Erik Meijer dikenal sebagai pria yang tidak memiliki jantung. Di bawah kekuasaannya, pelabuhan Utara tunduk dalam diam. Namun, reputasi itu hancur berantakan saat ia menemukan sebuah bungkusan di kursi belakang mobil antipelurunya setelah sebuah baku tembak sengit.
Bukan bom, bukan juga uang tebusan. Melainkan seorang bayi perempuan berusia empat bulan yang tertidur pulas di dalam car seat, lengkap dengan botol susu yang sudah dingin. Ada secarik kertas terselip: "Hanya kau yang bisa menjaganya dari mereka, Erik Meijer. Dia darah dagingmu."
Erik terpaku. Tangannya yang biasa menggenggam senjata kini gemetar hebat saat menyentuh pipi mungil itu.
Kehidupan di markas besar mafia berubah drastis. Ruang rapat yang biasanya penuh asap cerutu dan peta strategi penyerangan, kini dipenuhi dengan botol sterilisasi dan tumpukan popok. Anak buah Erik yang paling garang—pria-pria bertato yang bisa mematahkan leher lawan tanpa berkedip—kini harus belajar cara menyanyikan lagu pengantar tidur karena sang bayi tidak bisa berhenti menangis jika suasana terlalu sunyi.
"Tuan, kelompok klan Timur sedang bergerak menuju perbatasan," lapor salah satu pengawalnya dengan suara berbisik, takut membangunkan bayi yang sedang tidur di pelukan Erik.
Erik menatap bayi itu, yang ia beri nama emia. emia adalah satu-satunya hal murni di dunia hitamnya. Kehadiran emia membuatnya sadar bahwa ia tidak bisa lagi bermain api dengan cara yang sama. Musuh-musuhnya kini tahu kelemahannya, tapi mereka tidak tahu bahwa seorang ayah yang tidak punya pilihan adalah monster yang paling berbahaya.
Suatu malam, markasnya dikepung. Bukannya melarikan diri, Erik justru menggendong emia di dadanya menggunakan kain gendongan sederhana di balik jas antipelurunya. Dengan satu tangan memeluk bayinya dan tangan lain memegang kendali, ia menghadapi lawan-lawannya.
"Kalian pikir dia kelemahanku?" suara Erik terdengar dingin, mematikan. "Dia adalah alasanku untuk memastikan tidak ada satu pun dari kalian yang pulang malam ini."
Setelah badai itu berlalu, Erik memutuskan untuk menghilang. Ia membakar semua catatan kriminalnya, menyerahkan takhta kekuasaannya, dan memilih tinggal di sebuah kota kecil di pegunungan. Sang Mafia telah mati, digantikan oleh seorang ayah yang setiap pagi sibuk menyiapkan bubur bayi, sambil tetap menyimpan satu pistol di bawah meja—hanya untuk berjaga-jaga jika masa lalu mencoba mengusik tawa putrinya.
*****
Kehidupan baru di pegunungan ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Bagi Erik, musuh terbesarnya saat ini bukan lagi senapan mesin, melainkan suhu tubuh emia yang mendadak panas di tengah malam.
Malam itu, salju turun pertama kalinya di desa kecil mereka. emia terus merintih, wajahnya memerah karena demam. Erik, yang biasanya tenang menghadapi ancaman maut, kini panik luar biasa. Ia menggeledah lemari, namun hanya menemukan kotak P3K berisi perban dan antiseptik—peralatan standar seorang pelarian, bukan seorang ayah.
Ia terpaksa keluar. Dengan jaket tebal menyembunyikan wajahnya, Erii menggendong Luna menuju satu-satunya apotek yang masih buka di kaki bukit.
"Dia demam tinggi," ucap Erik pendek saat bertemu sebuah klinik tua di sana. Suaranya masih memiliki nada otoritas yang membuat orang segan.
perawatan menatap Erik dengan curiga, lalu beralih melihat emia. "Anak ini butuh lebih dari sekadar obat, ia butuh pelukan hangat dan ketenangan. Kau tampak seperti pria yang selalu siap berperang, anak muda. Letakkan senjatamu, setidaknya di depan anakmu."
Erik tertegun. Ia sadar, meski telah pindah jauh, aura masih melekat kuat pada dirinya. Setelah emia di periksa,Ia mengambil obat itu, membayar dengan uang tunai, dan bergegas pulang.
Namun, di perjalanan kembali, ia menyadari sesuatu yang salah. Ada bekas jejak ban mobil di atas salju segar menuju rumahnya. Jejak itu terlalu lebar untuk kendaraan penduduk desa.
Erik segera masuk melalui pintu belakang. Di ruang tamu yang gelap, seorang pria duduk dengan tenang sambil memainkan pisau lipat. Itu adalah Marco, tangan kanan kepercayaannya dulu.
"Kau menghilang tanpa pamit, Bos. Klan Timur hancur, tapi kekosongan kekuasaan membuat kota menjadi neraka," ucap Marco tanpa menoleh.
Erik meletakkan emia dengan hati-hati di keranjang bayi yang jauh dari jangkauan pandangan, lalu berdiri tegak. "Aku sudah selesai dengan dunia itu, Marco. Pergilah sebelum aku berubah pikiran."
Marco tertawa getir. "Aku datang bukan untuk membunuhmu. Aku datang untuk memperingatkanmu. Mereka menemukan foto emia. Mereka tahu dia ada di sini."
Erik terdiam. Matanya berkilat marah. Ia menyadari satu hal: Pelarian hanyalah penundaan. Jika ia ingin emia tumbuh dewasa dengan aman, ia tidak bisa hanya bersembunyi. Ia harus menghancurkan siapa pun yang memegang foto itu hingga ke akarnya.
"Jaga dia satu jam saja," perintah Erik sambil mengambil kunci mobil dan sebuah kotak hitam yang terkubur di bawah lantai kayu.Erik dikenal sebagai pria yang tidak memiliki jantung. Di bawah kekuasaannya, pelabuhan Utara tunduk dalam diam. Namun, reputasi itu hancur berantakan saat ia menemukan sebuah bungkusan di kursi belakang mobil antipelurunya setelah sebuah baku tembak sengit.
"Mau ke mana?" tanya Marco.
Erik mengenakan jas hitamnya yang sudah lama berdebu. "Memberi tahu dunia bawah bahwa Erik Meijer tidak pernah benar-benar mati. Aku hanya sedang cuti menjadi ayah."
" Berhati-hatilah, jika kamu membutuhkan bantuan bilang saja kepadaku , akan aku gerakan pasukan kita " ujar Marco.
" tidak usah , aku bisa mengatasi sendiri , kali ini aku akan melawan mereka dengan tanganku sendiri, supaya mereka tahu , bahwa Erik Meijer,tidak pernah kalah " tegas Erik.
" ya sudah , aku hanya menawarkan, baikla sekarang pergiLa , tetap waspada jangan lengah terhadap musuh Erik " kata Marco.
" iya, aku pergi dulu , tutup emia sebentar sampai aku kembali , Marco " kata Erik.
Setelah itu , Erik lekas pergi menuju kota , untuk melawan musuh yang telah mencoba menganggu putrinya Emia.dia tidak akan pernah membiarkan siapapun menganggu kehidupan putri kecilnya itu.
Tapi , Sepenjang jalan ia tidak pernah sama sekali melupakan putri kecilnya itu , kadang ia tersenyum sendiri , emia.dia kehidupan baru yang mewarnai hidupku , dia adalah kekuatan hidupku,jiwaku , bahkan aku rela mati demi emia.
" emia , tumbuhLa dengan sehat , dan jangan mengikuti jejak ayah emia, kamu tak akan sanggup, apa lagi keluar dari dunia mafia, cukup Ayah saja yang sudah terlanjur jauh , tapi ini bukan hanya kebetulan saja , aku masuk dalam dunia mafia ,untuk berjaga - jaga " suara hati Erik Meijer
Lalu, ia mengirim pesan ke Marco
" jaga baik-baik putriku emia.jika terjadi apapun kepadanya, kamuLa yang aku pengal kepalamu , susunya ada dilempar jika di lapar , karna setelah minum susu dia biasanya langsung tidur" pesan erik
Di sebuah bar remang-remang yang menjadi markas baru klan musuh, musik berhenti seketika saat pintu depan terlempar dari engselnya. Erik berdiri di sana. Tanpa topeng, tanpa keraguan. Ia hanya mengenakan kemeja hitam dengan lengan digulung, memperlihatkan tato ular yang melilit hingga ke urat nadinya.
"Di mana fotonya?" suara Erik rendah, tapi sanggup membekukan darah siapa pun yang mendengar.
Pemimpin klan baru, seorang pria muda yang sombong bernama Victor, tertawa sambil mengangkat selembar foto Luna. "Jadi ini kelemahan sang legenda? Seorang bayi mungil yang bahkan belum bisa bicara?"
Erik tidak membalas dengan kata-kata.
Gerakannya begitu cepat hingga mata manusia sulit mengikuti. Dalam hitungan menit, ruangan itu kacau balau. Erik bukan lagi sekadar petarung; ia adalah badai yang menghancurkan segala sesuatu yang menghalangi jalannya.
Ia memojokkan Victor di sudut ruangan, merebut foto itu, dan membakarnya dengan pemantik gas milik musuhnya sendiri.
"Dengarkan baik-baik," bisik Erik sambil menekan ujung pisau ke leher Victor.
"Kau bisa mengambil wilayahku, uangku, bahkan nyawaku. Tapi jika kau bernapas di dekat putriku, aku akan memastikan namamu dihapus dari sejarah."
Erik tidak membunuh Victor. Ia membiarkannya hidup sebagai saksi hidup bagi siapa saja yang berani mencoba mengusik ketenangannya. Ia menghancurkan server data mereka, membakar semua dokumen penelitian tentang dirinya, dan menghilang kembali ke kegelapan malam.
Saat Erik sampai kembali ke rumah kecilnya di pegunungan, fajar mulai menyingsing. Ia masuk dengan langkah pelan agar tidak menimbulkan suara. Di ruang tamu, Marco tampak tertidur di kursi sambil memegang botol susu kosong, sementara emia.tertidur lelap di keranjangnya, sama sekali tidak tahu bahwa ayahnya baru saja meruntuhkan sebuah kerajaan dalam semalam.
Erik membersihkan sisa debu dan darah di tangannya, lalu mendekati emia. Ia mencium kening bayinya dengan lembut.
"Dunia sudah aman sekarang, emia," bisiknya.
Tiba-tiba, ponsel tua milik Marco yang tergeletak di meja bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal: "Terima kasih sudah menjaganya, Erik. Tapi ingat, dia bukan hanya milikmu. Waktunya hampir tiba."
Erik menegang. Rahasia tentang asal-usul emia. ternyata jauh lebih besar dari sekadar urusan mafia.
****
Erik menatap layar ponsel itu dengan rahang mengeras. Pesan itu bukan sekadar gertakan; itu adalah pengingat bahwa emia adalah kunci dari sesuatu yang lebih besar dari sekadar perang wilayah.
Ia segera membangunkan Marco dengan kasar. "Siapa yang mengirim ini?!"
Marco yang masih mengantuk terlonjak kaget melihat kemarahan di mata Erik.
Ia membaca pesan itu dan wajahnya mendadak pucat. "Bos... aku tidak tahu. Tapi inisial di bawah pesan ini... itu lambang Keluarga Medici."
Erik terdiam. Jika klan mafia lokal adalah serigala, maka Medici adalah naga.
Mereka bukan sekadar organisasi kriminal, mereka adalah dinasti kuno yang mengendalikan ekonomi dari balik bayangan.
Jika emia ada hubungannya dengan mereka, artinya bayi ini bukan sekadar "darah daging" Erik yang tak sengaja lahir, melainkan pewaris sah dari kekaisaran yang paling dicari di dunia.
"Siapa ibu bayi ini, Erik?" tanya Marco pelan.
Erik memejamkan mata, memori setahun lalu terlintas. Seorang wanita misterius bernama Claudia yang ia temui di Mexico.
Mereka hanya menghabiskan satu malam bersama untuk melarikan diri dari kejaran musuh masing-masing.
Claudia menghilang keesokan harinya, meninggalkan hanya sebuah cincin perak yang kini Erik sadari memiliki lambang keluarga yang sama.
"Claudia Medici," gumam Erik. "Dia tidak membuang emia.
Dia menyembunyikannya padaku karena hanya 'aku' yang bisa melindunginya dari keluarganya sendiri."
Tiba-tiba, suara helikopter menderu di atas rumah kayu mereka. Cahaya lampu sorot raksasa menembus jendela, menyapu ruangan dengan warna putih menyilaukan.
Erik segera menyambar emia dan mengikat gendongannya kuat-kuat di punggungnya. Ia mengambil dua senapan laras pendek dan memberikan satu pada Marco.
"Marco, lewat terowongan bawah tanah sekarang! Pergi ke dermaga tua!" perintah Erik.
"Lalu kau?"
Erik mengokang senjatanya. Tatapannya kembali menjadi dingin, namun kali ini ada api perlindungan di dalamnya.
"Aku akan memberi mereka sambutan yang tidak akan mereka lupakan. Tidak ada yang membawa putriku pergi, bahkan kakeknya sendiri."
Saat pintu depan meledak terkena granat kejut, Erik melompat melalui jendela samping, meluncur di atas salju sambil melepaskan tembakan presisi ke arah mesin helikopter. Ia tahu, mulai detik ini, hidupnya bukan lagi tentang melarikan diri. Ini adalah tentang melindungi sang pewaris dari dunia yang ingin menjadikannya boneka kekuasaan.
Erik meluncur menuruni lereng salju dengan kecepatan tinggi, sementara peluru-peluru dari helikopter Medici menghujani tanah di sekitarnya. Di punggungnya, emia mulai menangis kencang—suara yang memicu insting purba Erik untuk menghancurkan apa pun yang mengancam bayinya.
Ia sampai di dermaga tua lebih cepat dari perkiraan. Namun, alih-alih menemukan Marco, Erik justru melihat sebuah kapal pesiar hitam yang elegan sudah berlabuh di sana. Di atas geladak, seorang wanita berdiri dengan anggun di bawah sorot lampu. Gaun merahnya berkibar tertiup angin laut yang beku.
Ia , melihat seorang wanita yang memiliki mata indah , dia Adalah ibu dari putriku emia. Claudia medici
Erik berhenti sepuluh langkah di depan kapal. Senjatanya masih terarah pada para pengawal berseragam elit yang mengepungnya. "Kau menjadikanku umpan, Sofia?" geram Erik.
Claudia melangkah turun dari tangga kapal. Matanya yang indah tampak berkaca-kaca saat melihat bungkusan di punggung Erik
. "Aku tidak punya pilihan, Erik. Ayahku menganggap emia sebagai aib, sementara saudaraku menganggapnya sebagai tiket untuk menjadi kepala dinasti.
Hanya kau pria di dunia ini yang cukup gila untuk melawan mereka."
"Dan sekarang kau datang untuk mengambilnya kembali?"
"Aku datang untuk membawamu ikut bersama kami," bisik Claudia.
"Medici sedang runtuh dari dalam. Jika kita kembali sekarang, dengan kekuatanmu dan namaku, kita bisa mengambil alih semuanya. Demi masa depan emia."
Erik tertawa getir. "Aku baru saja mulai menikmati hidup sebagai pengangguran, Claudia. Aku tidak tertarik pada takhta berdarahmu."
Tiba-tiba, ledakan hebat terdengar dari arah hutan. Pasukan bayaran suruhan saudara Claudia telah tiba. Mereka tidak datang untuk menjemput Luna, mereka datang untuk melenyapkan siapa pun yang memiliki hak atas takhta Medici.
"Tunduk!" teriak Erik.
Ia menarik Claudia ke balik peti kayu tepat saat rentetan peluru menghancurkan kaca-kaca kapal. Erik tidak kini terjepit di antara dua pilihan sulit: menyerahkan emia pada ibunya dan
membiarkannya masuk ke dunia politik mafia yang licin, atau membawa mereka berdua bertarung menembus kepungan demi kebebasan yang belum pasti.
Erik menatap emia yang kini terdiam karena ketakutan, lalu menatap Claudia. "Pegang senjatamu, Claudia. Jika kita selamat dari malam ini, jangan harap kau bisa mengatur hidupku lagi."
Claudia tersenyum tipis, mengeluarkan pistol dari balik gaunnya. "Itulah alasan aku memilihmu, Erik Meijer."
Claudia adalah putri dari Keluarga Medici, sebuah dinasti mafia kuno dan sangat berkuasa di Italia yang memiliki pengaruh besar di dunia ekonomi dan politik bawah tanah.
Setahun yang lalu, Claudia dan Erik bertemu di Italia saat keduanya sedang dalam pelarian dari musuh masing-masing.
Mereka menghabiskan satu malam bersama, yang kemudian menghasilkan kelahiran emia.
Alasan Meninggalkan emia ,Claudia tidak bermaksud membuang Luna. Ia menyadari bahwa di dalam keluarganya sendiri, emia berada dalam bahaya besar—baik dianggap sebagai "aib" oleh kakeknya maupun dijadikan "alat politik" oleh saudara laki-lakinya, Lorenzo.
Claudia sengaja menyerahkan Luna kepada Erik karena ia tahu hanya —pria paling berbahaya yang pernah ia kenal—yang memiliki kemampuan tempur dan ketegasan untuk melindungi bayi tersebut dari jangkauan keluarga Medici.
Setelah pertempuran di dermaga, Claudia kini bersama Erik dan emia di atas kapal pesiar, melarikan diri menuju pulau terpencil untuk memulai hidup baru sebagai sebuah keluarga, jauh dari bayang-bayang nama besar mereka masing-masing.
Masa lalu Claudia Medici jauh dari kata indah, meski ia lahir di atas tumpukan emas dan kekuasaan.kepingan masa lalunya yang membentuknya menjadi wanita tangguh
Claudia adalah putri bungsu dari Don Lorenzo Medici Senior. Sejak kecil, ia tidak diizinkan memiliki teman di luar lingkaran keluarga. Ia dididik oleh guru-guru terbaik, bukan untuk memimpin, melainkan untuk menjadi "aset diplomatik"—seorang istri yang akan dinikahkan dengan aliansi mafia lain demi memperluas wilayah Medici.
Berbeda dengan kakak laki-lakinya, Lorenzo Junior, yang haus darah, Claudia lebih suka mempelajari sistem keamanan dan peretasan data. Secara diam-diam, ia meretas akun-akun rahasia ayahnya dan menyadari betapa busuknya kerajaan bisnis keluarganya. Ia mulai membangun identitas palsu dan tabungan rahasia untuk melarikan diri suatu hari nanti.
Pertemuan dengan Erik
Setahun yang lalu, Claudia mencoba melarikan diri dari pertunangan paksa dengan seorang bandar narkoba kejam asal Rusia. Di tengah pelariannya di jalanan Florence yang sempit, ia terkepung oleh pembunuh bayaran kiriman ayahnya yang ingin membawanya pulang paksa.
Saat itulah Erik Meijer muncul. Erik sebenarnya sedang menjalankan misi pembunuhan lain, namun ia melihat Claudia yang terdesak dan memutuskan untuk "membersihkan" para pengejarnya hanya dalam hitungan detik.
Malam itu, di sebuah gudang tua pinggiran kota, dua jiwa yang sama-sama diburu ini berbagi cerita. Claudia melihat sisi manusiawi di balik mata dingin erik, dan Erik melihat keberanian yang luar biasa pada Claudia. Mereka menghabiskan malam bersama sebagai bentuk pelarian dari kenyataan pahit hidup mereka.
Keesokan paginya, Claudia pergi tanpa pamit. Ia tahu jika ia tetap bersama Erik, keluarganya akan mengerahkan seluruh pasukan untuk membunuh mereka berdua. Ia kembali ke Medici, berpura-pura patuh, sambil menyembunyikan kehamilannya selama berbulan-bulan.
Setelah Luna lahir, Claudia menyadari bahwa kakaknya, Lorenzo Jr., berencana melenyapkan bayi itu karena wasiat kakek mereka menyatakan bahwa cucu perempuan pertama akan mewarisi saham mayoritas perusahaan legal Medici.
Demi menyelamatkan nyawa Luna, Claudia melakukan langkah paling nekat, ia mencuri bayi itu dari rumah sakit, menitipkannya pada informan tepercaya untuk diantarkan kepada satu-satunya pria yang ia tahu bisa melawan dunia demi seorang anak—Erik .
Masa lalu Claudia menjelaskan mengapa ia begitu tenang saat memegang senjata di dermaga; ia sudah lama bersiap untuk berperang melawan keluarganya sendiri.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!