Aroma kopi di terminal keberangkatan internasional terasa lebih pahit dari biasanya. Aku meremas ujung blusku, menatap tumpukan koper di samping Arlan. Laki-laki itu baru saja menjatuhkan bom atom di tengah sarapan nasi uduk kami minggu lalu: Dia diterima bekerja di Jerman. Kontrak dua tahun.
"Ra, jangan ditekuk terus mukanya. Nanti diculik penunggu bandara, lho," Arlan mencoba melucu, tapi matanya tidak bisa berbohong. Ada gurat gelisah di sana.
"Kenapa baru kasih tahu sekarang, Lan? Kita ini sahabat atau cuma teman lewat?" suaraku bergetar. Aku benci betapa rapuhnya aku saat ini.
Arlan menghela napas panjang. Dia melangkah mendekat, memangkas jarak di antara kami hingga aku bisa mencium aroma parfum maskulinnya yang campur aduk dengan bau sabun bayi—khas Arlan. "Karena aku tahu kamu bakal begini. Kalau aku kasih tahu sebulan lalu, kamu bakal mogok makan sebulan, kan?"
"Sok tahu," bisikku, meski dalam hati aku tahu dia benar.
Suara pengumuman keberangkatan menggema di langit-langit terminal yang tinggi. Arlan meraih pundakku, memaksaku menatap matanya. "Dua tahun itu sebentar, Ra. Aku harus ke sana supaya nanti kalau pulang, aku sudah punya modal buat... masa depan."
"Masa depan siapa?" tanyaku polos.
Arlan tersenyum miring, senyum jahil yang dulu sering membuatku kesal di bawah pohon mangga. Dia merogoh saku jaketnya, mengeluarkan sebuah kalung perak sederhana dengan bandul berbentuk daun mangga kecil.
"Simpan ini. Jangan hilang, jangan dikasih ke kucing, apalagi ke cowok lain yang nanti coba dekati kamu pas aku nggak ada," ucapnya sambil memasangkan kalung itu ke leherku. Jemarinya yang hangat sempat menyentuh tengkukku, mengirimkan sengatan listrik yang membuat napas setinggi dadaku sesak.
"Lan..."
"Jaga diri, ya? Jangan telat makan. Jangan begadang cuma buat nonton drakor," Arlan menepuk puncak kepalaku pelan, lalu berbalik menuju gerbang keberangkatan.
Dia tidak menoleh lagi. Mungkin dia takut jika dia menoleh, dia tidak akan sanggup melangkah pergi. Aku berdiri mematung di sana, memegang bandul kalung pemberiannya. Di tengah keramaian bandara, aku baru menyadari satu hal: Arlan tidak pernah bilang "sampai jumpa". Dia hanya memintaku menunggu.
Sisa Aroma Hujan dan Keberangkatan
Suasana di terminal keberangkatan terasa begitu dingin, kontras dengan telapak tanganku yang berkeringat dingin. Aku benci perpisahan. Apalagi perpisahan yang tidak memiliki tanggal pasti kapan akan bertemu kembali.
"Kamu benar-benar harus pergi sekarang?" tanyaku, suara kaku, berusaha menahan agar mataku tidak memanas.
Arlan berhenti melangkah. Dia memutar tubuhnya, menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada keraguan di sana, tapi juga ada tekad yang keras. "Ra, ini kesempatan sekali seumur hidup. Beasiswa dan kontrak kerja di Munich itu nggak datang dua kali."
"Aku tahu," potongku cepat. "Aku cuma... terbiasa ada kamu yang berisik di sebelahku. Siapa yang bakal benerin genteng rumah kalau bocor? Siapa yang bakal jemput aku kalau ban motorku kempes malam-malam?"
Arlan terkekeh pelan, tawa yang biasanya menyebalkan tapi hari ini terdengar seperti musik yang paling kurindukan. Dia melangkah mendekat, sangat dekat hingga aku bisa melihat pantulan diriku yang menyedihkan di matanya.
"Kamu punya ponsel, kan? Video call aku. Biarpun beda zona waktu, aku bakal tetap angkat kalau itu dari kamu," ucapnya lembut. Dia meraih tanganku, menggenggamnya erat. "Janji satu hal, Ra?"
"Apa?"
"Jangan ganti nomor HP. Dan jangan biarkan pohon mangga di belakang rumah mati. Itu saksi bisu kita."
Aku mencoba tersenyum meski getir. "Dasar aneh. Pohon mangga kok dipikirin."
Tiba-tiba, Arlan menarikku ke dalam pelukannya. Dekapan yang singkat, tapi terasa seperti selamanya. Aroma parfumnya—campuran kayu cendana dan dinginnya AC bandara—seolah meresap ke dalam bajuku, seolah ingin ikut pulang bersamaku.
"Aku pergi dulu," bisiknya tepat di telingaku.
Dia melepaskan pelukannya, mengenakan ranselnya, dan mulai berjalan menuju pintu pemeriksaan dokumen. Di ambang pintu, dia berhenti sejenak. Dia tidak melambaikan tangan, dia hanya menyentuh dadanya sendiri, lalu menunjuk ke arahku. Sebuah isyarat rahasia yang hanya kami berdua yang tahu sejak kecil: Aku simpan kamu di sini.
Aku berdiri mematung sampai punggungnya hilang ditelan kerumunan orang. Di tanganku, masih terasa sisa kehangatan genggamannya. Saat itulah aku sadar, bagian dari diriku ikut terbang bersama pesawat yang sebentar lagi lepas landas.
saat detik-detik terakhir sebelum ia benar-benar hilang dari pandangan. Momen di mana kata "sahabat" terasa terlalu sempit.
Langkah Arlan terhenti tepat di depan garis kuning pemeriksaan paspor. Ia menoleh sekali lagi, menatapku yang masih berdiri mematung di balik pagar pembatas. Jarak kami hanya lima meter, tapi rasanya seperti terpisah samudera.
"Ra! Sini sebentar!" teriaknya pelan, mengabaikan antrean di belakangnya.
Aku berlari kecil mendekat. Arlan mengulurkan tangannya melewati pagar, meraih jemariku untuk terakhir kalinya. Genggamannya kali ini lebih keras, seolah ia sedang menyalurkan seluruh keberanian yang ia punya ke telapak tanganku.
"Aku lupa bilang satu hal," ucapnya dengan napas sedikit memburu.
"Apa?" jantungku berpacu. Aku berharap dia bilang 'Aku nggak jadi pergi' atau 'Aku sayang kamu'.
"Jangan pernah merasa sendirian. Kalau kamu kangen, lihat bulan. Di Munich atau di sini, bulannya tetap sama, kan? Anggap saja itu layar video call raksasa kita," Arlan tersenyum, tapi matanya berkaca-kaca. Dia yang kukenal tangguh, ternyata rapuh juga di depan pintu keberangkatan ini.
Aku hanya bisa mengangguk pelan, tenggorokanku terlalu sakit untuk mengeluarkan suara. Aku takut jika aku bicara, air mataku akan tumpah dan membuatnya makin berat untuk melangkah.
"Janji ya, Ra? Tunggu aku sukses. Jangan cari pengganti tukang tambal ban atau tukang benerin genteng dulu," candanya lagi, namun kali ini suaranya serak.
"Iya, Lan. Janji. Hati-hati di sana," bisikku akhirnya.
Arlan melepaskan genggamannya perlahan. Ujung jarinya sempat menyapu punggung tanganku sebelum benar-benar terlepas. Ia berbalik, menyerahkan paspornya kepada petugas, dan tanpa menoleh lagi, ia melangkah masuk ke dalam lorong gelap menuju pesawat.
Aku terus berdiri di sana. Menatap punggungnya yang semakin menjauh, semakin kecil, hingga benar-benar hilang di balik belokan. Saat itulah, pertahananku runtuh. Setetes air mata jatuh mengenai bandul kalung mangga yang ia berikan tadi.
Pesawat Boeing 747 itu menderu di landasan pacu beberapa menit kemudian. Aku melihatnya naik ke langit, membelah awan, membawa pergi separuh jiwaku menuju negeri yang belum pernah kupijak. Di bawah pohon mangga belakang rumah nanti, kursinya akan kosong. Dan aku baru menyadari, rumah bukan lagi tentang bangunan, tapi tentang seseorang yang baru saja terbang sepuluh ribu kaki di atas kepalaku.
Hari-hari setelah keberangkatan Arlan terasa seperti film bisu. Semua tampak berjalan normal, tapi suaranya hilang. Pohon mangga di belakang rumah pun seolah ikut merunduk sepi.
Minggu pertama tanpa Arlan adalah yang terberat. Aku terbangun pukul enam pagi, nyaris menyambar ponsel untuk mengirim pesan singkat: "Lan, ban motorku kurang angin, mampir ya!" sebelum akhirnya sadar, Arlan sedang berada di zona waktu yang berbeda, tujuh jam di belakangku. Dia mungkin baru saja bersiap tidur saat aku memulai hari.
Pohon mangga itu kini menjadi tempat pelarianku. Aku duduk di bangku kayu yang catnya sudah mengelupas, tempat Arlan biasa duduk sambil menyombongkan skor game-nya. Sekarang, kursi itu kosong. Hanya ada daun kering yang jatuh pelan, seolah mengejek kesendirianku.
LDR (Long Distance Relationship) dengan seorang sahabat ternyata lebih rumit dari kekasih. Kami tidak punya status untuk saling menuntut kabar, tapi rasa kehilangan ini nyata.
"Ra, Arlan sudah telepon?" tanya Ibu suatu sore sambil membawakan teh.
Aku menggeleng. "Baru kirim foto apartemennya, Bu. Katanya di sana dingin sekali."
"Sabar, ya. Dia di sana untuk masa depan. Kamu juga harus sibuk, jangan melamun terus di bawah pohon," nasihat Ibu lembut.
Aku pun mulai menyibukkan diri. Aku mengambil lembur di kantor, mulai belajar memasak resep-resep yang dulu sering kami beli di pinggir jalan, dan berusaha tidak terus-menerus menatap layar ponsel. Namun, setiap kali notifikasi berbunyi di pukul satu pagi—saat Arlan baru pulang kerja di Munich—jantungku tetap melonjak.
"Ra, aku baru lihat bulan. Bagus sekali. Di sana jam berapa? Sudah mimpi ya?" tulisnya di WhatsApp, lengkap dengan foto bulan sabit di langit Jerman.
Aku membalasnya dengan jemari gemetar. "Baru mau mimpi. Mimpi kamu pulang bawa cokelat."
Dia membalas dengan emoji tertawa. "Simpan mimpimu, Ra. Aku akan pulang membawa lebih dari sekedar cokelat."
Kalimat itu menggantung di kepalaku selama berhari-hari. Apa maksudnya? Apakah dia merasakan rindu yang sama? Ataukah itu hanya gaya bicaranya yang memang selalu manis tapi membingungkan?
Di tengah sepi itu, seorang rekan kantor bernama Pandu mulai sering menghampiri mejaku. Dia sopan, mapan, dan jelas-jelas menunjukkan ketertarikan. Pandu adalah semua hal yang "benar" secara logika, tapi hatiku selalu membandingkannya dengan Arlan—si tukang celoteh yang tahu semua keburukanku.
Bulan ketiga, aku mulai terbiasa dengan rutinitas "palsu". Aku berangkat kerja tepat waktu, makan siang dengan teman kantor, dan pulang sebelum magrib. Namun, setiap kali aku melewati tukang martabak langganan kami, mataku otomatis mencari sosok jangkung dengan jaket denim belel yang biasanya sudah mengantre di sana.
Kosong. Arlan benar-benar tidak ada.
"Ra, Sabtu besok ada pameran seni di pusat kota. Mau ikut?" tanya Pandu, rekan kerjaku yang belakangan ini makin sering muncul "tanpa sengaja" di kubikelku.
Aku menatap layar ponselku. Belum ada balasan dari Arlan sejak kemarin. Munich sedang badai salju, katanya, dan jaringan di apartemennya sedang bermasalah.
"Boleh, Ndu. Jam berapa?" jawabku pelan. Mungkin Ibu benar, aku harus mulai "hidup" lagi, bukan cuma menunggu notifikasi dari benua lain.
Sabtu itu, Pandu sangat sopan. Dia membukakan pintu mobil, memesankan kopi kesukaanku, dan tahu banyak tentang lukisan. Dia adalah versi pria dewasa yang sempurna. Tapi sepanjang pameran, pikiranku justru melayang pada Arlan.
Arlan yang kalau diajak ke pameran seni pasti akan berbisik, "Ra, ini lukisan atau tumpahan kecap? Kok harganya mahal banget?" lalu kami akan tertawa sampai ditegur penjaga galeri.
Malamnya, saat aku baru sampai rumah, ponselku bergetar hebat. Panggilan video dari Arlan.
Aku segera berlari ke balkon kamar agar tidak ketahuan Ibu. Wajah Arlan muncul di layar. Dia terlihat lebih tirus, rambutnya sedikit berantakan, dan dia memakai sweter tebal berlapis-lapis.
"Ra! Baru pulang?" tanyanya. Matanya menyipit, menatap latar belakangku. "Kok rapi banget? Habis kencan ya?"
"Cuma jalan sama teman kantor, Lan. Ke pameran seni," jawabku, berusaha terdengar biasa saja.
Arlan terdiam sejenak. Senyum jahilnya memudar sedikit. "Oh... baguslah. Biar kamu nggak lumutan di bawah pohon mangga terus."
Keheningan canggung menyelimuti kami selama beberapa detik. Hanya suara desis angin dari speakernya yang terdengar.
"Lan, kamu sehat kan di sana?" tanyaku memecah sepi.
"Sehat. Cuma... dingin, Ra. Dingin banget," suaranya merendah. Dia mendekatkan wajahnya ke kamera. "Ternyata bener kata kamu. Nggak ada yang bisa benerin perasaan aku kalau lagi berantakan di sini, karena 'tukang servisnya' ketinggalan di Jakarta."
Jantungku mencelos. "Maksudnya?"
"Nggak apa-apa. Tidur sana, sudah malam," ucapnya cepat, kembali memasang topeng cerianya. "Jangan mimpiin cowok pameran seni itu ya. Mimpiin aku aja, biayanya lebih murah."
Panggilan terputus. Aku menatap layar hitam itu dengan perasaan campur aduk. Arlan cemburu? Atau dia hanya sedang kesepian? Di bawah sinar lampu kamar yang temaram, aku menyadari bahwa jarak sepuluh ribu kilometer ini mulai mengikis keberanian kami untuk sekadar jujur.
"Ra, aku baru beli jaket tebal. Warnanya biru, persis seperti warna kesukaanmu," suara Arlan di telepon terdengar sedikit serak. Mungkin karena flu, atau mungkin karena kelelahan mengejar tenggat proyek di Munich.
"Bagus, Lan. Biar kamu nggak kedinginan terus," jawabku sambil mengaduk teh yang sudah mendingin.
Percakapan kami mulai berubah. Dulu, kami bisa membahas hal konyol seperti kenapa kucing takut timun selama berjam-jam. Sekarang, obrolan kami lebih banyak berisi "Sudah makan?", "Bagaimana kerjaan?", dan "Cuaca di sana bagaimana?". Ada sekat transparan yang mulai tumbuh di antara kami—sekat bernama jarak.
Suatu sore, aku pulang kerja dan menemukan Ibu sedang membersihkan area bawah pohon mangga. Daun-daun kering menumpuk, dan kursi kayu tempat Arlan biasa duduk terlihat kusam.
"Ra, tadi ibunya Arlan mampir," kata Ibu tanpa menoleh. "Katanya Arlan mungkin nggak pulang saat lebaran nanti. Proyeknya lagi padat-padatnya."
Hatiku mencelos. Lebaran tanpa Arlan? Itu artinya tidak ada yang akan menghabiskan opor ayamku, tidak ada yang akan mengejek bajuku yang terlalu mencolok, dan tidak ada yang akan mengajakku keliling komplek sambil pamer motor baru.
Malamnya, aku mengirim pesan singkat: "Lan, beneran nggak pulang lebaran?"
Lama. Centang biru, tapi tidak ada balasan. Satu jam, dua jam.
Baru pukul dua pagi ponselku bergetar. Bukannya pesan teks, Arlan justru mengirimkan rekaman suara (voice note). Aku mendekatkan ponsel ke telinga, suasana kamarku sunyi senyap.
"Ra... maaf ya. Aku pengen banget pulang. Setiap hari di sini rasanya pengen lari ke bandara. Tapi aku harus selesaikan ini. Aku lagi nabung, Ra. Buat sesuatu yang besar. Buat kita. Tolong... jangan capek nunggu aku, ya?"
Suaranya terdengar sangat tulus, bahkan ada getaran emosi yang tak mampu ia sembunyikan. Itu pertama kalinya Arlan menggunakan kata "kita" dalam konteks yang begitu serius.
Aku meringkuk di bawah selimut, memutar rekaman itu berulang-ulang. Di satu sisi, aku lega dia masih memikirkanku. Di sisi lain, ketidakpastian ini membunuhku perlahan. Aku mulai bertanya-tanya, apakah "kita" yang dia maksud sama dengan "kita" yang ada di imajinasiku?
Keesokan harinya, Pandu datang ke mejaku membawa sekotak cokelat mahal. "Ra, kalau lebaran nanti kamu nggak ada acara, keluargaku undang kamu makan malam. Mau?"
Aku menatap cokelat itu, lalu menatap kalung daun mangga di leherku. Dunia nyata menawarkan kepastian di depan mata, sementara dunia mimpiku sedang berjuang di negeri orang yang membeku.
Satu tahun pertama, ponsel Raia selalu ramai. Foto-foto Arlan di depan Gerbang Brandenburg atau cerita tentang dinginnya musim salju di Berlin mengisi hari-hari Raia. Mereka masih tertawa lewat panggilan video, seolah jarak ribuan kilometer hanyalah angka.
Namun, memasuki tahun kedua, balasan Arlan mulai melambat. Dari hitungan jam menjadi hari, lalu minggu, hingga akhirnya... sunyi.
Raia menatap gantungan kunci bola dunia pemberian Arlan yang kini sudah sedikit lecet. "Sibuk banget ya, Lan?" bisiknya pada ruang hampa. Ia mencoba berpikiran positif; mungkin tugas kuliah yang menumpuk atau kerja paruh waktu telah menyita seluruh waktu sahabatnya itu.
Bulan berganti tahun. Pesan terakhir Raia yang dikirim enam bulan lalu masih menyisakan tanda centang abu-abu—tak terbaca, apalagi terbalas. Arlan seolah ditelan bumi. Media sosialnya pun membeku; tidak ada unggahan baru, tidak ada tanda-tanda kehidupan.
Raia merasa kehilangan, bukan karena jarak, tapi karena ketidaktahuan. Apakah Arlan baik-baik saja? Apakah ia sudah menemukan lingkungan baru yang membuatnya lupa pada masa kecil mereka di gang sempit desa?
Suatu sore, saat Raia sedang merapikan gudang, ia menemukan sebuah kotak sepatu tua berisi koleksi kelereng dan pesawat kertas yang pernah mereka buat. Di sana, ia sadar: persahabatan terkadang seperti layang-layang. Ada saatnya benang itu terputus bukan karena keinginan kita, tapi karena angin yang terlalu kencang.
Raia menghela napas, menutup kotak itu, dan berbisik pelan, "Ke mana pun kamu pergi, Arlan, semoga diammu itu karena kamu sedang bahagia."
******
Kesibukan kuliah di negeri orang ternyata menjadi tembok yang lebih tinggi dari yang Raia bayangkan. Setiap kali Raia bertanya pada ibunda Arlan di desa, jawabannya selalu sama: "Arlan sedang fokus, Raia. Katanya proyek akhirnya sangat berat, dia jarang pegang ponsel."
Hanya Kabar Angin
Alasan "sibuk kuliah" itu awalnya bisa Raia terima. Ia membayangkan Arlan yang sedang berkutat dengan buku-buku tebal atau lembur di laboratorium hingga larut malam. Namun, seiring berjalannya waktu, alasan itu terasa makin tawar.
"Sesibuk itukah sampai tidak bisa mengirim satu baris pesan?" gumam Raia sambil menatap layar ponselnya yang redup.
Raia mulai terbiasa melewati hari tanpa notifikasi dari Arlan. Ia mencoba menyibukkan diri dengan pekerjaannya sendiri, namun bayangan sahabat kecilnya itu selalu muncul saat ia melihat penjual buah seri atau pesawat terbang di langit.
Pernah suatu kali, Raia nekat mengirim pesan panjang: "Lan, sesukses apa pun kamu di sana, aku cuma ingin tahu kamu sehat. Itu saja."
Pesan itu tetap tak berbalas. Arlan seolah-olah sedang membangun dunianya sendiri yang tidak lagi menyisakan ruang untuk Raia. Kesibukan Arlan telah menjadi jarak yang lebih nyata daripada ribuan kilometer antara Indonesia dan luar negeri. Raia pun mulai belajar untuk berdamai dengan sunyi, meski jauh di lubuk hatinya, ia masih menyimpan tanya yang belum terjawab.
Hingga musim berganti berkali-kali, kabar dari Arlan tetap menjadi teka-teki yang tak kunjung terpecahkan. Alasan "sibuk kuliah" yang awalnya terdengar masuk akal, kini terasa seperti dinding beton yang memisahkan dunia mereka.
Raia mulai berhenti memeriksa ponselnya setiap bangun tidur. Harapan yang dulu meluap-luap kini mengendap menjadi tumpukan kekecewaan yang tenang. Ia tidak lagi bertanya pada ibu Arlan, karena ia tahu jawabannya akan tetap sama—sebuah ketidaktahuan yang dibungkus kata "sibuk".
Suatu sore, Raia duduk di kafe favorit mereka dulu. Ia melihat sekelompok mahasiswa yang tertawa sambil mengerjakan tugas. Ia membayangkan Arlan di sana, di sebuah perpustakaan megah di luar negeri, mungkin sedang tertawa dengan teman-teman barunya, atau mungkin sedang tenggelam dalam tumpukan cetak biru arsitektur hingga lupa waktu, lupa rumah, dan lupa pada Raia.
"Mungkin dunianya sudah terlalu luas untuk sekadar menyapa teman kecilnya," gumam Raia pelan.
Raia tidak lagi merasa marah, hanya ada rasa hampa yang aneh. Ia mulai menyadari bahwa dalam pendewasaan, ada orang-orang yang memilih untuk memutus tali masa lalu agar bisa berlari lebih kencang ke masa depan. Arlan memilih jalan itu, dan Raia dipaksa untuk menerimanya tanpa sepatah kata pamit yang layak.
Gantungan kunci bola dunia itu kini tersimpan rapat di dalam laci paling bawah. Raia memutuskan untuk berhenti mengirim pesan. Baginya, diamnya Arlan adalah sebuah jawaban—bahwa bab cerita mereka telah selesai, bahkan sebelum Arlan sempat mengucapkan selamat tinggal secara resmi.
*****"
Karena rasa penasaran yang sudah di ujung tanduk, Raia akhirnya memberanikan diri untuk datang langsung ke rumah ibu Arlan. Ia membawa sekotak martabak manis kesukaan Arlan dulu, berharap suasana akan lebih cair.
Ibu Arlan menyambut Raia dengan senyum yang sedikit layu. Mereka duduk di teras, tempat yang dulu sering menjadi saksi bisu Raia dan Arlan mengerjakan tugas kelompok.
"Bu, Arlan... apa benar-benar tidak ada kabar terbaru? Pesan saya sudah berbulan-bulan tidak dibaca," tanya Raia pelan, berusaha menjaga suaranya agar tidak bergetar.
Ibu Arlan menghela napas panjang, tatapannya kosong menatap jalanan depan rumah. "Tadi malam dia telepon sebentar sekali, Ra. Katanya dia sedang fokus untuk ujian akhirnya. Dia bilang, 'Bu, sampaikan maaf ke teman-teman, Arlan harus putus kontak dulu supaya tidak terganggu pikirannya'."
"Cuma itu, Bu?" Raia mendesak. "Tidak ada pesan khusus buat saya?"
Ibu Arlan menggeleng lemah sambil mengusap bahu Raia. "Dia cuma bilang dia sibuk sekali, Ra. Ibu sendiri saja kadang hanya bicara dua menit. Dia seperti... seperti orang yang sedang dikejar sesuatu. Katanya, kalau sudah sukses nanti, baru dia akan bicara lagi."
Raia terdiam. Jawaban itu terasa seperti tamparan halus. "Sibuk kuliah" ternyata menjadi alasan yang sangat efektif untuk membangun tembok. Raia merasa seolah-olah ia adalah gangguan, sebuah distraksi dari masa lalu yang harus Arlan singkirkan demi masa depan yang gemilang di luar negeri.
Raia pamit pulang dengan perasaan yang lebih berat dari saat ia datang. Di perjalanan, ia menyadari satu hal: Arlan tidak hilang, dia hanya memilih untuk tidak ditemukan.
Dia , Arlan , bisa mengirimkan pesan untuk ibunya , walaupun hanya satu kata , sedangkan Aku ? , tidak sama sekali, padahal aku juga ingin di berikan kabar olehnya , sekarang waktunya aku harus benar-benar bisa berjalan sendiri tanpa Arlan Lagi , Toh , dia saja tidak peduli kepadaku lagi , jadi buat apa Aku perdulikan dia lihat saja , jika dia kembali , aku tidak akan pernah mau melihat wajahnya ataupun mengobrol dengannya , enak saja dia mengabaikanku begitu saja.
" kenapa mukamu begitu sedih , Ra ,? Tanya ibuku.
" Tadi aku habis ke rumah Arlan Bu , untuk menanyakan kepada ibu Arlan , jika Arlan ada kabar " jawabku.
" terus , apa yang di katakan ibu Arlan , Ra " kata ibuku .
" katanya dia sibuk kuliah , cuma itu saja Bu " lirihku.
" yasudah, sekarang kamu sudah tahukan dia sibuk kuliah " gumang ibuku.
rasanya begini jalani hari hari tanpa seseorang yang kamu sudah anggap rumah/ Kakak.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!