Indonesia
NovelToon NovelToon

Sembilan Gulungan Naga Legendaris

Bab 1 : Pelayan yang Dihina

Hujan rintik membasahi halaman Akademi Pedang Awan Biru ketika Lin Feng membawa keranjang besar berisi pakaian kotor para murid dalam. Tangannya merah karena air dingin, punggungnya sakit karena membungkuk sejak subuh, tapi ia tidak mengeluh. Mengeluh tidak akan mengubah apapun.

"Hei, sampah!"

Lin Feng menghela napas. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang memanggilnya. Suara arogan itu sudah terlalu familiar.

"Aku bicara padamu Lin Feng!" Zhao Ming, seorang murid dalam Ranah Pengumpulan Qi Lapisan Ketiga, berjalan mendekat dengan lima temannya. Senyum mengejek terpasang di wajahnya.

"Apa kamu tuli sekarang? Atau Akar Spiritual Kekacauan-mu juga merusak pendengaranmu?"

Teman-temannya tertawa. Lin Feng kemudian meletakkan keranjang dan membungkuk sopan. "Maaf, Kakak Senior Zhao. Saya sedang fokus membawa cucian. Ada yang bisa saya bantu?"

"Fokus?" Zhao Ming mendengus. "Untuk apa pelayan sampah sepertimu butuh fokus? Oh tunggu, aku lupa, kamu masih bermimpi menjadi kultivatorkan?"

Teman teman Zhao Ming banyak yang tertawa terbahak-bahak. Lin Feng mengepalkan tangannya, tapi tetap menjaga ekspresi wajahnya yang tenang. Sepuluh tahun. Sepuluh tahun sejak ia menjadi pelayan di akademi ini. Sepuluh tahun dihina, direndahkan dan dijadikan bahan lelucon.

Tapi ia tetap bertahan. Karena di sinilah ia bisa belajar, bahkan hanya dengan mengamati dari kejauhan, bahkan hanya dengan membaca buku-buku lama yang dibuang ke gudang oleh akademi.

"Dengarkan baik-baik Lin Feng," Zhao Ming melangkah lebih dekat, qi-nya mulai mengalir membuat udara di sekitarnya bergetar.

"Aku muak melihat wajahmu di akademi ini. Kamu tahu kenapa? Karena kamu mengingatkanku bahwa orang sampah sepertimu masih bisa masuk ke akademi terhormat ini. Itu sangat memalukan."

"Kakak Senior Zhao..."

"Diam!" Zhao Ming mendorong dada Lin Feng, membuatnya tersandung ke belakang. Keranjang cucian yang dipegang nya terjatuh, pakaian-pakaian yang sudah dicuci sebelumnya berserakan di tanah.

"Kamu pikir kamu layak berbicara denganku?"

Lin Feng menatap pakaian-pakaian yang sudah ia cuci sejak pagi, kini kotor kembali. Sesuatu di dadanya terasa sakit, bukan karena sakit fisik tapi karena kelelahan. Kelelahan dari kehidupan seperti ini.

"Minta maaf sekarang juga," perintah Zhao Ming. "Berlutut dan minta maaf karena telah menodai akademi ini dengan kehadiranmu."

Keheninganpun terjadi diantara mereka. Lin Feng mengangkat kepalanya menatap langsung ke mata Zhao Ming. Dan untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun ia berkata, "Tidak."

Ekspresi Zhao Ming seketika berubah menjadi marah. "Apa kau bilang?"

"Aku bilang tidak." Lin Feng berdiri dengan tegak, meskipun jantungnya berdetak lebih kencang. "Aku tidak akan berlutut. Bukan untukmu dan bukan untuk siapapun."

"Sekarang Kau berani ya.!" Zhao Ming mengangkat tangannya, seketika qi petir berkumpul di telapak tangan nya. "Sepertinya kau butuh pelajaran tentang menghormati yang lebih kuat!"

"Zhao Ming!"

Suara dingin memotong ketegangan di antara mereka. Seorang gadis cantik berpakaian biru langit berjalan mendekat. Rambut hitamnya diikat tinggi, mata tajamnya menatap Zhao Ming dengan marah.

"Senior Bai!" Zhao Ming segera menarik qi-nya kembali, dan membungkuk dengan hormat. "Aku hanya..."

"Hanya apa? Menggertak seorang pelayan?" Ucap Bai Yun melirik ke arah Lin Feng sekilas sebelum kembali ke Zhao Ming. Bai Yun adalah salah satu jenius murid dalam, yang sudah berada di Ranah Pengumpulan Qi Lapisan Keenam.

"Bukankah kamu punya hal yang lebih berguna untuk dilakukan? Atau mungkin kultivasimu sudah begitu sempurna sehingga kamu punya waktu untuk bermain-main?"

Wajah Zhao Ming memerah. "T-tidak, Senior Bai. Aku... aku akan kembali berlatih."

"Bagus." Bai Yun melipatkan tangannya. "Dan Zhao Ming? Jika aku mendengar kamu mengganggu pelayan lagi, aku akan melaporkanmu ke Tetua Feng. Beliau sangat tidak menyukai murid yang menggunakan kekuatannya untuk menindas yang lemah."

Zhao Ming menggertakkan giginya tapi tidak berani membantah. Dengan satu pandangan benci terakhir pada Lin Feng, ia pergi bersama teman-temannya.

Lin Feng membungkuk pada Bai Yun. "Terima kasih, Kakak Senior Bai."

"Tidak perlu berterima kasih." Bai Yun menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Tapi Lin Feng... kenapa kamu masih bersikeras bertahan di sini? Dengan Akar Spiritual Kekacauan mu, kamu tidak mungkin bisa berkultivasi. Kenapa tidak mencari kehidupan lain? Menjadi seorang pedagang, atau petani, atau apapun yang tidak akan membuatmu dihina setiap hari?"

Lin Feng terdiam. Bagaimana ia bisa menjelaskan bahwa sepuluh tahun lalu, ia bersumpah di depan makam keluarganya yang dibantai bahwa ia akan menjadi kultivator, bahwa ia akan menemukan pembunuh mereka, bahwa ia akan membalas dendam?

Bagaimana ia bisa bilang bahwa meninggalkan akademi ini berarti meninggalkan satu-satunya harapannya, bahkan jika harapan itu setipis benang yang akan putus kapan saja?

"Mungkin Karena aku keras kepala," jawab Lin Feng akhirnya, dan tersenyum pahit. "Terlalu keras kepala untuk menyerah."

Bai Yun menatapnya lama, lalu menghela napas. "Keras kepala memang baik. Tapi jangan sampai keras kepala membunuhmu." Ia kemudian berbalik untuk pergi, tapi tiba tiba ia berhenti.

"Oh ya Lin Feng. Perpustakaan tingkat bawah butuh dibersihkan malam ini. Tetua Shen yang bertugas sedang sakit, jadi kamu harus melakukannya sendiri. Kunci sudah di kantor pengurus."

"Baik, Kakak Senior."

Setelah Bai Yun pergi, Lin Feng berjongkok dan mulai mengumpulkan pakaian-pakaian kotor itu kembali. Tangannya gemetar karena amarah yang ia tahan.

'Sepuluh tahun,' pikirnya.

'Sepuluh tahun dan aku masih di sini, masih lemah, masih tidak berguna.'

Bab 2 : Gulungan Naga Kekacauan

Malam tiba dengan cepat. Setelah menyelesaikan semua tugas hariannya, mencuci pakaian lagi, membersihkan asrama dan menyiapkan makan malam untuk para murid dalam, Lin Feng akhirnya berjalan menuju perpustakaan tingkat bawah.

Akademi Pedang Awan Biru memiliki tiga tingkat perpustakaan. Tingkat atas untuk murid inti dan Tetua, disana terdapat beberapa manual kultivasi tingkat tinggi dan teknik rahasia Akademi. Tingkat tengah untuk murid dalam, terdapat beberapa manual menengah dan pengetahuan umum. Sementara Tingkat bawah untuk pelayan dan murid luar, berisi buku-buku dasar dan manual yang sudah lama.

Lin Feng sudah hafal setiap sudut perpustakaan tingkat bawah, karena setiap malam, jika tidak ada yang melihat ia akan mencuri waktu untuk membaca. Membaca manual kultivasi dasar, teori tentang qi, sejarah dunia kultivasi, apa saja yang bisa membantunya memahami kultivasi, meskipun ia tidak bisa mempraktikkannya.

Malam ini, perpustakaan sangat sepi. Lentera-lentera batu spiritual memberikan cahaya redup. Lin Feng mulai membersihkan dengan sapu dan kemoceng, tapi pikirannya melayang.

Akar Spiritual Kekacauan. Itulah sebutan untuk kondisinya saat ini. Dalam dunia kultivasi, setiap orang lahir dengan afinitas terhadap satu atau lebih elemen: Api, Air, Tanah, Logam, Kayu, Petir, Angin, Cahaya, atau Bayangan. Afinitas ini menentukan jenis kultivasi apa yang cocok untuk mereka.

Tapi Lin Feng? Inti spiritualnya seperti pusaran kacau yang menolak semua elemen sekaligus. Qi yang ia coba serap akan langsung tersebar dan lenyap. Tidak peduli berapa kali ia mencoba, hasilnya selalu sama.

"Gagal," gumam Lin Feng sambil menyapu. "Selalu gagal."

Sambil melamun tiba-tiba sapu yang sedang di ayunkannya menyenggol tumpukan buku lama di pojok. Buku-buku itu jatuh berserakan, dan salah satunya menabrak rak kayu tua di belakangnya.

KRAK...

Rak itu retak dan roboh, terus memperlihatkan sesuatu yang aneh, tembok di belakang rak itu menunjukan seperti ada pintu?

Lin Feng membeku sesaat. Jantungnya mulai berdetak dengan cepat. Sepuluh tahun ia membersihkan perpustakaan ini, ia tidak pernah tahu ada pintu tersembunyi di sini.

Lin Feng seharusnya melaporkan ini kepada para Tetua. Tetapi kata "seharusnya" itu tidak pernah menghentikan Lin Feng karena penasaran.

Dengan tangan gemetar, ia mendorong pintu itu hingga terbuka lebih lebar. Disana terlihat sebuah pintu kayu tua yang dilapisi formasi ilusi yang sudah memudar, makanya Lin Feng bisa melihatnya sekarang.

Di balik pintu ada tangga batu yang menurun ke dalam kegelapan. Udara yang keluar dari sana terasa dingin dan berbau apek, seperti tidak ada yang pernah masuk selama berabad-abad. Lin Feng kemudian mengambil salah satu lentera batu spiritual dan mulai turun.

Setiap langkahnya bergema di lorong sempit. Tangga ini sangat panjang, mungkin saat ini ia sudah berada jauh di bawah perpustakaan. Di bawah akademi.

Akhirnya, tangga yang dituruni Lin Feng berakhir di sebuah ruangan bundar. Dan di tengah ruangan itu ada sebuah altar.

Lin Feng mengangkat lentera lebih tinggi. Altar itu terbuat dari giok hitam, dengan ukiran sembilan naga yang melingkar saling mengelilingi. Setiap naga berbeda beda, satu dikelilingi petir, satu api, satu air, dan seterusnya.

Dan di tengah-tengah sembilan naga itu ada sebuah gulungan. Gulungan itu memancarkan cahaya sembilan warna berbeda yang saling menyatu menjadi satu. Merah, biru, coklat, perak, putih, emas, hitam, ungu, dan di tengahnya warna yang tidak bisa digambarkan. Seperti semua warna yang telah bergabung, atau tidak ada warna sama sekali. Lin Feng terpikat melihatnya. Kakinya tanpa sadar bergerak sendiri dan mendekat.

'Jangan,' bisik suara akal sehatnya. 'Ini pasti artefak penting. Ini pasti dilindungi oleh akademi, Jangan coba di sentuh.'

Tetapi di dalam inti spiritualnya yang kacau itu mulai bergetar. Tiba tiba tangannya terangkat dan Jari-jarinya menyentuh gulungan itu.

Seketika dunia seperti meledak. Cahaya sembilan warna menyambar keluar dari gulungan itu, menyelimuti Lin Feng sepenuhnya. Lin Feng kebingungan, Ia mencoba berteriak tapi suaranya tenggelam dalam gemuruh yang memekakkan telinga.

Energi luar biasa mengalir ke seluruh inti spiritualnya. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Lin Feng merasakan qi.

Tapi bukan hanya satu jenis Qi yang ia rasakan, melainkan sembilan jenis Qi sekaligus mengalir dalam harmoni sempurna.

Petir yang menghancurkan,

Api yang membakar.

Air yang mengalir.

Tanah yang kokoh.

Angin yang bebas.

Cahaya yang menyucikan.

Bayangan yang menyembunyikan.

Ruang yang melengkung.

Dan di tengahnya... Kekacauan yang menyatukan.

Lin Feng merasakan semuanya seperti tubuhnya akan robek. Energi ini terlalu banyak dan terlalu kuat. Inti spiritualnya tidak mungkin untuk menampung semuanya.

Tapi kemudian sesuatu yang mustahil terjadi.

Akar Spiritual Kekacauan nya yang selama ini menolak semua Qi, tiba-tiba mulai menyerap energi ini dengan sempurna. Seperti kepingan puzzle yang menemukan potongan terakhir. Seperti kunci yang menemukan gemboknya.

Warna-warna Qi bercampur di inti spiritualnya, berputar, menari, menyatu. Dan perlahan pusaran kekacauan itu berubah, berubah menjadi sesuatu yang indah.

Seketika suara kuno bergema di pikirannya, suara dari dalam gulungan yang kini menyatu dengan jiwanya.

"Pemegang Gulungan Naga Kekacauan telah datang. Ahli waris sejati dari Orkestrasi Sembilan Naga. Dengarlah anak muda, karena aku akan memberitahumu kebenaran yang telah terkubur selama seribu tahun..."

Tapi sebelum suara itu bisa melanjutkan, kesadaran Lin Feng sudah memudar. Lin Feng akhirnya terbangun dengan kepala berdenyut sakit.

Ia berbaring di lantai dingin ruangan altar, lentera batu spiritual masih menyala di sampingnya. Berapa lama ia tidak sadarkan diri? Satu jam? Dua jam? Tolong jangan sampai sudah pagi...

Ia mulai bangkit perlahan dan mengecek tubuhnya. Seketika ia terkejut, di dalam dantian-nya ia merasakan sesuatu yang berputar perlahan. Sesuatu yang hidup, itu adalah Qi.

Lin Feng menutup matanya dan mencoba fokus. Dan apa yang ia lihat membuatnya terengah.

Di dalam dantiannya ada pusaran kecil sembilan warna yang berputar dalam harmoni sempurna. Setiap warna merepresentasikan satu elemen, dan mereka semua berpusat pada warna kekacauan di tengah.

"Aku... aku akhirnya bisa berkultivasi?" Kegembiraan terpancar di wajah Lin Feng.

Ia tertawa, tertawa pertama kali dalam tahun-tahun terakhir.

Sepuluh tahun. Sepuluh tahun penderitaan. Sepuluh tahun dihina. Dan akhirnya, bersama gulungan yang menyatu dengan jiwanya, ada sebuah pengetahuan yang terbuka di dalam pikirannya.

'Orkestrasi Sembilan Naga. Teknik kultivasi tertinggi yang diciptakan oleh sembilan pendiri tiga ribu tahun lalu. Dipecah menjadi sembilan gulungan untuk mencegah penyalahgunaan. Kamu telah menemukan Gulungan Naga Kekacauan, gulungan utama yang bisa menyalin dan menyelaraskan delapan gulungan lainnya.

Tapi berhati-hatilah pemegang Kekacauan. Mengumpulkan semua gulungan akan membuka kebenaran yang mungkin kamu tidak siap hadapi. Kebenaran tentang mengapa Langit membatasi kultivator. Kebenaran tentang harga kekuatan sejati.

Dan ketika kebenaran terungkap, kamu harus memilih: kekuatan untuk dirimu sendiri, atau pengorbanan untuk dunia.'

Lin Feng menelan ludahnya. Dari kata katanya kedengarannya berat dan berbahaya.

Tapi kemudian ia mengingat wajah keluarganya. Mengingat darah yang mengalir di lantai rumah masa kecilnya. Mengingat kultivator bertopeng yang membunuh mereka tanpa belas kasihan.

Jika gulungan ini bisa memberinya kekuatan untuk menemukan pembunuh itu... jika ini bisa memberinya kekuatan untuk membalas dendam... Maka tidak peduli bahaya apa yang ada di depan, ia akan menghadapinya.

Lin Feng berdiri, menatap altar kosong itu untuk terakhir kalinya, lalu berbalik dan mulai naik tangga.

Di kepalanya, rencananya sudah terbentuk. Ia harus merahasiakan semua ini. Ia harus berpura-pura masih menjadi pelayan sampah yang tidak berguna. Ia harus berlatih diam-diam sampai ia cukup kuat untuk bertahan dari perhatian yang pasti akan datang.

Karena Lin Feng tahu, di dunia kultivasi kekuatan adalah segalanya. Dan begitu orang tahu ia memiliki kekuatan mereka akan datang.

Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, Lin Feng memiliki harapan yang nyata. Bukan harapan tipis yang selalu mengecewakannya. Tapi harapan yang bisa ia pegang. Harapan yang bisa ia wujudkan.

Lin Feng tersenyum.

'Tunggu aku,' bisiknya. 'Tunggu aku, ayah, ibu, Xiao Yue. Aku berjanji akan menemukan pembunuh kalian. Aku berjanji akan membalas dendam. Dan kali ini, aku punya kekuatan untuk menepati janjiku.'

Bab 3 : Kultivasi Pertama

Setelah keluar dari ruangan tersembunyi, ia dengan hati-hati merapikan perpustakaan tingkat bawah seperti tidak ada yang terjadi. Rak yang retak ia sembunyikan di sudut gelap, lalu menyusun buku-buku di depannya sehingga tidak terlihat ada pintu tersembunyi.

Setelah selesai dalam pekerjaannya, Lin Feng membawa lentera dan berjalan keluar. Malam ini ia tidak menuju asrama pelayan melainkan ke gua kecil di lereng gunung belakang akademi.

Gua ini tidak besar, hanya cukup untuk satu orang duduk bersila. Lin Feng menemukannya tiga tahun lalu saat melarikan diri dari intimidasi senior, dan sejak itu tempat ini menjadi satu-satunya tempat di mana ia bisa merasa aman.

Saat matahari mulai terbit, Lin Feng masih duduk bersila di dalam gua. Ia masih sangat penasaran karena untuk pertama kali dalam hidupnya ia bisa berkultivasi.

Manual Kultivasi Dasar yang pernah ia baca di perpustakaan mengajarkan langkah pertama untuk berkultivasi..

'Rasakan Qi di udara. Kemudian tarik ke dalam tubuhmu. Pandu Qi itu berputar di dantian mengikuti jalur meridian.'

Ini terdengar sederhana. Tapi bagi Lin Feng yang memiliki Akar Spiritual Kekacauan, langkah untuk "merasakan Qi" saja sudah mustahil.

Tapi sekarang berbeda. Ia segera merasakan pusaran sembilan warna di dantian-nya. Gulungan Naga Kekacauan sudah menyatu sempurna dengan inti spiritualnya, mengubah dantian yang dulunya kacau menjadi sesuatu yang harmonis.

Ia mengikuti instingnya atau mungkin itu adalah pengetahuan dari gulungan yang perlahan menyatu dengan dirinya.

Dan ia merasakan semuanya.

Qi petir dari awan yang berkumpul di atas gunung.

Qi api dari matahari yang terbit.

Qi air dari embun di dedaunan.

Qi tanah dari batu di bawahnya.

Qi angin dari hembusan udara pagi.

Qi cahaya dari matahari.

Qi bayangan dari kegelapan gua.

Qi ruang dari udara kosong.

Dan di bawah semua itu, Qi Kekacauan yang halus, Qi yang tidak terdeteksi yang dapat menghubungkan semua elemen.

Lin Feng tidak menarik satu jenis Qi saja. Ia menarik semuanya sekaligus. Qi itu mengalir masuk ke tubuhnya melalui pori-pori kulitnya, dan mengalir melalui meridian-nya dengan lancar, tidak ada penolakan seperti yang pernah ia alami bertahun-tahun.

Semua Qi itu berkumpul di dantian, di mana pusaran sembilan warna itu berputar. Dan di sana keajaibanpun terjadi.

Qi yang berbeda itu tidak saling bertarung maupun saling menolak. Sebaliknya, mereka berputar bersama dalam harmoni, seperti orkestra yang memainkan simfoni sempurna.

Petir dan api saling melengkapi. Air dan tanah saling menyeimbangkan. Angin dan cahaya saling mendukung. Bayangan dan ruang saling mengisi. Dan kekacauan... kekacauan adalah penghubung yang menyatukan semuanya.

Lin Feng merasakan kekuatan itu tumbuh perlahan tapi pasti. Dantian-nya yang tadinya hanya berisi pusaran kecil mulai mengembang. Qi murni mulai terkumpul dan membentuk fondasi kultivasinya.

Keringat membasahi dahinya. Proses ini lebih melelahkan dari yang ia bayangkan. Setiap siklus menarik Qi dari luar, memurnikannya di dantian dan mengalirkannya melalui meridian,

Lin Feng tidak berhenti. Tidak setelah sepuluh tahun dihina karena tidak bisa melakukan hal yang paling dasar dari kultivasinya.

Matahari sudah bergerak melintasi langit dan Mulai condong ke barat. Dan Lin Feng masih tidak bergerak dalam kultivasi pertamanya.

Saat ia membuka matanya langit sudah mulai gelap. Tubuhnya basah kuyup oleh keringat dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Lin Feng merasakan kekuatan sejati.

Ia mengangkat tangannya, dan dengan sedikit konsentrasi, percikan kecil petir menari di ujung jarinya. Lalu api. Lalu air. Lalu elemen-elemen lainnya satu per satu semua tunduk pada kehendaknya.

"Ranah Pengumpulan Qi Lapisan Pertama" gumam Lin Feng nyaris tidak percaya. Dalam satu hari ia sudah mencapai level yang membutuhkan waktu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan bagi kultivator normal.

Tapi tentu saja, ia bukan kultivator normal. Ia adalah pemegang Gulungan Naga Kekacauan.

Lin Feng akhirnya berdiri, kakinya sedikit gemetar karena duduk terlalu lama. Ia perlu memikirkan langkah selanjutnya dengan hati-hati.

Karena meskipun ia sekarang bisa berkultivasi, ia masih hanya Ranah Pengumpulan Qi Lapisan Pertama. Sementara Zhao Ming sudah lapisan ketiga. Bai Yun sudah lapisan kesembilan. Dan itu baru murid dalam. Bagaimana dengan para murid inti yang lebih kuat yang sudah mencapai Ranah Pembentukan Fondasi.

Jika Lin Feng tiba-tiba menunjukkan kemampuan kultivasinya, semua orang akan curiga. Mereka akan bertanya-tanya, dan cepat atau lambat seseorang akan menemukan kebenaran tentang gulungan.

Lin Feng tidak bisa membiarkan itu terjadi, sampai ia cukup kuat untuk melindungi dirinya sendiri.

"Aku harus tetap berpura-pura menjadi pelayan sampah," putusnya. "Setidaknya untuk beberapa bulan ke depan. Berlatih diam-diam, menjadi lebih kuat perlahan, sampai waktunya tiba..."

Tapi bahkan saat ia mengatakan itu, Lin Feng tahu ini tidak akan mudah. Berpura-pura lemah saat kamu sebenarnya kuat... itu membutuhkan disiplin yang luar biasa.

Terutama ketika orang seperti Zhao Ming terus menginjaknya.

Minggu-minggu berikutnya Lin Feng jatuh ke dalam rutinitas baru. Siang hari ia tetap menjadi pelayan biasa. Tapi setiap malam, setelah yakin semua orang tidur, ia menyelinap keluar dan menuju gua rahasianya. Di sana, ia berkultivasi tanpa henti. Dan kemajuan nya luar biasa.

Minggu pertama sudah mencapai Ranah Pengumpulan Qi Lapisan Ketiga. Sama dengan Zhao Ming yang butuh tiga tahun untuk mencapainya.

Minggu kedua: Lapisan Kelima, melampaui sebagian besar murid dalam.

Minggu ketiga: Lapisan ketujuh. Dua lapisan di bawah jenius seperti Bai Yun.

Setiap terobosan membawa pemahaman baru tentang Orkestrasi Sembilan Naga. Pengetahuan dari gulungan membuka diri perlahan, seperti buku yang halamannya bertambah setiap kali ia naik tingkat.

Lin Feng belajar bahwa Orkestrasi bukan hanya tentang menyerap semua elemen. Itu terlalu sederhana. Orkestrasi adalah tentang harmoni, membuat semua elemen bekerja bersama untuk menciptakan sesuatu yang lebih besar.

Setiap elemen punya keunggulan dan kelemahan:

Petir cepat dan destruktif, tapi sulit dikontrol

Api kuat dan agresif, tapi membakar Qi dengan cepat

Air fleksibel dan menyembuhkan, tapi kurang dalam serangan langsung

Tanah stabil dan defensif, tapi lambat

Angin lincah dan bisa membuat ilusi, tapi lemah secara fisik

Cahaya menyucikan dan melindungi, tapi lemah melawan bayangan

Bayangan sempurna untuk gerak tersembunyi dan pembunuhan diam-diam, tapi lemah di tempat terang

Ruang bisa manipulasi jarak dan dimensi, tapi sangat sulit dikuasai

Kekacauan menyatukan semuanya, tapi membutuhkan keseimbangan dari semua elemen dengan sempurna.

Lin Feng berlatih teknik pertamanya yaitu "Harmoni Tuga Elemen Dasar", kombinasi Api, Air, Tanah. Teknik dasar dari kultivasi klasik, tapi dengan sentuhan Orkestrasi.

Hasilnya: membentuk ledakan energi yang lebih kuat tiga kali lipat dibanding kultivator normal di tingkat yang sama.

Ia juga menemukan sesuatu yang menarik,  karena ia menyerap semua elemen, ia tidak punya kelemahan elemental yang biasa. Kultivator api lemah terhadap air. Kultivator tanah lemah terhadap kayu. Tetapi Lin Feng? Ia bisa beradaptasi. Jika musuh menggunakan api, ia bisa memperkuat dengan air. Jika musuh menggunakan tanah, ia bisa memperkuat dengan kayu.

Fleksibilitas ini adalah keuntungan terbesar.

Tapi ada harganya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!