0o0__0o0
Mawar turun dari ranjang. Ia merasa sangat haus setelah malam pertama yang begitu melelahkan bersama suami'nya.
Di sisi lain tempat tidur, Arestio Vincent Black sudah tertidur pulas. Laki-laki itu tampak sangat lelah setelah “menggempur” tubuh istrinya selama berjam-jam.
"Sssst… pinggang ku rasanya mau patah," desis Mawar lirih. Ia juga merasakan bagian bawah tubuhnya masih terasa panas dan sedikit perih.
"Kamu benar-benar balas dendam padaku, Res," gumam-nya pelan. Dengan wajah masam.
Selama bertahun-tahun mereka berpacaran, Ares tidak pernah menyentuh Mawar melewati batas. Laki-laki itu benar-benar menjaga kehormatan gadisnya.
Paling jauh, Ares hanya mencium kening atau tangan-nya. Bahkan mencium bibir Mawar pun tidak pernah dia lakukan, meskipun jelas terlihat betapa laki-laki itu menginginkan-nya.
Padahal Mawar adalah gadis yang sangat cantik, tinggi, seksi, dan juga pintar. Banyak laki-laki di luar sana yang mengincar-nya dan berharap bisa memiliki gadis itu.
Namun Ares memiliki prinsip yang sangat kuat. Dia berjanji hanya akan menyentuh Mawar setelah gadis itu sah menjadi istrinya.
Dan kini…
Semua keinginan-nya sudah terwujud.
"Hufft…"
Mawar menarik napas panjang.
Ia memungut kemeja putih milik Ares yang tergeletak di lantai, lalu memakai-nya dan mengancingkan-nya asal-asalan. Setelah itu ia berjalan keluar kamar.
Langkah-nya pelan.
Sedikit mengangkang karena rasa pegal bercampur nyeri yang masih terasa di tubuhnya.
Toh sekarang sudah pukul tiga dini hari. Semua penghuni Mansion Black pasti masih tertidur di kamarnya masing-masing.
0o0__0o0
Di dapur, berdiri seorang pria paruh baya yang sedang mengambil sebotol air mineral dari dalam kulkas.
Laki-laki itu menegakkan rakus airnya seakan habis lari maraton berkilo-kilo meter.
Mawar menghentikan langkahnya saat melihat sosok itu. Matanya menyipit di tengah cahaya remang-remang.
Ternyata papa mertuanya masih terjaga.
"Papa…" panggil Mawar pelan sambil mendekat.
Pria itu adalah Harrison Parker Black, pria berusia empat puluh sembilan tahun yang masih terlihat sangat gagah.
Tubuhnya tegap, bahkan perutnya masih membentuk six-pack karena dia rutin berolahraga.
Rison—begitu ia biasa dipanggil—langsung menoleh ketika mendengar namanya dipanggil.
Namun detik berikutnya matanya melebar.
Bukan karena kehadiran Mawar.
Melainkan karena penampilan menantunya. Sangat menggoda tanpa perlu repot-repot berlenggak-lenggok.
Mawar hanya mengenakan kemeja putih kebesaran milik Ares. Kain tipis itu jatuh longgar di tubuhnya, memperlihatkan lekuk tubuhnya dengan sangat jelas.
Dan di balik kemeja itu…
Sepertinya tidak ada pakaian lain.
Mawar berdiri canggung, wajahnya memerah.
"Pa… bolehkah aku mengambil air dingin ?" tanyanya lirih.
Rison terdiam. Tatapan-nya tanpa sadar mengamati Mawar dari ujung kepala sampai kaki.
Mawar yang merasa di perhatikan segera mengikuti arah pandang mertuanya itu.
"Astaga!" Ia tersentak kaget. "Maaf, Pa… aku tidak tahu kalau Papa masih bangun."
Dengan cepat Mawar menyilangkan kedua tangan-nya di dada ketika menyadari tiga kancing kemeja yang ia pakai belum terpasang.
Dadanya hampir saja terlihat jelas. Atau mungkin Rison sudah melihatnya sedari tadi.
"Glek."
Rison menelan ludah kasar. Ia segera memalingkan wajahnya dan berdehem singkat, mencoba meredakan suasana yang mendadak canggung.
"Ambil saja," ucapnya datar. Ia bergeser sedikit memberi jalan di depan kulkas.
Mawar mengangguk kecil. Namun ia masih berdiri di tempat, merasa tidak enak hati.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan.
Sampai akhirnya suara datar Rison kembali terdengar.
"Bukankah kamu ingin minum, Mawar ?" katanya. "Kenapa masih berdiri di sana ?" Ia membuka pintu kulkas lebih lebar, lalu menatap menantu-nya dengan tenang.
"Kemarilah. Tidak perlu sungkan." Senyumnya tipis. "Bukankah sekarang kita sudah menjadi satu keluarga ?"
Mawar menelan ludah pelan.
Suasana di dapur terasa aneh dan menekan, padahal hanya ada mereka berdua.
Ia akhirnya melangkah mendekat, meskipun langkah-nya masih sedikit kaku karena rasa pegal dan nyeri di tubuhnya.
Kulkas terbuka lebar di hadapan-nya.
Udara dingin langsung menyentuh kulit pahanya yang terekspos di balik kemeja panjang milik Ares.
Mawar buru-buru mengambil sebotol air mineral. Ia menunduk , sedikit menungging.
Tangannya sedikit gemetar.
Bukan karena dingin.
Melainkan karena ia masih merasakan tatapan mertuanya yang terasa menelanjangi dirinya.
Rison memperhatikan Mawar dari samping, bahkan saat paha dalam menantu-nya terekspos dari balik kemeja yang tersigap.
Hampir menampakkan bokong sintal-nya.
"Terima kasih, Pa…" ucap Mawar pelan.
Ia langsung membuka tutup botol dan meneguk air itu dengan cepat. Tenggorokan-nya terasa sangat kering.
Rison berdiri di samping kulkas, mencoba terlihat biasa saja, meskipun pikiran-nya tadi sempat kacau sesaat. Apalagi ia tanpa sengaja mendengar suara desahan Mawar dari balik pintunya.
Matanya tanpa sengaja kembali melirik.
Kemeja putih itu terlalu besar untuk tubuh Mawar. Ujungnya hanya menutupi sebagian paha. Rambut panjang Mawar juga terlihat sedikit berantakan, seolah baru saja keluar dari Medan tempur.
Atau…
Baru saja melewati malam panjang.
Bahkan jejak merah di leher jenjang putihnya terlihat jelas. Hampir penuh sampai ke bagian atas dada sintal-nya.
Rison segera mengalihkan pandangan-nya ke arah meja dapur. Ia merasakan miliknya berdenyut. Dan membuat-nya pusing tujuh keliling.
"Ares sudah tidur ?" tanyanya datar.
Mawar mengangguk kecil sambil menutup botol airnya.
"Iya, Pa. Dia sudah sangat kelelahan."
Kalimat itu keluar begitu saja, tapi setelah mengucapkan-nya Mawar langsung menyadari bagaimana arti kalimat itu terdengar.
Pipi Mawar kembali memerah.
Rison berdehem kecil.
"Tentu saja," gumamnya pendek. "Kalian pasti habis melewati malam yang panjang."
Hening lagi.
Mawar merasa suasana itu terlalu canggung. Ia buru-buru meletak-kan botolnya di atas meja.
"Kalau begitu… aku kembali ke kamar dulu, Pa."
Namun baru saja ia berbalik—
Langkah Mawar sedikit goyah.
"Sst—"
Ia spontan memegang meja dapur. Tubuhnya sedikit condong ke depan, mencengkram kuat ujung meja sebagai pertahanan agar tubuhnya tidak limbung.
Rison langsung refleks menoleh. "Kamu kenapa ?"
"Tidak apa-apa," jawab Mawar cepat, wajahnya makin merah. "Cuma… sedikit tersandung."
Rison sebenarnya bisa menebak. Ia bahkan tidak perlu bertanya.
Tatapan pria itu berubah agak tajam, lalu ia menggeleng kecil seolah menertawakan sesuatu dalam pikiran-nya.
"Ares memang keras kepala sejak kecil," ujarnya santai. "Kalau dia menginginkan sesuatu, dia tidak akan berhenti sebelum puas."
Mawar langsung tersedak kecil.
"Pa, aku...."
Rison tersenyum tipis, untuk pertama kalinya sejak tadi. "Tenang saja," katanya. "Papa hanya bercanda."
Ia lalu mengambil gelas dari rak dapur, menuangkan air hangat dari dispenser, lalu menyerahkan-nya pada Mawar.
"Minum ini juga. Air hangat biasanya lebih membantu kondisi mu saat ini."
Mawar menatap gelas itu sedikit terkejut.
"Terima kasih, Pa…"
Ia menerima-nya dengan kedua tangan.
Untuk sesaat, suasana di dapur terasa jauh lebih hangat di bandingkan tadi.
Namun tanpa Mawar sadari—
Saat wanita itu meneguk minuman-nya…
Rison masih berdiri di tempatnya. Memperhatikan setiap teguk air yang mengalir di tenggorokan Mawar. Dan itu terlihat semakin menggoda.
0o0__0o0
Di dalam kamar.
Ares terbangun dengan napas berat.
Matanya masih setengah terpejam ketika tangan-nya bergerak mencari sesuatu di sampingnya—kebiasaan-nya setiap kali bangun tidur.
Namun yang ia sentuh hanyalah seprai dingin.
Kosong.
Alisnya langsung berkerut.
"Sayang…?"
Ares membuka mata sepenuh-nya. Ia menoleh ke sisi ranjang.
Tidak ada Mawar di sana.
Padahal beberapa saat lalu wanita itu masih berada dalam pelukan-nya.
"Apa dia ke kamar mandi ?"
Ares duduk tegak. Tangan-nya menyibak rambutnya yang sedikit berantakan. Ia menoleh ke arah pintu kamar mandi.
Sepi.
Tidak ada suara air.
Tidak ada cahaya.
Dadanya tiba-tiba terasa tidak nyaman.
"Aneh…"
Ares turun dari ranjang. Ia bahkan tidak repot mengenakan pakaian dengan benar, hanya menarik celana panjang yang tergeletak di lantai.
"Mawar ?" panggilnya serak, suaranya masih berat karena baru bangun.
Tidak ada jawaban.
Ia berjalan menuju kamar mandi dan membuka pintunya.
Kosong.
Rasa panik mulai merambat di dadanya.
"Mawar ?" Kali ini suaranya lebih keras. "Dimana kamu sayang ?"
Tetap tidak ada jawaban.
Detik berikutnya Ares benar-benar melangkah lebar. Ia berjalan cepat menuju pintu kamar, membuka-nya dengan kasar.
Lorong mansion gelap dan sunyi.
Jantungnya mulai berdetak lebih cepat. Pikiran-nya langsung di penuhi berbagai kemungkinan buruk.
"Mawar!" panggilnya lagi.
Langkahnya kini lebih tergesa menuruni tangga besar mansion.
Saat kakinya mencapai anak tangga terakhir—
Ia mendengar suara dari arah dapur.
Ares langsung menoleh tajam.
Lampu dapur menyala.
Tanpa berpikir panjang, ia berjalan cepat ke sana.
Namun langkahnya tiba-tiba melambat ketika sampai di ambang pintu dapur.
Di sana—
Ia melihat Mawar berdiri di samping meja. Masih mengenakan kemejanya.
Dan di depannya… Berdiri sang ayah.
Ares terdiam sesaat. Tatapan-nya berpindah dari ayahnya… lalu ke Mawar… lalu kembali lagi.
"Sayang ?"
Mawar langsung menoleh kaget ketika mendengar suara suaminya.
"Ares ?"
Rison juga menoleh pelan.
Sedangkan Ares berdiri di sana dengan napas sedikit terengah. Wajahnya jelas menunjukkan kepanikan yang belum sepenuhnya hilang.
"Kamu… Kenapa tidak bilang jika kesini." katanya pelan. "Aku pikir kamu menghilang."
Mawar langsung merasa bersalah.
"Aku cuma haus," jawabnya cepat sambil mengangkat botol air di tangannya. "Aku tidak tega membangunkan mu, Yank."
Ares menghembuskan napas panjang. Ketegangan di bahunya sedikit mereda. Ia berjalan mendekat lalu tanpa ragu menarik Mawar ke dalam pelukannya.
"Tadi aku bangun dan kamu tidak ada," gumamnya pelan di atas kepala istrinya. "Aku hampir membuat seluruh mansion ini bangun hanya untuk mencarimu."
Mawar terkekeh kecil meski pipinya memerah. "Maaf… aku tidak bermaksud membuat mu panik."
Ares menghela napas lagi, kali ini lebih tenang. Namun saat ia mengangkat wajahnya— Tatapan-nya bertemu dengan mata ayahnya.
Dan untuk sesaat…
Ada sesuatu yang aneh melintas di antara mereka.
Sesuatu yang tidak bisa di jelaskan.
Rison hanya berdiri dengan ekspresi tenang seperti biasa.
Namun Ares tidak tahu kenapa… Ia tiba-tiba merasa tidak terlalu suka melihat ayahnya berdiri terlalu dekat dengan istrinya.
"Ayo kembali ke kamar," ujar Ares akhirnya. Tangan-nya masih melingkar protektif di pinggang Mawar. "Lain kali jika kamu butuh apapun... Jangan sungkan membangunkan ku."
Ia lalu menoleh singkat pada ayahnya.
"Papa juga sebaiknya tidur." Tegurnya pelan. "Jangan sering begadang. Itu bisa mempengaruhi kesehatan."
Rison hanya mengangguk tipis.
Sedangkan Ares sudah meng-gendong Mawar berjalan menuju tangga.
Namun sebelum benar-benar pergi—
Rison berkata santai dari belakang mereka.
"Ares."
Langkah Ares berhenti.
"Jangan terlalu menyiksa istrimu di malam pertama."
Mawar langsung tersedak kecil.
Sedangkan Ares memutar bola matanya sebal.
"Pa…" gumamnya pasrah.
Dapur yang tadi sunyi kini di penuhi suasana canggung yang aneh.
Antara mertua. Anak. Dan juga menantu.
0o0__0o0
0o0__0o0
Warning!! Area dewasa. Bagi yang merasa masih piyik harap menepi dulu.
Klek!
Rison masuk ke dalam kamar'nya. Tubuhnya masih terasa panas.
Hanya dengan melihat penampilan menantu-nya tadi saja sudah cukup membuat darah-nya bergejolak.
Padahal Mawar sama sekali tidak menggoda-nya secara terang-terangan.
Namun pesona kecantikan wanita itu mampu memikat siapa pun yang memandang-nya.
Termasuk Rison.
"Sialan!" Umpatnya pelan.
Bayangan tubuh Mawar seolah menempel di kepalanya dan tidak mau pergi. Di tambah suara desahan merdu menantunya yang tak sengaja dia dengar, saat melintas di depan kamarnya.
Margaret yang sedang duduk di atas ranjang langsung berdiri saat melihat suaminya masuk.
"Mas, kamu dari mana saja ?" tanyanya heran.
Pasalnya hampir dua jam suami'nya itu menghilang dari kamar mereka.
Rison tersentak dari lamunan-nya. Ia berdeham pelan sebelum menjawab.
"Aku habis dari dapur."
Ia berjalan mendekat ke ranjang, lalu meletakkan segelas air putih di atas meja kecil di samping tempat tidur.
Namun sesaat kemudian, tatapan matanya tanpa sadar jatuh pada tubuh istrinya yang di balut baju tidur satin tipis.
Margaret mengangguk singkat lalu duduk kembali di pinggir ranjang. Ia hendak berbaring lagi ketika tiba-tiba—
Bruk!
Tubuhnya terdorong ke atas ranjang oleh Rison hingga terlentang di tengah kasur.
"Hari ini kamu terlihat makin cantik, Mom." bisik Rison di telinga istrinya sambil mengelus pundak polos wanita itu penuh maksud.
Ia butuh pelampiasan.
Kepalanya terasa pening oleh hasrat yang tak kunjung reda sejak melihat Mawar.
Margaret menatap-nya heran, tetapi tetap tersipu. Wajahnya yang mulai di penuhi keriput itu memerah.
Ia memandang wajah suaminya penuh rasa sayang, di matanya, pria berumur itu tetap tampan seperti dulu.
"Apa kamu kerasukan jin di dapur, Mas ?" tanyanya setengah bercanda.
Sudah lama sekali Rison tidak pernah memujinya.
Laki-laki itu selalu sibuk dengan pekerjaan dan hampir tidak pernah memperhatikan istrinya seperti ini.
Rison mencondongkan tubuhnya, mengurung Margaret di bawahnya. Jarak di antara mereka terkikis hingga hidung mereka hampir bersentuhan.
"Hm… mungkin aku memang kerasukan jin penunggu baru tadi," jawabnya santai. Tangan-nya mengangkat dagu istrinya perlahan hingga mata mereka saling bertaut.
Jika Margaret menatap penuh cinta, maka Rison menatap dengan gairah yang berbeda.
Bukan cinta.
Hanya pelampiasan.
"Sejak kapan kamu bisa bercanda seperti ini, Mas ?" tanya Margaret lagi, masih tidak percaya melihat perubahan sikap suaminya.
Rison tersenyum tipis. "Mulai hari ini… maybe."
Belum sempat Margaret bereaksi, Rison langsung menunduk dan mencium bibir istrinya.
Kasar.
Dalam.
Menuntut.
Namun yang terbayang di pikiran-nya justru bibir merekah milik Mawar.
Margaret tersentak, tapi segera membalas ciuman itu dengan penuh gairah. Ia bahkan meraih kerah baju suaminya.
Kesempatan seperti ini sudah lama ia tunggu.
Sentuhan memabukkan dari Rison yang selama ini hampir tak pernah ia rasakan.
Dan malam ini…
akhirnya ia mendapatkan-nya. Tanpa harus berusaha keras menggoda seperti biasanya.
Mmptt!!
Ciuman itu semakin dalam.
Rison menekan bibir Margaret tanpa jeda, seolah ingin menyalurkan seluruh kegelisahan yang sejak tadi membakar tubuhnya.
Tangan-nya mencengkeram pinggang istrinya, menarik tubuh wanita itu semakin dekat.
Margaret terkejut sesaat.
Namun hanya beberapa detik.
Setelah itu ia langsung membalas dengan penuh gairah, bahkan kedua tangan-nya naik melingkari leher suaminya.
Sudah lama sekali ia tidak merasakan kedekatan intim seperti ini. Dan ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang sulit di dapatkan.
Napas mereka mulai memburu.
Ciuman demi ciuman saling mereka rebut tanpa memberi kesempatan untuk berpisah.
Rison menelusuri rahang istrinya, lalu kembali merebut bibir itu dengan lebih menuntut. Tangan satunya merambat, mengelus paha dalam-nya.
Tubuh Margaret tanpa sadar melengkung mengikuti tekanan tubuh suaminya.
"Eurghhh, Mas…" bisiknya lirih di sela napas yang mulai tak teratur.
Namun Rison seolah tidak mendengar.
Ia kembali menunduk, mengecup bibir itu lebih dalam. Tangannya mengelus klitoris Margaret perlahan, membuat wanita itu menggigil.
Margaret memejamkan mata.
Perasaan hangat menjalar di dadanya. Darahnya langsung berdesir hebat.
Baginya, ini seperti mimpi yang sudah lama ia tunggu. Sentuhan yang dulu terasa jauh… kini kembali wanita itu rasakan.
Sementara itu, di dalam kepala Rison justru berputar bayangan lain.
Rambut panjang Mawar.
Bau harum tubuh'nya.
Bibir merah itu.
Tatapan mata yang tanpa sadar membuat-nya gelisah sejak tadi.
Rison menutup matanya sejenak, menekan ciuman-nya lebih kuat, seolah mencoba mengusir bayangan itu.
Namun justru semakin jelas.
"Ahh... Eurmpt..."
Margaret mendesah pelan ketika Rison berpindah mencium area leher'nya.
Wanita itu bahkan tersenyum kecil di sela napasnya yang bergetar.
"Akhirnya… Mas seperti dulu lagi…" gumam-nya bahagia.
Namun Rison tidak menjawab.
Tatapan-nya berubah gelap.
Karena jauh di dalam hatinya, ia tahu satu hal.
Malam ini… bukan Margaret yang membuatnya terbakar gairah seperti ini.
Melainkan bayangan wanita lain yang tidak seharusnya ia pikirkan.
Mawar.
Wanita yang memiliki paras secantik bunga mawar. Lembut, anggun, dan memikat siapa pun yang memandang-nya. Namun di balik keindahan itu, tersimpan sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
Duri.
Duri yang tajam, tersusun di setiap tangkai sebagai benteng kelopak indahnya. Siapa pun yang mencoba menggenggam-nya tanpa hati-hati, pasti akan terluka.
Dan Rison tahu itu.
Dia sangat sadar bahwa Mawar bukan wanita yang seharusnya memenuhi pikiran-nya. Bukan sosok yang pantas dia bayangkan, apalagi inginkan.
Namun semakin ia mencoba menepis bayangan itu. Semakin jelas wajah Mawar muncul di benaknya.
Senyum tipisnya. Tatapan matanya yang dalam. Cara wanita itu berjalan dengan anggun namun menyimpan sesuatu yang sulit diartikan.
Rison menghembuskan napas berat. "Sial…" Umpat'nya dalam hati.
Tangan-nya mencengkram kuat tengkuk Margaret. Memperdalam ciuman itu. Hingga membuat istrinya gelagapan mengimbangi ciuman liarnya.
Menggebu dan brutal.
Rison tahu ini salah.
Sangat salah.
Karena Mawar bukan wanita lain.
Mawar adalah menantu-nya sendiri.
Istri dari putranya.
Namun justru karena itulah, pikiran-nya terasa semakin kacau. Seolah ada sesuatu dalam diri Mawar yang menarik-nya tanpa bisa ia jelaskan.
Indah.
Namun berbahaya.
Seperti bunga mawar yang memikat siapa pun untuk mendekat, tetapi siap melukai siapa saja yang terlalu berani menyentuh-nya.
Dan tanpa disadari Rison—
Dia sudah berdiri terlalu dekat dengan bunga itu.
0o0__0o0
Ciuman mereka terlepas perlahan.
Napas Margaret sudah berantakan. Dadanya naik turun cepat sementara wajahnya memerah.
Rison menatap wajah istrinya dari jarak sangat dekat. Tatapan-nya berat dan penuh tekanan.
"Kenapa gemetar seperti itu, Mom ?" bisiknya rendah. "Bukankah kamu sangat menantikan hari ini ?" Godanya menyeringai.
Margaret menggigit bibir bawahnya pelan. "Mas yang membuat ku seperti ini…" jawabnya lirih.
Rison tersenyum tipis. Tangan-nya naik mengusap pipi Margaret perlahan, lalu menyingkirkan rambut yang jatuh menutupi wajah wanita itu.
"Kamu begitu menginginkan sentuhan memabukkan ku, Hem ?" Bisiknya menggoda.
"Sudah lama kita tidak seperti ini…" ucap Margaret pelan.
"Jadi kamu merindukan ku atau sentuhan ku, Reta ?" tanya Rison dengan suara yang lebih berat.
Margaret menatap mata suaminya dalam-dalam. Ada kerinduan lama yang akhirnya menemukan celah untuk keluar.
"Tentu saja… aku selalu menunggu dan merindukan sentuhan mu, Rison."
Jawaban itu membuat mata Rison sedikit menyipit. Ia menunduk lagi, bibirnya hampir menyentuh telinga Margaret.
"Menunggu… atau berharap aku tidak pernah berhenti ?" bisiknya.
Margaret menggigil halus.
"Mas…" napasnya tercekat. Tangan-nya tanpa sadar mencengkeram bahu Rison. "Jangan terus menggoda ku... Malam ini harus jadi malam panas kita."
Rison kembali mengecup bibir istrinya, kali ini lebih lambat namun jauh lebih menuntut. Tangan-nya meremas kuat salah satu dada sintalnya.
Margaret langsung membalas ciuman itu tanpa ragu. Ia mencengkram kuat pundak Rison saat dadanya terasa nyeri akibat ulah tangan nakalnya.
Saat ciuman mereka berpisah lagi, Margaret berbisik pelan.
"Rison, Kamu terlihat berbeda malam ini."
Rison mengangkat alis. Namun tangan-nya meremas satu sisi dada sintal Margaret yang tidak terbungkus kain kacamata dari luar bajunya.
"Berbeda bagaimana, Hem ?" Bisiknya. "Apa seperti ini...?" Lalu ia menunduk dan menggigit putingnya yang mencuat dari luar baju Margaret.
Margaret tersentak. Mengusap dada suaminya perlahan. "Eurghhh, kamu Lebih… buas dari sebelum-nya."
Rison tertawa pelan, rendah, setelah melepas gigitan-nya pada Boba hitam istrinya. "Atau mungkin kamu saja yang baru sadar, Istriku."
Margaret menggeleng pelan sambil tersenyum malu.
"Mas tidak pernah seperti ini sebelum-nya." Jawabnya yakin. "Bahkan sampai kedua anak kita dewasa, ini kali pertama kamu..."
Rison menatapnya tajam, lalu mendekat lagi hingga kening mereka hampir bersentuhan.
"Kalau begitu… malam ini kamu harus mulai terbiasa."
"Terbiasa dengan apa ?" bisik Margaret.
Rison menatap bibir istrinya sebelum menjawab.
"Dengan aku yang tidak akan bermain buas dan tidak akan membiarkan mu tidur cepat."
Margaret terkesiap kecil. Namun bukannya menolak, ia justru menarik kerah baju suaminya mendekat.
"Lalu kenapa masih bicara, Mas ?"
Tatapan Rison berubah semakin gelap. "Oh… jadi kamu menantang ku, Hem ?"
Margaret tersenyum tipis. "Sudah lama aku menunggu hasil dari tantangan ku."
Kalimat itu langsung di balas Rison dengan ciuman lain yang jauh lebih dalam.
"Aku harap kamu tidak akan menyesali keputusan mu, Reta." Ucapnya dalam hati. "Karena aku tidak akan main lembut seperti yang ada dalam bayangan mu."
Keduanya saling menyerang, perang panas. Tak mau mengalah. Seolah benar-benar membuat keduanya melayang dalam malam yang semakin panas.
0o0__0o0
0o0__0o0
Di depan pintu kamar mertua-nya yang tertutup rapat, Mawar masih berdiri diam. Ujung bibirnya melengkung tipis, senyum yang lebih menyerupai racun daripada kehangatan seorang menantu.
Sorot matanya tajam menatap daun pintu di hadapan-nya.
"Ini baru awal dari kehancuran kalian…" bisiknya lirih, hampir seperti hembusan angin yang tak terdengar.
Ia menurunkan sedikit pandangan-nya, jemarinya menyentuh gagang pintu tanpa benar-benar membuka-nya.
"Aku berdiri di sini bukan sekadar sebagai menantu…" lanjutnya pelan, suaranya penuh kebencian yang di pendam bertahun-tahun. "Tapi juga sebagai badai yang akan menghancurkan keluarga Black."
Senyum-nya semakin lebar.
Namun sesaat kemudian—
Langkah kaki terdengar dari ujung lorong.
Tak… tak… tak…
Mawar langsung menegakkan tubuhnya. Wajah dingin penuh kebencian itu berubah seketika. Dalam hitungan detik, ekspresi-nya kembali lembut seperti menantu sempurna.
Dari ujung lorong, Dresto Vincen Black berjalan mendekat.
Pria itu terlihat lelah, namun tatapan-nya langsung menajam ketika melihat adik iparnya berdiri di depan kamar orang tuanya.
"Mawar ? Kenapa berdiri di sini, Hem ?" tanyanya heran.
Mawar menunduk sedikit, seolah gugup. "A-aku hanya ingin memastikan Mama dan Papa sudah istirahat," jawabnya pelan dengan nada lembut.
Dresto menghela napas pelan lalu mendekat. Tangan-nya tanpa sadar meraih bahu Mawar dengan penuh perhatian tersembunyi.
Namun Mawar langsung menepis tangan kakak iparnya itu. Dan menjaga jarak aman.
Dresto terdiam. Mengangkat tangan-nya ke atas. Tanda menyerah. Namun bibir-nya menyeringai tipis.
"Kamu terlalu baik," ucapnya tulus. "Tidak perlu terlalu memikirkan keluarga ku sampai seperti ini."
Kalimat itu membuat Mawar menatap wajah Dresto.
Untuk sepersekian detik…
Ada sesuatu yang berbeda di dalam sorot mata keduanya.
Namun hanya sebentar.
Karena bayangan masa lalu langsung muncul kembali di kepala Mawar. Tangan-nya perlahan mengepal.
"Memikirkan keluarga mu ?" gumam-nya dalam hati.
Tatapan matanya kembali menajam, meski wajahnya masih terlihat lembut di depan Dresto.
"Justru keluarga mu lah yang akan ku hancurkan… satu per satu." Sambung'nya dalam hati. Penuh kebencian.
Namun Dresto tidak menyadari apa pun. Ia malah menarik tangan Mawar dengan kuat, namun masih lembut.
"Ayo, ikut dengan ku."
Mawar mengikuti langkah Dresto masuk ke kamar.
Klek.
Pintu tertutup perlahan.
Dan di balik senyum lembut yang wanita itu tunjukkan pada Dresto—
Kebencian Mawar masih hidup.
Diam.
Menunggu.
Seperti racun yang perlahan menyebar di dalam keluarga Black.
0o0__0o0
0o0__0o0
"Jangan pura-pura tidak kenal, Mawar." Kata Dresto. Mendorong pundah adik iparnya ke pintu kamarnya. Ia meletakkan tangan-nya di kedua sisi wajah'nya.
Mawar mendengus malas, menatap mata mantan kekasih brengseknya itu. "Kamu mau aku bersikap seperti apa, Kakak ipar ?" Seringainya mengejek. "Sekarang aku istri sah dari adik kandung mu."
Dresto terkekeh miring, "Lantas kenapa jika status mu sekarang menjadi istri adik ku, Hem ?" ia mendekatkan wajahnya. Hingga hidup keduanya hampir bersentuhan.
"Sampai saat ini aku masih menginginkan mu, Mawar liarku." Sambung'nya berbisik. Tepat di depan bibir mantan kekasihnya.
Atau lebih tepatnya Dresto masih menganggap Mawar menjadi miliknya. Karena dia tidak pernah menyetujui ajakan putus dari wanita itu.
Mawar tidak mundur sedikit pun. Ia justru menatap lurus ke dalam mata Dresto yang penuh obsesi itu. Tatapan dingin. Tanpa rasa gentar.
Sudut bibirnya terangkat tipis.
"Aku tidak ingat pernah menjadi milik siapa pun," ucap Mawar pelan namun tajam.
Suaranya begitu tenang, seolah bisikan itu mampu melukai lebih dalam dari teriakan.
Tangan'nya perlahan terangkat, lalu mendorong dada Dresto agar jarak di antara mereka kembali terbuka.
"Kamu yang tidak pernah bisa menerima kenyataan," lanjutnya dingin. "Aku yang meninggalkan mu. Bukan sebaliknya."
Mawar mencondongkan wajahnya sedikit. Kali ini justru ia yang berbisik di dekat telinga pria itu.
"Dan sekarang aku adalah adik mu." Ada jeda sesaat. Nafas hangatnya menyentuh telinga Dresto.
"Tidak peduli seberapa besar kamu masih menginginkan ku… aku bukan lagi sesuatu yang bisa kamu sentuh sesuka mu."
Ia mundur satu langkah. Menatap Dresto dengan senyum tipis yang penuh arti.
"Jadi kendalikan dirimu, Kakak ipar."
Dresto tidak bergerak meski Mawar mendorong dadanya. Justru senyum miring kembali muncul di wajah pria itu. Matanya menelusuri wajah Mawar dengan tatapan yang terlalu dalam… terlalu penuh keinginan.
Tangan'nya terangkat, lalu menahan pergelangan tangan Mawar sebelum wanita itu benar-benar menjauh.
"Kendalikan diri ?" Dresto terkekeh pelan. Suaranya rendah dan berat. "Sejak kapan aku pernah bisa mengendalikan diri kalau itu menyangkut kamu, Rose ?"
Ia menarik Mawar sedikit lebih dekat. Tidak kasar, tetapi cukup kuat untuk menunjukkan bahwa ia tidak berniat melepasnya.
Tatapan matanya turun sejenak ke bibir Mawar, lalu kembali ke mata wanita itu.
"Kamu boleh bilang kamu meninggalkan ku," gumam-nya pelan. "Tapi dalam kepalaku… kamu tidak pernah benar-benar pergi."
Jari-jarinya mengerat di pergelangan tangan Mawar.
"Kamu terlalu indah untuk di lupakan. Terlalu menggoda untuk di abaikan." Nafasnya terdengar berat. "Dan yang paling menyebalkan… kamu tahu persis itu."
Dresto mendekat lagi, hampir menyentuh kening Mawar.
"Jadi jangan berharap aku tiba-tiba berubah jadi pria baik yang menghormati batas." Senyum-nya menipis, namun matanya justru semakin tajam.
"Aku tidak peduli kamu sekarang memakai nama marga keluarga ku." Ia berbisik tepat di dekat bibir Mawar. "Bagiku… kamu tetap Mawar yang sama. Mawar liar yang dulu selalu kembali ke pelukan ku."
Mawar terdiam beberapa detik. Namun bukan karena goyah. Justru tatapan-nya berubah semakin dingin.
Tatapan seorang wanita yang sudah terlalu lama melihat sisi buruk seorang pria… sampai akhirnya muak.
Perlahan Mawar menarik pergelangan tangan'nya dari genggaman Dresto.
"Kamu masih sama saja, Dresto," ucapnya datar.
Ia menatap pria itu dari ujung kepala sampai kaki, lalu tersenyum tipis. Senyum yang penuh sindiran.
"Masih percaya semua wanita akan jatuh di bawah kakimu hanya karena sedikit rayuan murahan."
Mawar melangkah mendekat satu langkah. Kini justru ia yang menatap Dresto dengan tajam.
"Kamu tahu kenapa aku meninggalkan mu dulu ?" Ia tidak menunggu jawaban.
"Karena aku muak." Satu kata itu keluar begitu tegas.
"Mual melihat kamu berpindah dari satu wanita ke wanita lain seperti itu hal yang normal."
Nafas Mawar sedikit berat, namun suaranya tetap tajam. "Hari ini dengan sekretaris mu… besok dengan model yang kamu temui di klub… lalu lusa dengan wanita lain lagi."
Tatapan-nya menusuk tepat ke mata Dresto.
"Dan kamu masih punya keberanian berdiri di depanku… lalu berkata aku adalah milikmu ?"
Mawar terkekeh pelan. Namun tidak ada kehangatan di sana.
"Kamu bahkan tidak pernah bisa setia pada satu wanita." Ia mendekat sedikit, berbisik rendah namun begitu menohok. "Jadi jangan pernah menyebut aku Mawar liar mu lagi."
Jeda sejenak.
"Karena satu-satunya yang liar di hubungan kita dulu… adalah kebiasaan kotormu mengoleksi wanita."
Dresto terdiam sesaat setelah kata-kata Mawar menghantam-nya tanpa ampun.
Rahangnya mengeras. Tatapan matanya yang tadi di penuhi hasrat kini berubah gelap… tersinggung.
Namun bukannya mundur, pria itu justru tertawa rendah.
Terkekeh.
"Muak ?" ulangnya pelan, seolah kata itu terasa asing baginya.
Dalam satu langkah cepat, Dresto kembali mendekat. Tangan-nya mencengkeram lengan Mawar sebelum wanita itu sempat menjauh.
"Jadi itu alasan mu meninggalkan ku ?" gumam-nya dengan nada tajam. "Karena kamu tidak tahan melihat wanita lain di sekitarku ?"
Matanya menyapu wajah Mawar dengan intens.
"Padahal kamu tahu…" suaranya menurun, lebih berat. "Dari semua wanita itu, cuma kamu yang selalu kembali ke pikiran dan hati ku."
Mawar mencoba menarik tangan-nya, tetapi cengkeraman Dresto semakin kuat.
"Kamu boleh membenci ku," lanjutnya pelan, nafasnya mulai tidak stabil. "Boleh memanggil ku brengsek, bajingan, apa pun yang kamu mau."
Ia menundukkan wajahnya sedikit, menatap bibir Mawar yang sejak dulu selalu membuat-nya kehilangan kendali.
"Tapi jangan pernah berpikir aku bisa melepaskan mu begitu saja, Rose."
Sebelum Mawar sempat bereaksi—
Dresto tiba-tiba menarik tubuh wanita itu dan mencium bibirnya dengan paksa.
Bukan ciuman lembut.
Bukan juga penuh keraguan.
Melainkan ciuman keras yang di penuhi emosi, amarah, obsesi, dan keinginan yang selama ini ia tahan.
Beberapa detik kemudian ia melepaskan Mawar, nafasnya terdengar berat. Matanya menatap wanita itu dengan sorot liar.
"Kamu bisa menikah dengan siapa saja," ucapnya rendah. "Tapi jangan pernah berharap aku berhenti menginginkan mu, Baby Rose."
Plak!
Suara tamparan Mawar menggema di ruangan itu.
Kepala Dresto sedikit terlempar ke samping akibat pukulan keras dari tangan wanita itu. Bekas merah langsung muncul di pipinya.
Mawar menatap-nya dengan napas memburu. Matanya menyala oleh amarah dan rasa jijik.
"Jangan pernah menyentuhku lagi!" desisnya tajam.
Namun bukannya marah atau mundur… Dresto justru tertawa pelan. Ia perlahan memutar kembali wajahnya menghadap Mawar.
Lidahnya menyapu sudut bibirnya yang sedikit perih. Tatapan-nya kini jauh lebih gelap.
"Lihat ?" gumam-nya serak. "Aku bahkan lebih menyukai kamu saat seperti ini, Baby Rose."
Sebelum Mawar sempat menjauh, Dresto tiba-tiba menarik pinggang wanita itu dengan kasar.
Mawar terkejut.
"Dresto—!"
Namun kalimatnya terputus ketika pria itu kembali membungkam bibirnya dengan ciuman paksa.
Kali ini jauh lebih dalam. Lebih liar.
Dresto menahan tubuh Mawar erat di pelukan-nya, seolah tidak memberi ruang bagi wanita itu untuk melarikan diri.
Ciuman-nya penuh emosi yang bergejolak—amarah, obsesi, dan keinginan yang tidak pernah benar-benar padam.
Mawar berusaha mendorong dada pria itu, namun Dresto semakin mengeratkan pelukan-nya.
Napasnya berat saat akhirnya ia sedikit menjauh dari bibir Mawar. Dahi mereka hampir bersentuhan.
Matanya menatap wanita itu dengan sorot yang nyaris gila.
"Kamu bisa membenciku sebanyak yang kamu mau," bisiknya rendah. "Tapi kamu tidak bisa menghapus apa yang pernah terjadi di antara kita."
Tangan-nya masih menahan pinggang Mawar. "Dan aku juga tidak akan pernah berhenti menginginkan mu."
0o0__0o0
Hari raya tinggal beberapa hari lagi, Rek !! Sudahkah kalian menyiapkan ampou ??
Jangan lupa meninggalkan jejak.
Xixi 🥰🥰🥰🥰🥰
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!