"Hamil ?"
Suara Aditya memecah keheningan di ruang perpustakaan yang sepi. Ia berdiri mematung di sudut ruangan, membelakangi perempuan yang selama delapan bulan terakhir ini ia sebut sebagai kekasih, perempuan yang membuatnya langsung suka saat pertama kali melihatnya. Kekasihnya di sekolah.
Satu sekolah tau tentang hubungan mereka. Aditya yang tidak bisa jauh dari Elfa. Membuat beberapa siswi iri. Bahkan ada yang mengancam Elfa agar meninggalkan Aditya. Tapi Aditya selalu mengatakan semua baik baik saja selama bersama dia.
Hujan di luar perpustakaan tidak hanya membasahi halaman sekolah tapi membawa hawa lembab yang menyesakkan ke dalam ruangan perpustakaan. Sosok Aditya yang masih mengenakan baju sekolah, yang selalu terlihat sangat sempurna di mata Elfa, gadis yang saat ini hanya berdiri menatap punggung Aditya, menanti keputusan Aditya.
Elfa meremas jarinya yang terasa kaku, mengatur nafas dan mengumpulkan keberanian yang sudah menguap sejak satu jam yang lalu.
"Dua bulan Dit " Jawab Elfa lirih, suaranya tenggelam oleh bunyi hujan di atas atap perpustakaan itu, hampir saja tidak terdengar namun karena ini adalah hal yang akan membuat masa depannya hancur. Aditya bisa mendengar dengan jelas kata kata Elfa.
"Dua bulan ?"
"Aku juga masih menunggu, berharap ini hanya terlambat biasa, bahkan aku sempat minum ramuan pelancar haid. Tapi....pagi ini aku memeriksanya dan hasilnya garis dua " saat Elfa melihat hasil tes, dia tidak harus melakukan tes berkali-kali untuk menyakinkan dirinya, saat itu juga dia tau dia hamil. Dua tespek dengan garis merah sudah membuktikan dia mengandung anak Aditya.
Aditya berbalik, tak ada lagi binar cinta atau tatapan memuja yang biasa Elfa temukan di sana. Mata pria itu hanya memancarkan kemarahan, sosok remaja 17 tahun yang selalu romantis dan baik, itu adalah hal yang menjadi kesukaan Elfa kini hilang. Berganti dengan raut wajah yang menahan amarah oleh kabar yang baru saja di dengarnya. Seolah-olah kabar yang ia dengar adalah penghinaan besar untuk harga dirinya.
" Dua bulan, ?" Aditya mengulangi kata itu, ia tertawa getir, sebuah tawa yang terdengar asing di telinga Elfa.
"Dit, aku takut kamu akan seperti ini.." akhirnya Elfa menangis, Ia ingin meraih dan menggenggam tangan Aditya tapi Elfa merasa ada jarak yang tak terlihat. Membuat nya mengurungkan niatnya " aku harus menahan mual setiap pagi, bersikap biasa-biasa saja di rumah agar ibu tidak curiga, aku sendirian mencari cara menutupi ini dit, aku hanya ingin kamu mengatakan semua baik baik saja "
Aditya melangkah mendekat namun bukan untuk memeluk atau membelai lembut rambut Elfa seperti biasa yang Aditya lakukan jika Elfa punya masalah, ketika Elfa mendapatkan ancaman. Ia berhenti tepat di hadapan Elfa, berdiri menatap Elfa yang terlihat kecil di hadapannya.
"Baik baik saja ? Aditya mengulangi lagi kata Elfa " kamu tahu siapa aku ? Kamu tahu siapa orang tua ku ? siapa keluarga ku ? Asalkan kamu tahu, aku harus melanjutkan pendidikan ku setelah lulus dari sekolah ini. Dan beberapa hari yang lalu, ayah ku baru saja melakukan pertemuan dengan keluarga Hermawan pemilik beberapa penginapan terbesar di kota ini. Ayahku dan Ayah chelsea sudah menentukan pertunangan kami setelah aku dan Chelsea lulus. kami akan bertunangan dan itu sudah di umumkan di depan teman-teman bisnis mereka dan kau tahu Elfa, ayah Chelsea adalah orang yang banyak memberikan modal untuk usaha Ayah. kamu tau apa artinya itu ?"
Elfa tau keluarga Hermawan, ibunya bekerja sebagai tukang cuci di salah satu keluarga Hermawan dan Elfa tau siapa Chelsea, gadis cantik yang sedang bersekolah di SMA luar daerah. Mereka keluarga yang sangat kaya di kota Elfa.
Elfa tertegun " pertunangan? Kamu bertunangan? Lalu.... Bagaimana dengan ku ? bagaimana dengan bayi ini ? Ini darah daging mu Adit.."
Aditya memejamkan mata sesaat, menghela nafas kasar. Memijat pelipisnya seolah olah keberadaan janin dalam rahim Elfa hanyalah sebuah kesulitan kecil yang dia hadapi seperti saat ulangan kenaikan kelas. Tanpa berkata-kata apa apa, dia meraih tasnya mengeluarkan amplop putih yang terlihat tebal. Amplop di titipkan oleh ibunya untuk di berikan ke sekolah ini.
Dia melemparkan amplop itu di atas meja di hadapan Elfa
"Cari cara untuk menggugurkan kandungan itu, Kalau uangnya kurang. Aku akan tambah lagi " kata Aditya tanpa melihat Elfa.
"Kamu... kamu meminta aku menggugurkan anakku sendiri?"
"Anak kamu ? Hanya anak kamu?"Aditya memicingkan matanya "Kamu yakin itu anak aku ?" Kata Aditya dengan tatapan sinis.
"Apa maksud kamu, kamu mau bilang aku hamil anak pria lain, gitu? Lalu kamu mau aku membunuh anak aku sendiri?"
"Ini bukan pembunuhan, aku hanya menyelamatkan masa depanku dan juga masa depanmu , jadi jangan dramatis Elfa "
Elfa tertegun, ia menatap amplop putih di atas meja. Elfa merasakan panas sekujur tubuhnya.
"Bayangkan apa yang akan di lakukan orang tuaku jika mereka tahu aku menghamili gadis dari lingkungan.. lingkungan seperti ini, dari keluarga yang tidak jelas. orang tuaku akan mencoret namaku, mengusir aku dari rumah dan semua harta keluarga ku akan di miliki oleh kakakku, dan kamu ? kamu juga tidak punya apa-apa untuk menghidupi anak itu. Apa yang akan kamu lakukan di usia seperti ini, kamu saja masih berharap dari orang tuamu. Apakah kau akan menambah beban untuk ibumu yang hanya seorang tukang cuci panggilan ?"
Elfa berdiri dengan kaki gemetar. Ia menatap Aditya seolah-olah pria itu adalah penjahat menakutkan yang baru saja melepas topeng kebaikan.
"Jadi, karena aku anak dari seorang tukang cuci, anak dari keluarga miskin, bukan dari lingkungan seperti kalian. bayi ini tidak berhak hidup? "
Aditya menatap Elfa dengan tatapan meremehkan" Sadar Elfa, lihat keadaan kita. Kita ini ibarat langit dan bumi, tidak mungkin bersatu " Bentak Aditya, ia kehilangan kesabaran" Orang tuaku tidak akan pernah sudi melihatmu, apalagi menjadikan kamu menantu. Kamu hanya akan menjadi noda dalam keluargaku. Dan aku, aku juga ingin nantinya mendapatkan pendamping yang selevel denganku. kamu harus tau itu. Jadi, ambil uang itu lakukan saja apa yang aku katakan. Dan kita anggap ini hanya kesalahan yang kita lakukan, kita masih remaja, ini hal biasa yang di lakukan anak anak seusia kita "
Elfa masih diam dengan seluruh tubuh yang bergetar. Tak ada lagi air mata
"Dan aku juga akan memberikan uang ganti rugi atas apa yang aku lakukan, karena aku masih mengingat bahwa kamu adalah orang yang dekat dengan ku " Aditya tidak menyebut Elfa kekasih
Uang ganti rugi
Kata itu menjadi titik balik bagi Elfa, rasa cintanya yang selama ini begitu besar menguap tanpa sisa detik itu juga, berganti dengan rasa benci yang begitu sangat dalam.
Elfa meraih amplop itu, Aditya sempat tersenyum tipis mengira ia telah berhasil membuat Elfa mengikuti keinginannya. Namun senyum itu lenyap saat Elfa merobek amplop itu dan menghambur hamburkan isinya ke lantai perpustakaan. Elfa menginjakkan kakinya di atas lembaran uang yang berceceran di lantai.
Aditya terkejut..
"Elfa, jangan bodoh..!" Teriak Aditya
"Bawa semua uang mu,bawa kemewahan keluargamu yang kau bangga banggakan. Aku tidak Sudi menerima sepeserpun uang darimu, pergi dari hidupku, jangan pernah muncul di hadapanku. Kau akan menyesal suatu saat nanti Aditya" Teriak Elfa, dia tidak perduli dia berada di mana saat ini. Ada yang mendengar atau tidak teriakannya.
Aditya menunduk, memungut uang yang di hamburkan Elfa kemudian ia meraih tasnya dan merapikan bajunya " kamu yang akan menyesal Elfa" Ucap Aditya berlalu
"Kamu boleh menghina keadaanku saat ini, tidak bisa melakukan apapun, dan menganggap bayi ini beban tapi....." Elfa menatap Aditya yang baru saja meraih gagang pintu " ingat satu hal Aditya " Elfa bicara dengan nada yang begitu dingin, membuat bulu kuduk Aditya meremang tanpa sebab
"Kau boleh memiliki segalanya, Aditya ! Tapi setiap rasa sakit dan hinaan yang telah kau berikan Tuhan akan membalasnya. Demi nyawa yang ingin kau buang ini, kau tak akan pernah mendengar suara tangisan bayi dalam hidupmu, Aku bersumpah...!"
Aditya tertawa mendengar sumpah itu, sumpah gadis remaja seperti Elfa, sumpah orang miskin tidak ada artinya sama sekali.
"Aku lebih baik mengakui anak orang lain. Dari pada aku harus mengakui anak dari gadis miskin seperti mu "
Elfa tertawa pelan, tawa yang menakutkan "Kamu akan merangkak di bawah kakiku, memohon ampunan saat kau sadar bahwa hanya darah daging dari rahimku ini yang pernah kau miliki"
Aditya diam sesaat lalu berkata pelan "Sumpah orang melarat sepertimu tidak akan mengubah apapun dalam hidupku Elfa. Kata katamu tidak akan mengubah takdirku " Guman Aditya lalu menghilang di balik pintu perpustakaan. Aditya berjalan menuju parkiran motor di depan sekolah yang sudah sepi.
Ia tidak pernah menoleh kebelakang, ia tidak pernah tahu saat itu karma baru saja mengikutinya, menutup celah celah yang akan menjadi harapan dan kebahagiaan dalam keluarganya.
.
.
.
Next....
Plak..Plak..
Dua tamparan keras melayang di pipi Aditya, Ia baru saja mendapatkan tamparan. Rahasia yang ia tutupi selama seminggu ini entah bagaimana ceritanya sampai ke telinga ayahnya.
"Ayah tidak mau tau, kau harus menggugurkan kandungan gadis itu. Bila perlu bayar mereka dengan uang yang banyak. Jangan sampai keluarga Hermawan tau dan ini akan mempermalukan keluarga kita, kamu tau itu Adit? "
"Adit sudah memberinya uang dan ia sudah menggugurkan kandungannya, aku juga sudah mengancamnya Ayah, aku yakin itu juga bukan darah dagingku. Bukan anakku " Aditya berbohong tapi dia yakin. Elfa tidak mungkin mempertahankan bayi itu.
"Apa maksud kamu ?" tanya Tuan Suryadi
"Gadis itu sudah tidak perawan lagi saat aku melakukan itu dengannya " Aditya berbohong lagi untuk menyelamatkan masa depan nya, dia tau Elfa masih suci.
Aditya yakin Elfa sudah menggugurkan kandungannya.Kerasnya Elfa saat bicara dengannya, itu hanya untuk menutupi rasa kesal kepadanya. Seperti itulah yang dipikirkan Aditya.
Belum sempat Aditya memikirkan hal lain, Aditya melihat ayahnya sedang menelepon " Cari perempuan bernama Elfa, Beri dia uang untuk menggugurkan kandungannya dan suruh mereka menjauh dari kota ini !"
Sementara di rumah kecil sederhana, Elfa menatap ibunya yang sedang melipat pakaian ke dalam lemari " ada apa nak ? Kenapa lihat ibu seperti itu?"
Elfa berkedip, dadanya terasa sesak. Ia ingin jujur namun rasa bersalah membuatnya tidak tega mengatakan
“Bu…. "
"Ada apa nak ? Katakanlah, Ibu akan mendengar kan "
"Elfa...sudah melakukan kesalahan yang sangat besar" Baju di tangan ibunya hampir saja jatuh ke lantai, ia merasakan sesuatu telah terjadi pada anaknya.
"Kesalahan apa nak ? Setiap orang tidak ada yang tidak pernah melakukan salah"
“Aku tidak tahu harus ngomong gimana, aku takut ibu kecewa…” katanya sambil terisak isak.
Ucapan Elfa membuat ibunya mulai berpikir seperti terasa ada sesuatu yang sangat menakutkan telah terjadi pada Elfa.
Elfa merasakan ibunya memeluknya untuk menenangkannya. "Bu.. Elfa.."
Tok..tok..tok.. Suara ketukan di pintu membuat Elfa tidak melanjutkan lagi kata-katanya.
"Ibu lihat sebentar ya.."
Elfa tertegun melihat punggung ibunya " Ya Tuhan, aku mohon kuatkan ibu " Doa Elfa dalam hati.
"Cari siapa ya ?"
"Apakah ini rumah ibu Kristin?" Tanya pria itu
"Saya sendiri"
"Saya ingin bicara dengan ibu, boleh saya masuk?" Ada keraguan di wajah ibunya. Elfa mengintip, melihat wajah yang sangat asing.
"Saya akan langsung mengatakan saja " Pria itu meletakkan tas kecil ke atas meja "ini ada sejumlah uang yang di berikan pak Dedi Suryadi sebagai ganti rugi untuk anak ibu "
"Ganti rugi?" Ucap ibunya lirih
Elfa menegang mendengar nama Dedi Suryadi, ia berdiri dengan tubuh gemetar. Dia menggigit bibirnya, lalu tubuhnya terasa lemas melihat raut kebingungan di wajah ibunya.Rasa sakit karena kata kata Aditya masih terasa, dan saat ini dia harus melihat ayah dari laki laki pengecut itu menyuruh orangnya untuk membayar harga dirinya. Seharusnya mereka tidak melakukan ini.
"Ibu.." Lirih Elfa, tangannya menyibakkan kain pintu dengan kasar.
"Bawa saja uang kalian, saya tidak butuh uang dari keluarga terhormat seperti kalian " Katanya rendah
"Anda harus menggugurkan kandungan itu, karena anak pak Dedi tidak akan bertanggung jawab. Seharusnya kamu tau diri, kamu tidak pantas berada di lingkungan keluarga Suryadi "
Elfa melihat ibunya terkejut, ibunya tidak melepaskan pandangannya. Dunia sekitarnya seolah olah runtuh. Ibunya merasakan oksigen di sekitar menguap.
Dengan perasaan seorang ibu dia paham yang terjadi pada anaknya.
"Bawa saja uang anda, Kami sudah melakukan apa yang baru saja anda katakan. Sekarang silahkan keluar karena anak saya harus memulihkan tenaganya " Dan tanpa sepatah katapun pria itu pergi dari rumah kecil itu.
____
Satu jam berlalu, Elfa masih menangis memeluk tubuh ibunya " Ayo nak, kemasi barang barang mu, kita pergi dari kota ini "
"Bu..." ibunya menatap dengan tatapan lembut yang membuat rasa bersalah semakin besar dalam hati Elfa.
"Ini cucu pertama ibu, ibu ingin melihat dan membesarkan cucu ibu " Suara ibunya bergetar menahan tangis.
Tidak menunggu lama, hari itu juga Elfa dan ibunya meninggalkan rumah yang telah di tempati sejak lahir. Ibunya hanya menitipkan rumah. Ia mengatakan mengatakan kalau mereka berdua akan bekerja di Bali. Elfa menghapus semua tentangnya, membuang kartu lama dan mengganti dengan yang baru.
Mereka akhirnya sampai di sebuah rumah yang sederhana namun masih terlihat bagus.
"Ini rumah peninggalan orang tua ibu, Selama ini di rawat sama adik ibu "
"Tidak ada yang tinggal di rumah ini Bu ?"
"Tidak ada nak, adik ibu itu rumahnya jauh lebih besar dari rumah ini. Anaknya cuman satu. Kamu masih ingatkan anak kecil yang pernah bermain sama kamu waktu kita liburan di sini ? "
"Anak perempuan itu ya Bu ? Dia kan udah besar saat itu bu"
"Hahah ya sekarang udah menikah, mereka yang melanjutkan bisnis orang tua nya membeli hasil kebun petani petani di sini, seperti kemiri, jambu mete, porang dan lain-lain, nanti ibu akan minta kerjaan di gudangnya "
"Maafkan Elfa Bu, Elfa aja yang kerja ya Bu." Elfa menunduk lesu membayangkan ibunya bekerja di gudang,menjemur hasil tanaman yang di beli tantenya dari petani.
"Tidak apa-apa nak, ibu masih kuat. kamu jaga kandungan kamu saja. Kalau kamu bosan. Kamu bisa jualan di rumah, kebetulan ibu punya tabungan buat modal jualan. Gimana?"
"Makasih ya Bu, Elfa mohon maaf sekali lagi "
"Tidak usah memikirkan hal apakah yang membuat kesehatan kamu terganggu, toh kamu tidak akan bisa mengubah yang sudah terjadi. Apapun yang terjadi kedepannya kamu harus kuat, hadapi ya"
Elfa sangat bersyukur karena masih ada maaf untuknya, dalam hati dia berjanji akan merubah hidupnya. Mulai hari ini, hanya akan ada dirinya, ibunya dan bayi dalam kandungannya.
Tak terasa enam bulan sudah Elfa tinggal di kampung kelahiran ibunya, Awalnya Elfa berpikir dia akan jadi bahan gunjingan orang orang di kampungnya.Tapi, Elfa tidak pernah mendengar orang memojokkan dirinya. malah sebaliknya,ia mendapatkan teman seperti saudara, semua orang g sangat baik.
Salah satu temannya adalah Steven, guru honorer di kampung ini, Pria yang terlalu tampan untuk ukuran orang di kampungnya. Dia tetangga jarak dua rumah dari rumahnya. Sejak tau Elfa sedang hamil setiap pulang dari sekolah dia akan selalu memberikan Elfa buah yang ia beli di pasar.
Steven juga melakukan pekerjaan sampingan, membeli hasil kebun petani dan menjual lagi ke rumah gudang besar milik tante Elfa.
"Kamu mau kemana Fa ?" Tanya Steven
"Katanya di dekat kantor desa ada pasar murah ya kak? Aku mau ke sana "
"Aku antar "
"Loh emang kakak tidak ke tempat les? Setiap sore kan kakak ajarin anak anak les"
"Hari ini libur, karena pasar murah itu. Di sana banyak makanan. Ayo Fa.. " Mereka berangkat menuju kantor desa.
"Padahal kalian cocok loh jadi pasangan, kata salah satu saudara Steven saat mereka bertemu di pasar murah itu. Wajah Steven memerah.
"Kak Steven pantas mendapatkan yang lebih baik dari saya kak" kata Elfa memasang jarak. Dia tidak mau Steven atau ada laki laki yang masuk dalam kehidupannya. Dia ingin fokus mengurus anaknya dan usaha jualan sembako milik nya yang sudah mulai berkembang.
"Ah kalian kalau ngomong suka asal, jangan membuat ibu hamil ini salah paham ya " Steven memberikan ultimatum pada saudaranya itu.
Mereka berkeliling sepanjang pasar murah ini, Elfa membeli semua makanan yang di jual.
"Pak Bu, ayo di sini ada ubi kukus, ini Bu, ubi kukusnya, enak sekali "
Elfa melihat makanan yang belum pernah di coba. "Kak, aku mau coba makanan itu ? Boleh di makan sama ibu hamil kan pak ? "
"Boleh Bu, dulunya makan ini adalah pengganti beras selama musim lapar " Terang penjual itu.
"Makanan ini enak Fa, udah jarang di konsumsi sekarang. Kamu pasti ketagihan"
"Masa sih kak?"
"Ayo di coba, Pak.. ubi kukus dua ya " Elfa melihat makanan itu terbuat dari tepung ubi kayu yang di kukus dan di beri gula merah serta parutan kelapa.
"Ayo coba.. "
Elfa mencoba makanan itu dan ternyata enak sekali.
"Iya kak, ini enak sekali.. Aku mau lagi kak. Buat ibu juga " Elfa melihat di samping penjual ubi kukus itu. Ada seorang anak yang menjual kue. Sepertinya belum ada yang membeli jualannya.
"Dek, bungkus ya ,ini.. Ini dan ini..., Lima puluh ribu"
Penjual ubi kukus itu tersenyum " Istrinya selain cantik juga baik hati ya pak " Kata penjual ubi kukus itu pada Steven.
Mendengar penjual ubi kukus itu menyebut Elfa istrinya, Steven tersenyum.
"Belum jadi istri pak, tapi doakan bisa jadi kenyataan ya pak " kata kata Steven yang hanya di dengar oleh penjual ubi kukus itu
Ucapan penjual ubi kukus itu membuat dada Steven menghangat. Ada sesuatu di matanya saat melihat Elfa yang mulai kesusahan menunduk.
Steven menatap langkah kaki Elfa, mengikuti dari belakang. Wanita cantik yang sekali membuat pria langsung jatuh cinta saat pertama kali melihatnya.
.
.
.
Next...
Tiga belas tahun kemudian....
Deru mesin mobil mewah itu mati tepat di depan rumah megah yang sangat besar. Aditya Suyadi melangkah keluar, menyeret kakinya yang terasa berat .Kemeja mahalnya tampak kusut seiring dengan sisa sisa pertemuan dengan beberapa rekan bisnisnya. Ia merasakan peliknya masalah proyek milyaran rupiah masih berputar di kepalanya
Namun bukan itu yang membuat tubuhnya melemah, bukan deretan angka-angka yang membuatnya berat melangkah, Ada sebuah kegelisahan yang melebihi apapun, Aditya merasakan dadanya sesak resah merayap setiap kali ia mengingat Chelsea istrinya di dalam sana sedang menjaga nyawa yang tumbuh dalam rahimnya. Nyawa yang menjadi harapan dari sekian kali kehilangan.
Chelsea selalu berhati-hati, ia sangat menjaga kandungan yang sudah berusia 5 bulan, janin yang ia tebak sudah berukuran sekitar 22-27 cm.
Usia kandungan yang sudah teramat sangat membuat Aditya menaruh harapan, Usian kandung 5 bulan terasa keramat baginya. Seperti kutukan tapi itu juga seperti sebuah harapan. Ini adalah kehamilan Chelsea yang paling lama setelah kehamilan sebelumnya hanya bertahan di usia 2 hingga 3 bulan.
Seorang Art berjalan mendekat, mengambil alih tas dan jaket Aditya. Ia berjalan menuju tangga dengan langkah yang semakin berat.
"Sayang....." Dengan suara bariton ia memanggil istrinya, wanita yang ia nikahi enam tahun lalu.
"Sayang...aku pulang" Suaranya kembali memantul di langit-langit plafon rumah itu, tak ada langkah lembut atau gerakan lembut istrinya yang biasa menyambutnya ketika pulang kerja. Hanya kesunyian, hanya ada keheningan. Ini terasa janggal.
Suara binatang malam menambah kesunyian yang menakutkan.
Kening Aditya mengernyit "Istri saya mana?" suara Aditya bergetar dengan pertanyaan yang terdengar khawatir.Ada ketakutan di wajahnya. Ada sesuatu yang ingin dia jauhkan dari pikirannya.
"Ibu di kamar pak, tadi ibu mengeluh pusing dan ingin istirahat di kamar. Jam 6 ibu sudah masuk kamar " Jawab Art dengan ragu, yang membuat jantung Aditya berdetak cepat. Bayangan bayangan yang terus saja bermunculan di kepalanya semakin jelas. Aditya berusaha mengabaikan dan mengatakan semua baik-baik saja.
Tanpa menunggu lama-lama, Aditya mempercepat langkah menaiki tangga yang terasa semakin panjang. Setiap ketukan sepatunya seperti detak jantungnya yang berdetak kencang. Pikiran buruk sudah menguasai kepalanya. Tepat di depan pintu kamarnya, langkahnya terhenti.
Tak ada suara, tak ada rintihan kesakitan seperti dalam pikirannya Aditya semakin ketakutan, ia benci dengan suara hatinya.
"Jangan... jangan..." batin Aditya
Tak ada tubuh yang meringkuk di atas tempat tidur, dengan langkah cepat Aditya membuka pintu kamar mandi dengan sekali hentakan.
Pemandangan di depannya membuat dunianya jungkir balik
"Chelsea.. sayang "
Lampu kamar mandi yang terang menampakkan pemandangan yang mengerikan, keramik lantai yang berwarna putih menampakkan sosok Chelsea yang tergolek dengan keringat sebesar biji jagung. Wajahnya yang putih semakin terlihat putih seperti kertas. Rintihan rintihan yang tadi tidak terdengar sama sekali, kini seakan masuk ke dalam telinga Aditya, suara rintihan itu begitu dekat dan menakutkan.
Genangan air yang berwarna merah, membuat daster putih Chelsea menjadi warna merah. Darah pekat itu merembes keluar.
"Sayang, sakit.. sakit sekali. Aku tidak kuat lagi " Suara Chelsea nyaris tak terdengar.. Dengan gerakan perlahan ia bergerak mencoba bangun namun, kontraksi dalam perutnya menyedot habis tenaganya
Tangannya mencengkram erat daster di sekitar perutnya yang penuh noda darah. Berusaha menahan sesuatu yang mencoba mendesak keluar sejak tadi. Air mata matanya mengalir deras, menatap wajah suaminya.
"Tolong jangan biarkan dia pergi sayang, kali ini. Aku sudah merasakan detak jantungnya. Merasakan pergerakan kecilnya "
Jantung Aditya serasa di hantam palu, ia menghambur berlutut di depan istrinya.Aditya meraih tubuh istrinya.
"Bertahan sayang, dia pasti baik baik saja di dalam" Sebuah kalimat untuk menguatkan istrinya, Aditya merasakan tubuh istrinya terasa ringan dan dingin seakan-akan nyawa di dalam sana sudah tidak ada lagi.
Aditya menatap perut istrinya yang masih jelas mengembung. Janinnya masih di dalam. Namun darah yang terus keluar mengatakan lain, mengatakan lain.
"Tahan sayang, kita ke rumah sakit " Aditya meraung. Suaranya bergetar hebat " Dia akan baik-baik saja, kita tidak akan kehilangan dia "
____
Koridor rumah sakit terasa sepi, sunyi yang menyakitkan. Aroma Anti septik menusuk paru paru Aditya. Ia tidak suka suasana rumah sakit yang sama, aroma yang sama dan ketakutan yang sama. Aditya melayangkan doa yang panjang. Berharap Tuhan mendengar setiap kata-kata yang ia ucapkan.Memohon ada secercah harapan untuk dia dan istrinya.
Aditya melihat noda darah yang mulai mengering di bajunya, tak ada yang lebih menakutkan dari ini. Setiap noda darah yang mengering, ini adalah perjuangan istri yang mencoba mempertahankan nyawa dalam tubuhnya.
Aditya mematung di depan pintu Unit Gawat Darurat, menatap lampu merah yang masih menyala, Cahaya merah itu terasa lama sekali dengan keheningan yang semakin mencekam.
Keheningan itu pecah saat derap langkah kaki yang terburu-buru menggema di lantai ruangan. Keluarga besar Suryadi. Ayah Aditya dan kakak Aditya berdiri mematung. Ibu Aditya yang biasanya tampil elegan dan glamor kini tampilan itu hilang, dengan tubuh bergetar ia memeluk, memberikan kekuatan untuk Aditya yang terlihat sangat menyedihkan saat ini.
Ayah Aditya yang biasanya tidak tergoyahkan, tatapan kesombongan yang mengintimidasi kini hilang. Hanya guratan kecemasan yang nampak terlihat di wajahnya. Di sampingnya kakak Aditya berdiri dengan kening berkerut. Mencoba mencari sesuatu yang membuat adiknya harus kehilangan lagi. Tubuh Aditya bergetar menahan tangisnya, dia tidak kuat,.dia takut.
Aditya merasakan langkah kaki yang tergesa-gesa semakin mendekat, orang tua Chelsea datang dengan secercah harapan di mata mereka, sebuah harapan yang begitu besar. Namun terasa begitu berat di saat seperti ini, Karena di dalam sana Chelsea sedang berjuang.
"Aditya, bagaimana keadaan Chelsea? Dokter belum keluar ? Ini cucu pertama ibu, ibu sudah mempersiapkan semuanya. Ibu sudah mendekor kamar bayi di rumah utama, katakan Aditya, katakan semua baik baik saja "
"Katakan semua baik baik saja " Kalimat itu terus berputar-putar di kepala Aditya.
"Chelsea akan baik-baik saja di dalam sana, malaikat kecil kita juga baik baik saja.ibu yakin kali ini malaikat kecil kita akan bertahan. Dia malaikat kecil yang kuat " Suara ibu Chelsea menjadi ritme waktu untuk menunggu.
Aditya tak sanggup mendongak, dia tidak sanggup menatap harapan harapan di mata mereka semua. Ia merasa seperti pengecut, dia seperti menunggu vonis mati untuk dirinya.
Satu jam serasa setahun, doa doa mereka semua hanya serupa bisikan, doa mereka terputus seiring dengan suara pintu yang di buka dari dalam, menarik mereka kembali pada kenyataan yang di hadapi saat ini.
Dokter Sofia melangkah keluar, ia melepas masker dengan gerakan lambat. Menampilkan raut wajah yang membuat nyali Aditya seketika menciut. Dokter itu menatap Aditya, tatapan yang paling ia benci. Tatapan yang sama dengan beberapa kejadian yang sama. Aditya menggeleng, tidak ingin melihat raut wajah dokter itu.
"Kumohon kali ini, jangan... Jangan lagi ya Tuhan" Batin Aditya. Ia menolak kenyataan bahwa kali ini dia harus kehilangan lagi. Ia tak percaya bahwa takdir akan sekejam ini untuk kesekian kalinya.
"Bagaimana dok, bagaimana cucu saya, dia baik-baik saja kan ?" Ayah Chelsea maju beberapa langkah mendekati dokter itu.
Dokter Sofia menarik nafas panjang, tarikan nafas seolah olah adalah lonceng kematian untuk Aditya.
"Kami sudah berusaha semampu kami,tapi kami tidak bisa menyelamatkan bayi anda tuan Aditya"
Dunia Aditya runtuh seketika, tubuhnya lemas seakan-akan tulang dalam tubuhnya lenyap. Ia terhuyung, nyaris ambruk jika saja Kakaknya tidak menahan tubuhnya, kakinya bergetar. Aditya menatap sekelilingnya, tak ada lagi harapan. Kali ini dia kehilangan lagi. Doanya tak sampai, doanya sia sia atau mungkin Tuhan tidak mendengar.
"Apakah Tuhan itu ada " Batin Aditya meragu.
Harapan itu kembali luruh untuk kesekian kalinya, kali ini meninggalkan harapan yang lebih besar dengan usia kandungan yang bertahan dari sebelumnya. Aditya menaruh harapan, usia kandungan 5 bulan. Melihat Chelsea yang sangat menjaga kandungannya. Melihat bias kebahagian di wajah istrinya.
Aditya melihat hampir setiap hari Chelsea duduk menaruh tangan di atas perutnya, merasakan sensasi dari dalam. Ada gerakan perlahan yang membuat Chelsea selalu tersenyum.
Kali ini Aditya seakan di paksa lagi untuk menerima kenyataan bahwa rahim istrinya di kutuk, rahim istrinya menjadi tempat haram untuk sebuah kehidupan.
Enam tahun menanti sebuah kehidupan, mendengarkan suara bayi yang menggema dalam rumah. Namun harapan itu hilang berkali-kali.
"Tuhan, apa yang terjadi. Apa yang telah ku lakukan hingga Engkau memberikan takdir sekejam ini padaku " Lirihnya penuh tanya dan putus asa.
.
.
.
Next.....
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!