Ponsel di atas meja bergetar berkali-kali.
Dewi yang sedang duduk sendirian di ruang tamu menoleh perlahan. Layarnya menyala, menampilkan satu nama yang begitu akrab sekaligus terasa asing baginya.
Suami.
Rizky.
Notifikasi pesan masuk bertambah satu lagi.
Ia membuka layar.
Datang ke rumah sakit sekarang. Lina butuh darah.
Beberapa detik kemudian, pesan lain muncul.
Jangan lama. Dokter bilang harus segera.
Tak lama setelah itu, muncul notifikasi transfer.
Rp500.000 telah masuk.
Dewi menatap angka itu cukup lama. Tangannya tidak bergerak, hanya matanya yang menatap layar dengan kosong.
Beberapa detik kemudian ponselnya bergetar lagi.
Cepat.
Transfer kedua masuk.
Rp500.000.
Dewi menghela napas pelan. Ia tidak langsung menjawab. Jarinya justru menekan layar, membuka riwayat percakapan mereka.
Halaman chat itu panjang.
Tiga tahun pernikahan.
Namun ketika ia mulai menggulir ke atas, dadanya terasa semakin berat.
Karena hampir semua pesan dari Rizky… sama.
“Lina butuh darah.”
“Datang ke rumah sakit.”
“Cepat.”
“Transfer.”
Jumlah transfer yang tercatat bahkan lebih banyak daripada kata-kata perhatian.
Tidak ada pesan menanyakan apakah ia sudah makan.
Tidak ada ucapan selamat ulang tahun.
Tidak ada kabar sekadar “apa kabar”.
Hanya perintah.
Dan uang.
Dewi menggulir lebih jauh lagi.
Tiga tahun.
Dalam tiga tahun pernikahan mereka, Rizky hampir tidak pernah menghubunginya lebih dulu kecuali untuk satu hal.
Meminta darahnya untuk Lina.
Ia menutup layar.
Ponsel kembali bergetar.
Pesan baru masuk.
Kenapa belum jawab?
Lina sudah lemah.
Transfer ketiga masuk.
Rp500.000.
Dewi menatap ponsel itu dengan mata merah.
Bulan ini saja… ini sudah permintaan ketiga.
Ia menekan pelipisnya pelan.
Tubuhnya masih terasa dingin.
Semalam ia berdiri di depan pintu rumah hampir satu jam.
Hujan turun tanpa henti.
Ia menunggu Rizky pulang kerja.
Namun pria itu tidak pernah datang.
Ketika akhirnya Dewi kembali masuk ke rumah, pakaiannya sudah basah kuyup dan tubuhnya menggigil.
Pagi ini ia bangun dengan kepala berat dan tenggorokan sakit.
Demam.
Dokter pernah mengatakan bahwa ia tidak boleh terlalu sering donor darah.
Tubuhnya tidak kuat.
Namun bagi Rizky, hal itu seolah tidak pernah penting.
Ponsel kembali berbunyi.
Dewi mengira itu pesan dari Rizky lagi.
Namun ketika ia melihat layar, nomor pengirimnya tidak dikenal.
Ia membuka pesan itu.
Kalimat pertama membuat alisnya langsung berkerut.
Kamu benar-benar tidak tahu malu.
Dewi terdiam.
Pesan berikutnya muncul.
Berani sekali kamu menempati posisi istri Rizky.
Padahal jelas-jelas kamu cuma pelakor.
Napas Dewi tertahan.
Tangannya menggenggam ponsel lebih erat.
Pesan ketiga datang.
Kalau punya harga diri, kamu seharusnya sudah pergi sejak lama.
Dewi menatap layar tanpa berkedip.
Beberapa detik kemudian pesan lain masuk lagi.
Rizky semalam ada di sini.
Dia tidak pulang ke rumahmu.
Dewi masih belum membalas.
Jarinya terasa kaku.
Kemudian layar menampilkan gambar masuk.
Ia membuka foto itu.
Foto tersebut diambil dari jarak sangat dekat.
Di atas tempat tidur putih, Rizky terlihat tertidur dengan wajah tenang.
Seorang wanita bersandar di bahunya.
Rambut panjang.
Wajah cantik.
Ekspresi puas.
Wanita itu mengangkat ponsel dan memotret dirinya sendiri bersama Rizky.
Sambil tersenyum.
Dewi mengenali wajah itu hanya dalam satu detik.
Lina.
Ponsel Dewi hampir terlepas dari tangannya.
Dadanya terasa seperti dipukul.
Semalam.
Ia berdiri di luar rumah menunggu suaminya pulang dalam hujan.
Sementara pria itu…
sedang tidur bersama Lina.
Pesan lain masuk.
Jangan pura-pura tidak tahu.
Rizky selalu ada di sisiku.
Yang jadi orang ketiga itu kamu.
Dewi menatap foto itu lama sekali.
Semua perasaan yang selama ini ia tahan… perlahan runtuh.
Tiga tahun.
Tiga tahun ia bertahan.
Ia menutup mata.
Kenangan satu per satu muncul di kepalanya.
Saat pertama menikah dengan Rizky, ia berpikir kehidupannya akan berubah menjadi lebih baik.
Ia meninggalkan kota asalnya.
Meninggalkan teman-teman.
Bahkan jarang pulang menemui orang tuanya.
Ia memilih tinggal bersama keluarga Rizky.
Rumah besar itu selalu terasa dingin.
Ibu mertua, Siti, tidak pernah benar-benar menerimanya.
Setiap pagi Dewi harus bangun lebih awal daripada semua orang.
Memasak.
Membersihkan rumah.
Mencuci.
Namun kesalahan kecil saja bisa membuat Siti mengomel sepanjang hari.
Adik ipar perempuan bahkan lebih buruk.
Ia sering menyindir Dewi di depan keluarga.
Mengatakan bahwa Dewi tidak pantas menjadi menantu keluarga mereka.
Di kantor pun tidak jauh berbeda.
Rekan-rekan kerja tahu bahwa Rizky berasal dari keluarga kaya.
Mereka menganggap Dewi hanya menumpang hidup pada suaminya.
Tatapan meremehkan itu sering ia rasakan.
Namun selama tiga tahun, Dewi tidak pernah melawan.
Ia selalu menahan diri.
Karena ia percaya…
selama Rizky masih suaminya, semuanya masih bisa diperbaiki.
Namun kenyataan yang ia hadapi sekarang seperti tamparan keras.
Ia bukan istri.
Ia hanya cadangan darah untuk Lina.
Ponsel tiba-tiba berdering.
Nama yang muncul di layar membuat wajah Dewi langsung menegang.
Rumah Keluarga Rizky.
Ia menatap layar beberapa detik sebelum akhirnya menjawab.
Belum sempat ia berbicara, suara keras langsung terdengar dari seberang.
“Dewi, kamu di mana sekarang?”
Itu suara ibu mertuanya, Siti.
Dewi menjawab pelan.
“Di rumah.”
Siti langsung berkata dengan nada perintah.
“Segera datang ke rumah utama.”
“Ada tamu malam ini. Kamu harus masak.”
Dewi menutup matanya sejenak.
Tubuhnya masih demam.
Namun Siti bahkan tidak menanyakan bagaimana keadaannya.
Ia hanya memberi perintah.
Dewi membuka mulut.
“Saya sedang—”
Siti langsung memotong.
“Jangan banyak alasan.”
“Sebagai menantu kamu harus tahu kewajibanmu.”
“Kami menunggu satu jam.”
Telepon langsung diputus.
Dewi menatap layar yang sudah gelap.
Beberapa detik kemudian…
ia menekan tombol panggilan berakhir.
Ia bahkan tidak berniat menjelaskan apa pun.
Dadanya terasa kosong.
Ia duduk diam cukup lama.
Lalu perlahan membuka ponselnya lagi.
Nama Suami masih berada di bagian atas chat.
Pesan-pesan Rizky terus bertambah.
Dokter sudah menunggu.
Kamu belum berangkat?
Kalau telat Lina bisa bahaya.
Dewi membaca semua itu tanpa ekspresi.
Tiga tahun.
Ia menelan semua penghinaan.
Ia menahan semua keluhan.
Ia mencoba menjadi istri yang baik.
Namun satu-satunya peran yang benar-benar ia miliki dalam pernikahan ini hanyalah…
memberikan darahnya.
Dewi membuka kolom pesan.
Jarinya berhenti sejenak di layar.
Lalu ia mulai mengetik.
Kita bercerai.
Ia membaca kalimat itu sekali lagi.
Kemudian menekan kirim.
Hanya beberapa detik kemudian, ponselnya langsung berdering.
Rizky menelepon.
Dewi menjawab tanpa ragu.
Suara pria itu terdengar dingin.
“Apa maksud pesanmu?”
Nada suaranya bukan terkejut.
Lebih seperti kesal.
Dewi berkata pelan, “Aku ingin cerai.”
Beberapa detik hening.
Kemudian Rizky tertawa pendek.
“Kamu pikir aku tidak tahu maksudmu?”
“Akhirnya kamu mulai menuntut uang?”
Dewi menggenggam ponsel lebih erat.
Rizky melanjutkan dengan nada sinis.
“Kalau ingin uang bilang saja.”
“Tapi sekarang bukan waktunya.”
“Lina sedang butuh darahmu.”
Dewi menutup mata.
Demam membuat kepalanya semakin berat.
Namun ia tetap berkata dengan tenang.
“Kita bercerai.”
Rizky jelas mulai kesal.
“Kamu pikir perceraian itu permainan?”
“Jangan bikin masalah sekarang.”
“Segera datang ke rumah sakit.”
Dewi memotong kalimatnya.
“Satu jam lagi.”
“Di Kantor Urusan Sipil.”
Rizky terdiam.
Dewi melanjutkan.
“Kalau kamu tidak datang…”
“Aku tidak akan pernah donor darah lagi.”
Kalimat itu membuat napas di seberang telepon berhenti sejenak.
Rizky akhirnya berkata dingin.
“Kamu mengancamku?”
Dewi tidak menjawab.
Ia langsung menutup telepon.
Ruangan kembali sunyi.
Beberapa detik kemudian ponselnya berbunyi lagi.
Bukan panggilan.
Notifikasi transfer.
Rp1.000.000 telah masuk.
Dewi menatap angka itu cukup lama.
Tiba-tiba ia tertawa pelan.
Tawa itu berubah menjadi suara serak.
Matanya memanas.
Air mata akhirnya jatuh tanpa bisa ditahan.
Tiga tahun pernikahan.
Semua yang ia berikan.
Semua yang ia korbankan.
Pada akhirnya…
hanya bernilai satu juta rupiah.
Dewi menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Air mata mengalir deras.
Di antara isak yang tertahan, satu pikiran perlahan menjadi jelas di benaknya.
Pernikahan ini…
sejak awal memang hanya lelucon yang kejam.
Udara sore terasa lembap.
Dewi berdiri di pinggir jalan dengan tubuh yang masih panas oleh demam. Kepalanya berat, pandangannya sesekali berkunang-kunang, namun ia tetap mengangkat tangan memanggil taksi yang melintas.
Sebuah taksi berhenti.
Ia membuka pintu dan masuk dengan gerakan pelan.
“Ke Kantor Urusan Sipil,” katanya singkat.
Mobil mulai bergerak.
Dewi bersandar di kursi belakang, menutup mata sejenak. Tenggorokannya kering, napasnya terasa panas. Tubuhnya belum pulih dari demam semalam, ditambah beberapa kali donor darah bulan ini membuatnya semakin lemah.
Namun ia tetap pergi.
Ponselnya bergetar lagi.
Nama Rizky muncul di layar.
Ia tidak mengangkat.
Beberapa detik kemudian panggilan itu terputus.
Tak lama, ponsel kembali berdering.
Masih dari Rizky.
Dewi tetap menatap layar tanpa bergerak.
Mobil melaju melewati lampu merah.
Panggilan itu akhirnya berhenti sendiri.
Rizky tidak menelepon lagi.
Seolah setelah dua kali mencoba, ia sudah kehilangan kesabaran.
Dewi meletakkan ponsel kembali ke tasnya.
Ia membuka mata dan menatap keluar jendela.
Gedung-gedung kota lewat satu demi satu.
Tiga tahun pernikahan.
Hari ini akan berakhir.
Tidak ada drama.
Tidak ada pertengkaran.
Hanya keputusan yang sudah terlalu lama ia tunda.
Satu jam kemudian.
Dewi turun dari taksi di depan Kantor Urusan Sipil.
Gedung itu tampak sepi menjelang sore.
Ia berjalan masuk dengan langkah pelan. Setiap langkah terasa berat, tetapi ia tidak berhenti.
Ketika ia sampai di ruang pelayanan, ia langsung melihat sosok yang berdiri di dekat pintu.
Rizky.
Pria itu mengenakan kemeja hitam dan celana panjang rapi. Wajahnya tampak dingin seperti biasa, tidak menunjukkan emosi apa pun.
Saat melihat Dewi, ia berjalan mendekat.
Langkahnya tenang.
Tatapannya tajam.
Ia berhenti tepat di depan Dewi dan menatapnya dari atas ke bawah.
Seolah sedang menilai sesuatu yang tidak memuaskan.
“Kamu akhirnya datang,” katanya datar.
Dewi tidak menjawab.
Rizky menyilangkan tangan di dada.
“Aku sudah lihat catatan donor darahmu bulan ini.”
Nada suaranya tidak terdengar peduli.
Lebih seperti sedang membicarakan laporan kerja.
“Kamu memang donor lebih sering.”
“Tapi aku juga sudah memberi kompensasi.”
Ia menatap Dewi dengan alis sedikit berkerut.
“Apa lagi yang kamu tidak puas?”
Dewi mengangkat wajahnya.
Ia menatap langsung ke mata Rizky.
Tatapan itu tenang.
Tidak ada lagi rasa takut seperti dulu.
“Rizky,” katanya pelan.
“Kita bercerai.”
Kata-kata itu jatuh begitu saja di antara mereka.
Rizky menatapnya beberapa detik.
Wajahnya perlahan menjadi lebih dingin.
“Kamu masih bicara soal itu?”
Dewi tidak menjawab.
Ia hanya berdiri tegak meskipun tubuhnya terasa lemah.
Selama tiga tahun terakhir, setiap kali berhadapan dengan Rizky, ia selalu berhati-hati.
Ia takut membuatnya marah.
Takut membuatnya kecewa.
Namun sekarang…
tidak ada lagi rasa itu.
Hatinya seperti permukaan air yang tenang.
Tidak beriak.
Tidak bergelombang.
Rizky menyipitkan mata.
“Kamu benar-benar serius?”
“Serius,” jawab Dewi.
Ekspresi Rizky berubah semakin muram.
Seolah kesabarannya mulai habis.
“Aku bisa mentolerir kamu yang kadang berlebihan.”
“Tapi jangan sampai kamu tidak tahu diri.”
Nada suaranya semakin dingin.
“Jangan berpikir kamu satu-satunya orang yang bisa donor darah untuk Lina.”
Ia menatap Dewi dengan tajam.
“Kalau kamu pergi sekarang…”
“Jangan menyesal nanti.”
Dewi tiba-tiba tersenyum.
Namun senyum itu tidak mengandung sedikit pun kehangatan.
Lebih seperti luka yang terbuka.
“Menyesal?”
Ia menggeleng pelan.
“Hal yang paling aku sesali…”
“adalah menikah denganmu tiga tahun lalu.”
Kalimat itu membuat Rizky terdiam.
Dewi melanjutkan dengan suara rendah.
“Pernikahan ini sudah membuatku hancur.”
“Kalau aku terus bertahan…”
“mungkin aku benar-benar akan mati.”
Rizky tidak membalas.
Wajahnya tetap dingin.
Namun rahangnya menegang.
Petugas kantor sipil keluar dari ruang dalam.
“Kalian yang terakhir hari ini?” tanyanya.
Rizky langsung menjawab singkat.
“Iya.”
Mereka dipersilakan masuk.
Ruang itu kecil dan sederhana.
Di atas meja ada beberapa formulir.
Petugas mulai menjelaskan prosedur.
Dewi hampir tidak mendengar apa pun.
Ia hanya menandatangani dokumen yang diminta.
Rizky juga melakukan hal yang sama.
Tidak ada percakapan.
Tidak ada pertengkaran.
Hanya suara pena menyentuh kertas.
Beberapa menit kemudian…
semuanya selesai.
Tiga tahun pernikahan.
Berakhir hanya dalam beberapa menit.
Petugas menyerahkan dua lembar dokumen.
“Ini surat cerai kalian.”
Dewi menerima kertas itu.
Tangannya sedikit gemetar.
Ia menatap tulisan di atasnya.
Dadanya terasa aneh.
Bukan sakit.
Lebih seperti ruang kosong yang tiba-tiba terbuka.
Di sampingnya, Rizky sudah berdiri.
Ia bahkan tidak menoleh ke arah Dewi.
“Ayo,” katanya singkat.
“Kita pergi ke rumah sakit.”
Seolah-olah…
perceraian barusan hanyalah urusan kecil.
Seolah Dewi masih memiliki satu fungsi terakhir.
Memberikan darah.
Dewi menatap punggung pria itu.
Tiba-tiba…
ia tertawa.
Suara tawa itu membuat Rizky berhenti dan menoleh.
“Apa yang lucu?”
Dewi memegang surat cerai di tangannya.
Lalu menatap Rizky dengan mata yang benar-benar tenang untuk pertama kalinya.
“Mulai hari ini,” katanya perlahan.
“Kalau Lina mati di depan mataku sekalipun…”
“Aku tidak akan membuang setetes darahku lagi.”
Rizky langsung mengerutkan kening.
Wajahnya berubah gelap.
“Kamu berani mengutuk Lina?”
Dewi hanya tersenyum tipis.
Rizky melanjutkan dengan nada tajam.
“Jangan lupa.”
“Sejak awal kamu menikah dengan keluarga kami…”
“syaratnya adalah kamu harus siap donor darah untuk Lina kapan saja.”
Kalimat itu seperti pisau.
Menembus dada Dewi dengan kejam.
Selama ini ia tahu.
Namun mendengarnya langsung dari mulut Rizky tetap terasa menyakitkan.
Jadi benar.
Sejak awal…
ia hanya alat.
Dewi mengangkat kepala dan tertawa dingin.
“Benar.”
“Aku memang bank darah berjalan bagi kalian.”
Ia menatap Rizky dengan mata penuh ejekan.
“Tapi sekarang…”
“Aku tidak tertarik lagi menjadi istri Rizky.”
Ia melipat surat cerai itu dan memasukkannya ke dalam tas.
“Tenang saja.”
“Hari ini aku tetap akan donor darah.”
Rizky sedikit terkejut.
Dewi menatapnya lurus.
“Terakhir kali.”
“Setelah itu…”
“Aku juga akan menagih semua yang harus dibayar.”
Tanpa menunggu jawaban, Dewi berbalik dan berjalan keluar.
Langkahnya cepat.
Ia meninggalkan gedung itu tanpa menoleh lagi.
Rizky berdiri di tempat.
Alisnya berkerut.
Perasaan aneh muncul di dadanya.
Iritasi.
Tidak nyaman.
Ada sesuatu yang berbeda dari Dewi hari ini.
Namun ia tidak bisa menjelaskan apa.
Selama tiga tahun, Dewi selalu lembut dan patuh.
Ia hampir tidak pernah membantah.
Rizky merasa ia sudah mengenalnya dengan cukup baik.
Belakangan ini Lina memang sering membutuhkan transfusi darah.
Rizky juga merasa sedikit bersalah.
Karena itu ia mencoba memberi uang lebih kepada Dewi sebagai kompensasi.
Menurutnya, Dewi sebagai istri sebenarnya sudah cukup baik.
Tidak banyak menuntut.
Tidak membuat masalah.
Namun perceraian ini…
tetap membuatnya tidak nyaman.
Meskipun begitu, ia tidak terlalu memikirkannya.
Di benaknya hanya ada satu kesimpulan sederhana.
Jika suatu hari Dewi benar-benar tidak punya jalan keluar…
ia pasti akan kembali.
Memohon.
Seperti biasa.
Di luar gedung.
Dewi langsung menghentikan taksi yang lewat.
“Ke rumah sakit,” katanya singkat.
Mobil melaju cepat menuju tujuan.
Sepanjang perjalanan, Dewi tidak berbicara.
Matanya menatap lurus ke depan.
Sepuluh menit kemudian mobil berhenti di depan rumah sakit.
Ia turun tanpa ragu.
Langkahnya cepat menuju gedung rawat inap.
Ia sudah sangat familiar dengan tempat ini.
Tiga tahun.
Ia datang ke sini berkali-kali.
Namun hari ini berbeda.
Ia berjalan melewati lorong panjang.
Langsung menuju ruang rawat khusus di lantai atas.
Di depan pintu kamar, ia berhenti sebentar.
Tangannya mendorong pintu.
Pintu terbuka.
Di dalam kamar, beberapa dokter dan perawat sedang berdiri mengelilingi tempat tidur.
Lina berbaring di sana dengan wajah pucat.
Dokter sedang bertanya dengan nada khawatir.
“Bagaimana perasaan Anda hari ini?”
“Masih pusing?”
Perawat mencatat sesuatu di papan.
Saat pintu terbuka, semua orang menoleh.
Lina juga menoleh.
Ketika melihat Dewi…
sebuah kilatan licik melintas cepat di matanya.
Namun hanya dalam satu detik, ekspresinya berubah menjadi penuh kegembiraan.
“Dewi!”
Ia mencoba duduk sedikit.
“Kamu datang?”
Nada suaranya terdengar lemah.
“Maaf ya… akhir-akhir ini kamu harus donor darah terus.”
“Apa tubuhmu tidak terlalu lelah?”
Ia menatap Dewi dengan wajah seolah penuh rasa bersalah.
Namun Dewi tidak menjawab.
Ia berjalan lurus ke depan.
Langkahnya tenang.
Sampai berhenti tepat di samping tempat tidur Lina.
Matanya dingin.
“Pesan itu…”
katanya perlahan.
“Kamu yang kirim?”
Ruangan menjadi hening.
Lina terdiam.
Beberapa dokter saling menatap.
Lina membuka mulut seolah hendak berkata sesuatu.
Namun sebelum satu kata pun keluar—
Plak!
Suara tamparan keras menggema di dalam kamar.
Kepala Lina langsung terlempar ke samping.
Ia menjerit kesakitan.
“Aaaah!”
Jeritan Lina baru saja menggema di kamar ketika pintu terbuka dengan keras.
Langkah kaki cepat terdengar di lorong.
Beberapa detik kemudian, Rizky muncul di ambang pintu.
Tatapannya langsung tertuju pada Lina yang duduk di ranjang dengan tangan menutup wajahnya.
Jejak merah tamparan terlihat jelas di pipinya.
Rizky berhenti.
Sorot matanya langsung menggelap.
“Apa yang kamu lakukan?”
Suara itu tajam dan dingin.
Dewi berdiri di sisi ranjang dengan tangan masih di samping tubuhnya. Ia tidak bergerak.
Rizky melangkah masuk.
Beberapa dokter dan perawat langsung memberi jalan.
Ia berdiri di depan Dewi, tubuhnya sedikit menghalangi Lina di belakangnya.
Tatapan matanya keras.
“Dewi.”
“Apa maksudmu datang ke sini dan memukulnya?”
Nada suaranya jelas menunjukkan kemarahan.
Namun Dewi tidak terlihat terpengaruh.
Di belakang Rizky, Lina mulai menangis.
Ia menutup wajahnya dengan satu tangan sambil menunduk.
Air mata tampak mengalir.
“Rizky…”
Suaranya gemetar.
“Aku tidak tahu kenapa Kak Dewi tiba-tiba memukulku…”
Ia menggigit bibir, seolah menahan rasa sakit.
“Aku benar-benar tidak melakukan apa-apa…”
Beberapa perawat langsung menunjukkan ekspresi simpati.
Dokter yang berdiri di dekat ranjang juga mengerutkan kening melihat Dewi.
Namun Dewi hanya tertawa pelan.
Tawa pendek yang dingin.
“Tidak melakukan apa-apa?”
Ia mengulangi kalimat itu perlahan.
Lina masih menunduk sambil menangis.
“Kalau aku melakukan sesuatu yang salah…”
kata Lina dengan suara lemah,
“aku bisa minta maaf…”
“Aku hanya tidak mengerti kenapa Kak Dewi begitu marah…”
Dewi menatapnya lama.
Lalu ia berjalan dua langkah mendekat.
Lina sedikit menegang ketika Dewi berdiri tepat di depan ranjang.
Namun Dewi tidak mengangkat tangan lagi.
Ia hanya membuka tasnya.
Dari dalam tas, ia mengeluarkan selembar kertas.
Kertas itu sudah dilipat rapi.
Dewi membuka lipatan itu tanpa terburu-buru.
Kemudian—
ia melemparkannya ke atas tempat tidur.
Kertas itu jatuh tepat di antara Lina dan Rizky.
“Kamu tidak perlu pura-pura lagi,” kata Dewi datar.
“Karena aku sudah tahu semuanya.”
Rizky menatap kertas itu dengan kening berkerut.
Ia mengambilnya.
Ketika melihat isi gambar di atasnya—
ekspresinya langsung berubah.
Foto itu jelas.
Rizky sendiri sedang tertidur di ranjang rumah sakit.
Kepalanya sedikit bersandar ke belakang.
Di sampingnya, Lina memeluk lengannya sambil tersenyum ke arah kamera.
Foto yang sama persis dengan yang diterima Dewi.
Rizky langsung mengenalinya.
Itu diambil kemarin.
Saat ia datang menjenguk Lina.
Ia memang sempat tertidur sebentar di kursi dekat ranjang.
Saat itu…
hanya Lina yang ada di ruangan.
Tatapan Rizky perlahan berubah.
Ia menoleh ke arah Lina.
Wajahnya tidak lagi setenang sebelumnya.
Sementara itu, wajah Lina tiba-tiba pucat.
Ia tidak menyangka Dewi akan membawa foto itu.
Foto yang sebenarnya ia kirim dengan tujuan menyakiti Dewi.
Sekarang justru menjadi bukti yang menjerat dirinya sendiri.
Beberapa detik ruangan menjadi sangat sunyi.
Dewi menyilangkan tangan di depan dada.
Tatapannya dingin.
“Bagaimana?”
“Masih ingin bilang kamu tidak melakukan apa-apa?”
Lina membuka mulut, namun tidak langsung berbicara.
Matanya sedikit panik.
Ia tidak menyangka situasi berubah secepat ini.
Namun hanya beberapa detik kemudian—
air mata kembali mengalir di wajahnya.
Ia menunduk.
“Rizky…”
Suaranya terdengar putus-putus.
“Aku tidak tahu kenapa Kak Dewi membawa foto itu…”
Ia menggeleng pelan.
“Aku juga tidak tahu siapa yang mengambilnya…”
Dewi langsung tertawa.
Kali ini lebih keras.
“Masih mau berakting?”
Ia menunjuk foto itu.
“Kemarin di ruangan itu hanya ada kalian berdua.”
“Kalau bukan kamu yang mengambilnya…”
“apa kursinya yang mengambil?”
Rizky tidak mengatakan apa pun.
Namun ekspresi wajahnya semakin dingin.
Tatapannya kembali ke Lina.
Tatapan itu tidak lagi penuh kepercayaan seperti sebelumnya.
Lina merasakan perubahan itu.
Jantungnya berdebar.
Ia langsung meraih lengan Rizky.
Tangannya gemetar.
“Rizky… kamu harus percaya padaku…”
Air mata terus mengalir di wajahnya.
“Aku benar-benar tidak melakukan itu…”
Ia menarik napas dalam-dalam.
Lalu berkata dengan nada seolah putus asa.
“Mungkin Kak Dewi menyuruh seseorang mengambil foto itu untuk menjebakku…”
Kata-kata itu keluar dengan cepat.
Seolah sudah dipikirkan sebelumnya.
“Kalau memang aku salah…”
“aku bisa minta maaf…”
Ia menunduk lebih dalam.
“Aku juga tidak akan menyusahkan Kak Dewi lagi…”
“Mulai sekarang aku tidak akan meminta donor darah darinya…”
Kata-kata itu terdengar sangat tulus.
Namun Dewi hanya menatapnya dengan senyum sinis.
Lina kemudian mengangkat tangan.
“Aku bersumpah…”
“Sumpah demi Kak Hendra…”
Nama itu membuat Rizky sedikit terdiam.
Hendra.
Sahabatnya.
Rekan seperjuangan.
Pria yang meninggal di medan tugas dua tahun lalu.
Sebelum meninggal, Hendra sempat memegang tangan Rizky.
Memintanya menjaga adik perempuannya.
Lina.
Itu adalah janji yang selalu diingat Rizky.
Ketika mendengar nama itu disebut—
ekspresi wajahnya sedikit melunak.
Ia menarik napas panjang.
Kemudian menepuk tangan Lina perlahan.
“Cukup.”
Ia menoleh ke dokter.
“Apakah lukanya perlu dirawat?”
Lina segera menggeleng.
“Tidak… tidak apa-apa…”
“Aku baik-baik saja…”
Ia menunduk lagi.
Seolah tidak ingin memperbesar masalah.
Namun di dalam hatinya, ia diam-diam lega.
Rizky masih berpihak padanya.
Rizky kemudian menoleh ke arah Dewi.
Tatapan Dewi masih penuh ejekan.
Ia tidak mengatakan apa-apa.
Namun ekspresi wajahnya seolah mengatakan bahwa semua ini hanyalah sandiwara.
Perasaan aneh kembali muncul di dada Rizky.
Namun ia menekannya.
Baginya, kondisi Lina lebih penting sekarang.
Satu foto saja tidak cukup untuk menjelaskan semuanya.
“Masalah ini kita bicarakan nanti,” kata Rizky dingin.
Ia menoleh ke dokter.
“Sekarang yang penting transfusi darah.”
Kemudian ia melihat Dewi.
“Kamu ikut dokter.”
“Donor sekarang.”
Nada itu seperti perintah biasa.
Seolah semuanya akan berjalan seperti sebelumnya.
Di belakang Rizky, Lina perlahan menoleh ke arah Dewi.
Tidak ada orang yang memperhatikan wajahnya.
Di sudut bibirnya muncul senyum kecil.
Senyum penuh kemenangan.
Seolah berkata—
kamu tetap kalah.
Dokter yang berdiri di dekat ranjang langsung berkata,
“Nona Lina kehilangan banyak darah karena jatuh tadi.”
“Kondisinya memang membutuhkan transfusi segera.”
Beberapa perawat mulai menyiapkan peralatan.
Rizky mengangguk.
“Siapkan semuanya.”
Suaranya tegas.
Lalu ia kembali melihat Dewi.
“Cepat.”
Namun Dewi tidak bergerak.
Ia tetap berdiri di tempat.
Tatapannya dingin.
Beberapa detik kemudian, ia berkata dengan suara pelan.
“Tunggu.”
Semua orang menoleh padanya.
Dewi berjalan mendekat ke ranjang.
Langkahnya tenang.
Namun ada sesuatu dalam gerakannya yang membuat suasana ruangan tiba-tiba tegang.
Ia berdiri di sisi ranjang.
Tatapannya turun ke arah selimut yang menutupi tubuh Lina.
Tanpa berkata apa-apa—
Dewi mengulurkan tangan.
Lalu menarik selimut itu dengan keras.
Selimut langsung tersingkap.
Gerakan itu cepat dan tegas.
Semua orang di ruangan langsung terkejut.
Lina bahkan tidak sempat bereaksi.
Kakinya yang selama ini tertutup langsung terlihat jelas di depan semua orang.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!