya yang sedikit lapuk
Ia berjalan dengan langkah cepat agar bisa menghindari bertemu dengan tetangganya.
Tapi di kampung yang kecil dan padat penduduk seperti ini, ia pasti bertemu dengan mereka.
Saat ia lewat di depan teras rumah tetangga-tetangganya, suara bisik dan tawa mereka tiba-tiba berhenti.
Tetangganya yang dulu sering tersenyum padanya kini berubah menjadi jijik. Beberapa orang langsung menutup hidung dengan tangan mereka.
"Ugh! Bau banget! Gimana bisa dia keluar rumah dengan bau seperti itu?" kata seorang ibu muda sambil menutup hidungnya.
Abram tetap berjalan. Ia tidak sengaja melihat ke arah mereka, dan ia melihat bagaimana ekpresi mereka.
"Hey Abram, kalau mau pergi ya pergi saja! Ngapain lihat ke arah kami? Muka kamu yang penuh nanah itu menjijikkan, bikin aku mau muntah!" teriak Buk Sri yang berdiri di depan pintu rumahnya dengan mata membelalak.
Abram langsung tertegun dengan ucapan buk Sri. Padahal Buk Sri pernah meminjam uang sebesar satu juta rupiah darinya ketika suaminya sakit parah beberapa tahun yang lalu.
Tapi Ketika Abram untuk menagihnya mengembalikan tapi ia malah mendapatkan perlakuan buruk.
"Masa uang segitu aja kamu tagih? Kalau seratus juta mungkin iya akan aku kembalikan, dasar pelit!" begitulah kata-kata Buk Sri dulu.
Akhirnya, Abram hanya bisa mengikhlaskannya. Tapi sekarang, orang yang pernah ia bantu justru menjadi orang pertama yang mencaci maki dirinya.
Tanpa berkata apa-apa, Abram mengalihkan pandangannya dan melanjutkan langkahnya.
Ia ingin segera sampai di pasar yang ada sekitar dua kilometer dari rumahnya.
Tapi ketika ia hendak berbelok jalan kecil yang menghubungkan kampung dengan jalan raya, sebuah motor yang membawa tumpukan rumput tinggi mendekat ke arahnya dan menabrak Abram membuat pengendara dan Abram sama-sama terjatuh ke tanah.
Brukk!
Suara benturan yang keras membuat beberapa tetangga yang sedang nongkrong di teras rumah berbalik melihat.
Pengendara motor, yang dikenal sebagai Pak Adi terjatuh dengan bokongnya terbentur keras ke tanah yang penuh batu kecil.
"Aduhhh! Sakit banget!" keluh Pak Adi sambil meraih bokongnya yang membengkak.
Abram cepat-cepat berdiri, meskipun tubuhnya terasa sakit karena benturan dan beberapa luka di lengannya mulai mengeluarkan nanah lagi.
"Ah maaf Pak, maafkan saya!" ucapnya sopan, ia mencoba untuk mengulurkan tangan ke arah Pak Adi untuk membantunya berdiri.
Tapi tangan itu langsung ditepis dengan keras oleh Pak Adi.
"Jangan sentuh aku dengan tangan busuk kamu itu! Aku tidak mau terjangkit penyakit menular kamu!" Pak Adi berteriak dengan suara keras yang terdengar jelas di seluruh kampung.
Para tetangga yang tadinya hanya melihat dari kejauhan kini mulai berkumpul di sekitar mereka, dengan wajah yang penuh dengan rasa penasaran dan jijik.
"Maafkan saya Pak, saya hanya ingin membantu," kata Abram dengan hati yang tulus.
Pak Adi berusaha berdiri dengan susah payah, wajahnya memerah karena kesakitan dan marah.
Ia menatap Abram dengan pandangan yang menyakitkan."Membantu? Membantu Gundulmu! Kamu mau aku terjangkit penyakit mu? Dan kamu jalan nggak punya mata ya? Nggak lihat aku membawa beban yang besar, malah kamu menabrakku sembarangan!" Pak Adi semakin marah.
Padahal Pak Adi adalah orang yang pernah di bantu oleh mending ayahnya modal untuk peternakan kambing.
Tapi setelah ayah Abram meninggal, Pak Adi pura-pura tidak tahu dan menganggap peternakan kambing yang kini mencapai 250 ekor adalah usahanya sendiri. Bukan dari ayah Abram.
"Ya begini nih, kalau anak tanpa orang tua lagi, nggak ada yang nasehatin, udah nggak tau sopan santun. Jangan-jangan penyakit kulitnya ini pasti karena pernah durhaka sama orang tuanya, soalnya sama kita aja dia nggak sopan!" Kata Pak Adhi dengan wajah memerah penuh kemarahan.
Pa Adi sambil menggerutu sambil mengamati Abram yang berdiri diam di tengah para warga yang mengelilinginya itu. Suasana terasa mencekam dengan suara bisik-bisik warga yang semakin ramai mengelilingi mereka.
"Benar juga, ini pasti azab dari Tuhan karena dia telah melakukan keburukan!" Buk Siti menambahkan, tangannya mengepal keras dan pandangannya penuh tuduhan.
Abram terdiam, raut wajahnya pucat bukan hanya karena penyakit kulit yang menyebar di lengannya dan wajahnya, tetapi juga karena rasa sakit yang menusuk hati. Ia mengingat jelas setiap bantuan yang pernah ia berikan.
Membantu Pak Adhi memperbaiki atap rumah saat angin kencang, mengantar anak Buk Siti ke dokter saat ibu nya tidak bisa pergi.
Bahkan pernah meminjamkan uang simpanannya untuk biaya pengobatan suami Buk Sri. Tapi kini, para tetangga yang dulu menerima bantuannya dengan senyum kini hanya melihatnya sebagai orang sial.
Dengan hati yang hancur, Abram melangkahkan kakinya yang sedikit goyah untuk pergi dari sana.
Ia berniat pergi ke pasar sebentar aku pulang. Namun langkah kakinya baru beberapa langkah, ia dihalangi oleh Buk Sri yang berdiri dengan wajah memerah penuh kemarahan.
"Heh mau pergi kemana kamu hah! Kamu itu pantasnya di usir saja dari tempat ini! Kami nggak mau kena sial gara-gara penyakit mu itu!" teriaknya dengan suara nyaring.
Buk Sri mulai menggerakkan tangannya untuk mengusir Abram, membuat para warga yang sudah mulai terbawa emosi.
"Kenapa kalian mengusir ku? Aku tidak pernah melakukan kesalahan pada kalian, aku juga sudah pernah membantu kalian, setidaknya biarkan aku tinggal di rumah mendiang orang tua ku," kata Abram dengan suara yang sedikit bergetar, tangannya mengepal kuat.
"Heh membantu kamu bilang? Bantuan hanya seujung kuku itu kamu ungkit, kami lebih berbaik hati karena sudah membiarkan orang seperti kamu tinggal di tempat ini selama ini. Jadi kami sudah tidak tahan lagi, lebih baik kamu pergi dari sini! Kami nggak mau terjangkit penyakit aneh mu itu!" Pak Adi menjawab dengan suara lantang, sambil menginjak-injak tanah dengan kasar.
"Ya betul itu!" seru warga lain yang ikut bersuara.
"Ya kami setuju! Usir dia dari sini!" teriak yang lain, suara seruan saling bersahutan membuat suasana semakin panas.
Abram melihat sekeliling, wajah-wajah yang dulu akrab kini penuh kebencian. Kepalanya menjadi pusing karena suara teriakan yang berdecak-decak di telinganya, sementara tubuhnya merasa semakin lemah akibat penyakit yang telah lama.
Tanpa diduga, Pak Adi dengan geram melangkah cepat dan menendang bokong Abram hingga ia tersungkur ke tanah kasar. Tubuhnya bergesek dengan batu dan rerumputan kering, membuat luka di kaki dan tangannya semakin membesar, sementara bekas nanah dari penyakit kulitnya meleleh dan menyatu dengan darah yang keluar dari luka baru.
"Ughhhhh!" keluh Abram dengan suara penuh rasa sakit luar biasa, karena kulitnya yang sudah lemah terkelupas saat bergesek dengan tanah.
Ia berusaha bangkit, tapi tubuhnya terlalu lemah dan rasa sakit yang luar biasa membuatnya hanya bisa merangkak perlahan menjauh dari kerumunan warga yang masih terus meneriakkan kata-kata kebencian.
"Bakar rumahnya! Bakar!" kata Buk Sri.
Suara mereka bergema dengan suara Abram hingga membuat dirinya gemetar rasa takut dan marah.
Kaki nya terasa lemah, tubuhnya gemetar hebat saat dia merangkak perlahan ke arah gerombolan warga.
"Tolong... jangan lakukan ini. Ini satu-satunya yang ku punya dari orang tua ku... satu-satunya peninggalan mereka!" ucapnya dengan suara serak, dan rasa takut dan suara yang membuat ia menangis.
Matanya memerah, air mata mengalir deras menyusuri pipinya yang penuh nanah, dia terjatuh beberapa kali saat berusaha menghalangi mereka.
Tapi para warga di depannya hanya menunjukkan kemarahan yang membara, tak ada sedikit pun rasa iba pada Abram.
"Salahmu sendiri, Abram! Kau membawa bencana bagi tempat ini!" teriak seorang pria bertubuh besar yang memegang kaleng bensin di tangannya.
Pria itu pun menuangkan bensin itu ke dinding kayu rumah mendiang orang tua Abram hinga merata di sekelilingnya.
"Tidakkkkkkkkkk!" teriak Abram dengan keras.
Ia berusaha berdiri namun kembali terjatuh. Air mata sudah menutupi pandangannya, membuat pandangannya kabur.
Dia merangkak lebih cepat, mencoba meraih kaki pria itu tapi hanya berhasil menyentuh tanah yang sudah terbasahi bensin.
"Jangan... tolong... aku akan pergi jauh dari tempat ini, aku tidak akan pernah mengganggu kalian lagi!" jeritan nya semakin keras, tapi tidak ada yang peduli.
Seorang wanita muda mengangkat korek api, lalu menghidupkan korek api tersebut lalu melempar ke arah rumahnya itu.
"Tidakkkkk! Jangan bakar!" teriak Abram lagi, matanya tertutup oleh air mata yang tak pernah berhenti mengalir, tangannya mencapai, tapi tak sampai.
Dalam sekejap, nyala api membakar dengan cepat dan membakar seluruh dinding. Api besar membakar rumah dengan cepat.
"Rumah kuuuuu!" teriak Abram dengan isak tangis. Dia mencoba menerobos ke dalam tapi panasnya begitu menyengat hingga membuatnya terpental mundur.
Dia jatuh di tanah, melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana setiap sudut rumah tempat dia tumbuh besar, tempat dia berbagi tawa dan air mata dengan orang tuanya, perlahan-lahan hancur di dalam nyala api yang besar.
"Sekarang pergilah kamu dari sini! Rumahmu juga sudah terbakar, tidak ada alasan bagi kamu untuk tinggal di sini lagi, kami tidak mau terkena penyakit menular itu yang kamu derita!" kata Pak Adi dengan suara yang menggema, wajahnya penuh dengan kebencian.
"Benar tuh! Pergi kamu dari sini! Kami tidak menerimu di sini lagi!" teriak seorang warga perempuan yang dulu pernah dibantu mendiang ibu Abram saat anaknya sakit parah dan membayar biaya biaya rumah sakitnya.
Seruan itu langsung diikuti oleh sorak sorai penuh kebencian dari sekelompok warga lainnya, tangan mereka mengangkat keras seolah ingin mengusir makhluk yang mengancam keselamatan mereka.
Benar-benar hancur hati Abram. Hanya dalam sekejap, hidupnya runtuh total. Ia mengalami penyakit kulit misterius di seluruh tubuhnya yang dianggap warga sebagai penyakit mematikan, sekarang ia harus menyaksikan rumah orang tuanya terbakar oleh para warga.
Dan kini, orang-orang yang pernah ia bantu mereka dalam kesusahan, justru yang paling kuat mengusirnya.
"Apa yang kamu tunggu lagi! Sana pergi!" ujar salah satu pemuda desa sambil memberikan tendangan keras di bagian paha Abram dengan kuat.
Dengan kaki gemetar, Abram berdiri dengan susah payah. Tubuhnya yang sudah lemah akibat kondisi yang tidak diketahui membuat setiap gerakan terasa sangat berat.
Tanpa berkata sepatah kata pun, ia berbalik dan pergi meninggalkan tempat kelahirannya yang kini menjadi tempat paling menyakitkan dengan langkah kaki yang terseok-seok.
Di perjalanan, ia tidak tahu mau kemana dan harus melakukan apa. Uang yang ia bawa hanya sedikit, cukup untuk membeli beberapa bungkus roti dan air selama satu hari saja. Sementara itu, ia tidak punya tempat tinggal apapun, dan setiap kali ia mencoba mendekati pemukiman kecil di sepanjang jalan, orang-orang langsung menjauh dengan tatapan takut setelah melihat kondisi kulitnya.
Matahari yang terik membuat tubuhnya semakin lesu. Tiba-tiba saja dada Abram menjadi sangat sesak, detak jantungnya berdebar kencang tak karuan, tubuhnya terasa lemah seolah semua kekuatan telah terkuras habis.
Saat ia mencoba melangkah lagi, kakinya tersandung sebuah batu sebesar kepalan tangan. Ia tak kuasa untuk menahan diri, Abram terjatuh hingga tersungkur di aspal yang panas itu.
Bagian kakinya yang terkena batu langsung berdarah, tapi rasa sakit di bagian dada dan jantungnya semakin kuat, Ia mencoba merangkak, tapi tubuhnya tak sanggup lagi.
"Apakah ini akhir hidupku? Apakah aku akan mati seperti ini saja, tanpa tahu mengapa semua ini terjadi padaku... Tapi aku masih ingin hidup lebih baik. Aku ingin membuktikan bahwa aku bukan anak sial bagi orang lain... Jika aku diberi kesempatan lagi, aku ingin tetap menjadi orang baik. Aku ingin membantu orang lain seperti yang kulakukan dulu..."
Setelah mengucapkan kata-kata terakhir itu dengan suara yang sangat lemah, Abram memejamkan matanya. Nafasnya yang pendek perlahan-lahan berhenti sama sekali. Tubuhnya pun tak bergerak lagi di atas aspal yang panas.
Para warga berkerumun berkeliaran di sekitar tubuh Abram yang terbaring tak bergerak di pinggir jalan raya.
Tangan mereka menutupi hidung dari bau menyengat yang keluar dari luka-luka di tubuh Abram, nanah kental mengalir perlahan, dan segerombolan lalat berkeliaran di atasnya, membuat jadi menjijikkan.
Namun tak seorang pun yang berani mendekat atau memberikan bantuan sedikit pun. Mereka takut menjadi tersangka
"Cepat-cepat, telepon ambulans! Jangan biarkan dia hanya dibiarkan seperti ini!" teriak seorang pemuda.
Tanpa berlama-lama, salah satu warga yang membawa ponsel segera menghubungi layanan darurat.
Dalam waktu kurang dari dua puluh menit, sirene ambulans terdengar semakin jelas hingga akhirnya kendaraan putih itu berhenti tepat di depan kerumunan warga. Dua dokter dan seorang perawat segera turun dengan perlengkapan medis, lalu mendekat ke arah Abram dengan hati-hati.
Setelah melakukan pemeriksaan cepat, salah satu dokter menggelengkan kepala dengan ekspresi penuh kesedihan. "Nyawanya sudah tidak bisa terselamatkan lagi. Ia sudah berhenti bernapas beberapa menit yang lalu," ujarnya dengan suara rendah.
Merekan pun menutupi tubuh Abram dengan kain putih tipis. "Kita akan membawanya ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut dan memastikan penyebab kematiannya."
Dokter Gilang, ada darah di batu ini, apa perlu di bawa batunya?" tanya Dokter Miska.
"Bawa saja, sepertinya itu darah jenazah ini," kata dokter Gilang. Meski nyawa tak bisa diselamatkan, tubuh Abram tetap dibawa ke Rumah Sakit.
...*****...
Kamar jenazah Rumah Sakit Umum terasa sejuk dan sunyi. hanya di terangi Cahaya lampu neon yang redup.
Di salah satu brangkar, tubuh Abram terbujur kaku, ditutupi kain putih bersih yang menutupi seluruh badannya hingga ke ujung jari kaki.
Tiba-tiba saja Batu itu mengeluarkan suara
"Krek... krek... BLARRR!"
Batu besar itu tiba-tiba mulai retak hingga akhirnya pecah menjadi dua bagian.
Dari dalam pecahan batu itu, muncul sebuah batu kecil berbentuk oval, berwarna kuning keemasan yang memancarkan kilauan cahaya emas.
Batu kuning itu perlahan-lahan terbang melayang di udara, mengarah tepat ke arah dada Abram yang tertutup kain putih.
Batu itu tiba-tiba berhenti dan tertahan di tengah udara. Tiba-tiba saja Batu itu tertanam di dada Abram.
Ada sebuah akar-akar berwarna emas itu langsung menyebar ke seluruh tubuhnya, setiap akar memancarkan cahaya emas yang mulai memperbaiki sel-sel yang rusak satu per satu.
Di bagian kulit yang dulunya penuh dengan luka dan bercak-bercak nanah akibat penyakit kulit misterius, cahaya emas itu bekerja dengan perlahan, lukanya mulai menutup, nanah di semua tubuhnya mulai mengering dan kulit yang sebelumnya kasar dan pecah-pecah perlahan berubah menjadi lembut dan halus seperti bayi.
Tak hanya itu, akar Batu itu menyambung ke mata dan otak Abram. Cahaya yang mengalir melalui akar itu memberikan kekuatan luar biasa.
Tapi ada satu akar utama menyambung langsung ke jantung Abram yang telah berhenti berdetak. Batu kuning itu mulai memompa energi ke dalam jantung, seperti sebuah mesin kecil yang bekerja.
"Thump... thump... thump..."
Suara detak jantung yang pelan mulai terdengar. Detakannya perlahan-lahan semakin kuat.
Tubuh Abram yang tadinya dingin mulai menghangat, warna kulitnya kembali normal, dan napas perlahan mulai teratur.
"Aku telah memberikanmu kekuatan yang berasal dari sumber kehidupan yang tua. Kau telah dipilih untuk menjalankan tugas penting di dunia ini, jadi hiduplah dengan baik dan gunakan kekuatan ini dengan bijak," ucap suara itu.
Abram yang belum sadarkan diri itu mendegar suata tersebut meskipun ia masih dalam keadaan pusing, perlahan-lahan ia mendengar suara itu dengan kesadaran yang mulai pulih.
Kemudian matanya perlahan terbuka. Saat matanya terbuka penuh, ia terkejut karena ia berada di tempat asing, ia bisa merasakan energi yang mengalir ke dalam tubuhnya itu.
Abram dengan mencoba mengangkat badan dan duduk di atas brangkar. Ketika ia melihat sekeliling, ia melihat beberapa tempat brangkar lain di sekitarnya dan orang-orang di sana juga ditutupi kain putih.
Abram kebingungan, Ia melihat tangannya yang kini tampak sehat dan kuat, lalu melihat ke arah dada di mana batu kuning itu masih berada dan menempel dan memancarkan cahaya lembut.
"Di mana aku? Dan apa yang sebenarnya terjadi padaku?"
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!