Jakarta tak pernah tidur, begitu juga dengan Elvano Alvendra. Di lantai 20 gedung Zenithra Entertainment, dentum musik bass memenuhi studio pribadi yang kedap suara. Keringat membanjiri kaos hitam tak berlengan yang melekat di tubuh atletisnya. Pria berusia 34 tahun itu baru saja menyelesaikan repetisi koreografi untuk konser globalnya di Singapura bulan depan.
Napasnya memburu. Namun, saat ia mencoba melakukan spin terakhir, dunia di sekitarnya tiba-tiba berputar.
Deg.
Jantungnya berdetak tak keruan. Pandangannya mengabur, warna-warna di ruangan itu menyatu menjadi abu-abu. Tubuh tegap setinggi 185 cm itu limbung, lututnya menghantam lantai kayu dengan keras.
"Elvano!"
Darian, sang manajer, menghambur masuk. Ia menemukan sang mega bintang terkapar, menatap langit-langit studio dengan tatapan kosong.
"Berhenti, El. Cukup!" bentak Darian panik. "Kamu belum makan dari pagi. Kamu bukan robot!"
Elvano hanya diam. Suaranya serak, sedalam palung laut. "Aku tidak lapar, Dar. Rasanya... mual melihat makanan."
"Ini bukan soal lapar atau tidak. Ini soal kamu yang hampir mati karena burnout!" Darian menarik napas panjang, mencoba meredam emosinya melihat kondisi bos sekaligus sahabatnya yang kini tampak jauh lebih kurus dengan tulang pipi yang menonjol tajam.
"Sore ini, tidak ada bantahan. Aku sudah membuat janji dengan dokter gizi terbaik di Jakarta. Pak Jono sudah menunggu di bawah."
Elvano memejamkan mata. Di puncak popularitasnya, ia merasa kosong. Ia adalah pemilik Zenithra, aktor peraih penghargaan, dan penyanyi yang suaranya bisa membuat jutaan orang menangis. Namun, di saat yang sama, ia bahkan tidak bisa merasakan nikmatnya sepotong roti.
**
Rumah Sakit Internasional Medika Jakarta sore itu cukup tenang. Sebuah Van hitam mewah dengan kaca gelap berhenti tepat di lobi VIP. Elvano turun dengan setelan serba hitam: hoodie kebesaran, topi baseball rendah, dan masker medis. Ia bergerak seperti bayangan—cepat, mahal, dan tak tersentuh.
Ia benci rumah sakit. Baginya, dokter adalah orang-orang kaku yang akan menceramahinya dengan tumpukan tabel kalori yang membosankan.
"Ruang 402. dr. Selena Nayumi, Sp.GK," gumam Elvano membaca papan nama di depan pintu.
Ia mendorong pintu kayu ek itu dengan malas. Ia sudah menyiapkan mental untuk bertemu dokter tua berkacamata tebal. Namun, aroma yang menyambut indra penciumannya bukan bau obat-obatan yang tajam, melainkan aroma vanilla dan jeruk yang segar.
"Selamat sore! Silakan duduk," sebuah suara bening dan ceria menyapa.
Elvano terpaku di ambang pintu. Di balik meja kerja yang rapi, duduk seorang wanita muda dengan jas putih yang kontras dengan kulitnya yang cerah. Rambutnya diikat kuda, menyisakan anak rambut yang membingkai wajah alaminya tanpa riasan berlebih.
Itu adalah Selena Nayumi. Sang Nutri Queen yang dikenal ribuan pengikutnya di media sosial sebagai pembawa energi matahari.
"Sore," jawab Elvano singkat. Ia duduk, namun tetap tidak melepas topi maupun maskernya. Auranya yang dominan dan dingin seketika memenuhi ruangan yang tadinya hangat.
Selena tersenyum lebar, jenis senyum yang biasanya membuat pasien paling keras kepala sekalipun luluh.
"Bisa kita mulai dengan melepas maskernya, Tuan...? Ah, di sini tertulis Tuan Al."
Elvano ragu sejenak, lalu perlahan menurunkan maskernya.
Selena sempat menahan napas selama satu detik. Wajah itu... garis rahang yang tegas, hidung bangir yang sempurna, dan mata elang yang tampak sangat lelah namun tetap tajam. Ia mengenali pria ini. Siapa yang tidak kenal Elvano Alvendra?
Namun, sebagai dokter profesional, Selena dengan cepat menguasai diri. Ia tidak memekik seperti fans. Ia justru mengerutkan kening kecil sambil mengamati wajah Elvano secara klinis.
"Anda pucat sekali, Tuan Elvano. Dan melihat dari lingkar hitam di mata Anda, saya tebak Anda tidak tidur lebih dari tiga jam semalam?"
Elvano menyandarkan punggungnya, melipat tangan di dada. "Aku ke sini hanya karena dipaksa manajerku. Berikan saja aku vitamin atau suplemen penambah nafsu makan, dan aku akan pergi."
Selena meletakkan bolpoinnya. Ia tidak merasa terintimidasi oleh nada dingin Elvano. Ia justru mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap tepat ke manik mata sang bintang.
"Tubuh Anda bukan mesin yang bisa diperbaiki hanya dengan satu pil, Tuan. Anda mengalami gangguan metabolisme serius akibat stres kronis. Jika Anda terus begini, konser di Singapura yang Anda persiapkan itu... mungkin akan menjadi panggung terakhir Anda karena Anda akan pingsan di lagu kedua."
Elvano tertegun. Tidak ada orang yang berani bicara sefrontal itu padanya.
"Kau tahu soal konserku?"
"Saya dokter, bukan orang yang tinggal di gua," sahut Selena jenaka, namun tetap tegas. "Pola makan Anda kacau, berat badan turun drastis dalam sebulan. Anda butuh penanganan khusus, bukan sekadar suplemen."
Selena menuliskan sesuatu di atas kartu nama pribadinya. "Saya punya klinik kesehatan pribadi untuk terapi nutrisi dan penghilang stres. Saya ingin Anda datang ke sana setiap akhir pekan untuk sesi khusus. Saya sendiri yang akan mengawasi menu harian Anda."
Elvano menatap kartu nama itu: @DailyDoseBySelena.
"Aku tidak punya waktu untuk itu," tolak Elvano dingin.
"Atau Anda tidak punya waktu untuk hidup?" balas Selena tenang. "Pilihan ada di tangan Anda, CEO Zenithra. Ingin tetap bersinar di atas panggung, atau redup di ruang ICU?"
Mendengar ucapan tegas itu, Elvano diam tidak berkutik. Ada sesuatu dalam suara Selena—campuran antara otoritas dan perhatian tulus—yang membuatnya tidak bisa membantah.
"Selain terapi, apa solusi lainnya? Karena untuk saat ini aku sama sekali tidak bisa keluar secara rutin."
"Semuanya bermula dari apa yang Anda masukkan ke tubuh. Tidak harus selalu obat, jika ada cara alami kenapa tidak? Ini adalah solusi terbaik yang bisa saya berikan," jawab Selena sambil memberikan senyum hangat yang entah kenapa membuat dada Elvano terasa aneh.
Elvano hanya pasrah. Ia merapikan penyamarannya, mengambil kartu nama Selena, lalu pergi tanpa sepatah kata pun.
**
Setibanya di apartemen penthouse miliknya yang mewah namun terasa sepi, Elvano langsung membanting tubuhnya di sofa kulit mahal. Darian yang sudah menunggu di sana langsung menyodorkan sebotol air mineral.
"Bagaimana? Dokter Selena bilang apa?" tanya Darian antusias.
"Dia menyuruhku datang ke kliniknya setiap pekan. Terapi nutrisi dan stres," jawab Elvano sambil menatap langit-langit apartemen yang kedap suara.
"Ya sudah, lakukan saja," sahut Darian santai.
"Kau tahu sendiri jadwalku gila-gilaan, Dar. Mana mungkin aku bisa rutin ke sana?"
Darian menghela napas, ia duduk di hadapan Elvano dengan raut serius. "Dengar, El. Kita sudah bersama sejak kamu masih bernyanyi di kafe kecil sampai jadi bos Zenithra. Kita ini sahabat, saudara. Aku tidak mau melihatmu meninggal di usia muda padahal masih lajang. Dunia butuh Elvano, dan Elvano butuh dokter itu."
"Sialan kau, Dar," umpat Elvano ketus, namun ia tahu manajernya benar. Darian hanya tertawa menanggapi umpatan Elvano.
***
Di tengah perdebatan itu, ponsel Elvano bergetar. Sebuah panggilan dari Oma Ratna, satu-satunya orang yang paling ditakuti sekaligus dihormati Elvano di dunia ini.
Elvano menarik napas panjang sebelum mengangkatnya. "Ya, Oma?"
"Elvano! Malam ini tidak ada alasan! Kau harus pulang ke rumah besar jam tujuh malam. Oma sudah mengundang sahabat lama Oma, dan dia membawa cucunya. Kau harus ikut makan malam ini. Tidak ada penolakan, atau Oma akan menyita kunci apartemenmu!"
Klik. Panggilan diputus sepihak.
Elvano memijat pelipisnya. "Luar biasa. Masalah kesehatan belum selesai, sekarang harus menghadapi perjodohan kuno."
Darian tertawa terbahak-bahak melihat wajah frustrasi bosnya. "Wah, jangan-jangan Oma sudah menyiapkan calon istri yang bisa menjinakkanmu, El? Pergilah, siapa tahu dia lebih hebat dari dr. Selena."
"Kau mau aku memecatmu sekarang, Dar?" Elvano melemparkan tatapan tajam yang sanggup membekukan ruangan.
"Ampun, Bos! Tapi serius, kalau dia bisa membuatmu makan teratur, aku akan sujud syukur," sahut Darian sambil terbahak.
**
Di Rumah Sakit Medika, Selena sedang melepas jas putihnya. Ia terlihat lelah, namun tetap tersenyum pada perawat yang lewat. Ponselnya berbunyi, menampilkan panggilan dari Neneknya di Bandung.
"Halo, Nek? Selena baru mau pulang," ucapnya lembut.
"Cucu kesayangan Nenek! Nenek sudah di stasiun, Sayang. Bisa jemput Nenek sekarang? Malam ini Nenek ada janji makan malam dengan sahabat lama Nenek, kamu temani ya?"
Selena mengernyit. "Makan malam? Nenek baru sampai loh, apa tidak sebaiknya istirahat dulu?"
"Tidak bisa, Sayang. Ini janji penting. Nenek sudah siapkan baju cantik untukmu di tas. Nenek tunggu ya!"
Selena menghela napas pasrah. Ia tidak tahu bahwa Neneknya sedang tersenyum penuh kemenangan di kereta. Sang Nenek sengaja merahasiakan bahwa makan malam ini adalah kedok untuk mempertemukannya dengan cucu sahabatnya yang—katanya—sangat tampan namun terlalu gila kerja.
**
Rumah besar keluarga Alvendra diterangi lampu kristal yang megah. Elvano masuk dengan kemeja hitam yang dipadukan dengan blazer abu-abu arang, tampak sangat berkelas namun dingin.
Langkahnya terhenti tepat di pintu ruang makan. Di sana, seorang wanita dengan terusan warna peach lembut sedang duduk membelakanginya, tertawa kecil menanggapi cerita Oma Ratna.
Aroma vanilla dan jeruk yang familiar itu menyergap indra penciumannya.
"Nah, ini dia cucuku!" Oma Ratna berseru bangga.
Wanita itu menoleh. Dan dalam sekejap, waktu seolah berhenti berputar.
Selena Nayumi tersedak air mineral yang baru saja diminumnya. Matanya yang bulat melebar sempurna saat melihat pria yang tadi sore baru saja ia marahi kini berdiri di sana dengan aura yang jauh lebih mematikan.
"Dokter?" gumam Elvano, suaranya rendah dan berbahaya.
"Tuan... Al?" Selena nyaris tak bisa mengeluarkan suara.
Oma Ratna dan Nenek Asti saling berpandangan, lalu tersenyum penuh arti. "Loh, kalian sudah saling kenal? Bagus sekali! Berarti rencana perjodohan ini tidak akan sulit, kan?"
"PERJODOHAN?!" seru mereka berdua secara serentak.
"Nenek, aku tidak bisa menikah dengan orang yang bahkan tidak suka makan!" protes Selena spontan, wajahnya merona merah antara kesal dan malu.
"Dan aku tidak akan menikah karena paksaan! lagipula aku ini sangat sibuk! Aku tidak punya waktu untuk drama pernikahan!" Elvano ikut membela diri.
Oma Ratna berdiri, wajahnya yang biasanya ramah kini tampak absolut. "Dengar, Elvano. Kau butuh seseorang yang menjagamu agar tidak mati muda. Dan Selena, kau adalah orang yang paling tepat. Kami sudah sepakat, kalian akan menikah bulan depan. Titik!"
“Selena, Nenek sudah janji pada mendiang kakekmu untuk melihatmu menikah dengan cucu sahabat Nenek," ucap Nenek Asti dengan nada sedih yang dibuat-buat.
Oma Ratna meletakkan sendoknya dan memulai sebuah "pertunjukan" yang sudah direncanakan matang.
"Elvano," suara Oma Ratna mendadak bergetar, matanya mulai berkaca-kaca. "Hanya Oma yang membesarkanmu sejak kecil di sini. Ayahmu sudah tidak peduli, dia menyerahkan semua keputusan hidupmu pada Oma. Apa kau benar-benar ingin melihat Oma pergi tanpa sempat melihatmu memiliki seseorang yang menjagamu?"
Elvano memijat pelipisnya. "Oma, ini bukan zaman Siti Nurbaya."
Tak mau kalah, Nenek Asti—langsung menyambar tangan Selena. "Selena, Sayang... Nenek sudah tua. Kau tahu sendiri kau yatim piatu, tidak punya siapa-siapa lagi di sini selain Nenek. Paman dan bibimu jauh di Kalimantan. Siapa yang akan melindungimu kalau Nenek sudah tidak ada?"
Nenek Asti mulai terisak kecil, menggunakan sapu tangannya untuk menghapus air mata yang sebenarnya tidak ada.
Selena dan Elvano saling berpandangan. Ada kilatan rasa bersalah, rasa hormat, dan kekesalan yang bercampur menjadi satu. Melihat kedua wanita tua itu mulai "berdrama" lebih jauh, Elvano menarik napas panjang.
"Baik," ucap Elvano pendek. Suaranya rendah dan absolut. "Aku akan melakukannya. Tapi dengan satu syarat."
Selena menoleh dengan cepat, tidak percaya pria itu menyerah begitu saja. Elvano menatap Selena dengan tatapan dinginnya yang khas.
"Pernikahan ini rahasia. Tak boleh ada satu pun kamera media yang tahu. Jika dunia tahu aku menikah, karirku dan kedamaian hidup dr. Selena akan hancur dalam semalam."
Selena tertegun, lalu akhirnya mengangguk pelan. "Aku setuju. Aku juga tidak mau hidupku terusik oleh penggemar fanatikmu."
Oma Ratna dan Nenek Asti seketika berhenti menangis. Mereka saling melirik, mengedipkan mata satu sama lain dengan senyum kemenangan yang tertutup serbet makan. Misi sukses besar.
“Baik, satu bulan kedepan. Oma dan Nenek Asti akan mempersiapkan pernikahan kalian, kami yakin ini akan menjadi pernikahan termegah untuk kalian semua.”
“Terserah,” sahut Elvano.
**
Malam semakin larut di Jakarta. Sesuai perintah Oma, Elvano harus mengantar Selena pulang. Di dalam mobil mewah itu, keheningan terasa begitu pekat. Elvano fokus mengemudi, sementara Selena menatap jendela, memikirkan bagaimana hidupnya akan berubah setelah ini.
Tiga puluh menit kemudian, mobil berhenti di depan sebuah area yang asri.
"Ini rumahmu?" tanya Elvano, matanya menatap dua bangunan yang menyatu indah.
"Iya. Dan di sebelah itu adalah klinikku, Serenity Nutri-Heal," jawab Selena pelan.
Bangunan itu tampak modern namun hangat, dikelilingi pepohonan hijau yang tertata rapi. Lampu-lampu taman yang kekuningan memberikan kesan mewah sekaligus tenang. Tempat itu adalah pusat terapi nutrisi dan stres yang dibangun Selena dengan seluruh kerja kerasnya.
"Tempat yang bagus," gumam Elvano singkat.
“Terima kasih, dan kalau kamu menerima saranku. Kamu akan tahu di dalamnya seperti apa dan kamu bisa menikmati terapinya.”
“Aku akan mencoba mengatur jadwalnya.”
“Hmm…” Selena menganggukkan kepala. “Oh ya, besok pagi aku akan mengirim daftar menu sarapan apa yang harus kamu makan. Aku akan mengirimnya ke nomor ponsel yang sudah kamu daftarkan di rumah sakit.”
“Jangan kirim disana.” Elvano buru-buru mencegah.
“Lalu kemana?”
“Itu nomor ponsel Darian, managerku. Jadi ke nomor ponselku saja.”
“Baiklah.”
Elvano menunjukkan barcode whatsapp miliknya dan Selena langsung memindai barcode itu.
“Aku pamit dulu ya.”
“Iya.” Elvano mengangguk.
“Hati-hati dijalan,” ucap Selena berpamitan dan turun dari mobil.
Elvano menatap punggung Selena yang menjauh. Ada rasa aneh yang mulai merayap di dadanya—rasa memiliki yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
***
Jakarta baru saja terbangun dari tidurnya yang singkat. Cahaya mentari yang tipis mulai menyusup di sela-sela tirai blackout otomatis di penthouse mewah milik Elvano Alvendra. Pria itu masih bergelung di balik selimut sutra abu-abunya, wajahnya yang terpahat sempurna tampak jauh lebih tenang saat tidur dibandingkan saat ia berdiri di bawah lampu sorot atau di depan meja CEO.
Drrtt... Drrtt...
Getaran ponsel di atas nakas marmer memaksa mata elang itu terbuka. Dengan sisa kantuk yang masih menggelayut, Elvano meraba ponselnya. Satu pesan baru muncul di layar.
[Dr. Selena Nayumi]
“Selamat pagi, Tuan Elvano. Saya dr. Selena. Sesuai janji kemarin, ini adalah daftar menu nutrisi untuk Anda hari ini. Menu ini dirancang khusus untuk memulihkan metabolisme Anda dan membantu menaikkan berat badan dengan cara yang sehat. Silakan dicek.”
Di bawah pesan itu, terdapat daftar detail mulai dari sarapan hingga makan malam, lengkap dengan komposisi gizi yang seimbang. Elvano mengusap wajahnya kasar, lalu mulai mengetik dengan jemari panjangnya.
[Elvano]
“Aku tidak bisa memasak. Daftar ini percuma.”
Balasan datang lebih cepat dari yang ia duga.
[Dr. Selena Nayumi]
“Anda bisa meminta asisten rumah tangga atau koki pribadi Anda untuk menyiapkannya, Tuan.”
[Elvano]
“Aku tidak punya pembantu yang tinggal di sini. Hanya ada petugas kebersihan yang datang jam 8 pagi dan pulang jam 12 siang.”
Ada jeda beberapa saat sebelum ponsel Elvano kembali berdenting.
[Dr. Selena Nayumi]
“Lalu, selama ini Anda makan apa?”
[Elvano]
“Beli di luar. Kadang delivery.”
Di seberang sana, Selena Nayumi hampir saja menjatuhkan ponselnya saat membaca balasan santai itu. Sebagai dokter gizi, jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat. Pantas saja metabolismenya hancur, batin Selena gemas.
[Dr. Selena Nayumi]
“Tuan, makanan luar penuh dengan natrium dan pengawet yang justru akan membuat stres kronis Anda semakin parah! Baiklah, karena ini darurat, biarkan saya yang menyiapkan menu hari ini. Kirimkan alamat Anda sekarang, kurir akan tiba dalam satu jam.”
[Elvano]
“Oke. Kirim saja tagihannya nanti, aku akan transfer segera.”
[Dr. Selena Nayumi]
“Sip!”
Elvano melempar kembali ponselnya ke samping bantal. Ia menghela napas panjang, menatap langit-langit kamarnya yang tinggi. Entah kenapa, ketegasan dokter muda itu mulai mengusik ketenangan yang selama ini ia bangun di puncak kesendiriannya.
**
Di sebuah dapur minimalis yang estetik, aroma bawang putih yang ditumis dan rempah-rempah segar mulai memenuhi udara. Selena bergerak lincah. Rambutnya diikat kuda tinggi, wajahnya tampak segar meskipun tanpa riasan tebal.
Ia meletakkan ponselnya pada sebuah tripod kecil yang sudah terpasang rapi di sudut meja dapur.
“Halo, semuanya! Selamat pagi dari dapur dr. Selena! Siapa yang sudah sarapan?” sapa Selena dengan energi matahari yang meluap-luap begitu tombol Live ia tekan.
Dalam hitungan detik, ribuan penonton membanjiri kolom komentar. @DailyDoseBySelena memang selalu menjadi favorit karena kontennya yang hangat dan edukatif.
“Pagi ini, aku mau bagiin resep spesial buat kalian yang sering merasa burn-out, stres kerja tinggi, atau yang nafsu makannya lagi drop. Kita mau bikin menu penyeimbang mood!” ucap Selena sambil mengiris alpukat dengan lihai.
Selena menjelaskan setiap langkah dengan bahasa yang mudah dimengerti, sesekali tertawa menanggapi komentar lucu para followers-nya. Namun, di balik senyum cerianya di depan kamera, tangan Selena sebenarnya sedang menyiapkan porsi ganda.
Satu kotak makan untuk dirinya, dan satu paket makan besar yang dikemas secara eksklusif untuk seorang pasien yang sangat spesial—calon suaminya yang masih dirahasiakan dari dunia.
“Nutrisi itu bukan cuma soal kenyang, tapi soal gimana kita menghargai tubuh sendiri,” ucap Selena pada kamera, namun dalam hati ia berharap kalimat itu benar-benar masuk ke telinga pria keras kepala bernama Elvano Alvendra.
*
Satu jam kemudian, bel apartemen Elvano berbunyi. Seorang kurir mengantarkan sebuah kotak pendingin (cooler bag) berwarna hijau toska dengan logo "Serenity Nutri-Heal",* nama klinik kesehatan milik Selena yang merujuk pada terapi nutrisi dan pemulihan stres.
Elvano membawa kotak itu ke meja makan. Saat ia membukanya, aroma masakan rumahan yang otentik dan hangat langsung menyapa penciumannya. Ada catatan kecil di atas kotak makan itu:
“Habiskan semuanya. Jangan ada yang tersisa. Aku akan menagih laporannya nanti sore! – Dr. Sunshine.”
Elvano menarik kursi, menatap hidangan yang tertata rapi. Ia mencicipi satu suap. Rasanya tidak seperti makanan restoran yang penuh bumbu buatan, melainkan rasa yang jujur, hangat, dan... nyaman. Sesuatu yang sudah sangat lama tidak ia rasakan semenjak ia memutuskan hidup sendiri di puncak karirnya.
Tiba-tiba, rasa penasaran mulai menyergap Elvano. Ia membuka media sosial dan mengetikkan nama dokter gizi itu. Dalam hitungan detik, ia masuk ke siaran langsung Selena yang masih berlangsung.
Ia melihat wanita itu sedang tertawa riang sambil menjawab pertanyaan penggemar. Selena tampak begitu bercahaya, berbeda jauh dengan dunianya yang gelap dan penuh tuntutan. Tanpa sadar, Elvano menggunakan akun anonimnya untuk menonton, matanya terpaku pada setiap gerakan tangan Selena di dapur.
Namun, perhatian Elvano teralih saat matanya menangkap sesuatu di latar belakang video live Selena. Di atas meja dapur wanita itu, terdapat sebuah foto lama dalam bingkai kecil.
Elvano memicingkan mata, mendekatkan layar ponsel ke wajahnya. Jantungnya berdegup kencang. Ia mengenali orang-orang di foto itu. Itu adalah foto masa kecilnya saat ia sedang bermain di rumah lama Omanya, dan di sampingnya ada seorang anak kecil perempuan yang tertawa lebar.
Apakah... apakah ini artinya pernikahan ini bukan sekadar kebetulan Oma?
Saat Elvano masih tertegun, sebuah panggilan muncul di atas layar ponselnya membuat Elvano terganggu oleh dering telepon yang panik dari Darian.
"El! Kau di mana?!" suara Darian terdengar seperti orang yang sedang dikejar hantu.
"Di apartemen. Ada apa?" jawab Elvano tenang, meskipun perasaannya mulai tidak enak.
“El, gawat! Ada wartawan yang membuntuti kurir katering ke apartemenmu pagi ini! Mereka curiga kau menyewa koki pribadi wanita atau tinggal bersama seseorang. Mereka sudah ada di lobi!”
Elvano tersentak. Ia menatap pintu apartemennya, lalu kembali menatap wajah Selena di layar ponsel yang masih asyik mengobrol dengan pengikutnya.
Elvano mendengus kesal, rahangnya mengeras. "Mereka usil sekali. Tidak bisa melihat orang hidup tenang sebentar saja?"
"El, kalau mereka tahu makanan itu dari klinik kesehatan dr. Selena, pasti saham Zenithra bisa goyang karena penyakit kronis yang kau sembunyikan!"
Elvano memijat pelipisnya. Sifat perfeksionis dan keinginan akan privasi membuatnya merasa tercekik.
"Darian, dengar. Urusan ini kuserahkan padamu. Laporkan mereka pada pihak keamanan gedung. Ini apartemen eksklusif, privasi adalah produk utama yang mereka jual. Kenapa satpam bisa selemah itu? Jika wartawan itu sampai menginjakkan kaki di lantai unitku, aku akan menuntut pihak pengelola gedung."
"Aku sudah urus, El. Aku sedang menuju ke sana bersama tim hukum," sahut Darian sedikit tenang.
"Bagus. Aku tidak akan membiarkan rahasia ini terbongkar hanya karena urusan perut," tegas Elvano sebelum memutus panggilan.
Ia kembali menatap layar ponselnya. Di sana, Selena masih tersenyum, tidak tahu bahwa bantuannya hampir saja memicu badai media. Elvano menatap kotak makan yang baru saja ditaruh kurir di atas mejanya. Aroma masakan Selena seolah menantang aroma kesepian yang selama ini ia pelihara.
***
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!