Indonesia
NovelToon NovelToon

Perjalanan Istimewa

1. Besarnya Kasih Sayang

Ruangan yang dingin itu terasa semakin dingin. Atmosfer ketegangan kental terasa di dalam sana. Arjuna masih dengan pendiriannya, apapun akan ia lakukan untuk membawa Meshwa kembali padanya.

Pak Jamal meminta Arjuna dan keluarganya untuk bermusyawarah di ruang rawat Meshwa kemarin, mengenai permintaan Arjuna yang ingin menikahi kekasihnya itu.

Sementara keluarga Meshwa tetap berada di depan ruang ICU agar bisa mendapatkan informasi jika ada perkembangan dari Meshwa. Juga memberikan kebebasan pada Arjuna dan Keluarganya untuk bermusyawarah.

Sudah lebih dari lima jam, kondisi wanita yang Arjuna cintai itu kritis pasca menjalani operasi pengangkatan endometriosis yang juga merenggut salah satu indung telurnya.

Ya, Meshwa menderita penyakit pada rahimnya yang di sebut sengan endometriosis atau kista coklat. Karena kista itu, salah satu indung telurnya terinfeksi hingga harus di angkat melalui operasi.

Arjuna sudah pernah kehilangan Nayara, kekasih yang sangat ia cintai dulu semasa sedang berkuliah. Dan sekarang ia tak ingin hal itu kembali terulang.

Arjuna masih terdiam. Ingatannya kembali berputar saat ia di beri pengelihatan setelah tau jika kondisi Kekasihnya itu kritis.

Meshwa berada di sebuah padang rumput yang indah. Gadis itu, dengan memakai gaun pengantin tampak duduk tenang. Wajahnya terlihat berseri - seri bahagia.

"Aku menunggu suamiku menjemputku. Kalau dia gak menjemputku, maka aku akan tetap berada di tempat indah ini. Rasanya gak ada yang membuatku berat untuk tinggal di sini kecuali suamiku. Karena jika aku sudah bersuami, maka aku akan mengikuti setiap langkahnya." Ujar Meshwa sambil menatap gelang di tangannya.

Ia tak ingat tentang gelang pemberian dari Biyung Dedes itu. Gelang yang merupakan serpihan dari batu Panca Warna, sebagai penanda kalau dia sudah 'ditandai' oleh leluhur Desa Banyu Alas sebagai calon Biyung selanjutnya.

Suara Meshwa itu masih terngiang - ngiang di telinganya, membuat hati dan pikirannya menjadi semakin kalut. Netranyapun terasa memanas, dalam hati tekadnya semakin bulat untuk menjemput Meshwa yang sedang menunggu suaminya.

"Nang!"

Suara Arsha, Ayahnya, membuat Arjuna tersadar dari lamunannya.

"Kenapa kamu sekukuh ini, Nang. Ada apa sebenarnya? Ceritakan, supaya kami semua mengerti. Kenapa kamu mau menikahi Meshwa saat ini juga, padahal kondisinya masih kritis dan belum sadar." Kata Arsha sambil menatap lurus ke arah Arjuna yang duduk di depannya. Tatapannya teduh, namun cukup tegas.

"Juna harus menjemput Meshwa supaya jiwanya kembali ke raganya, Yah. Entah bagaimana bisa Meshwa ada di sana, Arjuna juga gak tau. Tapi, sekarang dia menunggu suaminya menjemput, dan itu artinya Juna harus menikahi dia sekarang, Yah." Jawab Arjuna.

"Apa dia gak bisa kembali sendiri?" Tanya Aksa.

"Bukan gak bisa, Po. Tapi dia gak mau. Gak ada hal yang membuatnya berat untuk tinggal di sana, kecuali suaminya." Lirih Arjuna dengan suara bergetar.

"Makanya Juna harus jemput dia, supaya Juna bisa bawa dia pulang dan berkumpul dengan kita lagi. Mungkin semua ini karena ia sudah di tandai sebagai calon Biyung. Maka dari itu, yang membuatnya berat bukanlah keluarga atau kedua orang tuanya, melainkan suaminya." Kata Arjuna sambil menunduk.

Sejenak, suasana kembali hening. Meski rasanya tak masuk akal, tapi entah mengapa hal ini bisa terjadi. Para Bopo maupun Para Biyung pun tak habis pikir, karena hal ini baru pertama kali terjadi.

"Tapi, belum ada hari yang baik, Nang." Kata Abimanyu.

"Sampai kapan, Kung? Apa masih harus menunggu sampai tahun depan? Aku gak bisa membiarkan Meshwa terlalu lama seperti itu. Bagaimana, kalau ada bangsa lain yang datang untuk menikahinya, tanpa dia tau kalau dia sudah di tandai untukku. Yang Kung tau sendiri kalau Meshwa itu Balung Kuning." Kata Arjuna.

"Yang Kung hanya takut kamu gak sanggup menanggung konsekuensinya, Nang. Menghindari yang halal itu jauh lebih sulit dari pada menghindari yang haram." Sergah Abimanyu.

"Aku akan menanggung semua konsekuensinya, Kung. Aku akan tanggung semuanya asal Meshwa bisa aku bawa pulang." Jawab Arjuna dengan Tegas.

"Apa Yang Kung mau membiarkan Calon Biyung Desa Banyu Alas sampai kenapa - napa? Enggak, kan. Yang Kung ikut ke sini juga pasti karena sudah merasakan hal ini akan terjadi, kan?" Tanya Arjuna yang membuat Abimanyu terdiam.

Apa yang di katakan cucunya itu benar. Memang ia sudah memiliki firasat mengenai Bopo muda dan Calon Biyung Desa Banyu Alas yang akan kembali di uji.

"Apa gak ada cara lain, Mo?" Tanya Aksa.

"Andai ada cara lain, aku pasti sudah melakukannya dari tadi, Po. Bahkan Mbak Laiba dan Pakde Askara gak bisa membujuk Meshwa." Kata Arjuna yang membuat Para Bopo dan Biyung itu tercengang.

"Itulah kenapa dia yang terpilih. Karena keteguhan hatinya yang luar biasa. Jika dia sudah berkeinginan dengan teguh, bahkan orang terdekatnya gak akan mampu menggoyahkan. Tapi, tekadnya itu bukan sembarang tekad, hanya tekad baik yang akan ia perjuangkan." Lirih Abimanyu.

"Tunggu apa lagi, Mo. Kasihan Meshwa." Lirih Arunika.

Abimanyu menghembuskan nafas panjang. Ini bukanlah sekedar tanggung jawab dan konsekuensi untuk Arjuna dan Meshwa. Jika sampai mereka melanggar, maka yang akan menanggung bebannya adalah seluruh warga desa.

"Yang Kung tanya untuk yang terakhir kalinya. Tolong kamu pikirkan dengan baik, Nang." Pinta Abimanyu.

"Kalau kamu menikah dengan Meshwa saat ini, maka pernikahan kalian adalah pernikahan siri. Kalian memang sah sebagai suami istri, namun hanya di mata Agama. Dan menurut aturan adat kita, kamu bebas melakukan hal apapun sebagai suami istri kecuali berhubungan badan dengan Meshwa sampai ritual Bopo dan Biyung selesai di lakukan. Kalian berdua harus tetap dalam kondisi suci 'perjaka dan perawan'. Sedangkan ritual Bopo dan Biyung bisa di lakukan setelah kita menemukan hari yang baik untuk kalian berdua. Kamu juga harus menjelaskan semua ini pada Meshwa. Apa kamu sanggup, Arjuna?" Tanya Abimanyu sambil menatap dalam - dalam mata Arjuna.

Tatapan dan suara Abimanyu terasa begitu mengintimidasi bagi Arsha, Aksa, Raina, Saira dan Runi. Mereka sampai merinding melihat bagaimana Abimanyu menatap Cucunya.

Namun ternyata, Arjuna sama kerasnya dengan sang Kakek. Ia sama sekali tak terintimidasi dengan tatapan Abimanyu. Nyalinya begitu besar, hingga ia sama sekali tak merasa terancam.

Raina dan Saira saling bergenggaman tangan. Situasi ini terasa begitu tegang hingga rasanya mereka ingin keluar dari ruangan ini sekarang juga.

Abimanyu dan Arjuna yang biasanya tak pernah beradu argumen atau bersitegang, pada akhirnya mengalami fase ini juga. Dan ternyata, ketegangan antara Kakek dan Cucu itu bisa membuat suasana terasa mencekam.

"Sanggup! In Syaa Allah, aku sanggup menjalankan semua konsekuensinya. Apapun itu, akan aku hadapi, selama bisa membawa Meshwa kembali ke sisiku. Aku melakukan semua ini bukan hanya karna cintaku, tapi juga demi calon Bopo yang akan meneruskan tugas keluarga ini dan demi Desa Banyu Alas yang aku jaga dengan segenap jiwa dan raga." Jawab Arjuna dengan tegas. Tak ada keraguan di matanya, pria itu begitu yakin dan tak akan mundur dengan keputusannya.

"Baiklah, kita persiapkan semuanya sekarang." Kata Abimanyu pada akhirnya.

Arsha, Aksa, Raina, Saira dan Runi, tanpa di komando menghembuskan nafas panjang bersamaan. Mereka seolah baru bisa bernafas setelah merasa tercekik beberapa saat lalu.

Perasaan mereka pun campur aduk. Ada perasaan lega dan khawatir yang membelenggu. Mereka tentu mengkhawatirkan Arjuna dan Meshwa yang akan menjalani pernikahan yang mungkin akan terasa hambar.

"Apakah mereka berdua mampu melalui semua itu hingga hari baik di dapatkan? Jika Arjuna mampu, bagaimana dengan Meshwa? apakah Meshwa akan bisa menerima semuanya?"

Pertanyaan - pertanyaan itu terasa menghantui para orang tua. Mereka pun hanya bisa berdoa dan akan terus menguatkan agar Arjuna dan Meshwa bisa melewati ujian pernikahan mereka.

"Lamarkan Meshwa untuk Arjuna pada orang tuanya, Nang. Bagaimanapun, kita tetap harus melamar dengan baik sebelum meminta izin untuk menikahkan Arjuna dan Meshwa." Titah Abimanyu pada Arsha.

"Njih, Mo." Jawab Arsha.

"Alhamdulillah, Matur suwun, Kung." Kata Arjuna yang sampai meneteskan air mata sambil menghambur ke pelukan Kakeknya.

"Makasih, Yah, Po." Ucapnya sambil memeluk Arsha dan Aksa yang duduk bersebelahan.

"Yang Ti, Ibu, Buna, makasih banyak." Ucap Arjuna sambil memeluk tiga wanita yang ia kasihi secara bergantian.

"Sabar ya, Nang. Kamu dan Meshwa harus bisa bertahan. Yang Kung akan carikan waktu terbaik dan yang paling dekat." Kata Abimanyu sambil mengusap sayang kepala Arjuna.

2. Pernikahan Siri

Setelah keluarga Arjuna selesai dengan pembicaraan mereka, Arjuna bersama Aksa dan Arsha kemudian menemui Pak Jamal dan keluarga Meshwa yang masih berada di depan ICU.

"Akhirnya, Kanjeng Abimanyu menemukan lawan yang sepadan." Celetuk Aksa yang membuat ia dan Arsha terkekeh.

"Kalau tadi di vidiokan dan di kirim ke Yanda, pasti Yanda heboh lihat Masnya punya lawan yang setara." Sahut Arsha yang kembali membuat mereka berdua terkikik.

"Ayah sama Bopo kenapa sih? Kok malah pada ketawa - ketawa berdua." Komentar Arjuna yang berjalan di depan mereka.

"Gak apa - apa." Jawab Aksa sambil cengar - cengir.

Begitu tiba di depan ruang ICU, mereka langsung menemui Pak Jamal dan mengajak calon besannya itu untuk berbicara di ruang rawat Meshwa bersama keluarganya.

Kini, mereka semua sudah berkumpul di ruang rawat Meshwa. Kedua orang tua juga kedua Kakak Meshwa sudah bersama dengan keluarga Arjuna. Hanya Mbak Nita dan Mbak Bila yang memilih untuk tetap tinggal di depan ICU sembari menunggu kabar perkembangan Meshwa.

"Bapak, Ibu, terima kasih karena sudah memberi waktu dan tempat untuk kami sekeluarga tadi bermusyawarah. Alhamdulillah, kami sudah menemukan jalan yang terbaik, In Syaa Allah untuk kita semua." Kata Arsha yang membuka pembicaraan dengan calon besannya.

"Mohon maaf, mungkin momennya tidak tepat saat ini, mengingat kondisi Meshwa yang masih keritis. Tetapi, mudah - mudahan hal ini akan membawa jalan untuk kesembuhan Meshwa. Mudah - mudahan dengan ini, Meshwa bisa segera kembali ke tengah - tengah kita." Imbuh Arsha.

"Pak Jamal, Bu Laila, di sini saya bermaksud meminang putri Bapak dan Ibu yang bernama Meshwa untuk putra saya, Arjuna."

"Seperti yang kita sudah ketahui, Arjuna dan Meshwa sudah cukup lama menjalin hubungan dan sebagai orang tua pun kita sama - sama mengetahui hubungan keduanya. Dengan pinangan yang saya sampaikan ini, saya harap kita akan bisa menjalin silaturahmi lebih baik lagi dengan hubungan keluarga. Mudah - mudahan Bapak dan Ibu menerima pinangan kami yang mendadak ini." Kata Arsha yang mengakhiri kata - katanya.

"Terima kasih, Pak Arsha, Bu Raina dan keluarga yang sudah datang jauh - jauh ke sini untuk menjenguk putri kami. Terima kasih karena keluarga Nak Arjuna ini, Maa Syaa Allah, sangat perduli sekali dengan putri kami. Terima kasih banyak." Kata Pak Jamal dengan tulus.

"Mengenai niat baik untuk meminang Meshwa, In Syaa Allah saya menerima pinangan dari Nak Arjuna untuk putri kami, Meshwa. Alhamdulillah, kami bersyukur karena putri kami di cintai dengan tulus oleh Nak Arjuna. Kami pun bisa melihat dan menilai bagaimana besar kasih sayang Nak Arjuna pada Meshwa. Saya pun berharap, hubungan kekeluargaan kita akan terjalin dengan baik dan hangat. Mudah - mudahan, dengan ini juga bisa menjadi semangat untuk Meshwa agar bisa segera sadar dan kembali ke tengah - tengah kita." Jawab Pak Jamal yang membuat Arjuna dan keluarganya merasa lega.

Mereka kemudian saling berunding. Keluarga Arjuna pun menanyakan apakah ada permintaan khusus dari keluarga Meshwa. Tak banyak yang mereka minta, mereka hanya meminta pernikahan siri yang akan berlangsung ini bisa segera di resmikan agar keduanya bisa sah menjadi suami istri di mata hukum dan agama.

Mengenai mahar pun begitu. Keluarga Meshwa tak meminta mahar tertentu untuk putri mereka. Selama itu layak, tak merendahkan Meshwa dan tidak memberatkan Arjuna, maka mereka akan menerima mahar itu.

Setelah semua di sepakati, mereka pun mulai menyiapkan segala sesuatunya. Pak Jamal dan keluarga menyiapkan penghulu dan saksi yang akan menyaksikan pernikahan mendadak ini, sementara Arjuna akan bersiap dengan segala keperluan termasuk mahar yang baru akan ia siapkan.

...****************...

"Bener itu cincinnya cukup, nang? Nanti cuma masuk ke jari kelingking." Komentar Aksa saat menemani Arjuna membeli Mahar untuk Meshwa.

"Cukup, Po. Tenang aja. Aku udah pernah beliin dia cincin." Jawab Arjuna.

"Udah cuma cincin aja? Masak cuma cincin to, Nang?" Cicit Aksa.

"Lha apa lagi kira - kira, Po?" Tanya Arjuna.

"Belikan emas logam itu lho, gak ketang lima puluh gram." Jawab Aksa.

"Apa, Po? Gak ketang ? Bisanya lima puluh gram kok ngomong gak ketang. Kalau cuma lima gram, iya juga pake bahasa gak ketang." Omel Arjuna yang membuat Aksa tertawa. Tak hanya Aksa, tetapi pelayan toko yang melayani mereka pun turut tertawa.

"Yaudah lah, ngasih calon istri sendiri kok. Ngasih yang banyak sekalian to. Kan bisa buat tabungan juga. Kalo kepepet ya di pinjam dulu." Kekeh Aksa.

"Bener ini, nambahnya dalam bentuk batang aja, Po? Pake uang juga gak?" Tanya Arjuna.

"Emas aja, gak usah pake uang gak apa - apa. Nanti aja pake uang pas nikah resminya. Biar kelihatan di buku nikah. Emas lima puluh gram sama uang satu Miliyar, gitu kan mantep lihat tulisannya di buku nikah." Jawab Aksa.

"Ya Allah, bener - bener Bopo ini. Enak banget kalo mangap! Kalo Bopo yamg mau nyumbang satu Miliyarnya, ya gak apa - apa. Dengan senang hati tak terima." Kata Arjuna yang hanya di jawab tawa oleh Aksa.

Setelah menyiapkan mahar, mereka berdua segera kembali ke Rumah Sakit. Sesampainya di sana, semua persiapan di sana pun sudah beres. Penghulu dan dua orang saksi sudah berada di kamar rawat Meshwa yang akan menjadi tempat ijab qobul di laksanakan.

Setelah semua sudah siap, tanpa mengulur waktu lagi, mereka segera melaksanakan akad nikah Arjuna dan Meshwa sore itu.

"Bismillahhirrahmannirrahim. Saudara Arjuna Jati Manggala bin Arshaka Sadewa, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri kandung saya yang bernama Ardhiona Meshwa Apsari binti Jamaludin dengan Mas kawin berupa cincin emas seberat lima gram dan antam seberat tiga puluh gram di bayar tunai."

"Saya terima nikah dan kawinnya Ardhiona Meshwa Apsari binti Jamaludin dengan Mas kawin tersebut di bayar tunai." Jawab Arjuna dengan lancar.

"Bagaimana, saksi?" Tanya penghulu.

"SAH!" Ucap kedua Saksi secara bersamaan.

"Alhamdulillah, baarakallahu laka wa baaraka 'alaika wa jama'a bainakumaa fii khairin." Ucap Pak Penghulu sebelum membacakan doa kain untuk kedua pasanan yang kini sudah sah menjadi suami istri.

...****************...

"Saya terima nikah dan kawinnya Ardhiona Meshwa Apsari binti Jamaludin dengan Mas kawin tersebut di bayar tunai." Suara itu terdengar entah dari mana asalnya.

Meshwa menyapu pandangan untuk mencari sumber suara pria yang sedang melakukan ijab qobul atasnya itu, namun nihil.

"Alhamdulillah." lirih Askara dan Laiba.

"Itu suara siapa, Mbak? Kenapa kedengarannya gak asing?" Tanya Meshwa yang berusaha mengingat - ingat suara yang ia dengar.

"Suara itu? Pria itu benar - benar menikahiku sekarang?" Tanya Meshwa lagi.

"Itu adalah adikku, yang kini sudah sah menjadi suamimu. Dia, gak akan pernah mengingkari janjinya. Dia sudah janji akan menikahimu, kan? Maka itu yang ia lakukan sekarang." Jawab Laiba sambil tersenyum. Nampak kebahagiaan pada raut wajah Askara dan Laiba yang sedari tadi setia menemani Meshwa.

"Tunggulah, Nduk. Sebentar lagi suamimu akan menjemput. Pulanglah bersama suamimu. Kamu sudah berjanji akan pulang kalau suamimu menjemput, kan?" Kata Askara yang di jawab anggukan oleh Meshwa.

"Iya, Pakde. Aku akan ikut kemanapun suamiku membawaku." Jawab Meshwa.

3. Seperti Mimpi

"Assalamualaikum, Istriku." Sapa Arjuna kala mendatangi Meshwa yang masih ada di ruang ICU.

Hatinya terasa ngilu saat melihat berbagai macam alat terpasang di tubuh gadis yang kini sudah menjadi istrinya itu.

Arjuna kemudian memegang ubun - ubun Meshwa.

"Bismillahhirrahmannirrahim Allahumma inni as-aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa 'alaih. Wa a'udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltahaa 'alaih." Doanya yang di akhirI dengan mengecup dahi Meshwa.

Arjuna kemudian duduk di kursi yang ada di sebelah ranjang Meshwa. Ia meraih tangan Meshwa dan mengecup punggung tangan wanitanya.

"Maaf ya, Mas baru lihat kamu. Sabar njih, Cintaku, sebentar lagi Mas jemput kamu." Kata Arjuna sambil memandang wajah Meshwa yang netranya masih setia terpejam.

"Sayang, istrinya Mas. Maaf, karena setelah menikah pun kita masih harus banyak berjuang. Maafkan Mas karena sudah mengambil keputusan ini secara sepihak. Mas gak tau, apakah kamu bisa terima atau enggak nantinya. Tapi, satu hal yang harus kamu tau, Mas lakukan semua ini demi kamu, Dek." Lirih Arjuna sambil menggenggam erat tangan Meshwa.

Netranya terasa memanas saat bercerita semuanya pada istrinya yang hanya bisa terdiam. Sunyi, tak ada jawaban atau omelan dari Meshwa seperti biasanya ketika ia sedang bercerita.

Ia merasa sangat takut melihat Meshwa yang seperti ini. Ingatannya pun kembali pada Nay, gadis itu pun hanya terdiam seperti Meshwa saat ini ketika Arjuna ajak bicara.

"Kita pulang ya, Cintaku. Kita berkumpul lagi di sini. Jangan tinggalin Mas ya, Sayang. Tolong temani Mas di sini." Lirih Arjuna sambil mengusap pipi Meshwa.

Arjuna kemudian melepaskan kalungnya dan gelang yang di pakai oleh Meshwa. Ia membuka telapak tangan kanan Meshwa dan meletakkan kalung juga gelang itu di sana. Kemudian Arjuna mengepalkan tangan Meshwa lalu menggenggam kepalan tangan istrinya itu.

Arjuna memejamkan mata, ia kemudian merapalkan bacaan dengan khusuk. Suasana malam itu terasa semakin hening. Namun tak lama, Arjuna kembali membuka matanya.

"Astaghfirullah..." Lirihnya. Ia belum bisa menemui Istrinya.

Tak menyerah, Arjuna kembali mengulanginya lagi. Namun hingga beberapa kali ia mengulangi, tetap saja ia gagal.

"Ya Allah, Sayang..." Lirih Arjuna dengan perasaan gelisah. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Sungguh, ia sangat takut kehilangan istrinya.

Arjuna beristirahat sejenak, mengumpulkan energi sembari terus berdoa pada Allah. Supaya berkenan menyatukannya kembali dengan Istri tercintanya.

"Nang..." Suara itu terdengar di telinga Arjuna. Suara yang tentu tak asing baginya.

"Dalem, Bopo." Jawabnya.

"Cobalah lagi. Biar Bopo bantu kamu menjemput Istrimu." Ujar Bopo Jati Birowo.

"Njih, matur sembah nuwun, Bopo." Kata Arjuna yang kini merasa sedikit lega.

Arjuna mulai memejamkan mata sambil menggenggam erat tangan Meshwa. Mulutnya berkomat - kamit merapalkan bacaan.

Tak lama angin lembut datang. Angin yang terasa hangat itu berputar di sekitar tubuh Arjuna. Entah mengapa Arjuna merasa begitu mengantuk. Perlahan, kesadarannya pun hilang.

Begitu membuka mata, ia sudah berada di sebuah hamparan padang rumput. Tak jauh darinya, Bopo Jati Birowo berdiri bersama Biyung Dedes. Keduanya tersenyum pada Arjuna yang baru terbangun.

"Bopo, Biyung." Lirih Arjuna yang langsung menghampiri dan menyalami dua leluhur yang cukup sering datang menemuinya.

"Selamat ya, Nang. Terima kasih karena sudah memperjuangkan Biyung Desa Banyu Alas." Kata Biyung Dedes.

"Semua juga karena bantuan Bopo dan Biyung." Jawab Arjuna.

"Ayo, kita jemput istrimu." Ajak Bopo Jati Birawa.

Mereka bertiga melangkah bersama mendaki sebuah bukit kecil. Dari puncak bukit, Arjuna melihat gadis cantik yang berbalut gaun putih dengan roncean melati khas pengantin yang menghiasi kepala.

Dada Arjuna berdebar keras, netranya pun kembali berkaca - kaca. Ia begitu bahagia bisa melihat Kekasihnya yang sedang tersenyum bersama Mbak dan Pakdenya.

"Jemputlah, Nang. Bawa dia pulang." Titah Bopo Jati Birawa sambil mengusap - usap punggung Arjuna.

"Njih, matur sembah nuwun, Bopo, Biyung." Ucap Arjuna sebelum beranjak menuruni bukit untuk menghampiri Meshwa.

Dengan langkah setengah berlari, Arjuna menuruni bukit. Rasanya ia ingin cepat - cepat bertemu dengan Kekasihnya.

"Assalamualaikum." Ucap Arjuna dengan nafas yang terengah - engah karena berlari menuruni bukit.

"Waalaikumsalam." Jawab Meshwa, Laiba dan Askara bersamaan.

"Nang..." Panggil Askara sambil tersenyum. Ini adalah kali kedua mereka bertemu.

"Dalem, Pakde." Jawab Arjuna yang langsung menghampiri dan menyalami Askara. Askara pun memeluk dan mengecup dahi keponakannya.

"Mbak..." Lirih Arjuna sambil menyalami Laiba. Arjuna kemudian memeluk erat Laiba dan mencium dahi saudara kandungnya.

"Selamat ya, Dek. Semoga kalian selalu bahagia." Ucap Laiba yang masih memeluk Arjuna.

"Terima kasih, Mbak, Pakde. Terima kasih karena sudah menjaga dan menemani Meshwa." Ucap Arjuna.

"Njih, sami - sami, Cah Bagus." Jawab Askara sambil mengusap sayang kepala Arjuna.

"Sayang..." Lirih Arjuna sambil tersenyum menatap Meshwa.

Meshwa pun tersenyum sambil menatap mata Arjuna yang berkaca - kaca.

"Mas, Mas sudah menikahiku?" Tanya Meshwa.

"Sampun, Sayang. (Sudah, Sayang.)" Jawab Arjuna sambil menganggukan kepala.

"Kita sudah sah menjadu suami - istri." Imbuh Arjuna.

Meshwa pun tersenyum, ia lalu meraih tangan Arjuna dan mencium tangan suaminya itu.

"Maa Syaa Allah, Sayangku." Lirih Arjuna. Ia kembali memegang ubun - ubun Meshwa dan membacakan doa untuk istrinya. Saking khusuknya, Ia sampai meneteskan air mata kala membacakan doa untuk Meshwa.

Setelahnya, Arjuna menangkup wajah Meshwa dan Mengecup dahi istrinya. Hatinya terasa tenang dan bahagia yang tak bisa lagi terlukiskan.

"Pulang lah, kalian harus segera pulang." Kata Askara yang mengingatkan.

"Iya, Dek. Kasihan Meshwa sudah lama di sini." Timpal Laiba.

"Njih Pakde, Mbak. Aku dan Meshwa pulang dulu." Pamit Arjuna. Ia pun kembali menyalami dan memeluk Askara dan Laiba. Meshwa juga mengikuti apa yang di lakukan oleh suaminya.

Dengan bergandengan tangan, Arjuna dan Meshwa berjalan menaiki bukit tempat Arjuna datang.

"Sudah lama nunggunya, Sayang?" Tanya Arjuna yang di jawab anggukan oleh Meshwa.

"Maaf ya." Ucap Arjuna sambil menatap Istrinya.

"Gak apa - apa, Mas. Untung ada Mbak Laiba dan Pakde yang menemani." Jawab Meshwa sambil tersenyum. Senyum yang menular pada Arjuna. Tiba - tiba, Arjuna menghentikan langkahnya.

"Kenapa, Mas?" Tanya Meshwa.

"Gak apa - apa. Mas cuma mau peluk kamu." Jawab Arjuna yang kemudian memeluk erat Meshwa. Seolah sedang melepaskan rindu dan kekhawatirannya. Ia pun menghujani puncak kepala Meshwa dengan kecupan.

"Maa Syaa Allah, nikmatnya." Lirih Arjuna yang kini bisa mengecup kekasihnya.

Arjuna kemudian menangkup wajah Meshwa. Ia mencium dahi dan juga pipi Meshwa, terakhir ia mencium mesra bibir istrinya.

...****************...

Suara berisik monitor yang menunjukkan tanda vital pasien, membuat Arjuna terbangun. Ia pun merasakan gerakan pada tangan Meshwa yang ia genggam.

Begitu membuka mata, Arjuna langsung melihat Meshwa yang ternyata sudah sadar dan sedang menatapnya sambil tersenyum.

"Sayang? Kamu udah sadar?" Tanya Arjuna yang di jawab anggukan oleh Meshwa.

"Mas capek ya, sampe ketiduran gitu?" Tanya Meshwa dengan suara lirih.

"Enggak. Mas cuma ngantuk aja." Jawab Arjuna.

"Mas..."

"Dalem, Cintaku."

"Aku tadi mimpi, menikah sama Mas." Lirih Meshwa.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!