Rasa sakit
Itulah sensasi pertama yang merobek kesadaran Jiang Chen. Bukan rasa sakit agung dari jiwa ilahi yang terkoyak, atau sengatan pedih dari racun surgawi yang melahap organ dalamnya. Ini adalah rasa sakit yang kotor, kasar, dan fana. Punggungnya terasa seperti patah, setiap tulang di tubuhnya berderit protes, dan kepalanya berdenyut-denyut seolah akan pecah.
Di mana aku?
Ingatan terakhirnya adalah pemandangan dari puncak Gunung Surgawi. Langit dipenuhi awan keemasan, menandakan terobosannya ke Alam Penguasa Surgawi sudah di depan mata. Di hadapannya, berdiri dua orang yang paling ia percayai di seluruh alam semesta.
Xiao Tianlong, murid kesayangannya yang ia pungut dari selokan dan ia ajarkan segalanya.
Ji Lingxue, istrinya, permaisuri alkemis yang ia cintai selama seribu tahun.
Wajah mereka tersenyum, tetapi mata mereka sedingin es abadi. Cawan anggur yang mereka sodorkan—anggur perayaan—ternyata berisi "Api Pemadam Jiwa Sembilan Neraka", racun paling keji yang bahkan bisa melukai seorang Kaisar Dewa.
"Mengapa?" hanya itu kata yang berhasil keluar dari bibirnya saat kekuatan ilahinya mulai runtuh.
Senyum muridnya melebar menjadi seringai buas. "Guru, zaman Anda sudah berakhir. Kuali Primordial Semesta seharusnya tidak dimiliki oleh seorang alkemis tua sepertimu. Berikan padaku, dan aku akan membawanya ke puncak kejayaan!"
Pengkhianatan itu menghancurkan hatinya lebih dari racun mana pun. Saat kesadarannya memudar, ia melihat mereka merebut Kuali Primordial Semesta dari tangannya. Namun, tepat saat jiwanya akan lenyap, artefak ilahi yang telah menemaninya selama ribuan tahun itu tiba-tiba berdengung hebat. Ia melepaskan cahaya keemasan yang menyilaukan, membungkus serpihan terakhir jiwa Jiang Chen, lalu merobek ruang dan waktu.
Dan sekarang... ia di sini. Di sebuah ruangan gelap, pengap, berbau jamur dan obat murah.
Jiang Chen mencoba membuka matanya. Cahaya remang-remang dari celah pintu kayu menyakitkan matanya yang tidak terbiasa. Perlahan, serpihan ingatan asing membanjiri benaknya. Ingatan milik pemilik tubuh ini.
Namanya juga Jiang Chen. Usia enam belas tahun. Satu-satunya putra dari kepala keluarga Jiang di Kota Awan Bambu—sebuah kota kecil di perbatasan Kekaisaran Angin Biru. Dikenal di seluruh kota sebagai... "sampah"
Lahir dengan meridian yang tersumbat, ia tidak dapat berkultivasi sama sekali. Statusnya sebagai tuan muda hanya membuatnya menjadi bahan lelucon yang lebih besar. Tunangannya, Hong Mengyao, putri dari keluarga Hong yang merupakan keluarga nomor satu di kota, baru saja secara terbuka membatalkan pertunangan mereka di alun-alun kota pagi ini.
Pemilik tubuh ini, dalam kemarahan dan rasa malunya, mencoba menantang penjaga keluarga Hong yang menghinanya. Hasilnya? Ia dipukuli hingga nyaris mati dan dilempar kembali ke kediaman Jiang seperti anjing jalanan. Ia meninggal karena luka dalam dan kebencian beberapa saat yang lalu.
"Sungguh ironis..." Jiang Chen bergumam dengan suara serak. "Seorang Kaisar Alkemis yang agung, penguasa pil dan kehidupan, bereinkarnasi ke dalam tubuh sampah yang tidak bisa berkultivasi."
Ia mencoba menggerakkan tubuhnya, tetapi rasa sakit yang menusuk membuatnya terbatuk hebat, mengeluarkan seteguk darah hitam pekat.
Namun, di tengah rasa sakit itu, Jiang Chen yang sekarang bukanlah pemuda lemah yang putus asa. Dengan kemauan setingkat Kaisar, ia memaksa dirinya untuk tenang dan mulai memeriksa kondisi tubuh barunya dengan sisa-sisa kesadaran rohaninya.
Kondisinya lebih buruk dari yang ia bayangkan. Meridiannya bukan hanya tersumbat, tapi hancur lebur. Seperti sungai kering yang retak di mana-mana. Bagi kultivator mana pun di dunia fana ini, ini adalah vonis mati. Tidak ada harapan.
Tapi seulas senyum tipis justru terukir di bibir pucat Jiang Chen.
"Hancur? Tidak, tidak... ini bukan kehancuran. Ini adalah kanvas kosong!" bisiknya pada diri sendiri. "Meridian fana penuh dengan kotoran duniawi. Membangunnya dari nol berarti aku bisa menciptakan fondasi ilahi yang sempurna, sesuatu yang bahkan tidak bisa aku capai di kehidupanku sebelumnya!"
Tiba-tiba, ia merasakan sesuatu yang lain. Jauh di dalam lautan kesadarannya, di inti jiwanya, ada kehangatan yang familier. Sebuah kehadiran yang agung dan kuno.
Kuali Primordial Semesta!
Artefak ilahi itu tidak direbut! Ia telah menyatu dengan jiwanya dalam proses reinkarnasi!
Kegembiraan luar biasa membanjiri hatinya. Dengan Kuali ini, apa itu meridian yang hancur? Dengan Kuali ini, apa itu dunia fana yang kecil? Kuali Primordial Semesta bisa memurnikan segala sesuatu di alam semesta. Memurnikan ramuan menjadi pil ilahi adalah fungsi dasarnya. Yang lebih menakutkan adalah kemampuannya untuk memurnikan garis keturunan, meningkatkan bakat, bahkan memurnikan hukum alam itu sendiri!
"Xiao Tianlong, Ji Lingxue," Jiang Chen mengepalkan tangannya yang lemah, matanya berkilat dingin. "Kalian pikir kalian telah mengambil segalanya dariku. Tapi kalian meninggalkan hal yang paling penting: pengetahuanku, dan artefak tertinggi ini."
Ckiiit...
Pintu kayu berderit terbuka. Seorang gadis muda berpakaian pelayan yang sederhana masuk sambil membawa semangkuk bubur panas yang beruap. Wajahnya kurus, matanya merah dan bengkak karena menangis.
"Tuan Muda," isaknya pelan, "Anda sudah sadar? Syukurlah... Cepat minum ini. Aku berhasil mendapatkan sedikit ginseng dari dapur."
Ini adalah Qing'er, satu-satunya pelayan yang masih setia dan peduli pada Jiang Chen yang asli.
Melihat kekhawatiran tulus di wajah gadis itu, sedikit kehangatan menyentuh hati dingin Jiang Chen. Di kehidupan sebelumnya, semua orang di sekitarnya mendekat karena kekuasaannya. Gadis ini, di sisi lain, tulus.
"Qing'er," kata Jiang Chen. Suaranya lemah, tetapi nadanya tenang dan membawa otoritas yang tak dapat dijelaskan, membuat gadis pelayan itu tertegun. "Jangan menangis."
"Tapi Tuan Muda... Keluarga Hong... mereka keterlaluan! Nona Hong Mengyao bahkan mengatakan bahwa bertunangan denganmu adalah aib terbesar dalam hidupnya!"
Jiang Chen tersenyum tipis. "Hong Mengyao? Seekor burung pegar yang berpikir dirinya adalah feniks. Suatu hari, dia akan menyadari bahwa kehilangan pertunangan ini adalah penyesalan terbesar dalam hidupnya."
Qing'er menatap tuan mudanya dengan bingung. Tuan Muda tidak pernah berbicara seperti ini. Matanya... biasanya penuh dengan keputusasaan dan kemarahan, kini sedalam langit malam, penuh dengan kepercayaan diri yang mutlak. Seolah-olah orang di depannya adalah orang yang sama sekali berbeda.
"Beristirahatlah, Tuan Muda. Aku akan menjaga di luar," kata Qing'er, masih sedikit bingung, lalu meletakkan mangkuk dan pergi.
Sepeninggalnya, Jiang Chen duduk bersila di ranjang, mengabaikan rasa sakit yang menyiksa. Ia menatap tangannya yang pucat dan kurus.
"Perjalanan kembali ke puncak dimulai sekarang."
Ia menutup matanya. Di dalam lautan kesadarannya, ia memanggil kekuatan Kuali Primordial Semesta. Sebuah cahaya keemasan redup mulai bersinar dari dalam jiwanya. Dengan susah payah, ia mengarahkan seutas energi primordial yang sangat murni—energi yang bahkan akan membuat para dewa iri—menuju salah satu fragmen meridiannya yang hancur.
Prosesnya sangat lambat dan menyakitkan. Tapi bagi Jiang Chen, ini adalah musik terindah di dunia.
Retakan kecil di meridian itu mulai menyatu.
Malam berlalu dalam keheningan yang pekat. Jiang Chen duduk tak bergerak, seluruh kesadarannya terfokus pada tugas monumental di dalam tubuhnya. Di bawah kendali jiwanya yang setingkat Kaisar, energi primordial dari Kuali bekerja seperti jutaan seniman mikroskopis, dengan sabar menenun kembali benang-benang meridiannya yang compang-camping.
Proses ini menyakitkan luar biasa. Setiap kali seutas energi primordial menyentuh meridian yang rusak, rasanya seperti ditusuk jarum panas. Pemuda Jiang Chen yang asli pasti sudah pingsan ribuan kali. Tapi bagi Jiang Chen sang Kaisar, rasa sakit ini hanyalah pengingat. Pengingat akan pengkhianatan, dan pengingat akan jalan panjang yang harus ia tempuh.
Saat fajar pertama menyingsing di ufuk timur, Jiang Chen perlahan membuka matanya.
Sebuah napas panjang dan keruh ia hembuskan. Anehnya, napas itu membawa serta bau busuk yang samar, seolah kotoran dari dalam tubuhnya ikut terbuang keluar. Rasa sakit yang melumpuhkan kemarin kini telah banyak berkurang, digantikan oleh rasa gatal yang samar di sepanjang jalur meridiannya—tanda bahwa jaringan baru sedang terbentuk.
Bahkan indranya terasa lebih tajam. Ia bisa mendengar bisikan daun yang jatuh di halaman luar, dan mencium aroma embun pagi yang segar.
Ini adalah hasil dari kerja keras semalam suntuk. Meskipun hanya sebagian kecil dari meridian utamanya yang baru tersambung, itu sudah cukup untuk memungkinkan sedikit Qi (energi spiritual) mengalir. Ini adalah langkah pertama. Langkah dari nol ke satu.
Pandangannya kemudian jatuh pada mangkuk di meja samping tempat tidur. Bubur ginseng yang dibawa Qing'er sudah dingin. Ia mengambil sepotong ginseng dari dalamnya. Ginseng itu kecil dan layu, jelas merupakan bahan obat kelas terendah. Di kehidupan sebelumnya, benda ini bahkan tidak layak untuk menjadi pakan ternak spiritualnya.
"Ginseng Darah berusia sepuluh tahun... penuh dengan kotoran dan energinya tidak murni," Jiang Chen menggelengkan kepalanya. "Tapi untuk saat ini, ini lebih dari cukup."
Ia tidak memakannya. Sebaliknya, ia memejamkan mata dan menggenggam ginseng itu di telapak tangannya. Sekali lagi, ia mengaktifkan Kuali Primordial Semesta.
Weng!
Cahaya keemasan yang hanya terlihat olehnya menyelimuti ginseng di tangannya. Ginseng yang layu itu mulai bergetar. Asap hitam berbau busuk mulai keluar darinya, menguap ke udara. Ini adalah kotoran dan energi liar di dalam ramuan yang sedang dimurnikan oleh Kuali.
Beberapa detik kemudian, proses itu selesai. Ginseng di tangannya kini telah berubah. Ukurannya menyusut sepertiga, tetapi warnanya berubah menjadi merah cerah seperti darah segar, dan memancarkan aroma obat yang kaya dan murni.
Jika ada seorang alkemis di sini, mereka akan pingsan karena kaget. Dalam sekejap, Jiang Chen telah mengubah ginseng sepuluh tahun kelas rendah menjadi Ginseng Darah seratus tahun kelas atas! Ini adalah teknik yang menentang surga!
Tanpa ragu, Jiang Chen memasukkan ginseng yang telah dimurnikan itu ke dalam mulutnya. Begitu ginseng itu masuk, ia langsung meleleh menjadi aliran energi hangat yang murni dan kuat, mengalir deras ke seluruh tubuhnya, mempercepat proses penyembuhan meridiannya dengan kecepatan sepuluh kali lipat.
"Efeknya lumayan," gumam Jiang Chen puas.
BRAKK!
Tiba-tiba, pintu kamarnya ditendang hingga terbuka.
Seorang pemuda jangkung dengan pakaian mewah masuk dengan angkuh. Wajahnya membawa ekspresi mengejek yang jelas. Di belakangnya, dua orang pelayan mengikuti sambil tertawa sinis.
Ini adalah Jiang Wei, sepupu Jiang Chen. Sejak Jiang Chen dicap sebagai sampah, Jiang Wei adalah orang yang paling sering menindasnya.
"Oh, lihat siapa ini? Sampah keluarga kita ternyata belum mati," cibir Jiang Wei, matanya menatap Jiang Chen yang sedang duduk di tempat tidur dengan jijik. "Kudengar kau dipermalukan oleh Hong Mengyao dan dipukuli seperti anjing kemarin. Benar-benar memalukan nama keluarga Jiang!"
Di masa lalu, Jiang Chen yang asli pasti akan gemetar karena marah dan balas berteriak, yang hanya akan membuat Jiang Wei semakin senang untuk menindasnya.
Tapi Jiang Chen yang sekarang hanya menatapnya dengan tenang. Tatapannya begitu dalam dan acuh tak acuh, seolah sedang menatap seekor semut yang berisik.
Jiang Wei merasa sedikit tidak nyaman di bawah tatapan itu. Ia berdeham dan melanjutkan, "Ayahku bilang, karena kau sudah menjadi sampah yang tidak berguna, tidak pantas bagimu untuk menempati halaman terbaik di kediaman cabang ini. Mulai hari ini, halaman ini milikku. Kau, pergilah ke gudang kayu bakar di belakang."
Ini adalah perampokan terang-terangan. Halaman ini adalah satu-satunya warisan yang ditinggalkan ibu Jiang Chen.
"Sudah selesai bicara?" tanya Jiang Chen, suaranya datar, tanpa emosi sedikit pun.
"Apa katamu?" Jiang Wei terkejut dengan reaksinya. "Beraninya kau bicara padaku seperti itu? Apa pukulan kemarin belum cukup untukmu?"
Jiang Chen perlahan turun dari tempat tidur. Gerakannya lambat, tetapi stabil. Tidak ada tanda-tanda seseorang yang terluka parah. Ia berjalan mendekat, langkah demi langkah.
Entah kenapa, setiap langkah Jiang Chen membuat hati Jiang Wei berdebar kencang. Aura yang dipancarkan Jiang Chen saat ini benar-benar berbeda. Dingin, agung, dan menekan. Seolah bukan sampah yang sedang berjalan ke arahnya, melainkan seekor naga kuno yang baru saja terbangun.
"Kau..." Jiang Wei tanpa sadar mundur selangkah. "Apa yang mau kau lakukan?"
Jiang Chen berhenti tepat di depannya. "Aku akan memberimu tiga detik untuk keluar dari kamarku dan memperbaiki pintu ini. Jika tidak..."
"Jika tidak, apa?!" Jiang Wei berteriak, mencoba menutupi rasa takutnya dengan kemarahan. "Kau sampah, berani mengancamku?! Aku berada di tingkat tiga Alam Pengumpul Qi! Aku bisa membunuhmu dengan satu jari!"
Jiang Chen tersenyum. Itu adalah senyuman yang tidak mencapai matanya.
"Satu."
"Kau mencari mati!" Jiang Wei mengumpulkan energi Qi di tangannya, siap memukul.
"Dua."
Aura Jiang Chen menjadi semakin menakutkan. Tekanan tak terlihat membuat Jiang Wei sulit bernapas. Keringat dingin mulai membasahi dahinya. Bagaimana mungkin? Bagaimana sampah ini bisa memiliki aura yang begitu mengerikan?
"...Tiga."
Saat kata terakhir diucapkan, Jiang Chen tidak melakukan apa-apa. Ia hanya menatap lurus ke mata Jiang Wei.
Namun, bagi Jiang Wei, tatapan itu lebih menakutkan daripada pedang mana pun. Di dalam tatapan itu, ia seperti melihat lautan darah dan gunung mayat, kehancuran bintang-bintang, dan kematian para dewa. Itu adalah tatapan seorang penguasa absolut yang memandang rendah semua kehidupan.
Gedebuk!
Kaki Jiang Wei lemas. Ia jatuh terduduk di lantai, wajahnya pucat pasi, tubuhnya gemetar tak terkendali. Kedua pelayan di belakangnya bahkan lebih buruk, mereka sudah pingsan karena ketakutan.
"Enyah," kata Jiang Chen, suaranya dingin seperti es.
Tanpa berpikir dua kali, Jiang Wei merangkak dan berlari keluar ruangan dengan panik, seolah baru saja melihat hantu di siang bolong.
Jiang Chen bahkan tidak meliriknya lagi. Itu hanya gangguan kecil. Ia kembali ke tempat tidurnya dan duduk bersila.
Dia tidak menggunakan kekuatan fisik. Dia hanya melepaskan sebagian kecil dari Niat Kaisar (Emperor's Intent) miliknya. Itu adalah tekanan spiritual yang diasah selama jutaan tahun membantai musuh dan memerintah alam semesta. Bagi seorang bocah fana seperti Jiang Wei, itu sudah lebih dari cukup untuk menghancurkan mentalnya.
"Terlalu lemah," bisik Jiang Chen pada dirinya sendiri. "Aku harus menjadi lebih kuat, secepat mungkin. Kota Awan Bambu ini... hanyalah titik awal."
Matanya terpejam lagi, melanjutkan kultivasinya. Di luar, matahari mulai naik lebih tinggi.
Setelah insiden dengan Jiang Wei, tidak ada lagi yang berani mengganggu ketenangan halaman kecil itu. Kabar tentang bagaimana Jiang Wei, seorang Pengumpul Qi tingkat tiga, lari terbirit-birit dari kamar si "sampah" menyebar seperti api di kalangan para pelayan, meskipun tidak ada yang tahu persis apa yang terjadi. Mereka hanya tahu bahwa Tuan Muda yang biasanya lemah dan penakut itu, kini tampak berbeda.
Jiang Chen tidak peduli dengan rumor itu. Selama dua hari berikutnya, ia mengurung diri, sepenuhnya tenggelam dalam proses pemulihan. Berkat energi murni dari ginseng yang telah dimurnikan, kecepatan perbaikannya jauh melampaui ekspektasinya. Tiga meridian utama di tubuhnya kini telah sepenuhnya pulih dan bahkan lebih kuat dari sebelumnya. Dia sekarang bisa merasakan Qi langit dan bumi, meskipun masih sangat sedikit.
Dia telah berhasil melangkah ke tingkat satu Alam Pengumpul Qi.
Di dunia ini, ini adalah level terendah dari seorang kultivator, tetapi bagi Jiang Chen, ini adalah sebuah keajaiban. Dari seorang lumpuh total menjadi seorang kultivator sejati dalam tiga hari. Jika berita ini tersebar, itu akan mengguncang seluruh Kota Awan Bambu.
Namun, ia tahu ini tidak cukup. Ginseng itu sudah habis, dan untuk terus maju, ia membutuhkan lebih banyak—dan lebih baik—bahan obat. Dan untuk itu, ia butuh uang.
Dengan pemikiran ini, Jiang Chen mengenakan satu set pakaian bersih yang sederhana, menyembunyikan aura tajamnya, dan berjalan keluar dari kediaman Jiang untuk pertama kalinya sejak reinkarnasi. Wajahnya tenang, tetapi matanya mengamati segalanya dengan minat baru. Dunia fana ini, meskipun energinya tipis dan sumber dayanya langka, memiliki pesonanya sendiri.
Tujuannya jelas: Paviliun Seribu Ramuan. Itu adalah toko obat terbesar dan paling terkemuka di Kota Awan Bambu, yang didukung oleh Asosiasi Alkemis kota.
Saat ia tiba, aroma herbal yang pekat langsung menyambutnya. Paviliun itu ramai. Para kultivator dan warga biasa berlalu-lalang, membeli atau menjual ramuan. Jiang Chen mengamati rak-rak kayu yang dipenuhi dengan berbagai bahan. Sebagian besar adalah bahan kelas rendah, tetapi penataannya rapi.
Tiba-tiba, perhatiannya tertuju pada kerumunan kecil di salah satu sudut paviliun. Orang-orang berbisik-bisik sambil menunjuk ke sebuah meja di mana seorang tetua berjanggut putih sedang mengerutkan kening dalam-dalam.
"Bahkan Tetua Sun tidak bisa mengidentifikasinya?"
"Sudah setengah jam. Ramuan aneh apa itu?"
"Kelihatannya seperti rumput layu biasa, tapi memancarkan aura dingin yang aneh."
Di atas meja, tergeletak sebatang tanaman hitam pekat yang tampak layu. Tidak ada daun, hanya batang kurus kering yang sedikit melengkung, dan memancarkan hawa dingin yang membuat orang di dekatnya merasa tidak nyaman.
Di samping Tetua Sun, seorang pemuda yang tampaknya adalah muridnya berkata dengan percaya diri, "Guru, saya yakin ini adalah varian dari Rumput Es Yin. Meskipun bentuknya aneh, auranya sangat mirip."
Tetua Sun menggelengkan kepalanya. "Tidak. Rumput Es Yin dinginnya menusuk tulang. Hawa dingin dari tanaman ini terasa mati, seperti hawa dari kuburan. Berbeda."
Jiang Chen berjalan mendekat. Dengan sekali lirik, matanya langsung berbinar. Orang-orang ini, dengan pengetahuan mereka yang dangkal, tentu saja tidak akan mengenalinya.
Ini bukan rumput biasa. Ini adalah "Rumput Tulang Naga Bayangan"!
Ramuan ini hanya tumbuh di tempat di mana darah naga sejati pernah menetes dan terkontaminasi oleh energi kematian selama ribuan tahun. Ini adalah bahan utama untuk membuat "Pil Pembangun Tulang Naga", sebuah pil spiritual yang bisa membentuk kembali tulang dan kerangka seseorang, meningkatkan kekuatan fisik secara eksponensial!
Di Alam Dewa, ramuan ini sangat langka. Ia tidak menyangka akan menemukannya di dunia fana yang terpencil ini.
Melihat tanaman itu tampak layu, Jiang Chen tahu bahwa energi kehidupannya hampir habis. Jika tidak segera ditangani dengan benar, dalam beberapa jam, itu akan benar-benar menjadi rumput kering yang tidak berharga.
"Metode penyimpanan kalian salah," sebuah suara tenang tiba-tiba memecah keheningan.
Semua mata langsung tertuju pada sumber suara: seorang pemuda berpakaian sederhana dengan penampilan biasa. Itu adalah Jiang Chen.
Murid Tetua Sun, Liu An, mendengus. "Siapa kau, berani mengkritik Paviliun Seribu Ramuan kami? Ramuan atribut Yin secara alami harus disimpan di dalam kotak giok es. Itu adalah pengetahuan dasar!"
Jiang Chen bahkan tidak meliriknya. Matanya tertuju pada Tetua Sun. "Tanaman ini memang memiliki atribut Yin, tetapi sumbernya berasal dari energi kematian, bukan elemen es. Menyimpannya di giok es hanya akan mempercepat kematiannya. Jika Anda tidak memindahkannya sekarang, dalam waktu kurang dari satu jam, ramuan spiritual ini akan menjadi sampah."
Wajah Tetua Sun berubah. Sebagai seorang alkemis berpengalaman, ia bisa merasakan bahwa vitalitas ramuan itu memang memudar dengan cepat. Apa yang dikatakan pemuda ini masuk akal.
"Anak muda, apa kau tahu ramuan apa ini?" tanya Tetua Sun dengan nada serius, mengabaikan muridnya yang tampak kesal.
"Tentu saja," jawab Jiang Chen dengan tenang. "Ini disebut Rumput Tulang Naga Bayangan. Ia membutuhkan energi Yang murni untuk menyeimbangkan energi kematian di dalamnya. Tempatkan di bawah sinar matahari langsung dan taburi dengan bubuk Cinnabar. Itu akan menstabilkannya."
Sinar matahari? Bubuk Cinnabar? Keduanya adalah benda atribut Yang yang kuat. Itu benar-benar berlawanan dengan metode penyimpanan untuk ramuan Yin!
"Omong kosong!" seru Liu An. "Melakukan itu akan langsung membakarnya menjadi abu! Guru, jangan dengarkan dia. Dia pasti orang gila yang mencoba membuat masalah!"
Kerumunan pun mulai berbisik. Saran Jiang Chen memang terdengar tidak masuk akal dan bertentangan dengan semua teori alkimia dasar.
Namun, Tetua Sun menatap mata Jiang Chen. Ia melihat ketenangan yang luar biasa, kepercayaan diri yang mutlak, seolah-olah ia sedang menyatakan fakta yang paling sederhana di dunia. Kegelisahan di hatinya mengatakan bahwa pemuda ini tidak berbohong.
Setelah ragu sejenak, Tetua Sun membuat keputusan. "Bawa kotak itu keluar, dan ambilkan bubuk Cinnabar kualitas terbaik!"
"Guru!" protes Liu An.
"Lakukan!" bentak Tetua Sun.
Dengan enggan, seorang pelayan membawa kotak giok es itu ke halaman luar yang terkena sinar matahari, membukanya, dan dengan hati-hati menaburkan bubuk Cinnabar kemerahan ke atas rumput hitam itu.
Semua orang menahan napas, mengira akan melihat ramuan itu terbakar.
Namun, pemandangan ajaib terjadi.
Begitu bubuk Cinnabar menyentuh batang hitam itu, bukannya terbakar, tanaman itu justru mulai bergetar. Hawa dingin yang memancar darinya perlahan memudar, digantikan oleh aura kehidupan yang samar. Batangnya yang semula hitam pekat kini mulai menunjukkan sedikit kilau keunguan yang misterius.
Kerumunan itu terkesiap kaget.
Wajah Liu An memerah karena malu dan tidak percaya.
Mata Tetua Sun melebar, dipenuhi dengan keterkejutan dan kegembiraan yang luar biasa.
Berhasil! Metode aneh itu benar-benar berhasil!
Dia berbalik dan membungkuk dalam-dalam kepada Jiang Chen. "Tuan Muda ini memiliki pengetahuan yang luar biasa! Sun ini telah tercerahkan! Mohon maafkan ketidaksopanan kami sebelumnya. Bolehkah saya tahu nama Tuan Muda?"
Jiang Chen hanya mengangguk sedikit, menerima penghormatan itu seolah wajar. "Namaku Jiang Chen. Aku datang ke sini hari ini untuk menjual beberapa resep pil."
Menjual resep pil?
Kerumunan sekali lagi tercengang. Seorang pemuda yang bisa mengidentifikasi ramuan langka yang bahkan Tetua Sun tidak tahu, kini mengatakan dia ingin menjual resep pil?
Resep pil apa yang bisa ia tawarkan?
Hati Tetua Sun berdebar kencang. Ia punya firasat kuat bahwa pemuda misterius bernama Jiang Chen ini akan membawa badai besar ke Kota Awan Bambu.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!