Suasana malam yang seharusnya tenang berubah menjadi neraka kecil di sudut kota pelabuhan itu. Langit hitam tanpa bintang diselimuti asap mesiu yang perlahan memenuhi udara. Suara tembakan saling bersahut-sahutan memecah keheningan, memantul di antara bangunan gudang tua dan kontainer-kontainer besar yang berjajar di area pelabuhan.
Dorr! Dorr! Dorr!
Percikan api keluar dari moncong senjata, disusul jeritan beberapa pria yang tumbang bersimbah darah. Lampu-lampu redup di sekitar lokasi berkedip tidak stabil, menambah suasana mencekam yang membuat siapa pun akan memilih kabur sejauh mungkin dari tempat itu.
Namun tidak bagi mereka.
Malam itu, dua kelompok besar sedang bertarung habis-habisan demi mempertahankan wilayah kekuasaan.
Kelompok Red Devil berdiri di sisi timur pelabuhan, sementara kelompok Black Venom menguasai jalur distribusi di sisi barat. Perselisihan yang awalnya hanya perebutan jalur pengiriman ilegal kini berubah menjadi perang terbuka yang menelan banyak korban.
Di tengah kekacauan itu, seorang pria berdiri tegak dengan tatapan dingin setajam pisau.
Dia adalah Enzo Bucelli, pemimpin kelompok Red Devil.
Pria bertubuh tinggi itu bergerak cepat di balik tumpukan kontainer merah berkarat. Wajahnya tetap tenang meski peluru beterbangan di sekelilingnya. Seolah suara tembakan dan darah bukan lagi sesuatu yang asing baginya.
Dengan gerakan terlatih, Enzo mengangkat pistol hitam di tangannya lalu menarik pelatuk tanpa ragu.
Dorr!
Satu pria di kejauhan langsung roboh sambil memegangi dadanya.
Belum sempat musuh lain bereaksi, Enzo kembali menembakkan pelurunya.
Dorr! Dorr!
Dua orang sekaligus jatuh tersungkur ke tanah basah. Nafas mereka terputus dalam hitungan detik.
“Bos! Mereka masuk dari jalur utara!” teriak salah satu anak buahnya dari balik mobil pickup yang penuh lubang bekas peluru.
Enzo menoleh sekilas. Tatapannya tajam dan penuh tekanan.
“Jangan biarkan mereka mendekat ke gudang utama!” perintahnya tegas.
“Siap bos!”
Beberapa anggota Red Devil langsung bergerak berpencar mengikuti instruksi. Suara langkah kaki beradu dengan dentingan peluru yang menghantam besi kontainer.
Enzo kembali mengisi pelurunya dengan cepat. Jemarinya bergerak cekatan, menunjukkan betapa terbiasanya pria itu hidup di dunia penuh kekerasan.
Tatapan matanya kemudian mengarah pada seorang pria besar bertato ular hitam di leher yang berdiri di atas mobil jeep sambil memberondong tembakan ke arah anak buahnya.
Sudut bibir Enzo terangkat tipis.
“Akhirnya keluar juga,” gumamnya pelan.
Tanpa membuang waktu, Enzo melompat keluar dari persembunyian. Tubuhnya bergerak cepat menerobos hujan peluru. Salah satu musuh mencoba menembaknya dari samping, tetapi Enzo lebih dulu menarik pelatuk.
Dorr!
Pria itu langsung terjungkal.
“Kejar dia! Jangan biarkan Enzo lolos!” teriak seseorang.
Beberapa pria Black Venom langsung mengejar sambil menembak brutal. Peluru menghantam aspal di sekitar kaki Enzo, memercikkan debu dan serpihan batu. Namun pria itu tidak terlihat panik sedikit pun.
Dengan napas stabil, Enzo berlindung di balik drum besi lalu menembak balik tanpa banyak gerakan sia-sia.
Dorr!
Satu kepala tertembus.
Dorr!
Satu lagi jatuh sambil menjerit kesakitan.
Anak buah Red Devil yang melihat itu sampai bergidik sendiri. Mereka sudah lama mengenal Enzo sebagai pemimpin yang dingin dan kejam, tetapi setiap kali melihatnya bertarung secara langsung, rasa takut tetap muncul.
Enzo terlalu berbahaya.
Tatapan matanya bahkan tidak berubah ketika melihat orang mati di depan matanya.
“Bos! Mereka makin banyak!” seru salah satu anak buahnya dengan wajah panik.
Enzo mendecakkan lidah pelan.
“Kirim tim belakang, putar lewat dermaga. Kepung mereka dari kanan.”
“Tapi jumlah mereka—”
“Aku tidak suka mengulang perintah.”
Kalimat itu langsung membuat pria tadi diam dan buru-buru pergi menjalankan instruksi.
Sementara itu, dari kejauhan Rico tertawa keras sambil menembak membabi buta.
“Enzooo!” teriaknya lantang. “Wilayah ini mulai malam ini jadi milik Black Venom!”
Enzo keluar dari balik persembunyian. Tatapan matanya lurus menatap pria itu.
“Asal kamu tahu,” ucapnya dingin, “orang yang mencoba merebut wilayahku biasanya tidak hidup sampai pagi.”
Rico menyeringai penuh ejekan. “Kalau begitu kita lihat siapa yang mati duluan!”
Brukk!
Tiba-tiba ledakan keras mengguncang salah satu gudang di sisi timur. Api membumbung tinggi ke udara, membuat semua orang refleks menoleh.
“Bos! Gudang senjata kita dibakar!” teriak anak buah Red Devil panik.
Tatapan Enzo langsung berubah gelap. Urat di rahangnya menegang. Membuat emosinya semakin terusik.
Rico tertawa puas melihat reaksi tersebut.
“Bagaimana? Kehilangan markas rasanya menyakitkan, kan?”
Namun bukannya marah membabi buta, Enzo justru tersenyum tipis. Senyum yang membuat beberapa anak buah Black Venom mendadak merinding.
Karena mereka tahu… Senyum itu jauh lebih mengerikan daripada amarah.
Enzo perlahan mengangkat pistolnya, mengarah tepat ke kepala Rico dari jarak cukup jauh.
Angin malam berhembus membawa aroma darah dan asap mesiu.
Semua terasa hening selama beberapa detik.
Dorr!!!
“Shitt—!”
Belum sempat Enzo menembak Rico, sebuah peluru melesat dari arah samping dan menghantam lengan kirinya dengan keras. Tubuh Enzo sedikit terdorong ke belakang. Rasa panas menjalar cepat di sepanjang lengannya, disusul darah yang langsung mengalir deras membasahi kemeja hitamnya.
Pistol di tangannya terlepas lalu jatuh menghantam aspal.
Ting!
Suara logam itu terdengar jelas di tengah kekacauan.
“Bos Enzo!”
Namun Enzo tidak sempat memedulikan teriakan anak buahnya. Tatapan tajamnya langsung bergerak mencari arah tembakan tadi. Di atas salah satu kontainer, seorang sniper Black Venom masih membidik ke arahnya menggunakan senapan laras panjang.
Tatapan mereka bertemu sepersekian detik.
Sniper itu menyeringai tipis sebelum kembali menarik pelatuk.
Dorr!
Peluru kedua melesat cepat membelah udara.
Namun refleks Enzo jauh lebih cepat. Pria itu langsung menjatuhkan tubuhnya ke samping, berguling di atas aspal kasar sebelum berlindung di balik mobil pickup rusak. Peluru tadi hanya menghantam badan mobil hingga menimbulkan percikan api kecil.
Rico tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.
“Habisi dia!” teriaknya keras sambil mengangkat pistol.
Dorr! Dorr! Dorr!
Rentetan peluru ditembakkan ke arah persembunyian Enzo tanpa ampun. Kaca mobil pickup pecah berhamburan. Besi mobil berlubang ditembus peluru dari berbagai sisi.
Salah satu anak buah Enzo mencoba mendekat membantu.
“Bos, Anda terluka—”
Dorr!
Kalimat pria itu terputus ketika sebuah peluru menembus kepalanya tepat di depan Enzo. Tubuhnya jatuh begitu saja dengan mata masih terbuka.
Enzo mengepalkan rahangnya kuat-kuat. Tatapan matanya berubah semakin dingin. Dia mencengkeram luka di lengannya sebentar, menahan rasa nyeri yang menusuk. Darah terus menetes dari sela jarinya, tetapi ekspresi wajahnya nyaris tidak berubah.
“Sniper di atas kontainer biru,” ucap Enzo dingin melalui earpiece kecil di telinganya. “Turunkan dia.”
“Siap, bos!” Sahut Joe salah satu orang kepercayaan Enzo.
Tak lama kemudian, salah satu anggota Red Devil yang berada di sisi timur langsung membalas tembakan ke arah sniper tersebut.
Dorr! Dorr!
Sniper Black Venom buru-buru berpindah posisi sambil mengumpat kesal.
Kesempatan kecil itu dimanfaatkan Enzo untuk bergerak.
Dengan satu tangan menekan luka tembaknya, Enzo berlari cepat melewati celah antar kontainer. Gerakannya tetap lincah meski darah terus mengalir dari lengannya.
Rico yang melihat itu langsung menggeram kasar.
“Sial! Kejar dia!”
Empat orang anak buahnya segera mengejar Enzo masuk ke area kontainer yang gelap dan sempit.
Suasana di sana jauh lebih sunyi dibanding area utama baku tembak. Hanya suara langkah kaki dan tetesan darah Enzo yang terdengar samar di atas aspal lembab.
Salah satu pria Black Venom berjalan perlahan sambil mengarahkan senjatanya ke depan.
“Hati-hati. Dia masih berbahaya.”
“Cuma tinggal tunggu dia kehabisan darah,” sahut yang lain sambil tertawa kecil.
Namun detik berikutnya—
Brukk!
Seseorang tiba-tiba menarik salah satu pria masuk ke balik kontainer.
“AARGHH!”
Jeritannya hanya berlangsung sesaat sebelum mendadak sunyi.
Ketiga pria lainnya langsung panik.
“Di mana dia?!”
Belum sempat mereka menemukan jawaban, Enzo muncul dari balik bayangan dengan wajah penuh darah. Di tangannya sudah ada pisau lipat milik musuh yang tadi dia habisi.
Duar!
Satu pria mencoba menembak, tetapi Enzo menendang tangannya hingga arah tembakan meleset. Dalam gerakan cepat, pisau itu langsung ditancapkan ke leher lawannya.
“Ukh—!”
Darah menyembur keluar. Enzo mencabut pisaunya tanpa ekspresi.
Dua pria lainnya mulai mundur ngeri. Mereka tahu Enzo berbahaya. Tetapi melihatnya bertarung sedekat ini terasa seperti menghadapi monster.
Pria itu bergerak terlalu cepat, terlalu tenang. Dan terlalu kejam.
“Brengsek... dia bukan manusia...” gumam salah satu dari mereka dengan suara gemetar.
Enzo menatap mereka tajam. Nafasnya mulai berat akibat kehilangan darah, tetapi aura mengerikan itu masih terasa kuat.
“Giliran kalian,” ucapnya dingin.
Kedua pria itu langsung menembak bersamaan.
Dorr! Dorr! Dorr!
Enzo berlari menerobos sempitnya lorong kontainer sambil menghindari peluru yang beterbangan. Salah satu peluru sempat menggores pipinya hingga menimbulkan luka tipis.
Namun beberapa detik kemudian—
Dorr!
Satu pria jatuh tertembak tepat di dadanya.
Ternyata Enzo berhasil merebut pistol dari lawannya yang sudah meninggal.
Pria terakhir langsung panik dan berbalik ingin kabur. Tetapi lagi-lagi suara tembakan meluncur begitu saja.
Dorr!
Peluru Enzo menembus punggungnya. Tubuh pria itu roboh tak bergerak.
Suasana kembali hening.
Enzo berdiri diam beberapa detik sambil mengatur napasnya. Darah dari lengannya kini menetes semakin banyak hingga membentuk genangan kecil di bawah kakinya.
Namun sebelum dia sempat bergerak, suara tepuk tangan terdengar dari ujung lorong kontainer.
Enzo perlahan mengangkat wajahnya.
Di sana, Rico berdiri sambil tersenyum sinis. Pistol di tangannya masih mengepul.
“Hebat,” ejeknya pelan. “Tapi kamu kelihatan mulai lemah, Enzo.”
Tatapan Enzo menajam.
Sedangkan Rico perlahan mengangkat pistolnya lurus ke arah kepala pemimpin Red Devil itu.
“Permainan selesai.”
Lampu merah di atas pintu ruang operasi akhirnya padam, setelah menyala selama hampir empat jam tanpa henti. Suasana koridor rumah sakit yang sejak tadi tegang perlahan berubah sedikit lebih tenang. Beberapa keluarga pasien yang duduk berjajar di kursi tunggu langsung berdiri begitu melihat tanda operasi selesai.
Pintu ruang operasi terbuka perlahan.
Udara dingin bercampur aroma obat-obatan langsung menyeruak keluar. Di dalam ruangan itu, para tenaga medis masih sibuk membereskan alat operasi dan membersihkan area tindakan. Bunyi alat monitor yang tadinya terus berbunyi kini terdengar lebih stabil.
Dokter Evelyn mengembuskan napas panjang. Keringat membasahi pelipisnya padahal pendingin ruangan bekerja maksimal. Kedua matanya tampak lelah setelah berjam-jam berdiri fokus menyelamatkan nyawa seseorang.
Dengan gerakan pelan, perempuan itu melepas sarung tangan operasi, lalu membuka APD yang sejak tadi membungkus tubuhnya. Setelah memastikan semuanya dilepas dengan benar, dia membuangnya ke tempat sampah medis khusus.
Rambutnya yang semula rapi kini sedikit berantakan. Evelyn meraih jas putih miliknya yang tergantung di dekat loker kecil ruangan, lalu mengenakannya kembali. Wajah cantiknya terlihat pucat karena kelelahan, tetapi sorot matanya masih menyimpan ketegasan khas seorang dokter bedah.
"Ini operasi terakhir kita hari ini, dok," ucap salah satu perawat yang sejak tadi membantunya di dalam ruang operasi.
Perawat itu tersenyum kecil meski wajahnya juga terlihat lelah. Hari itu mereka menangani tiga operasi besar berturut-turut tanpa jeda yang cukup.
Evelyn menoleh lalu menepuk pelan bahu perawat tersebut.
"Syukurlah, akhirnya kita bisa pulang," ucap Evelyn sambil terkekeh pelan.
"Dokter lembur terus beberapa hari ini. Pantas saja kelihatan capek."
"Bukan beberapa hari lagi," sahut Evelyn sambil berjalan keluar ruangan. "Sudah hampir dua minggu saya cuma pulang buat tidur."
Perawat itu tertawa kecil mengikuti langkah sang dokter menyusuri koridor rumah sakit.
Langkah sepatu Evelyn menggema di lantai putih mengilap. Beberapa perawat yang berpapasan langsung menyapa hormat padanya. Evelyn membalas dengan senyum tipis meski tubuhnya terasa hampir remuk.
Baru saja dia hendak menuju ruangannya untuk mengambil tas, seorang pria paruh baya setengah berlari menghampirinya.
"Dokter! Dokter Evelyn!"
Evelyn berhenti.
Pria itu terlihat panik sekaligus penuh harap. Di belakangnya ada seorang wanita yang menangis sambil menggenggam kedua tangannya erat-erat.
"Bagaimana keadaan anak saya dok?" tanya pria itu dengan suara bergetar.
Evelyn menatap mereka beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum tipis menenangkan.
"Operasinya berjalan lancar. Pendarahannya berhasil kami hentikan" jelas Evelyn.
Sang istri langsung menangis haru. Tubuhnya melemas hingga sang suami buru-buru menopangnya.
"Terima kasih dok... terima kasih banyak..."
Evelyn mengangguk pelan.
"Namun pasien masih harus dirawat intensif selama beberapa hari ke depan. Kondisinya belum sepenuhnya stabil."
"Yang penting dia selamat dok," sahut pria itu sambil merangkul bahu istrinya.
Evelyn bisa melihat rasa syukur yang begitu besar dari wajah kedua orang tua itu. Dan momen seperti inilah yang selalu membuatnya bertahan menjadi dokter meski harus mengorbankan banyak hal dalam hidupnya.
"Kalau begitu saya permisi dulu," ucap Evelyn sopan.
"Dokter..."
Evelyn kembali menoleh.
"Terima kasih sudah menyelamatkan anak kami."
Untuk sesaat langkah Evelyn terhenti. Kalimat sederhana itu selalu terasa berbeda setiap kali dia mendengarnya.
Dia tersenyum kecil. "Saya hanya melakukan tugas saya."
Setelah itu Evelyn kembali berjalan menuju ruangannya.
Koridor rumah sakit mulai lebih sepi dibanding beberapa jam lalu. Jam di dinding menunjukkan pukul sebelas malam. Sebagian lampu ruangan bahkan sudah dimatikan.
Sesampainya di ruang dokter, Evelyn langsung menjatuhkan tubuhnya ke sofa kecil di sudut ruangan.
"Ya Tuhan... rasanya kaki ku mau copot," gumamnya pelan sambil memijat tengkuknya sendiri.
Dia memejamkan mata beberapa detik menikmati keheningan.
Namun belum sampai satu menit, suara ponselnya tiba-tiba berbunyi.
Evelyn menghela napas malas.
"Semoga bukan panggilan operasi lagi..."
Dia meraih ponselnya dari atas meja. dan mengangkat panggilan tersebut.
"Halo ma.." ucap Evelyn sambil menyandarkan tubuhnya di sofa ruang dokter.
"Kamu pulang jam berapa? Mama sudah masak makanan kesukaan kamu" jawab Indah.
"Sebentar lagi ma, aku baru selesai melakukan operasi" jawab Evelyn.
"Ya sudah, mama tunggu di rumah. Hati-hati di jalan, jangan ngebut-ngebut. Kalau capek naik taksi aja, biarin mobilnya di rumah sakit" cerocos Indah yang selalu khawatir dengan putrinya.
"Iya ma" jawab Evelyn sambil tersenyum. Dia merasa bahagia mendengar mamanya mengkhawatirkannya.
Setelah selesai, Evelyn pun mematikan panggilannya. Evelyn menghela napas panjang sebelum akhirnya berdiri dari tempat duduknya. Dia mengambil tas kerjanya, memasukkan ponsel ke dalamnya, lalu meraih kunci mobil yang tergeletak di meja.
Ruangan dokter itu perlahan ditinggalkannya.
Koridor rumah sakit malam itu terasa jauh lebih sunyi dibanding biasanya. Hanya terdengar suara langkah kaki beberapa perawat yang berjaga malam dan bunyi roda troli medis dari kejauhan.
Lampu-lampu putih di langit-langit memantulkan bayangan tubuh Evelyn yang berjalan sendirian.
Rasa lelah kini benar-benar menyerang seluruh tubuhnya. Bahunya terasa berat, kepalanya sedikit pusing, dan matanya panas karena terlalu lama fokus di ruang operasi.
Beberapa tenaga medis yang berpapasan menyapanya.
"Malam dok."
"Malam."
"Hati-hati di jalan, dokter Evelyn."
Evelyn membalas semuanya dengan senyum tipis meski energinya hampir habis.
Saat pintu otomatis rumah sakit terbuka, udara malam langsung menyambut wajahnya. Angin dingin berembus lembut membuat rambutnya sedikit berantakan.
Area parkiran rumah sakit tampak cukup sepi. Hanya ada beberapa kendaraan tersisa milik petugas jaga malam dan keluarga pasien.
Evelyn berjalan pelan menuju mobilnya yang terparkir di sudut area basement.
Tap
Tap
Suara heels miliknya menggema pelan di area parkir yang lengang. Entah kenapa suasana malam itu terasa aneh.
Evelyn menoleh sekilas ke belakang.
Terlihat kosong. Hanya deretan mobil dan lampu parkiran yang redup.
"Mungkin aku terlalu lelah," gumamnya pelan sambil menggeleng.
Dia mempercepat langkahnya sedikit. Namun baru beberapa meter berjalan, suara ponselnya kembali berbunyi dari dalam tas.
Evelyn mengerutkan kening kesal.
"Jangan bilang mama lagi...."
Dengan malas dia membuka tas sambil tetap berjalan. Tangannya sibuk mencari ponsel yang terselip di antara beberapa berkas dan dompet kecil.
Karena terlalu fokus, Evelyn tidak melihat seseorang berjalan dari arah berlawanan.
Brukkk!
Tubuhnya langsung menabrak seseorang dengan cukup keras hingga tas di tangannya jatuh ke lantai. Hingga isi tasnya berserakan.
"Ekh—"
Evelyn hampir kehilangan keseimbangan, tetapi sebuah tangan dengan sigap menahan lengannya.
Napas Evelyn tertahan sesaat.
Perlahan dia mendongak. Dan tepat saat matanya bertemu dengan mata pria asing di hadapannya, wajah Evelyn langsung berubah pucat.
Karena di tangan pria itu... terdapat bercak darah segar.
Lorong rumah sakit malam itu terasa lebih lengang dari biasanya. Lampu-lampu putih di langit-langit memantulkan cahaya dingin yang membuat suasana terasa sunyi dan sedikit menegangkan. Bau antiseptik bercampur dengan aroma obat-obatan memenuhi udara, seolah mengingatkan semua orang bahwa tempat ini adalah garis tipis antara hidup dan mati.
Di ruang perawatan sementara, pria asing yang tadi dibawa Evelyn masih terbaring tak sadarkan diri di atas ranjang pasien. Dadanya bergerak naik turun perlahan, napasnya stabil berkat tindakan cepat yang dilakukan Evelyn beberapa waktu lalu. Luka tusuk di bagian perutnya sudah dibersihkan dan dijahit, sementara selang infus menggantung di sisi ranjang, menyalurkan cairan untuk menggantikan darah yang hilang.
Evelyn berdiri di samping tempat tidur itu dengan tangan bersedekap. Matanya menatap pria tersebut dengan ekspresi berpikir.
Tiba-tiba salah satu perawat yang sejak tadi membantu prosedur medis mendekat.
“Dok, kita butuh data pasien,” ucap perawat itu dengan nada hati-hati.
Perawat lain yang berdiri di belakangnya ikut mengangguk. Prosedur rumah sakit memang jelas, setiap pasien harus memiliki identitas yang tercatat. Tidak peduli dia datang sendiri, diantar keluarga, atau bahkan seperti pria ini yang muncul secara misterius.
Evelyn menghela napas pelan.
“Iya juga…” gumamnya.
Tangannya terangkat menggaruk bagian belakang kepalanya, ekspresinya terlihat bingung.
“Coba kalian cari dompetnya di saku celananya ada atau tidak. Soalnya saya tidak tahu siapa namanya,” ucap Evelyn akhirnya.
Perawat itu mengangguk cepat.
“Baik, dok.”
Mereka bertiga kemudian berjalan menuju ranjang tempat pria itu terbaring. Evelyn ikut berdiri di sisi ranjang sambil memperhatikan. Ia sebenarnya merasa sedikit tidak enak hati karena harus menggeledah barang pribadi seseorang tanpa izin, tapi situasinya tidak memberi banyak pilihan.
Perawat pertama dengan hati-hati meraba saku jas hitam pria itu.
“Tidak ada apa-apa di sini, dok,” katanya.
Perawat lain kemudian mencoba memeriksa saku celana panjang yang dikenakan pria tersebut.
Beberapa detik berlalu.
Tiba-tiba wajah perawat itu berubah sedikit cerah.
“Ketemu dok,” ucapnya sambil mengeluarkan sebuah dompet kulit hitam yang terlihat cukup mahal.
Tidak hanya itu, sebuah ponsel juga ikut keluar dari saku jasnya yang tergeletak.
Perawat itu menyerahkan keduanya pada Evelyn.
Evelyn menerima dompet tersebut, memutar-mutarnya sebentar di tangannya. Dompet itu terlihat elegan dan sederhana, namun jelas bukan barang murah.
“Coba buka,” kata Evelyn.
Perawat di sampingnya langsung membuka dompet itu.
Di dalamnya terdapat beberapa kartu, uang tunai dalam jumlah tidak terlalu banyak, serta sebuah kartu identitas.
Perawat itu mengambil kartu tersebut dan membacanya keras-keras.
“Enzo Belucci.”
Suasana ruangan mendadak hening beberapa detik.
Evelyn mengerutkan dahinya. “Nama yang aneh,” gumamnya pelan.
Nama itu terdengar asing di telinganya. Tidak seperti nama orang Indonesia pada umumnya. Bahkan terdengar seperti nama orang Eropa.
“Sepertinya orang luar negeri ya dok?” kata salah satu perawat sambil ikut mengintip kartu identitas itu.
Evelyn mengangkat bahu. “Mungkin.”
Ia kemudian mengambil kartu itu dari tangan perawat dan memperhatikannya lebih dekat.
Foto pria itu jelas sama dengan orang yang sedang terbaring di ranjang. Garis wajah tegas, rahang kuat, dan tatapan tajam bahkan dari foto kecil sekalipun.
“Masukkan saja datanya ke sistem,” kata Evelyn akhirnya.
“Baik dok.”
Perawat itu segera mencatatnya.
Evelyn lalu melirik ponsel yang tadi ditemukan bersama dompetnya.
“Ponselnya nyala?” tanyanya.
Perawat itu mencoba menekan tombol di sisi ponsel.
Layar menyala.
Namun beberapa detik kemudian mereka sama-sama menghela napas.
“Terkunci dok,” jawab perawat itu.
Evelyn mengangguk kecil.
“Ya sudah. Simpan saja dulu.”
Ia tidak berniat mengutak-atik lebih jauh. Lagipula, pria itu sudah berada dalam kondisi stabil sekarang. Yang terpenting adalah dia selamat.
Evelyn kembali menatap wajah pria tersebut. Sekarang, setelah semuanya sedikit lebih tenang, ia baru menyadari satu hal. Pria ini benar-benar orang asing baginya.
Tiba-tiba saja masuk ke mobilnya, memintanya pergi ke rumah sakit, lalu pingsan dengan luka tusuk yang cukup parah.
Pikiran Evelyn dipenuhi banyak pertanyaan. Siapa sebenarnya dia? Kenapa dia bisa terluka seperti itu? Dan yang paling penting…Apa dia sedang dikejar seseorang?
“Dok?” panggil salah satu perawat.
Evelyn tersadar dari lamunannya.
“Iya?”
“Kami akan memindahkan pasien ke ruang rawat sementara.”
Evelyn mengangguk.
“Lakukan saja. Tapi awasi kondisinya dengan ketat malam ini. Dia baru saja kehilangan cukup banyak darah.”
“Baik dok.”
Beberapa saat kemudian, para perawat mendorong ranjang pasien keluar dari ruangan menuju kamar perawatan yang lebih tenang.
Evelyn berdiri di lorong sambil memperhatikan mereka pergi.
Jam di tangannya menunjukkan hampir pukul satu dini hari.
Ia sebenarnya sudah sangat lelah. Seharusnya sejak tadi ia sudah berada di rumah, mandi air hangat, lalu tidur dengan nyaman di kasurnya.
Namun entah kenapa…
Langkah kakinya justru bergerak kembali menuju ruang perawatan tempat pria itu dipindahkan.
Beberapa menit kemudian Evelyn berdiri di depan pintu kamar pasien.
Ceklek....
Ia membuka pintu perlahan.
Ruangan itu tenang. Enzo masih terbaring tak sadarkan diri di ranjang.
Evelyn berjalan mendekat dan berdiri di sampingnya. Matanya memperhatikan layar monitor. Detak jantung stabil. Tekanan darah mulai membaik. Kondisinya cukup aman.
Evelyn menghela napas lega. “Syukurlah…” gumamnya pelan.
Ia kemudian melirik jam tangannya lagi. Evelyn mengusap wajahnya yang mulai terasa lelah.
Ia sempat berpikir untuk pulang. Namun bayangan pria ini yang tiba-tiba masuk ke mobilnya kembali muncul di pikirannya.
Kalau sampai terjadi sesuatu malam ini… Evelyn pasti tidak akan bisa tidur dengan tenang di rumah.
Akhirnya ia menghela napas panjang.
“Sepertinya aku harus menginap di sini malam ini,” gumamnya pada dirinya sendiri.
Ia keluar dari ruangan itu sebentar menuju ruang dokter. Di sana ia mengambil jas putihnya yang tadi dilepas, lalu menaruh tasnya di atas meja.
Evelyn kemudian menuliskan catatan medis tambahan untuk pasien bernama Enzo Belucci.
Setelah semuanya selesai, ia meregangkan tubuhnya yang terasa pegal.
“Tidak jadi pulang,” katanya pelan sambil tersenyum tipis pada dirinya sendiri.
Beberapa menit kemudian Evelyn kembali ke kamar pasien. Ia menarik kursi di dekat ranjang, lalu duduk di sana.
Lampu kamar diredupkan sedikit agar suasana lebih nyaman.
Evelyn menyandarkan tubuhnya ke kursi. Matanya masih sesekali melirik layar monitor yang menampilkan detak jantung pria itu.
Perlahan rasa lelah mulai mengambil alih tubuhnya.
Tanpa sadar kelopak matanya mulai berat.
Di tengah suara mesin monitor yang berdetak stabil…
Evelyn akhirnya memejamkan mata.
Malam itu, dokter muda tersebut memutuskan tidur di rumah sakit—menjaga seorang pria asing bernama Enzo Belucci yang bahkan belum sempat membuka matanya.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!