Rasa dingin adalah hal pertama yang menyapanya. Bukan sekadar dingin yang menembus permukaan kulit, melainkan hawa beku yang seolah merayap perlahan dari ujung jari kaki, menelusup tajam ke dalam sumsum tulang, dan bersarang tanpa ampun di dadanya.
Udara di sekitarnya terasa sangat berat, membawa aroma apak dari lumut batu yang lembap dan sisa kayu basah yang dibakar berjam-jam lalu. Ia mencoba menarik napas dalam, tetapi tenggorokannya terasa seperti disayat oleh ribuan pecahan kaca kecil.
Setiap tarikan napas adalah siksaan yang memaksanya untuk tetap memejamkan mata, mati-matian menahan erangan yang tertahan di pangkal kerongkongan.
Jari-jarinya, yang bergerak di luar kesadaran, mencengkeram kain di bawahnya. Kain itu terasa kasar, tebal, dan berdebu—sangat jauh berbeda dari selimut katun lembut yang biasa ia gunakan di apartemen kecilnya di dunia asalnya.
Cengkeramannya menguat perlahan hingga buku-buku jarinya memutih, mencoba mencari jangkar pada realitas yang tiba-tiba terasa begitu asing.
Ada denyut menyakitkan yang berdetak di pelipisnya, menyerupai palu godam tak kasat mata yang menghantam kepalanya berulang kali. Bersamaan dengan rasa sakit itu, kepingan-kepingan ingatan asing membanjiri otaknya.
Perlahan, dengan sisa tenaga yang entah dari mana asalnya, ia memaksa kelopak matanya terbuka.
Cahaya kelabu yang suram menyelinap masuk melalui celah jendela batu yang tinggi dan sempit, menerangi debu-debu yang menari lambat di udara. Matanya menyapu sekitar.
Ruangan ini... ini jelas bukan kamarnya. Ini adalah sebuah kamar tidur raksasa dengan dinding-dinding batu telanjang yang memancarkan hawa suram.
Di atas tubuhnya, menjulang kanopi tempat tidur yang terbuat dari beludru merah tua. Kain itu tampak kusam, berdebu, dan sobek di beberapa bagian, kehilangan seluruh sisa kejayaannya di masa lampau.
Ia mencoba bangkit, menumpukan beban tubuhnya pada sikunya yang ringkih, tetapi otot-ototnya menjerit protes.
Tubuh ini begitu lemah dan ringan, seolah kekurangan nutrisi berbulan-bulan lamanya. Saat ia menundukkan kepala, napasnya tercekat melihat sepasang tangan yang gemetar di atas selimut. Tangan itu pucat pasi, terlalu kurus, dengan kulit yang hampir transparan hingga urat-urat halus kebiruan terlihat begitu jelas.
Ini bukan tangannya. Tangannya yang dulu sedikit kecokelatan dan memiliki kapalan halus karena sering bekerja di depan layar. Tangan yang kini berada di hadapannya adalah tangan rapuh seseorang yang tidak pernah mengenal pekerjaan kasar seumur hidupnya.
Lalu, memori itu menghantamnya secara utuh seperti gelombang pasang. Rasa sesak yang tajam membuat napasnya tersentak keras, memaksa tangannya meremas dada kirinya.
Genevieve. Mulai detik ini, namanya adalah Genevieve. Lebih tepatnya, Lady Genevieve dari House Blackwood.
Potongan-potongan adegan melintas brutal di benaknya, diiringi oleh rasa sakit di dada yang begitu nyata hingga ia nyaris menitikkan air mata. Ia melihat kilatan tatapan dingin dan penuh kebencian dari seorang pria jangkung berambut gagak—Duke Alistair, suaminya.
Ia merasakan kembali rasa penghinaan yang membakar wajahnya saat dituduh melakukan pengkhianatan di aula utama istana, sebuah fitnah keji yang dilemparkan oleh musuh-musuh politiknya di ibukota Aethelgard.
Dan yang paling menyakitkan, ia merasakan keputusasaan yang absolut saat kereta kuda membawanya ke Kastil Ravenscroft—sebuah benteng batu terisolasi di ujung wilayah utara yang selalu tertutup salju abadi. Ia dibuang, diasingkan, dan dilupakan oleh dunia.
Genevieve yang asli telah menyerah pada nasibnya. Ia membiarkan kesedihan, rasa lapar, dan hawa dingin menggerogoti jiwanya hingga akhirnya malam tadi, wanita malang itu menghembuskan napas terakhirnya dalam kesepian yang menyayat hati.
Dan kini, jiwa modernnya terbangun, terjebak di dalam cangkang rapuh yang telah hancur ini.
Genevieve mengusap wajahnya yang basah oleh keringat dingin. Emosi dari tubuh aslinya masih tertinggal pekat, bermanifestasi dalam bentuk air mata yang tiba-tiba menggenang dan jatuh membasahi pipinya. Ia buru-buru menghapus air mata itu dengan punggung tangannya yang gemetar.
Menangis tidak akan mengubah fakta sedikit pun bahwa ia kini terjebak di dunia fantasi kuno yang tidak kenal ampun ini.
Suara derit logam yang beradu keras dengan kayu memecah kesunyian ruangan yang sedari tadi mencekam. Seseorang sedang memutar pegangan pintu kamarnya yang berat.
Genevieve seketika menahan napas, tubuhnya menegang secara instingtif. Ia menarik selimut kasarnya hingga sebatas leher, menyembunyikan sebagian besar tubuhnya yang gemetar, matanya menatap tajam penuh kewaspadaan ke arah pintu ek raksasa di ujung ruangan.
Seorang wanita muda dengan pakaian seragam pelayan musim dingin melangkah masuk. Wajah pelayan itu biasa saja, dipenuhi bintik hitam di sekitar hidungnya, namun ada sesuatu dalam postur dan cara berjalannya yang membuat Genevieve mengerutkan kening dalam.
Pelayan itu, yang dari ingatan memori Genevieve diketahui bernama Martha, sama sekali tidak mengetuk pintu. Martha berjalan masuk dengan langkah yang diseret kasar—terlalu berisik untuk ukuran seorang pelayan yang bertugas melayani istri seorang Duke.
Sepasang mata Martha tidak memancarkan rasa hormat sedikit pun, melainkan sebuah arogansi menjijikkan yang disembunyikan dengan sangat buruk.
Martha membawa sebuah nampan kayu yang warnanya sudah memudar. Di atas nampan itu terdapat semangkuk bubur yang terlihat sangat encer dan memucat, serta secangkir teh herbal yang mengepulkan asap tipis.
Pelayan itu meletakkan nampan tersebut di atas meja kecil di samping tempat tidur. Ia tidak meletakkannya dengan pelan, melainkan menjatuhkannya sedikit keras hingga terdengar bunyi bantingan kayu yang memekakkan telinga.
"Sarapan Anda, Nyonya," ucap Martha. Nada suaranya datar, monoton, dan terburu-buru, namun sepasang matanya menatap Genevieve dengan kilat meremehkan dari sudut matanya.
Tidak ada sapaan selamat pagi, tidak ada basa-basi hormat layaknya pelayan pada majikannya.
Genevieve menatap mangkuk bubur itu. Perutnya tiba-tiba bergejolak perih. Rasa lapar memang melilitnya dengan hebat, tetapi ada sesuatu dalam gerak-gerik dan tatapan Martha yang membuat insting bahaya di kepalanya berdering nyaring.
Tubuh Genevieve yang asli selalu memakan apa pun yang dihidangkan tanpa pernah memprotes, terlalu larut dalam depresinya untuk sekadar peduli pada rasanya yang hambar dan porsinya yang tak manusiawi. Namun, jiwa yang baru menempati tubuh ini memiliki insting bertahan hidup yang tak bisa dibohongi.
"Taruh saja di situ," suara Genevieve keluar. Terdengar serak, parau, dan sangat pelan. Ia segera berdehem pelan, menguatkan tenggorokannya, berusaha mengumpulkan sisa wibawa aristokratnya. Ia memicingkan matanya, menatap lurus ke kedalaman pupil mata Martha, menolak untuk menunduk. "Aku belum berselera."
Martha mengangkat kedua bahunya dengan gerakan yang terlampau santai, nyaris tidak sopan. "Terserah Anda saja. Saya akan kembali untuk mengambil nampannya menjelang siang nanti. Pastikan tehnya Anda habiskan. Itu obat racikan dari tabib kastil untuk mengatasi batuk Anda yang memburuk semalam."
Tanpa repot-repot menundukkan badan atau memberi hormat, pelayan itu memutar tubuhnya dan berjalan keluar.
Ia bahkan membanting pintu ek itu saat menutupnya, menimbulkan gema dentuman keras yang beresonansi di seluruh dinding ruangan kosong tersebut.
Begitu suara langkah kaki Martha perlahan menghilang di ujung lorong batu, Genevieve menghela napas panjang yang sedari tadi ditahannya rapat-rapat.
Seluruh tubuhnya kini gemetar parah, bukan hanya karena hawa dingin kastil yang menyengat, tapi karena ketegangan luar biasa yang baru saja ia lalui. Ia sendirian. Terjebak di sarang serigala yang mengintai nyawanya.
Ia menoleh ke arah secangkir teh yang masih mengepul itu. Aroma herbalnya menguar, terasa agak aneh; manis yang berlebihan namun ada sentuhan bau tanah basah di belakangnya. Ia perlahan mengulurkan tangannya yang gemetar dari balik selimut, berniat untuk menyentuh permukaan cangkir keramik itu untuk memeriksa suhunya.
Tepat sebelum ujung jarinya menyentuh keramik panas tersebut, matanya menangkap sebuah fenomena yang tidak masuk akal.
Sebuah pendar cahaya biru terang meletus tanpa suara di udara kosong, tepat sepuluh sentimeter di depan wajahnya. Cahaya itu berkedip-kedip cepat sejenak sebelum perlahan memadat, membentuk sebuah panel persegi panjang transparan dengan teks-teks berwarna perak yang bersinar terang dalam keremangan kamar.
Genevieve tersentak mundur dengan kasar hingga punggungnya menabrak sandaran tempat tidur kayu. Jantungnya berdebar liar, memompa darah ke telinganya layaknya genderang perang.
Matanya terbelalak lebar, napasnya memburu cepat saat ia memaksa dirinya membaca deretan kalimat bercahaya yang melayang di hadapannya.
**[Inisialisasi Sistem Bertahan Hidup... Selesai.]**
**[Status Tuan Rumah: Jiwa berhasil tersinkronisasi 100% dengan fisik Lady Genevieve dari House Blackwood.]**
**[PERINGATAN BAHAYA TINGKAT TINGGI DETEKSI OTOMATIS]**
**[Mendeteksi substansi beracun mematikan dalam radius 1 meter dari Tuan Rumah.]**
**[Analisis Objek: Teh Herbal. Kandungan Utama: Ekstrak Akar Silvershade (Kategori: Racun Pembunuh Lambat). Efek: Melemahkan fungsi organ vital secara bertahap, menyebabkan kematian yang tampak seperti penyakit alami parah. Akumulasi racun dalam tubuh Tuan Rumah saat ini: 85%. Kritis.]**
Darah di sekujur tubuh Genevieve seolah membeku seketika. Ia menatap layar panel biru itu dengan mulut sedikit terbuka, lalu pandangannya perlahan turun menatap cangkir teh tak berdosa di atas meja. Nafasnya tertahan kuat di tenggorokan, dadanya terasa nyeri.
Kebenaran yang mengerikan menghantamnya tanpa ampun. Tubuh ini tidak mati karena patah hati. Ia tidak mati karena kedinginan atau diabaikan oleh suaminya. Genevieve yang asli telah diracuni perlahan-lahan, dari hari ke hari, tetes demi tetes.
Dan si pembunuh rahasia—siapapun yang memerintahkan pelayan bernama Martha itu—baru saja menyajikan cangkir kematiannya yang kesekian kalinya pagi ini.
Jika ia meminumnya, nyawa yang baru saja ia dapatkan ini tidak akan bertahan untuk melihat fajar keesokan harinya.
Keheningan di dalam kamar batu itu mendadak terasa memekakkan telinga. Genevieve memeluk kedua lututnya, menyembunyikan wajahnya di antara lipatan selimut.
Kepanikan yang luar biasa mencoba menguasai akal sehatnya. Ia sangat ingin berteriak kencang, memaki takdir yang melemparnya ke dalam tubuh yang nyaris mati ini.
Suaminya telah membuangnya, para pelayannya mengkhianatinya, dan ia sama sekali tidak memiliki satu pun sekutu di ujung dunia yang tertutup salju ini.
Namun, tepat saat air mata keputusasaan hampir jatuh lagi dari pelupuk matanya, sebuah percikan amarah yang panas dan membara tiba-tiba menyala di dadanya.
Amarah dari kehidupan masa lalunya yang selalu menolak untuk menyerah, dicampur dengan rasa ketidakadilan yang luar biasa yang ditinggalkan oleh memori Genevieve yang asli.
*Tidak,* batinnya berteriak keras. Tangannya kembali mencengkeram erat seprai kasar itu. *Aku tidak dibawa terbang sejauh ini, melintasi ruang dan waktu, hanya untuk mati membusuk dibunuh oleh teh sialan dan pelayan rendahan.*
Ia mengangkat kepalanya secara perlahan. Sepasang matanya yang beberapa menit lalu redup dan pasrah, kini memancarkan kilau tekad yang tajam, jernih, dan sedingin es. Ia mengamati panel Sistem biru yang masih melayang sabar di udara, menunggunya.
Jika Sistem ini adalah satu-satunya senjata yang diberikan padanya, ia bersumpah akan menggunakannya hingga tetes darah penghabisan untuk bertahan hidup dan membalas dendam.
Genevieve perlahan menurunkan kakinya yang telanjang ke lantai batu. Ia meringis menahan perih luar biasa yang menjalar dari telapak kakinya yang membeku, namun ia memaksakan tubuh kurus itu untuk berdiri tegak.
Langkahnya sangat goyah, pandangannya sedikit berkunang-kunang, tetapi ia berhasil mendekati meja kecil itu. Ia menatap cangkir teh tersebut. Pikirannya berputar cepat layaknya roda gigi.
Jika ia membiarkan teh itu utuh, Martha akan langsung curiga bahwa ia menyadari racunnya. Jika ia membuangnya sembarangan, jejak cairan atau bekasnya di tanah akan terlihat. Ia harus bertindak sangat cerdas dan terukur.
Ia harus mulai memutar balikkan papan catur mematikan ini dengan senyap, tanpa ada satupun musuhnya yang menyadari bahwa pion rapuh yang mereka anggap hampir mati, kini telah bangkit sebagai seorang ratu yang merencanakan kejatuhan mereka.
Genevieve mengulurkan jari telunjuknya, menyentuh lembut layar biru yang melayang itu. Layar tersebut bereaksi seperti permukaan air yang disentuh, memunculkan sebuah notifikasi jendela baru:
**[Misi Tutorial Terbuka: Menetralisir ancaman teh beracun tanpa menimbulkan kecurigaan. Waktu yang tersisa sebelum kondisi fisik Tuan Rumah kolaps total akibat lapar dan racun bawaan: 12 jam.]**
Di dalam keheningan kamar batu yang membeku, waktu seolah berhenti berdetak. Genevieve menatap lurus ke arah cangkir keramik yang mengepulkan uap tipis di atas meja nakas.
Pendar biru dari panel Sistem masih melayang teguh di sudut pandangannya, menampilkan hitung mundur waktu yang perlahan menyusut. Tiga belas jam, lima puluh delapan menit tersisa sebelum tubuh ini menyerah pada akumulasi racun dan kelaparan.
Kepanikan adalah reaksi alami manusia saat dihadapkan pada kematian, namun bagi jiwa yang kini mendiami tubuh Lady Genevieve, kepanikan adalah kemewahan yang tidak bisa ia beli.
Di kehidupan sebelumnya, ia telah terlatih untuk selalu mencari jalan keluar dari situasi yang paling mencekik sekalipun. Ia menarik napas panjang, membiarkan udara sedingin es mengisi paru-parunya yang ringkih, lalu menghembuskannya perlahan. Pikirannya, yang tajam dan taktis, mulai membedah situasi dengan presisi seorang pembedah.
*Jika aku tidak meminumnya, Martha akan tahu bahwa aku mencurigainya,* batin Genevieve. Matanya menyapu sekeliling ruangan dengan gerakan bola mata yang terukur, tidak ingin membuang sedikit pun sisa kalori dengan menggerakkan lehernya tanpa perlu. *Jika aku membuangnya ke perapian, sisa cairan itu akan mendesis dan menimbulkan bau herbal yang hangus. Membuangnya ke luar jendela juga bukan pilihan; noda cokelat kehitaman dari teh ini akan sangat kontras di atas tumpukan salju abadi di bawah sana, dan para penjaga yang berpatroli pasti akan melihatnya.*
Genevieve menolak untuk mengambil tindakan gegabah. Ia membutuhkan solusi yang tidak hanya menyelamatkan nyawanya pagi ini, tetapi juga memberikannya keunggulan taktis untuk langkah selanjutnya.
Matanya akhirnya tertuju pada meja rias kayu ek yang berdebu di sudut ruangan. Di atasnya, berserakan beberapa botol kaca kecil—bekas tempat parfum murahan dan botol-botol obat lama milik Genevieve yang asli.
Dengan susah payah, ia menyibakkan selimut tebal yang kasar itu. Udara dingin Kastil Ravenscroft langsung menerkam kulitnya yang hanya dibalut gaun tidur linen tipis, membuatnya menggigil hebat hingga giginya bergemeretak.
Mengabaikan protes dari otot-ototnya yang melemah, ia memaksakan diri untuk turun dari ranjang. Telapak kakinya yang pucat menyentuh lantai batu, mengirimkan sensasi beku yang menjalar langsung ke sumsum tulang belakangnya.
Genevieve melangkah tertatih-tatih, bertumpu pada tiang ranjang, lalu pada punggung kursi kayu, hingga akhirnya ia mencapai meja rias. Tangannya yang gemetar meraih sebuah botol kaca gelap berukuran kecil yang sudah kosong. Ia membuka sumbat gabusnya dengan jemari yang kaku, lalu mengendusnya.
Bau apek obat batuk tua menyengat hidungnya. Sempurna. Kaca gelap ini akan menyembunyikan warna cairan apa pun yang ada di dalamnya.
Ia berjalan kembali ke meja nakas dengan botol kosong itu di tangan kirinya. Kini datang bagian tersulitnya. Ia harus memindahkan teh beracun itu tanpa meneteskannya sedikit pun ke atas meja atau lantai.
Genevieve menutup matanya sejenak, mengumpulkan seluruh fokus dan konsentrasinya. Saat matanya terbuka, kilatan kelemahan dari tubuh itu menghilang, digantikan oleh ketajaman yang membara.
Dengan kedua tangan yang saling menopang untuk mengurangi gemetar, ia mengangkat cangkir keramik itu. Secara perlahan, sangat perlahan, ia menuangkan teh herbal tersebut ke dalam mulut botol kaca kecil. Suara gemericik pelan terdengar, nyaris tenggelam oleh deru angin musim dingin di luar jendela.
Setetes demi setetes, cairan mematikan itu berpindah tempat. Genevieve tidak menghabiskan semuanya. Ia menyisakan sekitar dua tegukan di dasar cangkir.
Dengan hati-hati, ia menutup rapat botol kaca berisi racun itu dan menyembunyikannya ke dalam saku dalam gaun tidurnya. Racun ini bukan lagi ancaman; di tangannya yang cerdas, cairan ini kini berubah menjadi barang bukti, dan mungkin, sebuah senjata mematikan untuk masa depan.
Untuk menyempurnakan ilusinya, Genevieve menyelupkan ujung jari telunjuknya ke dalam sisa teh di cangkir, lalu mengoleskannya dengan rapi di sepanjang tepi bibir cangkir.
Siapa pun yang melihat cangkir ini nanti akan menyimpulkan dengan pasti bahwa seseorang telah meminum isinya langsung dari pinggiran keramik tersebut.
Setelah memastikan tidak ada satu tetes pun yang tumpah, ia kembali menatap panel biru di depannya.
"Sistem," bisik Genevieve parau, suaranya nyaris seperti desiran angin. "Pindai bubur ini."
Panel biru itu berkedip sesaat, dan rentetan teks perak baru muncul menggantikan peringatan bahaya sebelumnya.
**[Pemindaian Objek: Bubur Gandum Encer.]**
**[Kandungan Toksin: Negatif. Objek aman untuk dikonsumsi.]**
**[Nilai Nutrisi: Sangat Rendah. Diperkirakan hanya memberikan perpanjangan waktu bertahan hidup selama 2 jam.]**
Genevieve tersenyum getir melihat tulisan itu. Pelayan bernama Martha itu cukup pintar. Sang dalang di balik semua ini tidak menaruh racun di dalam makanan, melainkan di dalam teh yang disamarkan sebagai 'obat' untuk batuknya.
Menaruh racun di makanan terlalu berisiko karena makanan memiliki tekstur dan rasa yang lebih mudah dicurigai, sedangkan teh herbal yang pahit adalah medium yang sempurna untuk menutupi rasa aneh dari akar Silvershade.
Tanpa membuang waktu, Genevieve meraih mangkuk kayu berisi bubur yang sudah sedingin es itu. Bentuknya lebih menyerupai air cucian beras yang dicampur dengan segenggam gandum kasar. Tidak ada garam, tidak ada rasa. Namun, bagi Genevieve saat ini, ini adalah bahan bakar untuk otaknya.
Ia mengambil sendok kayu dan mulai menyuapkan bubur hambar itu ke dalam mulutnya. Tenggorokannya yang meradang memberontak, menolak tekstur kasar yang menggores dinding kerongkongannya. Rasa mual seketika menyergap perutnya yang sudah lama menyusut. Ia memejamkan mata, memaksakan rahangnya untuk mengunyah, dan menelan paksa makanan itu.
Setiap suapan adalah pertempuran melawan kelemahan fisiknya sendiri. Ia mengulanginya lagi, dan lagi, mengabaikan air mata fisiologis yang menggenang di sudut matanya akibat rasa sakit saat menelan. Ia tidak makan untuk menikmati; ia makan murni untuk bertahan hidup.
Setelah mangkuk itu bersih tak bersisa, Genevieve segera meletakkannya kembali di atas nampan.
Tubuhnya terasa sedikit lebih hangat, meski tenaganya masih sangat terbatas. Ia berjalan tertatih kembali ke ranjang, menarik selimut kasar itu hingga menutupi tubuhnya, dan menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang.
Ia melirik ke arah cermin kusam di seberang ruangan. Pantulan seorang wanita muda dengan wajah sepucat mayat balas menatapnya.
Tulang pipinya menonjol tajam di bawah kulit yang kehilangan cahayanya, dan lingkaran hitam yang dalam menghiasi sepasang mata biru kristal yang indah namun merana. Genevieve yang asli telah menyerah pada dunia yang menolak kehadirannya.
Namun, mata biru di cermin itu kini memancarkan aura yang sama sekali berbeda. Tidak ada lagi keputusasaan di sana. Yang ada hanyalah perhitungan yang dingin, sebuah kalkulasi rasional dari seorang predator yang sedang menunggu mangsanya lengah.
Suaminya yang kejam, Duke Alistair, mungkin telah membuangnya ke ujung dunia. Para pelayannya mungkin berpikir mereka bisa mencabut nyawanya seperti mencabut rumput liar. Mereka semua salah besar. Mereka telah membunuh seorang wanita yang hancur, namun tanpa sengaja mengundang masuk seorang penyintas yang tidak kenal ampun.
**[Misi Tutorial Selesai: Menetralisir ancaman teh beracun tanpa menimbulkan kecurigaan.]**
**[Hadiah Misi: +10 Poin Energi Vital, +1 Pemetaan Ruang Dasar (Radius 5 meter).]**
**[Waktu Bertahan Hidup Diperbarui: 14 Jam.]**
Sebuah gelombang hangat tiba-tiba mengalir dari dadanya, menyebar ke seluruh pembuluh darahnya seperti aliran listrik statis yang lembut. Rasa pusing yang sedari tadi meremukkan kepalanya sedikit mereda, dan napasnya terasa jauh lebih panjang.
Genevieve mengepalkan tangannya di balik selimut. Sepuluh poin energi ini mungkin tidak banyak, tetapi cukup baginya untuk tidak pingsan saat berdiri.
Suara langkah kaki yang diseret kembali terdengar bergema dari lorong di luar pintu.
Genevieve segera bereaksi. Ia merosotkan tubuhnya ke bawah selimut, memiringkan kepalanya ke samping menghadap meja nakas, dan mengatur napasnya menjadi pendek dan serak, seolah ia sedang berada di ambang ketidaksadaran.
Ia membiarkan matanya setengah terpejam, menciptakan ilusi sempurna seorang wanita pesakitan yang nyaris kehilangan pijakannya pada kehidupan.
Pintu ek itu berderit terbuka, kali ini tanpa ketukan sama sekali.
Martha melangkah masuk. Hawa dingin dari lorong ikut menerobos masuk bersama kehadirannya.
Pelayan itu berjalan langsung menuju meja di samping ranjang. Melalui celah bulu matanya, Genevieve mengawasi setiap pergerakan sekecil apa pun dari wanita itu.
Mata Martha langsung tertuju pada cangkir keramik. Saat melihat cangkir itu hampir kosong, dengan sisa tetesan yang sengaja ditinggalkan
Genevieve di dasar dan tepiannya, sudut bibir Martha berkedut membentuk sebuah senyum tipis yang sarat akan kekejaman yang murni. Itu adalah senyuman seseorang yang merasa misinya telah berhasil. Senyuman seorang algojo yang melihat korbannya masuk ke dalam jerat tali.
"Nyonya?" panggil Martha. Suaranya tidak lagi datar, melainkan sengaja dipelankan, mencoba mencari tahu apakah majikannya masih memiliki kesadaran.
Genevieve mengerang pelan, suara seraknya terdengar sangat rapuh dan menyedihkan. Ia sengaja menggeser kepalanya sedikit, menampakkan wajahnya yang pucat pasi seolah sedang menahan rasa sakit yang luar biasa di dadanya.
Kepuasan di wajah Martha semakin terlihat jelas. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, pelayan itu meraih nampan kayu tersebut, mengambil cangkir dan mangkuk kosong itu dengan cepat, dan berbalik pergi.
Langkah kakinya terdengar jauh lebih ringan dan bersemangat dibandingkan saat ia masuk tadi pagi.
Pintu ditutup dengan suara debuman keras, meninggalkan Genevieve kembali dalam kesunyian yang dingin.
Begitu suara langkah Martha menghilang, Genevieve membuka matanya sepenuhnya. Ilusi kelemahan itu menguap seketika dari tatapannya. Ia telah berhasil melewati rintangan pertama.
Martha yakin bahwa racun itu telah masuk ke dalam tubuhnya, yang berarti mereka tidak akan mengirim pembunuh atau metode lain setidaknya sampai besok pagi, menunggu racun itu bereaksi.
Ia telah mengamankan waktu empat belas jam. Malam ini, saat kastil ini tertidur, ia tidak akan berdiam diri menanti maut di ranjang ini.
Ia akan memburu rahasia yang disembunyikan oleh dinding-dinding batu Ravenscroft, dan mencari tahu siapa sebenarnya yang menginginkan nyawanya—sekaligus mencari makanan sungguhan yang bisa memperpanjang waktunya di dunia ini.
Permainan bertahan hidup baru saja dimulai.
Matahari sore merayap turun dengan sangat lambat di balik cakrawala Aethelgard, meninggalkan jejak cahaya kelabu kemerahan yang perlahan tertelan oleh pekatnya malam musim dingin.
Dari balik jendela batu yang sempit, angin utara melolong panjang bak serigala kelaparan, menghantam dinding-dinding Kastil Ravenscroft dengan kekuatan yang membuat bingkai kayu tua berderak memprotes.
Genevieve masih berbaring di atas ranjang kanopinya yang berdebu. Ia tidak tertidur sedikit pun.
Selama berjam-jam sejak pelayan bernama Martha itu keluar membawa cangkir kosongnya, Genevieve memaksakan dirinya untuk tetap diam, menghemat setiap kalori yang tersisa dari bubur encer yang ia telan paksa tadi pagi.
Napasnya ditarik dan dihembuskan dengan ritme yang sangat teratur. Matanya yang berwarna biru kristal menatap lurus ke langit-langit beludru yang koyak, menelusuri pola benang emas yang memudar di sana sambil membiarkan pikirannya bekerja seperti mesin jam yang presisi.
Di sudut pandangannya, panel biru semi-transparan dari Sistem berkedip redup, menampilkan hitung mundur waktu bertahan hidupnya yang kini menunjukkan angka sepuluh jam, dua belas menit.
"Sistem," bisik Genevieve, suaranya nyaris tenggelam oleh deru angin di luar. Bibirnya kering dan pecah-pecah. "Aktifkan Pemetaan Ruang Dasar."
**[Mengaktifkan Pemetaan Ruang Dasar... Radius: 5 Meter.]**
**[Memproses struktur bangunan dan anomali material.]**
Tiba-tiba, pandangan Genevieve berubah. Dunia fisik di sekitarnya tidak menghilang, melainkan tertimpa oleh sebuah jaring-jaring bercahaya perak yang membentuk kerangka tiga dimensi dari kamar tersebut. Ia bisa melihat ketebalan dinding batu di sisi kirinya.
Ia bisa melihat struktur kayu penyangga di bawah lantai tempat tidurnya. Namun, yang paling menarik perhatiannya adalah sebuah titik terang kecil berwarna emas yang berkedip tepat di bawah papan lantai di dekat meja rias.
Dengan susah payah, Genevieve menyibakkan selimutnya. Udara malam yang membeku langsung menyergap kulitnya yang pucat, membuat bulu romanya meremang dan giginya bergemeretak pelan. Mengabaikan protes dari persendiannya yang kaku, ia merosot turun dari ranjang.
Telapak kakinya yang telanjang menyentuh lantai batu sedingin es, mengirimkan sensasi kebas yang merayap naik ke betisnya. Ia melangkah tanpa suara, memusatkan berat badannya pada ujung-ujung jari kaki untuk menghindari bunyi gesekan.
Ia berlutut di depan meja rias, tangannya yang kurus meraba papan lantai kayu ek yang ditunjukkan oleh jaring-jaring perak Sistem. Salah satu papan itu terasa sedikit lebih longgar dibandingkan yang lain. Genevieve menyelipkan kuku jempolnya yang rapuh ke celah papan, mengertakkan rahang menahan perih, dan mencongkelnya ke atas.
Papan itu terangkat dengan bunyi derit yang sangat pelan. Di dalam rongga berdebu yang dipenuhi sarang laba-laba itu, tergeletak sebuah benda logam yang dingin. Genevieve meraihnya, membersihkan debu tebal yang menempelinya dengan ujung gaun tidurnya.
Itu adalah sebuah tusuk konde perak murni sepanjang jengkal tangan orang dewasa. Ujungnya sangat runcing, nyaris menyerupai belati kecil, dengan ukiran mawar hitam yang rumit di bagian kepalanya.
Memori Genevieve yang asli tidak mengenali benda ini; kemungkinan besar ini adalah peninggalan dari nyonya kastil generasi sebelumnya yang sengaja disembunyikan.
Bagi Genevieve saat ini, benda itu bukan sekadar perhiasan tua. Ujungnya yang tajam adalah senjata pertahanan diri pertamanya di dunia yang kejam ini.
Ia menyelipkan tusuk konde perak itu ke balik ikat pinggang gaun tidurnya yang longgar, tepat di sebelah botol kaca kecil berisi teh beracun yang ia simpan tadi pagi. Setelah mengembalikan papan lantai ke posisi semula, ia beralih ke lemari kayu mahoni raksasa di sudut ruangan.
Pintu lemari itu terbuka dengan suara lenguhan kayu yang berat. Bau kapur barus tua dan debu langsung menyengat hidungnya. Di dalamnya, hanya tergantung beberapa helai gaun linen yang terlalu tipis untuk cuaca utara, membuktikan betapa suaminya, Duke Alistair, benar-benar membuangnya tanpa persiapan apa pun.
Namun, di tumpukan paling bawah, matanya menangkap sebuah jubah wol tebal berwarna biru tua. Jubah itu sudah usang, dengan beberapa bagian tepi yang termakan ngengat, tetapi kainnya sangat tebal dan hangat.
Genevieve segera menarik jubah itu dan membungkus tubuhnya yang menggigil. Tudung jubahnya yang besar ia tarik hingga menutupi separuh wajahnya, menyembunyikan rambut peraknya yang kusut dan wajahnya yang pucat.
Ia mengencangkan simpul di lehernya, merasakan sedikit kehangatan mulai mengaliri aliran darahnya yang melambat.
Waktu terus berjalan. Suara dentang lonceng dari menara pengawas di luar memecah kesunyian malam, berdentang sebanyak tiga kali. Tengah malam.
Waktu pergantian penjaga, dan waktu di mana para pelayan biasanya telah tertidur lelap setelah seharian bekerja keras.
Genevieve berjalan mendekati pintu ek raksasa kamarnya. Ia tidak langsung memutar gagang besi itu.
Di kehidupan sebelumnya, ia tahu betul bahwa engsel tua akan menjerit jika ditarik begitu saja. Ia menempelkan telinganya ke permukaan kayu yang dingin, menahan napasnya, dan mendengarkan dengan saksama.
Hanya ada keheningan, diselingi oleh suara angin yang menyapu lorong di luar.
Tangannya mencengkeram gagang pintu. Alih-alih langsung menariknya, Genevieve mengangkat gagang itu sedikit ke atas untuk mengurangi tekanan pada engsel bawah, barulah ia memutarnya dengan gerakan yang sangat lambat dan stabil. Pintu terbuka dengan celah kecil, nyaris tanpa suara.
Lorong di luar sangat gelap, hanya diterangi oleh obor-obor yang dipasang berjauhan di dinding batu, memancarkan cahaya jingga redup yang membuat bayangan pilar-pilar batu menari-nari seperti sosok monster yang mengintai.
Udara di lorong ini terasa lebih dingin dan lembap, membawa aroma lumut tua dan besi berkarat.
Genevieve melangkah keluar, menutup pintu di belakangnya dengan kehati-hatian yang sama. Jaring-jaring perak dari Sistem masih aktif di benaknya, memberitahukan lekuk-lekuk dinding dan memastikan tidak ada pijakan batu yang longgar di depannya.
Matanya yang tajam menyapu setiap sudut bayangan. Langkahnya seringan embusan angin, jubah wolnya menyapu lantai tanpa menimbulkan suara gesekan yang berarti.
Tujuannya malam ini hanya satu: dapur kastil. Waktu bertahan hidupnya akan habis jika ia tidak menemukan kalori yang cukup untuk menggerakkan tubuh yang diracun ini.
Menelusuri lorong sayap barat, ia menuruni tangga batu spiral yang curam. Tangan kirinya terus merayap di sepanjang dinding yang dingin, mencari keseimbangan saat rasa pusing sesekali menyerang kepalanya.
Ia harus berhenti dua kali di sudut gelap yang terlindung dari cahaya obor ketika pendengarannya menangkap suara sepatu bot besi dari kejauhan.
Penjaga malam. Genevieve menekan punggungnya rapat-rapat ke dinding batu kasar, menahan napasnya hingga paru-parunya terasa panas terbakar, menunggu hingga suara derap langkah itu menghilang di persimpangan lorong.
Ketakutan sama sekali tidak menguasai matanya; yang ada hanyalah ketajaman observasi seorang pemburu yang sedang membaca medan pertempuran.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!