Indonesia
NovelToon NovelToon

Aroma Harapan Di Balik Loyang Kue

Aroma oven

Suara denting oven tua menjadi alarm pagi bagi kami. Saat langit masih berwarna biru pekat, Ibuku sudah sibuk di dapur kecilnya yang penuh dengan aroma mentega dan vanila. Di sana, di atas meja kayu yang sudah mulai lapuk, Ibuku "menjual" lelahnya menjadi kepingan-kepingan manis.

"Ibu, kenapa harus bikin kue sebanyak ini setiap hari?" tanyaku suatu pagi, sambil membantunya menata donat ke dalam etalase plastik.

Ibu tersenyum, menyeka keringat di dahi dengan ujung daster kumalnya. "Ibu tidak sedang menjual kue, Nak. Ibu sedang menjual harapan supaya kamu bisa terus sekolah."

Setiap pagi, Ibu menggendong keranjang kue itu ke pasar. Ia berjalan berkilo-kilo meter, menjajakan kue satu per satu kepada para pedagang dan pembeli yang sibuk. Terkadang kue-kuenya habis tak bersisa, namun tak jarang ia pulang dengan keranjang yang masih setengah penuh dan wajah yang tampak lesu.

Suatu sore, aku melihat Ibu duduk di bangku depan rumah, memijat kakinya yang bengkak. Ia tak tahu aku melihatnya. Ia membuka dompet lusuhnya, menghitung lembaran uang ribuan yang lusuh dan berminyak karena mentega. Ada binar bahagia di matanya saat melihat jumlahnya cukup untuk membayar biaya ujianku esok hari.

Malam itu, aku menyadari satu hal. Di setiap gigitan kue yang orang lain nikmati, ada doa yang tak putus-putus dari seorang ibu. Ia menjual tenaga dan waktunya, menukar setiap tetes keringatnya dengan mimpiku.

Kini, bertahun-tahun kemudian, setiap kali aku mencium aroma kue yang baru matang, aku selalu teringat dapur kecil itu. Dapur tempat seorang pahlawan tanpa tanda jasa merajut masa depanku melalui loyang-loyang kue yang sederhana.

......

"Kue ini rasanya bukan cuma manis, tapi ada rasa sayang Ibu di dalamnya."

Itu adalah kalimat yang selalu aku dengar dari para tetangga. Setiap pukul empat pagi, dapur kami sudah gaduh. Suara kocokan telur yang beradu dengan wadah plastik dan wangi pandan yang menyeruak menjadi alarm alami bagiku.

Ibu adalah seorang "pesulap" dapur. Dengan bahan-bahan sederhana—terigu, telur, dan gula—ia bisa menciptakan keajaiban yang menyambung hidup kami.

"Ibu, apa tidak capek kalau harus bangun sepagi ini terus?" tanyaku sambil membantu membungkus kue klepon ke dalam mika kecil.

Ibu hanya tersenyum tipis, tangannya masih lincah menaburkan parutan kelapa. "Capek itu hilang, Nak, setiap kali Ibu lihat kamu berangkat sekolah pakai seragam rapi. Kue-kue ini yang mengantar kamu ke gerbang sekolah."

Suatu hari, hujan turun sangat deras. Pasar sepi, dan banyak kue Ibu yang tidak laku. Aku melihat Ibu duduk di sudut dapur, menatap sisa kue yang mulai mengeras. Tidak ada keluhan, hanya helaan napas panjang. Ia kemudian membagi-bagikan kue itu kepada anak-anak yatim di ujung jalan.

"Kalau tidak jadi uang, biarlah jadi pahala," katanya pelan.

Di balik setiap loyang kue yang ia jual, ada jam tidur yang ia pangkas, ada tangan yang melepuh terkena pinggiran oven, dan ada doa yang ia selipkan di setiap adonan. Ibu tidak hanya menjual makanan; ia menjual seluruh hidupnya demi selembar ijazah untukku.

Kini, setiap kali aku mencium aroma mentega, aku tidak hanya teringat rasa manisnya, tapi aku teringat betapa kerasnya perjuangan Ibu demi menjadikanku "seseorang."

******

"Satu loyang lagi, Nak. Tanggung," bisik Ibu, padahal matanya sudah merah karena menahan kantuk.

Dapur kami adalah saksi bisu. Di sana, Ibu tidak hanya mencampur tepung dan gula, tapi juga mengaduk harapan. Setiap kali api kompor menyala, ia sedang membakar rasa lelahnya sendiri.

Aku ingat suatu sore saat aku pulang sekolah dengan wajah ditekuk. "Bu, teman-temanku mengejek. Katanya baju aku bau gorengan kue."

Ibu terhenti sejenak dari aktivitasnya memoles kuning telur di atas nastar. Ia tidak marah. Ia justru menarik tanganku, lalu menunjukkan telapak tangannya yang kasar dan kapalan karena terlalu sering memegang sodet panas.

"Bau gorengan ini yang bikin kamu bisa beli buku, Nak. Bau mentega ini yang bikin kamu nggak perlu nunduk di depan guru karena SPP nunggak," ucapnya lembut namun tegas.

Sejak hari itu, aku tak pernah lagi malu. Aku justru belajar bahwa martabat tidak datang dari baju yang wangi parfum mahal, tapi dari keringat jujur yang diperas demi keluarga.

Puncaknya adalah saat pengumuman kelulusan. Saat aku naik ke panggung sebagai lulusan terbaik, orang-orang bertepuk tangan. Namun mataku hanya mencari satu sosok: seorang wanita dengan sisa-sisa tepung yang masih menempel di ujung jilbabnya, yang tersenyum lebar sambil memegang tas kain lusuhnya.

Ibu tidak hanya menjual kue. Ia sedang membelikan masa depan untukku dengan cara yang paling manis.

______

"Berapa harga satu mimpi, Bu?" tanyaku iseng suatu malam, saat melihatnya sibuk memilin adonan pastel.

Ibu tertawa kecil, suara parau yang terdengar lelah namun hangat. "Mimpi kamu itu harganya ribuan loyang, Nak. Makanya Ibu nggak boleh berhenti masak."

Pernah suatu kali, tangannya melepuh tersiram minyak panas. Aku panik, ingin membawanya ke puskesmas, tapi Ibu hanya merendam tangannya di air dingin sejenak, lalu kembali membungkus kue. "Kalau besok Ibu nggak jualan, kamu nggak bisa ikut darmawisata," katanya enteng, seolah luka itu cuma gigitan nyamuk.

Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar bangun, Ibu sudah menggendong keranjang besar di punggungnya. Postur tubuhnya agak membungkuk, seolah beban keranjang itu adalah seluruh beban dunia yang ia pikul sendiri. Aku sering melihatnya dari balik jendela; sosok kecil yang menantang dinginnya embun demi recehan yang dikumpulkan dengan telaten.

Tahun-tahun berlalu, dan dapur itu tetap mengepul. Loyang-loyang yang dulu berkilat kini sudah menghitam dan penyok, sama seperti kulit tangan Ibu yang semakin keriput. Namun, dari dapur tua itulah, aku lahir menjadi manusia yang "jadi".

Hari ini, di rumah baruku yang megah, aku sengaja membangun dapur yang sangat luas untuknya. Tapi anehnya, Ibu tetap lebih suka memakai ulekan kayu tua dan loyang penyoknya yang dulu.

"Kenapa masih pakai yang lama, Bu?" tanyaku.

Ia mengelap loyang itu dengan sayang. "Loyang ini yang sudah 'menjual' lelah Ibu sampai jadi rumah ini, Nak. Ibu nggak mau lupa rasanya berjuang."

Ternyata, rahasia kue Ibu yang paling enak bukan terletak pada takaran gulanya, tapi pada ketulusan seorang wanita yang rela menghabiskan umurnya di depan kompor agar anaknya tidak perlu merasakan panas yang sama.

Bagi orang pasar, Ibu hanyalah penjual kue keliling dengan keranjang kayu di punggungnya. Namun bagi sang anak, Ibu adalah sosok yang sanggup mengubah dapur sempit yang berasap menjadi pabrik mimpi. Cerita ini mengisahkan tentang rahasia di balik rasa manis setiap kue yang dijual—sebuah rasa yang lahir dari getirnya keringat dan perihnya luka bakar yang disembunyikan Ibu di balik lengan bajunya.

Saat sang anak mulai merasa malu dengan aroma dapur yang melekat di tubuhnya, sebuah peristiwa menyadarkannya bahwa setiap butir gula yang Ibu taburkan adalah doa yang dipanjatkan agar hidup sang anak tidak sepahit hidupnya sendiri. Sebuah narasi tentang pengabdian sunyi seorang wanita yang rela menghabiskan umurnya di depan kompor demi membeli ijazah dan kehormatan bagi buah hatinya

pertama kali ke jakarta

Pijakan pertama di aspal Jakarta terasa seperti menginjak bara api bagi kakiku yang hanya beralas sandal jepit murah. Udara di terminal begitu pekat, campuran antara asap knalpot, debu, dan bau keringat ribuan orang yang berebut nasib.

Aku berdiri mematung di pinggir jalan, memeluk tas ransel berisi baju dan sisa kue bekal dari Ibu. Di depanku, gedung-gedung tinggi mencakar langit, seolah-olah raksasa beton itu sedang menunduk dan menertawakan koper lusuhku yang diikat tali rafia.

"Mau ke mana, Dek? Ojek? Taksi?" suara-suara itu menyerbu telingaku secara bersamaan. Di sini, tidak ada senyum ramah pedagang pasar tempat Ibu biasa berjualan. Semua mata terlihat tajam, semua langkah terasa terburu-buru, seakan waktu adalah musuh yang harus dikejar.

Aku merasa seperti butiran debu di tengah badai. Perutku melilit, bukan hanya karena lapar, tapi karena rasa takut yang tiba-tiba mencekik. Aku teringat dapur Ibu yang hangat, bau margarin, dan suara denting loyang yang menenangkan. Di sini, yang ada hanyalah klakson yang memekakkan telinga dan orang-orang asing yang tak peduli jika aku jatuh pingsan di trotoar.

Aku merogoh saku, menyentuh bungkusan kue terakhir yang sudah hancur jadi remahan. "Ibu, Jakarta ternyata lebih besar dari mimpiku," bisikku lirih.

Setiap langkah yang kuambil menjauh dari terminal terasa berat, seolah bayangan Ibu menarik kakiku untuk pulang. Namun, bau mentega yang masih samar menempel di jaket ini mengingatkanku: aku tidak datang ke sini untuk sekadar melihat gedung, aku datang untuk meruntuhkan tembok kemiskinan yang membelenggu punggung Ibu.

Jakarta bukan menyambutnya dengan karpet merah, melainkan dengan ketidakpedulian yang dingin, memaksanya sadar bahwa ia harus menjadi sekeras baja untuk bertahan.

*****

Jakarta tidak menyambutku dengan pelukan, tapi dengan debu yang menyesakkan dada. Saat kakiku turun dari bus, aku merasa seperti setetes air yang jatuh ke padang pasir panas—langsung menguap, tak dianggap.

Semuanya bergerak terlalu cepat. Orang-orang berjalan tanpa menoleh, mata mereka tertuju pada layar ponsel atau jalanan di depan, seolah-olah menyapa orang asing adalah dosa besar. Aku berdiri di trotoar, mematung sambil memeluk tas ranselku erat-erat. Di kampung, aku merasa sudah dewasa, tapi di depan gedung-gedung yang ujungnya hilang ditelan polusi ini, aku merasa kembali menjadi bocah kecil yang ketakutan.

"Woi, minggir! Jangan bengong di tengah jalan!" teriak seorang pengendara motor yang hampir menyenggol pundakku.

Aku tersentak, jantungku berdegup kencang. Bau udara di sini sangat busuk—campuran bensin dan sampah—sangat berbeda dengan aroma kayu bakar dan adonan donat yang biasa menyelimuti pagiku. Aku merindukan dapur Ibu seolah-olah aku sudah meninggalkannya selama bertahun-tahun, padahal baru tadi pagi aku mencium tangannya.

Aku mengeluarkan secarik kertas berisi alamat kerabat jauh yang menjanjikan tumpangan. Kertas itu sudah lembap karena keringat tanganku. Di sekelilingku, cahaya lampu iklan yang berwarna-warni tampak begitu mewah, tapi bagiku, cahaya itu terasa dingin dan asing.

"Ibu, ternyata benar kata orang. Di Jakarta, langitnya tinggi tapi tanahnya sempit," bisikku pelan.

Aku mulai melangkah, mencoba mengikuti arus manusia. Setiap langkah adalah taruhan. Aku tahu, jika aku berhenti sekarang, aku akan kalah sebelum berperang. Aku harus menemukan jalan, demi setiap butir gula yang Ibu taburkan di atas kue-kuenya, demi setiap malam yang ia habiskan tanpa tidur.

Keterasingan total di tengah keramaian. Ia menyadari bahwa di kota ini, ia bukan lagi "anak Ibu yang pintar", melainkan hanya satu dari jutaan orang yang berebut nasib.

******

Jakarta bukan sebuah kota, tapi sebuah raksasa yang tidak punya perasaan.

Begitu aku melangkah keluar dari pintu stasiun, hawa panas menyergap wajahku seperti uap dari oven besar Ibu yang baru dibuka. Bedanya, uap ini tidak beraroma manis. Ini adalah uap dari aspal yang mendidih, sisa pembakaran mesin, dan amarah orang-orang yang terjebak macet.

Aku berdiri mematung di tengah arus manusia yang tumpah ruah. Di kanan-kiriku, orang-orang berlari seolah nyawa mereka tinggal hitungan detik. Aku mencoba bertanya pada seseorang tentang arah jalan, tapi ia hanya melewatinya sambil menatap layar ponselnya, seakan aku hanyalah tiang listrik yang tidak terlihat.

"Ibu..." bisikku, nyaris tak terdengar di antara bisingnya suara kereta dan klakson.

Aku memandang ke atas. Langit Jakarta tidak berwarna biru, tapi abu-abu pucat.

Gedung-gedung tinggi itu seolah-olah sedang menghimpitku, membuat napas kecilku terasa sesak. Di tanah kelahiranku, aku adalah harapan Ibu. Di sini, aku bukan siapa-siapa. Aku hanya setitik debu di atas lantai marmer ibu kota.

Aku merogoh saku jaket, menemukan sepotong kue yang Ibu selipkan tadi pagi. Bentuknya sudah hancur, penyok karena terhimpit di dalam tas selama perjalanan. Saat aku menggigitnya, rasa manis gula merah dan gurih kelapa itu meledak di mulutku. Untuk sesaat, bisingnya Jakarta hilang. Yang ada hanyalah suara Ibu yang sedang mengaduk adonan.

Aku menelan remahan kue itu dengan paksa, menahan air mata agar tidak jatuh di depan orang-orang asing ini. Aku tidak boleh terlihat lemah. Ibu menjual lelahnya untuk membelikan tiket ini. Jika aku menangis sekarang, artinya aku sedang menyia-nyiakan setiap tetes keringatnya.

Aku menegakkan punggung, membetulkan letak tas ranselku yang berat, dan mulai melangkah masuk ke dalam hutan beton itu.

Pijakan pertama ini adalah awal dari pertarungan. Ia sadar, untuk bisa bertahan di Jakarta, hatinya harus sekeras loyang baja milik Ibunya.

ingat pesan ibu

Bu, aku mau ke Jakarta. Aku nggak mau Ibu terus-terusan jualan kue sampai sakit-sakitan begini."

Kalimat itu meluncur begitu saja di antara uap panas kukusan kue subuh itu. Tangan Ibu yang sedang menata kue lapis mendadak kaku. Ia tidak langsung menjawab. Hanya ada suara desis kompor yang mengisi sunyi di antara kami.

Ibu menatapku, matanya yang mulai keruh karena katarak tipis menatap dalam-dalam. "Jakarta itu jauh, Nak. Lebih jauh dari pasar yang Ibu datangi setiap pagi. Di sana nggak ada yang kenal aroma kue Ibu kalau kamu kelaparan."

Aku menggenggam tangan Ibu. Kasar, penuh bekas luka bakar, dan sela kukunya masih menyisakan sisa tepung yang sulit hilang. "Justru itu, Bu. Aku mau beli tangan Ibu yang baru. Aku mau Ibu istirahat. Biar aku yang 'memanggang' masa depan kita di sana."

Ibu akhirnya tersenyum, tapi kali ini senyumnya terasa getir. Ia merobek selembar plastik pembungkus kue, lalu menyelipkan uang saku terakhir hasil jualan kemarin ke sakuku.

"Pergilah. Tapi ingat, Jakarta itu keras, lebih keras dari kerak kue yang gosong. Kalau kamu gagal, jangan pernah merasa kecil. Rumah ini selalu punya sisa adonan untuk kamu makan."

Aku melangkah keluar pintu saat langit masih remang, membawa tas lusuh dan bekal kue buatan Ibu yang masih hangat. Di balik punggungku, aku tahu Ibu kembali ke depan kompornya. Ia menjual air matanya pagi itu, agar aku punya ongkos untuk mengejar mimpi di kota yang tak pernah tidur.

Perantauan ini bukan sekadar pindah kota, tapi sebuah misi untuk mengakhiri masa depan Ibu di depan kompor panas.

*******

"Jakarta itu bukan tempat buat orang yang hatinya lembek, Nak," suara Ibu bergetar, bukan karena takut, tapi karena ia tahu persis betapa rapuhnya dunia di luar dapur kami.

Aku berlutut di depan kakinya yang pecah-pecah. "Bu, aku sudah bosan melihat Ibu terbangun jam tiga pagi hanya untuk recehan. Aku ingin membelikan Ibu tempat tidur yang empuk, bukan kursi kayu yang selalu bikin punggung Ibu sakit."

Ibu mengusap kepalaku dengan tangan yang masih berbau margarin. "Ibu tidak pernah minta tempat tidur empuk. Ibu cuma minta kamu tetap jadi orang baik, meski di sana nanti kamu harus berdesakan dengan orang-orang yang mungkin akan menginjakmu."

Malam sebelum keberangkatanku, Ibu tidak tidur. Ia membungkuskan satu stoples besar kue kering—kue yang paling keras yang bisa ia buat. "Ini untukmu. Kalau kamu merasa lelah dan ingin menyerah, gigit kue ini. Biar kamu ingat, sekeras apa pun Jakarta, masih lebih keras perjuangan Ibu buat membesarkanmu."

Di stasiun, saat kereta mulai bergerak, aku melihat sosoknya berdiri di peron. Ia tampak sangat kecil di antara kerumunan orang, melambaikan tangan dengan daster yang berkibar tertiup angin. Di matanya, aku melihat sebuah doa yang lebih kuat dari mesin kereta mana pun.

Aku memeluk stoples kue itu erat-erat. Aku pergi bukan untuk meninggalkan Ibu, tapi untuk menjemput sisa umur Ibu agar ia tak perlu lagi menjual lelahnya di bawah panasnya api kompor.

"Jakarta, aku datang bukan untuk mengemis, tapi untuk menukar air mata Ibuku dengan istana yang layak untuknya."

_______

"Satu hal yang harus kamu bawa, Nak. Jangan cuma bawa baju," kata Ibu sambil menyerahkan sebuah bungkusan kain yang berat.

Aku membukanya. Ternyata isinya adalah timbangan tua milik Ibu—timbangan yang sudah pudar warnanya, yang selama puluhan tahun menakar tepung demi menyekolahkanku.

"Kenapa Ibu kasih ini?" tanyaku dengan kerongkongan tercekat.

"Biar kamu tahu cara menimbang diri. Di Jakarta nanti, timbanglah setiap langkahmu. Jangan sampai ambisimu lebih berat daripada kejujuranmu. Jangan sampai duniamu lebih berat daripada sujudmu," ucap Ibu pelan, sambil mengusap air mata yang akhirnya jatuh ke pipinya yang keriput.

Pagi itu, terminal terasa begitu sesak dan asing. Bau asap bus menyerang hidungku, sangat kontras dengan aroma kue Ibu yang biasa menyapa pagiku. Saat bus mulai merayap pergi, aku melihat Ibu dari balik kaca jendela. Ia masih berdiri di sana, mengusap tangannya ke daster, kebiasaannya setiap kali selesai membentuk adonan.

Di dalam bus yang bergoyang-goyang menuju ibu kota, aku mendekap ranselku. Di dalamnya ada timbangan tua dan segenggam doa Ibu. Aku sadar, aku tidak sedang merantau sendirian. Aku membawa seluruh harapan yang sudah dipanggang Ibu selama puluhan tahun dalam panasnya dapur kami.

"Tunggu aku, Bu. Aku akan pulang membawa hasil yang jauh lebih berat dari sekadar sekarung tepung."

Keberangkatan ini bukan hanya soal pindah tempat, tapi tentang membawa "timbangan moral" dari seorang ibu ke kota yang penuh tipu daya.

///////

"Kalau nanti kamu lapar dan nggak punya uang, jangan mencuri. Pulanglah, meski harus jalan kaki."

Itu pesan terakhir Ibu sebelum aku naik ke bus antar-kota. Tangannya yang kasar menyelipkan bungkusan nasi dengan lauk sisa potongan-potongan pinggiran kue pesanan orang. Di mata Ibu, Jakarta bukan kota penuh gedung tinggi, tapi sebuah hutan gelap yang siap menelan anaknya hidup-hidup.

Di sepanjang perjalanan, aku terus menatap telapak tanganku sendiri. Aku merasa berdosa karena tangan ini masih halus, sementara tangan Ibu sudah mati rasa karena panasnya loyang. Aku merantau bukan karena membenci rumah, tapi karena aku benci melihat Ibu menua di depan api kompor yang tak pernah padam.

Tiba di Jakarta, udara panas dan debu menyambutku seperti tamparan. Aku berdiri di antara ribuan orang yang berjalan terburu-buru, tak ada satu pun yang menoleh atau tersenyum seperti orang-orang di pasar tempat Ibu jualan. Gedung-gedung di sini begitu tinggi, seolah-olah mereka sedang menertawakan koper lusuhku yang diikat tali rafia.

Malam pertamaku di sebuah halte, aku membuka bungkusan nasi dari Ibu. Aroma kue yang samar tercium dari bungkusan itu seketika meruntuhkan pertahananku. Di tengah bisingnya klakson ibu kota, aku menangis sesenggukan sambil mengunyah nasi yang mulai dingin.

"Bu, Jakarta keras sekali. Tapi aku nggak akan pulang sebelum bisa mematikan api kompor di dapur kita selamanya."

Jakarta adalah oven yang besar, dan si anak kini adalah adonan yang sedang diuji; apakah ia akan matang menjadi sukses, atau hangus oleh keadaan.

****"

"Nak, jangan pernah merasa lebih tinggi dari orang lain hanya karena kamu sudah melihat gedung-gedung Jakarta."

Pesan itu terngiang saat aku berdiri di bawah bayangan gedung pencakar langit yang puncaknya tertutup kabut polusi. Di tanganku ada selebar kertas alamat kantor tempatku akan mengadu nasib, yang sudah lecek karena keringat dingin di telapak tanganku.

Jakarta jauh lebih angkuh dari yang kubayangkan. Di sini, orang-orang berjalan seolah sedang mengejar nyawa, dan suara klakson terdengar lebih nyaring daripada sapaan tetangga di kampung. Aku merasa seperti butiran terigu yang tercecer di lantai dapur Ibu—kecil, putih, dan mudah Terinjak.

Minggu pertama, aku hanya makan sekali sehari. Aku membagi roti tawar menjadi beberapa bagian kecil, persis seperti cara Ibu membagi kue lapis agar semua pelanggan kebagian. Setiap kali perutku melilit, aku akan mencium aroma sisa-sisa vanila yang masih menempel di jaket lamaku. Aroma itu adalah bahan bakarku.

"Bu, aku sudah dapat kerja. Jadi kuli panggul di gudang," bohongku lewat telepon umum suatu malam, agar ia tak dengar suara perutku yang keroncongan.

"Alhamdulillah, Nak. Jaga kesehatan. Jangan lupa, jangan pernah makan dari hasil yang nggak jujur. Nanti rasa suksesmu nggak akan semanis kue Ibu," jawabnya dari seberang sana, suaranya terdengar parau, mungkin habis menangis atau baru bangun untuk mulai mengadon lagi.

Aku menutup telepon dengan air mata mengalir deras. Di kota yang katanya penuh uang ini, aku harus belajar bahwa kenyang bukan hanya soal makanan, tapi soal harga diri yang tidak boleh aku gadaikan.

Anak itu mulai menyadari bahwa Jakarta tidak butuh orang pintar, tapi orang yang "tahan banting" seperti loyang tua ibunya.

Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!

Download Novel PDF
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!