"Akhirnya selesai juga." Ujar Riri sambil menutup laptopnya. Ia menyandarkan diri di kursi kerjanya. Sudah satu tahun lebih Riri menjalankan profesinya sebagai seorang marketing di salah satu perusahaan di Surabaya. Sebenarnya ia bisa saja bekerja di kotanya. Orang tuanya juga bukan orang sembarangan. Mereka memeliki usaha di bidang perhotelan. Namun Riri tidak ingin dianggap aji mumpung. Apa lagi ia sudah terlanjur nyaman tinggal di kota Pahlawan.
Tok tok tok
"Masuk!"
"Bu, ini berkas yang ibu minta."
"Okey Za, Terima kasih."
"Sama-sama, bu."
Faza pun keluar dari ruangan Riri.
Riri memeriksa berkas yang baru diantarkan oleh Faza. Berkas tersebut berisi daftar barang baru yang harus ia pasarkan.
Tiba-tiba handphone Riri berdering.
"Hem... mama. Pasti yang dibahas itu lagi." Gerutunya.
Riri pun terpaksa mengangkat telpon dari sang Mama.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
"Mama ganggu, Ri?"
"Hem... nggak kok. Ini baru mau istirahat."
"Jangan lupa shalat!"
"Lagi haid, ma."
"Oh.... iya, jangan lupa makan siang!"
"Iya, ini juga mau ke kantin kok."
Riri mengerti mamanya pasti sedang basa-basi.
"Ri... "
"Iya ma, kenapa?"
"Itu si Arga ke sini lagi lho sama orang tuanya."
"Tuh kan, apa kubilang." Batin Riri.
"Terus?"
"Ya, dia mau melamar kamu. Umur kamu sudah mau 24 tahun, lho. Sampai kapan kamu kerja? Kerja kan bisa di sini di hotel kita."
"Ma... bukannya Riri sudah bahas ini dari awal ya. Target kumpulkan masih dua tahun lagi. Lagian Riri nggak suka sama Arga. Kalau mau mama saja."
"Astaghfirullah... Riri!"
Tidak ingin berdebat lagi dangan sang Mama. Riri pun pamit baik-baik. Ia beralasan mau makan karena sudah lapar.
Setelah menutup telponnya, Riri hanya bisa menghela nafas panjang.
"Ampuni hamba ya Allah."
Riri pun keluar dari ruangannya. Ia mengajak salah satu temannya di bagian HRD untuk makan di kantin bersamanya.
"Mau pesan apa, Ri?"
"Pingin seblak sih sebenarnya."
"Dih, mana ada di sini."
"Aku pesan pecel lele saja."
"Bu, pecel lele dua, es teh dua."
"Siap, mbak."
Sambil menunggu pesanannya datang, teman Riri membalas chat dari kekasihnya. Riri hanya bisa menopang dagunya dengan tangannya melihat temannya senyum-senyum sendiri.
"Ya elah... Lama-lama ikutan gila aku nih lihat kamu Fir!"
"Hem... makanya cari pacar. "
"Males!"
Riri memang terlalu cuek dengan urusan asmaranya. Itu bkan berarti ia tidak menyukai laki-laki. Hanya saja ia malas berusaha dengan sakit hati. Dulu saat SMA ia pernah berpacaran. Namun ternyata pacarnya selingkuh dengan temannya sendiri. Sejak itu, Riri tidak ingin lagi berpacaran. Saat kuliah pun, Riri selalu cuek dengan pria yang mendekatinya.
Pesanan mereka pun akhirnya datang. Mereka makan dengan santai.
10 menit kemudian, mereka selesai makan. Jam masuk tinggal 10 menit lagi. Mereka memutuskan untuk kembali ke ruangannya masing-masing.
Riri kembali berkutat dengan laptopnya. Ia mempersiapkan proposal yang akan dia ajukan kepada investor nantinya.
Sekedar informasi tentang Riri. Ia adalah anak sulung dari dua bersaudara. Pantas saja orang tuanya ingin ia segera menikah, karena adik Riri saat ini sudah bertunangan. Mereka tidak ingin Riri dilangkahi oleh adiknya. Berbeda halnya dengan Riri, adiknya tidak melanjutkan kuliah. Ia langsung bekerja di hotel milik keluarga mereka. Sisi enggan menikah jika kakaknya belum bertunangan. Padahal Riri sudah pernah bilang agar adiknya itu segera menikah saja. Kasihan tunangannya yang sudah menunggu selama 3 tahun.
"Repot banget jadi aku ya? Kenapa mereka nggak ngerti sih? Lagian laki-laki mana yang bisa dipercaya di jaman sekarang?" Gumamnya.
*
Sementara itu, di suatu rumah yang sangat megah di Surabaya bagian barat, seorang pria yang berstatus sebagai anak sulung dalam keluarganya saat ini sedang merenungi perdebatannya dengan orang tuanya tadi pagi.
"Usiamu sudah 27 tahun. Adik-adikmu Hana dan Hani sudah menikah dan memiliki anak. Apa kamu akan begini terus? Kamu adalah harapan dalam keluarga ini, bang. Kamu penerus abi mu."
"Abang sudah melakukan yang abi mau, ummi. Abang kan, sudah membantu abi di perusahaan meskipun nggak setiap hari. Masalah pasangan nanti kalau sudah waktunya akan ketemu. Abang ini laki-laki, ummi. Umur tidak menjadi penghalang untuk menikah."
"Begitu terus jawabanmu!" Sahut abi.
"Ummi tahu, sekarang kamu malah asik menjadi ojek online. Sebenarnya apa yang kamu cari, bang?"
"Tenanglah, ummi. Yang penting abang tidak neko-neko. Ummi tenang saja, abang masih memegang teguh ajaran agama. Abang shalat, tidak minum alkohol atau semacamnya, tidak mencuri, tidak balap liar, tidak.... "
"Ah sudah-sudah, cukup! Lama-lama abi struk dengar pembelaan mu! Ayo mi, balik ke kamar. Biarkan anakmu itu bertingkah sesuka hatinya!"
Begitu kira-kira perdebatan mereka.
"Apa ummi dan abi marah ya? Ini buktinya saat makan siang, mereka nggak panggil aku. Biasanya ummi akan menjemputku ke kamar. Huh....." Gumamnya.
Tok tok tok
"Nah itu pasti ummi."
Saat membuka pintu kamarnya, ternyata adiknya yang paling kecil yang datang membawakan makanan.
"Dek, kamu?"
"Abang ini gimana sih? Mau makan saja repot. Nih makanannya! Yang lain sudah pada makan."
"Hem... makasih ya."
"Sama-sama."
Hafiza pun meninggalkan kamar abangnya.
Di rumah itu, kini tinggal mereka berempat saja dan beberapa asisten rumah tangga serta sopir dan security. Sedangkan kedua adiknya yang lain sudah tinggal bersama suami mereka di rumah yang dibangun tidak jauh dari rumah itu. Abi dan ummi tidak angin anak-anaknya jauh dari mereka. Hafiza pun sudah disiapkan rumah untuk masa depannya nanti. Rumah tersebut berada di belakang rumah utama. Sedangkan abang, kebagian rumah utama.
Setelah menghabiskan makanannya, ia pergi ke dapur untuk meletakkan piring kotor.
"Den, sini biar bibi yang cuci piringnya."
"Eh iya, bi. Terima kasih ya."
"Iya, sama-sama."
Ia melangkah keluar dari dapur. Saat itu ia melihat kedua orang tuanya keluar dari rumah. Ia tidak sempat untuk bertanya karena mereka sudah sampai di depan.
"Mereka mau ke mana ya?" Gumamnya.
Saat akan naik ke kamarnya, ia berapasan dengan Hafiza.
"Eh dek, ummi sama abi mau ke mana?"
"Mau ke dokter katanya."
"Siapa yang sakit?"
"Abi mau periksa katanya."
"Oh... "
"Bang, coba deh abang dengerin kata abi dan ummi. Kasihan mereka sudah tua."
Ia tidak menyangka jika adiknya yang masih berusia 16 tahun itu bisa menasehatinya. Namun ia tidak membalasnya. Hafiza lahir dengan jarak yang cukup jauh dengan kakak kembarnya. Mereka terpaut usia 9 tahun.
"Eh... abang ih, dibilangin malah pergi gitu aja!"
Bersambung....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Riri dan Fira ngekos di tempat yang sama dan kamar yang sama. Dengan harga kost-an 1,2juta per bulan dan fasilitas yang cukup lengkap itu sudah sangat worth. Apa lagi bisa ditempati dua orang. Jadi lebih meringankan mereka. Meski sebenarnya Riri mampu untuk membayarnya sendiri. Namun ia ingin berjuang dari bawah dan menabung sebanyak-banyaknya agar orang tuanya tidak meremehkannya.
Riri baru saja keluar dari kantornya bersama Fira. Biasanya mereka pulang berdua naik motor milik Fira. Riri selalu memberikan uang bensin kepada Fira sebagai bentuk timbal baliknya. Riri tidak diperbolehkan oleh orang tuanya mengendarai motor sendiri karena saat SMA ia pernah mengalami kecelakaan. Riri sendiri sempat trauma. Jadi ia selalu bonceng kepada orang lain.
"Ri, maaf ya kali aku pulang belakangan. Aku janjian sama ayangku."
"Oh tidak. Jadi aku pulang sendiri ini, Fir?"
"Iya, hehe.... mumpung ayangku bisa keluar, Ri."
"Ish, kok nggak bilang dari tadi? Tahu gitu kan aku pesan ojek online."
"Ya, maaf. Lain kali nggak aku ulangi. Janji deh." Fira mengangkat dua jarinya.
"Ya sudah, hati-hati. Jangan malam-malam pulangnya."
"Siap, buk. Nanti aku belikan seblak pulangnya, oke?"
"Wah oke banget itu."
"Ya sudah, da da... "
Riri pun melambaikan tangannya.
Tadinya Riri mau memesan ojek online. Namun saat ua berjalan sekitar 50 meter dari kantornya, ia melihat ojek online yang sedang duduk santai sambil memainkan handphone-nya. Abang ojek tersebut masih mengenakan masker dan kacamata hitamnya. Jaket dan helmnya ia taruh di atas motornya.
"Bang, narik?"
Ia mendongak dan tanpa sadar memperhatikan Riri dari atas sampai bawah. Untungnya Riri tidak dapat melihat tatapannya itu. Kalau tidak, bisa kenal omel dia.
"Hallo, bang! Narik nggak?"
"Eh iya, narik mbak. mau ke mana?"
"Ke jalan XX kost-an Kenanga."
"Siap, mbak. Ini silahkan dipakai helmnya."
Setelah memberikan helem penumpang kepada Riri, abang ojek memakai jaket dan helmnya sendiri.
Riri sempat tertegun melihat abang ojek satu ini. Meski ia memakai masker dan kacamata, namun Riri dapat memastikan orangnya cukup tampan dan berkulut kuning bersih. postur tubuhnya pun tinggi dan motor yang dipakai cukup bagus.
"Silahkan naik, mbak."
Riri pun naik ke atas motor dengan berbonceng menghadap ke depan. Riri memang selalu memakai celana bahan saat bekerja untuk memudahkannya dalam bergerak. Meski begitu Riri tetap memakai jilbab walaupun belum syar'i.
Lagi-lagi Riri tertegun mencium aroma wangi dari tubuh abang ojek tersebut. Tidak pernah ua temui anang ojek yang sepertinya.
"Hem... ini seperti parfum mahal. Kalau abang ojeknya kayak gini, betah penumpangnya." Batinnya.
Riri yang terkenal humble dan mudah bergaul memang biasanya selalu mengajak ngobrol orang meskipun itu orang baru.
"Sudah lama ngojeknya, bang?" Tanya Riri dengan suara yang cukup kencang.
"Baru satu tahun, mbak."
"Memang kerjanya cuma ngojek apa, ada pekerjaan lain?"
"Serabutan juga bisa, mbak."
"Wah hebat dong."
Ciiit....
Tiba-tiba ia ngerem mendadak. Dan tubuh Riri pun menempel ke punggungnya.
"Astaghfirullah... " Ucap keduanya.
Riri memejamkan mata karena kadang masih trauma.
"Bang, bisa pelan nggak?" Tegurnya.
"Maaf, mbak. Tadi ada kucing kejar-kejaran itu."
Riri pun melihat ke arah yang ditunjuk. Dan benar saja yang abang ojek katakan.
"Maaf ya, mbak."
Riri menghela nafas panjang.
"Mbak, bisa munduran duduknya?"
Riri baru sadar kalau badannya nempel ke depan.
"Eh iya... "
Riri meraba dadanya sendiri.
Abang ojek pun melanjutkan perjalanan.
Sekitar 10 menit kemudian, mereka sampai di depan kost-an.
"Berapa, bang?"
Abang ojek pun menunjukkan tarifnya. Riri langsung membayarnya menggunakan aplikasi biru.
"Terima kasih, mbak."
"Sama-sama, bang."
Hampir saja Riri lupa untuk melepaskan helmnya, namun abang ojek mengingatkannya.
"Eh iya, maaf lupa."
Riri sudah berusaha membukanya, namun ternyata cukup sulit baginya. Akhirnya abang ojek turun kembali dari motor dan membantu Riri membuka helm tersebut. Mereka berdiri cukup dekat. Riri dapat mencium aroma parfum lebih jelas lagi. Dengan satu kali tekan dan tarik, helm tersebut terlepas. Riri masih mematung tanpa kata.
"Sudah, mbak."
"Ah iya, terima kasih."
"Oke, sama-sama. Permisi, mbak."
Abang ojek pun naik kembali ke motor lalu menarik gasnya.
"Tuh kan wanginya masih ketinggalan. Itu abang ojek parfumnya dibuat mandi kali ya." Riri cekikikan sendiri.
Ia masuk ke dalam gerbang lalu naik ke lantai dua. Kamarnya berada di lantai dua. Sesampainya di kamar, Riri langsung membuka pakaian dan jilbabnya lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu, ia duduk santai di tempat tidurnya.
Beberapa saat kemudian, Fira menelponnya.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam, Ri. Eh seblaknya mau yang level berapa?"
"Level 5 boleh."
"Oke, terus mau beli es apa?"
"Boba last sugar."
"Oke, ditunggu ya, ini masih di mall soalnya. Hehe... "
"Astaghfirullah... kirain sudah di tempat seblak."
Fira pun menutup telponnya.
Sementara itu, abang ojek mampir ke rumah anak jalanan. Ia membawakan makanan dan minuman untuk anak-anak yang biasanya ada di rumah itu.
"Om Sultan datang... " Pekik salah satu anak yang bernama Doni.
"Ayo ayo ini om bawakan kalian makanan. "
"Wah, banyak sekali om."
"Iya, cepat panggil temanmu yang lain!"
"Iya om."
Melihat senyum mereja adalah kebahagiaan tersendiri baginya. Ternyata kebiasaan abinya dulu sekarang turun kepadanya. Menjadi driver ojek online hanya hobi untuknya. Untuk hasilnya biasanya ia pakai untuk membantu sesama driver lainnya yang membutuhkan. Sedangkan rumah anak jalanan ini, ia bangun beberapa tahun yang lalu khusus untuk menampung anak jalanan yang mungkin tidak ada tempat tinggal. Ia mempercayakan salah satu temannya untuk mengelolanya. Namanya Lukman, dia seorang sebatang kara. Usianya lebih muda 5 tahun dari Sultan.
"Bang, kamu nggak capek habis ngantor masih ngojek?" Tanya Lukman.
"Hem... hari ini aku ngantor cuma dua jam saja."
Doni datang bersama teman-teman nya yang lain.
"Ayo kalian bagikan itu satu-satu. Jangan berebut!" Ujar Lukman.
Sultan mengulum senyum melihat anak-anak itu sangat antusias saling berbagi makanan dan minuman.
"Mau ke mana, bang?"
"Mau shalat, sudah adzan isya' kan?"
"Oh iya."
Sultan pergi ke Mushalla yang tidak jauh dari rumah itu. Ia melaksanakan kewajibannya sebagai ummat islam.
Setelah selesai shalat, ia pamit pulang.
"Tumben masih jam segini udah mau pulang?"
"Huh... aku nggak mau bikin orang tuaku semakin meradang."
"Kalau mereka tahu kegiatanmu, mereka pasti tidak akan marah."
"Lain lagi. Ini soal menikah!"
"Hahaha.... tinggal nikah, bang. Pasti banyak cewek yang mau sama abang."
"Tapi aku yang nggak mau. Sudahlah, aku pulang dulu. Titip anak-anak ya."
"Iya, bang. Hati-hati."
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Bersambung....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dengan kecepatan yang cukup tinggi, Sultan berhasil sampai di rumahnya dengan menghabiskan waktu hanya 15 menit saja. Motor Sultan baru saja masuk halaman rumahnya. Security membukakan garasi untuknya.
"Terima kasih, pak."
"Sama-sama, den."
Sultan melihat jam tangannya.
"Masih jam 8. Pasti lagi makan malam. " Gumamnya.
Ia membuka helmnya, dan menyembunyikan helm dan jaket ojeknya di dalam jok motornya yang cukup luas itu. Motor Sultan type matik salah satu merk Yamaha. Sebenarnya ia punya dua motor. Namun untuk ngojek ia membawa yang matik.
Sultan melangkah masuk ke dalam rumah yang kebetulan pintunya tidak dikunci.
"Assalamu'alaikum.... Assalamu'alaikum.... "
Tidak ada jawaban.
Ia pun langsung menuju ruang makan. Dan benar saja, di sana kedua orang tuanya dan adiknya sudah duduk di kursi makan.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Meski begitu, tak lupa ia mencium punggung tangan abi dan umminya. Tumben kecua orang tuanya tidak banyak bicara.
Sultan duduk di samping adiknya. Lalu mengambil makanan ke piringnya.
Beberapa saat kemudian, ummi dan abi selesai makan. Mereka pamit masuk ke kamar duluan. Sedangkan Sultan dan Hafiza belum selesai.
"Dek, tadi abi jadi periksa? "
"Iya, bang."
"Terus gimana hasilnya?"
"Kok nggak nanya sendiri ke orangnya?"
"Hem... kayaknya mereka lagi mogok bicara sama abang."
Hafiza terkekeh.
"Eh malah ketawa nih anak. Sakit apa abi?"
"Kolestrolnya tinggi, hipertensi juga tapi nggak over masih aman." Hafiza terpaksa berbohong atas perintah orang tuanya.
"Alhamdulillah."
"Makanya abang jangan bikin mereka emosi melulu lah."
Hafiza beranjak dari duduknya.
"Eh mau ke mana?"
"Sudah selesai makannya, bang. Aku mau balik ke kamar. Ada PR juga."
Sultan pun tak bersuara lagi. Namun dalam hatinya ia bergumam.
"Nggak enak juga kalau makan sendirian gini."
Ia mempercepat makannya. Setelah itu, ia meninggalkan meja makan dan masuk ke kamar.
Bibi pun membereskan meja makan.
Di dalam kamar, ummi dan abi sedang bermusyawarah. Sebenarnya tadi mereka bukan dari rumah sakit tapi dari rumah orang tua ummi yaitu Opa Tristan dan Oma Salwa. Ternyata Opa Tristan tahu kalau Sultan kerja sampingan menjadi tukang ojek. Opa juga tahu semua kesian Sultan di luar sana. Dalam hal ini justru Opa Tristan kagum kepada Sultan. Dan Opa meminta ummi dan abi agar tidak memaksanya untuk menikah.
"Dia sedang mencari jati dirinya. Dan abi rasa dia juga sedang mencari jodohnya dengan santai. Anak itu ingin mendapatkan jodoh sesuai kata hatinya. Dia bukan tidak menyukaimu wanita, dia hanya trauma dengan kisah temannya. Jangan sekali-kali menjodohkannya. Nanti yang ada kita yang malu dibuatnya. Biarkan dia berproses. Usianya masih 27 tahun. Sepupunya juga menikah lebih tua darinya." Begitu kira-kira pesan Opa Tristan kepada anak dan menantunya.
Ummi dan abi pun memutuskan untuk tidak membahas masalah itu lagi kepada Sultan. Selagi Sultan masih mau pergi ke kantor menggantikan abinya, dan ia tidak bertingkah yang melanggar aturan agama dan keluarga, mereka masih memaklumi.
Di kamar Sultan, ia sedang merenung. Ia membuka album lama yang tersimpan di lacinya. Betapa ia sangat sakit saat melihat foto sahabatnya yang meninggal karena bunuh diri. Dika bunuh diri lantaran dikhianati oleh kekasihnya. Kekasihnya hamil dengan orang lain. Mulai saat itu, Sultan tidak terlalu respek kepada wanita. Padahal ia sempat menjadi idola di kampusnya. Siapa yang tidak tertarik dengan ketampanan dan karismanya. Namun Sultan sendiri yang merubah dirinya menjadi image yang tidak baik. Ia sempat mengatakan tidak suka kepada wanita. Dan hal itu yang membuat dirinya dijauhi wanita di kampusnya. Sultan bersyukur akan hal itu. Padahal tidak pernah ada bukti bahwa dia seorang gay.
"Huh.... Dika, kenapa dulu kamu harus bunuh diri? Seharusnya kamu buktikan bahwa kamu lebih segalanya. Kamu balas penghianatannya dengan pembuktian yang membuatnya menyesal."
*
Di kost-an Riri
Fira baru saja datang. Ia membawa makanan dan minuman yang Riri pesan.
"Akhirnya kamu datang juga. Bisa jamuran aku nungguin orang pacaran."
"Haha... ya, maaf."
"Fir, kalau kataku sih ya. Kamu dan Tirta kan sudah pacaran cukup lama. Kenapa kalian nggak tunangan atau nikah saja? Toh kalian sama-sama punya pekerjaan. "
"Huf... maunya sih gitu. Tirta masih nabung. Dia kan tulang punggung keluarga. Masih harus membiayai sekolah adiknya. "
Riri hanya menganggukkan kepala mendengarnya. Kalau sudah seperti itu, Riri juga tidak bisa memberikan pendapat lagi.
"Kamu sendiri kenala kok nggak Terima si Arga yang ngejar-ngejar kamu itu?"
"Huf... sudah kubilang, aku nggak suka."
"Iya, apa alasannya?"
"Orangnya terlalu obsesi. Dan juga orang tuanya matre."
Fira terkekeh mendengarnya.
"Enak banget seblaknya. Beli di tempat biasanya?"
"Bukan, ini yang sebelah lampu merah. Aku nyoba di situ karena seliweran di tiktok."
"Iya, enak ini. Lebih berasa gitu bumbunya."
"Ya sudah, kapan-kapan belinya di situ lagi."
Mereka menghabiskan seblak dan minumannya. Setelah itu, Riri mencuci mangkok dan sendok bekas mereka makan. Selanjutnya, seperti biasa mereka akan ngobrol sampai mengantuk jika Fira tidak telponan dengan Tirta. Riri beruntung memiliki sahabat seperti Fira. Mereka kenal saat kuliah dulu. Namun dulu mereka hanya sekedar kenal karena beda jurusan. Dan atas kehendak Allah keduanya diterima di perusahaan yang sama meski di bagian yang berbeda. Keduanya memiliki kemampuan masing-masing.
Keesokan harinya.
Riri dikejutkan dengan bunyi alarmnya. Ia sengaja memasang alarm jam 6 karena memang sedang tidak shalat. Sedangkan Fira saat ini berada di dalam kamar mandi. Ia sedang mencuci pakaiannya.
"Mimpi apa aku tadi ya?" Gumamnya.
Riri mengingat-ingat mimpinya.
"Oh ya Allah, kok bisa aku mimpi bang ojek yang kemarin? Ya ampun, jelas banget lagi."
Ceklek...
Fira keluar dari kamar mandi.
"Ngapain kamu geleng-geleng kepala sendiri, Ri?"
"Eh itu, nggak. Aku hanya mimpi."
"Mimpi apa?"
"Mimpi bang ojol."
"Ada-ada saja kamu tuh. Bang ojol segala yang dimimpiin. Mimpi itu pangeran berkuda kek!"
Riri mengangkat cuciannya dan membawanya ke balkon belakang untuk dijemur.
*
Di rumah Sultan.
Ia baru saja selesai ngegym. Bibi datang membawakan susu vanila untuknya.
"Terima kasih ya, bi'."
"Sama-sama, den."
Sekitar jam 8, Sultan sarapan bersama dengan yang lain. Nampak kedua orang tuanya masih seperti tadi malam. Mereka tidak banyak bicara. Abi mengambil daging stik yang baru dikeluarkan oleh bibi'.
"Bi, bukannya kolesterolnya tinggi. Jangan makan daging dulu!" Ujar Sultan.
Abi melirik istrinya. Ummi pun memberi kode.
"Iya, bi. Ambil ini ikan saja."
Abi hanya bisa menelan salivanya sendiri.
Ummi hanya bisa menahan tawa melihat suaminya.
"Ummi tahu, sebenarnya ksmu itu perhatian sama kita, bang." Batin ummi.
Bersambung....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!