Indonesia
NovelToon NovelToon

Preman Sekolah Jadi Pewaris

Chapter 1 - Sage Iskandar

Bel berbunyi keras di SMA Garuda Jaya, menandakan pelajaran pertama dimulai. Siswa sudah duduk rapi di kelas XI IPS 2.

Kecuali satu kursi di pojok belakang. Kursi milik Sage Iskandar. Atau lebih dikenal satu sekolah dengan nama Ge.

Bagi guru-guru di SMA Garuda Jaya, Ge bukan sekadar murid. Dia lebih seperti langganan masalah berjalan. Kalau sehari tidak bikin masalah, guru-guru malah curiga.

Pintu kelas tiba-tiba terbuka dengan keras.

BRAK!

Ge masuk santai, rambut acak-acakan, seragam tidak dimasukkan, dan tas cuma disampirkan di bahu.

Pak Rudi yang sedang mengajar matematika langsung memejamkan mata.

“Ge…”

“Ya, Pak?”

“Ini jam berapa?”

Ge melihat jam dinding. “Jam delapan lewat lima, Pak.”

“Sekolah mulai jam tujuh!”

Ge mengangguk santai. “Berarti saya telat satu jam lima menit, Pak.” Dia berlagak seolah telat satu jam bukanlah hal besar.

Seluruh kelas langsung tertawa.

Pak Rudi menahan emosi. “Keluar!”

Ge baru saja duduk. “Pak, baru juga duduk.”

“Keluar!”

Ge berdiri santai. “Baik, Pak. Saya ke tempat favorit aja kalau gitu.”

Pak Rudi menghela napas panjang. “Ruang BK?”

Ge tersenyum. “Betul sekali.”

Ruang BK SMA Garuda Jaya sudah seperti ruang tamu kedua bagi Ge. Begitu pintu dibuka, Bu Rina yang sedang mengetik langsung mendongak.

“Ah. Kamu lagi.”

Ge duduk santai di kursi depan meja.

“Pagi, Bu Rina.”

“Kenapa lagi?”

“Telat.”

“Alasan?”

Ge berpikir. “Habis menyelamatkan dunia, Bu.”

Bu Rina menatapnya datar. “Kamu pasti bangun kesiangan lagi kan?"

Ge tertawa kecil.

Bu Rina langsung mulai ceramah. “Kamu tuh ya, Ge! Nggak capek kamu tiap hari kerjaannya keluar masuk ruang BK terus, hah?!”

Ge mengangkat bahu. “Nggak capek lah, Bu. Kan guru BKnya cantik.”

Sontak telinganya langsung dijewer.

“AUW!”

“Mulut kamu itu ya!”

Beberapa siswa yang lewat di depan ruang BK langsung tertawa melihat Ge lagi-lagi dijewer. Pemandangan yang sudah terlalu biasa.

Begitulah keseharian Ge di sekolah. Di masa remajanya, dia sedang gencar-gencarnya mencoba sesuatu hal baru.

Sejak kecil Ge dibesarkan oleh pasangan rentenir. Jadi bisa dibilang kehidupannya memang di kelilingi para preman yang bekerja jadi bawahan orang tuanya. Ge sudah belajar berkelahi sejak usia sepuluh tahun. Berminat dengan yang namanya tato saat menginjak SMP. Jujur saja, tak ada orang yang tahu hingga sekarang kalau Ge punya tato di ketiaknya.

Dengan perawakan tinggi, rahang tegas dan potongan rambut cepaknya, Ge juga tak lepas dari label preman. Semua murid di SMA Garuda Jaya sudah menganggapnya sebagai preman sekolah. Meskipun begitu, Ge tak pernah menindas yang lemah. Dia hanya akan melakukan kekerasan jika ada seseorang yang lebih dulu membuat masalah dengannya.

Karena sudah terlambat datang ke sekolah, saat itu Ge lagi-lagi mendapat hukuman. Dia disuruh membersihkan toilet saat pulang sekolah nanti.

"Astaga naga, Bu... Kok bersihin toilet sih? Bukannya biasanya nyapu ruang guru aja?" keluh Ge.

"Kamu nggak pernah kapok! Makanya hukumannya tambah berat!" balas Bu Rina.

Ge mendengus kasar. Dia tak bisa protes lagi karena dirinya sadar akan kesalahannya.

Tak lama bel istirahat berbunyi. Ge diperbolehkan pergi dari ruang BK. Ia menemui dua sahabatnya yang sudah menunggu di depan pintu.

"Anjir! Lo kayaknya udah mecahin rekor dunia, Ge. Murid paling sering keluar masuk ruang BK," celetuk Bimo. Dia dan Taufik lalu cekikikan bersama.

"Sialan kalian. Kayak kalian berdua enggak aja," tanggap Ge.

"Kami emang sering juga ke ruang BK. Tapi lo lebih sering dari kami," sahut Taufik.

"Eh gimana nanti pulang sekolah? Jadi kan?" tanya Bimo.

"Jadi lah! Di tempat biasa kan?" tanggap Ge. Namun saat itulah dia teringat dengan hukuman Bu Rina.

"Oh iya, kayaknya gue nggak bisa langsung ikut kalian pas pulang sekolah nanti. Gue harus bersihin toilet!" ungkap Ge. "Bantuin ya!"

"Dih! Ogah!" Bimo langsung menolak.

"Iya, kalau cuman nyapu kami nggak masalah. Tapi kalau bersihin tai, bukan level kami. Lagian lo kenapa hampir tiap hari telat mulu sih?" timpal Taufik.

"Biasalah. Gue teleponan sama pacar gue," sahut Ge sambil cengengesan.

Mendengar itu, Bimo dan Taufik langsung berseru jijik. Mereka tentu tahu kalau Ge tak punya pacar.

"Sejak kapan lo punya pacar? Kayak kami nggak bisa nebak aja apa kerjaan lo pas malam," tukas Taufik.

Bimo tergelak. "Iya. Gue yakin dia bergadang nonton bokep," bisiknya. Dia dan Taufik lantas tertawa bersama.

"Hahaha! Namanya aja Sa*ge. Itu cuman dihilangin huruf N-nya doang," tambah Taufik.

Ge memutar bola mata jengah. Namun saat itu atensinya tak sengaja tertuju ke arah seorang siswi cantik yang berdiri di depan ruangan kepala sekolah.

"Eh, eh! Lihat tuh! Cewek baru kayaknya!" ujar Ge sambil merangkul Bimo dan Taufik.

Chapter 2 - Membersihkan Toilet

Dengan pedenya Ge melambaikan tangan pada siswi baru itu. Namun siswi baru tersebut langsung membuang muka saat mendapat sapaan Ge. Dia jelas mengabaikan Ge.

"Hahaha! Ketakutan dia sama lu, Ge! Udah... Mending kita makan ke kantin. Cacing si Bimo udah main keroncong dari tadi," ujar Taufik.

"Enak aja lu, Fik! Yang cacingan itu lu kali!" bantah bimo sewot.

"Ya udah. Ayo kita ke kantin!" Ge berjalan lebih dulu di depan. Sedangkan Bimo dan Taufik mengekori dari belakang.

Di setiap kemunculan Ge, semua orang selalu memberi jalan untuknya. Entah kenapa orang-orang bersikap begitu. Padahal mereka tidak pernah dimarahi oleh Ge. Sepertinya reputasi Ge sebagai putra dari pasangan rentenir membuatnya otomatis mendapat label preman. Terlebih kelakuan Ge juga tidak ada bedanya dengan seorang preman.

Kini Ge dan dua temannya duduk. Mereka memesan makanan dan minuman untuk mengisi perut.

Bersamaan dengan itu, terlihat ada adik kelas yang sedang disuruh-suruh oleh geng Bintang. Berbeda dengan Ge dan teman-temannya, geng Bintang ini juga ditakuti. Namun dalam artian berbeda, anggota-anggotanya dari keluarga kaya raya dan berkuasa. Geng Bintang sendiri terdiri dari empat lelaki dan tiga perempuan.

Geng Bintang bisa dibilang merupakan geng yang meraih takhta tertinggi di SMA Garuda Jaya. Dibanding geng Ge, jelas geng Bintang lebih tinggi derajatnya. Jadi tidak heran orang-orangnya tak punya sopan santun dan sombong.

"Cepat, Co! Ambilin bakso gue dulu! Kok lu malah ngambilin punya Kevin duluan sih," ujar Tantri, salah satu primadona di geng Bintang.

"Eh, Co! Lu bisa nggak sih ambilin semua makanan kami sekalian. Kami udah lapar tahu nggak! Lelet banget coba!" omel Kevin.

"Maaf, Kak... Aku akan ambilin sebisaku..." lirih Fariz, adik kelas berkacamata yang sering jadi bahan bully bulanan geng Bintang.

Fariz tampak bergegas mengambil makanan milik Kevin dan yang lain. Di sisi lain, Ge dan dua temannya memperhatikan semua itu.

Sebenarnya Ge sudah jengah melihat penindasan begitu. Ge bahkan sudah beberapa kali mencoba bertindak, namun Bimo dan Taufik selalu mencegahnya. Sebab dua temannya itu tahu bagaimana berkuasanya keluarga Kevin. Sudah ada beberapa siswa yang diblack list olehnya hanya karena berani melawan Kevin.

"Gue heran sama semua orang. Masa diam aja lihat hal kayak begitu?" imbuh Ge.

"Lu tahu sendiri resikonya kalau lu berani jadi musuh geng Bintang. Udah lah, Ge... Selama nggak berlebihan, mending lu nggak usah ikut campur," saran Bimo.

"Iya, gue setuju sama Bimo." Taufik sependapat dengan Bimo.

Ge hanya bisa mendengus kasar. Dia menuruti saran Bimo dan Taufik. Mengingat dirinya juga tahu apa akibatnya jika berurusan dengan geng Bintang.

...***...

Bel pulang sekolah berbunyi. Seluruh murid saling berdahuluan ingin pulang. Namun tidak bagi Ge yang kala itu punya tugas untuk membersihkan toilet.

Dengan langkah berat, Ge pergi ke toilet. Dia mengambil alat perlengkapan kebersihan dan mulai membersihkan toilet.

Walau Ge anak badung, tapi dia tak pernah meninggalkan tanggung jawabnya. Apalagi kalau sudah berbuat salah.

Dengan telaten Ge bersihkan toilet. Semakin larut siang, keadaan sekolah makin sepi. Kini Ge baru selesai membersihkan toilet lelaki. Selanjutnya dia pergi ke toilet perempuan.

Sebelum masuk, Ge tidak lupa memanggil terlebih dahulu. Memastikan tidak ada orang di dalam toilet.

"Halo? Ada orang di dalam?" ujar Ge.

Karena tak ada jawaban, Ge pun memutuskan melangkah masuk. Dia yakin tak ada siapa-siapa di dalam.

"Sialan! Ngapain lu masuk ke toilet cewek?!" suara seorang gadis langsung menyambut. Ge juga bisa mencium aroma asap rokok di sana.

Gadis itu tak lain adalah Tantri. Ia tampak bergegas membuang rokoknya ke lantai.

Chapter 3 - Pinjaman Cepat

Ge terlihat santai saat memergoki Tantri merokok. Dia bahkan merasa miris melihatnya. Apalagi rokok yang dibuang cewek itu belum dimatikan dan tidak dibuang ke tempat sampah.

"Gue mau bersihin toilet ini. Lagian kan tadi gue udah sempat tanya apa ada orang di dalam atau nggak. Harusnya lu jawab!" tukas Ge.

"Gue nggak dengar!" Tantri memperlihatkan headset yang terpasang di telinga. Setelah itu, dia hendak beranjak pergi.

Tantri sebenarnya heran pada Ge. Cowok itu terkesan biasa saja kepadanya. Padahal kebanyakan cowok saat berhadapan dengannya selalu tertarik bahkan ada yang langsung merayu. Mengingat Tantri punya paras sangat cantik.

"Woy! Jangan langsung pergi gitu aja. Buang dong rokok bekas lu itu ke tempat sampah!" tegur Ge.

Tantri semakin dibuat terperangah. "Eh, bukannya lu mau bersihin nih toilet? Ya elu lah yang bersihin!" balasnya.

"Bersihin atau lu mau gue laporin ke guru kalau tadi lu merokok?" ancam Ge.

Tantri seketika ciut. Dengan terpaksa dia buang rokok bekasnya ke bak sampah.

"Jangan lupa kalau mau buang rokok itu matikan dulu apinya!" kata Ge.

Tantri menurut dengan terpaksa. Di akhir, dia acungkan jari tengah ke wajah Ge.

Ge menggelengkan kepala. Dia heran kenapa cewek seperti Tantri bisa jadi primadona sekolah.

Setelah hampir dua jam membersihkan toilet, Ge akhirnya selesai. Dia segera menemui Bimo dan Taufik yang masih menunggu di parkiran.

"Lama banget sih lu! Udah jamuran kami nunggunya," keluh Taufik.

"Dih! Baru juga lima menit, udah jamuran," tanggap Ge santai.

Plak!

Ge langsung kena geplak di kepala oleh Bimo. "Lima menit pala lu!"

Ge terkekeh. Dia dan dua sahabatnya itu segera pergi ke tempat nongkrong seperti biasa. Mereka berkumpul di sebuah gedung terbengkalai untuk mencoba hal yang membuat mereka penasaran.

"Tada! Lihat guys!" ujar Bimo sambil memperlihatkan lem oplosan yang dibawanya.

"Anjir! Cepat pasang-pasang! Biar cepat terbang kita," sahut Taufik tak sabar.

"Kita ngapain sih gini-gini? Sebenarnya nggak ada gunanya loh," imbuh Ge.

"Terus lu nggak mau?" tanya Bimo.

"Enak aja. Mau lah!" jawab Ge langsung.

"Kampret! Sok-sokan ngingetin. Padahal dia yang paling parah di antara kita," ucap Taufik. Dia, Bimo, dan Ge langsung menghirup lem oplosan sambil duduk menyandar di dinding yang tampak penuh dengan coretan grafiti. Dalam sekejap, mereka mulai melayang.

"Ge... Fik... Kalian sadar nggak sih kalau ketek Elina itu bau?" celetuk Taufik. Dia mulai meracau. Tapi yang dibahasnya adalah fakta.

"Semua orang sadar kali... Tapi Elina-nya aja kayaknya belum sadar," sahut Bimo.

Ge tersenyum lebar dengan wajah mabuknya. "Sumpah ya, pas presentasi kemarin, gue rasanya ada di lembah ketek karena itu ketek Elina bau banget. Jengkol aja kayaknya nggak sebau itu..." racaunya. Bimo, Taufik, dan Ge lalu tertawa bersama.

"Harus ada sih seseorang yang kasih tahu Elina tentang bau keteknya," ungkap Taufik.

"Tapi kayaknya nggak ada yang tega deh, Fik. Elina kan cewek baik-baik. Terus dia pintar juga kan ya," kata Bimo.

"Gue punya ide!" cetus Ge. Taufik dan Bimo lantas menatap ke arahnya.

"Kalian tahu lagu Project Pop nggak? Yang lagunya gini, 'bau, bau, bau lu bau ketek. Bau, bau, bau lu bau ketek...' gitu," ujar Ge sambil bernyanyi.

"Terus? Lu mau suruh Elina dengar lagu itu?" tanya Bimo.

"Kalau bisa begitu." Ge mengangguk.

"Cih! Paling cuma bacot aja lu!" timpal Taufik.

"Lihat aja ya besok. Gue akan kasih lagu itu buat dia," sahut Ge.

Bimo dan Taufik tergelak bersama. Keduanya tahu betul kalau Ge tak pernah main-main dengan ucapannya. Bahkan saat sedang ngelem.

"Gue jadi nggak sabar nunggu besok," komentar Taufik.

"Anjing banget emang punya temen kayak lu, Ge!" tambah Bimo.

"Begitulah Ge. Preman sekolah yang suka bikin sekolah meledak sama kelakuannya," balas Taufik.

Reputasi Ge di sekolah memang sudah legendaris. Beberapa catatan pelanggarannya seperti, pernah membawa ayam ke kelas biologi, pernah mengganti suara bel sekolah dengan suara ayam, pernah jual gorengan di kelas saat ulangan, dan yang paling aneh, dia pernah debat sama guru sejarah satu jam soal strategi perang pakai lempar sandal.

Anehnya lagi, Ge sebenarnya lumayan pintar. Nilainya cukup untuk naik kelas. Cuma kelakuannya seperti tidak pernah ingin hidup damai.

Sore hari, Ge pulang dengan motor tuanya yang suaranya seperti petasan.

BRRAAAKKK!

Motor berhenti di depan rumah sederhana yang juga jadi tempat usaha.

Di depan rumah ada papan kecil, PINJAMAN CEPAT – TANPA RIBET.

Ge turun dari motor. Belum sempat masuk, seorang wanita paruh baya berbadan gemuk keluar dengan wajah kesal.

“GE!”

Ge langsung nyengir. “Kenapa, Mak?" tanggapnya.

“Ge! Kamu ya yang ambil duit Mamak?! Dasar anak kurang ajar!”

Ge menggaruk kepala. “Cuma pinjam.”

“PINJAM APANYA?!”

“Lah, kan Mamak kerjaannya kasih pinjaman, masa sama anak sendiri nggak dikasih pinjam?”

Mamaknya langsung mau melempar sandal. “BALIKIN Nggak?!”

Ge sudah menyalakan motor kembali. “Nanti aku bayar, Mak! Sekalian sama bunganya juga," balasnya.

“GE!”

Ge tertawa keras. “Makasih, Mak! Love yuhh!”

Motor langsung melaju.

BRRRRAAAAK!

Mamaknya berdiri sambil memegang sandal. “ANAK SETAN!”

Tetangga hanya menggeleng. Semua orang di lingkungan itu tahu Ge. Anak yang dibesarkan pasangan rentenir. Temannya preman. Kerjaannya bikin masalah.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!